Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
    419 research outputs found

    KAJIAN METEOROLOGIS HUBUNGAN ANTARA HUJAN HARLAN DAN UNSUR-UNSUR CUACA STUDI KASUS DI STASIUN METEOROLOGI ADISUCIPTO YOGYAKARTA

    No full text
    ABSTRAKHujan merupakan salah satu unsur cuaca yang sangat penting. Dalam proses kejadiannya, hujan dipengaruhi oleh unsur cuaca yang lain, yaitu suhu, kelembaban, dan tekanan udara. Penelitian ini merupakan kajian awal tentang hubungan hujan dengan ketiga unsur cuaca tersebut. Pengkajian difokuskan pada hubungan antara hujan dengan kondisi cuaca pada hart yang sama (t=T), saiu hart sebelumnya (t=T-1), sampai tiga hart sebelumnya (t=T-3), dengan melihat koefisien korelasi dan koefisien regresi dalam hubungan multi-regresi. Multi-regresi dilakukan untuk menganalisis hubungan hujan harian dengan berbagai variabel, yaitu:1. hujan vs suhu (r413.00) kelembabano4,100) + tekanan udara;2. hujan vs suhufr..m4 + kelembaban tekanan udara;3. hujan vs suhu (maw kelembaban wzoo) + tekanan udara;4. hujan vs suhu ro a rna + kelembaban + tekanan udara;Hasil yang didapat menunjukkan bahwa: (1) hujan harian memiliki hubungan yang erat dengan unsur cuaca lain pada hart yang sama, maupun beberapa hart sebelumnya. Hal ini ditunjukkan oleh koefisien korelasi pada berbagai model sebesar 0,188 hingga 0,489 yang signifikan pada tingkat 0,01; (2) pada musim hujan, yang paling erat hubungannya dengan hujan adalah kelembaban. Pada musim ketnarau, yang paling erat hubungannya adalah tekanan udara, dan musim peralihan yang berpengaruh adalah kelembaban dan tekanan udara. Pada semua musim, unsur suhu tidak menunjukkan korelasi yang signifikan

    PENDEKATAN SEL SEDIMEN MENGGUNAICAN CITRA PENGINDERAAN JAUH SEBAGAI DASAR PENATAAN RUANG WILAYAH PESISIR (STUDI KASUS DI PESISIR UTARA PROPINSI JAWA TENGAH)

    No full text
    ABSTRAK Wilayah pesisir adalah wilayah peralihan antara darat dan taut. Terdapat banyak sekali amberdaya alam yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, sehiagga perkernbangan wilayah pesisir emakin pesat dan kondisi ini menyebabkan konflik antara berbagai kepentingan manusia di ,ilayah tersebut. Diperlukan pengaturan ruang di wilayah pesisir untuk mengatasi konflik antar epentingan tersebut dengan menggunakan suatu pendekatan yang mempertimbangkan hubungan etiap sumberdaya dalam ekosistem wilayah pesisir dan dengan tetap memperhatikan ekosistem ersebut secara menyeluruh. Pendekatan tersebut adalah pendekatan set sedimen (sediment cell). iel sedimen adalah satuan panjang pantai yang mempunyai keseragaman kondisi fisik dengan carakieristik dinamika sedimen detain wilayah pergerakannya tidak mengganggu keseimbangan iondisi pantai yang berdekatan. Pendekatan set sedimen untuk perencanaan tats ruang pada winsipnya adalah bahwa satu unit pengelolaan adalah panjang pantai dengan karakteristik tertentu yang berkaitan dengan proses alami dan penggunaan lahan pesisir. Tujuan dart penelitian ini edalah menentukan batas set sedimen di wilayah pesisir utara Propinsi Jawa Tengah sebagai dasar penataan ruang pesisir di wilayah tersebut. Metode yang digunakan untuk menentukan sel sedimen adalah dengan interpretasi citra Landsat ETM+ tahun 2002 dan pengukuran lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di wilayah pesisir utara Propinsi Jawa Tengah terdapat 6 sel sedimen, dimana dap sel sedimen tersebut mempunyai keseragaman kondisifisik dengan karalaeristik dinamika sedimen yang berbeda dengan sedimen set lainnya. Sel sedimen-sel sedimen tersebut meliputi : Sel sedimen 1 yang dimulai dari Muara Sungai Cisanggarung sampai sebelah timur Muara Sungai Pemali, Sel sedimen 2 yang dimulai dart sebelah Timur Sungai Pemali sampai Muara Sungai Bodri, Sel sedimen 3 yang dimulai dart Muara sungai Bodri sampai Muara Sungai Wulan, Sel Sedimen 4 yang dimulai dan muara Sungai Wulan sampai pesisir utara Kabupaten Jepara, Set sedimen 5 yang dimulai dart pesisir utara Kabupaten Pea sampai Muara Sungai Kalioso Rembang, dan Sel sedimen 6 yang dimulai dart muara Sungai Kalioso sampai pesisir utara Kabupaten Rembang, Tap-flap sel sedimen dapat digunakan sebagai dasar pengaturan peruntukan ruang kegiatan pembangunan dengan memperhatikan perilaku sedimen dengan menvusun matrik keserasian kegiatan pembangunan di wilayah pesisir

    PENGELOLAAN USAHA JASA PARIWISATA BERBASIS PENGEMBANGAN MASYARAKAT PADA KAWASAN UBUD BALI

    Get PDF
    ABSTRAK Yang penting untuk belajar tentang pembangunan berbasis masyarakat untuk menerima inovasi baru tentang keberlanjutan pengembangan ramah lingkungan berorientasi oleh beberapa rumah tinggal manajer Ubud di Bali adalah pengetahuan, pemahaman, dan tindakan nyata mereka. Analisis deskriptif sikap dan perilaku individu yang digunakan untuk penelitian ini, benar-benar dapat menunjukkan tentang proses pengembangan sistem berbasis masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara kebijakan dan pelaksanaan pembangunan berbasis masyarakat dalam konsisten. Sebuah bagian dari peserta masyarakat cenderung untuk menyatakan bahwa mereka tidak memahami dan tidak perlu menerapkan kebijakan pemerintah. Dalam aksi nyata mereka dengan sadar mereka Namun, bagian dari mereka benar-benar telah melaksanakan banyak bagian dari makna kebijakan ramah lingkungan. Karena itu, untuk memahami proses tujuan pembangunan perlu tindakan pengendalian dan evaluasi. Dalam rangka untuk mendistribusikan inovasi, kebijakan, dan berkelanjutan program yang diterapkan oleh proses pembangunan masyarakat ba¬sed, dapat dibentuk oleh pelatihan dari p latih (TOT) pada kelompok sasaran masyarakat.ABSTRACT The important thing to study on community based development for accepting new innovation about development sustainability of eco-friendly oriented by several Ubud home stay managers in Bali are knowledge, understanding, and their real actions. Descriptive analysis of individual attitude and behavior is employed for this research, can really indicate about the processes of community based development system. Result of this research indicates that between policy and implementation of the community based development are in consistent. A part of the community participants tend to state that they aren’t understanding and no need implementing of the government policy. In their real actions with their unconscious however, the part of them actually have carried out the lot of part of the eco-friendly policy meaning. Because of that, in order to grasp of the aim process of development need controlling and evaluation actions. In order to distribute innovation, policy, and sustainable of applied program by community based development process, could be established by training of trainer (TOT) on the community target group

    Analisis Gerakan Massa untuk Evaluasi Kerusakan Saluran Induk Kalibawang Kabupaten Kulonprogo

    Get PDF
    ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk menganalisis karakteristik gerakan massa pada setiap bentuk lahan di Saluran Induk Kalibawang, terutama pada jenis, properti, jumlah dan distribusi spasial berdasarkan aspek morfologi dan morfogenesis, 2) untuk menganalisis faktor penyebab dan faktor pemicu untuk setiap gerakan massa di Saluran Induk Kalibawang, 3) untuk mengevaluasi jenis kerusakan di Saluran Induk Kalibawang untuk setiap gerakan massa berdasarkan morphoarrangement. Penelitian ini menggunakan metode survei ini sedangkan tipe bentuk lahan yang digunakan untuk menentukan sampel. Analisis kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk analisis data. Kedua aspek morfologi dan morfogenesis digunakan untuk akuisisi data. Data morfologi terdiri dari stepness lereng, bentuk lereng, dan kembali kelas lief (topografi). Data morfogenesis terdiri dari tekstur tanah, solum tanah, drainase tanah, indeks cole, pelapukan batuan, stratigrafi batuan, sendi pada batuan dasar, rembesan, penggunaan lahan dan pengelolaan lahan. Akhirnya, morphoarragement yang digunakan untuk menganalisis saluran distribusi kerusakan. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada empat jenis dari geneses dari bentang alam, yaitu bentuk lahan denudasional, bentuk lahan solutif, bentuk lahan struktural dan bentuk lahan fluvial. Jenis-jenis gerakan massa di daerah penelitian adalah geser rotasi, slide translasi, creep dan jatuh. Ada 18 peristiwa slide rotasi dan 4 peristiwa slide translasi dalam bentuk lahan denud ational dengan pola tersebar. Ada 9 peristiwa merinding dalam bentuk lahan struktural dengan pola tersebar. Akumulasi bahan dari jenis slide rotasi dapat menghancurkan saluran dinding, dan ditemukan 6 peristiwa kerusakan dalam bentuk lahan denudasional. Merinding menyebabkan retakan pada saluran dinding, di mana ia ditemukan 9 peristiwa retak dalam bentuk lahan struktural. Bahan berkualitas tinggi dan perbaikan intensif kerusakan melibatkan partisipasi masyarakat dapat mencegah kerusakan pada Saluran Induk Kalibawang. ABSTRACT The aims of this research are  1) to analyze mass movement characteristics on each landform in Saluran Induk Kalibawang, especially on its type, property, amount and spatial distribution based on morphology and morphogenesis aspects, 2) to analyze the causal factor and the triggering factor for every mass movement in Saluran Induk Kalibawang, 3) to evaluate type of damage in Saluran Induk Kalibawang for every mass movement based on morphoarrangement. This  study  used  survey  method  while  the  landform  type  is  used  to determine the samples. The qualitative and quantitative analyses are used for data analysis.  Both  morphological  and  morphogenesis  aspects  are  used  for  data acquisition. Morphology data consist of slope stepness, slope form, and re lief class (topography). Morphogenesis data consist of soil textures, soil solum, soil drainage, cole index, rock weathering, rock stratigraphy, the joints on the bedrock, the seepage, the land use and  land management. Finally, the morphoarragement is used to analyze damage channel distribution. This research shows that there are four types of the geneses of landforms, i.e. the denudational landform, the solutional  landform, the structural landform and the fluvial landform. The types of mass movements in the research area are rotational  slide,  translational  slide,  creep  and  fall. There  are  18  events  of rotational slides and 4 events of translational slides within denud ational landform with dispersed pattern. There are 9 events of creeps within structural landform with dispersed pattern. The material accumulation of the type rotational slides can destroy wall channel, and it is found 6 events of damage within the denudational landform. Creeps cause cracks on wall channel, where it is found 9 events of cracking  within  structural  landform. High  quality  material  and  the  intensive repair of damages involving the community participation can prevent damages on Saluran Induk Kalibawang

    Kajian Potensi Air Rawa dan Kearifan Lokal sebagai Dasar Pengelolaan Air Rawa Yomoth sebagai Sumber Air Bersih di Distrik Agats Kabupaten Asmat Provinsi Papua

    Get PDF
    ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji kebutuhan air bersih penduduk dan sumber- sumber air bersih di daerah penelitian, (2) mengkaji karasteristik potensi air rawa Yomoth sebagai sumber air bersih dan (3) menyusun kerangka dasar pengelolaan air rawa Yomoth sebagai sumber air bersih yang berbasis kearifan lokal. Metode penelian adalah survey, dengan data diperoleh dan wawancara terhadap koresponden yang di tentukan secara purposive sampling. Data di analisis secara deskriptip kuantitatif untuk mendapatkan gambaran tentang jumlah angka dan pembahasan objek kesimpulan secara keruangan (spasial).Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kebutuhan air bersih di Kota Agats Kabupaten Asmat berdasarkan sampel 30 KK yang diperoleh adalah sebesar rata-rata 60 ltr3/hari maka total kebutuhan air 92.46 ltr3/hari dengan jumlah penduduk Kota Agats 1541 orang. Maka kebutuhan air bersih pada 5 tahun mendatang adalah 14736 ltr dengan tingkat penduduk 1615 orang, pada 10 tahun mendatang adalah 31171 ltr dengan tingkat penduduk 1708 orang, pada 15 tahun mendatang adalah 49411 ltrdengan tingkat penduduk 1805 orang, pada 20 tahun mendatang adalah 69058 ltr dengan tinkat penduduk 1892 orang dan pada 25 tahun medatang adalah 88147 ltr dengan tingkat penduduk 1932 orang. (2) Air rawa Yomoth sebagai sumber air bersih mempunyai kapasitas daya dukung 2.302.140 m dengan kualitas baik untuk dikelola sebagai sumber cadangan air bersih, walaupun terdapat pembatas berupa sifat fisik air rawa, kandungan unsur kimia dan biologisnya.(3) Upaya pengelolaan air rawa Yomoth dilakukan dengan cara perlindungan, penyelamatan dan pelestarian terhadap hutan dan sumberdaya air rawa, dengan melakukan tindakan perlindungan kearifan lokal dan peraturan daerah sebagai suatu dasar hukum dalam pengambilan kebijakan dan keputusan. Mengingat secara arif telah melalui perlindungan dan pengelolaan air rawa Yomoth dengan cara selalu di hindari dari pencemaran dan pengerusakan sehingga dapat di manfaatka secara bersama-sama. Pemilik dusun dan hak ulayat orang suku Asmat kampung Yepem dan pemerintah kampung Yepem dan masyarakat adat tidak mengijinkan orang dari luar kampong masuk ke dalam dusun, hutan dan rawa mereka untuk mengambil hasil dan mengeksplorasi sumberdaya alam yang ada di tempat mereka.ABSTRACT The goals of this research were to (1) investigate need of population clean water and clean water sources in research area; (2) investigate characteristics of swamp water potential of Yomoth as clean water sources; and (3) arrange basic framework of swamp water management of Yomoth as clean water sources based on local wisdom. Method of research was survey, where data were collected and interview with respondents was conducted by purposive sampling. The data were analyzed descriptively- quantitatively to gain illustration on amount of numbers and conclusion objects were discussed spatially. Results of research indicated that (1) need of clean water in City of Agats, Regency of Asmat based on obtainable samples of 30 households were average 60 lt/day, total need of water of 92.46 lt/day with total population of Agats City of 1541 persons. So, need of clean water in future 5 years would be 14736 lt3 with population rate of 1615 persons; in future 10 years, it would be 31171 lt3 with population rate of 1708 persons; in future 15 years, it would be 49411 lt3 with population rate of 1805 persons; in future 20 years, it would be 69058 lt3 with population rate of 1892 persons; and in future 25 years, it would be 88147 lt3 with population rate of 1932 persons. (2) swamp water of Yomoth as clean water source had supportive force capacity of 2,302,140 m3 with good capacity to manage as clean water reserve source, although there were limits, physical characteristic of swamp water, chemical and biological element contents. (3) Effort of Yomoth swamp water management was made by protection, saving, and preservation of forest and swamp water resources, taking action of local wisdom protection and local law as legal basis in policy and decision making. It was considered that the swamp water of Yomoth was managed and protected wisely by continuously avoiding pollution and damage as to be used together. Village owner and community rights of Asmat ethnic persons of Yepem village and the government of Yepem village and traditional society did not allow persons outside village to enter the village, their forest and swamp to take products and explore natural resources existing in their location. Tujuanpenelitianiniadalah (1) mengkajikebutuhanairbersihpenduduk dansumber- sumber air bersih di daerah penelitian, (2) mengkaji  karasteristik  potensi  air  rawa Yomoth sebagaisumberairbersihdan(3)menyusun  kerangkadasarpengelolaan airrawaYomoth sebagaisumberair bersihyangberbasiskearifanlokal. Metode penelian adalah survey, dengan data diperoleh dan wawancara terhadap koresponden  yangditentukan  secarapurposive  sampling.  Datadianalisis  secara  deskriptip kuantitatif untuk mendapatkan gambaran tentang jumlah angka dan   pembahasan  objek kesimpulansecarakeruangan(spasial).Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa:(1)KebutuhanairbersihdiKotaAgatsKabupaten Asmatberdasarkansampel30KKyangdiperolehadalahsebesarrata-rata60ltr/harimakatotal kebutuhanair92.46ltr3/haridenganjumlah pendudukKotaAgats1541orang.Makakebutuhan airbersihpada5tahunmendatangadalah14736ltr3dengantingkatpenduduk1615orang,pada 10tahunmendatang  adalah31171ltr3  dengantingkatpenduduk1708orang,pada15tahun mendatangadalah49411ltr3  dengantingkatpenduduk1805orang,pada20tahunmendatang adalah69058ltr3dengantinkatpenduduk1892orangdanpada25tahunmedatangadalah88147 ltr3   dengan  tingkat  penduduk  1932  orang.  (2)  Air  rawa  Yomoth  sebagai  sumber  air  bersih mempunyaikapasitasdayadukung2.302.140m3 dengankualitasbaikuntukdikelolasebagai sumbercadanganairbersih,walaupunterdapatpembatasberupasifatfisikairrawa,kandungan unsurkimiadanbiologisnya.(3)UpayapengelolaanairrawaYomothdilakukandengancara perlindungan,penyelamatandanpelestarianterhadaphutandansumberdayaairrawa,dengan melakukan  tindakan  perlindungan  kearifan  lokal  dan  peraturan  daerah  sebagai  suatu  dasar hukum dalam pengambilan kebijakan dan keputusan.Mengingat secara ariftelah  melalu

    Perilaku Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Anorganik di Kecamatan Abepura Kota Jayapura

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Abepura Kota Jayapura Provinsi Papua. Pengelolaan sampah anorganik yang dilakukan di wilayah ini digali melalui kajian perilaku masyarakat. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk 1) mengkaji karakteristik sosial-ekonomi masyarakat di daerah penelitian; 2) mengakaji perilaku masyarakat Kecamatan Abepura dalam pengelolaan sampah anorganik; 3) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat guna mewujudkan Kota Jayapura yang BERIMAN.  Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sosial-ekonomi masyarakat yang meliputi pendidikan formal  responden 90% sangat tinggi (SLTA-Sarjana), 62,7% profesi responden (PNS/wiraswata), jumlah anggota keluarga (4-5 orang) cukup besar. Pendapatan responden (3.000.000-4.000.000) cukup besar, jumlah penduduk non Papua cukup tinggi 60%. Perilaku dominan masyarakat dalam pengelolaan sampah anorganik menunjukan dominan sedang (95%). Perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah anorganik menunjukkan gejala apatisme terhadap lingkungan dan ikut menunjang program pemerintah menjadikan Kota Jayapura yang BERIMAN. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sedang dalam pengelolaan sampah anorganik secara signifikan terpengaruh kuat adalah pengetahuan terhadap perilaku masyarakat karena kurangnya sosialisasi pemerintah kepada masyarakat terkait UU No 18 Tahun 2008 dan PERDA Jayapura Kota BERIMAN dan pengelolaan sampah, serta faktor lingkungan budaya (suku bangsa/adat istiadat) masyarakat yang meliputi adanya kurang kepedulian terhadap kondisi lingkungan Kota Jayapura baik dari suku asli Papua dan non Papua dalam perilaku pengelolaan sampah anorganik. Sedangkan jumlah anggota keluarga, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, pendapatan menunjukkan arah hubungan negatif dengan sifat korelasi lemah terhadap perilaku pengelolaan sampah anorganik.     ABSTRACT This research was conducted in AbepuraSubdistrict, Jayapura City, Papua Province. The inorganic waste management in this area is explored through studying people’s behavior. The research objectives are to: 1) study the social-economic characteristics of the community in the research area; 2) study the public behavior of AbepuraSubdistrict in the inorganic waste management; 3) find out the factors that affect public behavior to actualize the BERIMANprogram in Jayapura City. Research result shows that the social-economic characteristics of people in the area, including the education level, 90% of the respondents have education level of High School and Undergraduate study, 62,7% of respondent are Civil worker or entrepreneur, large number of family member (4-5 person).Respondent’s income of 3.000.000-4.000.000 is high enough, value 60% of non-Papua residents in the area. The dominant behavior of public in an inorganic waste management shows a medium dominant level of 95%. Public behavior in an inorganic waste management shows a phenomenon of apathy towards environment and also supports the Jayapuragovernment program to actualize a BERIMAN city. Significant factors affecting the medium level behavior in an inorganic waste management are the knowledge of public behavior because the lack of government socialization to the public concerning the UU No 18 Tahun 2008and PERDA Jayapura Kota BERIMANand waste management, there is also socio-cultural environment factor (ethnic/customs) which involves the lack of concern towards Jayapura City environmental condition, either from the Native Papua and non-Papua ethnic in the behavior of inorganic waste management.While the amount of family members, type of work, education level, and income shows a negative relation with a weak correlation towards the behavior of inorganic waste management.

    Kajian Daya Tampung Beban Pencemaran Sungai Batanghari Pada Penggal Gasiang – Sungai Langkok Sumatera Barat

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi sumber-sumber pencemar, mengetahui sebaran kandungan BOD (Biochemical Oxygen Demond), COD (Chemical Oxygen Demand) dan TSS (Total Suspended Solid), menghitung beban pencemaran dan daya tampung beban pencemaran sungai serta menguji reliabilitas penggunaan model untuk menghitung beban pencemaran dan daya tampung beban pencemaran. Metode QUAL2Kw digunakan dalam proses pemodelan dimana sungai utama dibagi dalam delapan penggal (reach) dengan Gasiang (kilometer ke-157) sebagai headwater dan Sungailangkok sebagai batas terhilir (kilometer ke-0). Sampel air sungai diambil di tiga belas titik, delapan di sungai utama dan lima di anak sungai. Pemodelan menggunakan data kualitas air sumber pencemar sebagai input dan data kualitas air sungai utama sebagai pembanding. Berdasarkan hasil penelitian, total beban pencemaran BOD, COD dan TSS berturut-turut sebesar 14,463; 43,363; 14,658 Ton/jam dengan daya tampung beban pencemaran berturut-turut sebesar 22,956; 108,6; 33,2 Ton/jam. Walaupun secara total daya tampung beban pencemaran belum terlampaui, namun jika ditinjau berdasarkan penggal-penggal sungai (reach), kelebihan beban pencemaran BOD telah terjadi di Sungai Pangian sebesar 0,16 Ton/jam, beban pencemaran COD pada kilometer 140 – 139 sebesar 14,58 Ton/jam dan beban pencemaran TSS pada kilometer 156 – 141 sebesar 61,2 Ton/jam. Uji reliabilitas dengan relative bias dan mean relative error menunjukkan bahwa pemodelan dengan metode QUAL2Kw dapat diterima penggunaannya di daerah penelitian, namun uji korelasi pada grafik pencar menunjukkan model hanya berlaku pada satu set data pemantauan saja. Hasil pemodelan hanya mewakili daya tampung beban pencemaran sesaat.    ABSTRACT The objectives of this study are to identify the pollutant sources location; to acknowledge the distribution of BOD (Biochemical Oxygen Desmond), COD (Chemical Oxygen Demand) and TSS (Total Suspended Solid) concentrations; to calculate the pollution load and pollution load carrying capacity of the river as well as to examine the model reliability to calculate the pollution load and the pollution load carrying capacity. The applied QUAL2Kw methods during the modeling process brought in the main river, is divided into eight reach with Gasiang (km 157) as the headwater and Sungailangkok as the downstream boundary (km 0). The water samples are selected at thirteen points with eight of them located at the main river and the remain five at the tributaries. The modeling was brought the water quality data on pollutant sources as input and the main river water quality data as a comparison. Based on the results of the study, the total pollution load of BOD, COD and TSS are respectively for 14.463; 43.363; 14.658 Tons/hour with pollution load carrying capacity respectively for 22.956; 108.6; 33.2 Tons/hour. Although the total pollution load carrying capacity has not been exceeded, nevertheless if the review is based on reach, an excessing of BOD pollution load has occurred in the Pangian River for 0.16 Tons/hour, COD pollution load for 14.58 Tons/hour at km 140-139 and TSS pollution load for 61.2 Tons/hour at km 156-141. The reliability test with a relative bias and relative mean errors indicate that modeling with QUAL2Kw is acceptable to be applied in the research area, though the correlation test on the scatter graph shows the models is merely valid on a set of monitoring data. However, the modeling results are restricted to represent the pollution load carrying capacity of the river momentarily. 

    DESA ADAT TENGANAN PEGRINGSINGAN DALAM PENGELOLAAN HUTAN DI DESA TENGANAN, KECAMATAN MANGGIS, KARANGASEM, BALI

    Get PDF
    ABSTRAK Bagi masyarakat adat di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, keberadaan sebuah kearifan lokal yang berupa aturan adat atau “awig-awig” memiliki peranan yang begitu besar dalam melakukan pengelolaan hutan setempat. Hal ini terbukti dengan masih terjaganya kelestarian hutan hingga saat ini. Masalah yang muncul adalah bahwa eksistensi “awig-awig” yang telah diwariskan sejak abad ke-11 tidak hanya ditentukan oleh adanya pengakuan dari masyarakat adatnya sendiri namun juga oleh faktor-faktor internal dan eksternal yang melingkupi “awig-awig” dalam melaksanakan fungsinya.Tujuan penelitian adalah mengkaji sejauhmana efektivitas pelaksanaan kearifan lokal serta faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat efektivitas pelaksanaannya dalam pengelolaan hutan di wilayah penelitian. Lebih lanjut penelitian bertujuan menemukan konsep persepsi masyarakat terhadap efektivitas kearifan lokal. Konsep tersebut menjadi dasar dalam menyusun strategi pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal.Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan metode pengumpulan data sebagian besar dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi, disamping interpretasi data sekunder sebagai pelengkap. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data secara induktif dengan metode kategorisasi. Pemeriksaan derajat kepercayaan data menggunakan teknik triangulasi sumber.Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas pelaksanaan kearifan lokal dalam prakteknya secara umum masih berjalan cukup efektif meskipun substansi tiap-tiap pasal memiliki kelemahan masing-masing. Ketaatan masyarakat adat mematuhi aturan masih cukup tinggi dan pelanggaran yang terjadi tidak berpengaruh signifikan terhadap kondisi hutan. Persepsi masyarakat menghasilkan hubungan interelasi antar tiap konsep yang terdiri dari fleksibilitas “awig-awig”, mekanisme pelaksanaan “awig-awig”, partisipasi masyarakat, dan keberlangsungan fungsi hutan. Faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi tingkat efektivitas pelaksanaan kearifan lokal menghasilkan empat kriteria efektivitas yaitu substansi “awig-awig”, pola pengelolaan hutan, pelaku yang terlibat, dan mekanisme pelaksanaan “awig-awig”. Penyusunan strategi pengelolaan hutan yang berbasis pada kearifan lokal ditujukan untuk membenahi sistem pengelolaan tradisional sehingga dapat membantu masyarakat adat dalam melakukan pengelolaan hutan secara lebih efektif. ABSTRACT For the customary community at the customary village of Tenganan Pegringsingan, the existence of local wisdom in form of customary law or “awig-awig” is playing an important role in local forest management. It’s been proved by a well-maintained forest condition which has successfully preserved until these days. Problems are arise when the existence of “awig-awig” which was inherited since 11th century is not only determine by an acknowledgement from the customary community itself but also by some internal and external factors surround “awig-awig” in doing its functions.The aims of this research are to study how far the effectiveness of local wisdom has been carried out as well as several factors which had an effect on the level of effectiveness of local wisdom implementation in forest management over a site. Further, the aim is to discover some concepts of community perception toward the effectiveness of local wisdom. Those concepts become a basis to develop a local wisdom-based forest management strategy.This research was used a qualitative method with data collection mostly through in-depth interview and observation, in addition to secondary data interpretation as a complement.  Samples were selected using a purposive sampling technique. Data were analyzed inductively using a categorization method. Review of data credibility or data trustworthiness using a triangulation-source technique.The result of this research shows that the effectiveness of local wisdom implementation in general is still going fairly effective although the substance of each clause has its own weaknesses. The devotion of customary community to the customary law is still fairly high and the violation of the law has not signified affected the forest condition. The community perception is resulting four concepts of perception which interrelate one another. Those concepts are “awig-awig” flexibility, “awig-awig” implementation mechanism, community participation, and the sustainability of forest functions. All internal and external factors that had an effect on the level of effectiveness of local wisdom implementation were resulting four effectiveness criteria which are “awig-awig” substance, forest management method, people involved, and “awig-awig” implementation mechanism. The development of forest management strategies based on the existing local wisdom are addressed to improve the traditional management system in order to assist the customary community to carry out all tasks related to forest management effectively

    Dampak Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Tingkat Kekritisan Air Sub-DAS Citarum Hulu

    No full text
    ABSTRAK Sehubungan dengan pertumbuhan penduduk yang membutuhkan ruang untuk hidup telah mengubah pola penggunaan tanah khususnya di DAS Citarum Hulu yang juga merupakan salah satu DAS kritis di Indonesia. Perubahan penggunaan tanah tersebut akan berakibat pada berkurangnya sumberdaya air sehingga menjadikan tingkat kekritisan air semakin tinggi. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi peta jaringan sungai, peta penggunaan lahan yang diperoleh dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), data curah hujandan suhu Tahun 1975-2005, peta tanah, peta kemiringan lereng, tutupan vegetasi dan data kebutuhan air primer. Melalui metode GIS yang dipadukan pendekatan hidrologis telah menghasilkan wilayah-wilayah sub DAS yang mengalami kekurangan air dalam hal ini kekritisan air.ABSTRACT The population growth and the need for living space have changeq the patterns of land use especially in Upper Sub Citarum Watershed as one of the critical watersheds in Indonesia. The changes in land use will result in the reduction of water resources and make the higher level of water criticality. Data used in this research including river network map, landuse map obtained from Indonesian National Land Agency (BPN), precipitation and temperature data of 1975-2005, soil map, slope map, vegetation cover and primary water demand data. The critical level of watershed is deterimined based on the comparison of primary water demand and water availability in Upper Citarum Sub Watershed. Through GIS method combined with hydrological approach, the areas of sub watershed experiencing water shortage, in this case is water critical level can be determined. The combination of GIS method and a hydrological approach has resulted in sub-catchment areas experiencing water shortages in this case the critical water level

    Kajian Tingkat Pelapukan Batuan Menurut Toposekuen Di Daerah Aliran Sungai Tangsi Kabupaten Magelang

    No full text
    Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah a). mengetahui tingkat pelapukan batuan pada fiap bagian lereng pada toposekuen, dan b). mempelajari pengaruh toposekuen dalam mengontrol proses pelapukan di DAS Tangsi. Penelitian ini mengambil cuplikan batuan dan bahan lapukan (regolith) pada setiap bagian lereng mengikuli toposekuen. Cuplikan tersebut dianalisis di laboratorium yang meliputi; a). analisis granulometri, b). analisis volumetri, c). analisis mineral optik dan analisis difralcsi sinar X. Terdapat tujuh lokasi cuplikan yang dianalisis, yaitu puncak lereng atas; lereng- tengah, lereng bawah, dan dataran kaki- perbukitan dinudasional lereng Gunungapi Sumbing; serta lereng atas dan lereng bawah: perbukitan struktural Menoreh. Hasil penelitian menunjukkan bahrva batuan di daerah penelittan, baik di toposekuen perbukitan denudasional lereng Gunungapi Sumbing don lereng perbulatan struktural menoreh. didonsinasl deb breksi andesitig curah Julian rerata tahunan 3.416 mm, dan rerata temperature 22° C– 24,8° C. Tingkat pelapukan-batuan pada tiap bagian lereng pada toposekuen perbukitan denudasional gunungapi Sumbing;dan- perIndltan struktural Menoreh, tidak.menunjukkan kecenderungan berbedaan, bahkan cenderung sama. Tingkat pelapukan batuan belum lanjut, rlitandai dengan terbentuknya4entpung jenis haloisit atau kaolinit yang belum mengkristal sempurna. Berat volume bahan lapukan berkisar antara 0,795 hingga 1,287, tekstur lapukan gelith berdebu hingga geluh berlempung, persentase lempung 10,93% hingga 46,97%. Tingkat pelapukan batuan di flap bagian lereng di daerah penelitian tidak menunjukkan kecenderungan semakin lapuk

    189

    full texts

    419

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Geografi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇