Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
Pengelolaan Sumberdaya Air untuk Pengembangan Pariwisata di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk (a) menganalisis kondisi ketersediaan air di Pulau Pari, (b) menganalisis kondisi kualitas air di Pulau Pari, (c) menganalisis kebutuhan air dan proyeksinya untuk masa yang akan datang di Pulau Pari, dan (d) merumuskan strategi pengelolaan sumberdaya air untuk pariwisata di Pulau Pari. Metode penelitian terdiri atas perhitungan neraca air, kebutuhan air, metode geometrik, analisis deskriptif, dan analisis SWOT. Pengambilan sampel air dan penduduk menggunakan metode purposive, sedangkan sampel wisatawan menggunakan metode accidental random sampling. Hasil akhir penelitian ketersediaan airtanah di Pulau Pari sebesar 290000,48 m3/tahun. Kualitas airtanah di lokasi penelitian tergolong baik. Besarnya kebutuhan air tahun 2013 sebesar 46381,947 m3/tahun. Pada tahun 2018 menjadi 54443,953 m3/tahun dan pada tahun 2023 mengalami peningkatan menjadi 63548,472 m3/tahun. Prioritas utama strategi pengelolaan sumberdaya air untuk pariwisata yaitu membuat kebijakan pembatasan pengunjung agar kelestarian pulau dan sumberdaya air tetap terjaga. ABSTRACT This study aims to (a) analyze water availability conditions in Pari Island, (b) analyze the water quality conditions in Pari Island, (c) analyze water demand and water projections for the future in Pari Island, and (d) formulate strategies management water resources for tourism in Pari Island. The research method consists of the calculation of the water balance, water requirements, geometric methods, descriptive analysis, and SWOT analysis. Water sampling and settlement using purposive method, tourist’s samples using accidental random sampling. The final results of The amount of soil water availability in Pari Island of 290000,48 m3 / year. Groundwater quality in the study area are classified as good. The amount of water demand in 2013 amounted to 46381,947 m3 / year. In 2018 became 54443,953 m3 / year and in 2023 increased to 63548,472 m3 / year. First priority water resource management strategy for tourism is make a visitor restriction policies for sustainability of water resources of the island and can make environment maintained
LONGSORLAHAN DI DAERAH KECAMATAN SAMIGALUH, KABUPATEN KULON PROGO, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di daerah Kecamatan Samigaluh dan sekitarnya, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan tujuan untuk mempelajari, mengklasifikasi, dan memetakan daerah penelitin ke dalam peta geomorfologi dan peta unit medan, mempelajari daerah-daerah potensial terjadi longsor lahan dan menyusun peta bahaya longsor lahan, serta mengevaluasi longsor lahan setiap unit medan. Berbagai data yang dikumpulkan meliputi curah hujan, kemiringan lereng, jenis batuan, kedalaman pelapukan batuan, banyaknya dinding terjal, tebal solum tanah, tekstur dan permeabilitas tanah, penggunaan lahan dan kerapatan vegetasi penutup. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan teknik pengambilan sampel secara berstrata, dengan unit medan sebagai unit analisisnya. Unit medan diperoleh dengan menumpang-susunkan peta-peta geomorfologi, lereng, dan penggunaan lahan. Penentuan kelas bahaya longsor lahan menggunakan teknik pengharkatan terhadap masing-masing parameter medan, dan kemudian menjumlahkannya untuk masing-masing parameter medan tersebut. Selanjutnya dari jumlah harkat tersebut digunakan sebagai dasar untuk penentuan tingkat bahaya longsorlahan pada setiap unit medan, yang akhirnya disusun peta bahaya longsorlahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian dapat dikelompokkan ke dalam 32 unit medan. Hasil analisis tingkat bahaya longsorlahan yaitu kelas II (tingkat bahaya rendah) sebanyak 5 unit medan yang didominasi oleh kompleks dataran alluvial dan teras sungai dan perbukitan solusional berbatu gamping koral; kelas III (tingkat bahaya longsorlahan sedang) sebanyak 6 unit medan pada sebagian unit medan kompleks dataran alluvial dan teras sungai dan unit medan dari bentuklahan perbukitan solusional berbatugamping. Kelas IV (tingkat bahaya longsorlahan tinggi) terdiri dari 14 unit medan pada pegunungan denudasional dan berbatuan breksi dan perbukitan denudasional berbatuan tuff. Tingkat bahaya longsorlahan sangat tinggi (Kelas V) sejumlah 5 unit medan yaitu pada pegunungan denudasional berbatuan breksi, dan perbukiyan denudasional berbatuan tuff. Unit-unit medan yang mempunyai klas bahaya longsorlahan tinggi (Kelas IV) dan sangat tinggi (Kelas V) terjadi pada unit medan dengan kemiringan lereng (8-25%), terjal (20-40%) dan sangat terjal (100cm). Penggunaan lahan tegalan, kebun campuran, dan permukiman, serta sebagian kecil sawah yang pengolahannya dilakukan dengan cara penterasan
POLA PERGERAKAN KERUANGAN PENDUDUK PINGGIRAN KOTA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KONSENTRASI KEGIATAN DI KOTA YOGYAKARTA
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pola pergerakan keruangan penduduk pinggiran kota, menjelaskan alasan-alasan yang mendorong pergerakan penduduk menuju kota dan keterkaitannya dengan konsentrasi kegiatan di kota. Penehtian dilakukan di pinggiran kota, dengan wilayah sampel Kecamatan Mlati dan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Data diperoleh melalui wawancara terstruktur dengan jumlah responden 200. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan bekerja suami, belanja kebutuhan tahunan dan barang mewah serta kegiatan sekolah di tingkat SLTA cenderung lebih tinggi berlokasi di Kota Yogyakarta. Alasan-alasan yang mendorong terjadinya pola pergerakan tersebut terkait dengan kualitas dan kuantitas pelayanan, serta aksesibihtas ke kota. Semakin tinggi pergerakan penduduk ke kota akan semakin meningkatkan konsentrasi kegiatan di kota
KERUSAKAN EKOSISTEM MANGROVE AKIBAT KONVERSI LAHAN DI KAMPUNG TOBATI DAN KAMPUNG NAFRI, JAYAPURA
ABSTRAK Daerah penelitian adalah desa Tobati dan Nafri di Jayapura-Papua. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengetahui jenis-jenis mangrove yang telah diubah oleh aktivitas manusia, 2) untuk mengetahui kondisi air dan tanah di daerah yang telah diubah oleh konversi lahan, 3) untuk mengetahui tanggapan masyarakat tentang ekosistem mangrove rusak dan mereka memberikan kontribusi dalam pengelolaan ekosistem mangrove. Metode yang digunakan adalah garis transek plot kuadrat di zona mangrove dan daerah distribusi dengan tiga kali pengulangan. Ukuran plot kuadrat adalah 10m x 20m untuk pohon, 1m x 1m untuk tumbuh-tumbuhan, bibit dan rerumputan. Parameter adalah ukuran kerapatan, frekuensi, daerah basal dan nilai-nilai penting mangrove. Langkah-langkah parameter fisika adalah air yang meliputi pH suhu, salinitas, dan kualitas tanah seperti bahan organik, Savailable Pavailable, Caavailable, Mgavailable, Naavailable, Ntotal, pH, suhu dan tekstur tanah. Analisis parameter fisika menggunakan analisis varian. Sosial parameter yang diukur adalah jumlah populasi, pekerjaan, pendidikan, dan pengetahuan tentang ekosistem mangrove. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi budaya masyarakat desa Tobati adalah survied dan diwawancarai dengan 50 responden. Para responden telah dipisahkan dalam 2 kelompok dari 40 repondents yang diambil dari desa Tobati dan sisanya diambil dari desa Nafri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya tujuh jenis mangrove (Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Rhizophora sfylosa, tagal Csriops, Snnneratia alba, Xylocarpus dan hydrophyllacea mollucensis Scyphiphora) di desa Tobati. Spesies mangrove yang menunjukkan di desa Nafri yang sembilan jenis, tujuh spesies yang mirip dengan Tobati kecuali Bruguiera gymnorrhiza dan Aegiceras comiculatum tidak menunjukkan di desa Tobati. Keberadaan vegetasi mangrove yang telah diubah oleh konversi lahan di desa Tobati didominasi oleh Rhizophora spp. Di desa Nafri sebagai daerah kontrol menunjukkan bahwa pembentukan mangrove masih dalam kondisi baik. ABSTRACT The research area are Tobati and Nafri villages in Jayapura-Papua. The aim of this research is 1) to study the kinds of mangrove that had been changed by human activities, 2) to study the condition of water and soil in the area which had been changed by land conversion, 3) to know the society responses about the mangrove ecosystems damaged and their contributes in mangrove ecosystems management.The methods used are transect line quadrate plots across the mangrove zones and distribution area with three times repeating. The quadrate plot sizes were 10m x 20m for trees, 1m x 1m for herbs, seedling and grasses. The parameter measures were densities, frequencies, basal areas and important values of mangrove. The physic parameter measures were water that included temperature pH, salinity, and soil qualities such as organic matters, Savailable Pavailable, Caavailable, Mgavailable, Naavailable, Ntotal, pH, temperature and the soil textures. The analysis of the physic parameter was using variant analysis. Social parameter that been measured were numbers of population, occupation, education, and knowledge about mangrove ecosystems. The methods that used for identifying the culture of the society of Tobati villagers were survied and interviewed with 50 respondents. The respondents have been separated in 2 groups of 40 repondents that were taken from Tobati village and the rest of it were taken from Nafri village.The results showed that mere are seven species of mangrove (Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Rhizophora sfylosa, Csriops tagal, Snnneratia alba, Xylocarpus mollucensis and Scyphiphora hydrophyllacea) in Tobati village. Species mangrove that showed in Nafri village were nine species, seven species which similar with Tobati except for Bruguiera gymnorrhiza and Aegiceras comiculatum were not showed in Tobati village. The existence of mangrove vegetation that been changed by land conversion in Tobati village were dominated by Rhizophora spp. In Nafri village as the control area showed that the formation of mangrove is still in the good condition
KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH UNTUK PENGEMBANGAN SISTEM PEMANTAUAN PEMANFAATAN RUANG PADA RENCANA TATA RUANG WILAYAH
ABSTRAK Dampak nyata dari gema Undang-Undang otonomi daerah adalah meningkatnya aktifitas ekonomi di sektor konstruksi yang turut mendorong terjadinya pelanggaran terhadap rencana pemanfaatan ruang pada rencana umum tata ruang di daerah, untuk itu sudah saatnya dilakukan upaya pengendalian dan pengawasan secara terus menerus dan terintegrasi terhadap pelaksanaan rencana pemanfaatan ruang pada RTRW Kabupaten, agar tidak terjadinya dampak-dampak yang tidak diinginkan. Langkah kongkrit mewujudkan hal tersebut perlu dibangun suatu sistem pemantauan yang sederhana cepat dan murah yang merupakan bagian upaya pengendalian dan pengawasan sehingga dapat digunakan oleh pihak yang berkecimpung dalam perencanaan dan pengendalian RTRW setiap saat. Pelaksanaan pengembangan sistem pemantauan pemanfaatan ruang ini menjadikan Kabupaten Sleman sebagai lokasi penelitian. Penelitian dilakukan dengan menggunakan citra TERRA/ASTER rekaman tahun 2007 untuk memperoleh data primer penggunaan lahan hasil interpretasi langsung dari citra satelit. Sedangkan data sekunder berupa peta pemanfaatan ruang diperoleh dari hasil digitasi peta pemanfaatan ruang RTRW Kabup aten Sleman. Kedua data tersebut selanjutnya dioverlay yaitu proses yang merupakan perwujudan dari proses pemantauan pemanfaat ruang dalam suatu RTRW kabupaten, dalam proses tersebut peta penggunaan lahan hasil dari interpretasi citra Aster berfungsi sebagai parameter pemantau dan peta pemanfaatan ruang berfungsi sebagai obyek yang dipantau. Sistem yang terbangun dalam penelitian ini terdiri dari beberapa subsistem langkahlangkah pengelolaan data citra ASTER dan peta rencana pemanfaatan ruang pada RTRW Kabupaten. Sistem tersebut terdiri dari subsistem persiapan, input, proses, analisis, dan output. Hasil pemantauan pemanfaatan ruang pada lokasi dengan menggunakan sistem pemantauan pemanfaatan ruang, memberi gambaran bahwa di Kabupaten Sleman terjadi pelanggaran terhadap rencana pemanfaatan ruang untuk kawasan pertanian lahan basah sebesar 34%, untuk pertanian lahan kering sebesar 17%, untuk hutan perkebunan sebesar 12%. Kontribusi dari penginderaan jauh adalah memberikan kelebihan pada sistem pemantauan yang dikembangkan berupa dapat digunakan oleh aparat pemerintah setiap saat baik terjadi ataupun tidak terjadi pelanggaran pemanfaatan ruang, disamping peghematan waktu, keakuratan data dan jalur birokrasi yang tidak panjang serta biaya yang relatif murah. ABSTRACT The real effect from sound of regional autonomy is the increasing of economic activities, especially in contruction sector in which follow pushing infringement space utilization plan on Local Spatial Arrangement Plans. For the reason, it is necessary required a continous and integrated development control to the plan implementation at local level, in order to prevent of undesirable impacts. A concrete effort to realize aforementioned purpose is to develop a simple and cost-effective controlling and monitoring system as part of control and observation effort to Local Spatial Arrangement Plans enforcement, so that it can be used at any time by institution with planning and controlling authority. Execution the development of controlling and monitoring space utilization plan system became the Regency Sleman as research location. This research was conducted by using TERRA/ASTER imagery which recorded at 2007 to obtain primary data of land use as a result form satelite imagery interpretation. While secondary data is space utilization plan map which obtained from Sleman space utilization plan map digitations. Both of data were compiled with others through overlay procces as an implementation from development control of space utilization plan on local spatial plans. On that process, existing land use map as a result from satelite imagery interpretation owning function as a monitoring parameter, while the land use map was stipulated as a watched object. As a result, this research have yielded a controlling and monitoring system that consist of some subsystems which is step by step on ASTER imagery data management and space utilization plan map. Such subsystem are including preparation, input, processes, analysis and output. The observation result of implementation in Regency Sleman by using the controlling and monitoring space utilization plan system which have been made by compiling of ASTER imagery processes and Space Utilization Plan map, prove that in Regency Sleman was happened infringement on space utilization plan for agriculture areas are equal to 34%, for dry agriculture areas equal 17%, and equal 12% for plantation areas. Contribution of remote sensing can be used at any time by implementation, beside another benefit like : cost-effective, time economizing, and cutting off bureaucracy path
Analisis Komparatif Kondisi Sosial Ekonomi Transmigran Jati Bali dengan Transmigran Abenggi di Kabupaten Konawe Selatan
ABSTRAK Penelitian ini mengambil lokasi di Kabupaten Konawe Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara. Pengambilan sampel lokasi penelitian terdiri dari lokasi transmigrasi Jati Bali Kecamatan Ranometo dan lokasi transmigrasi Abenggi Kecamatan Landuno. Desa Jati Bali ditempati warga transmigran yang berasal dari Bali, sedangkan Desa Ahenggi berasal dari Jawa Barat. Penelitian mi bertujuan untuk (1) mengkaji kondisi sosial ekonomi transmigran Jati Bali dan Abenggi (2) mengkaji faktor-faktor yang berperan terhadap perbedaan kondisi sosial ekonomi transmigran Jati Bali dan Abenggi.Metode penelitian yang digunakan adalah survei lapangan dengan pengambilan data secara sampling serta analisis data sekunder. Penentuan sampel dilakukan secara simple random sampling. Jumlah sampel keseluruhan sebanyak 200 sampel, pada setiap desa diwakili 100 rumah tangga transmigran. Analisa dilakukan secara kualitatif dengan tabel frekuensi dan label silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonomi di lokasi penelitian berbeda. Organisasi kemasyarakatan, integrasi dan kontak sosial berjalan sesuai dengan kondisi budaya masing-masing. Kecenderungan tingkat pendidikan kepala keluarga transmigran Jati Bali dengan tingkat pendidikan menengah dan tinggi (88 persen) lebih haik daripada transmigran Ahenggi (26 persen). Pendapatan rumah tangga transmigran Jati Bali berada kisaran satu sampai dua juta rupiah perbulan 47 persen, transmigran Abenggi (53 persen) hanya berpendapatan dibawah satu juta. Kualitas rumah transmigran Jati Bali 53 persen dalam kategori baik, transmigran Abenggi hanya 13 persennya. Transmigran Jati Bali 70 persen memiliki harta lebih dari empat juta rupiah, transmigran Ahenggi 52 persen hanya memiliki harta kurang dari dua juta rupiah. Transmigran Jati Bali 38 persen mengalami perluasan lahan, Abenggi mengalami pengurangan lahan menjadi kurang dari satu hektar (31 persen). Transmigran Jati Bali (81 persen) bermata pencaharian di sektor perdagangan dan jasa, transmigran Abenggi 59 persen bermata pencaharian di sektor pertanian. ABSTRACT This study took place within the WakatobiRegency Southeast Sulawesi Province. Sampling locations consisted of transmigration sites in Bali Jati Subdistrict Ranometo and transmigration sites Abenggi Landuno District. Bali Jati village occupied by citizens of transmigrants from Bali, while the Village Ahenggi come from West Java. This research aims to (1) examine the socio-economic conditions and Abenggi Balinese transmigrants Teak (2) examine the factors that contribute to differences in socio-economic conditions and Abenggi Bali Teak transmigrants. The research method used was a field survey with a sampling of data retrieval and analysis of secondary data. Determination of the samples was done by simple random sampling. The number of total samples of 200 samples, at each village represented 100 households. Conducted a qualitative analysis with cross-frequency table and labels. Results showed that socio-economic conditions in different research sites. Social organization, integration and social contacts run in accordance with their respective culture conditions. The tendency of the education level of household heads Teak Balinese transmigrants with middle and high education level (88 percent) more than transmigrants Ahenggi Haik (26 percent). Revenue from Jati Bali households in the range of one to two million rupiah per month 47 per cent, transmigrants Abenggi (53 percent) income just under one million. Quality Teak Balinese transmigrants house 53 per cent in either category, only 13 percent of transmigrants Abenggi. Teak Balinese transmigrants 70 percent have more wealth than four million, 52 percent of transmigrants Ahenggi only own property less than two million dollars. Teak Balinese transmigrants 38 percent major land expansion, land Abenggi decrease to less than one hectare (31 percent). Transmigrants Jati Bali (81 percent) livelihood in trade and services sector, 59 percent of transmigrants Abenggi livelihood in the agricultural sector.
PENENTUAN TINGKAT KEKERINGAN LAHAN BERBASIS ANALISA CITRA ASTER DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
ABSTRAK Kekeringan lahan yang melanda suatu daerah menimbulkan dampak yang besar terhadap produktivitas lahan pertanian. Terjadinya kekeringan ini disebabkan oleh defisit air akibat kurangnya hujan yang jatuh, laju infiltrasi air yang tinggi serta jenis tanaman yang tidak sesuai dengan ketersediaan air. Untuk meminimalkan dampak yang terjadi akibat kekeringan lahan maka perlu dilakukan antisipasi dengan mengetahui defisit dan surflus air lahan melalui data curah hujan serta kemampuan tanah menahan air (water holding capasity). Untuk keperluan analisis kekeringan lahan dapat menggunakan citra penginderaan jauh dan neraca air lahan sebagai pengetahuan awal guna perencanaan antisipasi kekeringan lahan sehingga kebutuhan air bagi tanaman dapat terpenuhi setiap saat. Penelitian ini dilakukan di sebagian wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengkaji akurasi berbagai saluran TIR Citra Aster untuk mendapatkan informasi sebaran suhu permukaan, (2) Mengkaji sebaran kekeringan melalui indeks TVDI (Temperature Vegetation Dryness Indeks) yang diekstrak dari suhu permukaan (Land Surface Temperature) dan indeks NDVI. (3) Mengkaji tingkat kekeringan lahan dengan menggunakan metode Thornthwaite-Mather, (4) Mengkaji pola tanam yang sesuai diterapkan di wilayah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran 13 Citra Aster memiliki akurasi paling tinggi jika dibandingkan dengan saluran 10,11,12, serta 14 Citra Aster karena memiliki selisih paling kecil dengan suhu permukaan lapangan. Berdasarkan analisis RMS difference diperoleh nilai 1,140. Luas sebaran kekeringan berdasarkan indeks TVDI pada seluruh penggunaan lahan dengan tingkat kekeringan tinggi, sedang dan rendah masingmasing melanda daerah seluas 2.922,8 Ha (4,6%), 20.286,16 Ha (32,11%) serta 39.962,72 Ha (63,26%). Dari total luas 2.922,8 Ha lahan yang dilanda kekeringan dengan tingkat kekeringan tinggi (kering/kurang air) seluas 2.069,47 Ha merupakan sawah tadah hujan. Analisis hubungan indeks TVDI dengan kadar lengas tanah menunjukkan hubungan yang tidak terlalu kuat sebesar 53,7%. Tingkat kekeringan lahan dengan analisis neraca air Thornthwaite-Mather menunjukkan indeks kekeringan (aridity index) berada dalam tingkat kekeringan sedang dan berat. Kekeringan sedang terjadi pada satuan lahan yang terpengaruh stasiun hujan Giriwungu (Panggang), Kedung Keris, Gedangan serta sebagian Playen. Kekeringan berat terjadi pada satuan lahan yang terpengaruh stasiun hujan Wonosari, Tepus dan sebagian Playen. Pola tanam berdasarkan agroklimat Oldeman dikelompokkan ke dalam pola tanam Padi Gogo (Palawija) -Palawija - Bero, Padi sawah - Palawija - Bero, Palawija – Palawija - Bero. Pola tanam Padi Gogo (Palawija)-Palawija-Bero diterapkan di sawah tadah hujan dan tegalan pada satuan lahan yang terpengaruh stasiun hujan Tepus dan Panggang dengan musim tanam 1 terjadi bulan Oktober–Januari dan musim tanam 2 terjadi pada bulan Februari-Mei, pola tanam Padi Sawah-Palawija-Bero diterapkan di sawah dan sawah tadah hujan pada satuan lahan yang terpengaruh stasiun hujan Wanagama (Playen), Kedung Keris dan Gedangan dengan musim tanam 1 terjadi pada bulan November-Februari dan musim tanam 2 terjadi pada bulan Maret-Juni sedangkan pola tanam Palawija-Palawija-Bero diterapkan di kebun campuran pada satuan lahan yang terpengaruh stasiun hujan Kedung Keris, Panggang, Playen, Gedangan, serta Wonosari untuk sawah tadah hujan dimana musim tanam 1 terjadi pada bulan November-Februari dan musim tanam 2 terjadi pada bulan Maret-Juni.ABSTRACT Dryness of farm knocking over an area to generate big impact to agricultural land productivity. The happening of this dryness because of water deficit as result of lack of falling rain, high water infiltration velocity and crop type which unmatched to water availability. Minimization of Impact to happened as result of dryness of farm hence need to be done anticipation given the deficit and surflus farm water through rainfall data and ability of soil land ground arrest detains water (water holding capasity). For the purpose is required dryness analysis of farm with using remote sensing image and farm water balance as initial knowledge utilized planning of anticipation of dryness of farm so that amount of water required for crop can fufilled every when. This research done in this part of gunung kidul regency, purpose of this research is : (1) Studies accuration various channels TIR image Aster to get information as of land surface temperature (2) Studies of dryness through index TVDI (Temperature Vegetation Dryness Indeks) extract from surface temperature (Land Surface Temperature) and index NDVI. ( 3) Studies level of dryness of farm by using method Thornthwaite-Mather, (4) Studies cropping pattern appropriate is applied in research region. Result of research indicates that channel 13 images Aster had highest accuration if it is compared to channel 10,11,12, and 14 images Aster because having smallest difference with field surface temperature. Based on analysis RMS difference is obtained by value 1,140. Wide as of dryness based on index TVDI at all land use with level of high dryness, knocking over each low and medium area with a width of 2922,8 Ha (4,6%), 20286,16 Ha (32,11%) and 39962,72 Ha (63,26%). From wide total 2922,8 Ha farm knocked over by dryness with level of high dryness (less water) with a width of 2069,47 Ha is wet ricefield dependant to rain. Analysis the relation of index TVDI with soil moisture rate shows rapport that is overweening not equal to 53,7% Level of dryness of farm with water balance analysis Thornthwaite-Mather shows dryness index (aridity index) stays in level of medium dryness and weight. Dryness is happened at land unit affecting station of rain Giriwungu (Panggang), Kedung Keris, Gedangan and some of Playen. Dryness of weight happened at land unit affecting station of rain Wonosari, Tepus and some of Playen. Cropping pattern based on agroklimat Oldeman is grouped into cropping pattern Padi Gogo (Palawija)-Palawija-Bero, Padi Sawah-Palawija-Bero, Palawija-Palawija-Bero. Cropping Pattern (Palawija)-PalawijaBero is applied in wet ricefield dependant to rain and non irigated dry field at land unit affecting station of rain Tepus and Panggang with planting season 1 happened OktoberJanuary and planting season 2 happened in Februari-May, cropping pattern Padi SawahPalawija-Bero is applied in rice field and wet ricefield dependant to rain at land unit affecting station of rain Wanagama ( Playen), Kedung Keris and Gedangan with planting season 1 happened in November-February and planting season 2 happened in Maret-Juni while cropping pattern Palawija-Palawija-Bero is applied in blend garden at land unit affecting station of rain Kedung Keris, Gedangan, Playen, and Wonosari for wet ricefield dependant to rain where planting season 1 happened in November-February and planting season 2 happened in March-June
STUDI OPTIMALISASI SEQUESTRASI KARBON DIOKSIDA (CO2) BERBASIS RUMAH TANGGA
ABSTRAK Rumah tangga dengan segala aktifitasnya turut menyumbang emisi CO2 yang memicu pemanasan global. Oleh karena itu, berdasarkan prinsip pencemar membayar (pollutant pay principle), rumah tangga dapat dikenai tanggung jawab atas emisi yang dihasilkan dalam bentuk konservasi lahan. Penelitian bertujuan menganalisis rata-rata emisi dan rata-rata sequestrasi, untuk menetukan luas minimum lahan yang harus dikonservasi masing-masing kelompok rumah tangga Kelas Ekonomi Atas (KEA- Daya ≥ 1300 VA), Kelas Ekonomi Menengah (KEM- Daya 900 VA), Kelas Ekonomi Bawah (KEA- Daya 450 VA) di Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, D. I. Yogyakarta. Emisi CO2 dihitung berdasarkan aktifitas rumah tangga terkait konsumsi listrik, konsumsi bahan bakar untuk transportasi, konsumsi bahan bakar untuk memasak, produksi sampah, serta konsumsi air PDAM, didapat dari hasil questioner yang selanjutnya dikalikan dengan nilai konversi emisi CO2 yang tersesedia. Sequestrasi CO2 dihitung berdasarkan biomassa yang dipertahankan oleh rumah tangga pada lahan bervegetasi mereka (pekarangan, sawah, kebun). Pendugaan biomassa diperoleh melalui metode Brown (1997) dan Hairiah (2007), dengan melakukan nested qudrat sampling pada masing-masing jenis lahan bervegetasi yang dimiliki rumah tangga. Luas minimum dan optimalisasi lahan, dihitung berdasarkan jumlah emisi CO2 rumah tangga dan biomassa per m2 lahan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui, rumah tangga Sinduadi memiliki rata-rata emisi dan sequestrasi, serta luas minimum lahan secara berturut-turut sebesar: 7098,98 kgCO2/th, 267,34 kgCO2/th, dan 178,11 m2 dengan tingkat optimalisasi lahan sangat optimal (tutupan vegetasi 90%) pada lahan pekarangan untuk rumah tangga KEA; 3785,9 kgCO2/th, 632,61 kgCO2/th, dan 1551,37 m2 lahan pekarangan dengan dengan tingkat optimalisasi lahan sangat optimal (tutupan vegetasi 90%) pada lahan pekarangan untuk rumah tangga KEM; 1973,3 kgCO2/th, 780,21 kgCO2/th, dan 898,91 m2 dengan tingkat optimalisasi lahan sangat optimal (tutupan vegetasi 90%) pada lahan pekarangan untuk rumah tangga KEB. ABSTRACT Households with all its activities contributed to CO2 emissions that lead to global warming. Therefore, based on the polluter pays principle (pollutant pay principle), households may be held responsible for the emissions produced in the form of land conservation. The study aims to analyze the average emissions and the average sequestration, to determine the minimum area of land to be conserved each household group Economy Class Upper (Power KEA- ≥ 1300 VA), Economy Class Intermediate (back Power 900 VA), Down Economy Class (KEA- Power 450 VA) in the village of Sinduadi, Mlati subdistrict, Sleman, Yogyakarta. CO2 emissions are calculated based on household activities related to electricity consumption, fuel consumption for transportation, fuel consumption for cooking, waste production and water consumption taps, obtained from the questionnaire were subsequently multiplied by the conversion of CO2 emissions tersesedia. CO2 sequestration is calculated based biomass is retained by households on their vegetated land (yards, fields, gardens). Biomass estimation obtained through the method of Brown (1997) and Hairiah (2007), by nested qudrat sampling on each type of vegetated land owned by households. And the minimum area of land optimization, CO2 emissions are calculated based on the number of households and biomass per m2 of land. Based on the survey results revealed, households had an average Sinduadi emissions and sequestration, and the minimum area of land consecutively for: 7098.98 kgCO2 / th, 267.34 kgCO2 / th, and 178.11 m2 with a very level land optimization optimal (vegetation cover 90%) in their yards for household KEA; 3785.9 kgCO2 / th, 632.61 kgCO2 / th, and 1551.37 m2 yard area with the optimization level is optimal land (vegetation cover 90%) in their yards for household KEM; 1973.3 kgCO2 / th, 780.21 kgCO2 / th, and 898.91 m2 with very optimal level of optimization of land (vegetation cover 90%) in their yards for household KEB
Pemanfaatan Batu Apung (Pumice) Lombok dan Bakteri (Baccillus Subtilis) sebagai Agent Perbaikan Kerusakan Retak Pada Beton
Batu apung (pumice) merupakan bahan lokal yang banyak terdapat di wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Komposisi batu apung mengandung silika tinggi yaitu antara 52,30% - 65,60% dapat digunakan sebagai pozolan. Penggunaan batu apung (pumice) sebagai campuran pada penyusunan beton ringan yang mempunyai kuat tekan dan kuat lentur yang baik. Beton juga rentan terhadap kerusakan yang dapat bersumber dari beban ekstrim, serangan kimia dan kondisi lingkungan. Faktor kualitas beton berpengaruh terhadap proses terjadinya keretakan beton. Produksi semen dalam penggunaan campuran beton dapat memberikan kontribusi 10% emisi CO2 ke atmosfer. Retak mikro merupakan fenomena yang tidak dapat terhindari, akan tetapi retak kecil dapat di atasi yang disebut penyembuhan autogenous atau self-healing beton. Metode yang digunakan dalam perbaikan mandiri pada keretakan beton adalah pemanfaatan peranan bakteri Bacillus subtilis yang terenkapsulasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan enkapsulasi bakteri B. subtilis dalam campuran beton dengan campuran pozolan batu apung (pumice) terhadap kemampuan menutup retak beton. Metode analisis penelitian self-healing beton berdasarkan tinjauan kimia, mekanik, fisis dan keberlanjutan secara ekonomi, toksi lingkungan, sosial. Tinjauan kimia pozolan batu apung Lombok mengandung SiO2 sebesar 56,56% dan Al2O3 sebesar 14,77% apabila bercampur dengan B. subtilis kurang signifikan sebagai self-healing beton dengan kadar perbaikan hanya 5,6%. Kuat lentur tertinggi terjadi dalam persentase enkapsulasi 3% dan diameter enkapsulasi 4 mm sebesar 1.497 KPa. Kuat tekan beton sebesar 21,053 MPa dalam persentase enkapsulasi 3% dan diameter enkapsulasi 2 mm. Analisis SEM menyatakan bahwa peranan bakteri B. subtilis dan pozolan batu apung terlihat adanya serabut - serabut kecil yang menghubungkan antar partikel beton. Kadar persentase perbaikan mandiri dalam retak beton mencapai 5,6% dalam diameter enkapsulasi 4 mm dan persentase enkapsulasi 7%. Self-healing dalam kerusakan beton dapat mengurangi produksi semen sehingga akan mengurangi emisi CO2 di atmosfir. Self-healing dapat menghemat biaya Rp.442.725 / m3 karena tanpa adanya biaya perawatan beton apabila terjadi kerusakan. Pengurangan emisi CO2 akibat pengurangan produksi semen berpengaruh terhadap kesehatan pernafasan sehingga akan mengurangi biaya perawatan kesehatan sehingga tidak menambah biaya kesehatan.
Membangun Metode Identifikasi Longsor Berbasis Foto Udara Format Kecil di DAS Bompon, Magelang, Jawa Tengah
Tujuan penelitian ini adalah (1) membangun metode interpretasi foto udara format kecil untuk identifikasi longsor di DAS Bompon; (2) melakukan pemetaan kerawanan longsor berbasis hasil interpretasi foto udara format kecil dan berbasis analisis DEM TerraSAR.Metode penelitian yang digunakan yaitu (1) identifikasi longsor berdasarkan interpretasi foto udara format kecil secara visual 0n-screen 2D dengan teknik langkah demi langkah (stepwise method); (2) penyusunan peta kerawanan longsor menggunakan metode Frequency Ratio (FR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa foto udara format kecil berdasarkan kenampakan objek dapat digunakan untuk identifikasi longsor. Teknik identifikasi longsor menggunakan teknik langkah demi langkah (stepwise method). Identifikasi longsor menggunakan teknik langkah demi langkah dilakukan secara sistematis dan tidak dapat dibolak balik berdasarkan kenampakan objek pada foto udara format kecil. Kenampakan objek foto udara format kecil untuk identifikasi longsor, yaitu: i) tutupan lahan, ii) bidang gawir longsor, iii) bentuk longsor, iv) erosi parit, v) asosiasi jalan dan vi)asosiasi sungai. Unsur interpretasi yang digunakan untuk identifikasi longsor, yaitu: rona/warna, bentuk, asosiasi, pola, bayangan, dan tinggi. Hasil uji akurasi inventori longsor berdasarkan interpretasi foto udara format kecil dengan inventori longsor survei lapangan, yaitu 90%. Persentase kelas kerawanan tinggi (27.43%), kelas kerawanan sedang (52.13%) dan kelas kerawanan rendah (20.44%). Nilai uji validitas peta kerawanan longsor menggunakan success rate, yaitu 74%.