Agrikultura
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
Kualitas Sawo (Achras zapota L.) Kultivar Sukatali Selama Penyimpanan
ABSTRACTQuality of sapodilla (Achras zapota L.) cv. Sukatali during storageSapodilla is tropical fruit which contains vitamin, mineral and antioxidant that needed for human health. Process after harvesting before reaching the consumers are includingdistributionto seller or retailer at the market. The purpose of this research aimed to analyze sapodilla quality during storage since harvest to the consumers, such as, firmness, moisture content, total dissolved solid and color. The research was conducted on March to July 2017 at the Laboratory of Horticulture Agriculture Faculty, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. The method used in this experiment was Randomize Block Designed (RBD) with three treatments and nine replications. Total sample were 270 fruits. Sapodillas were harvested at the same maturity stage from the orchad, then stored for 0, 5, and 10 days indoor at room temperature. The result showed that storage duration has an effect to yield quality of sapodilla, specifically the changes at value of firmness, total dissolved solid, and color changes (L*, a*, b*, ohue, and chroma).Keywords: Moisture content, Firmness, Total dissolved solidABSTRAKSawo merupakan buah tropik yang mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan yang diperlukan untuk kesehatan manusia. Proses setelah panen sebelum sampai ke tangan konsumen, pada umumnya melalui jalur distribusi ke pedagang atau penjual di pasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas buah sawo selama penyimpanan dari mulai panen hingga di tangan konsumen. Komponen yang diamati meliputi kekerasan buah, kadar air, total padatan terlarut, dan warna. Penelitiandilakukan pada Maret sampai Juli 2017 di Laboratorium Teknologi Produksi Tanaman Divisi Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Metode penelitian yang digunakan adalah metode rancangan acak kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan diulang sebanyak 9 kali. Total sampel yang digunakan sebanyak 270 buah. Buah sawo dipanen dari kebun sawo pada stadia kematangan yang sama, lalu disimpan selama 0, 5 dan 10 hari dalam ruangan dengan suhu kamar. Hasil penelitian menunjukan bahwa lama penyimpanan berpengaruh terhadap kualitas hasil buah sawo, yaitu perubahan pada nilai kekerasan buah, kadar air, total padatan terlarut, dan perubahan warna (L*, b*, ohue, dan chroma).Kata kunci : Kadar air, Kekerasan buah, Total padatan terlaru
Intensitas Penyakit Blas (Pyricularia oryzae Cav.) pada Padi Varietas Ciherang di Lokasi Endemik dan Pengaruhnya terhadap Kehilangan Hasil
ABSTRACTDisease intensity of blast disease (Pyricularia oryzae Cav.) of Ciherang rice variety at the endemic location and its effect on yield lossBlast is one of the most important diseases of rice worldwide. Many countries have developed data on the intensity and yield loss due to blast disease, whereas Indonesia has no such data resulted from trial specifically designed to estimate blast intensity at the endemic location and its potential yield loss. Such data are needed for various purposes, such as for disease management policy and research background. A trial has been carried out at Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, a location where blast was endemic for years, using var. Ciherang that is known as susceptible and widely grown by farmers. Eight concentrations of fungicide of single as well as mix active ingredients were used to see the effects in suppressing blast diseases compared with of control. Trial used a Randomized Block Design with 5 replicates. The parameters observed were the intensity of leaf blast, neck blast and yield. The results showed that the disease intensity of var. Ciherang at the endemic location was 55.60% of leaf blast and 37.75% of neck blast. The potency of yield loss calculated was 3.65 ton/ha or equal with 61% of the average yield of var. Ciherang as described in its variety description. This number justifies the important of control measures of rice blast diseases.Keywords: Blast disease intensity, var. Ciherang, Potency of yield lossABSTRAKPenyakit blas merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman padi di seluruh dunia. Berbagai negara sudah memiliki data tentang intensitas dan kehilangan hasil padi oleh penyakit blas, sementara di Indonesia belum ada hasil pengujian yang khusus dirancang untuk melihat tingkat intensitas penyakit blas di daerah endemik dan potensi kehilangan hasil yang diakibatkannya. Data sejenis ini penting untuk berbagai keperluan antara lain untuk kebijakan pengendalian dan dasar pentingnya penelitian. Suatu percobaan telah dilakukan di Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi yang merupakan daerah endemik penyakit blas selama bertahun-tahun, menggunakan var Ciherang yang merupakan varietas rentan namun populer ditanam petani. Delapan bahan aktif fungisida berbahan aktif tunggal dan majemuk digunakan untuk melihat pengaruh penekanannya dibandingkan kontrol. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima ulangan. Parameter yang diamati adalah intensitas penyakit blas daun dan blas leher malai serta hasil padi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa intensitas penyakit blas pada tanaman padi var. Ciherang di daerah endemik adalah 55,60% untuk blas daun, dan 37,75% untuk blas leher malai. Potensi kehilangan hasil oleh gabungan penyakit blas pada var. Ciherang adalah 3,65 ton/ha atau setara dengan 61% kehilangan hasil jika dibandingkan terhadap rata-rata produksi var. Ciherang menurut spesifikasi varietas. Data ini menjustifikasi perlunya pengambilan tindakan pengendalian penyakit blas pada tanaman padi.Kata Kunci: Intensitas penyakit blas, var. Ciherang, Potensi kehilangan hasi
Penampilan 15 Genotipe Kedelai Hitam (Glycine soja (L.) Merr) pada Pertanaman Tumpangsari 2:1 dengan Jagung
ABSTRAKPeningkatan minat petani untuk menanam kedelai dapat dilakukan melalui sistem tanam tumpangsari kedelai dengan jagung untuk mengurangi kemungkinan kerugian akibat gagal panen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagimana penampilan karakter daya hasil 15 genotipe kedelai hitam pada pertanaman tumpangsari pola 2:1 dengan jagung. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 15 genotip kedelai hitam sebagai perlakuan yang diulang sebanyak dua kali. Percobaan disusun dalam pertanaman 2:1 (dua baris kedelai dan satu baris jagung). Pengamatan dilakukan terhadap karakter daya hasil yaitu jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot 100 biji, bobot biji per tanaman, dan bobot biji per baris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe-genotipe yang lebih unggul dibandingkan dengan kultivar Cikuray dan Malika adalah BTN 1, BTN 2, BTN 5, dan CK 5 pada karakter jumlah biji per tanaman, genotipe CK 15 pada karakter jumlah polong per tanaman, genotipe SM 2 pada karakter jumlah polong per tanaman dan jumlah biji per tanaman, serta genotipe CK 0, KA 6, dan KA 7 pada karakter jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman dan bobot biji per baris.Kata Kunci: Kedelai hitam, Tumpangsari, Daya hasi
Keefektifan Insektisida BPMC dan Ekstrak Daun Suren terhadap Hama Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens Stal.) dan Populasi Musuh Alami pada Padi Varietas Ciherang
ABSTRACTEffectiveness of BPMC insecticide and suren leaf extract on brown planthopper (Nilaparvata lugens Stal.) and its natural enemy population on Ciherang rice varietyEffectiveness study of BPMC insecticide and suren leaf extract esticide against brown planthopper and its side-effect on its natural enemy population on paddy Ciherang variety was conducted in rice field of Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), Karawang, West Java from May to August 2015. The experimental design used was Randomized Blok Design with 7 treatments and 4 replications ie suren leaf extract of 50 g/l, 100 g/l and 150 g/l, three concentrations of BPMC of 0.5 ml/l, 1.0 ml/l and 1.5 ml/l, and a control treatment. The results showed that BPMC insecticide and suren leaf extract were able to suppress the population of brown planthopper and influenced its natural enemy population. The treatment of 50 g/l suren leaf extract gave the highest suppression of the brown planthopper population. It was also caused no negative impact to the natural enemies of P. fuscipes and L. pseudoannulata. The application of 1.5 ml/l of BPMC insecticide gave the highest grain weight average of 37.80 kg/plot compared to the lowest production in control treatment of 32.63 kg/plot. Therefore, application of BPMC insecticide and suren leaf extract effectively suppressed the brown planthopper population and the natural enemy existence was assumed to affect the rice grain production in this study.Keywords: BPMC insecticide, Natural enemy, Suren, PlanthopperABSTRAKStudi keefektifan insektisida BPMC dan ekstrak daun suren terhadap hama wereng batang coklat (WBC) dan efek samping terhadap musuh alami wereng pada padi varietas Ciherang dilaksanakan di sawah Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Karawang mulai Mei 2015 sampai Agustus 2015. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan yaitu perlakuan tanpa insektisida (kontrol), 50 g/l ekstrak daun suren, 100 g/l ekstrak daun suren, 150 g/l ekstrak daun suren, 0,5 ml/l insektisida BPMC, 1,0 ml/l insektisida BPMC, dan 1,5 ml/l insektisida BPMC. Hasil menunjukkan perlakuan insektisida BPMC dan ekstrak daun suren dapat menekan populasi hama WBC dan memengaruhi populasi musuh alaminya (Paederus fuscipes dan Lycosa pseudoannulata). Perlakuan ekstrak daun suren konsentrasi 50 g/l dapat menekan populasi WBC tertinggi. Aplikasi ekstrak daun suren tidak berdampak negatif terhadap musuh alami P. fuscipes dan L. pseudoannulata. Perlakuan 1,5 ml/l insektisida BPMC menghasilkan produksi gabah tertinggi dari semua perlakuan dengan rata-rata bobot basah gabah 37,80 kg/petak dibandingkan dengan hasil terendah pada perlakuan kontrol sebesar 32,63 kg/petak. Dengan demikian, aplikasi insektisida BPMC dan ekstrak daun suren berpengaruh terhadap populasi hama WBC dan efek samping dari tingkat keberadaan musuh alami berakibat pada hasil gabah tanaman padi.Kata Kunci: Insektisida BPMC, Musuh alami, Suren, Weren
Kecepatan dan Hambatan Rekolonisasi Musuh Alami Setelah Aplikasi Insektisida di Pertanaman Padi
ABSTRACTRecolonization of Natural Enemies after Insecticide Application in Rice Planting AreaThe study to assess recolonization of natural enemies after insecticide application in rice planting area was carried out in the wet season of 2013 at Karawang Regency. The application of several insecticides of rynaxypyr, fipronil, dinotefuran, pymetrozine, imidacloprid, and BPMC was conducted when brown plant hopper population was rising and yellow stem borer flight was occurring. Observation of natural enemies was carried out on 1, 3, 5, 7, 10, 15, and 21 days after application (DAA) using sweep net for 4 swings per plot. The results showed that spiders were relatively safe to the rynaxypyr and fipronil insecticides with hampered recolonization index (HRI) of very light and light where recolonization occurred on 1 DAA. All tested insecticides highly affected Telenomus rowani with HRI of heavy to very heavy that this parasitoid recolonized at 7 DAA. On the other hand, all insecticides showed low influence on the recolonization of Tetrastichus schoenobii with HRI from unhampered to light hamper and the recolonization occurred on 1 DAA. The effect of rynaxypyr, fipronil, imidacloprid and BPMC application on Oligosita sp. and Anagus sp. recolonization was categorized to be low with HRI of light hamper that the recolonization happened at 1 DAA and 5 DAA, respectively. The insecticides of fipronil and BPMC were considered to slightly hamper the chironomid with the light value of the HRI and the chironomid recolonized at 1 DAA on fipronil and 3 DAA on BPMC.Keywords: Effect of insecticides, Recolonization of natural enemy, RiceABSTRAKPenelitian rekolonisasi musuh alami setelah aplikasi insektisida di pertanaman padi dilakukan pada musim hujan 2013 di Kabupaten Karawang. Aplikasi insektisida berbahan aktif rinaksipir, fipronil, dinotefuran, pimetrozin, imidakloprid, dan BPMC dilakukan saat populasi hama wereng coklat meningkat, sementara penerbangan penggerek batang padi kuning sedang berlangsung. Pengamatan terhadap musuh alami menggunakan jaring serangga sebanyak 4 ayunan per petak pada 1, 3, 5, 7, 10, 15, dan 21 hari setelah aplikasi (HSA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa laba-laba relatif aman terhadap insektisida rinaksipir dan fipronil dengan nilai indeks hambatan rekolonisasi (IHR) kedua insektisida tersebut sangat ringan dan ringan dengan kecepatan rekolonisasi laba-laba pada 1 HSA. Semua insektisida menekan sangat tinggi terhadap Telenomus rowani dengan IHR berat sampai sangat berat dan rekolonisasi parasitoid tersebut dinilai lambat yaitu 7 HSA. Insektisida menekan sangat rendah terhadap Tetrastichus schoenobii dengan IHR dari tidak ada hambatan sampai hambatan ringan dan kecepatan rekolonisasinya terjadi pada 1 HSA. Tekanan insektisida rinaksipir, fipronil, imidakloprid, dan BPMC terhadap Oligosita sp. dan Anagus sp. agak rendah dengan IHR ringan dan kecepatan rekolonisasi Oligosita sp. pada 1 HSA dan Anagrus sp. pada 5 HSA. Insektisida fipronil dan BPMC agak menekan chironomid dengan nilai IHR ringan dan kecepatan rekolonisasi 1 HSA pada fipronil dan 3 HSA pada BPMC.Kata Kunci: Pengaruh Insektisida, Rekolonisasi musuh alami, Pad
Keefektifan Oligochitosan dalam Menekan Pertumbuhan Jamur Patogen Rigidoporus lignosus [(Klotzsch) Imazeki] Penyebab Penyakit Jamur Akar Putih pada Tanaman Cengkeh secara in Vitro
ABSTRACTThe effectiveness of Oligochitosan in Suppressing the Growth of Fungal PathogenRigidoporus lignosus [(Klotzsch) Imazeki] the Causal Agent of White Root Rot Disease of Clovesin VitroWhite root rot disease caused by fungi Rigidoporus lignosus (Klotzch) Imazeki is an important disease of cloves that can cause the death of clove plants. Negative effect on the use of intensive fungicides leads to the search of an alternative method which is more environmentally friendly. Oligochitosan is a natural compound that has antifungal activity and can be used as natural pesticide. This study aimed to determine the concentration of oligochitosan that was able to effectively inhibit R. lignosus mycelial growth and to determine the effect of oligochitosan to R. lignosus mycelial growth. The study used a Completely Randomized Design with 5 oligochitosan concentration treatments (2 g/l, 4 g/l, 6 g/l, 8 g/l and 10 g/l) and control (no treatment). Oligochitosan was diluted with water and mixed with PDA to meet the required concentration. Same concentration was also used to dip wooden toothpick for 1 min and incubated on PDA containing R. lignosus. The result showed that 6 g/l oligochitosan concentration was able to inhibit the mycelial growth of R. lignosus up to 71.6%. Highets inhibition of 100% was demonstrated by oligochitosan at concentration of 8 g/l and 10 g/l. The thinning of mycelial growth on the toothpick and microscopic observation demonstrated that the mycelial of R. lignosus were became lysis.Keywords: Antifungal, Food poisonous, Mycelial growth, LysisAbstrakPenyakit Jamur Akar Putih (JAP) yang disebabkan oleh jamur Rigidoporus lignosus (Klotzch) Imazeki merupakan penyakit penting yang menyerang tanaman cengkeh dan bahkan dapat mengakibatkan kematian tanaman. Pengaruh negatif dari penggunaan fungisida mendorong dilakukan pencarian alternatif pengendalian baru yang lebih ramah lingkungan. Oligochitosan merupakan senyawa alami yang mempunyai aktivitas anti jamur dan dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi oligochitosan yang dapat secara efektif menghambat pertumbuhan jamur R. lignosus dan mengetahui pengaruh oligochitosan terhadap miselia jamur R. lignosus. Percobaan dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan terdiri dari 5 konsentrasi oligochitosan (2 g/l, 4 g/l, 6 g/l, 8 g/l dan 10 g/l) dan kontrol (tanpa oligochitosan). Oligochitosan dilarutan dalam air dan dicampur dengan PDA sehingga diperoleh konsentrasi yang diuji. Konsentrasi yang sama juga digunakan untuk merendam tusuk gigi selama 1 menit dan diinkubasikan dalam cawan petri yang sebelumnya sudah ditumbuhi oleh R. lignosus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa oligochitosan pada konsentrasi 6 g/l menghambat pertumbuhan jamur R. lignosus sebesar 71,6%. Sementara penghambatan tertinggi sebesar 100% diperoleh pada perlakuan oligochitosan dengan konsentrasi8 g/l dan 10 g/l. Penipisan koloni jamur R. lignosus pada tusuk gigi dan pengamatan di bawahmikroskop menunjukkan bahwa oligochitosan menyebabkan lisis pada miselia jamur R. lignosus.Kata kunci: Anti jamur, Umpan beracun, Pertumbuhan koloni, Lisi
Respons Pertumbuhan Tanaman Kopi Robusta (Coffea robusta L.) Tercekam Aluminium di Lahan Reklamasi Bekas Tambang Batubara Bervegetasi Sengon (Periode El Nino)
ABSTRACTResponse on plant growth of Robusta coffee (Coffea robusta L.) to aluminum stress in reclamation of coal mines vegetated sengon (El Nino period)Reclamation of coal mines commonly has low fertility rates with high aluminum saturation. Aluminum stress could be negative impact on plants that are not tolerant, can cause toxicity and inhibition of plant growth. This research in order to determine the effect of aluminum stress on plant growth of robusta coffee in reclamation of coal mines vegetated sengon. Stress aluminum effect on plant growth of Robusta coffee in reclamation is shown on parameter of plant height, stem diameter, leaf area, shoot dry weight, root length are lower than Robusta coffee plants in nurseries (control), and parameter of volume root, root dry weight are higher than the control. The content of aluminum (Al) in leaves of coffee plant in reclamation (117.7 ppm) is higher than control (26.1 ppm). Based on roots observation do not shown symptom of inhibition or toxicity of aluminum stress, and result of analysis of Al content in the roots is 25 ppm belongs to category is low( < 60 ppm), then the Robusta coffee plant belongs to the category tolerant to aluminum stress in reclamation of coal mines vegetated sengon.Keywords: Coffee, Stress, Aluminum (Al), Roots, ReclamationABSTRAKLahan reklamasi bekas tambang batubara umumnya memiliki tingkat kesuburan rendah dengan kejenuhan aluminium tinggi. Cekaman aluminium berdampak negatif bagi tanaman yang tidak toleran dan dapat menimbulkan toksisitas sehingga mengakibatkan penghambatan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cekaman aluminium terhadap pertumbuhan tanaman kopi robusta pada lahan reklamasi bekas tambang batubara bervegetasi sengon. Hasil penelitian memperlihatkan cekaman aluminium di lahan reklamasi bekas tambang batubara bervegetasi sengon berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kopi Robusta, yang ditunjukkan pada parameter tinggi tanaman, diameter batang, luas daun, bobot kering pupus, panjang akar yang lebih rendah dibandingkan tanaman kopi Robusta di nurseri (kontrol), dan parameter volume akar, bobot kering akar yang lebih tinggi dibandingkan kontrol. Kandungan aluminium (Al) di daun pada lahan reklamasi lebih tinggi (117,7 ppm) dibandingkan kontrol (26,1 ppm). Berdasarkan pengamatan akar pada tanaman kopi di lahan reklamasi, tidak terlihat gejala penghambatan atau toksisitas akibat cekaman Al, dan hasil pengujian kandungan Al di akar adalah 25 ppm, termasuk kategori rendah (< 60 ppm), maka tanaman kopi Robusta termasuk kategori toleran terhadap cekaman aluminium yang terdapat di lahan reklamsi bekas tambang batubara bervegetasi sengon.Kata kunci : Kopi, Cekaman, Aluminium (Al), Akar, Lahan reklamas
Kerentanan Jenis Tepung terhadap Infestasi Kumbang Tepung Merah (Tribolium castaneum Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae)
ABSTRACT Susceptibility of various flour types to the investation of red flour beetle ( Tribolium castaneum Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae) The research on the level of flour susceptibility against infestation of Tribolium castaneum has been conducted in laboratory under conditions of 28-30oC and relative humidity of 70-75%. Each type of flour was infested by 10 pairs of T. castaneum adult. Variables observation included the population growth, development period, weight losses percentage and susceptibility index. The results showed that degree of flour suitability against population growth namely wheat flour > corn flour > bran > mungbean flour > rice flour > potato flour > purple cultivar sweet potato flour > bread crumbs > glutinous rice flour > tapioca flour = sago flour. The longest median development time of T. castaneum was found in tapioca and sago flours of 86 days while the shortest was in wheat flour of 23.33 days. The highest weight loss percentage occurred on wheat and corn flours. The susceptibility level of flours to T. castaneum with resistant category included tapioca flour, corn flour, glutinous rice flour, purple cultivar sweet potato flour and bread crumbs. Mungbean flour was in moderate gategory while potato flour was in resistant to moderate category. Rice flour and bran were classified in susceptible category while corn and wheat flours were classified as highly susceptible. Keywords: Tribolium castaneum , Flour, Population growth, Development period, Susceptibility ABSTRAK Penelitian tingkat kerentanan jenis tepung terhadap infestasi Tribolium castaneum telah dilakukan di laboratorium pada kondisi suhu 28-30oC dan RH 70-75%. Setiap jenis tepung diinfestasi 10 pasang imago T . c a s t a n e u m . Variabel pengamatan meliputi pertumbuhan populasi, periode perkembangan, persentase susut berat dan indek kerentanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian jenis tepung terhadap pertumbuhan populasi yaitu tepung gandum > tepung jagung > dedak > tepung kacang hijau > tepung beras > tepung kentang > tepung ubi jalar kultivar ungu > tepung panir > tepung ketan putih > tepung tapioka = tepung sagu. Median waktu perkembangan T. castaneum paling lama dijumpai pada tepung tapioka dan sagu yaitu 86 hari, sedangkan paling singkat pada tepung gandum yaitu 23,33 hari. Susut berat tepung paling banyak terjadi pada tepung gandum dan jagung. Tingkat kerentanan jenis tepung terhadap T. castaneum yaitu katagori resisten meliputi tepung tapioka, tepung sagu, tepung ketan putih, tepung ubi jalar kultivar ungu, dan tepung panir. Katagori moderat yaitu tepung kacang hijau, sedangkan tepung kentang tergolong resisten sampai moderat. Tepung beras dan dedak tergolong katagori rentan, sedangkan tepung jagung dan gandum tergolong katagori sangat rentan. Kata Kunci: Tribolium castaneum , Tepung, Pertumbuhan populasi, Periode perkembangan, Tingkat kerentana
Faktor Dominan dari Preferensi Konsumen dalam Pemilihan Jenis Mangga (Mangifera indica): Suatu Kasus di Supermarket di Kota Bandung
ABSTRAKBuah mangga merupakan buah-buahan yang banyak diminati oleh masyarakat karena rasanya yang enak dan banyak manfaatnya. Seiring dengan pendapatan masyarakat dan kesadaran tentang kesehatan yang meningkat, permintaan akan buah mangga semakin besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi konsumen dalam memilih mangga dan mengidentifikasi faktor dominan yang membedakan konsumen menyukai jenis mangga tertentu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan teknik survei yang dilakukan di dua supermarket di Kota Bandung. Objek yang diteliti adalah empat jenis buah mangga yaitu Gedong gincu, Aromanis, Cengkir dan Kaweni. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah systematic random sampling dengan responden yang disurvei adalah konsumen yang berbelanja buah mangga. Metode analisis yang digunakan adalah Analisis Diskriminan yang digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang jelas antar jenis buah mangga yang disukai pada variabel karaktersitik konsumen mangga dan faktor-faktor dominan manakah dari variabel independen yang membuat perbedaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi konsumen mempunyai kecenderungan menyukai mangga Gedong gincu serta faktor umur dan pola konsumsi konsumen adalah faktor dominan yang berpengaruh terhadap preferensi konsumen dalam pemilihan jenis mangga.Kata Kunci: Preferensi konsumen, Mangga, Supermarke
Residu Pestisida pada Tanaman Hortikultura (Studi Kasus di Desa Cihanjuang Rahayu Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat)
ABSTRACTResidue of Pesticides on Horticultural Crops (Case Study in Cihanjuang Rahayu Village, Parongpong District, West Bandung Regency)The purpose of this study was to investigate the type of residual concentrate of chlorpyrifos pesticides accumulated in horticultural crops, the impact of pesticide residues to the public health and daily intake assumption. This study used a quantitative approach to survey methods to know in depth about pesticide residues on horticultural crops where the data source consisted of primary data obtained from interviews and the results of chemical analysis and secondary data collected directly from some sources. In several types of insecticides used by farmers in Cihanjuang Rahayu village, there are kind of insecticides that did not recommended to control pests on broccoli. Based on the analysis of pesticide residues, residue results were obtained from four broccoli samples with 10%, 20%, 60% and 80% greater than the maximum residue limit. This suggests that the four samples tested contain harmful residues exceeding the maximum limit of 2 ppm residue. Health effects of pesticides on farmers included nausea, vomiting, dizziness and itching of the skin. The calculating results of intake assumption on the risk of health obtained the result of 1,505 g/day with the highest value of 4,014 g/day and the lowest risk was the amount of intake of 423 g/day. From the results of these calculations, it can be seen that the amount of consumption of vegetables and horticulture was having average risk to farmers as much as 1,505 g/day.Keywords: Residue, Pesticides, Horticulture, BroccoliABSTRAKTujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis konsentrat residu pestisida klorpirifos yang terakumulasi pada tanaman hortikultura, dampak residu pestisida bagi masyarakat dan asumsi asupan beresiko kesehatan per hari. Penelitian menggunakan pendekatan metode survei bersifat kuantitatif dengan sumber data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dan hasil analisis kimia serta data sekunder yang dikumpulkan secara langsung dari narasumber. Beberapa jenis insektisida yang digunakan oleh petani di Desa Cihanjuang Rahayu, Bandung Barat terdapat jenis insektisida yang tidak direkomendasikan untuk mengendalikan hama pada tanaman brokoli. Hasil analisis terhadap residu pestisida pada empat sampel tanaman brokoli diperoleh residu pada keempat sampel yang diuji dengan persentase 10%, 20%, 60% dan 82% dari batas maksimum residu. Dampak penggunaan pestisida terhadap kesehatan petani yaitu berupa mual-mual, muntah, pusing dan gatal-gatal pada kulit. Hasil perhitungan asumsi asupan beresiko kesehatan melalui analisis pemajanan diperoleh hasil 1.505 g/hari dengan nilai tertinggi 4.014 g/hari dan jumlah asupan beresiko terendah adalah 423 g/hari. Dari hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa jumlah konsumsi sayuran dan hortikultura rata-rata beresiko oleh para petani adalah sebesar 1.505 g/hari.Kata Kunci: Residu, Pestisida, Hortikultura, Brokol