Agrikultura
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
Uji Antagonisme Bakteri Endofit dengan Cercospora oryzae Miyake dan Bipolaris oryzae (Breda de Haan) Shoemaker
ABSTRACTAntagonism test between Endophytic Bacteria and Cercospora oryzae Miyake and Bipolaris oryzae (Breda de Haan) ShoemakerCercospora oryzae Miyake dan Bipolaris oryzae (Breda de Haan) Shoemaker are the causal agent of major disease for rice, which called Cercospora leaf spot and rice brown spot. Cercospora leaf spot and rice brown spot control using a bio-control agent in a form of endophytic bacteria is one of the eco-friendly alternative method. This research aimed to test the potential of the endophytic bacteria isolates which have the antagonism ability and able to reduce the growth of the diseases. The research was carried out in the Laboratory of Biotechnology Plant Protection of the Department of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The experiments were carried out using dual culture method. The experiments were performed using a completely randomized design (CDR)which consisted of 10 treatments with 4 replications. The antagonism experiments used 9 endophytic bacteria isolates from some parts of the rice plant. The result of antagonism of endophytic bacteria test showed that all of the isolates had antagonistic activity towards C. oryzae dan B. oryzae. Os6 isolate demonstrated the best result to inhibit C. oryzae growth with the radius of its colony reached only 85 mm and the inhibition growth percentage reached 85.83%. Os3 isolate showed the best result to inhibit B. oryzae growth with the radius of its colony reached only 147.5 mm and the inhibition growth percentage reached 75.41%.Keywords: Inhibition growth, Cercospora leaf spot, Rice brown spotABSTRAKCercospora oryzae Miyake dan Bipolaris oryzae (Breda de Haan) Shoemaker merupakan penyebab penyakit utama Padi, yaitu bercak daun Cercospora dan bercak coklat. Pengendalian C. oryzae Miyake dan B. oryzae (Breda de Haan) Shoemaker dengan menggunakan agens hayati berupa bakteri endofit merupakan salah satu alternatif pengendalian yang ramah bagi lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi isolat bakteri endofit yang mempunyai kemampuan antagonis dan mampu menekan pertumbuhan penyakit. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Proteksi Tanaman Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Prosedur yang dilakukan adalah dual culture method. Percobaan dilakukandengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 10 perlakuan dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Uji Antagonisme pada penelitian ini menggunakan 9 isolat bakteri endofit yang berasal dari beberapa bagian tanaman padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9 isolat bakteri endofit yang diujikan, semuanya bersifat antagonis terhadap C. oryzae Miyake dan B. oryzae (Breda de Haan) Shoemaker. Isolat Os6 paling baik menghambat C. oryzae Miyake dengan jari-jari koloni sebesar 85 mm dan persentase penghambatan mencapai 85,83%. Isolat Os3 paling baik menghambat B. oryzae (Breda de Haan) Shoemaker dengan jari-jari koloni sebesar 147,5 mm dan persentase penghambatan mencapai 75,41%.Kata kunci: Penghambatan pertumbuhan, Bercak daun cercospora, Bercak coklat
Verifikasi Alat Multimeter Digital untuk Deteksi Cepat Residu Insektisida dalam Sayuran
ABSTRACTVerification of digital multimeter for rapid detection of insecticide residues on vegetablesThe instruments that usually used for detection of pesticide residues are Gas Chromatography (GC), High Performance Liquid Chromatography (HPLC), and Thin Layer Chromatography (TLC), however, these instruments are expensive, take time, and need a large number of chemicals. Therefore, it is needed to develop rapid method in analyzing pesticide residues. One instrument that is potential for rapid detection of pesticide residues is digital multimeter. This method uses resistance differences of electrical current on chemical compounds. The aim of this research was to assess capability of digital multimeter for rapid detection of insecticide residues on vegetables by the aspects of precision, accuracy, linearity, and detection limit. The research was conducted in IAERI laboratory, Laladon, Bogor on January to December 2012. Insecticide residues that detected were organochlorine and organophosphate on some vegetables of potato, cabbage, carrot, onion, chili, and cucumber. The results showed that precision values of digital multimeter for detection organochlorine and organophosphate residues on vegetables were 0.02 to 2.46%. Linearity values of digital multimeter for detection endrin on onion and potato, heptachlor on onion, BHC on cucumber, chlorphyriphos on potato and cabbage, and dichlorvos on cabbage were 0.81, 0.84, 0.95, 0.71, 0.95, 0.80 and 0.76, respectively. Accuracy values of digital multimeter for detecting endrin and dieldrin on onion, chlorphyriphos on potato and cabbage, and profenophos on chili were 106.93%, 115.08%, 72.89%, 72.40%, and 98.06%, respectively. Detection and quantification limits of digital multimeter for detecting organochlorine were 0.08 to 0.17 ppm and 0.27 to 0.56 ppm, respectively. Meanwhile, detection and quantification limits of digital multimeter for detecting organophosphate were 0.05 to 0.27 ppm and 0.16 to 0.90 ppm, respectively. This result showed that digital multimeter was accurate and representative instrument for detecting pesticide residues on vegetables.Keywords: Digital Multimeter, Pesticides residue, VegetablesABSTRAKAlat yang digunakan untuk analisis residu pestisida antara lain Kromatografi Gas (KG), Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), Kromatografi Lapis Tipis (KLT), namun alat tersebut sangat mahal, dan perlu proses cukup lama serta memerlukan bahan kimia yang banyak. Untuk itu perlu dikembangkan metode cepat analisis residu pestisida. Salah satu alternatif deteksi cepat residu pestisida adalah dengan menggunakan Alat Multimeter Digital (AMD). Teknik analisis ini menggunakan prinsip perbedaan resistensi (tahanan) terhadap arus listrik dari senyawa kimia residu pestisida. Percobaan ini bertujuan mengetahui cara kerja awal AMD untuk deteksi cepat residu insektisida pada tanaman sayuran dari aspek presisi, akurasi, linearitas, dan limit deteksi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) di Laladon Bogor, mulai bulan Januari hingga Desember 2012. Residu insektisida yang dideteksi adalah organoklorin dan organofosfat pada beberapa sayuran yaitu kentang, kubis, wortel, bawang merah, cabe merah dan mentimun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai presisi AMD dalam mendeteksi organoklorin dan organofosfat pada sayuran berkisar 0,02-2,46%. Nilai linearitas AMD dalam mendeteksi endrin pada bawang merah dan kentang, heptaklor pada bawang merah, BHC pada mentimun, klorpirifos pada kentang dan kubis, serta diklorfos pada kubis masing-masing sebesar 0,81, 0,84, 0,95, 0,71, 0,95, 0,80 dan 0,76. Nilai akurasi AMD dalam mendeteksi endrin dan dieldrin pada bawang merah, klorpirifos padakentang dan kubis, serta profenofos pada cabe merah masing-masing sebesar 106,93 %, 115,08%, 72,89 %, 72,40%, dan 98,06%. Nilai LOD (limit deteksi) dan LOQ (limit quantifikasi) AMD terhadap organoklorin berkisar antara 0,08-0,17 ppm dan 0,27-0,56 ppm, sedangkan terhadap golongan organofosfat berkisar antara 0,05-0,27 ppm dan 0,16-0,90 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa AMD merupakan alat yang cukup akurat dan representatif untuk deteksi cepat residu pestisida pada sayuran.Kata Kunci: Alat Multimeter Digital, Residu pestisida, Sayura
Perlakuan Benih Ekstrak Anredera cordifolia Menekan Kejadian Penyakit Antraknosa Benih Cabai Terinfeksi Colletotrichum Acutatum
Keberadaan patogen pada benih telah menimbulkan kerugian yang tinggi. Perlakuan benih sudah umum dilakukan untuk menjamin benih bebas hama maupun patogen serta untuk menyediakan pengendalian penyakit selama masa perkecambahan maupun pada awal pertumbuhan tanaman. Penyakit antraknosa pada tanaman cabai yang disebabkan oleh Colletotrichum spp. dapat mengakibatkan kehilangan hasil panen mencapai 100%. Infeksi patogen penyebab penyakit antraknosa pada benih dapat mengakibatkan penyakit hawar bibit atau pre emergence atau post emergence damping-off. Penggunaan bahan alami untuk perlakuan benih diharapkan dapat menjadi upaya pengendalian penyakit yang ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji keefektifan ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia) dalam menekan kejadian penyakit hawar bibit yang disebabkan oleh jamur Colletotrcihum acutatum terbawa benih cabai. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Proteksi Tanaman, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Percobaan terdiri atas tujuh perlakuan yaitu empat perlakuan benih dengan ekstrak binahong konsentrasi 0,25%, 0,50%, 1%, dan 2%, serta dua perlakuan kontrol positif dan negatif, dan perlakuan pembanding fungisida propineb 0,30% yang masing-masing diulang empat kali. Hasil percobaan menunjukkan perlakuan benih cabai dengan ekstrak metanol daun binahong mampu menekan kejadian penyakit hawar bibit pada benih terinfeksi C. acutatum dengan penekanan penyakit tertinggi sebesar 81,65% yang diperoleh pada perlakuan konsentrasi 2%. Namun demikian, perlakuan benih cabai dengan ekstrak metanol daun binahong memengaruhi viabilitas benih cabai dengan panjang kecambah benih cabai yang lebih pendek daripada pada perlakuan kontrol.Kata Kunci: Binahong, Pestisida nabati, Perlakuan beni
Identifikasi Lalat Buah (Bactrocera spp), pada Tanaman Cabai (Capsicum Annum L.) dan Belimbing (Averrhoa Carambola L.) dikecamatan Salahutu kabupaten Maluku Tengah.
Lalat buah (Bactrocera spp.) merupakan salah satu hama utama pada tanaman hortikultura di dunia. Lebih dari seratus jenis tanaman hortikultura diduga menjadi inangnya. Pada populasi yang tinggi, intensitas serangannya dapat mencapai 100%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies atau jenis lalat buah yang menyerang belimbing dan cabai serta menghitung intensitas serangan hama lalat buah terhadap belimbing dan cabai di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian dilakukan dengan metode survey di lapangan dengan mengumpulkan sampel buah belimbing dan cabai yang terserang lalat buah di tiga desa yaitu Desa Liang, Tulehu dan Suli, selanjutnya buah yang terserang dibawa ke laboratorium untuk di-rearing lalat buah. Lalat buah hasil rearing kemudian diidentifikasi dengan menggunakan CD Lucid dan CD Cabikey. Hasil penelitian menunjukkan 3 spesies lalat buah yang menyerang belimbing di Kecamatan Salahutu yaitu Bactrocera albistrigta, Bactrocera dorsalis dan Bactrocera carambolae, sedangkan yang menyerang cabai rawit ada dua spesies yaitu Bactrocera dorsalis dan Bactrocera carambolae. Intensitas serangan lalat buah pada belimbing termasuk kategori ‘Sedang’ sampai ‘Tinggi’ yaitu 30%-70%, sedangkan pada tanaman cabai rawit termasuk kategori ‘Sedang’ yaitu 41%-49%.Kata Kunci: Lalat buah, Identifikasi, Intensitas seranga
Hubungan Bobot Isi dan Kemantapan Agregat Tanah dengan Biomassa Tanaman Jagung Manis dan Cabai Merah setelah diberikan Kombinasi Terak Baja dan Bokashi Sekam Padi pada Andisol, Lembang
ABSTRACTRelationship between bulk density and soil agaregate stability on biomass of sweet corn and red chili after given combination steel slag and bokashi of husk on Andisol LembangThe objective of this research was to find out relationship between bulk density and soil agaregate stability on biomass of sweet corn and red chili after given combination steel slag and bokashi of husk on Andisol Lembang.This study used a Randomized Block Design Factorial with two factors. The first factor was steel slag and the second factor was bokashi of husk. Each of them consisted of 4 levels of 0%, 2.5%, 5.0% and 7.5% with two replications. The result of this research showed there was relationship between bulk density and soil agaregate stability on biomass of sweet corn and red chili, however only the biomass of red chili was influenced of bulk density and soil agaregate stability.Keywords: Steel slag, Bokashi of husk, Bulk density, Soil agaregate stability, Plant biomassABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara bobot isi dan kemantapan agregattanah terhadap biomassa tanaman jagung manis dan cabai merah setelah diberikan kombinasi terakbaja dengan bokashi sekam padi pada Andisol Lembang. Penelitian menggunakan Rancangan AcakKelompok Pola Faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama terak baja dan faktor kedua bokashisekam padi masing-masing 4 taraf yaitu 0%, 2,5%, 5,0%, dan 7,5%, diulang dua kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara bobot isi dan kemantapan agreagat tanahdengan biomassa tanaman jagung manis dan cabai merah, namun hanya biomassa tanaman cabaimerah yang dipengaruhi oleh bobot isi dan kemantapan agregat tanah.Kata Kunci: Terak baja, Bokashi sekam padi, Bobot isi, Kemantapan agregat, Biomassa tanama
Kemampuan Bacillus subtilis dan Lysinibacillus sp. dalam Silika Nano dan Serat Karbon untuk Menginduksi Ketahanan Bawang Merah terhadap Penyakit Bercak Ungu (Alternaria porri (Ell.) Cif)
ABSTRACTThe ability of Bacillus subtilis and Lysinibacillus sp. singly or mixed, with carbon fiber and nano silica to induce resistance of shallot to purple blotchPurple blotch disease caused by Alternaria porri is one of the major disease on shallot. One of the methods that can be applied to control the disease is the use of antagonistic bacteria. Antagonistic bacteria can be used as a resistance inducer to suppress pathogen development. In this study, Bacillus subtilis and Lysinibacillus sp. were formulated in carbon fiber as a carrier and nano silica 3% as a complementary. This study was conducted to determine the ability of Bacillus subtilis and Lysinibacillus sp. singly or mixed, with carbon fiber and nano silica to induce resistance of shallot to purple blotch. The experiment was conducted at the Laboratory of Phytopathology, Departement of Plant Pest and Diseases and Ciparanje Green House, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran from December 2017 until July 2018. Suspension of Bacillus subtilis and Lysinibacillus sp. singly or mixed were formulated in carbon fiber 80 Mesh and 3% nano silica. The experiment used Randomized Block Design consisted of 8 treatments with 3 replications. Each replication consisted of 5 plants. The results showed that the mixture of Bacillus subtilis and Lysinibacillus sp. in 3% silica nano and carbon fiber was the ablest treatment to increase the resistance of shallot to purple blotch by 71,2%.Keywords: Antagonistic bacteria, BiocontrolABSTRAKPenyakit bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porri merupakan salah satu penyakit utama pada bawang merah. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk pengendalian yaitu menggunakan bakteri antagonis. Bakteri antagonis dapat digunakan sebagai penginduksi ketahanantanaman untuk menekan perkembangan penyakit. Pada penelitian ini, Bacillus subtilis dan Lysinibacillus sp. diformulasikan dalam serat karbon sebagai bahan pembawa dan silika nano 3% sebagai bahan pelengkap. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan bakteri Bacillus subtilis dan Lysinibacillus sp. secara tunggal maupun campuran dalam serat karbon dan silika nano3% untuk menginduksi ketahanan bawang merah terhadap penyakit bercak ungu. Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan dan Rumah Kaca, Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran mulai dari bulan Desember 2017 hingga Juli 2018. Suspensi Bacillus subtilis dan Lysinibacillus sp. secara tunggal maupun campuran diformulasikan pada serat karbon dan silika nano 3%. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari 8 perlakuan dengan 3 ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 5 tanaman. Dari hasil percobaan diketahui bahwa campuran B. subtilis dan Lysinibacillus sp. dalam silika nano 3% serta serat karbon mampu meningkatkan ketahanan bawang merah terhadap penyakit bercak ungu dengan persentase hambatan sebesar 71,2%.Kata Kunci: Bakteri antagonis, Biokontro
Penambahan Gula untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Antagonisme Khamir Rhodotorula minuta terhadap Colletotrichum acutatum Penyebab Antraknosa Cabai secara In-vitro
ABSTRACTThe addition of sugar to increase the growth and antagonism of Rhodotorula minuta against Colletotrichum acutatum, the causal agent of anthracnose on chilli in-vitroBiocontrol can be used as an alternative in controlling anthracnose disease on chilli caused by Colletotrichum acutatum. One of the antagonistic agents that reported to be able to control anthracnose on chilli is Rhodotorula minuta. Some sugars can be utilized by R. minuta for its growth and antagonism. This research was objected to study the effect of addition of some sugars to increase the growth and antagonism of R. minuta. The experiment was arranged in the completely randomized design with 16 treatments and 3 replications. The treatments were addition of glucose, sucrose, trehalose, D-mannitol, and D-xylose at 1%, 2.5% and 5% each. The results showed that the addition of glucose, sucrose, trehalose, D-mannitol, and D-xylose were able to increase the growth of R. minuta. The addition of glucose, sucrose, trehalose, and D-mannitol increased antagonism of R. minuta. The addition of 1% sucrose was able to stimulate the highest growth rate of R. minuta at the cell density of 3.87 x 107 cells/ml. The addition of trehalosa 2.5% increased the colony growth at 3 and 6 days after treatment. Sucrose 2.5%, D-manitol 5%, and glukosa 2,5% caused the highest relative inhibition of R. minuta against C. acutatum.Key words: antagonistic yeast, glucose, sucrose, trehalose, D-mannitol, D-xyloseABSTRAKPengendalian hayati dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengendalikan penyakit antraknosa pada cabai. Salah satu agens antagonis yang telah dilaporkan mampu mengendalikan penyakit antraknosa pada cabai yang disebabkan oleh Colletotrichum acutatum adalah khamir Rhodotorula minuta. Beberapa gula dapat dimanfaatkan oleh R. minuta untuk pertumbuhan dan antagonismenya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan beberapa gula untuk meningkatkan pertumbuhan dan antagonisme R. minuta. Percobaan dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 16 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari penambahan gula glukosa, sukroa, trehalosa, D-mannitol dan D-xylose dengan konsentrasi masing-masing gula 1%, 2,5% dan 5%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan gula glukosa, sukrosa, trehalosa, D-mannitol, dan D-xylose dapat meningkatkan pertumbuhan R. minuta. Penambahan gula glukosa, sukrosa, trehalosa, dan D-mannitol dapat meningkatkan antagonisme R. minuta. Perlakuan penambahan gula sukrosa 1% merupakan perlakuan yang dapat meningkatkan pertumbuhan R. minuta dengan kerapatan sel tertinggi yaitu sebesar 3,87 x 107 sel/ml. Penambahan trehalosa 2,5% dapat meningkatkan pertumbuhan koloni pada 3 HSP dan 6 HSP. Sukrosa 2,5%, D-manitol 5% dan glukosa 2,5% menyebabkan tingkat hambatan relatif R. minuta tertinggi terhadap C. acutatum.Kata kunci : Khamir antagonis, glukosa, sukrosa, trehalosa, D-mannitol, D-xylos
Hubungan Serapan N, P, dan K Tanaman Cabai terhadap Residunya di dalam Tanah yang Diberi Pupuk Cair Organik dengan NPK
ABSTRACTThe Relationship between N, P, and K Uptake of Chili Plants to Their Residues in Soil Treated by Liquid Organic Fertilizers and NPKThis study aims to determine the relationship of N, P, and K uptake of chili plants towards the residues in the soil treated with liquid organic fertilizer with the addition of inorganic fertilizers of N, P and K. The research was conducted from September 2017 to January 2018 in the experimental field and KTNT Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The design used was simple complete randomized design with 10 treatments and were repeated 3 times, with the treatment arrangement as follows: A = Control 0 PS + 0 NPK, B = 0 PCO + 1 NPK, C = 1 PCO + 0 NPK, D = 1 PCO + ¼ NPK, E = 1 PCO + ½ NPK, F = 1 PCO + ¾ NPK, G = 1 PCO + 1 NPK, H = ¼ PCO + ¾ NPK, I = ½ PCO + ¾ NPK and J = ¾ PCO + ¾ NPK. The results showed that the highest nutrient uptake and residue was found in the treatment of 1 PCO + ¾ NPK. Relationship between N, P and K uptake with nutrient residue on the soil was detected. The N, P and K residues were influenced by the N, P and K uptake of chili plants of 92%, 98%, and 97%, respectively.Keywords: Chili, NPK, Liquid Organic Fertilizer, Residue, AbsorptionABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan serapan N, P, dan K tanaman cabai terhadap residunya di dalam tanah yang diberi pupuk cair organik dengan pupuk anorganik N, P dan K. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2017 sampai dengan Januari 2018 di kebun percobaan dan Laboratorium KTNT Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Rancangan yang digunakan adalah RAK sederhana dengan 10 perlakuan yang diulang 3 kali dengan susunan perlakuan sebagai berikut: A = Kontrol 0 PS + 0 NPK, B = 0 PCO + 1 NPK, C = 1 PCO + 0 NPK, D = 1 PCO + ¼ NPK, E = 1 PCO + ½ NPK, F = 1 PCO + ¾ NPK, G= 1 PCO + 1 NPK, H = ¼ PCO + ¾ NPK, I = ½ CO + ¾ PK dan J = ¾ PCO + ¾ NPK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serapan dan residu hara tertinggi ialah perlakuan F = 1 PCO + ¾ NPK. Terdapat hubungan antara serapan N, P dan K dengan residu hara pada tanah. Residu N, P dan K dipengaruhi oleh serapan N, P dan K tanaman cabai masing-masing sebesar 92% serapan N, 98% serapan P, dan 97% serapan K.Kata Kunci: Cabai, NPK, PCO, Residu, Serapa
Keanekaragaman Jenis Kupu-kupu Familia Nymphalidae dan Pieridae di Kawasan Cirengganis dan Padang Rumput Cikamal Cagar Alam Pananjung Pangandaran
ABSTRACTThe diversity of butterflies’ family of Nymphalidae and Pieridae at Cirengganis area and Cikamal Savannah area of Pananjung Sanctuary of PangandaranThe research reported the diversity o.f butterflies of Nymphalidae and Pieridae Families at Cirengganis area and Cikamal Savannah area which located at Pananjung Sanctuary, Pangandaran. The experiment was conducted using visual encounter survey method. The butterflies were caught using sweeping technique. The butterflies were collected and identified. Abiotic factors such light intensity and temperature were measured during observation. The result showed that 13 species of nymphalidae family were identified whilst only 2 species were identified belongs to the family of Pieridae. Butterfly diversity index at Cirengganis and Cikamal Savannah categorized as moderate with value of 2.285647. Vegetation that interacted with the butterflies were Tectona grandis), Psychotria aurantiaca, and Melastoma malabathricum. Furthermore, light intensity and temperature at Cirengganis were detected at 12473.33 lux and 28.6oC, respectively. While at Cikamal Savannah, the light intensity was measured at 26900 lux and temperature reached 33.6oC.Keywords: Visual encounter survey, Abiotic factor, VegetationABSTRAKPenelitian ini melaporkan mengenai keanekaragaman Jenis Kupu-Kupu Famili Nymphalidae dan Pieridae di kawasan Cirengganis dan Padang Rumput Cikamal Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Metode yang digunakan adalah metode Visual Encounter Survey (VES). Penangkapan kupu-kupu dilakukan dengan teknik sweeping. Kupu-kupu yang diperoleh dikoleksi dan diidentifikasi. Faktor abiotik seperti intensitas cahaya dan suhu diukur selama pengamatan. Serta diamati pula vegetasi sekitar lokasi pengamatan yang berinteraksi dengan kupu-kupu. Hasil pengamatan diperoleh total kupu-kupu famili Nymphalidae sebanyak 13 spesies dan kupu-kupu famili Pieridae sebanyak 2 spesies. Nilai indeks keanekaragaman kupu-kupu di kawasan Cirengganis dan Padang Rumput Cikamal tergolong kategori sedang yaitu 2,285647. Hasil vegetasi yang diketahui berinteraksi dengan kupu-kupu yaitu jati (Tectona grandis), ki kores (Psychotria aurantiaca), dan harendong (Melastoma malabathricum). Sementara rata-rata intensitas cahaya dan suhu di Cirengganis sebesar 12473,33 lux dan 28,6oC dan di Padang Rumput Cikamal sebesar 26900 lux dan 33,6oC.Kata Kunci: Visual Encounter Survey, Faktor abiotik, Vegetas
Populasi Hama dan Musuh Alami pada Tiga Cara Budidaya Padi Sawah di Sukamandi
ABSTRACTPest and natural enemy population in three different rice cultivation in Sukamandi RegionSome on limiting factors in rice production include the cultivation system and pest damage. To suppress the damage, several control techniques have been applied, such as technical culture. The aim of this study was to gain information on population and pest damage, as well as natural enemy population in three different rice cultivation systems. The study was arranged in Randomized Block Design with three treatment and 9 replications. The treatments were: 1) organic rice cultivation, 2) semi organic, and 3) farmer technique. The used rice variety was Inpari 30. The plot size was 6 m x 90 m. The variables observed included population and pest damage, natural enemy population, and rice yields. Thirthy two rice hills were observed randomly in diagonal direction, with 2 weeks interval from two weeks after transplanting until harvest. The data were analyzed by analysis of variance (Anova) and the difference among the treatments was evaluated with Duncan multiple area test at 5% level. The results showed that brown plant hoppers population on organic rice cultivation is lower than semi-organic rice cultivation and farmer technique, but there were no difference of natural enemy population among treatments. The lowest yield was obtained from the organic rice cultivation (2.67 t/ha).Keywords: Rice cultivation, Pests, Natural enemiesABSTRAKBeberapa faktor pembatas produksi padi diantaranya adalah cara budidaya dan adanya serangan hama. Untuk menekan serangan hama, beberapa teknik pengendalian telah diterapkan diantaranya adalah pengendalian secara kultur teknis (cara budidaya). Pada MT-2 tahun 2016, penelitian dengan tujuan mendapatkan informasi mengenai populasi dan serangan hama, serta populasi musuh alami pada tiga cara budidaya padi telah dilakukan di lahan kebun percobaan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga cara budidaya dan diulang sebanyak sembilan kali. Adapun cara budidaya yang digunakan terdiri atas:1) budidaya padi organik; 2) semi organik; 3) cara petani. Varietas yang digunakan adalah Inpari 30. Ukuran plot 6 m x 90 m. Variabel yang diamati meliputi populasi dan tingkat serangan hama, populasi musuh alami, dan hasil panen. Pengamatan dilakukan secara langsung di pertanaman pada 32 rumpun sampel secara acak diagonal dengan interval dua minggu sekali mulai umur tanaman dua minggu setelah tanam sampai menjelang panen. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam (Anova) dan perbedaan antar perlakuan dievaluasi dengan uji wilayah berganda Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi hama wereng coklat pada cara budidaya padi organik lebih rendah dibandingkan cara budidaya padi semi organik dan budidaya padi cara petani, tetapi tidak ada perbedaan populasi musuh alami pada cara budidaya padi organik, cara budidaya padi semi organik dan budidaya padi cara petani. Hasil panen terendah (2,67 t/ha) terlihat pada perlakuan budidaya padi organik.Kata Kunci: Budidaya padi, Hama, Musuh alam