Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
    419 research outputs found

    Potensi Wisata dan Preferensi Visual Lanskap Wisatawan untuk Pengembangan Pariwisata Pesisir (Kasus : Pantai Angin Mamiri dan Tanjung Bayang Kota Makassar)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis potensi dan kondisi sumberdaya untuk kesesuaian dan daya dukung kawasan wisata pesisir, (2) menganalisis kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir kawasan wisata, (3) menganalisis preferensi visual lanskap wisatawan terhadap estetika kawasan wisata dan (4) menyusun strategi pengembangan kawasan Pantai Angin Mamiri dan Tanjung Bayang Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan metode survei dan studi literatur untuk mengumpulkan data primer dan data sekunder. Teknik analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam analisis Indeks Kesesuaian Wisata, Daya Dukung Kawasan, Jejak Ekologis Wisatawan dan Estimasi Estetika Lanskap. Pendekatan kualitatif digunakan dalam analisis kondisi sosial ekonomi masyarakat dan analisis SWOT untuk menyusun strategi pengembangan kawasan wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks kesesuaian wisata pesisir pada Pantai Angin Mamiri termasuk kategori sangat sesuai (S1) dan Pantai Tanjung Bayang kategori sesuai (S2). Nilai daya dukung kawasan masih potensial dikembangkan. Jejak ekologis wisatawan menunjukkan nilai tertinggi pada komponen makanan, kemudian transportasi, akomodasi dan sampah. Tingkat pendidikan dan penghasilan masyarakat pelaku wisata masih rendah dan sebagian besar merupakan penduduk sekitar. Preferensi Visual Lanskap wisatawan menunjukkan nilai yang rendah hingga sedang pada lanskap dengan komponen non alami dan alami serta tinggi pada tutupan lahan dengan komponen alami. Rekomendasi strategi pengembangan obyek wisata yaitu pemanfaatan potensi sumberdaya alam dan lingkungan wisata secara optimal, dan mengoptimalkan kerjasama antara Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Tanjung Merdeka dan Pemerintah dalam pengelolaan limbah, peningkatan aksesibilitas serta pembangunan sarana prasarana wisata dengan tetap memperhatikan kelestarian dan kebersihan lingkungan pantai.

    Evaluasi Efektivitas Rencana Tata Ruang dalam Mengurangi Risiko Kekeringan di Kawasan Karst dengan Analisis Berbasis Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus : Rencana Tata Ruang Kawasan Koridor Yogyakarta-Sadeng)

    No full text
    Tujuan utama penataan ruang di Indonesia adalah untuk mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Implikasinya, semua rencana tata ruang di Indonesia harus dapat membawa masyarakat lebih aman dari bencana, yang berarti juga mengurangi risiko bencana. Rencana Tata Ruang Kawasan Koridor Yogyakarta-Sadeng adalah salah satu rencana tata ruang yang bertemakan pengembangan ekonomi. Dari temanya, rencana tersebut fokus pada tujuan produktivitas. Akan tetapi dari lokasinya, sebagian dari Kawasan KoridorYogyakarta-Sadeng merupakan kawasan karst yang sering terancam bencana kekeringan. Suatu kajian diperlukan untuk melihat apakah produk Rencana Tata Ruang Kawasan Koridor Yogyakarta-Sadeng juga telah memperhitungkan aspek keamanan dari bencana, khususnya bencana kekeringan. Penelitian dilakukan dengan membandingkan risiko bencana dari kondisi eksisting dengan risiko bencana yang muncul dari penerapan produk rencana. Metode yang dilakukan untuk menghitung risiko adalah dengan menghitung bahaya, kerentananm dan kapasitas baik pada kondisi eksisting maupun rencana. Penelitian ini juga melibatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai alat utama. Hasil yang didapatkan adalah, apabila rencana sepenuhnya dilaksanakan, 66% wilayah studi akan mengalami penurunan risiko kekeringan, sementara itu 34% sisanya akan mengalami kenaikan risiko. Wilayah yang mengalami peningkatan risiko umumnya terletak pada kawasan yang direncanakan untuk dikembangkan dan kawasan sekitarnya. Peningkatan risiko yang terjadi pada wilayah tersebut berasal dari peningkatan kerentanan yang muncul dari rencana pengembangan. Hal yang dapat dipelajari dari penelitian ini adalah bahwa semua produk rencana tata ruang seharusnya mengantisipasi setiap dampak yang muncul dari rencana, khususnya dampak yang meningkatkan risiko bencana

    Strategi Penghidupan Rumah Tangga di Kecamatan Patamuan Kabupaten Padang Pariaman Pasca Gempa Bumi Tahun 2009

    No full text
    ABSTRAK Penelitian strategi penghidupan rumah tangga Kecamatan Patamuan pasca gempa bumi Sumatera Barat ini dilatarbelakangi oleh perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat Kecamatan Patamuan pasca terjadinya gempa bumi. Gempa bumi Sumatera Barat tahun 2009 menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa serta kehancuran lingkungan fisik, termasuk rumah dan fasilitas umum yang berdampak pada kerugian sosial dan ekonomi yang menyebabkan masyarakat perlu mengatur strategi penghidupan untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang kerentanan rumah tangga pasca gempa bumi Sumatera Barat tahun 2009 serta menganalisis strategi penghidupan rumah tangga di Kecamatan Patamuan pasca gempa bumi Sumatera Barat tahun 2009. Metode penelitian yang digunakan untuk sampling adalah survey dan untuk analisisnya menggunakan metode kuantitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kerentanan rumah tangga terbesar disebabkan oleh pendapatan rendah sebanyak 61 rumah tangga (40,67%), kerusakan rumah sebanyak 32 rumah tangga (21,33%), pendapatan berkurang sebanyak 17 rumah tangga (11,33%), anggota rumah tangga meninggal sebanyak 4 rumah tangga (2,67%), kehilangan pekerjaan sebanyak 3 rumah tangga (2,00%), kegagalan panen dan kegagalan usaha masing-masing sebanyak 25 orang (16,67%) dan 8 orang (5,33%). Strategi bertahan hidup yang umumnya dilakukan rumah tangga di antaranya strategi survival dengan cara membeli beras berkualitas rendah sebanyak 50 rumah tangga (33,33%), membeli padi yang belum ditumbuk menjadi beras sebanyak 14 rumah tangga (9,33%), dan 25 rumah tangga (16,67%) berhutang. Selanjutnya strategi konsolidasi dengan cara menanam sendiri ketela dan sayur-sayuran untuk dikonsumsi sehari-hari sebanyak 29 rumah tangga (19,34%), menanam padi ladang sebanyak 18 rumah tangga (12%), berjualan kecil-kecilan sebanyak 6 rumah tangga (4%), serta strategi akumulasi dengan cara beternak ayam sebanyak 8 rumah tangga (5,33%). ABSTRACT The Research of household livelihood strategies of Patamuan District after West Sumatra earthquake is motivated by changes in socio-economic conditions of the District Patamuan due to the earthquake. West Sumatra earthquake in 2009 caused the loss of life and destruction of the physical environment including homes and public facilities that have an impact on social and economic losses caused people need to adjust livelihood strategies to maintain their live survival. This research aims to get an overview of the vulnerability of the household after the West Sumatra earthquake in 2009 and analyzing household livelihood strategies in Patamuan District of West Sumatra post earthquake in 2009. The research method used in this is to survey sampling using quantitative for analysis. The results of this study indicate that the largest household vulnerability caused by as many as 61 low-income households (40.67%), damage to house a total of 32 households (21.33%), revenues decreased by 17 households (11.33%), household member dies by 4 households (2.67%), loss of employment as much as 3 households (2.00%), crop failure and the failure of their respective businesses as many as 25 people (16.67%) and 8 (5.33%). Livelihood strategy is generally made them household is survival strategy by buying low-quality rice by 50 households (33.33%), buy paddy that has not been ground into rice a total of 14 households (9.33%), and 25 households (16.67 %) in debt. Further consolidation strategy alone by planting cassava and vegetables consumed daily for a total of 29 households (19.34%), plant rice fields a total of 18 households (12%), selling small as 6 households (4%), and accumulation strategies in how to raise chickens as much as 8 households (5.33%)

    Metode CTA dengan Teknik Data Mining Citra Landsat-8 untuk Klasifikasi Penggunaan Lahan

    No full text
    ABSTRAK Kajian mengenai metode non-parametrik Classification Tree Analysis (CTA) menggunakan teknik data mining untuk aplikasi penginderaan jauh masih belum banyak dilakukan. Sehingga diperlukan penelitian mengenai kemampuan CTA dalam menangani data yang cukup banyak, dengan memanfaatkan kelebihan CTA untuk aplikasi penginderaan jauh. Kombinasi parameter CTA dan data masukan, serta penerapannya pada dua skema klasifikasi yang berbeda tingkat kerinciannya, memerlukan pengujian terkait dengan tingkat akurasi yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan melakukan simulasi dari beberapa kombinasi parameter untuk mengetahui tingkat akurasi hasil klasifikasi, dan memperoleh pohon keputusan dari hasil KDD. Serta menganalisis akurasi metode non-parametrik CTA dengan teknik data mining untuk klasifikasi penggunaan lahan menggunakan citra Landsat-8 OLI,dan menerapkan hasil KDD pada daerah lain. Klasifikasi diperoleh dengan melakukan simulasi beberapa parameter CTA dan data masukan. Parameter aturan pemisah (splitting rules) dalam CTA, yaitu Ratio, Entropy, dan Gini. Parameter pemangkas (pruning), yaitu 0%, 1%, 5%, dan 10%.Beberapamasukan data klasifikasi, antara lain adalah citraLandsat-8 tujuhsaluran, transformasi citra (NDVI, NDWI, BI, NDBI, dan PCA), serta filter tekstur variance danmean(jendela bergerak 3x3 dan 5x5). Data non-spektral, yaitu data ketinggian dan data kemiringan lereng. Dua tingkat skema klasifikasi penggunaan lahan, yaitu Level I (5 kelas) dan Level II (8 kelas). Pohon keputusan yang diperoleh dari hasil pembelajaran dengan akurasi terbaik kemudian diterapkan pada daerah lain yang memiliki karakteristik mirip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi parameter terbaik adalah atribut pemisah Gini,pruning 1%, filter tekstur dengan jendela bergerak 5x5, dan skema Level I yaitu dengan akurasi keseluruhan 96,71%, kappa 0,9504, dan waktu proses 3,388 detik. Penerapannya pada daerah lain, menghasilkan akurasi keseluruhan 93,27% dengan kappa 0,8923. Tingkat akurasi terbaik yang diperoleh pada daerah penelitian maupun penerapannya pada daerah lain, lebih besar dari 90%.Sehinggadiharapkanmetode ini dapat menjadi alternatif metode untuk terapan kebijakan penggunaan lahan, dan klasifikasi penggunaan lahan berbasis penutup lahan setara dengan skala 1:100.000. ABSTRACT The study of non-parametric methods Classification Tree Analysis (CTA) using data mining techniques for remote sensing applications is still much to do, so it require studies on the CTA's ability to handle quite a lot of data, by utilizing CTA advantages for remote sensing applications. The combination of parameter CTA and data input, as well as its application on two different detail levels of land use classification scheme, require testing related to the level of accuracy that is generated. This studies aimed to simulate multiple combinations of parameters to determine the level of accuracy of the classification results, and obtain a decision tree from KDD results. And to analyze the accuracy of non-parametric methods CTA with data mining techniques for land use classification using Landsat-8 OLI, and apply the results of KDD on another area. The classification is obtained by performing simulations on several parameters CTA and data input. There are three splitting rules parameter in CTA, i.e. Ratio, Entropy, and Gini. Pruning parameter, i.e. 0%, 1%, 5%, and 10%. There are several inputs of the classification data, namely seven bands of Landsat-8 OLI imagery, image transformation (NDVI, NDWI, BI, NDBI, and PCA), as well as texture filter variance and texture filter mean (moving window 3x3 and 5x5). Non-spectral data, i.e.elevation data and slope data. And two-level land use classification scheme, i.e. Level I (5 classes) and Level II (8 classes). The decision tree that obtained from the best accuracy of the learning outcomes then applied to another area with similar characteristics. The results showed that the best parameter combination are a splitting attribute Gini, pruning 1%, texture filter with 5x5 moving window,and Level I scheme, with an accuracy of 96.71%, kappa 0.9504, and processing time 3.388 sec. Its aplication on another area, resulting an overall accuracy 93.27% with kappa 0.8923.The best accuracy rate obtained in this study and its application on another area was greater than 90%. Therefore this method is expected could be an alternative method for land use policy application, and land use classification based on land cover commensurate to a scale of 1:100,000

    Aplikasi Penginderaan Jauh untuk Analisis Pengaruh Ruang Terbuka Hijau Terhadap Iklim Mikro di Kawasan Perkotaan Klaten

    No full text
    ABSTRAK Keberadaan RTH Hijau mulai tergusur oleh adanya pembangunan bangunan-bangunan baru di kawasan perkotaan. Salah satu fungsi dari RTH adalah sebagai pengatur dan penyeimbang iklim mikro. Citra ALOS Pan-Sharpened digunakan untuk interpretasi RTH dan penggunaan lahan. Hasil akhir penelitian ini adalah peta distribusi suhu udara, kelembaban relatif, dan kecepatan angin di kawasan perkotaan Klaten, tingkat hubungan antara kerapatan RTH terhadap iklim mikro, pola RTH terhadap iklim mikro, dan penggunaan lahan terhadap iklim mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra ALOS Pan-Sharpened memberikan ketelitian interpretasi kerapatan RTH sebesar 81,05%, untuk interpretasi pola RTH sebesar 93,68%, dan interpretasi penggunaan lahan sebesar 94,97%. Kerapatan RTH berpengaruh terhadap suhu udara 60,6%, kelembaban udara 80%, kecepatan angin 5,2%. Pola vegetasi RTH kurang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap iklim mikro. Pengaruh penggunaan lahan terhadap iklim mikro adalah rendah, dimana lebih dipengaruhi oleh ketersediaan RTH , tingkat kepadatan bangunan, geometri bangunan, dan emisi gas kendaraan bermotor. ABSTRACT The presence of Open Green Space is threatened by conversion to new buildings in urban areas. One of the function of Open Green Space is as a regulator and  balancing of micro climate. ALOS Pan-Sharpened images was used to Open Green Space and land use interpretation. The final result of this research is a distribution map of air temperature, relative humidity, and wind speed in Klaten’s urban areas, relations level between Open Green Space density to the micro climate, Open Green Space pattern to the micro climate, and land use to the micro climate. The result of this research showed that interpretation accuracy of Open Green Space density provided by ALOS Pan-Sharpened was 81,05%, interpretation of Open Green Space pattern was 93,68%, and interpretation of land use was 94,97%. On the other hand, Open Green Space density affect to the air temperature was 60,6%,  to the air humidity was 80%, and to the wind speed was 5,2%. Vegetation patterns of Open Green Space gave less significant influence to the micro climate which marked by very weak correlation between many vegetation patterns of Open Green Space with air temperature, air humidity, and wind speed. Land use impact to the micro climate were low,  where air temperature, air humidity, and wind speed were more influenced by buildings density level, building geometry, gas emissions from vehicles, and Open Green Space availability

    Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pendapatan Penduduk Pendatang Asal Luar Bali Sebagai Pedagang Kaki Lima di Kota Denpasar

    No full text
    ABSTRAK Sektor informal di perkotaan memicu pertumbuhan tenaga kerja yang tinggi. Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) dalam sektor informal telah mendominasi sektor lapangan pekerjaan di wilayah Kota Denpasar. Hal ini didorong oleh kurangnya pendapatan dan potensi keuntungan yang akan diperoleh di Kota Wisata Bali. Penelitian menggunakan metode quota sampling sebanyak 100 orang PKL secara purposif dengan pertimbangan yaitu jumlah penduduk terbesar, lokasi pusat perdagangan dan bisnis, dan keterjangkauan lokasi penelitian.  Hasil penelitian menunjukkan sebagian PKL berusia 20-40 tahun dengan proporsi 75% adalah laki-laki. Sebanyak 73% PKL telah tinggal di Denpasar selama kurang lebih 10 tahun. PKL yang datang ke Bali sebelumnya juga bekerja sebagai pedagang dengan pendidikan terakhir SMP/SMA. Rata-rata pendapatan bersih PKL sebesar Rp5.527.272,73,- per bulan telah layak diatas UMR tahun 2015 yaitu sebesar Rp 1.800.000,-. Kawasan wisata mempunyai pendapatan paling besar dibandingkan kawasan perdagangan dan bisnis. Umur, tingkat pendidikan, curahan jam kerja, lama usaha, modal, dan lokasi usaha mempunyai pengaruh positif terhadap pendapatan dengan nilai R2 hasil regresi linier ganda sebesar 0,667. ABSTRACT The informal sector in urban areas cause the growth of high labor. The existence of street vendors (PKL) in the informal sector has been dominated sector jobs in Denpasar region. It is driven by a lack of income and the potential benefits will be gained in tourism city of Bali. The study is using quota sampling of 100 people, purposively with consideration that populous center of trade and business location, and affordability study sites. The results shows that most vendors aged 20-40 years with proportion 75% were male. As many as 73% of PKL has lived in Denpasar for more than 10 years. Street vendors who come to Bali previously worked as a trader with the latest education junior high / high school. The average net income amounted Rp5.527.272,73 PKL, - every month have been worth over UMR 2015 was Rp 1.800.000, -. Tourist areas have the most revenue compared to the trade and business. Age, level of education, the outpouring of working hours, long effort, capital and business location has a positive impact on revenue to the value of R2 result of multiple linear regression of 0.667

    DAMPAK MOBILITAS PEKERJA KE SABAH MALAYSIA TERHADAP RUMAH TANGGA MIGRAN DI DAERAH ASAL

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pinang Kecamatan Enrekang Selatan Kabupaten Enrekang Propinsi Sulawesi Selatan, bertujuan untuk mengetahui dampak positif dan dampak negatif dari mobilitas pekerja ke Sabah Malaysia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan pengambilan sampel dengan snowball sampling sebanyak 75 responden. Analisis data dengan tabel frekuensi dan tabel silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak positif dari mobilitas pekerja ke Sabah Malaysia diperoleh nilai remitan untuk rumah tangga migran di daerah asal dengan rata-rata perbulan sebesar Rp 388.677 atau Rp 4.664.124,- per tahun. Pemanfaatan remitan lebih banyak digunakan untuk kebutuhan konsumtif dari pada kebutuhan produktif. Besar kecilnya remitan tetap mempunyai arti ekonomi karena remitan dari Malaysia dapat membantu meningkatkan kesejahteraan kehidupan rumah tangga migran di daerah asal dan mengurangi angka kemiskinan keluarga dan pengangguran di desa. Mobilitas pekerja ke Sabah Malaysia tidak saja berdampak positif bagi rumah tangga migran di daerah asal, dampak negatif yang cukup berpengaruh adalah tingkat perceraian dan konflik keluarga dalam rumah tangga.

    GEOMORFOLOGI TANAH DAS SERAYU JAWA TENGAH

    No full text
    ABSTRAK Tujuan dari penyusunan tulisan ini adalah untuk membahas kondisi geomorfologi dengan tekanan pada persebaran satuan-satuan bentuklahan dalam kaitannya dengan persebaran satuan-satuan tanah yang mungkin terdapat padanya. Tulisan ini juga membahas mengenai proses-proses geomorfologi yang terjadi pada satuan-satuan bentuklahan-tanah yang ada di daerah penelitian. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah metode interpretasi citra Landsat ETM yang dilengkapi dengan pengecekan lapangan. Pengecekan lapangan dilakukan menurut jalur-jalur pengamatan yang dipilih dengan mempertimbangkan keragaman satuan bentuklahan-tanah dan kemudahan dijangkau. Pengungkapan data dan analisis pada tulisan ini dilakukan secara deskriptif. Pemahaman mengenai kondisi geomorfologi dengan menekankan pada proses geomorfologi yang membentuk satuan bentuklahan sangat bermanfaat untuk memahami pembentukan tanah setiap satuan bentuklahan yang ada di DAS Serayu. Untuk selanjutnya persebaran satuan-satuan tanah dapat dipahami melalui analisis geomorfologi untuk mendapatkan informasi mengenai asal bahan induk tanah dan morfodinamik bentuklahan. Pembentukan tanah dapat dipandang sebagai bagian integral dari proses geomorfologi (morfodinamik). Pembentukan tanah di daerah penelitian terkait erat dengan proses-proses erosi-sedimentasi, pelongsoran (gerakan massa), penggenangan, intrusi air laut (air asin), entisolisasi, dan kekeringan litologis

    RUANG DAN TEMPAT DALAM STUDI PEMEKARAN PERSPEKTIF TEORI DAN PENGALAMAN EMPIRIK KABUPATEN KUTAI

    No full text
    ABSTRAK Sejak pelaksanaan otonomi daerah, pemekaran wilayah telah menjadi bagian dari upaya percepatan pembangunan. Meskipun detnikian, pemekaran wilayah terkadang menipakan ambisi kelompok untuk tnemperoleh konsesi sumberdaya atau cerminan kekecewaan atas hasil pembangunan sebelumnya. Penelitian ini bennaksud menilai kontribusi petnikiran dan analisis geografipentekaran wilayah. Kontribusi pemikiran geografi dibahas melalui pemahaman teoretik tentang ruang dan tempat untuk dihadapkan dengan pengalaman empirik pemekaran Kabupaten Kutai. Ruang dalant pengertian geografi adalah serangkaian tempat-tempat yang merniliki signifikansi subyektif. Pemikiran dan analisis geografi dapat menjadi dasar pengelolaan wilayah secara efisien. Analisis geografi merniliki sumbangan penting dalatn studi pemekaran wilayah, terutatna dalant delineasi tapal batas yang mengoptimalkan penienuhan kebutuhan tempat dan ruang bagi masyarakat. Delineasi batas wilayah dengan analisis geografi dapat membantu mengurangi risiko konflik horizontal akibat pemekaran wilayah

    ANALISIS PROBABLE MAXIMUM PRECIPITATION (PMP) DAERAH ALIRAN SUNGAI OPAK MENGGUNAKAN GENERALISED SHORT-DURATION METHOD (GSDM)

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di DAS Opak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemungkinan Maksimum Pengendapan (PMP) nilai dapat digunakan sebagai masukan pada menentukan nilai Kemungkinan Maksimum Banjir (PMF) di DAS. Bahwa nilai PMF digunakan untuk pencegahan banjir dan perencanaan struktur hidrologi. Penelitian ini dibuat untuk tahu nilai PMP di DAS Opak. Lain untuk mengetahui distribusi spasial dan temporal dari PMP value.Estimation nilai PMP di DAS Opak dibuat menggunakan Generalized Metode Short-Durasi (GSDM) untuk wilayah DAS hingga 1000 km2 dan durasi pendek. GSDM dianggap faktor medan, penyesuaian untuk kelembaban, dan Penyesuaian untuk elevasi DAS estimasi dari PMP. Dari GSDM bisa tahu spasial distribusi dan temporal PMP value.This nilai hasil studi PMP di DAS Opak adalah 121 mm untuk durasi 3 jam, 68 mm untuk durasi 2 jam, 36 mm untuk durasi 1 jam. Spasial distribusi nilai PMP di DAS Opak sebagai aturan umum memiliki pola yang sama untuk setiap durasi adalah PMP terbesar di pusat elips. Hasil yang didapat, harapan dapat digunakan untuk pertimbangan dalam perencanaan untuk berbagai tujuan. ABSTRACT This study made at the watershed Opak at Daerah Istimewa Yogyakarta. Probable Maximum Precipitation (PMP) value can use as input at determine value of Probable Maximum Flood (PMF) in watershed. That PMF value used for flood prevention and hydrology structure planning. This study made for know PMP value at the watershed Opak. Else for know spatial and temporal distribution of PMP value.Estimation PMP value at the watershed Opak made using Generalized Short-Duration Method (GSDM) for watershed area up to 1000 km2 and short duration. GSDM considered factor of terrain, adjustment for moisture, and Adjustment for watershed elevation on estimation of PMP. From GSDM can know distribution spatial and temporal of PMP value.This study results PMP value at watershed Opak is 121 mm for duration 3 hour, 68 mm for duration 2 hour, 36 mm for duration 1 hour. Distribution spatial of PMP value at watershed Opak as a general rule have same pattern for each duration is PMP greatest at center ellipse. Result gotten, hope can used for consideration in planning for variety of purpose

    189

    full texts

    419

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Geografi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇