Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
PERBANDINGAN PREFERENSI PELAYANAN EKONOMI PENDUDUK RURAL DAN URBAN DI KABUPATEN SLEMAN
ABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik fasilitas ritel, demografi, sosial ekonomi, dan preferensi fasilitas ritel antara rumah tangga di daerah pedesaan dan perkotaan, serta faktor-faktor yang berhubungan dengan preferensi mereka. Penelitian yang dilakukan di Cangkringan dan Kecamatan Depok sebagai daerah pedesaan dan perkotaan di Kabupaten Sleman. Penelitian ini mengungkapkan bahwa karakteristik fasilitas ritel, sosial-ekonomi rumah tangga dan perilaku dalam pemanfaatan pasar tradisional dan supermarket antara daerah-daerah yang berbeda. Preferensi pasar tradisional berbeda berdasarkan orientasi lokasi pemanfaatan. Preferensi mereka terhadap supermarket juga berbeda berdasarkan tingkat frekuensi pemanfaatan, orientasi lokasi pemanfaatan, dan preferensi faktor daya tarik. Perbedaan-perbedaan terkait dengan karakteristik perilaku sosial-ekonomi, demografi, dan belanja rumah tangga.ABSTRACT This paper is aimed at comparing the characteristic of retail facilities, demographic, socio-economic, and the preference of retail facilities between the households in the rural and urban areas, as well as the factors that correlate with those preferences. The research carried out in Cangkringan and Depok District as the rural and urban area in Sleman Regency. The research reveals thatthe characteristic of retail facilities, household’s socio-economics and behavior in the utilization of traditional market and supermarket between those areas are different. The preference of traditional market is different based on the orientation of the utilization location. Their preferences towards supermarket are also different based on the level of the utilization frequency, the orientation of utilization location, and the preference of attractiveness factors. Those differences are related with the socio-economic, demographic, and shopping behavior characteristic of the households.ABSTRACT This paper is aimed at comparing the characteristic of retail facilities, demographic, socio-economic, and the preference of retail facilities between the households in the rural and urban areas, as well as the factors that correlate with those preferences. The research carried out in Cangkringan and Depok District as the rural and urban area in Sleman Regency. The research reveals thatthe characteristic of retail facilities, household’s socio-economics and behavior in the utilization of traditional market and supermarket between those areas are different. The preference of traditional market is different based on the orientation of the utilization location. Their preferences towards supermarket are also different based on the level of the utilization frequency, the orientation of utilization location, and the preference of attractiveness factors. Those differences are related with the socio-economic, demographic, and shopping behavior characteristic of the households
Sistem Perdagangan Risiko Bencana dalam Pengelolaan Banjir Antar-Wilayah
ABSTRAK Tujuan diteliti ini adalah: 1) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis perbedaan mutlak antara daerah menurut kabupaten / kota di Bengawan Solo DAS tahun 2007, (2) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis risiko banjir pada tahun 2007 di wilayah dalam administratif di Bengawan Solo Daerah Aliran Sungai , 3) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis keseimbangan risiko perdagangan bencana spasial dalam pengelolaan banjir antar-wilayah di Bengawan Solo DAS. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Aspek perbedaan mutlak antar-daerah dan ketinggian wilayah diambil sebagai data. Data berdasarkan perbedaan mutlak aspek antar-daerah (nilai positif) adalah pertumbuhan ekonomi dan produk domestik regional bruto per kapita. Data yang didasarkan pada daerah ketinggian (nilai negatif) yang Images SRTM, frekuensi banjir dan hasil dari kerugian banjir. Untuk menganalisis neraca perdagangan dari risiko banjir dengan menganalisis hasil nilai-nilai positif dan negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan mutlak di antar-wilayah administratif dalam Bengawan Solo Daerah Aliran Sungai tahun 2007 menjadi yang parameter dilakukan dengan menganalisis hasil penilaian kemampuan daerah berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan produk daerah gros domestik nilai kapita per dalam manajemen sumber daya, sedangkan analisis risiko banjir Tahun 2007 menjadi adalah parameter dilakukan dengan menganalisis hasil dari kemampuan daerah yang memiliki potensi banjir berisiko tinggi atau tidak memiliki potensi banjir berisiko tinggi. Perbedaan mutlak di daerah antar analisis risiko banjir administrasi dan wilayah menghasilkan risiko wilayah banjir shceme dari perdagangan memisahkan menjadi dua shemes; subsidi penerima dan pemasok hulu / hilir, di mana hulu dan hilir dapat complet tanpa batas topografi pertimbangkan. ABTRACT The objectives of this researched are: 1) To identify and to analyze absolute difference between areas according to regency/municipality at Bengawan Solo Watershed year 2007, (2) To identify and to analyze flood risk in 2007 on region within administratively at Bengawan Solo Watershed, 3) To identify and to analyze balance of risk of disaster trading spatial within inter-region flood management at Bengawan Solo Watershed. This research employs descriptive analyses methods. Data was analyzed in qualitative and quantitive. Aspects of absolute differences inter-regions and region altitude were taken as data. Data based on absolute differences inter-regions aspects (positive value) were economic growth and regional product domestic gross per capita. Data that is based on regions altitude (negative value) were SRTM Images,flood frequencies and result of flood losses. To analyze balance of trade of flood risk with analyze result of positive and negative values.,The results show that absolute difference in inter-regions administratively within Bengawan Solo Watershed year 2007 become is parameter conducted by analyzing the result of region capability assessment based on economic growth and regional product domestic gross percapita value within resource management, whereas flood risk analysis of year 2007 become is parameter conducted by analyzing the result of region capability that have high risk flood potential or doesn’t have high risk flood potential. Absolute difference in inter- regions administrative and region flood risk analysis produce shceme region flood risk of trading it separates into two shemes; subsidy receiver and supplier upperstream/downstream, where upperstream and downstream can complet without topographical boundary consider
Analisis Vegetasi Hutan Rawa Gambut Pascakebakaran di Wilayah Desa Sebangau dan Desa Taruna Jaya
ABSTRAK Kebakaran merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan tropis di Indonesia. Kerusakan yang berlangsung selama kebakaran hutan bersifat eksplosif artinya terjadi dalam waktu relatif cepat dan areal yang luas. Salah satu tipe dari ekosistem hutan hujan tropis adalah hutan rawa gambut. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengkaji komposisi jenis, (2) mengkaji keanekaragaman jenis, (3) mengkaji distribusi jenis, (4) mengkaji asosiasi jenis (5) mengkaji persentase ketidaksamaan komunitas vegetasi di hutan rawa gambut bekas kebakaran tahun 1997, 2002, dan 2006.Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2009 di wilayah Desa Kalampangan Kecamatan Sebangau dan Desa Taruna Jaya Kecamatan Jabiren Raya Kalimantan Tengah. Pengumpulan data dilakukan dengan membuat petak ukur dan kemudian melakukan identifikasi jenis. Titik-titik sampel ditentukan dengan metode random sampling dengan cara undian. Semua jenis dalam petak ukur dicatat nama, diukur diameter batang serta jumlahnya dan dikelompokkan sesuai tingkat pertumbuhannya. Hasil penelitian adalah 1) Ditemukan 8 jenis vegetasi antara lain Cratoxylon arborescens, Combretocarpus rotundatus, Timmonius wallichianum, Acroychia porteri, Acacia auriculiformis, Xylopia fusca, Ilex macropylla, dan Diospyros hermaproditich. 2) Keanekaragaman pada hutan rawa gambut bekas kebakaran sangat rendah. 3) Jenis Cratoxylon arborescens dan Combretocarpus rotundatus mempunyai kemampuan regenerasi yang lebih baik dibandingkan dengan jenis yang lainnya. Hal ini terlihat dari INP kedua jenis vegetasi yang memiliki nilai INP tertinggi. 4) Asosiasi yang diperlihatkan oleh banyak jenis (tingkat pertumbuhan pohon, tiang, pancang, semai) pada hutan rawa gambut bekas kebakaran adalah asosiasi positif yang artinya seluruh spesies lebih sering terdapat bersama-sama daripada sendiri-sendiri (bebas satu sama lain), dan mempunyai daya gabung dengan yang lainnya. 5) Berdasarkan persentase ketidaksamaan komunitas sebesar 55%, untuk tingkat semai dan pancang terbagi ke dalam tiga kelompok. Pengelompokan dapat terjadi karena lokasi yang berdekatan, frekuensi kebakaran, dan kesamaan faktor lingkungan. ABSTRACT Fire are one of the cause of tropical forest damaged in Indonesia. The damaged that occurs during the forest fire is explosive since it is happen in a quick moment and cover a broad area. One of the types of a tropical rain forest ecosystem is peat swamp forest. The purpose of this research namely : 1) Studying species composition, 2) Studying species diversity, 3) Studying species distribution,,4) Studying association, dan 5) Studying percentage disimilarity community species of vegetation of post fired in peat swamp forest in 1997, 2002, and 2006. The research was carried out from May until June 2009 in Kalampangan Village Subdistrict Sebangau and Taruna Jaya Village Subdistrict Jabiren Raya Central Kalimantan. Collecting data was done by making plot of land measuring then doing the identification of type. The sample points were determined by random sampling method. All types in plot of land measuring were named, measured the trunks including the numbers and then grouped according to level of growing.The result of this research are 1) There are eight types of vegetation found; Cratoxylon arborescens, Combretocarpus rotundatus, Timmonius wallichianum, Acroychia porteri, Acacia auriculiformis, Xylopia fusca, Ilex macropylla, dan Diospyros hermaproditich, 2) The diversity of a post-fired in peat swamp forest was low, 3) Figured out the ability of Cratoxylon arborescens and Combretocarpus rotundatus to regenerate better yet compared with the other types. This is viewed from two types of vegetation INP that had the high INP score. 4) The association is viewed by variety of types [level of tree growth, poles, sapling, seedling] to post fired of peat swamp forest–positively association means all species more often gathered than apart (free one each other), and had the ablitity to gathered with others.5) Base on fifty five percentage disimilarity community, there are three group community of sapling and seedling. Grouping to be able occur because nearness location, fire frequency, and the same environment factor
Kajian Kualitas Air Sungai Bedog Akibat Pembuangan Limbah Cair Sentra Industri Batik Desa Wijirejo
ABSTRAK Sungai Bedog yang mengalir di Desa Wijirejo, Pandak, Bantul, diindikasikan telah tercemar oleh berbagai jenis limbah, termasuk limbah cair industri batik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui : kualitas limbah cair batik; kualitas air Sungai Bedog ditinjau dari aspek fisik (suhu, TDS, TSS), kimia (pH, COD, BOD, Cu, Cr+6) dan biologi (plankton); tingkat peran serta stakeholder; dan menyusun strategi pengelolaan limbah cair batik agar tidak mencemari lingkungan.Penelitian ini menggunakan metode survei, pengumpulan data dilakukan dengan metode purposive sampling. Contoh air diambil langsung dari air limbah batik dan air Sungai Bedog dengan 6 stasiun pengamatan, dari daerah hulu ke hilir. S1 merupakan lokasi yang belum tercampur limbah batik berada di sekitar Jembatan Pedak; S2 (+ 350 m dari S1), S3 (+ 750 m dari S2, di sekitar Jembatan Pijenan), S4 (+ 400 m dari S3) dan S5 (+ 250 m dari S4) merupakan lokasi yang telah tercampur limbah cair batik; serta S6 (+ 400 m dari S5) sebagai lokasi yang sudah tidak menerima masukan limbah batik. Data fisik, kimia dan biologi diukur langsung di lapangan dan laboratorium. Pengumpulan data peran serta stakeholder dilaksanakan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis hasil yang digunakan adalah deskriptif kualitatif.Hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas limbah cair batik melampaui baku mutu. Air Sungai Bedog pada lokasi S4 telah tercemar, ditunjukkan dengan nilai rata-rata COD 28 mg/L (baku mutu 25 mg/L) dan BOD 4,8 mg/L (baku mutu 3 mg/L). S4 merupakan lokasi dengan persebaran industri batik paling rapat. Bahan-bahan organik dan anorganik dalam limbah cair batik telah meningkatkan COD dan BOD air Sungai Bedog. Berdasarkan indeks diversitas plankton, air Sungai Bedog telah tercemar pada lokasi S2, S3, S4 dan S5, sedangkan lokasi S1 dan S6 masih dalam kategori tidak tercemar. Limbah cair batik secara akumulatif dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia ekosistem sungai, sehingga akan menurunkan indeks diversitas plankton yang hidup di dalamnya. Tingkat peran serta 7 stakeholder pemerintah daerah setempat mayoritas (57,14%) dalam kategori sedang. Arahan strategi pengelolaan lingkungan dilakukan dengan : peningkatan peran serta pengrajin batik secara individu (penerapan produksi bersih dan minimalisasi limbah) dan kolektif (pembangunan cluster IPAL); peningkatan peran serta stakeholder; serta pemilihan teknologi IPAL yang tepat. ABSTRACT Bedog River that flows along Wijirejo Village, Pandak, in Bantul has been indicated to be polluted by varieties of liquid waste including batik industry. The objectives of this research are : to determine the quality of batik liquid waste; the quality of Bedog River water from physical aspects (temperature, TDS, TSS); chemical aspects (pH, COD, BOD, Cu, Cr+6); and biological aspect (plankton); to measure participation of stakeholder and also to develop a management strategy to manage batik liquid waste so that it does not pollute the environment.This research use survey method, data collected by purposive sampling. Water sample is directly taken from batik liquid waste and from the Bedog River with six observation station : S1 is the location before the waste disposal point, located around Pedak Bridge; S2 (+ 350 m next to S1), S3 (+ 750 m next to S2, located at Pijenan Bridge), S4 (+ 400 m next to S3) and S5 (+ 250 m next to S4) is location that has been polluted by batik liquid waste, and S6 (+ 400 m next to S5) is an area that is no longer able to contain more additonal batik waste. Chemical, physical and biological data is carried on in direct measurement in the field and at laboratory. Participation data of stakeholder data is carried on interview method using questionare . Result analysis used in this research is qualitative descriptive.The result of this research shows that the quality of batik liquid waste has surpassed from the quality standard. The water quality at location S4 has been polluted shown by the COD point 28 mg/L (quality standard 25 mg/L) and BOD point 4,8 mg/L (quality standard 3 mg/L). S4 is the location of which has highest density of batik industry. Both organic and inorganic materials inside batik liquid waste have increased COD and BOD of Bedog River. According to the plankton diversity index, the water of Bedog River has been polluted at S2, S3, S4 and S5 locations. S1 and S6 locations are not classified into the polluted area. Batik liquid waste gives accumulatively effects to chemical and physical river ecosystem character, thus it decreases plankton diversity index which live in it. The grade of local government stakeholder participation generally (57,14%) at middle category. The environment management strategy can be done by : improving participation of batik crafter both individually (by applying clean production and minimalizing waste) and collectively (by building IPAL in cluster); improving participation of stakeholder; and choosing properly technology of waste water treatment (IPAL)
Persepsi Masyarakat terhadap Penerapan Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan pada Kegiatan Bidang Pariwisata
ABSTRAK Penelitian ini mengunkap tentang persepsi masyarakat terhadap Penerapan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan di Sub-Distrito Cristo Rei, Distrito Dili. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap penerapan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan di Sub-Distrito Cristo Rei, Distrito Dili dan persepsi terhadap dampak lingkungan yang akan timbul akibat oleh kegiatan bidang pariwisata. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode survai dengan menggunakan kuesioner sebagai alat penelitian. Jumlah Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di Desa (Suco) Meti Aut, Sub-Distrito Cristo Rei yaitu sebanyak 376 (KK) dari total jumlah penduduk sebayak 1.501 jiwa. Dari jumlah tersebut diambil 88 KK sebagai sampel responden dengan menggunakan teknik acak sederhana (simple random sampling). Cara penilaian dilakukan dengan memberikan skor pada tiap pertanyaan di kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi Square serta korelasi stastistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi (tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan tingkat pendapatan) memiliki pengaruh yang kuat terhadap persepsi masyarakat tentang penerapan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan pada pembangunan bidang pariwisata. Semakin baik tingkat pengetahuan responden, maka semakin baik pengaruhnya terhadap persepsi penerapan UKL-UPL pada pembagunan bidang pariwisata. Sementara jumlah anggota keluarga tidak memiliki pengaruh yang kuat terhadap persepsi penerapan UKL-UPL. Semakin banyak jumlah tanggungan keluarga, persepsi terhadap penerapan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan semakin buruk. Hal yang sama juga didapatkan untuk persepsi dampak lingkungan. Pemahaman dan kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup sebagian masyarakat masih lemah hal ini sangat mengharapkan pemerintah untuk meningkatkan sosialisasi peraturan dan kebijakan pengelolaan lingkungan, baik di tingkat nasional maupun Distrik. ABSTRACT This research presents about community perception of application on Environmental Management Effort and Environmental Monitoring Effort at the Sub. District Cristo Rei, Dili District. The purpose of this study was to determine the factors that influence to public perception of the implementation of Environmental Management Effort and Environmental Monitoring Effort at the Sub district Cristo Rei, Dili District and the perception of environmental impacts that will arise from the activities of the tourism development. Data collection research using survey method using questionnaires as a research tool. Numbers of Head of the Family (KK) who lives in the Village (Suco) Meti Aut, Sub. District Cristo Rei, Dili District as 376 households of a total population of 1501 inhabitants. These of the 88 families were taken as sample of respondents using simple random sampling. How the assessment is done by giving a score on each question in the questionnaire, and then analyzed using Chi Square and statistical correlation. The results showed that socioeconomic factors (education level, occupation and income level) have a strong influence on community perception regarding the implementation of Environmental Management Effort and Environmental Monitoring Effort in tourism development. The better the knowledge level of respondents, the better effect on perceptions of the implementation of EME-EME on the field of tourism development. While the number of family members do not have a strong influence on the perception of the application of Environmental Management Effort and Environmental Monitoring Effort. More and more the number of family, perceptions of the implementation of Environmental Management Effort and Environmental Monitoring Effort worse. The same was found for perception of environmental impact. Understanding and awareness of the importance of the environment most people are still very weak it expects the government to improve the dissemination of rules and policies for environmental management, both at national and district levels.
Analisis Risiko Tanah Longsor Desa Tieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo
ABSTRAK Desa Tieng Kecamatan Kejajar secara umum memiliki kondisi topografi yang dapat menjadi faktor penyebab terjadinya tanah longsor seiring dengan perkembangan perkembangan aktivitas manusia. Untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya bencana alam tanah tanah longsor, maka perlu disediakan peta risiko tanah tanah longsor di Desa Tieng yang merupakan perpaduan antara peta bahaya dan peta kerentanan sebagai bahan pertimbangan yang penting dalam pencegahan dan penanggulangan tanah longsor. Penyusunan peta bahaya, kerentanan, dan risiko tanah longsor menggunakan ArcGIS dan ILWIS dengan menggunakan parameter hujan, lereng lahan, geologi, keberadaan sesar, kedalaman tanah, penggunaan lahan, infrastruktur, kepadatan pemukiman. Skoring dan pemberatan digunakan dalam penentuan peta bahaya dan kerentanan. Metode pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan metode pengambilan sampel acak berstrata dengan berdasarkan zona bahaya tanah longsor di lokasi penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa zona tingkat bahaya tanah longsor terbagi menjadi 3 zona yaitu zona bahaya tinggi, sedang, dan rendah. Wilayah pemukiman berada pada zona bahaya tinggi dan sedang. Tingkat kerentanan total merupakan fungsi dari tingkat kerentanan fisik, sosial, dan ekonomi. Tingkat kerentanan fisik menggunakan faktor persentase kawasan terbangun, kepadatan bangunan, dan jenis material banguan. Tingkat kerentanan sosial menggunakan faktor kepadatan penduduk, persentase penduduk usia tua-balita, dan penduduk wanita. Tingkat kerentanan ekonomi menggunakan faktor persentase rumah tangga yang bekerja di sektor rentan, dan persentase rumah tangga miskin. Masyarakat Desa Tieng membuat sistem terassering untuk berkebun dan membuat bangunan penahan dari batu untuk mengurangi bahaya tanah longsor. Kesimpulan penelitian ini Desa Tieng berada pada risiko tanah longsor sedang dan tinggi. Penduduk yang berada pada zona risiko tinggi sebaiknya direlokasi terutama penduduk yang terletak berdekatan dengan tebing. ABSTRACT Tieng District Kejajar village generally has a topography which can be the causes of the landslides along with the development of human activity. To anticipate and prevent the occurrence of natural disasters landslides land, it is necessary to provide a map of landslide risk land in the village of Tieng which is a combination of hazard maps and vulnerability map as an important consideration in the prevention and mitigation of landslides. Preparation of hazard maps, vulnerability, and risk of landslides using ArcGIS and ILWIS using the parameters of rain, land slope, geology, the presence of faults, depths of soil, land use, infrastructure, residential density. Scoring and weighting are used in the determination of hazard and vulnerability maps. The sampling method in research using stratified random sampling method with a landslide hazard zones based on the location of the research. The results showed that the degree of landslide hazard zone is divided into three zones, namely the danger zone of high, medium, and low. Residential areas are in the danger zone of high and medium. Total vulnerability level is a function of the level of vulnerability of physical, social, and economic. The level of physical vulnerability using a percentage factor woke region, building density, and type of material banguan. The level of social vulnerability using a factor of population density, percentage of population age-old toddler, and the female population. The level of economic vulnerability using factors the percentage of households who work in vulnerable sectors, and the percentage of poor households. Tieng Village Community makes terassering system for gardening and create a barrier of stone buildings to reduce the danger of landslides. The conclusion of this study Tieng village are at risk of landslides medium and high. Residents who are at high risk zones should be relocated mainly residents located adjacent to the cliffs
KEMAMPUAN SALURAN TERMAL CITRA LANDSAT 7 ETM+ DAN CITRA ASTER DALAM MEMETAKAN POLA SUHU PERMUKAAN DI KOTA DENPASAR DAN SEKITARNYA
This research was carried out in some parts of Bali Province, including Denpasar city and the surrounding regencies. The purposes of this research are: 1) to determine the pattern of surface temperature in Denpasar city; 2) to determine the accuracy level of the thermal channels in the Landsat 7 ETM+ and ASTER images for mapping the pattern of surface temperature in Denpasar city; 3) as well as to determine the relationship between the surface temperatures with building and with vegetation coverages. The method applied in this research are density slicing analysis, the 3rd ordo polynomial regression analysis, the root mean square different (rmsD), and the product moment correlations. The image enhancement techniques which are used in this research include thermal data calibrations, urban index transformation, and vegetation index transformation. The results of this study shows that the pattern of urban surface temperature spreads spatially and does not occur exclusively only in the city center but also in its surrounding areas; found in settlements with the density ranging from compact to more compact; also found in dry land with vegetation density ranging from sparse to sparser. Starting the value of rms difference can be used as the standard measurement in assesment of the surface temperature extraction accuracy. The 6.1st channel of Landsat 7 ETM+ image is the best which shows the rms difference of 4.95, followed by the 13rd channel of ASTER image with the rms difference of 5.73. The value of highly positive correlation between building density index with surface temperature is 0.73. It means that each increased of building density index value will be followed by increasing of surface temperature value. The value of highly negative correlation also happened between vegetation density index (vegetation coverage) with the surface temperature is -0.53. It means that each increased of vegetation index value will be followed by decreasing of surface temperature value
APLIKASI MODEL ARTIFICIAL NEURAL NETWORK SEBAGAI EXTENSION ARC VIEW-GIS UNTUK PENILAIAN KESESUAIAN LAHAN PERKEBUNAN KAKAO DI DIY.
Evaluasi kesesuaian lahan untuk tujuan tertentu di sektor perkebunan menjadi sangat penting karena meningkatnya persaingan dalam penggunaan lahan dan pengembangan sektor perkebunan . Evaluasi lahan menghasilkan informasi tentang nilai ekonomi dari penggunaan lahan tertentu . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan metode Evaluasi Kesesuaian Lahan kakao estate dengan menggunakan model terintegrasi Artificial Neural Network (ANN) dan Sistem Informasi Geografis (GIS). Propagasi Kembali Model ANN yang digunakan untuk memprediksi dasar hasil kakao pada kualitas lahan parameter . Hasilnya menunjukkan bahwa model yang terbaik ANN untuk memprediksi hasil kakao memiliki 15 lapisan input, 15 lapisan tersembunyi , dan 1 output layer . dengan koefisien determinasi ( r2 ) dari 0,99 dan Kesalahan Root Mean Square ( RMSE ) dari 93,83 dalam proses pelatihan , jika dalam pengujian menemukan r2 sebesar 0,76 dan RMSE dari 113,83 . Dalam tahap verifikasi model terintegrasi dari ANN dan GIS digunakan untuk mengevaluasi kesesuaian lahan Jogjakarta Daerah Istimewa untuk pengembangan real kakao . Hasilnya melihat bahwa Jogjakarta Daerah Istimewa memiliki lahan sesuai marginal ( S2 ) kakao dari 38,911.102 Ha , Cocok ( S2 ) dari 110.367.050 Ha , dan sangat cocok ( S3 ) dari 20,577.179Ha
PENGUKURAN LAJU PENGENDAPAN DALAM PENENTUAN TOLERANSI PENAMBANGAN PASIR DAN BATU (sirtu) (Studi Kasus di DAS Lukulo Hulu Jawa Tengah)
DAS adalah wilayah kesatuan ekosistem dibatasi oleh topografi dan berfungsi sebagai compiler, dealer air bersama dengan unsur sedimen di sistem sungai. Daerah Aliran Sungai Luk Ulo luas 676 km2, Curah hujan di DAS hulu memiliki jangkauan dari 2.500 mm / tahun sampai 3250 mm / tahun, dan saham hilir DAS curah hujan kurang lebih 2.600 mm /tahun. Pada musim hujan debit dari Sungai Luk Ulo memuncak tajam dan ketika sangatkecil musim kemarau. Erosi, sedimentasi, banjir, ketersediaan air sangat berhubungandengan faktor fisik dan sosial-budaya. Luk Ulo DAS terletak di jawa tengah di manamengalami degradasi lingkungan, sedimentasi sungai Luk Ulo dimanfaatkan dan menghasilkan ketidakseimbangan DAS. Indikasi kerusakan DAS Likely ditonton dari tingkat ketinggian sedimentasi dan erosi. Tujuan penelitian ini untuk menentukan pertambangan pasir, sehingga keseimbangan ketersediaan pasir dan maksimalpertambangan pasir (sirtu) dapat mengamati. Metode yang digunakan dalam penelitian iniadalah survei dan pengukuran sedimen, yaitu dengan asupan sampel airmempertimbangkan beban ditangguhkan dan juga pengukuran debit sungai setiap sub DAS. Parameter pengukuran sedimentasi adalah konsentrasi sedimen tersuspensi Cs (mg /l), debit Q (m3 / detik) dan keluarnya Qs sedimen tersuspensi (gr / detik). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dan pengukuran sedimentasi, yaitu dengan asupan sampel air mempertimbangkan beban ditangguhkan dan juga pengukuran debit sungai setiap sub DAS. Parameter pengukuran sedimentasi adalah konsentrasi sedimen tersuspensi Cs (mg / l), debit Q (m3 / detik) dan keluarnya Qs sedimen tersuspensi (gr /detik). Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa beban sedimen harian di Luk Ulo hulu wathersed di hujan Oktober-November sebesar 1.438,36 ton / hari, sedangkan beban sedimen dalam satu tahun sebesar 194,43 ton / Hektar / tahun
Kajian Degradasi Lahan Sebagai Dasar Pengendalian Banjir di DAS Juwana
Adanya pemanfaatan lahan yang intensif dan ekspolitatif dapat menurunkan daya dukung dan fungsi lingkungan DAS yang menyebabkan lahan menjadi terdegradasi. Tingginya luasan lahan kritis menjadi ancaman terhadap daya dukung DAS yang akan berdampak pada ketidakseimbangan hidrologi dalam DAS. Salah satu akibat ketidakseimbangan hidrologi dalam DAS adalah terjadinya banjir. DAS Juwana merupakan DAS Prioritas I berdasarkan penetapan 108 DAS prioritas. Salah satu indikator untuk menentukan degradasi dalam DAS dapat diketahui berdasarkan nilai koefisien aliran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik fisik DAS yang berpengaruh dalam penentuan koefisien aliran, menghitung koefisien aliran dengan mempertimbangkan parameter karakteristik fisik DAS dan memberikan rekomendasi pengelolaan banjir di DAS Juwana yang potensial banjir dalam mendukung upaya pengelolaan DAS dari hulu sampai hilir. Koefisien aliran dihitung denggan menggunakan metode cook yang memperhitungkan parameter kemiringan lereng, infiltrasi tanah, tutupan vegetasi dan simpanan permukaan. Perumusan pengendalian banjir dilakukan dengan melakukan penatagunaan lahan yang disesuaikan dengan arahan fungsi penggunaan lahan sehingga diharapkan menurunkan nilai koefisien aliran dan debit banjir. Karakteristik fisik DAS Juwana yang mempengaruhi penentuan koefisien aliran berdasarkan metode Cook yaitu Kemiringan lereng dengan rata-rata skor C sebesar 0,178, kerapatan aliran dengan rata-rata skor 0,084, infiltrasi dengan rata-rata skor 0,115 dan tutupan vegetasi dengan rata-rata skor 0,127. Kontribusi masing masing parameter dalam penilaian koefisien aliran yang memiliki pengaruh paling terbesar sampai paling terkecil dalam besarnya koefisien aliran yaitu kemiringan lereng yang memiliki pengaruh sebesar 35,39%, kemudian tutupan vegetasi sebesar 25,25%, infiltrasi sebesar 22,86% dan terakhir adalah kerapatan aliran yang berkontribusi sebesar 16,70%. Nilai koefisien aliran di DAS Juwana sebesar 50,25% yang termasuk kriteria tinggi. Daerah yang menjadi prioritas penanganan dalam pengendalian banjir terdapat pada satuan lahan yang memiliki nilai koefisien aliran tinggi sampai ekstrim seluas 48042,46 ha atau sebesar 36,84% dari luas DAS Juwana. Dalam upaya mengendalikan banjir dirumuskan beberapa pengelolaan yaitu penatagunaan lahan merestorasi, reklamasi dan konservasi penggunaan lahan sesuai dengan arahan fungsi penggunaan lahan sehingga dapat dikendalikannya aliran permukaan (surface run-off) karena berfungsinya tutupan vegetasi pada setiap penggunaan lahan disertai dengan pengelolaan lahan yang berbasis konservasi tanah dan air serta melalui pendekatan kolaboratif dengan memperhatikan potensi dan sensitivitas sumberdaya dalam DAS dan pesisir sehingga diperoleh pengelolaan yang terpadu