Agrikultura
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
Pengaruh Ketinggian Perangkap Feromon terhadap Penggerek Buah Kakao Conopomorpha cramerella Snell. (Lepidoptera: Gracillaridae)
Hama penggerek buah kakao/PBK (Conopomorpha cramerella Snell.) merupakan salah satu hama yang pada tingkat serangan berat dapat mengakibatkan kehilangan hasil kakao mencapai 90%. Penelitian ini bertujuan untuk menguji teknologi pengendalian hama PBK yang ramah lingkungan yaitu penggunaan perangkap feromon seks pada aspek posisi ketinggian perangkap yang efektif. Penelitian dilaksanakan di desa Banda Lama, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah yang berlangsung dari bulan Januari sampai Maret 2019. Penelitian ini menguji ketinggian perangkap feromon pada tiga posisi ketinggian perangkap feromon yang berbeda yaitu ketinggian 1 m, 2 m dan 3 m. Data yang diambil adalah jumlah tangkapan imago C. cramerella tiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkap feromon dengan ketinggian 1 m yang paling efektif memerangkap hama PBK dengan jumlah tangkapan 85 ekor dan rerata populasi imago terperangkap adalah 10,63 ekor/bulan
Pengaruh Penambahan Inhibitor Etilen dan Senyawa Antioksidan terhadap Regenerasi Kalus Padi Mentik Wangi Susu
Kalus padi Mentik Wangi Susu memiliki tingkat regenerasi tunas yang rendah karena tingkat pencokelatan kalus yang tinggi dalam media regenerasi. Pencokelatan kalus dipicu oleh tingginya akumulasi etilen dan fenol selama kultur in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efikasi antara inhibitor etilen dan antioksidan dalam mengurangi pencoklatan kalus serta meningkatkan regenerasi tunas pada kalus Mentik Wangi Susu. Perlakuan dilakukan dengan melakukan penambahan inhibitor etilen (putrecine atau perak nitrat) atau antioksidan (polyvinylpyrrolidone atau asam askorbat) dengan konsentrasi yang berbeda ke semua media kultur jaringan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) dan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dilakukan apabila antar perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pencoklatan kalus Mentik Wangi Susu hanya dapat dihambat secara nyata melalui penambahan polyvinylpyrrolidone ke dalam media regenerasi. Selain itu, perlakuan polyvinylpyrrolidone 0,3 g/l dan putresin 10 mM menghasilkan regenerasi tunas masing-masing sebesar 47% dan 41%, yang tertinggi di antara perlakuan lainnya. Oleh karena itu, polyvinylpyrrolidone dan putresin masing-masing merupakan antioksidan dan inhibitor etilen terbaik untuk meningkatkan regenerasi tunas kalus Mentik Wangi Susu
In Vitro Sensitivity of Phytophthora infestans (Mont.) de Bary Isolated from Cikajang, Garut, to Several Fungicides
Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh oomycete Phytphthora infestans merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kentang. Metode pengendalian utama yang digunakan oleh petani adalah dengan menggunakan fungisida sintetis. Akan tetapi, penggunaan fungisida secara terus menerus dapat menyebabkan timbulnya populasi patogen yang resisten sehingga dapat menurunkan keefektifan fungisida tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengevaluasi sensitivitas P. infestans yang diisolasi dari pertanaman kentang di Desa Cikajang, Kabupaten Garut terhadap beberapa fungisida berbahan aktif metalaksil, mankozeb, dimetomorf, klorotalonil dan oksatiapiprolin. Eksperimen dilaksanakan dengan menggunakan metode makanan beracun dan detached-leaf assay. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa P. infestans sensitif terhadap metalaksil dan mankozeb pada konsentrasi 2000 ppm dengan penghambatan pertumbuhan koloni masingmasing mencapai 93,3%. Lebih lanjut, berdasarkan hasil detached leaf assay, penghambatan terbentuknya lesi mencapai 100% pada perlakuan fungisida berbahan aktif metalaksil. Sementara penghambatan sebesar 70% diperoleh pada perlakuan fungisida berbahan aktif mankozeb. Sensitivitas P. infestans dikategorikan sebagai sedang terhadap fungisida berbahan aktif dimetomorf pada konsentrasi 1000 ppm dan klorotalonil pada konsentrasi 2000 ppm dengan penghambatan koloni masing-masing sebesar 65,5% dan 75,8% serta penghambatan pembentukan lesi 54,7% dan 59,1%. Eksperimen ini juga menemukan adanya indikasi penurunan sensitivitas P. infestans terhadap oksatiapiprolin yang ditunjukkan dengan rendahnya penghambatan pertumbuhan yang hanya sebesar 8,5% dengan penghambatan pembentukan lesi sebesar 48,8% ketika dibandingkan dengan keempat jenis fungisida lainnya
Uji Antagonisme Jamur Endofit Tanaman Aren (Arenga pinnata Merr.) terhadap Ganoderma boninense Pat. Penyebab Penyakit Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit
Ganodema boninense merupakan penyebab penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit yang dapat menimbulkan kerugian secara ekonomi di Provinsi Riau. Salah satu teknik pengendalian yang dapat dilakukan adalah penggunaan jamur endofit sebagai agens hayati. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan antagonisme jamur endofit dari tanaman aren terhadap G. boninense penyebab penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Riau pada bulan Juli hingga November 2020. Penelitian dilaksanakan dengan metode eksplorasi, eksperimen dan observasi. Isolasi dari daun, batang dan akar tanaman aren menemukan 25 isolat jamuer endofit. Di antara isolat jamur endofit terdapat tujuh isolat yang menghambat pertumbuhan G. boninense sebesar 50,17% - 67,05% yaitu 67,05% (E2), 66,11% (E16), 61,43% (E18), 52,22% (E15), 51,23% (E3), 50,72% (E17) dan 50,17% (E25). Pada pengamatan mikroskopis , jamur endofit (isolat E2, E17, E18) menyebabkan hifa G. boninense menjadi lisis. Terdapat pula penempelan (isolat E3, E15, E25) dan penjeratan (isolat E16) hifa G. boninense oleh hifa jamur endofit. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa tiga isolat termasuk ke dalam genus Trichoderma (E2, E16, E18), satu isolat genus Papulaspora (E15), satu isolat genus Aspergillus (E3), satu isolat genus Syncephalastrum (E17) dan satu isolat genus Mucor (E25)
Pengaruh Ekstrak Kasar Umbi Udara Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) terhadap Penghambatan Koloni dan Kejadian Penyakit Akibat Alternaria solani pada Bibit Tomat
Alternaria solani merupakan patogen penyebab penyakit bercak cokelat pada tanaman tomat. A. solani mampu menyerang hampir seluruh bagian tanaman yaitu tangkai, batang, daun, ranting maupun buah tomat. Serangan pada benih dapat menyebabkan benih rebah, bercak atau benih menjadi busuk. Penggunaan pestisida nabati atau ekstrak tanaman untuk mengendalikan penyakit pada beberapa jenis tanaman telah banyak digunakan. Salah satu bahan alam yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati ialah tanaman binahong (Anredera cordifolia) yang merupakan tanaman yang populer digunakan sebagai obat tradisional untuk kesehatan maupun sebagai bahan antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan ekstrak kasar umbi udara binahong dalam menghambat pertumbuhan koloni jamur A. solani serta menekan kejadian penyakit pada bibit tomat. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas tujuh perlakuan (konsentrasi ekstrak 0,25%, 0,5%, 1%, 2%, dan 4%; kontrol tanpa ekstrak; dan fungisida propineb 0,3%) yang diulang sebanyak empat kali. Pengujian penghambatan pertumbuhan koloni jamur A. solani dilakukan dengan teknik makanan beracun. Pengujian pada benih dilakukan dengan empat perlakuan dan lima ulangan yang masing-masing terdiri atas 25 benih tomat dengan menggunakan teknik perendaman. Hasil pengujian menunjukkan ekstrak kasar umbi udara binahong 2% mampu menghambat pertumbuhan koloni A. solani sebesar 37,22% dan menekan kejadian penyakit pada bibit tomat dengan penekanan mencapai 83,33%
Hasil dan Kualitas Rumput Gandum akibat Priming dan Pengaturan Suhu Penyimpanan Benih
Rumput gandum atau wheatgrass (Triticum aestivum L.) merupakan tanaman gandum muda yang berasal dari benih gandum. Konsumen seringkali tidak dapat menghabiskan langsung benih gandum untuk dijadikan rumput gandum, sehingga benih gandum sisa harus disimpan yang akhirnya menyebabkan kemunduran kualitas rumput gandum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu penyimpanan benih dan konsentrasi nutrisi terhadap hasil dan kualitas wheatgrass secara hidroponik yang diperoleh dari benih pada dua kondisi suhu penyimpanan selama empat bulan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Produksi Tanaman Pangan, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang diberi enam perlakuan kombinasi suhu penyimpanan dengan konsentrasi nutrisi yang diulang lima kali. Perlakuan suhu penyimpanan terdiri dari suhu ruang (23-28°C) dan suhu rendah (5-6°C), sementara konsentrasi nutrisi AB mix yang digunakan sebagai perlakuan yaitu 0 ppm, 500 ppm, dan 1000 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu penyimpanan dan penambahan nutrisi memberikan pengaruh terhadap persentase daya kecambah, tinggi bibit, bobot segar pupus, bobot kering pupus, dan kandungan klorofil, namun tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun. Penyimpanan benih pada suhu rendah dan penambahan AB mix 500 ppm menunjukkan peningkatan daya kecambah, tinggi bibit, bobot segar pupus, dan bobot kering pupus, serta kandungan klorofil wheatgrass dari benih dibandingkan perlakuan lainnya
Penggunaan Putresin Alami dan Sintetik untuk Induksi Kalus dan Regenerasi Kultur Anter Empat Genotipe Padi
Teknik kultur antera sering digunakan untuk memperoleh galur-galur murni double haploid (DH) yang homozigot dalam waktu singkat, yang umumnya dicapai melalui proses induksi kalus. Putresin sebagai salah satu zat pengatur tumbuh dari poliamin diketahui sangat penting bagi perkembangan embriogenesis kalus. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh plantlet dari penggunaan putresin sintetik dan alami pada media induksi dan regenerasi kalus kultur antera secara in vitro terhadap empat genotip-genotip F3 padi hasil persilangan (Oryza sativa L.). Eksplan yang digunakan adalah antera padi generasi F3 terseleksi hasil persilangan Caka, SP, Sair dan IRPW. Hasil penelitian menunjukan bahwa induksi kalus berhasil terbentuk hanya dari genotip Caka pada media N6 dengan penambahan putresin sintetik 10-3 M, persentase pembentukan kalus sebesar 16,1%. Kalus yang terbentuk dari genotip Caka memiliki struktur remah, kompak dan berwarna putih krem. Regenerasi menggunakan media dasar MS dengan penambahan putresin sintetik konsentrasi 10-3 M belum berhasil. Penambahan putresin sintetik lebih efektif dalam pembentukan kalus dibandingkan putresin ekstrak alami
Aktivitas Insektisida Campuran Minyak Mimba (Azadirachta indica) dan Minyak Jarak Kepyar (Ricinus communis) terhadap Spodoptera frugiperda
Spodoptera frugiperda merupakan hama invasif yang menyebabkan kegagalan panen pada tanaman jagung. Salah satu alternatif pengendalian ramah lingkungan yang terus dikembangkan terhadap S. frugiperda yaitu pengendalian dengan insektisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sinergis campuran insektisida nabati minyak A. indica dan R. communis . Desain percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok terdiri dari minyak A. indica, R. communis , serta campurannya dengan lima taraf konsentrasi dan satu kontrol yang diulang empat kali. Pengujian menggunakan metode residu pakan pada larva instar II selama 48 jam, selanjutnya daun perlakuan diganti dengan pakan tanpa perlakuan hingga larva berkembang menjadi pupa. Hubungan konsentrasi minyak nabati dengan kematian serangga uji dianalisis menggunakan analisis probit, sedangkan peubah lainnya dianalisis dengan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan minyak A. indica, R. communis, serta campurannya bersifat toksik terhadap larva S. frugiperda. Aktivitas campuran minyak A. indica dan R. communis pada taraf LC50 waktu pengamatan 2-8 hari setelah perlakuan (HSP) bersifat antagonistic, pada 10 HSP bersifat aditif, dan pada 12-18 HSP bersifat sinergistik lemah, sementara pada taraf LC95 waktu pengamatan 2-8 HSP bersifat antagonistic dan pada 10-18 HSP bersifat sinergistik kuat. Selain itu, minyak nabati tersebut memiliki aktivitas penghambatan perkembangan, penurunan fekunditas dan fertilitas, serta penurunan umur imago jantan dan betina S. frugiperda. Dengan demikian, campuran minyak nabati A. indica dan R. communis berpotensi dikembangkan sebagai insektisida alternatif pengendalian S. frugiperda
Kemampuan Air Rendaman Limbah Media Jamur Tiram dan Serbuk Gergaji untuk Mengendalikan Penyakit Bercak Cokelat pada Tanaman Tomat
Penyakit bercak cokelat yang disebabkan oleh Alternaria solani Sorr. merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman tomat. Limbah jamur konsumsi dan serbuk gergaji merupakan limbah organik yang berpotensi untuk mengendalikan penyakit tanaman. Artikel ini membahas hasil penelitian yang mengevaluasi kemampuan air rendaman limbah jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dan serbuk gergaji kayu albasia (Albizia chinensis ) untuk menghambat pertumbuhan A. solani secara in vitro dan menekan penyakit bercak cokelat pada daun tomat. Percobaan in vitro menggunakan rancangan acak lengkap dengan metoda poisonous food dan perlakuan berupa air rendaman limbah jamur tiram dan serbuk gergaji (steril dan non steril), fungisida (klorotalonil) serta kontrol. Percobaan pada tanaman tomat menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan serupa dengan percobaan in vitro, namun tanpa perlakuan air rendaman limbah steril. Hasil percobaan in vitro menunjukkan bahwa air rendaman limbah jamur tiram dan serbuk gergaji non-steril dapat menghambat pertumbuhan A. solani sebesar 69,3%-80,8%. Air rendaman non-steril limbah jamur tiram dan serbuk gergaji juga dapat menekan perkembangan bercak cokelat pada daun tomat sebesar 87,2% dan 62,1%
Pengaruh Beberapa Pelarut Ekstrak Daun Nerium oleander L. terhadap Mortalitas, Konsumsi Makan dan Kelulushidupan Spodoptera frugiperda J.E. Smith
Tanaman beracun oleander (Nerium oleander) memiliki potensi untuk mengendalikan hama utama tanaman jagung, salah satunya ulat grayak jagung (Spodopetera frugiperda). Namun demikian, studi ekstrak daun N. oleander yang disiapkan dengan menggunakan pelarut yang berbeda belum diketahui efektivitasnya dalam mengendalikan S. frugiperda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan berbagai pelarut ekstrak daun N. oleander terhadap terhadap mortalitas, konsumsi makan, dan kelulushidupan larva S. frugiperda. Penelitian melibatkan ekstraksi daun N. oleander berdasarkan perbedaan polaritas pelarut (n-hexane, etanol, metanol, air) untuk lima konsentrasi uji yang berbeda serta perlakuan kontrol yang diulang empat kali menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pada larva S. frugiperda instar III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar metanol daun N. oleander memberikan pengaruh penghambatan konsumsi pakan larva S. frugiperda sebesar 0,071 ± 0,028 g dibandingkan kontrol 0,642 ± 0,031 g. Selain itu, ekstrak kasar metanol daun N. oleander menunjukkan persentase mortalitas tertinggi sebesar 97,5 ± 0,50%, diikuti oleh ekstrak kasar air 70 ± 0,82%, ekstrak kasar etanol 57,50 ± 0,96%, dan ekstrak kasar n-hexane 50,00 ± 0,82%. Kelulushidupan larva, pupa, dan imago S. frugiperda menunjukkan nilai persentase terendah sebesar 2-3,4% ketika diaplikasikan ekstrak kasar metanol daun N. oleander. Secara keseluruhan, metanol adalah pelarut yang paling baik untuk mengekstrak daun N. oleander terhadap mortalitas, daya konsumsi, dan kelulushidupan larva S. frugiperda