Agrikultura
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
Pengaruh Serbuk Tagetes patula L. terhadap Serangan Nematoda Bengkak Akar (Meloidogyne spp.) pada Tanaman Tomat
Meloidogyne spp. merupakan nematoda parasit yang dapat menurunkan produktivitas tomat. Pemanfaatan seluruh bagian tanaman Tagetes patula L. dalam bentuk serbuk sebagai nematisida nabati dapat menjadi salah satu alternatif pengendalian nematoda ramah lingkungan. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh dan dosis serbuk T. patula yang efektif dalam menekan serangan nematoda bengkak akar (Meloidogyne spp.) pada tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2021 di Laboratorium Fitopatologi, Divisi Laboratorium Nematologi dan Rumah Kaca Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Penelitian menggunakan metode percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol (tanpa serbuk T. patula), serbuk T. patula sebanyak 10, 20, 30, 40 g per 2 kg tanah dan karbofuran 2 g per 2 kg tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi serbuk T. patula berpengaruh dalam menekan serangan Meloidogyne spp. pada tanaman tomat. Serbuk T. patula berpotensi menurunkan jumlah juvenil II Meloidogyne spp. dalam 100 ml tanah dan cenderung menurunkan jumlah gall. Aplikasi serbuk T. patula 40 g/2 kg tanah mengakibatkan jumlah gall terendah (32,25 gall) dengan penekanan 41,36%, dan jumlah juvenil II Meloidogyne spp. dalam 100 ml tanah terendah (12,30 ekor) dengan penekanan 51,49% yang menunjukkan setara dengan aplikasi karbofuran 2 g/2 kg tanah
Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula Indigeneous dan Pupuk Fosfor Anorganik dalam Upaya Peningkatan Serapan Fosfor dan Hasil Tanaman Jagung di Lahan Berkapur Pulau Timor
Kesuburan tanah yang rendah menjadi salah satu faktor pembatas rendahnya produksi jagung di Pulau Timor. Hal ini terutama terkait dengan ketersediaan unsur hara fosfor (P) yang rendah yang umumnya diatasi oleh petani melalui penggunaan pupuk P-anorganik. Namun demikian, kondisi tanah yang berkapur dapat menurunkan ketersediaan hara P bagi tanaman sehingga pupuk P-anorganik memiliki efisiensi yang rendah. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan dosis pupuk fosfor (P) anorganik dan inokulasi kelompok FMA yang memberikan pengaruh terbaik terhadap serapan hara P, pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Penelitian dilaksanakan di lahan pertanian di Desa Penfui Timur, Kabupaten Kupang dan Laboratorium Fisika dan Kimia Tanah Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana Kupang. Penelitian ini dirancang dalam percobaan faktorial 2 faktor menggunakan rancangan lingkungan berupa rancangan petak terpisah (spit plot design) dengan 3 ulangan. Petak utama adalah inokulasi FMA (M) yang terdiri dari 3 taraf: tanpa inokulasi FMA (M0), inokulasi satu jenis spora FMA (M1), dan inokulasi spora FMA campuran (M2). Anak petak adalah dosis pupuk P (SP-36) (P) yang terdiri dari 4 taraf: 25% (P1), 50% (P2), 75% (P3), dan 100% (P4) dosis anjuran. Variabel yang diamati adalah kandungan hara P-jaringan tanaman, tinggi tanaman dan bobot 100 butir jagung pipilan kering. Hasil penelitian menunjukkan: (1) interaksi perlakuan inokulasi FMA dengan perlakuan dosis pupuk P-anorganik tidak berpengaruh nyata terhadap semua variabel pengamatan; perlakuan tunggal inokulasi FMA berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan bobot 100 butir jagung pipilan kering namun tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan hara P jaringan tanaman; perlakuan tunggal dosis pupuk P-anorganik hanya berpengaruh nyata terhadap kandungan hara P-jaringan tanaman namun tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan bobot 100 butir jagung pipilan kering, (2) inokulasi FMA baik tipe spora tunggal maupun tipe spora campuran belum mampu meningkatkan kandungan hara P jaringan tanaman namun mampu meningkatkan tinggi tanaman dan bobot 100 butir jagung pipilan kering; tidak terdapat perbedaan nyata antara perlakuan inokulasi FMA tipe spora tunggal dengan perlakuan tipe spora campuran dalam meningkatkan tinggi tanaman dan bobot 100 butir jagung pipilan kering sehingga tidak didapatkan perlakuan inokulasi FMA terbaik dalam penelitian ini, dan (3) tidak didapatkan perlakuan dosis pupuk P-anorganik yang memberikan pengaruh terbaik dalam meningkatkan serapan hara P, pertumbuhan, dan hasil tanaman jagung pada penelitian ini berkaitan dengan efisiensi pemupukan P-anorganik yang rendah pada lahan berkapur
Araecerus fasciculatus (De Geer) (Coleoptera: Anthribidae): Biologi dan Kerusakannya pada Singkong Kering (Manihot esculenta Crantz)
Araecerus fasciculatus merupakan hama yang menginfestasi komoditas pertanian di gudang penyimpanan. Pada singkong kering, hama ini menyebabkan kerusakan sebesar 20,6-91,51%. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari biologi A. fasciculatus pada singkong kering dan tingkat kerusakan yang ditimbulkannya. Pengujian lama perkembangan telur dilakukan dengan menginfestasikan imago A. fasciculatus sebanyak 100 ekor ke masing-masing 50 potong singkong kering selama 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 hari. Pengujian lama perkembangan larva, pupa, dan imago ke masing-masing 305 potong singkong kering selama 1, 2, 3, 4, 5 hari, selanjutnya singkong kering 5 potong didestruksi setiap hari selama dua bulan. Pengamatan dilakukan setelah lama hari infestasi. Pengamatan dilakukan terhadap morfologi, morfometri, lama perkembangan setiap stadia, tingkat kerusakan singkong kering akibat infestasi A. fasciculatus. Pada pengujian ini, dilakukan analisis kandungan nutrisi singkong kering, pengukuran suhu, dan kelembapan ruang pengujian. Hasil penelitian menunjukkan lama perkembangan telur 5,82 hari. Perkembangan larva instar pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima selama 3,40; 3,80; 4,60; 5,80; 7,80 hari. Sedangkan pupa dan imago selama 7,20 dan 28,34 hari. Pada pengujian ini, disajikan morfologi gambar berwarna dan morfometri semua stadia. Periode penyimpanan 3 bulan menyebabkan persentase kehilangan singkong kering berlubang 61,58% dan bubuk singkong 11,08%. Pengujian biologi ini akan menjadi dasar dalam identifikasi dan pengendalian A. fasciculatus untuk setiap stadianya pada singkong kering
Preferensi Konsumen terhadap Produk Olahan Ikan (Studi pada Industri Rumah Tangga Paguyuban Rawa Pesona)
Salah satu industri rumah tangga yang mengolah keripik ikan yaitu anggota Paguyuban Rawa Pesona di Dusun Kebondowo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui harga, kemasan, rasa, dan tekstur memiliki hubungan dengan preferensi konsumen terhadap pembelian produk olahan ikan (wader, cetol, dan mujair), dan (2) menganalisis tingkat preferensi berbagai produk olahan ikan (wader, cetol, dan mujair). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yaitu teknik observasi, kuesioner dan studi pustaka. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan pendekatan non probability sampling. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian sebanyak 50 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel harga dan rasa berkorelasi secara signifikan dengan preferensi konsumen terhadap pembelian produk olahan ikan sedangkan kemasan dan tekstur tidak terdapat hubungan yang signifikan. Hasil sikap dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa sikap konsumen terhadap atribut produk keripik ikan itu baik, diantaranya harga, kemasan, rasa, dan tekstur
Keefektifan Dosis Reduktan Herbisida terhadap Pengendalian Gulma serta Pengaruhnya pada Tanaman Padi Varietas Inpari 32
Reduktan herbisida dapat menjadi upaya untuk mengurangi penggunaan dosis herbisida tanpa mempengaruhi keefektifannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan dari penggunaan reduktan herbisida dalam mengendalikan gulma serta pengaruhnya terhadap tanaman padi varietas Inpari 32. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu jenis bahan aktif herbisida (M) dan faktor kedua yaitu dosis reduktan herbisida (N). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan reduktan herbisida efektif mampu menekan pertumbuhan gulma golongan daun lebar dan teki. Semua petak perlakuan menujukkan potensi newgrowth (pertumbuhan gulma baru) serta regrowth (pertumbuhan gulma kembali) pada semua golongan gulma. Bahan aktif M2 (Etoksisulfuron 20 g/l dan fenoksaprop – p – etil 69 g/l) menunjukkan gejala fitotoksisitas dengan skor 1,11 pada waktu pengamatan satu minggu setelah aplikasi. Semua herbisida perlakuan menunjukkan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap parameter pengamatan tanaman padi (tinggi tanaman, jumlah anakan total, laju pertumbuhan tanaman, jumlah anakan produktif, bobot Gabah Kering Panen serta berat 1000 butir padi). Penggunaan reduktan menunjukkan tingkat efisiensi 18 - 51% dari segi biaya dibandingkan perlakuan tanpa reduktan
Pemanfaatan Kotoran Kelelawar sebagai Pupuk Guano di Desa Bolok, Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur
Kotoran kelelawar mengandung banyak unsur hara yang tinggi (N, P, K, Ca, Mg, S), namun di sisi lain hasil buangan kelelawar ini mengandung C/N rasio yang rendah sehingga perlu dilakukan suatu proses untuk meningkatkan C/N rasio yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar nitrat dan fosfat pada pupuk guano serta pemanfaatannya untuk pertumbuhan anggur laut (Caulerpa racemose). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2021 bertempat di Teaching Factory Budidaya, Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pembuatan pupuk guano dilakukan menggunakan kotoran kelelawar, EM4, gula merah, terasi, dan air tawar sebagai pelarut yang difermentasikan selama 12 hari dan dilakukan pengujian sampel setiap tiga hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kotoran kelelawar secara alami mengandung kadar fosfat dan nitrat berturut-turut sebesar 1,030 mg/L dan 2,308 mg/L. Kadar fosfat dan nitrat selama 12 hari fermentasi mengalami penurunan dan kenaikan dan diperoleh hasil kadar fosfat dan nitrat pada hari ke-12 sebesar 1,302 mg/L dan 2,296 mg/L. Peningkatan dan penurunan kadar fosfat dan nitrat berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme yang terdapat di dalam EM4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk guano mengandung kadar fosfat dan nitrat yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman dan terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan anggur laut (C. racemose) dengan menaikkan bobot anggur laut dan panjang serta jumlah ramuli. Pupuk guano yang diperoleh dapat dijadikan alternatif pengganti pupuk organik yang harganya relatif mahal di Kota Kupang
Bioaktivitas Ekstrak Biji Anonna muricata L. terhadap Spodoptera frugiperda J. E. Smith (Lepidoptera:Noctuidae)
Keberadaan Spodoptera frugiperda menjadi salah satu faktor pembatas produksi jagung di Indonesia. Status S. frugiperda di Indonesia sebagai hama baru pada pertanaman jagung mengakibatkan masih terbatasnya metode pengendalian yang dapat diterapkan. Pola pengendalian menggunakan pestisida sintetik akan menimbulkan permasalahan resistensi di kemudian hari. Pemanfaatan pestisida nabati dinilai sebagai sarana pengendalian alternatif yang dapat digunakan. Tanaman sirsak (Annona muricata) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi dijadikan sebagai pestisida nabati. Pemanfaatan tanaman A. muricata di Indonesia sebagai pestisida nabati telah dilaporkan efektif untuk mengendalikan berbagai hama. Ekstrak metanol biji A. muricata diujikan dengan konsentrasi 0%, 0,2%, 0,4%, 0,8%, dan 1,6%. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak biji A. muricata 1,6% dinilai efektif untuk mengendalikan S. frugiperda dengan tingkat mortalitas sebesar 93,33 ± 1,15 % dan nilai LC95 sebesar 3,105%, dapat menghambat laju perkembangan larva hingga 5,85 hari, mempengaruhi keberhasilan pembentukan pupa hingga 33%, dan keberhasilan imago hingga 0%. Akan tetapi, ekstrak metanol biji A. muricata dinilai kurang efektif dalam menghambat aktivitas makan dan pertumbuhan S. frugiperda. Respons penghambatan aktivitas makan teramati hanya sebesar 32,43% dan pengaruhnya terhadap penghambatan pertumbuhan larva tidak berbeda nyata dengan perlakuan lain. Ekstrak biji A. muricata dapat digunakan sebagai alternatif pengendalian S. frugiperda namun perlu dikembangkan dengan menguji fraksi pelarut lain maupun dengan mengombinasikan ekstrak biji A. muricata dengan tanaman lain
Analisis Mutu Produk Pengolahan Hasil Pertanian: Fruit Strips Frutivez dengan Statistical Process Control
Pengendalian mutu merupakan hal dasar yang perlu diterapkan oleh sebuah organisasi, instansi, maupun perusahaan untuk mengahasilkan jasa ataupun produk yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Kecacatan yang mungkin terjadi dalam suatu produksi dapat menyebabkan kerugian secara bertahap bagi perusahaan. Fruit strips Frutivez secara keseluruhan dapat memenuhi standar fruit strips yang diminati oleh konsumen, namun sering produk yang diterima oleh konsumen dalam keadaan yang patah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis mutu produk Frutivez berdasarkan standar fruit strips yang diminati oleh konsumen menggunakan analisis statistical process control. Kecacatan disebabkan oleh karena faktor tenaga kerja (karyawan dan kurir), kejenuhan karyawan, dan peralatan yang sudah usang. Solusi yang diberikan adalah perbaikan metode pengemasan, mengadakan rekreasi bersama, serta penggantian dan pemeliharaan peralatan. Tingkat presentase akhir penerimaan solusi tersebut oleh pihak perusahaan sebesar 78% yang berarti kemungkinan besar solusi yang diberikan dapat diimplementasikan
Analisis Perilaku Pembelian Konsumen terhadap Pangan Organik Saat Pandemi Covid-19 di Indonesia
Pandemi Covid-19 memberikan dampak besar bagi perilaku pembelian masyarakat. Pergeseran tren dari mengkonsumsi produk pangan konvensional menjadi pangan organik terjadi seiring dengan kesadaran individu akan pentingnya kesehatan. Dari sudut pandang pemasaran, hal ini penting untuk diteliti karena terlihat potensi besar pada masyarakat yaitu terjadi perluasan pasar yang ditandai dengan peningkatan permintaan terhadap jenis produk tersebut yang selanjutnya dinilai akan menyebabkan dorongan kuat kepada industri pertanian pangan organik. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan faktor apa saja yang mendorong konsumen sehingga memiliki minat beli dan melakukan pembelian aktual terhadap produk makanan organik pada masa pandemi Covid-19 di Indonesia. Hal ini mendesak diketahui untuk dasar para pelaku maupun pemangku kebijakan baik dalam industri pertanian pangan organik maupun para pemasar. Theory Planned Behavior yang dimodifikasi digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan peningkatan konsumsi pangan organik. Populasi sasaran penelitian ini adalah konsumen produk makanan organik. Teknik non probability sampling digunakan dengan sampel sebanyak 206 responden. Model penelitian diuji melalui Structural Equation Modeling (SEM) kemudian data yang diperoleh dianalisis melalui software AMOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel sikap terhadap makanan organik terbukti berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel kesadaran akan kesehatan dan variabel pengetahuan. Dengan demikian, variabel pengetahuan dan variabel kesadaran akan kesehatan diketahui berpengaruh terhadap minat beli produk makanan organik. Hasil modifikasi teori yaitu dengan menambahkan variabel pengetahuan dan variabel kesadaran akan kesehatan juga terbukti mampu memediasi variabel sikap terhadap variabel minat beli yang berujung kepada pembelian aktual
Penilaian Lahan untuk Pengembangan Padi Sawah di Kecamatan Bualemo dan Kecamatan Pagimana Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah
Dalam pemenuhan kebutuhan manusia, tanaman padi sawah menjadi sangat penting untuk ketersediaan kemandirian pangan dalam menghadapi krisis pangan di setiap wilayah. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi lahan untuk pengembangan Padi Sawah (Oryza sativa L.) di Kecamatan Bualemo dan Pagimana. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2021 sampai Februari 2022, dengan pendekatan parametrik yang menggunakan metode matching antara kualitas lahan dengan kriteria kesesuaian lahan padi sawah, serta ditabulasikan ke dalam bentuk peta dengan menggunakan ArcGIS. Hasil penelitian menunjukkan lahan aktual Kecamatan Bualemo pada Satuan Peta Lahan (SPL) 1 dan SPL 3 tergolong sebagai lahan marginal (S3) sedangkan SPL 2 dikategorikan sebagai cukup sesuai (S2). Pada lahan aktual berlokasi di Kecamatan Pagimana diperoleh SPL 1, 2 dan 3 yang dikategorikan sebagai cukup sesuai (S2). Adapun faktor pembatas yang teridentifikasi yaitu lereng, drainase, kedalaman tanah, KB, N-total, P2O5 dan K2O. Selanjutnya apabila dilakukan upaya perbaikan berdasarkan faktor pembatasnya, maka diperoleh kesesuaian lahan potensial untuk padi sawah Kecamatan Bualemo pada SPL 1 dengan kategori sangat sesuai seluas 327,8 ha, SPL 2 dengan kategori cukup sesuai seluas 866,8 ha dan SPL 3 dengan kategori marginal seluas 171,6 ha. Pada Kecamatan Pagimana diperoleh pada SPL 1, 2 dan 3 tergolong sangat sesuai seluas 704,3 ha. Berdasarkan hasil penilaian kesesuaian lahan tersebut maka pengembangan tanaman padi sawah dapat dilakukan berdasarkan sebaran SPL di Kecamatan Bualemo dan Kecamatan Pagimana Kabupaten Banggai