Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
Tipologi alamat di perkotaan dan perdesaan Indonesia dalam proses standardisasi pengalamatan
Abstrak. Alamat merupakan salah satu komponen wajib pada identitas penduduk dan dokumen legal-formal lain yang digunakan dalam berbagai kepentingan serta kegiatan sehari-hari. Dalam dunia nyata terdapat variasi penulisan alamat. Variasi penulisan alamat ini memiliki elemen yang terkait aspek lokalitas wilayah maupun yang terkait dengan ketiadaan standar pengalamatan. Variasi penulisan alamat diinventarisasi melalui survei lapangan dan survei secara daring. Survei dilakukan di wilayah perdesaan dan perkotaan untuk dapat memotret berbagai tipe penulisan alamat. Tipologi penulisan alamat tersebut kemudian diklasifikasikan berdasar dua model. Berdasarkan fungsinya, ada alamat yang digunakan untuk kepentingan legal-formal dan alamat yang digunakan untuk penunjuk atau penanda lokasi. Berdasarkan karakteristik wilayahnya terdapat tipologi alamat perdesaan dan alamat perkotaan. Di model alamat perdesaan terdapat 18 komponen sedangkan di model alamat perkotaan terdapat 16 komponen. Selanjutnya, berdasarkan tipologi alamat yang diperoleh dan kebutuhan alamat dalam kegiatan legal-formal ditetapkan sifat kewajiban setiap komponen alamat. Tiga sifat yang ditetapkan meliputi wajib (W), bersyarat (B), dan opsional (O). Hasil penetapan ini selaras dengan RSNI2 tentang Pengalamatan di Wilayah Perdesaan dan Perkotaan di Indonesia. Abstract. Address is one of the mandatory components of resident identity and other legal-formal documents used in various interests and daily activities. In the real world, there are variations of writing addresses. This variation of address writing has elements related to regional locality aspects and those associated with the absence of addressing standards. Address writing variations were inventoried through field surveys and online surveys. The survey was conducted in rural and urban areas to portray various types of address writing. The typology of address writing is then classified based on two models. Based on its function, there are addresses used for legal-formal purposes and addresses used for pointers or location markers. Based on the characteristics of the region, there are typologies of rural addresses and urban addresses. In the rural address model, there are 18 components, while in the urban address model, there are 16 components. Furthermore, based on the typology of addresses obtained and the need for addresses in legal-formal activities, the nature of the obligations of each component of the address is determined. The three defined properties include mandatory (W), conditional (K), and optional (O). The results of this determination are in line with the RSNI2 concerning Addressing in Rural and Urban Areas in Indonesia.
Eksplorasi Variabel Pembangunan Berkelanjutan untuk Indeks Desa Membangun Pulau Jawa.
Konsep pembangunan berkelanjutan (PB) telah berkembang dan digunakan sebagai tujuan pembangunan, termasuk di Indonesia. Konsep yang terdiri dari dimensi lingkungan, sosial, ekonomi, dan kelembagaan ini diadopsi oleh Indeks Desa Membangun yang terdiri dari dimensi lingkungan, sosial dan ekonomi. Namun, IDM merupakan bagian dari dualisme pengukuran status desa. Oleh karena itu diperlukan seperangkat variabel baru untuk pemutakhiran IDM. Pulau Jawa dipilih sebagai lokasi penelitian karena desakan isu PB. Data IDM dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) tahun 2019 dan 2020 digunakan sebagai data utama. Analisis faktor metode probabilistik dan nonprobabilistik digunakan untuk menjawab tujuan mengeksplorasi faktor-faktor yang membentuk konsep keberlanjutan berdasarkan variabel TPB pada tingkat kabupaten/kota. Analisis korelasi rank spearman dan analisis spasial bersama-sama menjawab tujuan menilai konsistensi hasil pewilayahan antara IDM dan TPB. Hasilnya perangkat variabel baru sekurang-kurangnya menambahkan tiga variabel dari TPB yang mewakili dimensi sosial dan ekonomi, karena berkorelasi signifikan dengan nilai IDM, dan dengan menggunakan perangkat baru analisis spasial menunjukkan hasil yang lebih merata.
Implementasi wisata virtual di jalur pendakian Gunungapi Purba Nglanggeran, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul
Abstrak Wisata virtual menjadi alat yang paling memungkinkan bagi seseorang untuk menjelajahi tempat lain tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu khususnya bidang pariwisata. Gunungapi Purba (GAP) Nglanggeran merupakan lokasi wisata yang sangat memungkinkan untuk dikembangkan ke arah virtual. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat 40 titik panorama sepanjang jalur pendakian kemudian hasilnya dicoba oleh pengunjung virtual dari berbagai generasi. Target responden dari penelitian ini adalah pengunjung yang tidak dapat mendaki di GAP Nglanggeran dengan berbagai alasan (tidak berada di kawasan wisata maupun tidak mampu mendaki karena alasan tertentu). Sebanyak 145 responden mencoba wisata virtual ini dengan kode batang yang telah diberikan. Media yang bisa digunakan adalah laptop, telfon pintar, dan layar televisi. Hasilnya, pengunjung virtual ini merasa bahwa wisata virtual yang dibuat sudah cukup bagus, mampu memberikan gambaran tentang jalur pendakian, dan mampu memberikan kesan nyata sepanjang jalur pendakian. Wisata ini juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk wisata virtual dengan menggunakan kacamata VR. Hasilnya, Generasi Z merupakan kalangan yang paling antusian dengan hadirnya media tersebut. Abstract Virtual tour is the most possible tool for someone to explore other places without being limited by distance and time, especially in tourism. Nglanggeran ancient volcano is a very possible tourism spot that can be developed in a virtual. The purpose of this study was to create 40 panoramic photos along the tracking route and then the results were tested by virtual visitors from various generations. The target respondents of this research are visitors who cannot climb the Nglanggeran GAP for various reasons (not in the tourist area or who are not strong enough to climb for certain reasons). A total of 145 respondents tried this virtual tour with the barcode that had been provided. The media that can be used are laptops, smartphones, and television screens. As a result, these virtual visitors feel that the virtual tour created is able to provide an overview of the hiking trail and is able to give a real impression along the hiking track. This tourism tour also provides an opportunity for visitors to try virtual tours using VR glasses. As a result, Generation Z is the most enthusiastic about the presence of the media
Kajian Perubahan Muka Airtanah di Cekungan Airtanah Yogyakarta-Sleman
Jumlah Penduduk dan industri yang terus meningkat di Cekungan Airtanah (CAT) Yogyakarta-Sleman. Perubahan muka airtanah dipengaruhi oleh faktor alami maupun faktor akibat aktivitas manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan muka airtanah dan faktor yang paling berpengaruh terhadap perubahan muka airtanah. Metode yang digunakan berupa analisis spasial perubahan muka airtanah dan uji korelasi serta regresi. Data yang digunakan untuk analisis perubahan muka airtanah adalah sumur gali, sumur bor, curah hujan, penggunaan lahan, transmissivitas dan pemanfaatan airtanah tahun 2011 dan 2015. Sampel sumur gali yang digunakan sejumlah 800 dan sampel sumur bor yang digunakan sejumlah 16. Analisis spasial dilakukan dengan membandingkan dua peta muka airtanah tahun 2011 dan 2015 dengan menggunakan Arc GIS. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan Statistical Product and Service Solutions (SPSS). Metode statistik yang digunakan adalah uji korelasi pearson product moment dan regresi metode backward dan stepwise. Perubahan muka airtanah akuifer bagian atas tahun 2011 hingga 2015 memiliki perbedaan kedalaman antara -7 – 11 meter, sedangkan akuifer bagian bawah berkisar -2,2 – 1,4 meter. Parameter yang memiliki pengaruh terbesar hingga terkecil terhadap perubahan muka airtanah akuifer bagian atas adalah hujan (0,000), tutupan lahan (0,001), tingkat pemanfaatan airtanah (0,001) dan transmisivitas (0,411), sedangkan akuifer bagian bawah berupa tingkat pemanfaatan airtanah (0,000), transmisivitas (0,000), jumlah sumur bor (0,015), hujan (0,026), dan tutupan lahan (0,254). Faktor yang paling berpengaruh terhadap perubahan muka airtanah akuifer bagian atas adalah curah hujan dengan hasil regresi backward 0,133 , sedangkan pada akuifer bagian bawah adalah jumlah sumur bor pengguna airtanah dengan hasil regresi backward -0,012 . The development of industries and populations in Yogyakarta-Sleman Groundwater Basin. There are several factors that can change the water table is natural factors and anthropogenic factors. The objectives of this research are to know whether the water tables changed and to analyze the most influential factor in the water table change. The method of the research consists of making spatial analysis the water table changes map and correlation analyses as well as regression analyses. The data used for analysis of groundwater level changes are dug wells, boreholes, rainfall, landuse, transmissivity and groundwater use in 2011 and 2015. This research used 800 samples dug wells and 16 boreholes. Spatial analysis compared groundwater level map in 2011 and 2015 usin ArcGIS. Satistical analysis was performed using Product and Service Solutions (SPSS). The statistical method used is the product moment correlation and backward and stepwise regression methods.The water table change on the upper aquifer in 2011 and 2015 has different depth about -7 – 14 meter whereas the lower aquifer in 2011 and 2015 is -2,2 - 1,4 meter. The largest and the smallest influence of the parameters toward the water table change on the upper aquifer respectively are rainfall parameter (0,000), land cover (0,001), the rate of groundwater usage (0,001) and transmissivity (0,411). In the other hand, the influences of the parameters on the lower aquifer are the rate of groundwater usage (0,000), transmissivity (0,000), the number of drilling well (0,015), rain fall (0,026), and land cover (0,254). The most influence factor to the water table change on the upper aquifer is rain fall with backward regression 0,133, whereas on the lower aquifer is the number of drilling well with backward regression -0,012..
Identifikasi Sesar Aktif di Pulau Bali dengan Menggunakan Data Pemetaan Geologi Permukaan dan Morfologi Tektonik
Pulau Bali dan sekitarnya berada dekat dengan zona subduksi sehingga rawan terhadap bencana gempa bumi. Struktur utama yang menyebabkan gempa bumi di Bali umumnya berada di zona subduksi di bagian selatan dan di zona sesar naik belakang busur di utara yang dikenal dengan sesar naik Flores. Selain potensi gempa dari kedua zona sesar ini, gempa yang berasal dari zona sesar di darat juga bisa menimbulkan bahaya yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan sesar aktif di darat dengan menggunakan kombinasi antara metode penginderaan jauh dengan survey lapangan. Data yang digunakan sebagai peta dasar adalah data digital elevation (DEM) model DEMNAS beresolusi 8 m serta data DEM beresolusi 0.5 m yang dihasilkan melalui proses fotogrametri dari foto udara. Analisis kelurusan menunjukkan adanya pola berarah baratlaut-tenggara dan timulaut-baratdaya. Validasi di lapangan menunjukkan bahwa kelurusan ini berasosiasi dengan keberadaan sesar-sesar geser, sesar oblique dan sesar turun. Sesar-sesar ini memotong batuan berumur Kuarter hingga endapan masa kini. Selain itu, data sebaran seismisitas menunjukkan adanya zona kegempaan dangkal yang berada pada area di sekitar kelurusan yang dipetakan. Kedua indikator ini menunjukkan bahwa sesar-sesar yang teridentifikasi dalam penelitian ini bisa dikategorikan sebagai sesar aktif. Hasil dari penelitian ini memberikan pemahaman baru mengenai geometri sesar aktif yang ada di Pulau Bali dan potensi kegempaan di masa yang akan datang yang memberikan kontribusi terhadap upaya mitigasi bencana gempa bumi di Pulau Bali. Bali and its surrounding region are located within proximity of the Sunda-Banda subduction zone making it prone to earthquake hazards. The structures that caused earthquakes in Bali are mainly from the front subduction faults and from the back-arc thrust fault known as the Flores Fault. In addition, earthquakes are frequently occur in the inland fault system. This study aims to map the inland active faults in Bali using a combination of remotely-based and field-mapping methods. We use the 8-m resolution digital elevation model (DEM) of DEMNAS and the 0.5 m resolution DEM from photogrammetry processing of aerial photo as our base maps. Our lineament analysis identifies northwest-southeast and northeast-southwest lineaments. Our field observation confirms these lineaments to be associated with strike-slip, oblique and normal faults. These faults dissect Quarternary to recent rock units. In addition, seismicity data indicate the occurrence of shallow earthquakes in the vicinity of these structures. All of these indicate that these structures are active. Results from this study provide a new understanding of the inland active fault geometry in Bali, useful in the seismic hazard analysis and may contribute to the earthquake mitigation efforts in Bali.
Kajian kerusakan lingkungan pada tambang intan berbasis pertambangan rakyat di Kecamatan Cempaka, Kalimantan Selatan
Abstrak. Penambangan intan di Kecamatan Cempaka telah ada sejak dulu dan dikelola langsung oleh masyarakat serta tergolong sebagai tambang rakyat yang berskala kecil. Keberadaan tambang intan memunculkan permasalahan pada lingkungan berupa kerusakan. Kerusakan yang ditimbulkan mencakup seluruh aspek seperti abiotik, biotik dan kultural. Untuk itu perlu dilakukan suatu kajian terkait bagaimana kerusakan yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut. Tujuan pada penelitian ini berupa, (1) mengidentifikasi jenis kerusakan lingkungan akibat kegiatan pertambangan intan, (2) menganalisis tingkat kerusakan lingkungannya, (3) merumuskan strategi pengelolaan yang sesuai untuk kerusakan lingkungan akibat pertambangan intan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian merupakan metode gabungan antara kuantitatif berupa skoring dan perhitungan kelas interval serta kualitatif berupa wawancara mendalam, yang mengacu pada kriteria dari Buku I Kerusakan Lahan Akses Terbuka Akibat Tambang Rakyat oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identifikasi jenis kerusakan lingkungan memiliki kesesuaian dengan parameter yang ada pada ketentuan KLHK tahun 2015. Analisis tingkat kerusakan menunjukkan bahwa titik pengamatan 4 di Kelurahan Sungai Tiung menjadi titik dengan tingkat kerusakan yang berat. Perumusan strategi pengelolaan menunjukkan bahwa pengalihfungsian lokasi pertambangan menjadi tujuan wisata adalah upaya pengelolaan yang paling tepat. Abstract .Diamond mining in Cempaka Subdistrict existed for a long time ago and was handled by community groups and included as small-scale artisanal mining. The existence of diamond mining causes a problem to the environment like environmental damage. The damage caused covers all aspects such as abiotic, biotic, and cultural. Thus, it needs to carry out a study related to how these activities cause the damage. The purposes of the research are, (1) Identify the types of environmental damage, (2) analyze the level of environmental damage, (3) formulate the appropriate management strategies for environmental damage caused by diamond mining. The research method uses mix method between quantitative like scoring and calculation an interval class, and qualitative, with an in-depth interview, which references Book I Open Access to Land Damage due to Artisanal Mining by the Ministry of Environmental and Forestry 2015. The results showed that identifying the environmental damage type was in accordance with the parameters in 2015 of KLHK references. Analyze an environmental damage level shows the heavy damage level found in observation point 4 in Sungai Tiung. Formulation of a management strategy shows that mining sites' conversion to tourism destinations is the most appropriate.
Perubahan lahan vegetasi berbasis citra satelit di DAS Citarum, Bandung, Jawa Barat
Abstrak DAS Citarum mengalami perubahan struktur lingkungan yang tinggi yang berakibat pada penurunan kualitas lingkungan, sehingga diperlukan gambaran mendetail mengenai kondisi perubahan lahan vegetasi di DAS Citarum. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proses perubahan luasan lahan vegetasi di DAS Citarum, Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan data penginderaan jauh dengan pendekatan kuantitatif. Pemetaan perubahan penutupan vegetasi di DAS Citarum menggunakan data citra Landsat multitemporal dengan perangkat lunak QGIS. Pada pelaksanaan penelitian ini, beberapa tahapan yang dilakukan, diantaranya pengolahan awal citra satelit (pre-processing), pengolahan citra digital (image processing), verifikasi data citra (NDVI), dan analisis perubahan penutupan lahan. Hasil studi menunjukkan bahwa terjadi penurunan luasan lahan vegetasi seluas 35% pada tahun 1989 – 2019 dengan rata-rata penyusutan luas lahan sebesar 0.64% setiap tahunnya dan penyusutan terbesar pada tahun 2006. Penyusutan lahan cenderung terjadi pada wilayah yang berbatasan dengan Kota Bandung, yang diperkirakan sebagai bagian dari pengembangan wilayah kota kedaerah sekitarnya dan hasil menunjukkan wilayah yang mengalami penyusutan terbesar merupakan kecamatan dengan luas wilayah relatif kecil dibandingkan dengan wilayah kecamatan lainnya seperti Cipatat (74%) dan Batujajar (83%). Meski demikian, selama periode tahun 1989 – 2019, beberapa kecamatan menunjukkan peningkatan luas lahan bervegetasi seperti Kecamatan Bojongsoang, Slawi, dan Tanjungsari. Kata kunci: Citra Satelit, Landsat, Penyusutan Lahan. Abstract The Citarum watershed undergoes a significant change in environmental structure, which results in a decrease in environmental quality, so a detailed description of the conditions of land change in vegetation in the Citarum watershed is needed. The main objective of this study: the process of changing the area of vegetation in the Citarum watershed, Bandung, West Java. This study uses remote sensing data with a quantitative approach. Mapping of land cover changes in the Citarum watershed uses multitemporal Landsat imagery with QGIS software. Several steps were carried out, including pre-processing, image processing, NDVI, and land cover change analysis. The study results show a decrease in the area of vegetation area of 35% in 1989 - 2019, with an average shrinkage of the land area of 0.64% annually and the most extensive shrinkage in 2006. Land shrinkage tends to occur in areas bordering Bandung City, which is estimated as part of the city's development to the surrounding area. The most extensive shrinkage areas are the districts with relatively small areas compared to other sub-districts such as Cipatat (74%) and Batujajar (83%). However, during the period 1989 - 2019, several sub-districts showed an increase in vegetated land areas, such as Bojongsoang, Slawi, and Tanjungsari Districts.
Analisis Ketersediaan Air Permukaan dan Proyeksi Kebutuhan Air DAS Bodri Tahun 2040
Abstrak Sumberdaya air penting untuk pemenuhan kebutuhan semua makhluk hidup termasuk manusia. DAS Bodri menyediakan suplai air permukaan melalui sungai-sungai yang ada dalam DAS, yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar. Seiring berjalannya waktu, DAS Bodri mengalami perubahan penggunaan lahan yang menyebabkan terjadinya peningkatan kebutuhan air dan terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air permukaan. Tujuan dari penelitian ini, yaitu mengetahui keseimbangan antara kebutuhan air di masa yang akan datang dengan ketersediaan air permukaan di DAS Bodri tahun 2040. Perhitungan keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air permukaan dilakukan dengan membandingkan antara kebutuhan air total dan ketersediaan air permukaan. Parameter kebutuhan air total terdiri dari kebutuhan air domestik, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas peribadatan, perkantoran, industri, pertokoan dan pasar, warung makan, peternakan, irigasi, dan tambak. Kebutuhan air di tahun mendatang diketahui melalui proyeksi secara eksponensial dan tetap dari data jumlah dalam perhitungan parameter. Kebutuhan air untuk aktivitas domestik dan nondomestik diestimasikan mencapai 2,44 miliar m3 pada tahun 2040. Hasil analisis neraca air menunjukkan bahwa status neraca air DAS Bodri tahun 2010-2019 mengalami defisiensi. Hal tersebut menunjukkan bahwa potensi sumberdaya air permukaan masih belum mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan air di DAS Bodri hingga tahun 2040. Abstract Water resources play an important role in meeting the needs of all living things, including humans. The Bodri watershed provides surface water supply through rivers on the watershed, which the local residents can use and utilize. Over time, the Bodri watershed underwent landuse change, which led to an increase in water demand, resulting in an imbalance between water demand and surface water availability. Calculation of the balance between demand and surface water availability is done by comparing the total water demand and the surface water availability. This study aims to determine the balance between future water demand and surface water availability in the Bodri watershed in 2040. The parameters used to determine total water demand consist of water needs of the following sectors; domestic, health facilities, educational facilities, religious facilities, offices, industry, shops and markets, food stalls, livestock, irrigation, and ponds. In the coming year, water demand is known through projections exponentially and permanently from the amount of data in the calculation of parameters. Water demand for domestic and non-domestic activities is estimated to reach 2.44 billion m3 in 2040. The water balance analysis results show that the status of the Bodri watershed water balance in 2010-2019 is deficient. The potential for surface water resources is still insufficient to meet the water needs in the Bodri watershed until 2040.
Perubahan Temperature Humidity Index (THI) di Pulau Jawa sejak 1981 hingga 2019
Abstrak Pulau Jawa mengalami peningkatan jumlah penduduk dari waktu ke waktu. Peningkatan ini berdampak pada tingginya aktivitas antropogenik yang menghasilkan emisi yang diantaranya dapat menyebabkan perubahan suhu udara. Suhu udara sangat berkaitan dengan thermal stress yang mempengaruhi kenyamanan bahkan kesehatan manusia. Thermal stress dapat diukur dengan Temperature Humidity Index (THI) dengan suhu udara rata-rata permukaan dan Relative Humidity (RH) sebagai variabel bebas. Penelitian ini menganalisis sejauh mana perubahan suhu udara permukaan, RH dan THI terhadap waktu. Kemudian daerah dengan perubahan THI yang paling besar akan dianalisis keterkaitannya jumlah penduduk menggunakan korelasi Pearson. Berdasarkan hasil penelitian diketahui terjadi perubahan suhu udara udara permukaan sebesar -0.27 hingga 1.17⁰C diikuti perubahan RH sebesar -2.21% hingga 0.77% dan terjadi perubahan THI hingga 0,72⁰C sejak 1981 hingga 2019 terutama di pesisir utara bagian barat Pulau Jawa. Selain itu, THI di sekitar DKI Jakarta juga memiliki nilai korelasi simultan yang tinggi dengan jumlah penduduk sebesar 0,81, korelasi lag 1 tahun sebesar 0,69, sementara korelasi lag 2 tahun sebesar 0,67. Temuan ini mengindikasikan peningkatan jumlah penduduk berdampak terhadap peningkatan THI pada DKI Jakarta. Abstract Java has experienced an increase in population from time to time. This increase has an impact on high anthropogenic activity which results in emissions, which can cause changes in air temperature. Air temperature is closely related to thermal stress which affects comfort and even human health. Thermal stress can be measured by the Temperature Humidity Index (THI) with the average surface air temperature and Relative Humidity (RH) as the independent variable. This study analyzes the extent of changes in surface air temperature, RH and THI with time. Then the areas with the greatest THI changes will be analyzed for their correlation using the Pearson correlation. Based on the research results, it is found that there has been a change in surface air temperature of -0.27 to 1.17⁰C followed by changes in RH from -2.21% to 0.77% and there has been a change in THI to 0.72⁰C from 1981 to 2019, especially on the north coast of the western part of Java. In addition, THI around DKI Jakarta also has a high simultaneous correlation value with a population of 0.81, a 1-year lag correlation of 0.69, while a 2-year lag correlation of 0.67. These findings indicate an increase in population has an impact on increasing THI in DKI Jakarta.
Prediksi spasio temporal rob berbasis model LISFLOOD FP di Pesisir Jakarta.
Abstrak Jakarta khususnya daerah pesisir sangat rentan dengan adanya permasalahan lingkungan berupa rob. Pemetaan daerah yang berpotensi terdampak rob sangat diperlukan guna menyusun upaya mitigasi. Pada penelitian ini dilakukan prediksi tinggi muka laut dengan model Delft3D dan digunakan untuk memprediksi daerah tergenang rob menggunakan model LISFLOOD FP pada tanggal 18 – 20 November 2019 di pesisir Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prediksi tinggi muka laut memiliki akurasi yang baik, dengan koefisien korelasi pada tingkat kuat sebesar 0,93 dan nilai RMSE sebesar 0,13 meter. Sementara itu, prediksi rob model LISFLOOD FP menunjukkan luas maksimum yang terjadi 2 hingga 3 jam setelah fase puncak tinggi muka laut dan menggenangi 8 kecamatan di Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Abstract Jakarta region especially the coastal areas are very vulnerable to environmental problems such as coastal inundation. Mapping of areas potentially affected by coastal inundation is needed to arrange mitigation efforts. In this study, sea level prediction was estimated using the Delft3D model and used to predict coastal inundation areas using the LISFLOOD FP model on 18-20 November 2019 on the coast of Jakarta. The results showed that the sea-level prediction model has good accuracy, with a correlation coefficient at a strong level of 0.92 and an RMSE error value of 0.13 meters. Meanwhile, coastal inundation prediction from the LISFLOOD FP model inundated 8 sub-districts in North Jakarta and West Jakarta and showed the maximum area in 2 to 3 hours after the peak phase of sea level.