Agrikultura
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
Pengaruh Kompos Limbah Pertanian terhadap Populasi Azotobacter sp., C-Organik, N-Total, Serapan-N, dan Hasil Pakcoy pada Tanah Inceptisol Jatinangor
Penggunaan lahan pertanian dengan status hara kurang optimal dapatmenghambat pertumbuhan tanaman, sehingga perlu upaya penambahan unsur hara ke dalam tanah tanpa menyebabkan permasalahan lingkungan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pupuk organik berupa kompos. Melimpahnya volume limbah pertanian dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kompos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari berbagai jenis kompos limbah pertanian dengan taraf dosis yang berbeda terhadap populasi Azotobacter sp., C-organik, N-total, Serapan-N, dan hasil pakcoy (Brassica rapa L.) pada tanah Incepstisol Jatinangor. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca kebun percobaan Ciparanje, Kecamatan Jatinangor menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 10 perlakuan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari: satu kontrol dan tiga taraf dosis dari setiap jenis kompos. Jenis kompos yang digunakan adalah kompos jerami padi, ampas tebu, dan tandan kosong kelapa sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos limbah pertanian berpengaruh nyata terhadap total populasi Azotobacter sp. dan hasil pakcoy. Parameter C-organik, N-total dan Serapan-N tidak berbeda nyata antar perlakuan dan kontrol. Pemberian kompos jerami padi 20 ton/ha merupakan perlakuan terbaik dalam menghasilkan 130,97 g bobot basah dengan 8,46 g bobot kering per tanaman pakcoy. Pemanfaatan limbah pertanian dapat menjadi alternatif yang ramah lingkungan dalam meningkatkan hasil tanaman pakcoy, walaupun hasil penelitian ini belum berpengaruh nyata terhadap C dan N
Pengaruh Media Inokulum dalam Semi Ko-Enkapsulasi Sel Lactobacillus acidophilus Menggunakan Enkapsulan Matriks Eucheuma cottonii – Maltodekstrin
Media inokulum berfungsi untuk meningkatkan jumlah sel Lactobacillus acidophilus sebelum dienkapsulasi. Media inokulum dapat turut berperan dalam mempertahankan jumlah atau viabilitas sel selama proses enkapsulasi. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh media inokulum dalam proses enkapsulasi sel BAL L. acidophilus dalam matriks semi ko-enkapsulasi Eucheuma cottonii – maltodekstrin menggunakan metode pengeringan beku dan metode pengeringan semprot. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Variasi perlakuan yang digunakan terdiri dari dua taraf. Taraf pertama adalah media inokum susu skim 10% dan susu pasteurisasi, dan taraf kedua adalah metode enkapsulasi yaitu pengeringan beku dan pengeringan semprot. Hasil enkapsulasi sel, dianalisis sifat morfologis, fisik dan mikrobiologisnya. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahan media inokulum susu skim 10% dapat meningkatkan jumlah sel pada hasil enkapsulasi sel dalam matriks E. cottonii – maltodekstrin, sedangkan media inokulum susu pasteurisasi dapat mempertahankan keutuhan sel dalam matriks kapsul sel, sehingga memiliki viabilitas yang lebih baik dibandingkan hasil enkapsulasi menggunakan media inokulum susu skim 10%
Pemanfaatan Pangkasan Biomasa Gamal dan Rumput Gajah sebagai Pupuk Hijau dalam Upaya Peningkatan Pertumbuhan dan Produksi Jagung (Zea mays L.)
Komoditi jagung telah banyak dikembangkan di Kabupaten Merauke. Kondisi geografis Kabupaten Merauke yang merupakan dataran rendah tidak memiliki gunung berapi yang dapat menambah atau memperbaiki kesuburan tanah sehingga kebutuhan nutrisi tanaman selama ini berasal dari penambahan pupuk anorganik dan pola tanam monokultur yang dilakukan para petani sehingga semakin menurunkan kesuburan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan pangkasan biomasa gamal dan rumput gajah sebagai upaya peningkatan pertumbuhan dan produksi jagung. Penelitian dilaksanakan di Desa Yasa Mulya Distrik Tanah Miring Kabupaten Merauke Provinsi Papua pada bulan Maret sampai September 2018. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Komponen setiap perlakuan yaitu P0 (sistem monokultur jagung), P1 (jagung dan biomasa gamal), P2 (jagung dan biomasa rumput gajah), P3 (jagung, biomasa gamal, dan rumput gajah). Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah baris biji per tongkol, berat tongkol tanaman dan produksi tanaman per plot. Data yang diperoleh dianalisis varians (ANOVA) pada level 10% dan dilanjutkan dengan uji beda nyata (BNT). Hasil penelitian menujukkan bahwa pemanfaatan pangkasan biomasa gamal dan rumput gajah memberikan pengaruh pada tinggi tanaman, jumlah daun, panjang tongkol, jumlah baris biji per tongkol, berat tongkol tanaman dan produksi tanaman per plot. Perlakuan jagung, biomasa gamal dan rumput gajah dalam luasan 100 m2 mencapai 4,5 kg/plot apabila dikonversi ke satuan hektar maka produksinya mencapai 4.500 kg/ha (4,50 ton)
Analisis Persediaan Bahan Pangan pada sebuah Rumah Sakit di Kota Depok
RS X Depok merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri dan membutuhkan bahan pangan beras, telur ayam, wortel, buncis, labu siam, melon, pepaya, semangka untuk keberhasilan produksi pengolahan makanan rumah sakit. Selama ini manajemen persediaan bahan pangan di RS X Depok dilakukan berdasarkan estimasi pemesanan sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kuantitas pemesanan persediaan dan frekuensi pemesanan yang dibutuhkan RS X Depok. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dan teknik penelitian studi kasus dengan memaparkan pengendalian persediaan bahan pangan yang diterapkan perusahaan kemudian data dianalisis menggunakan metode EOQ. Hasil penelitian menunjukkan pengendalian persediaan bahan pangan di RS X Depok belum optimal karena besarnya frekuensi pemesanan dan jumlah pemesanan dilakukan sedikit demi sedikit. Solusi bagi RS X Depok adalah menggunakan perhitungan metode EOQ. Di RS X Depok tidak terjadi kehabisan persediaan dalam memenuhi kebutuhan produksi karena persediaan masih tersedia saat dibutuhkan. Perhitungan menggunakan metode EOQ memperlihatkan hasil bahwa pada masing-masing bahan pangan yang diteliti terjadi kenaikan jumlah pemesanan dalam satu kali pesan dan penurunan jumlah frekuensi pemesanan dalam satu tahun
Komunikasi Risiko Usahatani Kentang di Luar Daerah Sentra Produksi (Studi Kasus Kelompok Tani Palintang Jaya Desa Cipanjalu Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung)
Kelompok Tani Palintang Jaya merupakan kelompok tani yang mengusahakan tanaman kentang. Petani pada kelompok tani tersebut menanam kentang di lokasi yang tidak memiliki basis budidaya kentang sehingga berpotensi memicu peningkatan risiko yang tidak terduga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami karakteristik petani, teknik budidaya kentang yang dilakukan, risiko yang dihadapi, serta cara para petani mengkomunikasikan risiko untuk mencari solusi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, triangulasi data, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan yang melibatkan 30 informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Petani anggota kelompok tani Palintang Jaya merupakan petani gurem semi komersial, yang melakukan usahataninya dengan cara tradisional dan memiliki tiga tipe karakter individu yaitu Early Adopters, Early Majority dan Late Majority (2) Teknik budidaya kentang yang dijalankan mengikuti standar yang diberikan oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang (3) Risiko yang paling mengkhawatirkan bagi petani adalah risiko produksi, risiko finansial, serta risiko sosial dan hukum. (4) Jaringan sosial antar petani berbentuk Radial Personal Network dan aktor yang paling berperan adalah Ketua dan Pembina dan para anggota melakukan komunikasi risiko dengan berkomunikasi langsung dengan para key person
Inventarisasi Spesies dan Intensitas Serangan Hama Tanaman Terung (Solanum melongena L.) pada Dua Sistem Kultur Teknis di Daerah Kabupaten Agam, Sumatera Barat
Terung (Solanum melongena L.) termasuk salah satu komoditas sayuran buah penting yang mempunyai banyak varietas dengan berbagai bentuk dan warna yang khas. Dalam budidaya tanaman terung, beberapa kendala yang sering dihadapi oleh petani. Kendala ini salah satunya adalah adanya serangan organisme pengganggu tanaman. Gangguan hama pada tanaman terung dapat penurunan produksi karena serangan hama mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi tidak optimum. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan inventarisasi spesies dan menentukan intensitas serangan hama tanaman terung pada dua sistem kultur teknis di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Penelitian dilakukan dari bulan Mei sampai Juli 2021. Metode yang digunakan adalah survey atau observasi langsung di lapangan untuk mengamati jenis spesies, jumlah populasi dan intensitas serangan hama dengan pengambilan sampel yang dilakukan secara acak. Penelitian dilakukan di dua lahan pertanaman terung dengan umur tanaman yang berbeda. Jumlah populasi dan intensitas serangan hama dianalisis menggunakan uji t pada taraf kepercayaan 5%. Hama yang ditemukan pada tanaman terung adalah Epilachna sparsa (Coleoptera: Coccinellidae), Empoasca sp. (Hemiptera: Cicadellidae), Bemisia tabaci (Hemiptera: Aleyrodidae), Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae), Chrysodeixis chalcites (Lepidoptera: Noctuidae) dan Bradybaena sp. (Stylommatophora: Bradybaenidae). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kultur teknis berpengaruh secara signifikan terhadap populasi hama dan intensitas serangan hama Empoasca sp., B. tabaci, E. sparsa, S. litura, Bradybaena sp. dan C. chalcites , akan tetapi populasi hama dan insitensitas serangan pada masing-masing pengamatan ada yang tidak berpengaruh secara signifikan
Respon Hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferr.) (Coleoptera: Curculinoidae: Scolytidae) terhadap Ekstrak Buah Kopi yang Terinfestasi Hama sebagai Atraktan di Perkebunan Kopi Rakyat Gunung Tilu
Penggerek buah kopi (PBKo), Hypothenemus hampei Ferr. adalah salah satu hama utama pada tanaman kopi. Persentase serangan hama PBKo pada buah kopi dapat mencapai 100% jika tidak ada pengendalian. Salah satu teknologi pengendalian hama PBKo yang dapat dilakukan adalah penggunaan ekstrak buah kopi yang terinfestasi hama PBKo sebagai atraktan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh esktrak buah kopi yang terinfestasi sebagai atraktan hama PBKo dan memperoleh konsentrasi ekstrak buah kopi terinfestasi yang paling efektif sebagai atraktan imago hama PBKo. Selain itu juga dipelajari serangga arthropoda lain yang tertangkap. Penelitian ini dilakukan di perkebunan kopi rakyat Gunung Tilu, Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada bulan November 2021 hingga Maret 2022. Pembuatan ekstraksi buah kopi terinfestasi dengan menggunakan teknik maserasi dan destilasi air dilakukan di Laboratorium Pestisida dan Toksikologi Lingkungan, sedangkan pengamatan hama dilakukan di Laboratorium Hama Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 8 perlakuan yaitu P0 = kontrol; P1 = 50 mL air sulingan, P2 = 100 mL air sulingan, P3 = 150 mL air sulingan, P4 = 50 mL ekstrak etanol, P5 = 100 mL ekstrak etanol, P6 = 150 mL ekstrak etanol dan P7 = etanol 10 mL dengan masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak buah kopi terinfestasi dengan menggunakan teknik maserasi dan destilasi air tidak dapat menarik hama PBKo serta tidak menurunkan intensitas serangan hama PBKo. Namun, ekstrak buah kopi terinfestasi dapat menarik sejumlah serangga hama dari ordo Diptera famili Drosophilidae dan parasitoid dari ordo Hymenoptera famili Braconidae
Keefektifan Berbagai Jenis Insektisida Nabati terhadap Beberapa Hama Penting pada Jagung Manis yang Ditanam Secara Konvensional
Serangan hama merupakan salah satu masalah dalam budidaya jagung, karena selain dapat menurunkan kualitas jagung juga dapat menurunkan kuantitasnya sehingga perlu dikendalikan. Insektisida nabati merupakan salah satu alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi insektisida nabati terhadap beberapa hama penting pada jagung manis yang ditanamproduksi secara konvensional. Penelitian ini terdiri dari 8 perlakuan yaitu tanpa aplikasi insektisida, insektisida sintentik (DuPont Lannate 25 WP bahan aktif metomil 25%sebutkan apa), ekstrak biji pinang (Areca catechu L.) (70 g/l), ekstrak biji srikaya (Annona squamosa L.) (15 g/l), ekstrak daun bintaro (Cerbera manghas) (80 g/l), ekstrak biji pinang dan biji srikaya (70 g/l dan 15 g/l), ekstrak biji pinang dan daun bintaro (70 g/l dan 80 g/l), dan ekstrak biji srikaya dan daun bintaro (15 g/l dan 80 g/l). Variable pengamatan dalam penelitian meliputi Jumlah lubang gerekan pada batang dan gerekan tongkol jagung, jumlah larva dan pupa, mortalitas larva, jumlah rambut jagung yang putus, tingkat keusakan pada daun akibat serangan S. frugiperda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jumlah lubang gerekan per batang dan jumlah gerekan pada tongkol pasca aplikasi beberapa jenis insektisida berkisar antara 0,033 sampai 0,633 lubang dan 0,00 sampai 0,40 lubang. Aplikasi ekstrak biji pinang dan daun bintaro (70 g/l dan 80 g/l) memiliki efektifitas yang sama dengan insektisida sintetis dalam mengendalikan hama O. furnacalis, H. armigera dan S. frugiperda dan ekstrak daun bintaro (80 g/l) juga memiliki efektifitas cenderung sama dengan insektisida sintetis dalam menekan populasi larva H. armigera dan S. frugiperda, dari hasil penelitian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ekstrak biji pinang dan daun bintaro efektif mengendalikan O. furnacalis, H. armigera dan S. frugiperda
Uji Resistensi Gulma Echinochloa crus-galli Asal Sulawesi Selatan terhadap Herbisida Natrium Bispiribak
Aplikasi herbisida dengan cara kerja menghambat Acetolactate synthase (ALS) telah dilakukan secara intensif untuk mengendalikan gulma jajagoan [Echinochloa crus-galli (L.) P. Beauv.] pada areal pertanaman padi di Sulawesi Selatan, Indonesia. Hal ini diduga menimbulkan E. crus-galli yang tahan dan diperkirakan resisten terhadap herbisida natrium bispiribak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resistensi dan tingkat resistensi E. crus-galli terhadap herbisida natrium bispiribak. Percobaan dilaksanakan pada bulan September 2021 sampai Januari 2022 di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Kabupaten Sumedang. Rancangan percobaan disusun dalam bentuk Rancangan Petak Terbagi yang terdiri dari dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah lokasi asal gulma sebagai petak utama yang berasal dari daerah terpapar herbisida (Kabupaten Maros, Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan) dan dari daerah tidak terpapar herbisida (Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat). Faktor kedua adalah dosis herbisida sebagai anak petak yang terdiri atas 0, 4, 8, 16, 32, 64, 128 g bahan aktif (b.a)/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa E. crus-galli asal Sidrap dan Maros tergolong ke dalam resisten tingkat rendah terhadap herbisida natrium bispiribak dengan nisbah resistensi masing-masing sebesar 5,61 dan 2,36, sedangkan, pada gulma E. crus-galli asal Pinrang tidak menunjukkan adanya resistensi terhadap herbisida natrium bispiribak
Peningkatan Produksi Padi di Kabupaten Malang Melalui Program Upsus Pajale Selama Pandemi Covid-19
Padi merupakan salah satu komoditas pangan penting untuk menopang kehidupan masyarakat Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian melaksanakan Program Upaya Khusus untuk meningkatkan produksi padi jagung dan kedelai atau Upsus Pajale. Di antara ruang lingkup program tersebut adalah bantuan benih yang ditujukan untuk meningkatkan luas tambah tanam dan luas panen. Upaya peningkatan produksi padi juga dilaksanakan pada tingkat petani penerima bantuan benih dengan memerhatikan sarana penunjang produksinya. Peningkatan produksi padi di Kabupaten Malang melalui bantuan benih Program Upsus Pajale terkena dampak refocusing anggaran sebagai akibat pengendalian Covid-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan produksi padi di Kabupaten Malang selama pandemi Covid -19. Penelitian dilakukan di Kabupaten Malang pada Maret – Desember 2020. Data dianalisis menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bantuan benih, luas tambah tanam dan luas panen secara simultan berpengaruh pada produksi padi baik sebelum maupun selama pandemi Covid-19, tetapi hanya luas panen yang berpengaruh signifikan secara parsial. Benih, pupuk ZA, pupuk kandang, dan pestisida berpengaruh pada produksi padi selama pandemi Covid-19. Bantuan pemerintah berupa benih padi melalui program Upsus Pajale tetap diperlukan karena akan menentukan luas panennya