Agrikultura
Not a member yet
    249 research outputs found

    Dampak Penerapan Program SLPTT terhadap Pendapatan Usahatani Padi di Kecamatan Telagasari Kabupaten Karawang

    Get PDF
    ABSTRACTThe Impact of the Program SLPTT on the Paddy Farm Business Income in Telagasari District, Karawang RegencyOver the past five years, rice consumption level of Indonesian population is still relatively high, at an average of 136.268 kg per capita per year. Although rice production in Indonesia has increased, government still imports to meet domestic demand. One of government's efforts to solve the problem is by implementing the Field School of Integrated Crop Management (SLPTT). The purposes of this research are to describe the activity of technology on rice farming, to evaluate the implementation of SLPTT and non-SLPTT program, and to analyze the income of rice farm business from SLPTT and non-SLPTT program in Kalibuaya Village. The study was conducted with direct observation and interview to the rice farmers in Kalibuaya Village as respondents selected by cluster sampling and purposive sampling method. The differences of the technology components used in the rice farming activities were detected between farmers of the SLPTT and non-SLPTT program. Rice farm business of the SLPTT program wass more efficient than non-SLPTT program with ratios of R/C on total cost were 1.88 and 1.79, respectively.Keywords: Rice production, Rice farming activities, R/ C, SLPTTABSTRAKSelama lima tahun terakhir, tingkat konsumsi beras penduduk Indonesia masih tergolong tinggi yaitu rata-rata 136,268 kg per kapita per tahun. Meskipun saat ini produksi beras di Indonesia mengalami peningkatan, akan tetapi sampai saat ini pemerintah masih melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi masalah ini yaitu dengan menerapkan program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan keragaan teknologi usahatani, mengevaluasi penerapan komponen teknologi program SLPTT dan non program SLPTT, menganalisis pendapatan usahatani padi program SLPTT dan non program SLPTT. Penelitian dilakukan dengan observasi langsung dan wawancara kepada petani sebagai responden di Desa Kalibuaya melalui metode cluster sampling dan purposive sampling, Terdapat beberapa perbedaan penggunaan komponen teknologi antara petani program SLPTT dan non SLPTT ketika melakukan kegiatan usahatani padi. Usahatani padi program SLPTT lebih efisien dibandingkan dengan non program SLPTT dengan rasio R/C atas biaya total masing-masing sebesar 1,88 and 1,79.Kata Kunci: Produksi padi, Activitas usahatani padi, R/C, SLPT

    Keefektifan Ekstrak Air Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dalam Menekan Pertumbuhan Koloni dan Perkecambahan Konidia Jamur Colletotrichum capsici Penyebab Penyakit Antraknos pada Cabai

    Get PDF
    ABSTRACTEffectiveness of Aqueous Extract of Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) Leaves in Suppressing Colony Growth and Conidia Germination of Colletotrichum capsici the Causal Agents of Anthracnose Disease on ChiliAnthracnose disease caused by the fungus Colletotrichum spp. is a major disease in chili. Several studies have reported the effectiveness of some plant extracts in suppressing the growth of this pathogen and in controlling the disease. Binahong (Anredera cordifolia) plant has been widely studied and used in traditional medicine in the field of human health as well as antimicrobial on plant pathogens. This study was aimed to test the effectiveness of the aqueous extract of binahong leaves to suppress the colony growth and conidia germination of the fungus C. capsici. The concentration of binahong aqueous extract tested were 6.25%, 8.84%, 12.5%, 17.7% and 25%. Results showed binahong aqueous extract at low concentration of 6.25% was able to suppress the growth of fungal mycelium of C. capsici up to 66.88% compared to the lower effectiveness of higher tested concentrations. The aqueous extract of binahong leaves at this low concentration also tended to suppress the germination of conidia of the fungus C. capsici in in higher tested concentrations.Keywords: Colletotrichum capsici, Aqueous extract, Anredera cordifoliaABSTRAKPenyakit Antraknos yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum spp. merupakan penyakit utama pada tanaman cabai. Beberapa penelitian melaporkan keefektifan beberapa ekstrak tanaman dalam menekan pertumbuhan patogen Colletotrichum spp. dan dalam mengendalikan penyakit Antraknos ini. Tanaman binahong sudah banyak diteliti dan digunakan dalam pengobatan tradisional di bidang kesehatan manusia maupun sebagai antimikroba patogen tanaman. Penelitian menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pengujian keefektifan ekstrak air daun binahong terhadap pertumbuhan koloni dan perkecambahan konidia jamur C. capsici. Konsentrasi ekstrak air binahong yang diuji adalah 6,25%, 8,84%, 12,5%, 17,7% dan 25%. Hasil menunjukkan ekstrak air binahong pada konsentrasi rendah 6,25% mampu menekan pertumbuhan miselium jamur C. capsici sampai 66,88% dibandingkan keefektifan yang lebih rendah pada konsentrasi yang lebih tinggi. Ekstrak air binahong pada konsentrasi rendah tersebut juga cenderung menekan perkecambahan konidia jamur C. capsici.Kata Kunci: Colletotrichum capsici, Ekstrak air, Anredera cordifoli

    Kompatibilitas Vegetatif Fusarium oxysporum dari Beberapa Tanaman Inang

    Get PDF
    ABSTRACTVegetatif compatibility of Fusarium oxysporum on various hostsMany strains or race of Fusarium oxysporum can be grouped based on compatibility reproduction from a variety of different strains called Vegetative Compatibility Group (VCG). This study was aimed to determine how the grouping of several isolates of F. oxysporum and grouping of several hosts of the fungus by vegetative compatibility group. Fusarium oxysporum isolated from chickpea plants that showed symptoms of fusarium wilt. The isolates of F. oxysporum of chili and tomatoes obtained from the culture collections of Mycology Laboratory of IPB. Stages of vegetative compatibility testing assayed through recovery of nit mutants, the identification of phenotype of nit mutant, and complementation test. There are 29 mutants isolated from the isolates of F. oxysporum. Nit1 mutant was obtained from all isolates of beans, tomatoes and peppers. NitM and Nit3 mutant isolates were obtained from chickpea 4 and chili sequentially. Two VCG and one single self compatibility (SSC) were assayed from isolates of F. oxysporum based on complementation testing.Keywords: Beans, Fusarium wilt, Nit mutant, SSC, VCGABSTRAKJamur Fusarium oxysporum memiliki banyak forma spesialis dan ras. Jamur ini dapat dikelompokkan berdasarkan kompatibilitas reproduksi dari berbagai strain yang berbeda disebut dengan vegetative compatibility group (VCG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara pengelompokkan F. oxysporum dan pengelompokkan jamur tersebut dari beberapa inang berdasarkan kelompok kompatibilitas vegetatifnya. Isolasi F. oxysporum dilakukan dari tanaman kacang panjang yang menunjukkan gejala layu fusarium. Isolat F. oxysporum dari cabai dan tomat berasal dari koleksi Laboratorium Mikologi IPB. Tahapan pengujian kompatibilitas vegetatif melalui pembiakan nit mutan, identifikasi fenotipe nit mutan, dan pengujian komplementasi. Isolasi mutan F. oxysporum didapatkan 29 mutan. Mutan nit1 didapatkan dari semua isolat yang diperoleh dari semua inang yang berbeda yaitu kacang panjang, tomat dan cabai. Mutan nitM hanya didapatkan dari isolat kacang panjang 4 dan mutan nit3 hanya didapatkan dari isolat cabai. Berdasarkan uji komplementasi F. oxysporum yang diuji terdiri dari dua VCG dan satu single self compatibility (SSC).Kata Kunci: Kacang panjang, Layu fusarium, Nit mutant, SSC, VC

    Potensi Air Sulingan Beberapa Bagian Tanaman Kopi sebagai Atraktan terhadap Hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampeii Ferr.) di Laboratorium

    Get PDF
    ABSTRACT Potency of Distilled Water of Several Parts of Coffee Plant as Attractant of Coffee Berry Borer (Hypothenemus hampeii Ferr.) in Laboratory Coffee berry borer (Hypothenemus hampeii Ferr.) is one of coffee plant pests, causing fruit damage up to 50 percent. One of control technicques to eliminate the adult female is the use of attractants obtained from parts of coffee plant. The aim of this research was to know the potency of distilled water of parts of coffee plant as attractant to control coffee berry borer. Research was done in the Laboratory of Entomology, Department of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran, from February to July 2015. Experiment was conducted in a Randomized Block Design. The treatments were control without distilled water (P0), coffee exocarp distilled water (P1), coffee berry distilled water (P2), coffee leaves distilled water (P3), and coffee branch distilled water (P4). Each treatment was replicated five times. The result showed that distilled water of coffee plant had a potency as attractant of coffee berry borer. Distilled water of coffee bean at the concentration of 4% had the strongest effect, attracting coffee berry borer of 8.8 female adult. The effectiveness of coffee plant distilled water in attracting coffee berry borer lasted three days. Keyword: Distilled water, Attractant, Coffee berry borer ABSTRAK Penggerek buah kopi (PBKo, Hypothenemus hampei Ferr.) merupakan hama utama tanaman kopi yang dapat menyebabkan kerusakan hingga 50%. Salah satu teknik pengendalian imago betina PBKo yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan senyawa atraktan yang terkandung di dalam bagian tanaman kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi air sulingan bagian tanaman kopi sebagai atraktan terhadap hama PBKo. Percobaan dilakukan di Laboratorium Entomologi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran pada bulan Februari 2015 sampai dengan Juli 2015. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan yaitu tanpa pemberian air sulingan (P0); air sulingan kulit buah kopi (P1), biji kopi (P2), daun kopi (P3), dan ranting kopi (P4) dengan konsentrasi masing-masing sebesar 2%, 4% dan 6%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak lima kali. Hasil penelitian menunjukkan air sulingan bagian tanaman kopi berpotensi sebagai atraktan terhadap hama PBKo. Rata-rata jumlah imago betina PBKo terbanyak yang tertarik yaitu pada air sulingan biji kopi pada konsentrasi 4% sebanyak 8,8 ekor betina. Masa aktif dari semua air sulingan yang berperan sebagai atraktan dalam menarik imago betina PBKo yaitu selama 3 hari. Kata kunci: Air sulingan, Aatraktan, Penggerek buah kop

    Analisis Kesesuaian Marka SSR ( Simple Sequence Repeats ) untuk Identifikasi Keragaman Genetik pada Kacang Bambara Asal Jawa Barat

    Get PDF
    ABSTRACT Suitability Analysis of SSR Marker ( Simple Sequence Repeats ) for Genetic Diversity Identification in Bambara Groundnut West Java Origin Bambara groundnut ( Vigna subterranea ) is one of legume crops that has not been widely cultivated. It becomes food alternative sources in Indonesia as it has high of protein and carbohydrate content and low fat. Furthermore, bambara groundnut should be good production in marginal land. Molecular marker has been used for any crop development such as genetic diversity, matting system, clones identification, etc. This research used neutral genetic markers (SSR) to study genetic diversity in Bambara groundut population from West Java. Fifteen primers has used and the results showed that primer 1 and primer 19 were polymorphic and informative because the locus has high HE (heterozygosity) and PIC (Polymorphic Information Content) value compare to others. The higher HE and PIC value the more informative to distinguish each individual between genotype in one population. Keywords: Bambara groundnut ( Vigna subterranea ), Genetic diversity, Simple sequence repeats (SSR)  ABSTRAK Kacang bambara ( Vigna subterranea ) merupakan salah satu tanaman legume yang belum terlalu banyak dibudidayakan dan dapat menjadi sumber pangan alternative di Indonesia karena kandungan protein dan karbohidratnya  cukup tinggi dan rendah lemak. Selain itu, tanaman ini juga dilaporkan dapat berproduksi dengan baik pada lahan-lahan marginal. Penggunaan marka molekuler telah banyak digunakan pada tanaman untuk berbagai tujuan antara lain untuk mengevaluasi keragaman genetik suatu populasi, menduga system perkawinan, identifikasi klon dan lain-lain. Dalam penelitian ini digunakan marka netral (SSR) untuk mempelajari keragaman genetik populasi Kacang bambara ( Vigna subterranea ) asal Jawa Barat. Dari lima belas primer, primer 1 dan primer 19 merupakan primer yang bersifat polimorfik dan informative karena lokus tersebut memiliki nilai HE (heterozigositas) dan PIC ( P o l y m o r p h i c I n f o r m a t i o n Con tent ) yang tinggi dibandingkan dengan primer-primer lainnya. Semakin tinggi nilai HE dan PIC yang dihasilkan maka primer tersebut semakin informatif dalam membedakan individu antar genotip dalam populasi. Kata Kunci : Kacang bambara ( Vigna subterranea ), Keragaman genetik, Simple Sequence Repeats (SSR

    Hubungan Komitmen Organisasi dan Kepuasan Kerja Petani sebagai Fasilitator Pembelajaran di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Jawa Barat

    Get PDF
    ABSTRACTCorrelation between Organization Commitment and Job Satisfaction of Farmers as Active LearningFacilitators in Farmers‟ Agriculture and Rural Training Centre (FARTC), West JavaThe objective of the reaserach was to describe farmers‟ characteristics as facilitators and to analyzethe correlation of organization commitment and job satisfaction of farmers as facilitators in learningactivities at Farmers‟ Agriculture and Rural Training Centre (FARTC). The kind of research wassurvey that 140 farmers as facilitators in FARTCs located in 17 districs in West Java Provinceinvolved. 89% farmers as facilitators are male; 42,14% of them are 32 – 43 years old; 42,14% ofthem are high schools as their educational background; 74,27% of them have experiences infarming activities; 84,29% of them have experiences as facilitators during 0 – 10 years. This studyapplied the quantitave method namely the correlation analyze. The result of correlation analyzesshows that the organizational commitment has a positive correlation with job satisfaction offarmers as facilitators significantly (ρ < 0.01). The research results recommend that themanagement team of P4S and local government officers to maintain and increase the organizationalcommitment and job satisfaction of farmers as facilitators simultaneously to achieve theeffectiveness of FARTCs.Keywords: Organization commitment, job satisfaction, farmer facilitatorABSTRAKTujuan penelitian adalah mendeskripsikan karakteristik petani fasilitator dan menganalisishubungan komitmen dan kepuasan kerja petani fasilitator pembelajaran di Pusat PelatihanPertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S). Jenis penelitian adalah survei dengan melibatkan 140orang petani fasilitator P4S di 17 kabupaten di Jawa Barat. Penelitian menerapkan metodekuantitatif korelasional. Karakteristik petani fasilitator P4S di Jawa Barat diantaranya adalah 89%laki-laki, 40% berusia antara 32-43 tahun, 42,14% berlatar belakang pendidikan formal SLTA/SMK,74,27% memiliki pengalaman berusahatani 0-20 tahun, dan 84,29% menjadi fasilitator 0-10 tahun.Hasil penelitian menunjukkan bahwa komitmen dan kepuasan kerja petani fasilitator memilikihubungan yang signifikan pada taraf signifikansi 0,01. Disarankan baik untuk pengurus internalP4S dan instansi pemerintah sebagai pembina untuk mempertahankan dan meningkatkankomitmen organisasi dan kepuasan kerja petani fasilitator secara simultan dari waktu ke waktuguna mewujudkan P4S yang efektif.Kata Kunci: Komitmen organisasi, kepuasan kerja, petani fasilitato

    Seleksi Ketahanan Ubi Jalar Madu Genotipe F1 terhadap Penyakit Kudis (Sphaceloma batatas Saw.)

    Get PDF
    ABSTRACTResistant Selection of Sweet Potato Genotypes F1 against Scab Disease (Sphaceloma batatas)Variety of sweet potato in Indonesia is very diversed which is an advantage to develop sweet potatovarieties. However, local sweet potato often replaced with higher economic value varieties. The aim of thisresearch was to determine the resistant ability of genotype F1 from open pollination of local sweet potatolandraces against scab disease (Sphaceloma batatas ). As much as 661 genotypes F1 were grown on researchplantation centre at Ciparanje, Faculty of Agriculture Universitas Padjadjaran. The experiment was doneusing randomized blocked augmented design. The result demonstrated that genotypes F1 as results ofcrossing over between local varieties of sweet potatoes had high resistance against scab. This wasdemonstrated by more than 50% of the assessed population were resistant to scab as showed by low value ofdiseases severity. However, growing those genotypes at different seasons and locations need to be done todetermine the resistance stability.Keywords: sweet potato, scab, Sphaceloma batatasABSTRAKVarietas lokal ubi jalar di Indonesia sangat beragam. Keragaman yang ada tersebut sangat bermanfaat dalampengembangan ubi jalar. Namun, varietas lokal semakin tergeser seiring dengan nilai ekonomi yang lebihmenguntungkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mngetahui ketahanan genotipe-genotipe F1 ubijalar madu hasil dari open pollination dari aksesi-aksesi ubi jalar lokal terhadap penyakit kudis (Sphacelomabatatas). Sebanyak 661 genotpe F1 beserta aksesinya digunakan dalam penelitian ini. Percobaan dilaksanakandi kebun percobaan Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran pada bulan Januari 2013-Juni2013. Percobaan disusun dengan menggunakan rancanga acak dengan perluasan (augmented design).Pengamatan dilakukan dengan menghitung intesitas serangan penyakit kudis dengan interval 30 hari. Hasilpercobaan menunjukkan bahwa genotipe-genotipe F1 yang diuji menunjukkan potensi ketahanan terhadapserangan penyakit kudis. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya genotipe ubi jalar yang relatif tahanterhadap serangan penyakit kudis. Lebih dari 50% dari genotipe F1 ubi jalar yang diuji tahan terhadapserangan penyakit kudis yang ditunjukkan dengan rendahnya nilai assessment serangan penyakit. Pengujiandi berbagai musim tanam dan lokasi perlu dilakukan untuk mengetahui kestabilan ketahanan yang dimilikoleh genotipe-genotipe F1 tersebut.Kata kunci: ubi jalar madu, kudis, Sphaceloma batata

    Kandungan C-Organik, N-Total Tanah serta Hasil Padi Gogo (Oryza sativa L.) Akibat Perlakuan Pupuk Organik pada Ultisols Asal Desa Kentrong, Provinsi Banten

    Get PDF
    ABSTRACTEffect of Organic Fertilizers on C-organic, total-N soil and Yield of Upland Rice (Oryza sativa L.) onUltisols Collected from Kentrong Area, Banten ProvinceThis experiment was aimed to study the effect of various kinds and dosages of organic fertilizers onC-organic, total-N soil and yield of upland rice (Oryza sativa L.) in Ultisols collected from Kentrongarea, Banten Province. The experiment was arranged in a randomized block design with tentreatments and three replications. The treatments were control (without organic ferlitizer), poultrymanure 37.5 g/polibag, poultry manure 75 g/polybag, poultry manure 112.5 g/polybag,vermicomposting 37.5 g/polybag, vermicomposting 75 g/polybag, vermicomposting 112.5g/polybag, compost of straw 37.5 g/polybag, compost of straw 75 g/polybag and compost of straw112.5 g/polybag. The result showed that there was an effect of various kinds and dosages of organikfertilizers on C-Organic, but there was no effect on N-Uptake. For the yield of upland rice, dosageof 112.5 g/polybag of poultry manure gave the best result which was 21.08 g/polybag.Keywords: C-organic, total-N, organic fertilizersABSTRAKPercobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian macam dan dosis pupuk organikterhadap C-organik, N-total dan hasil padi gogo (Oryza sativa L.) pada Ultisols asal Desa Kentrong,Provinsi Banten. Metode percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK),dengan sepuluh perlakuan dan diulang tiga kali. Sepuluh taraf tersebut terdiri dari perlakuankontrol (tanpa pupuk organik), pupuk kandang ayam 37,5 g/polibeg, pupuk kandang ayam 75g/polibeg, pupuk kandang ayam 112,5 g/polibeg, pupuk kascing 37,5 g/polibeg, pupuk kascing 75g/polibeg, pupuk kascing 112,5 g/polibeg, pupuk kompos jerami 37,5 g/polibeg, pupuk komposjerami 75 g/polibeg, dan pupuk kompos jerami 112,5 g/polibeg. Hasil percobaan menunjukkanterdapat pengaruh pemberian macam dan dosis pupuk organik terhadap C-Organik tanah tetapitidak berpengaruh terhadap N-Total. Untuk hasil panen padi gogo, dosis 112,5 g/polibeg pupukkandang ayam memberikan hasil panen padi gogo terbaik yaitu 21,08 g/polibeg.Kata kunci: C-organik, N-total, pupuk organi

    Adsorpsi Paraquat dan Sifat Tanah pada Tiga Subgrup Tanah Akibat Pemberian Amelioran

    Get PDF
    ABSTRACTParaquat adsorption and Soil Properties on Three Soil Subgroups Due to Ameliorant ApplicationParaquat (Bipyridylium biclorida) is known as a highly toxic herbicide and quite widely used by the farmers. The material can be adsorbed by soil colloids and can contaminate soil and water. The study aimed to determine the ability of three of soil subgroups of different orders (Typic Hapludult, Typic Hapludand,and Chromic Endoaquert) to adsorb paraquat, finding the best kind of ameliorant in reducing residues, and studying its effect on corn crops. The study was conducted in two stages, namely (1) to test the maximum adsorption capacity of paraquat on the three of soil subgroups based on the Langmuir equation, and (ii) to study the influence of the type and ameliorant dose on three soil subgroups saturated with paraquat. Methods used were completely randomized design experiment nested models. The results of laboratory experiments showed that the topsoil layer of Typic Hapludands was dominated by halloysite and little amorphous clay minerals. While predominantly Typic Hapludult was dominated by kaolinite and little smectite. Chromic Endoaquert contained little kaolinite and was dominated by smectite. Saturation points in all three soil subgroups were 1.883 cmol kg-1, 20.833 cmol kg-1, and 9.346 cmol kg-1 paraquat, respectively. The type and dose of each ameliorant signifancty affected paraquat adsorption capacity, soil pH and electrical conductivity in all three soil subgroups, except for paraquat adsorption capacity and pH which were not affected in Typic Hapludults. The highest dose of activated charcoal adsorbed paraquat markedly higher compared with other treatments on Typic Hapludands, whereas Chromic Endoaquerts activated charcoal had the same effect with the zeolite, but higher than straw and control. Furthermore, on Typic Hapludults ameliorant did not significantly affect the adsorption capacity of paraquat, except when compared with controls.Keywords: Paraquat, soil subgroups, adsorption, ameliorant.ABSTRAKParaquat (Bipyridylium biclorida) dikenal sebagai herbisida yang sangat toksik dan pengunaannya cukup luas di kalangan petani. Bahan ini dapat diadsorpsi oleh koloid tanah dan dapat mencemari tanah dan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan tiga subgrup tanah berlainan ordo (Hapludult Tipik, Hapludand Tipik, dan Endoequert Kromik) mengadsorpsi paraquat, menemukan jenis amelioran yang paling baik dalam menekan residu paraquat, serta mempelajari pengaruhnya terhadap hasil tanaman jagung. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu (1) Uji kapasitas adsorpsi maksimum paraquat pada tiga subgrup tanah berdasarkan persamaan Langmuir, dan (2) pengaruh jenis dan dosis amelioran pada tiga subgrup tanah terjenuhi paraquat terhadap adsorpsi, pH, dan daya hantar listrik. Metode yang digunakan Rancangan Acak Lengkap model percobaan Tersarang. Hasil percobaan di laboratorium menunjukkan titik jenuh paraquat pada ketiga subgrup tanah tersebut masing-masing sebesar 1,883 cmol kg-1, 20,833 cmol kg-1, dan 9,346 cmol kg-1. Jenis dan dosis amelioran masing-masing berpengaruh nyata terhadap kapasitas adsorpsi paraquat, pH tanah dan daya hantar listrik pada ketiga subgrup tanah, kecuali kapasitas adsorpsi paraquat dan pH tidak dipengaruhi pada Hapludult Tipik. Arang aktif dosis 20% media tanah mampu mengadsorpsi paraquat nyata lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya pada Hapludand Tipik, sedangkan pada Endoaquert Kromik, arang aktif memiliki pengaruh yang sama dengan zeolit, tetapi lebih tinggi dari jerami dan kontrol

    Perkembangan Alternaria solani pada Tiga Varietas Tanaman Tomat

    Get PDF
    ABSTRACTDevelopment of Alternaria solani in three tomato varietiesAlternaria solani is a fungal plant pathogen that attacks tomatoes, potatoes, eggplant and peppers. Yieldlosses cause by this pathogen, especially in tomatoes, can reach up to 86% depends on grown tomatovarieties. This reaseach was aimed to examine the development of A. solani infection on three differenttomato varieties of Tombatu, Tyrana and Permata. The study was designed using a randomized block designand the observations included the proportion of the disease and the rate of infection. Results revealed thatthe highest development of the fungus A. solani occurred in Tombatu variety that reached 0.8445 andindicated the highest infection rate of 0.0810 per unit per day.Keywords: Alternaria solani , tomatoes, Tombatu, Tyrana, PermataABSTRAKAlternaria solani merupakan salah satu jamur patogen yang menyerang tanaman tomat, kentang, terung dancabai. Kerugian yang diakibatkan khususnya kehilangan hasil pada buah tomat dapat mencapai 86% yangsalah satunya bergantung pada varietas tomat yang ditanam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuibagaimana perkembangan penyerangan patogen jamur A. solani pada tiga varietas tanaman tomat yangberbeda yaitu Tombatu, Tyrana dan Permata. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan AcakKelompok dengan pengamatan terhadap dua parameter yaitu proporsi penyakit dan laju infeksi penyakit.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan jamur A. solani paling tinggi terjadi pada varietasTombatu yang ditunjukkan dengan proporsi penyakit yang lebih tinggi mencapai 0,8445 dan laju infeksiyang lebih cepat mencapai 0,0810 per unit per hari dibandingkan pada dua varietas yang lain.Kata Kunci: Alternaria solani, tomat, Tombatu, Tyrana, Permat

    231

    full texts

    249

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agrikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇