Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
Perkawinan Anak di Kabupaten Grobogan
ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor predisposisi (status ekonomi rumah tangga, pendidikan anak, persepsi dan pengetahuan anak tentang perkawinan, budaya dan karakteristik orang tua), faktor pendukung (pekerjaan orang tua) dan faktor penguat (sikap tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemangku kebijakan) yang menjadi penyebab tingginya perkawinan anak di Kabupaten Grobogan. Metode dalam penelitian ini adalah metode kombinasi dengan pendekatan dua tahap, tahap awal adalah analisis data sekunder hasil Survei Pernikahan Dini yang dilakukan oleh Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan Universitas Gadjah Mada berkerjasama dengan PLAN Indonesia tahun 2011, dilanjutkan dengan metode kualitatif. Metode kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap orang tua, anak dan pemangku kebijakan guna memperoleh data akurat terutama mengenai hal-hal yang belum tercakup dalam data sekunder. Analisis diskriptif dilakukan dengan distribusi frekuensi, analisis Khai-Kuadrat (X2) untuk melihat perbedaan variabel dependen dan independen, variabel yang mempunyai perbedaan yang diikutsertakan dalam analisis multivariat dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status ekonomi rumah tangga, persepsi dan pengetahuan anak tentang perkawinan, serta persepsi dan pengetahuan orang tua tentang perkawinan mempunyai hubungan bermakna dengan perkawinan anak. Variabel pendidikan anak, pendidikan orang tua dan pekerjaan orang tua tidak mempunyai hubungan bermakna dengan perkawinan anak. Hasil dari analisis kualitatif menunjukkan budaya menjadi faktor penyebab utama terjadinya perkawinan anak di Kabupaten Grobogan. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah setempat untuk mengatasi permasalahan perkawinan anak antara lain adalah peningkatan pendapatan ekonomi rumah tangga untuk keluarga miskin. Budaya pada masyarakat yang harus di rubah dari budaya malu kalau tidak melakukan perkawinan anak, menjadi malu kalau melakukan perkawinan anak. Mengikis persepsi masyarakat tentang perkawinan anak yang tinggi dengan cara, antara lain dengan sosialisasi dari para pemangku kebijakan dari unsur pemerintah, termasuk tokoh masyarakat, tokoh agama dapat memberikan pembinaan dan pemahaman tentang dampak dan bahaya perkawinan anak. ABSTRACT The purpose of this study to determine predisposing factors (economic status of the household, children's education, perception and knowledge of children about marriage, culture and characteristics of the parents), supporting factor (the work of parents) and reinforcing factors (attitude of community leaders, religious leaders and policy makers ), which became the cause of high child marriage in Grobogan. The method in this research is method in combination with a two-stage approach, the initial stage is a secondary data analysis Early Marriage Survey conducted by the Center for Population and Policy Studies, Gadjah Mada University in collaboration with Plan Indonesia in 2011, followed by a qualitative method. Qualitative methods in-depth interviews conducted with parents, children and policy makers in order to obtain accurate data, especially regarding matters that are not covered in the secondary data. Descriptive analysis performed by the frequency distribution, Khai analysis-Square (X2) to see the difference dependent and independent variables, variables that have differences that were included in the multivariate analysis with logistic regression. The results showed that the economic status of the household, children's perceptions and knowledge about marriage, as well as the perceptions and knowledge of parents about the marriage had a significant relationship with the child marriage. Variable children's education, parents' education and occupation of parents do not have a meaningful relationship with the child marriage. Results of the qualitative analysis showed culture constitutes the main factor in the occurrence of child marriages Grobogan. The efforts made by local authorities to overcome the problems of child marriage among others, is the increase in household economic income for poor families. Culture in society that should be changed from a culture of shame if you do not perform marriages of children, be a shame if the mating child. Eroding public perception of high child marriage by way of, among others, with the socialization of the stakeholders from government, including community leaders, religious leaders can provide guidance and understanding of the impact and dangers of child marriage
Studi Pengembangan Pertanian Padi Sawah Organik Berdasarkan Kesesuaian Lahan dan Potensi Pupuk Organik dari Limbah Pertanian di Kecamatan Temon Kabupaten Kulon Progo
ABSTRAK Revolusi Hijau telah menimbulkan berbagai dampak negatif, baik pada lingkungan, keanekaragaman hayati pertanian, maupun sosial ekonomi masyarakat. Tujuan penelitian ini mengkaji: 1) tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah, 2) potensi pupuk organik dari limbah pertanian,3) karakteristik sosial ekonomi petani, dan 4) merumuskan strategi pengembangan pertanian padi sawah organik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Teknik pengambilan sampel dengan purposive area sampling untuk aspek fisik lahan dan purposive sampling untuk sampel petani. Teknik pengolahan data dengan Software LCLP, tabel frekuensi, dan analisis SWOT. Hasil penelitian dan pembahasan menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah di daerah penelitian adalah sesuai marginal (S3) dengan luas 1.165,77 ha atau 99,11% dan tidak sesuai saat ini (N1) dengan luas 10,51 ha atau 0,89%, potensi pupuk organik dari limbah pertanian pada musim tanam I adalah 5.070,05 ton dan musim tanam II adalah 3.595,04 ton, karakteristik sosial ekonomi internal petani memiliki kekuatan lebih baik dibandingkan karakteristik sosial ekonomi eksternal petani bagi pengembangan pertanian padi sawah organik di daerah penelitian, strategi pengembangan pertanian padi sawah organik di Kecamatan Temon dapat dilakukan sebagai berikut: (a) pemberian penghargaan/apresiasi kepada petani yang telah berhasil mengembangkan pertanian organik, (b) pemerintah perlu membantu petani dalam mendapatkan sertifikat produk pertanian organik, (c) pembuatan lahan percontohan/demplot pertanian organik, (d) pemberdayaan peran kelembagaan, (e) kegiatan sosialisasi kepada petani, konsumen pedagang, pemerintah daerah, penyuluh, dan institusi terkait lainnya, (f) mengintegrasikan pembangunan bidang pertanian dan peternakan,(g) pelatihan teknologi pembuatan pupuk organik dan pestisida organik, (h) meningkatkan produksi pertanian organik, (i) bekerjasama dengan kelompok tani semi organik untuk mengembangkan pertanian organik, (j) mengusahakan padi varietas lokal, (k) meningkatkan penggunaan pupuk organik, (l) kebijakan penyediaan dan subsidi sarana dan prasarana pertanian organik, (m) petani organik harus menjaga kepercayaan kepada konsumen, (n) pengembangan kualitas sumberdaya manusia melaui pendidikan dan pelatihan. ABSTRACT The Green Revolution has caused many negative impacts both on the environment, agricultural biodiversity, and socioeconomic conditions. The research objective is to assess: 1) the suitability of land for rice crops, 2) the potential of organic fertilizer from agricultural waste, 3) socio-economic characteristics of farmers, and 4) formulating development strategy of organic paddy farming. The method used in this study is a survey method. The sampling technique purposive sampling area for the physical aspects of land and purposive sampling to sample farmers. Software data processing techniques with LCLP, frequency table, and a SWOT analysis. Results of research and discussion of quantitative and qualitative analysis. The results showed that land suitability classes for rice crops in the study area is marginally suitable (S3) with an area of 1165.77 ha or 99.11% and is not appropriate at this time (N1) with an area of 10.51 ha, or 0.89% , the potential of organic fertilizer from agricultural waste in the first planting season was 5070.05 tons and the growing season II is 3595.04 tons, internal social and economic characteristics of farmers have better strength than the external socio-economic characteristics of farmers for the development of organic farming rice paddy fields in the study area , strategy development of rice farming organic farm in Temon can be done as follows: (a) the award / appreciation to the farmers who have managed to develop organic farming, (b) the government should help farmers in getting the certificate of organic agricultural products, (c) the manufacture of land pilot / demonstration plots of organic farming, (d) the empowerment of the role of institutions, (e) dissemination to farmers, consumers merchants, local governments, extension agents, and other relevant institutions, (f) integrating the development of agriculture and animal husbandry, (g) training of manufacturing technology organic fertilizers and organic pesticides, (h) increases the production of organic farming, (i) in cooperation with farmer groups semi-organic to develop organic farming, (j) promoting paddy local variety, (c) increase the use of organic fertilizers, (l) a policy provision and subsidized infrastructure organic farming, (m) organic farmers must maintain the trust of the consumer, (n) developing human resources through education and training
Penurunan Budidaya Tanaman Mendong (Heleocharis Chaetaris Boeck.L) sebagai Bahan Baku Kerajinan Tangan di Padukuhan Parakan Kulon dan Plembon Desa Sendangsari, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Yogyakarta
Berkembangnya desa dimulai dari prinsip-prinsip kearifan lokal yang ada. Salah satu contoh di Desa Sendangsari, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman dalam pemanfaatan dan pengolahan tanaman mendong. Tanaman mendong yang telah dibudidayakan, di Padukuhan Parakan Kulon, dan Padukuhan Plembon mengalami penurunan, berkurangnya tanaman mendong yang dijadikan bahan baku Handicraft berdampak kepada keberlanjutan dari petani dan pengrajin mending. Penelitian ini menggunakan metode survei, dengan pendekatan analisis spasial dan temporal. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada lahan budidaya mendong, untuk mengetahui kesesuaian syarat tumbuh tanaman mendong dan dianalisis dengan menggunakan Weight Factor Matching. Responden yang diambil untuk mendapatkan informasi dilakukan dengan pendekatan Indepth Interview. Pendekatan analisis spasial dan temporal dalam mengevaluasi penurunan budidaya mendong pada tahun 2009 dan 2014 dilakukan, untuk mendapatkan faktor dominan dalam penurunan budidaya mending. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Kesesuaian syarat tumbuh tanaman mendong di Padukuhan Parakan Kulon, dan Padukuhan Plembon, Desa Sendangsari dalam Weight Factor Matching termasuk cukup sesuai (S2) dengan persentase 64,37 %. Sebagian lahan budidaya mendong yang ada tergolong dalam kategori sesuai marginal (S3), dan kategori tidak sesuai (N) yang dipengaruhi oleh faktor pembatas kadar air yang kurang di dalam tanah untuk syarat tumbuh mendong. (2) Faktor penurunan tanaman mendong terletak pada biaya produksi yang tinggi tidak sebanding dengan nilai penjualan dari kerajinan anyaman mendong, anyaman mendong yang mudah terserang jamur, dan aspek pemasaran yang terbatas menjadi faktor kendala dalam pembudidayaan mendong berkelanjutan. (3) Distribusi budidaya tanaman mendong terhadap luasan sebaran tanaman mendong mengalami penurunan. Pada tahun 2009 lahan budidaya tanaman mendong sebesar 4o Ha, mengalami penurunan pada tahun 2014 dengan luas lahan budidaya 9 Ha. Tingkat pemasaran yang menurun memerlukan pendekatan strategi pemasaran dalam pengembangan wilayah perdesaa
Kajian Kualitas Air Sungai Code Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
ABSTRAK Status pencemaran dan beban daya tampung Sungai Code yang besar menunjukkan besarnya bahan pencemar yang masuk ke sungai, selain itu Sungai Code juga merupakan salah satu sungai yang terkena dampak aliran lahar din-gin Erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010. Erupsi meningkatkan input sedimen dan debit air Sungai Code, serta men-gubah substrat dasar perairan. Tujuan penelitian ini : (1) Menganalisis kualitas air Sungai Code secara fisik dan kimia; (2). Membandingkan kualitas air Sungai Code pasca erupsi Merapi 2010 berdasarkan paramater pH, sulfida, dan besi total, dengan kondisi sebelum erupsi; (3). Menganalisis kondisi makrozoobentos pasca erupsi Gunungapi Merapi 2010, serta menganalisis pengaruh kualitas air sungai terhadap makrozoobentos; dan (4). Menganalisis kerugian ekonomi dan mengetahui persepsi terhadap sungai dari sebagian masyarakat yang memanfaatkan air sungai untuk irigasi pertanian dan perikanan keramba.Pengumpulan data dengan metode survei. Lokasi pengambilan sampel ditentukan secara pur-posive sampling yang mewakili kawasan bagian tengah Sungai Code (sebelum kota dan tengah kota), dan bagian hilir Sungai Code kawasan (setelah kota), meliputi setengah panjang Sungai Code. Sampel air dianalisis secara fisika kimia di Laboratorium. Sampel makrozoobentos diidentifikasi kemudian dianalisis dengan pendekatan kemelimpahan, dom-inansi, dan keragaman, serta regresi. Hasil wawancara untuk menilai persepsi masyarakat dan kerugian ekonomi akibat banjir lahar dingin dianalisis dengan crosstab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter DO, BOD, COD, dan ni-trat, tidak memenuhi baku mutu air kelas I di beberapa lokasi. Adapun kekeruhan, fosfat, dan sulfida, hampir di seluruh lokasi tidak memenuhi baku mutu. Menurunnya kualitas DO, BOD, COD, nitrat, dan fosfat disebabkan oleh limbah yang masuk ke sungai, sedangkan menurunnya kualitas sulfida dan kekeruhan, selain dari limbah juga disebabkan oleh erupsi Merapi. Makrozoobentos yang ditemukan di Sungai Code ada 5 genus yaitu Chironomous, Simulium, Ephemer-optera, Lymnaea, dan Tubifex. Suhu, kecepatan arus dan DO berpengaruh pada menurunnya keragaman dan dominansi bentos. Status Sungai Code pasca erupsi tercemar ringan berdasarkan indeks keragaman bentos = 1,69. Pendapatan masyarakat dari sawah dan perikanan keramba sungai pasca banjir lahar dingin menurun antara Rp.500.000,00-Rp. 2.000.000,00/ responden/ panen. ABSTRACT Pollution status and load capacity of Code River which great shows total of pollutants entering the river, beside of the Code River also one of the affected rivers of lava Merapi Volcano Eruption at 2010. Eruption increase input of sediment and water discharge Code River and change the base substrate waters. The aim of this study: (1) Analyze the Code River water quality of physical and chemical; (2) Compare the Code River water quality after the eruption of Merapi in 2010 based on the parameters pH, sulfide, and total iron, with condition before the eruption; (3) Analyze the conditions of macrozoobenthos after eruption of Merapi Volcano in 2010, and to analyze the effect of water quality on macrozoobenthos; and; (4) Analyze the economic loss and know perception of most people on the river water for agriculture irrigation and fishpond. Location of sampling is determined by purposive sampling to represent the central part of the Code River (before town and downtown), and the lower of the Code River (after city), include a half the length of the Code River. The water sampling were analyzed in the laboratory to examine quality water of chemical and physics. Macrozoobenthos sampling were identified and analyzed with the approach of abundance, dominant, and diversity, and regression. Results of interview to assess public perceptions and economic loss due to lava flood were analyzed by crosstab. The results show parameters of DO, BOD, COD, and nitrat. Results of interview to assess public perceptions and economic loss due to lava flood were analyzed by crosstab. The results show parameters of DO, BOD, COD, and nitrat, not comply with water quality standard of class I in some locations. Also, turbidity, phosphates and sulfides, nearly all locations not comply quality standards. Decrease of quality of DO, BOD, COD, nitrates, and phosphates were caused by waste into the river, while the declining quality of sulphide and turbidity, besides from waste also caused by eruption of Merapi. Macrozoobenthos were found in the River Code as genus as Chironomous, Simulium, Ephemer-optera, Lymnaea, and Tubifex. Temperature, current speed and DO effect on decreasing the diversity and dominance benthos. Status of Code River after eruption has polluted with the diversity index of benthic = 1.69. Income of farmer and fisherman of river after lava flood has descreasing between in IDR 500.000,00 until IDR 2,000,000.00 / respondent / harvest
Integrasi Foto Udara dan Sistem Informasi Geografis untuk Evaluasi Penentuan Letak Bangunan Candi di Wilayah Prambanan, Klaten, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta
ABSTRAK Sebagai bangunan keagamaan, bangunan candi didirikan atau dibangun berdasarkan syarat tertentu. Dikenal beberapa kitab pedoman pembangunan candi seperti Manasara, Silpasastra, Vastupurusa, Kashyapasilpa. Pedoman pembangunan candi tersebut tidak hanya berlaku di India saja tetapi juga di Indonesia dan begitu juga di wilayah Prambanan. Lahan yang sesuai adalah lahan yang subur, datar, jenis tanah yang baik, permeabilitas baik, tidak mengandung gas atau racun, serta mudah memperoleh air. Kesesuaian lahan merupakan tujuan utama dari penelitian ini. Penelitian dilakukan terhadap lahan di wilayah Prambanan meliputi Kecamatan Kalasan dan Prambanan Kabupaten Sleman, DIY dan Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Digunakan data foto udara hitam putih skala 1:20.000 liputan wilayah Yogyakarta tahun perekaman 2001. Dari foto udara akan dilakukan interpretasi parameter fisik lahan yaitu bentuklahan dan penggunaan lahan. Parameter lainnya diperoleh dari data sekunder hasil penelitian yang telah dilakukan. Dilakukan interpretasi, digitasi, overlay analisis dan penilaian terhadap parameter fisik lahan dengan bantuan perangkat SIG dan diperoleh kelas kesesuaian lahan untuk bangunan candi. Diperoleh tiga kelas kesesuaian lahan untuk bangunan candi yaitu kelas S1 (Baik), S2 (Sedang) dan S3 (Buruk). Dari 11 bangunan candi terdapat sembilan candi yang terletak di lahan kelas S1 (Baik), dua candi di lahan kelas S2 (Sedang) dan tidak ada candi yang terletak di lahan kelas S3 (Buruk). Bangunan candi yang didirikan dengan persyaratan lahan secara konseptual dan tradisional berdasarkan kitab ternyata sesuai dengan kriteria kesesuaian lahan dalam pengetahuan modern. Integrasi antara data penginderaan jauh (foto udara) dan perangkat analisis SIG (ArcView) dapat digunakan untuk menyadap informasi parameter fisik lahan untuk memperoleh kelas kesesuaian lahan untuk bangunan candi di wilayah Prambanan. ABSTRACT As a religious building, the temple was founded or constructed based on certain conditions. Known some as the book of temple construction guidelines as Manasara, Silpasastra, Vastupurusa, Kashyapasilpa. Temple construction guidelines is not only apply in India, but also in Indonesia and so also in the Prambanan. Suitable land is fertile land, flat, kind of good soil, good permeability, contains no gas or toxic and easy to get water. Land suitability is the main of this research. Research carried out on Prambanan area includes the Kalasan and Prambanan sub-district Sleman Regency, Yogyakarta and Prambanan sub-district, Klaten regency, Central Java. Data was used panchromatic aerial photographs scale of 1: 20,000 coverage of Yogyakarta recording year 2001. From the aerial photo will intrepret using physical parameter, namely landforms and land use. Other parameters obtaine from secondary data from results of previous research. Interpretation, digitization, overlay analysis and assessment of the physical parameters use GIS tool and obtaine land suitability category for temple. There are three category of land suitability for temple is S1 (Good), S2 (moderate) and S3 (Bad). From the 11 temple, there are nine temples located in the S1 (Good), two temples in S2 (moderate) and no temples in S3(Poor). The temple building was established with the requirements land in conceptual and traditional based on the book with the criteria of land suitability in modern science. The integration between remote sensing data (aerial photos) and analysis tools GIS (ArcView) can be used to extract physical parameters information to obtain land suitability categories in Prambanan Temple building in the region
Pemodelan Bahaya Banjir dan Analisis Risiko Banjir Studi Kasus : Kerusakan Tanggul Kanal Banjir Barat Jakarta Tahun 2013
ABSTRAK Bangunan pengendali banjir seperti tanggul pada Kanal Banjir Barat di Jakarta memiliki potensi kerusakan yang dapat mengakibatkan terjadinya banjir tanggul dan berdampak pada daerah di sekitarnya. Kejadian banjir tanggul pada tahun 2013 telah menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar sehingga diperlukan pemodelan bahaya banjir dan penilaian kerentanan serta analisis risiko pada daerah terdampak banjir tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun peta risiko kerugian banjir pada daerah yang mempunyai potensi rawan kerusakan tanggul di sekitar Kanal Banjir Barat. Tahapan dalam analisis penelitian ini meliputi analisis hidrologi, analisis hidraulika, penilaian kerentanan bangunan dan analisis risiko kerugian banjir. Pemetaan genangan banjir dilakukan dengan berdasarkan pada besarnya volume limpasan yang keluar dari badan tanggul sebagai hasil simulasi runtuhnya tanggul. Penilaian kerentanan bangunan dilakukan dengan memodifikasi model PTVA yang selanjutnya digunakan dalam analisis risiko untuk mengetahui berbagai tingkatan risiko kerugian bangunan pada daerah terdampak banjir tanggul. Hasil pemodelan bahaya banjir pada kejadian banjir tahun 2013 digunakan untuk mengetahui karakteristik kerusakan tanggul pada Kanal Banjir Barat. Besarnya volume limpasan pada kerusakan tanggul yang terjadi pada tahun 2013 sebesar 744.700 m3 dengan luas area terdampak banjir sebesar 39,2 Ha, sedangkan besarnya volume limpasan pada titik potensi rawan kerusakan lainnya sebesar 160.750 m3 dengan luas area terdampak banjir sebesar 9,5 Ha. Daerah terdampak banjir tanggul pada titik rawan kerusakan lainnya tersebut mencakup sebagian wilayah Kelurahan Kota Bambu Utara dan Kelurahan Jati Pulo. Hasil akhir dari perhitungan analisis risiko spesifik bangunan secara kuantitatif menunjukkan bahwa lingkungan RW II pada Kelurahan Kota Bambu Utara merupakan daerah yang mempunyai tingkat risiko paling tinggi terhadap banjir dengan jumlah risiko spesifik bangunan mencapai Rp 737,72 Juta dari total risiko spesifik bangunan sebesar Rp 1,97 Miliar. ABSTRACT The structure of the canal; such as its levee in Jakarta; has a potential to fail that can cause flooding to the surrounding area. The levee breach in 2013 had caused major economy loss; thus there is a need to develop a model of the hazard and its risk analysis to the area affected. The purpose of this research is to create risk map from flood hazard to the potential affected area where the levee might fail again in the West Flood Canal. Steps taken for the research analysis are hydrological analysis; hydraulic analysis; building vulnerability assessment and risk analysis.The flood hazard map was created from the modeling of levee breachbased on volume of flow leaving from the result of simulation. Building vulnerability assessment was conducted using a modified PVTA model then used to calculate the risk analysis to find out the level of risk of the buildings in the affected areas. The outcome shows that the characteristic of the damage in the levee for the 2013 levee breach on the West Flood Canal was used for the model. The volume of the outflow in 2013 levee breach is 744.700 m3 affecting the area of 39;2 ha;on the other hand; the volume of the outflow on the predicted area is 160.750 m3 affecting an area of 9;5 Ha. Another affected area for potential levee breach consists of Kelurahan Kota Bambu Utara and Kelurahan Jati Pulo. The end result of the risk analysis shown that RW II in Kelurahan Kota Bambu Utara is the area that has the highest risk from flood with total loss from the building in RW II is up to Rp 737;72 million from the overall building loss is Rp 1;97 billion
Risiko Kerugian Akibat Longsor di Desa Cibanteng, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat
ABSTRAK Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki riwayat kejadian longsor tertinggi di Indonesia. Salah satu wilayah di Provinsi Jawa Barat yang sering terjadi longsor adalah Desa Cibanteng, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur. Pada dua tahun terakhir telah terjadi dua kali pergerakan tanah di daerah yang berbeda di Desa Cibanteng. Penelitian ini bertujuan memprediksi besar risiko kerugian bencana longsor pada masa akan datang sehingga bantuan saat terjadi longsor dapat dioptimalkan. Untuk memprediksi besar risiko kerugian digunakan variabel bahaya, kerentanan dan kapasitas kebencanaan longsor. Masing-masing variabel memiliki beberapa indikator tertentu yakni penggunaan tanah, lereng, dan kepadatan penduduk. Penghitungan risiko kerugian dilakukan menggunakan metode overlay masing-masing variabel. Hasil penelitian adalah berupa prediksi risiko kerugian sebesar Rp. 10,1 milyar. Besar risiko kerugian tersebut didapat dari nilai bangunan, jaringan jalan, jaringan listrik dan produktivitas pertanian. Penelitian ini menunjukkan bahwa wilayah risiko bencana longsor mendominasi dibagian selatan Desa Cibanteng. ABSTRACT West Java Province is a province have a high landslide history in Indonesia. One of the area in West Java Province which often occuring a landslide is Cibanteng Village, Sukaresmi District, Cianjur Regency. In the last two years has been soil movement twice in different areas in the village Cibanteng. This study aims to predict big losses from landslides in future so that assistance can be optimized during a landslide. To predict the risk of loss used hazards variable, vulnerabilities and capacities of landslide disasters. Each variables have some specific indicators namely landuse, slope, and population density. The calculation of losses risk using overlay method in each variable. The results are prediction of losses risk of Rp. 10.1 billion. Great of losses risk can be assessed from value of building , road networks, electricity networks and agricultural productivity. This study shows that risk of landslides dominated in southern of Cibanteng Village
HIDROSTRATIGRAFI DAN HIDROKIMIA AIRTANAH DI SEKITAR ROWO JOMBOR KECAMATAN BAYAT-KLATEN
ABSTRAK Untuk mempelajari tipe akuifer dan asal usul serta karakteristik airtanah, model hidrostratigrafi dan hidrokimia merupakan salah satu model yang dapat diterapkan. Hidrostratigrafi adalah suatu model untuk menggambarkan stratum geologis penyusun akuifer, yang di dalamnya berisi informasi tentang karakteristik airtanah. Hidrokimia merupakan model untuk menelusur asal usul pembentukan airtanah, yang didasarkan pada analisis komposisi ion-ion penyusunnya. Penyusunan hidrostratigrafi didasarkan pada hasil pendugaan geolistrik, sedang penentuan tipe hidrokimia airtanah dengan metode Diagram Piper Segiempat (Square Piper Diagram). Penelitian ini dilakukan di sekitar lembah Rawa Jombor, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Tujuan utama penelitian ini adalah : (a) mengetahui tipe akuifer dan tipe hidrokimia airtanah, dan (b) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi variasi karakteristik airtanah dan asal usul airtanah payau/asin di daerah penelitian. Manfaat penelitian ini adalah sebagai dasar untuk menentukan lokasi dan kedalaman sumur bagi penyediaan sumber air bersih di daerah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembah Rawa Jombor secara umum tersusu ole 2 tipe akuifer, yaitu akuifer bebas dan tertekan. Akuifer bebas meliputi akuifer bebas primer yang tersusun oleh endapan lempung pasiran volkan Merapi Muda, dan akuifer bebas sekunder yang tersusun oleh batugamping porous atay sekis-filit dengan banyak retakan dan sisipan kuarsa. Pada akuifer bebas primer banyak terdapat lensa-lensa airtanah payau-asin yang bervariatif antara satu tempat dengan tempat lain. Akuifer yang paling dalam adalah akuifer tertekan yang dibatasi oleh batuan malihan sekis-fill atau batugamping keras yang relatif kedap air. Pada umumnya akuifer tertekan terdapat di bagian timur rawa pada kedalaman >20 meter dan di bagian selatan rawa pada kedalaman >30 meter. Tipe hidrokimia airtanah di daerah penelitian dikelompokkan menjadi 5 tipe, yaitu tipe I (air bikarbonat, tawar), tipe II (air semi karbonat tawar), tipe III (air evaporite, payau-asin), tipe IV (air sulfat, payau), dan tipe Va yang merupakan awal pertukaran kation. Tipe III dan IV merupakan airtanah payau hingga asin yang banyak terdapat di bagian utara Rawa Jombor, yaitu di Tawang, Lebak, Bugel, dan Tanjungsari. Berdasarkan hidrostratigrafinya, airtanah kelompok ini merupakan lensa-lensa airtanah payau atau asin yang terdapat setempat-setempat pada akuifer bebas.
DEPOPULASI DAN TEKANAN PENDUDUK TERHADAP LAHAN DI DAERAH PERDESAAN : STUDI DETERMINAN REGIONAL DEPOPULASI PERDESAAN DAN KONSEKUENSINYA PADA TEKANAN PENDUDUK ATAS LAHAN DI PERDESAAN KABUPATEN BANTUL
ABSTRAK Depopulasi perdesaan atau menurunnya jumlah absolut penduduk perdesaan merupakan fenomena baru dalam sejarah kependudukan Indonesia. Fenomena ini mulai terlihat nyata di DIY sejak tahun 1990an. Sejauh ini belum ada penelitian yang menelaah hubungan antara depopulasi perdesaan sebagai wujud perubahan perilaku reproduksi dan migrasi penduduk di satu pihak dengan arah dan intensitas penggunaan lahan perdesaan di lain pihak sebagai wujud perubahan lingkungan binaan. Selanjutnya pertanyaan tentang konsekuensi depopulasi terhadap perbaikan kesejahteraan penduduk perdesaan juga penting dicari jawabannya, sebab selama ini berbagai kebijakan kependudukan umumnya berasumsi jumlah penduduk yang kecil merupakan prakondisi untuk meningkatkan kesejahteraan. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1)menyusun tipologi daerah perdesaan menurut tingkat depopulasinya, (2)mengenal determinan-determinan depopulasi perdesaan pada tingkat regional. Selanjutnya berdasarkan tipologi yang tersusun akan dilakukan penelitian pada tingkat rumahtangga untuk mengetahui (1)faktor-faktor internal pada tingkat rumahtangga yang mendorong terjadinya depopulasi, (2)konsekuensi depopulasi perdesaan pada intensitas dan orientasi penggunaan lahan perdesaan pada tingkat rumahtangga, dan (3) konsekuensi depopulasi perdesaan pada tingkat kesejahtraan rumahtangga. Studi penyusunan tipologi perdesaan menurut tingkat depopulasinya akan memanfaatkan data sekunder BPS dan data primer disertai observasi lapangan dengan teknik rapid rural appraisal (RRA). Dalam penyusunan tipologi perdesaan dan pengenalan determinan depopulasi perdesaan pada tingkat regional digunakan metode pemetaan dan tumpang-susun peta dalam rangka mengenali hbungan relasional secara spasial dengan bantuan teknologi Sistem Informasi Geografi (GIS). Survai rumahtangga dilakukan pada desa-desa yang dipilih berdasarkan hasil tipologi di atas. Survai rumahtangga ini diperlukan untuk menjelaskan berbagai faktor internal yang mendorong rumahtangga perdesaan mengalami depopulasi dan mengenali konsekuensi depopulasi perdesaan pada intensitas dan orientasi penggunaan lahan. Analisis statistic baik yang bersifat deskriptif maupun relasional akan dipergunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keruangan wilayah perdesaan di Kabupaten Bantul yang mengalami depopulasi berbentuk dua buah gugus, yaitu : (a)satu gugus besar di wilayah dataran rendah yang meliputi Kecamatan Tirtohargo, Srigading, Bambanglipuro, Srandakan, Pundong, dan sebagian Imogiri dan (b)satu buah gugus kecil di sekitar Kecamatan Dlingo. Terdapat empat macam faktor yang menentukan fisik alamiah yang berupa kerentanan wilayah terhadap bencana alam banjir dan kekeringan, (b) tingkat pendidikan masyarakat yang relatif tinggi, (c)isolasi wilayah yang tercermin dari sulitnya interaksi dengan Kota Yogyakarta sebagai pusat penyedia kesempatan kerja non-pertanian serta, (d)terjadinya migrasi keluar yang besar sebagai akibat dari sempitnya kemungkinan melakukan mobilitas non-permanen ke kota secara efisien. Depopulasi perdesaan pada tingkat rumahtangga terjadi karena rendahnya tingkat kelahiran dan kematian selama lima belas tahun terakhir disertai dengan tingkat migrasi keluar yang tinggi pula. Menurunnya jumlah absolut penduduk perdesaan pada tingkat rumahtangga ditangkap sebagai peluang untuk melonggarkan tekanan subsistensi dalam rangka menuju komersialiasi pertanian pada skala usaha yang amat kecil. Konsekuensinya depopulasi perdesaan tidak diikuti dengan penurunan tekanan penduduk atas lahan, tetapi sebaliknya justru diikuti dengan peningkatan intensitas tanam penggunaan masukan dan teknologi modern serta pemanfaatan tenaga kerja luar keluarga sebagai suplemen kecilnya jumlah tenaga kerja rumahtangga. Meskipun secara sosial-ekonomi depopulasi telah mampu mengantarkan masyarakat pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, namun keberlanjutan kegiatan komersialiasi ini perlu dipertanyakan.
ANALISIS CURAH HUJAN UNTUK ANTISIPASI KEKERINGAN DAN MITIGASINYA DI DAERAH ALIRAN SUNGAI PROGO
ABSTRAK Daerah Aliran Sungai (DAS) Progo dapat Magi ke dalam beberapa Sub DAS yaitu Sub DAS Progo Hulu, Sub DAS Tangsi, Sub DAS Elo, Sub DAS Blongkeng, dan Sub DAS Progo Hilir. Wilayah DAS Progo cukup bervariasi dalam hal topografi, unit geologi dan geomorfologi, hidrologi, jenis tanah, tipe vegetasi, dan tipe curah hujan (iklim), sehingga karakteristik fisik tersebut diharapkan berpengaruh terhadap keragaman nilai indeks kekeringan (drought index). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik hujan, khususnya curah hujan rata-rata bulanan, sebagai dasar untuk menganalisis keadaan neraca air. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan analisis terhadap nilai evapotranspirasi, dan perkiraan nilai kapasitas tanah menahan air (water holding capasity). Hasil dari analisis neraca air dapat diperoleh nilai kekurangan lengas (moisture deficit) dalam tanah, sehingga dapat ditentukan nilai indeks kekeringan dengan cara Thornthwaite, dan dirumuskan pula berbagal upaya mitigasinya. Hasil pernelitian menunjukkan bahwa secara umum makin tinggi elevasi suatu tempest, hujan yang jatuh di wilayah tersebut semakin tinggi dengan intensitas hujan yang tinggi pula. Hubungan tersebut selanjutnya menentukan tipe iklim di daerah penelitian. Tipe iklim A menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson meliputi sebagian besar wilayah pegunungan dengan ketinggian di atas 500 meter, tipe B umumnya antara 250-500 meter, dan tipe C umumnya kurang dari 250 meter. Hasil analisis neraca air bulanan dengan metode Thornthwaite-Mather menunjukkan bahwa defisit air mulai terjadi bulan Mei hingga Oktober dengan puncak defisit air antara Agustus dan September. Perkembangan spasial tingkat kekeringan terutama dimulai dari bagian hilir meliputi daerah Kenteng, Sentolo dan rneluas ke bagian tengah meliputi daerah Mendut dan Salaman dengan defisit air mencapai antara 50-70 mm per bulan. Kecenderungan perubahan indeks kekeringan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menentukan kapasitas tanah menahan air, yailu faktor tekstur tanah, kedalaman zone pekarangan, dan nilai evapotranspirasi. Faktor iklim tidak selalu berpengaruh nyata terhadap perubahan nilai (indeks) kekeringan, sehingga diduga faktor jenis tanah dan tipe penggunaan lahan yang lebih berpengaruh terhadap indeks kekeringan. Upaya mitigasi yang perlu dilakukan untuk mengatasi kekeringan antara lain penghijauan, konservasi tanah dan air antara lain berupa teras pada lereng yang terjal, pembuatan sumur resapan, dan pembuatan waduk-waduk kecil, bagi tempat-tempat yang memungkinkan