Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
Kajian Peran Lembaga dan Kearifan Masyarakat dalam Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove secara Terpadu di Delta Mahakam
ABSTRAK Pada saat ini hutan mangrove di wilayah Delta Mahakam yang mengalami rusak berat seluas 24.035 hektar atau 49,44% dari luasan mangrove di Delta Mahakam, rusak ringan seluas 41.608 hektar atau 27,78% dari luas mangrove di Delta Mahakam, dan yang masih dalam kondisi baik hanya seluas 34.089 hektar atau 22,7% dari luasan mangrove di Delta Mahakam. Sebagian besar kerusakan diakibatkan oleh pembukaan hutan mangrove untuk usaha pertambakan oleh masyarakat yang berasal dari luar wilayah Kalimantan Timur. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 mengamanatkan bahwa Dinas Kehutanan memiliki kewenangan untuk menjaga kelestarian hutan mangrove di perairan termasuk kawasan perairan di Delta Mahakam. Di sisi lain, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan mengatur bahwa wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia untuk penangkapan ikan atau pembudiyaan ikan meliputi sungai, danau, waduk, rawa dan genangan air lainnya yang dapat diusahakan serta lahan pembudidayaan ikan yang potensial di wilayah Republik Indonesia. Dari permasalahan tumpang tindih kewenangan dan peraturan perundangan tersebut, masing-masing sektoral memiliki aturan hukum sendiri-sendiri, sehingga setiap sektor juga memiliki kewenangan sendiri-sendiri. Pengelolaan hutan mangrove tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah saja akan tetapi diperlukan peran serta masyarakat di Kawasan Delta Mahakam untuk mencapai kelestarian hutan mangrove yang terpadu. Peneliti menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menyajikan masalah yang ada sekarang berdasarkan data yang di lapangan mengenai pengelolaan hutan mangrove di wilayah Delta Mahakam. Penelitian ini dilaksanakan di Delta Mahakam, Provinsi Kalimantan Timur. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara, pedoman observasi, dokumentasi, kamera, dan alat perekam. Cara analisis data meliputi tahapan reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan bahwa: (1) Pengelolaan hutan mangrove di Delta Mahakam sendiri melibatkan peran dari masyarakat, swasta, dan pemerintah. Pihak pemerintah yang terkait adalah Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur, dan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalimantan Timur. Pihak masyarakat dibedakan menjadi masyarakat asli dan pendatang. Masyarakat asli yang bermukim di sekitar hutan mangrove Delta Mahakam melakukan kegiatan perawatan, penanaman, dan pembersihan lingkungan hutan bakau. Sementara masyarakat pendatang yang merupakan pengusaha tambak memberikan sejumlah dana untuk dikelola pemerintah guna memperbaiki kondisi hutan mangrove Delta Mahakam yang rusak akibat kegiatan usaha tambak. (2) Integrasi antara pemerintah dengan masyarakat asli maupun masyarakat pendatang sebagi pengusaha tambak diperlukan guna menjamin terselenggaranya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan ekosistem mangrove sebagai sumberdaya di wilayah pesisir, system penyangga kehidupan, dan kekayaan alam yang bernilai tinggi. ABSTRACT At this time the mangrove forest in Delta Mahakam region heavily damaged area of 24 035 hectares (49.44%) of the mangrove area in the Delta Mahakam, covering an area of 41 608 hectares lightly damaged (27.78%), and is still in a state of an area of 34 089 hectares only good (22.7%).Such damage ismostlycaused bythe opening of mangrove forests for aquaculture enterprises bypeople from outside the region of East Kalimantan. Law No.41 of 1999 mandates that the Forest Service has the authority to preserve the mangrove forests in the waters include waters n the Delta Mahakam. On the other hand, the Law Number31of 2004 on Fisheries requires that fishery management area ofthe Republic of Indonesia for fishing or aquaculture, include rivers, lakes, reservoirs, marshes and other stagnant water that can be cultivated and land fish farming potential in the territory of the Republic of Indonesia of the problems of overlapping authority and these regulations, each sector has its ownlaws, so that each sector also has its own authority. Mangrove forestis not entirely the responsibility of the government alone but required the participation ofthe community in the Delta Mahakam Region to achieve sustainability of integrated mangrove forests. Researchers used a qualitative descriptive approach to present the existing problems based on field data on the management of mangrove forests in the area of the Delta Mahakam. Based on the research and discussion that has been done, it was concluded that: (1) The management of mangrove forest in Delta Mahakam itself involves the role of public, private, and government. Relevant authorities are the Environment Agency East Kalimantan, East Kalimantan Provincial Forestry Office, and the Department of Fisheries and Marine Resources in East Kalimantan province. Parties divided into indigenous communities and migrants. The indigenous people living around the Delta Mahakam mangroves perform maintenance activities, planting, mangrove forests and environmental cleanup. While the immigrant communities who are entrepreneurs add provide some funds for the government managed to improve the condition of the Mahakam Delta mangrove forests damaged by farming activities.(2) Integration between the government and indigenous communities and migrant communities as a farm employer is required to ensure the implementation of the protection, preservation, and utilization of mangrove ecosystems as resources in coastal areas, life support systems, and high-value natural resources.
Dampak Konservasi Lahan terhadap Lingkungan Lahan Pertanian dan Strategi Adaptasi Petani di Kecamatan Mejayan , Madiun
ABSTRAK Penetapan Kecamatan Mejayan sebagai ibu kota Kabupaten Madiun mendorong perkembangan wilayah Kecamatan Mejayan semakin cepat. Hal ini ditunjukan oleh meningkatnya kebutuhan lahan terbangun, sehingga mendorong terjadinya konversi lahan pertanian yang intensif. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan yang hendak dicapai adalah :1) mengkaji dampak konversi lahan pertanian terhadap kondisi lingkungan lahan pertanian serta kondisi sosial ekonomi petani; 2) mengkaji bentuk strategi adaptasi yang dilakukan petani dalam menghadapi konversi lahan pertanian; 3) mengkaji pengaruh konversi lahan terhadap strategi adaptasi petani. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara proporsional dari masing masing-masing status petani. Jumlah sampel sebanyak 96 responden terdiri dari 46 responden petani pemilik lahan, 31 responden petani penggarap, 19 responden buruh tani. Data yang digunakan terdiri dari data primer berupa kuisioner dan wawancara mendalam serta data sekunder dari instansi terkait. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif, dengan uji statistik chi kuadrat dan koefisien kontigensi. Hasil penelitian menunjukan konversi lahan pertanian di Kecamatan Mejayan berdampak negatif terhadap lingkungan lahan sawah, antara lain semakin berkurangnya lahan usahatani, kerusakan saluran irigasi, serta menurunnya kesuburan tanah akibat sampah rumahtangga. Terdapat perbedaan bentuk strategi adaptasi dari masing-masing rumahtangga petani diantaranya 56,5 % pemilik lahan menerapkan strategi akumulasi, 87,1 % petani pengarap menerapkan strategi konsolidasi dan 84,2% dari buruh tani menerapkan strategi survival. Faktor kondisi sosial ekonomi dengan nilai koefisien kontigensi 0,557 dan kepemilikan aset dengan nilai koefisien kontigensi 0,462 berpengaruh secara nyata terhadap bentuk strategi adaptasi petani, di antara kedua faktor tersebut status kondisi sosial ekonomi lebih kuat pengaruhnya terhadap bentuk strategi adaptasi petani. ABSTRACT The determination district of Mejayan to be capital city of Madiun regency encourages the fast development of district Mejayan. It is evidenced by the increasing needs of undeveloped land, so that encourage the intensive conversion of agricultural land. According to the situations, there are two goals to be reached: 1) to assess the impact of the conversion agricultural land to the environmental condition of agricultural land as well as socio-economic conditions of farmers; 2) to analyze what strategies adaptation of the farmers in facing the conversion of agricultural land; 3) to analyze the effect of conversion land to the farmer adaptation strategies. This study has a survey method by taking a proportional sampling of each farmer status individually. The total samples of 96 respondents are 46 respondent peasant land owners, tenant farmers 31 respondents, and 19 respondents laborer. The data use consists of primary data, in a questionnaires and in-depth interviews, then secondary data from relevant agencies. Methods of data analysis use a quantitative descriptive analysis, the chi squared test and contingency coefficient. The results show conversion of agricultural land in the district of Mejayan has a negative effect to the wetland environment, such as the less land farming, irrigation canals damage, and declining soil fertility due to household waste. There are different adaptation strategy of each farm household; 56.5% land owner applying accumulation strategies, 87.1% of tenant farmers implementing consolidation strategies and 84.2% of farm workers applying survival strategies. The condition of socio-economic with contingency coefficient value 0.557 and the ownership assets with a contingency coefficient value 0,462 influence really to the farmer adaptation strategies, in both factors status socio economic condition give a stronger influence to the form of farmer adaptation strategies
Kerangka Aset Rumah Tangga Miskin dalam Peristiwa Banjir Pasang Surut di Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan
ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang penghidupan rumah tangga miskin dalam konteks bencana banjir pasang surut di Kota Pekalongan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui aset dan (2) dampak banjir pasang surut terhadap aset. Penelitian ini menggunakan pendekatan descriptive exploratory dan field research yang dibahas secara deskriptif kualitatif dengan menguraikan aset rumah tangga miskin dan dampak banjir pasang surut terhadap aset. Pemanfaatan aset oleh rumah tangga miskin di Kecamatan Pekalongan Utara dilakukan sesuai mata pencaharian yang dimiliki yaitu sektor pertanian dan perikanan serta sektor industri, perdagangan, dan jasa. Sektor pertanian dan perikanan bergantung pada natural asset yaitu laut, sungai, dan lahan, sedangkan sektor industri, perdagangan, dan jasa bergantung pada physical asset yaitu rumah, alat transportasi, dan alat bekerja. Kerusakan kedua aset tersebut akibat bencana banjir pasang surut telah menghambat peningkatan kesejahteraan hidup. ABSTRACT This study discusses the livelihoods of poor households in the context of tidal flood in Pekalongan City. The purpose of this study was (1) to know the assets and (2) to determine the impact of tidal flood to assets. This study used descriptive exploratory and field research approach which discussed in qualitative descriptive with outline of assets of poor households and the impact of tidal flood to assets. Utilization of assets by poor households in the Pekalongan Utara District done according owned livelihood that is agriculture and fisheries sectors as well as industry, trade, and services. Agriculture and fisheries rely on the natural assets of the sea, river and land, while the industrial sector, trade, and services depend on the physical asset of a house, transportation, and work tools. Damages to the two assets caused by flood tides have prevented an increase in welfare
ASPEK SOSIAL EKONOMI DAN PENYERTIFIKATAN TANAH (KASUS DAERAH KECAMATAN SALAM KABUPATEN SLEMAN)
ABSTRAK Pemilikan tanah sangat rawan terhadap terjadinya sengketa di masyarakat perkotaan maupun perdesaan. Konsekuensinya, pemilik tanah sangat mutlak memiliki sertifikat tanah. Namun demimian, banyak tanah di perdesaan belum atau tidak bersertifikat, akibat sebagian besar pemilik tanah menghadapi banyak kendala sosial ekonomi untuk mensertifikatkan tanah. Pemasalahan ini mendasari tujuan pene,itian untuk mengungkap keterkaitan dengan faktor-faktor sosial ekonomi pemegang hak tanah dengan minat penyertifikatan tanah yang dikuasai, antar daerah yang berbeda aksesbilitasnya terhadap kota. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Salam menggunakan metode survei. Responden penelitian adalah kepala keluarga (KK) penguasa tanah baik yang sudah atau belum memiliki sertifikat tanah. Penentuan sampel secara quota sampling berdasar tingkat aksesbilitas desa terhadap kota. Jumlah sampel responden secara total 120 KK, yang diambil 60 KK di setiap sampel desa yang berbeda aksesbilitas. Data identitas sosial ekonomi rumah tangga, persepsi tentang sertifikat tanah, dan minat untuk mensertifikatkan tanah, dikumpulkan menggunakan teknik wawancara terstruktur. Analisis data menggunakan uji statistic analisi regresi ganda dan uji beda rata-rata yakni uji ‘t’. Hasil penelitian menunjukkah bahwa luas tanah hak rakyat yang bersertifikat baru sekitar 58 persen. Pelaksanaan program penyertifikatan tanah secara masal belum sepenuhnya berhasil, ditunjukkan dari tanah bersertifikat di daerah aksesbilitas rendah, lebih sedikit (29%) daripada di daerah aksesbilitas tinggi (71%). Tingkat pengetahuan masyarakat tentang sertifikat tanah, sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan di setiap daerah yang berbeda aksesbilitas. Tingkat persepsi masyarakat terhadap biaya pengurusan dan waktu penyelesaian sertifikat tanah, secara keruangan bervariasi. Pengaruh tingkat pendidikan terhadap persepsi, hanya berlaku pada masyarakat di daerah aksesbilitas rendah; sedangkan pengaruh faktor tingkat pengetahuan tentang sertifikat terhadap persepsi, berlaku di daerah aksesbilitas tinggi. Keragaman minat masyarakat mensertifikatkan tanah sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi, antara lain tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan tentang sertifikat tanah, serta persepsi tentang biaya pengurusan dan waktu penyelesaian tanah. Secara spasial faktor pendidikan paling berpengaruh terhadap minat mensertifikatkan tanah di daerah aksesbilitas rendah; sedangkan faktor tingkat pengetahuan tentang sertifikat paling berpengaruh terhadap minat mensertifikatkan tanah di daerah aksesbilitas tinggi.
MUSIM DI INDONESIA : TREND DAN VARIASI MULTI-DEKADE
ABSTRAK Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca telah diyakini sebagai salah saru penyebab terjadinya perubahan iklim global yang dapat mempengaruhi berbagai sektor kehidupan. Agar kemungkinan dampak yang timbul dapat dicermati secara seksama, proyeksi mengenai perubahan iklim sangat penting dilakukan. Sehingga, salah satu strategi nasional jangka panjang yang akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah mengembangkan kajian ilmiah dan teknologi untuk sistem pemantauan cuaca dan iklim. Paper ini secara umum bertujuan untuk mencari bukti empirik guna mengetahui apakah perubahan musim di Indonesia memang telah terjadi. Secara khusus ada dua tujuan yang akan dicapai dalam paper ini, yaitu (1) mengetahui eksistensi dan arah kecenderungan hujan musiman; dan (2) mengetahui apakah variasi ilmiah multi-dekade juga terjadi di Indonesia. Untuk mencapai tujuan ini, telah digunakan indek hujan Indonesia yang merentang dan tahun 1879 hingga 1999. Indek ini meliputi indek hujan musim kemarau dan indek hujan musim hujan. Keberadaan suatu trend secara kualitatif dilihat dan garis trend polynomial yang tergambar dan secara kuantitatif dikaji dan signifikansinya berdasarkan metode ranking Spearman. Sementara itu, variasi multi-dekade diketahui dengan menerapkan metode perataan berjalan dengan dasar perataan sepanjang 30 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) semenjak 1879 hingga 1999, hujan yang terjadi pada musim kemarau maupun musim hujan cenderung menurun. Namun demikian, secara statistic, trend penurunan pada musim kemarau tidak signifikan, sementara trend penurunan musim hujan adalah signifikan; (2) sebagaimana halnya yang dialami negara lain yang terpengaruh oleh monsoon, hujan di Indonesia juga menunjukkan adanya variasi multi-dekade. Perubahan multi-dekade itu berkisar pada siklus tiga puluh tahunan.
ANOMALI IKLIM DAN MITIGASI KEBAKARAN HUTAN DI INDONESIA
ABSTRAK Iklim ekstrim diasosiasikan dengan anomali atau penyimpangan iklim (climate variability), yaitu penyimpangan iklim dart keadaan normal di suatu tempat. _Salah satu bentuk penyimpangan iklim adalah El-Nino dan La-Nina yang berasosiasi dengan Osilasi Selatan (ENSO, El-Nino Southern Oscillation). Episode ENSO muncul tahun 1982/83, 1991, 1994, 1997/98 yang telah mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan di Indonesia. Dampak kebakaran hutan tahun 1997 seluas 83.864 hektar di Kalimantan menyebabkan kerugian senilai Rp 248,59 milyar. Gejala awal kebakaran hutan dapat dideteksi melalui citra satelit NOAA berupa munculnya titik-titik panas/api (hot spots). Upaya mitigasi kebakaran hutan dilakukan melalui : (a) zonasi wilayah rawan kebakaran, (b) pengelolaan kawasan hutan dengan membuat "fire breaker", mosaik vegetasi yang tahun kebakaran, (c) pengembangan hutan kemasyarakatan sebagai "buffer zone", (d) pengembangan sistem peringatan dint kebakaran hutan, dan (e) penyediaan dana untuk pelatihan penanggulangan bencana dan penelitian ilmiah tentang kebakaran hutan
PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MONITORING PERKEMBANGAN MORFOLOGI DELTA SUNGAI JENEBERANG MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT MULTI TEMPORAL
ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan citra Landsat TM dan ETM+ untuk memantau perkembangan morfologi dan perubahan bentuk lahan kepesisiran yang terjadi pada delta Sungai Jeneberang selama rentang waktu 1989-2006 serta mengkaji kemampuan citra penginderaan jauh terutama citra Landsat dalam mendeteksi perubahan geomorfologi yang terjadi pada daerah delta Sungai Jeneberang. Daerah penelitian meliputi kawasan delta Sungai Jeneberang Kota Makassar Propinsi Sulawesi Selatan. Metode perolehan data primer adalah dengan menggunakan citra penginderaan jauh time series dan diolah dengan Sistem Informasi Geografis (SIG), pengukuran di lapangan (gelombang, arus, pasang surut) dan analisis sampel sedimen tersuspensi di laboratorium. Data sekunder dikumpulkan dari Badan Meteorologi dan Geofisika berupa peta, gambar, data statistik, data meteorologi serta laporan tertulis. Analisis data dilakukan dengan integrasi antara analisis kuantitatif dan analisis deskriptif dimana data-data hasil pengukuran lapangan digunakan untuk mendukung analisis deskriptif yang didapatkan melalui interpretasi citra penginderan jauh. Pengolahan SIG akan menghasilkan peta-peta perubahan garis pantai yang terjadi pada delta Sungai Jeneberang selama rentang waktu 1989-2006. Hasil penelitian diperoleh adanya fluktuasi panjang garis pantai dan luasan delta, bentuk daratan delta secara umum tidak mengalami perubahan yakni dari tahun 1989 ke tahun 2006 yakni berbentuk multi lobate kemudian berbentuk lobate. Delta mengalami perluasan rata-rata sebesar 8,84 ha/tahun namun pada tahun 2001-2005 mengalami pengurangan luas sebesar 2,38 ha/tahun. Panjang garis pantai bertambah rata-rata 23,10 km/tahun, namun pada tahun 1999-2001 garis pantai berkurang karena abrasi sebesar 37,02 km/tahun. Pengaruh fluvial dan pengaruh marin memainkan peranan yang hampir sama pada muara sungai Jeneberang sehingga proses abrasi dan sedimentasi terjadi bergantian pada beberapa bagian delta. Perubahan musim juga sangat dominan dalam pembentukan delta Sungai Jeneberang dimana pada musim barat debit sungai yang tinggi membawa sejumah sedimen dan diendapkan pada bagian muara. Luas areal permukiman di kawasan delta dari tahun 1989-2006 bertambah sebesar 1392 ha. ABSTRACT Objective of this research was exploit the image of Landsat TM and ETM+ to monitor geomorphology of Jeneberang river delta, change of coastline during 1989-2006 and also to study the ability of satellite image especially Landsat image for detecting geomorphology changes on Jeneberang River delta. Research area covers the area of Jeneberang River delta, Makassar Regency, South Sulawesi Province. Primary data obtained by using time series satellite images afterwards it processed with the Geographical Information System (GIS);. field surveys to measure wave, tide, current, suspended sediment. Secondary data collected from Chamber of Meteorology and Geophysics and also another source such as topographic maps, pictures, statistic data, from research reports. Data analysis conducted with the integration of quantitative analysis and descriptive analysis where data from field measurement used to support the descriptive analysis by interpretation satellite image. Processing data using GIS obtain geomorphology change map at the Jeneberang River delta during 1989-2006. The result of research is obtained fluctuation of coastline and area of delta. Landform of delta continent have changed from multi lobate shape become lobate shape. Area of delta increasing about 8.84 ha/year but in 2001 to 2005, area of delta experiencing of reduction about 2,38 ha/year. Length of coastline increasingabout 23.10 km/year, but in 1999 to 2001 coastline decrease about 37.02 km/year because abrasion. Fluvial and marine influence play important role on the landform of Jeneberang River delta. Abrasion and sedimentation process happened at some part of delta. Season change also very dominant in forming of Jeneberang River delta where in the rainy season it charge sediment load to the current river and accumulated on the river mouth. Settlement area of delta from 1989 to 2006 increasing about 1392 ha
Keanekaragaman dan Pola Komunitas Hutan Mangrove di Andai Kabupaten Manokwari
ABSTRAK Dalam upaya mempertahankan kelestarian hutan mangrove, informasi tentang potensi sumberdaya mangrove sangat diperlukan sebagai data dasar bagi perencanaan pengelolaan dan pemanfaatan hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, keanekaragaman dan pola komunitas di hutan mangrove Andai, Kabupaten Manokwari. Areal penelitian dibagi menjadi 2 bagian oleh sungai Andai, dimana bagian pertama terdiri dari 6 releve dan bagian kedua 7 releve. Pada setiap releve dibuat petak pengamatan untuk tingkat semai, pancang dan pohon. Data yang dicatat meliputi jenis, jumlah, diameter, tinggi, serta data parameter lingkungan. Data dianalisis dengan menghitung indeks nilai penting, menentukan pola pengelompokkan komunitas dengan metode ordinasi 2 dimensi, dan menghitung nilai indeks keanekaragaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis pada tingkat semai terdiri dari 31 jenis mangrove (19 jenis mangrove sejati, 12 jenis mangrove ikutan). Tingkat pancang terdiri dari 29 jenis mangrove (18 jenis mangrove sejati, 11 jenis mangrove ikutan). Tingkat pohon terdiri dari 30 jenis mangrove (20 jenis mangrove sejati dan 10 jenis mangrove ikutan). Mangrove sejati meliputi 7 family. Sedangkan mangrove ikutan meliputi 13 family. Dominasi jenis mangrove pada tingkat semai yaitu Bruguiera parviflora (INP=481.71), pada tingkat pancang didominasi jenis Rhizophora apiculata (INP = 903.27) dan pada tingkat pohon didominasi oleh jenis Rhizophora apiculata (INP=664.91). Pola pengelompokkan komunitaspada tingkat semai, pancang dan pohon terbagi menjadi 3 (Tiga) kelompok komunitas. Sedangkan faktor lingkungan yang memiliki hubungan signifikan dengan pola pengelompokkan komunitas di tingkat semai, pancang dan pohon pada masing-masing releve adalah tekstur tanah (lempung, debu, pasir), salinitas tanah dan air, pH tanah, bahan organik, P tersedia, K tersedia dan Ca. Nilai indeks keanekaragaman menunjukkan bahwa nilai terendah terdapat pada releve 2 sedangkan nilai tertinggi ada pada releve 3. Namun secara keseluruhan nilai indeks keanekaragaman sedang untuk setiap tingkatan pertumbuhan pada semua releve. Nilai tersebut menunjukkan bahwa perkembangan ekosistem pada hutan mangrove Andai tergolong sedang. ABSTRACT In an effort to maintain the sustainability of mangrove forests, information about the potential of mangrove resources are needed as basic data for management planning and utilization of mangrove forests. This study aims to determine species composition, diversity and community patterns in mangrove forest, the Regency of Manokwari. Research area is divided into 2 parts by the river, where the first part consists of 6 releve and the second part 7 releve. In each releve plot observations made for the level of seedlings, saplings and trees. The data recorded includes species, number, diameter, height, and environmental parameters data. Data were analyzed by calculating the index key value, determine the pattern of community grouping with a 2-dimensional ordination methods, and calculate the value of diversity index. The results showed that the composition of species at the seedling level consists of 31 species of mangrove (19 true mangrove species, 12 species of mangrove follow-up). Saplings level consists of 29 species of mangrove (18 true mangrove species, 11 species of mangrove follow-up). Tree level consists of 30 species of mangrove (20 true mangrove species and 10 mangrove species follow-up). True mangrove cover 7 family. While mangrove follow-up includes 13 family. Dominance of mangrove seedlings at the level of Bruguiera parviflora (IVI = 481.71), at the saplings level Rhizophora apiculata dominated (IVI = 903.27) and at the tree level dominated by Rhizophora apiculata (IVI = 664.91). Community grouping pattern at the level of seedlings, saplings and trees were divided into 3 (three) groups of the community. While environmental factors have a significant relationship with patterns of community-level grouping of seedlings, saplings and trees in each releve was the soil texture (clay, dust, sand), soil and water salinity, soil pH, organic matter, available P, K is available and Ca. Diversity index value indicates that the lowest values found in releve 2 while the highest value on releve 3. But overall diversity index values are for each level of growth in all releve. Value indicates that the development of the mangrove forest ecosystem classified at the medium
Analisis Kerusakan Lahan untuk Pengelolaan Daerah Aliran Sungai melalui Integrasi Teknik Penginderaanjauh dan Sistem Informasi Geografis
ABSTRAK DAS merupakan ekosistem yang sangat penting bagi kehidupan sehingga perlu dikelola dan dijaga kelestariannya. Berbagai upaya telah dilakukan baik oleh Pemerintah, swasta, maupun masyarakat dalam rangka pengelolaan DAS Namun demikian masih banyak DAS di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa yang berada dalam kondisi kritis. Salah satu DAS kritis yang ada di Pulau Jawa dan perlu untuk segera ditangani adalah DAS Blukar yang terletak di Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji kondisi limpasan DAS Blukar, (2) mengkaji kondisi erosi DAS Blukar, (3) melakukan analisis tingkat kerusakan lahan DAS Blukar, dan (4) merumuskan strategi pengelolaan untuk konservasi lahan di DAS blukar. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Landsat 7 ETM+ dan citra SRTM sebagai data primer, dilengkapi dengan data sekunder berupa peta-peta pendukung, data statistik, dan hasil survey lapangan. Analisis limpasan dilakukan dengan metode overlay peta-peta parameter berdasar model Cook. Analisis erosi juga dilakukan dengan metode overlay pada peta-peta parameter sesuai pendekatan USLE. Analisis kerusakan lahan dilakukan dengan metode matching pada hasil analisis limpasan dan erosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAS memiliki kondisi limpasan tinggi. Hal ini ditunjukkan dimana DAS Blukar didominasi oleh kelas limpasan ekstrim (80,69%). Kecamatan yang paling rentan terhadap limpasan adalah Kecamatan Patean. Kondisi erosi di DAS Blukar cukup bervariasi, dimana yang paling dominan adalah kelas sangat ringan (36,40%). Kelas erosi sangat berat terdapat sekitar 17,93% dimana kecamatan yang paling rentan terhadap erosi adalah Kecamatan Sukorejo. Tingkat kerusakan lahan di DAS Blukar juga bervariasi, dimana yang paling dominan adalah kelas kerusakan sedang (49,21%). Namun demikian kelas kerusakan tinggi dan sangat tinggi juga cukup banyak dijumpai di DAS Blukar. Kecamatan yang paling rentan terhadap kerusakan lahan adalah Kecamatan Sukorejo dan Patean. Upaya konservasi yang dapat dilakukan di DAS Blukar adalah penanaman kembali pada lahanlahan terbuka yang ada di daerah hulu, konversi lahan pertanian semusim menjadi tanaman tahunan terutama pada lereng-lereng diatas 40%, serta pengggunakan mulsa jerami dan penghalang dengan tanaman (perdu) pada tanaman pertanian. Secara teknik sipil, beberapa bentuk konservasi yang dapat diterapkan adalah guludan, teras kredit, bronjong, serta pembangunan dam penahan dan dam pengendali. ABSTRACT Watershed is very important ecosystem, so it needs to be managed and preserved. Various efforts have been made either by the Government, private sector, or communities to manage the watershed in order to prevent its extinction. However there are many watersheds in Indonesia, especially in Java Island which are in critical condition. One of the critical watershed in Java Island and need to be managed is Blukar Watershed which located in Kendal Regency, Central Java Province. The purposes of this research are: (1) assess the surface run-off condition in Blukar Watershed, (2) assess the erosion condition in Blukar Watershed, (3) analyze the level of land degradation in Blukar Watershed,and (4) formulate management strategies for land conservation in Blukar Watershed. Data source that used in this research are Landsat 7 ETM+ imagery and SRTM imagery as primary data, supported by secondary data from other maps, statistical data, and result of field survey. Surface run-off analysis performed using overlay method to every parameter maps based on Cook’s model. Erosion analysis also performed using overlay method to every parameter maps based on USLE.model. while land degradation analysis performed using matching method to the result of surface run-off analysis and erosion analysis. The results of this research show that Blukar Watershed has high potential of surface run-off. This indicated where Blukar Watershed dominated by extreme class of surface run-off (80,69%). The most vulnerable district from surface run-off is Patean. Erosion in Blukar Watershed has various condition, where the most dominant class is very light (36,40%). Beside that there is about 17,93% of very wieght class of erosion. Sukorejo is the most vulnerable district from erosion in Blukar Watershed. The condition of land degradation in Blukar watershed also quite complex where the most dominant class is moderate (49,21%). However high class and very high class of land degradation also often found in Blukar Watershed. The most vulnerable districts from land degradation are Sukorejo and Patean. Conservation efforts that can be applied in Blukar Watershed are replanting the bare lands (reforestation) in the uplands area of watershed, land conversion from seasonal agricultural to annual crops, especially on slopes steepness above 40%, and combination used of straw mulch and plants barriers (shrubs) in agricultural crops. In civil engineering method, some conservation forms that can be applied are guludan, credit terrace, bronjong, barrier dams, and control dams.