Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
Penerapan Data Spasial Kebijakan Satu Peta untuk Pemodelan Kerawanan Malaria Terintegrasi, Kasus Malaria Perbukitan Menoreh
Abstrak. Kebijakan Satu Peta (KSP) atau One Map Policy (OMP) merupakan salah satu program prioritas pemerintah dalam pelaksanaan Nawa Cita. Implementasi KSP diharapkan dapat membantu percepatan pelaksanaan pembangunan nasional di berbagai bidang, yang diantaranya adalah di bidang kesehatan. Salah satu program di bidang kesehatan yang dipandang relevan dengan implementasi KSP adalah program pengendalian malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi data KSP yang dapat digunakan untuk memetakan kerawanan malaria. Eksplorasi dan identifikasi data KSP dilakukan dengan menggunakan pendekatan spasial ekologis yaitu habitat nyamuk vektor malaria. Menggunakan metode Spatial Multi Criteria Analysis (SMCA) yang diintegrasikan dengan SIG. Data KSP terpilih yang digunakan adalah pada kelompok tematik batas wilayah serta sumberdaya alam dan lingkungan yaitu diantaranya batas wilayah administrasi, sistem lahan, geologi, dan penutup lahan, ditambah dengan data kerapatan vegetasi yang di ekstraksi dari citra Landsat. Pemetaan dilakukan di daerah reseptif malaria di Perbukitan Menoreh. Peta kerawanan malaria yang dihasilkan dari implementasi KSP secara umum selaras dengan kondisi kejadian malaria yang terjadi sehingga nantinya dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk informasi spasial terpadu. Abstract. One Map Policy (OMP) is a priority government program in the implementation of Nawa Cita. One Map Policy implementation can help national acceleration development in every sector, such as health. One of the programs in the health sector that is relevant to OMP implementation is the malaria control program. The purposes of this research are to explore and identify OMP data that can be used to map the malaria hazard. Exploration and identification of OMP data was carried out using a spatial ecology approach that is the habitat of the malaria vector mosquito. This research uses the spatial multicriteria analysis (SMCA) method which is integrated with a geographic information system (GIS). The selected OMP data are boundary and natural resources and environment thematics groups, such as administrative boundaries, land system, geology, land cover, and vegetation density extracted from Landsat imagery. This mapping is located in an endemic malaria area, Menoreh Hills. The resulting malaria hazard map from OMP implementation is generally in line with the conditions of malaria incidence that occur so that it can be used as a study for spatial integrated information
Strategi adaptasi ketahanan pangan terhadap perubahan iklim di pinggiran Kota Yogyakarta
Abstrak Perubahan iklim memiliki konsekunsi negatif pada ketahanan pangan. Kelebihan atau kekurangan curah hujan akan menghambat produksi pertanian dan ketahanan pangan terganggu. Sehingga adaptasi menjadi penting dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh variabel iklim terhadap ketahanan pangan serta strategi yang dapat dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan dapat dicapai. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data sekunder sebagai data dasar. Area penelitian dipilih secara purposive sampling. Curah hujan sebagai variabel iklim dianalisis menggunakan analisis tren. Ketahanan pangan diukur menggunakan indeks ketersediaan pangan dan pengaruh iklim terhadap ketahanan pangan menggunakan regresi. Terjadi kecenderungan perubahan iklim di semua kecamatan yang ada di pinggiran Kota Yogyakarta. Perubahan iklim ini secara signifikan berpengaruh terhadap ketahanan pangan di Desa Ambarketawang, Tirtoadi, Sumberadi dan Tlogoadi. Strategi adaptasi yang dilakukan dengan (1) pengembangan sistem irigasi, pola tanam, dan bedengan, (2) pemberantasan hama penyakit dengan cara biologi dan budidaya tanaman tahan air/kekeringan (3) pola nafkah ganda dengan pekerjaan tambahan Abstract Climate change has negative consequences for food security. Excess or lack of rainfall will hamper agricultural production and disrupt food security. So that adaptation is important. The purpose of this study was to determine the effect of climate variables on food security and strategies that can be implemented to keep food security safe. The research was conducted with a quantitative approach using secondary data as basic data. The research area was selected by purposive sampling. Rainfall as a climate variable was analyzed using trend analysis. Food security is measured using the food availability index and the influence of climate on food security using regression. There is a trend of climate change in all districts in the urban fringe of Yogyakarta. This climate change has significantly affected food security in the villages of Ambarketawang, Tirtoadi, Sumberadi and Tlogoadi. Adaptation strategies are carried out by (1) developing irrigation systems, cropping patterns, and ridging, (2) eradicating pests by biological means and cultivating drought / water resistant plants (3) diversify income or dual income patterns with additional work.
Kajian metode deterministik untuk zonasi kerawanan gerakan tanah di Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur
Abstrak Karakteristik morfologi berbukit dengan kemiringan lereng curam berpotensi atau rawan membentuk kejadian longsor (gerakan tanah). Tujuan kajian ini adalah menentukan zona kerawanan gerakan tanah dengan pendekatan spasial deterministik, yakni analisis sifat faktor kelerengan menggunakan parameter kemiringan lereng, jenis batuan, ketebalan pelapukan batuan, struktur geologi (jarak terhadap sesar), sifat geoteknik (ukuran butir), dan kegempaan regional. Selain pengukuran di lapangan, data berikut juga diperoleh dari data sekunder, yakni kemiringan lereng (konversi digital elevation model), jenis batuan, ketebalan pelapukan, dan sifat geoteknik (Pusat Survei Geologi), serta kedalaman air tanah (BAPPEDA). Struktur geologi diperoleh dari Pusat Survei Geologi dan analisis jarak menggunakan sistem informasi geografis, sedangkan intensitas hujan dari BMKG dan nilai kegempaan dari BMKG dan Badan Geologi. Berdasarkan hasil analisis, daerah kajian (43,3 km2) memiliki empat zona kerawanan gerakan tanah, yakni sangat rendah (34,73%), rendah (20,98%), sedang (26,78%), dan tinggi (17,51%). Secara umum, Labuhan Bajo memiliki kerawanan gerakan tanah yang sangat rendah (34,73%). Abstract Hilly morphology with steep slopes is a factor of susceptibility to landslides (mass movements). The study was designed to determine mass movement susceptibility zones using a deterministic spatial approach by analyzing slope factors, namely slope gradient, rock type, rock weathering depth, geological structure (distance to fault), geotechnical properties (grain size), and regional seismicity. Aside from measurements in the field, these parameters were also measured from secondary data: slope gradient (conversion of digital elevation model), rock type, weathering type, geotechnical properties (PSG), and groundwater depth (BAPPEDA). In addition, geological structures were obtained from PSG and geographic information systems (distance analysis), rainfall intensity was from BMKG, and seismicity values were from BMKG and the Geological Agency. Based on the analysis results, the study area (43.3 km2) had four susceptibility zones: very low (34.73%), low (20.98%), medium (26.78%), and high (17.51%). In general, Labuan Bajo had a very low susceptibility to mass movements.
Mikrozonasi Rawan Gempabumi Sebagai Bahan Evaluasi RDTR Kecamatan Kasihan Tahun 2018 – 2038
Abstrak Peta rawan gempabumi pada RDTR Kecamatan Kasihan Tahun 2018-2038 belum memiliki kedetailan informasi skala mikro. Penelitian ini bertujuan menganalisis kerawanan gempabumi dan mengidentifikasi pola ruang terhadap kerawanan gempabumi. Metode penelitian adalah interpolasi spasial dan analisis Kg pada satuan bentuklahan menggunakan data Indeks Kerentanan Seismik (Kg), metode overlay dengan unit analisis adalah Sub BWP. Hasil penelitian adalah (1) analisis kerawanan gempabumi berdasarkan satuan bentuklahan memiliki validitas yang lebih baik dibandingkan dengan metode Interpolasi. Hasil analisis di wilayah kajian menunjukan bahwa 56% berada di kerawanan rendah, 33% kerawanan sedang dan 11% kerawanan tinggi; (2) Sub BWP I didominasi berada di kerawanan gempabumi tinggi seluas 186,41 Ha, Sub BWP II didominasi berada di kerawanan sedang seluas 484,64 Ha, Sub BWP III, IV dan V didominasi kerawanan rendah. Zona perumahan pada rencana pola ruang secara berturut-turut berada di kerawanan gempabumi rendah, sedang dan tinggi yaitu seluas 924,38 Ha, 469,57 Ha dan seluas 187,63 Ha. Abstract Earthquake hazard map in Kasihan District RD 2018-2038 does not yet have detailed micro scale information. This study aims to analyze the earthquake vulnerability and identify the spatial pattern of earthquake vulnerability. The research method is spatial interpolation and Kg analysis on landform units using Seismic Vulnerability Index (Kg) data, the overlay method with the unit of analysis is Sub BWP. The results of the study are (1) earthquake hazard analysis based on landform units has better validity compared to the Interpolation method. The results of the analysis in the study area show that 56% are in low vulnerability, 33% in moderate vulnerability and 11% in high hazard; (2) Sub BWP I is dominated at high earthquake hazard area of 186.41 Ha, Sub BWP II is dominated at medium vulnerability at 484.64 Ha, Sub BWP III, IV and V are dominated by low vulnerability. Residential zones in the planned spatial pattern are respectively in low, medium and high earthquake hazards of 924.38 Ha, 469.57 Ha and 187.63 Ha
Peran Socio-Personal Petani Dalam Kaitannya Dengan Keputusan Menentukan Jenis Komoditi Pertanian di Desa Duren Kecamatan Bandungan
Abstrak: Keputusan menentukan jenis komoditi pertanian yang akan diusahakan pada lahan pertanina tidak terlepas dari pengaruh kondisi sosiol-demografi maupun budaya petani. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis peran socio-personal petani kaitannya dengan keputusan menentukan jenis komoditi pertanian. Metode survei digunakan untuk mengambil sampel di lapangan. Pengukuran data kualitatif menggunakan metode skala likert dan dianalisis dengan menggunakan metode quartil (Q), sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan uji statistik logistik binari. Hasil analisis menemukan bahwa aspek socio-personal petani yang diwujudkan dalam aspek socio-culture sangat berperan terhadap keputusan petani menentukan jenis komoditi pertanian. Hasil uji regresi logistik binari menunjukkan bahwa peran aspek socio-cultutre petani berpengaruhi signifikan terhadap keputusan petani menentukan jenis komoditi padi daripada jenis komodti lainnya. Demikian, juga dengan faktor umur dan pengalaman petani berpengaruh siginifikat terhadap keputusan petani menentukan jenis komoditi padi, sedangkan faktor pendidikan tidak signifikan. Abstract: The decision to determine the type of agricultural commodity to be cultivated on agricultural land cannot be separated from the influence of socio-demographic conditions and farmers' culture. Based on this, this research was conducted with the aim of analyzing the socio-personal role of farmers in relation to the decision to determine the type of agricultural commodity. The survey method was used to take samples in the field. Qualitative data measurement using the Likert scale method and analyzed using the quartile (Q) method. while the quantitative data analysis used binary logistic statistical tests. The results of the analysis found that the socio-personal aspects of farmers which were manifested in the socio-cultural aspects played a very important role in the farmers' decisions to determine the types of agricultural commodities. The results of the binary logistic regression test show that the role of the socio-cultural aspect of farmers has a significant effect on the decision of farmers to determine the type of rice commodity rather than other types of commodities. Likewise, the age and experience of farmers have a significant effect on farmers' decisions to determine the type of rice commodity, while the education factor is not significant
Pemetaan mobilitas penduduk di kawasan pinggiran Kota Bandung
Abstrak Tingginya mobilitas penduduk dari kawasan pinggiran ke pusat kota menimbukan beberapa dampak negatif yakni kepadatan penduduk, kemacetan lalu lintas, polusi udara, dan lain-lain Upaya penanggulangan mobilitas dapat dilakukan dengan perencanaan dan pembangunan kawasan pinggiran. Sebagai langkah awal perencanaan, pemetaan tingkat dan pola mobilitas penduduk perlu dilakukan agar penanganan yang diberikan menjadi tepat sasaran Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara.. Analisis spasial untuk memetakan data dilakukan dengan bantuan analisis SIG menggunakan teknik overlay. Hasil penelitian pada 7 titik pengamatan pada periodik waktu 06.00 – 18.00 menunjukan bahwa arus masuk ke Kota Bandung jauh lebih 13% besar dibanding arus keluar terutama pada hari kerja dengan total 35.896 kendaraan. Hal tersebut menunjukan bahwa ada ketergantungan wilayah pinggiran terhadap kota Bandung terutama yang berkaitan dengan pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya. Dengan demikian pola penanggulangan mobilitas ialah membangun sarana dan prasarana sosial, ekonomi, dan pendidikan serta kesehatan pada wilayah pinggiran Abstract The high mobility of the population from the suburbs to the city center causes several negative impacts, namely population density, traffic congestion, air pollution, etc. Efforts to overcome mobility can be carried out by planning and developing suburban areas. As a first step in planning, mapping the level and pattern of population mobility needs to be done so that the treatment provided is right on target. This research uses a quantitative descriptive approach with observation and interview data collection techniques. Spatial analysis to map the data is carried out with the help of GIS analysis using overlay techniques. The results of the study at 7 observation points at a periodic time of 06.00 - 18.00 showed that the inflow to the city of Bandung was 13% larger than the outflow, especially on weekdays with a total of 35,896 vehicles. This shows that there is a dependence of suburban areas on the city of Bandung, especially those related to work, education, and so on. Thus, the pattern of overcoming mobility is to build social, economic, educational and health facilities and infrastructure in the periphery.
Analisis pembangunan wilayah melalui program dana desa di Kabupaten Bogor: pendekatan teori kelembagaan
Abstrak. Salah satu agenda besar dalam strategi pembangunan wilayah perdesaan adalah mengimplementasikan program dana desa. Namun, masih ditemukan kendala yang menghambat keberhasilan program dana desa yang sebabkan oleh lemahnya kapasitas kelembagaan desa. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penghambat ditinjau berdasarkan perspektif kelembagaan yang menghambat proses pengelolaan dana desa dalam pembangunan wilayah perdesaan. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus yang menggunakan metode analisis isi dan analisis tematik dengan pendekatan kualitatif untuk menggali proses pengelolaan dana desa dalam menunjang pembangunan wilayah perdesaan yang dilakukan di Kabupaten Bogor. Berdasarkan hasil analisis, belum optimalnya alokasi pemanfaatan dana desa dalam perencanaan pembangunan dipengaruhi oleh unsur kognitif-kultural masyarakat. Secara normatif, kepala desa memiliki keprofesionalitasan yang rendah. Lemahnya pengawasan kepada kepala desa menyebabkan rendahnya profesionalisme kepala desa dalam melaksanakan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Hal ini menyebabkan rendahnya rasa memiliki masyarakat terhadap program dana desa, sehingga pelaksanaan pembangunan desa melalui program dana desa dinilai belum sampai pada tahap menjadikan masyarakat desa sebagai subyek pembangunan. Abstract. The big agenda in the rural area development strategy is implementing the village fund program. However, there are still obstacles that hinder the success of the village fund program which is caused by the weak capacity of village institutions. Thus, this study aims to to analyze the inhibiting factors from an institutional perspective that hinder the management of village funds in developing rural areas. This is case study research that use content and thematic analysis with a qualitative approach to explore the process of managing village fund in Bogor Regency. Found that, the non-ideal allocation of village fund utilization in development planning was influenced by the cognitive-cultural element. Weak supervision of the village head causes the low professionalism of the village head in carrying out accountability. This led to low sense of belonging from community towards the village fund program. The implementation of rural area development through the village fund program is considered not have reached the stage of making rural communities the subject of development
Tantangan filsafat geografi dalam perkembangan geografi terkini: Kajian ontologi, epistemologi, aksiologi, dan etika
Abstrak Perkembangan geografi terkini tidak lepas dari keilmuan lainnya seperti statistik, metode kuantitatif, komputer, dan perkembangan teknologi berbasis online. Konsep geografi terpadu menjadi landasan yang harus fleksibel dalam menghadapi perkembangan teknologi terkini. Tantangan zaman perlu direspon dalam kajian filsafat geografi terkini supaya muncul pembeda ilmu geografi dibandingkan ilmu lainnya yang sesuai dengan perkembangan era digital, sehingga ilmu geografi tetap dibutuhkan dalam segala hal termasuk pembelajaran. Artikel ini bertujuan memberikan gambaran ilmu geografi dalam merespon perkembangan teknologi melalui kajian ontologi, epistemologi, aksiologi, dan etika. Cara mengkaji dengan berbagai literatur. Aspek ontologi geografi perlu mendefinisikan keruangan dalam aspek ruang maya. Aspek epistemologi, riset berbasis online dan menggunakan peralatan teknologi terkini perlu dikembangkan. Aspek aksiologi, kemanfaatan kajian pendekatan geografi bernuansa online perlu ditingkatkan. Aspek etika, penting mempertimbangkan moral dalam pengambilan keputusan dan menghindari pelanggaran dalam mengkaji geografi. Abstract The recent geography cannot be separated from other sciences such as statistics, quantitative methods, computers, and the development of online-based technologies. The integrated geography concept became the basis for flexibility in dealing with the latest technological developments. The time challenges need to be responded to in the current study of the philosophy of geography so that geography differences will emerge compared to other sciences following the digital era's development, so that geography is still needed in all things, including learning. The article aimed to provide an overview of geography in responding to technological developments throughout the study of ontology, epistemology, axiology, and ethics. The study analyzed with literature. Ontology aspect, geography needs to define space in terms of cyberspace. Epistemological aspects, online-based research, and using the latest technological equipment need to be developed. Aspects of axiology, the usefulness of the study of the online nuanced geographical approach needs to be improved. Ethical aspects, it is essential to consider morals in decision making and avoid violations in studying geograph
Prediksi daya dukung dan daya tampung Tempat Pembuangan Akhir Putri Cempo Surakarta
Abstrak Di era revolusi industri 4.0 ini, banyak terjadi perubahan pemanfaatan lahan dari lahan pertanian berubah menjadi lahan perumahan dan pemanfaatan lainnya yang bukan untuk kepentingan pertanian. Maka dari itu, terjadi peningkatan akan kebutuhan lahan untuk menyediakan segala fasilitas perkotaan yang dibutuhkan oleh penduduk kota khususnya pada fasilitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prediksi jumlah sampah yang akan masuk ke TPA Putri Cempo serta daya tampungnya. Penelitian ini dilaksanakan dengan objek TPA Putri Surakarta pada April 2020 menggunakan metode kuantitatif dan penginderaan jauh. Penelitian ini menggunakan data penginderaan jauh berupa foto udara yang diambil menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) serta data pertumbuhan penduduk Kota Surakarta dan jumlah sampah yang masuk ke TPA Putri Cempo. Dari penelitian ini diperoleh prediksi jumlah sampah yang masuk di TPA Putri Cempo pada tahun 2020 adalah sebesar 87.617,09 ton dengan daya tampung adalah sebesar 950.621.11m3 Penetapan lokasi TPA sampah yang tepat serta penataan kawasan di sekitarnya perlu dilakukan secara seksama agar tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari, terutama yang terkait dengan masalah sosial dan lingkungan. Abstract In this era of the industrial revolution 4.0, there have been many changes in land use from land turning into residential land and other uses that are not for agricultural purposes. Therefore, there is an increase in the need for land to provide all the urban facilities needed by city residents, especially in the waste disposal site (TPA). Therefore, this study was conducted to determine the prediction of the amount of waste that will enter the Putri Cempo TPA and its capacity. This research was carried out in TPA Putri Surakarta in April 2020 using quantitative methods and remote sensing. This study uses remote sensing data in the form of aerial images taken using an Unmanned Aerial Vehicle (UAV) and also data of population growth in Surakarta City, and the amount of waste that enters the Putri Cempo TPA.. From this study, it was obtained that the prediction of the amount of waste entering the Putri Cempo TPA in 2020 was 87,617.09 tons with a capacity of 950,621.11m3. Determination of the exact location of the landfill waste and the arrangement of the surrounding area needs to be done carefully so as not to cause problems in the landfill in the future, especially those related to social and environmental problems
Determinan Tingkat Konsumsi Gizi Makro Rumah Tangga di Provinsi Riau: Kajian Demografi dan Spasial
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji determinan tingkat konsumsi gizi makro (TKGM) rumah tangga di Provinsi Riau tahun 2018 dari aspek demografi, sosial, dan ekonomi. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dan inferensia dengan menggunakan regresi logistik biner. Data yang digunakan adalah data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2018 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsumsi protein pada tahun 2018 sudah memenuhi AKG yang dianjurkan, sedangkan tingkat konsumsi lemak dan karbohidrat masih di bawah AKG yang dianjurkan Determinan TKGM rumah tangga di Provinsi Riau adalah wilayah tempat tinggal, jumlah ART, status kawin KRT, umur KRT, jenis kelamin KRT, pendidikan KRT, lapangan usaha pekerjaan utama KRT, pendapatan, dan rata-rata pengeluaran makanan rumah tangga. Abstract This study aims to examine the determinants of household macro nutrient consumption levels in Riau Province in 2018 from demographic, social, and economic aspects. The method used is descriptive analysis and inference by using binary logistic regression. The data used is data from the 2018 National Socio-Economic Survey (Susenas) conducted by the Statistics Indonesia. The results showed that the level of protein consumption in 2018 had met the Recommended Dietary Allowance (RDA), while the level of fat and carbohydrate consumption was still below the RDA Determinants of household macro nutrient consumption levels in Riau Province were the area of residence, number of household members, household marital status, age of the household head, sex of the household head, education of the head of household, main business field of household head, income, and average household food expenditure