Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
INSULARITAS DAN KETERBELAKANGAN EKONOMI WILAYAH MENUJU MODEL KONSEPTUAL PERKEMBANGAN WILAYAH PULAU KECIL DI INDONESIA
ABSTRAK Insularitas dan keterbelakangan ekonomi wilayah merupakan dua fenomena yang hampir selalu hadir berdampingan di berbagai belahan dunia, dengan menyisakan sedikit perkecualian. Optimisme yang berlebihan untuk pembangunan wilayah berbasis sumberdaya kelautan dalam konteks Indonesia pada scat krisis telah tumbuh di kalangan akademisi, praktisi maupun pengamat di bidang kelautan. Bahkan dalam era otonomi daerah, sebagian sumberdaya lout telah mengalami salah urus atau pemanfaatan berlebih alas nama otonomi dan peningkatan pendapatan daerah. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran teoretik tentang hubungan antara insularitas dan pembangunan. Hubungan antara insularitas dan keterbelakangan wilayah akan disajikan dalam suatu model konseptual berdasarkan kajian tentang kondisi empirik yang diperoleh dari studi-studi terkait baik yang diperoleh dari dalam maupun luar negeri. Metode yang dipergunakan dalam analisis ini meliputi penelusuran dan penelaahan literatur dan sumber-sumber lain yang relevan serta tersedia on-line dalam berbagai slims di Internet. Literatur yang dikaji meliputi publikasi berbentuk buku, laporan penelitian, dan jurnal baik yang tersedia dalam bentuk cetakan maupun yang tersedia on-line. Wilayah pulau-pulau kecil mengalami keterbelakangan ekonomi karena takdir kondisi fisik wilayah yang tidak memungkinkan bekerjanya elemen-elemen sosial, politik dan demografi serta keruangan secara sinergis dalam pembangunan. Setiap elemen wilayah bahkan cenderung bekerja saling negasi terhadap elemen lainnya, sehingga dalam upaya pengembangan wilayah pulau-pulau kecil banyak sekali dilema dan paradoks yang tidak mudah dicari komprominya. Model yang dibangun pada bagian akhir penelitian ini dilandasi suatu asumsi determinisme lingkungan yang berlaku di wilayah pulau-pulau kecil. Faktor fisik wilayah merupakan kendala terbesar yang menurunkan berbagai masalah pembangunan di wilayah pulau kecil. Model yang dibuat berusaha menunjukkan keterkaitan antarelemen tersebut secara langsung maupun tidak langsung dalam menentukan terjadinya keterbelakangan ekonomi wilayah pulau-pulau kecil. Dari model ini dapat diperoleh pelajaran bahwa pembangunan wilayah pulau-pulau kecil hendaknya menempatkan keberlanjutan kehidupan wilayah dan integritas ekologis sebagai tujuan terpenting. Orientasi pertumbuhan ekonomi dalam pembangunan tampaknya harus ditempatkan pada prioritas yang rendah
PEMANFAATAN TEKNIK GEOLISTRIK UNTUK MENDETEKSI PERSEBARAN AIRTANAH ASIN PADA AKUIFER BEBAS DI KOTA SURABAYA
ujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persebaran airtanah asin di Kota Surabaya, menganalisis faktor penyebabnya dan mencari kemungkinan ditemukannya airtanah tawar pada akuifer tertekan. Untuk rnencapai tujuan tersebut dilakukan pendugaan geolistrik pada tujuh penampang dengan masingmasing penampang terdiri atas dua hingga tiga titik pendugaan. Untuk menganalisis hash pendugaan, data tahanan jenis hash pendugaan lapangan diinterpretasi dengan Program Schlumberger 0 Weil. Hasil interpretasi dapat ditentukan kedalaman dan ketebalan lapisan airtanah beserta sifat-sifatnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kota Surabaya telah terdeteksi adanya airtanah asin dan airtanah payau, dengan jarak dari garis pantai dan ketebalan lapisan yang beniariasi. Faktor penyebab adanya airtanah asin dan airtanah payau tersebut adalah air fosil (connate water) Hasil lain dari penelitian ini adalah bahwa hingga kedalaman 150 meter dari permukaan tanah, tidak ditemukan akuifer tertekan yang mengandung airtanah tawar
PENAJAMAN DAN KEJELASAN OBJEK KAJIAN DALAM DISIPLIN ILMU GEOGRAFI
ABSTRAK Keragaman definisi geografi mengindikasikan arah objek materialnya yang beragam. Kejelasan obyek material dan formal suatu disiplin &nu diperlukan untuk lebih menjamin eksistensinya. Obyek material geografi hams dapat dijabarkan sehingga tampak jelas cabang &nu geografi dan ilniu bantunya.Salah sate definisi geografi yang dapat menekankan kejelasan obyek materialnya"Geografi adalah jinni yang rnempelajari .fenotnena permukaan burnt, yaitu ruangan di permukaan bumi yang terbentuk oleh unsur geosfer ( litosfer, attnosfer, hidrosfer, pedosfer, biosfer, dan antroposfer). yang benipa wilayah dan isi wilayah, dipelajari dengan pendekatan keruangan, ekologikal, dan kompleks wilayah untuk keperluan pengelolaan wilayah"
Kualitas Pelayanan Keluarga Berencana di Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe
ABSTRAK Kualitas Pelayanan Keluarga Berencana Di Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe. Tesis, Pascasarjana Studi Ilmu Kependudukan. Universitas Gadjah Mada. Salah satu upaya yang telah dan terus dilakukan oleh pemerintah dalam pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas adalah mengendalikan jumlah penduduk dan meningkatkan kualitas penduduk melalui program keluarga berencana. Kecamatan Unaaha sebagai pusat ibu kota Kabupaten Konawe memiliki jumlah pasangan usia subur (PUS) tahun 2007 sebanyak 3.511 dengan jumlah peserta KB aktif sebanyak 2.363 (67,30%) sedangkan tahun 2008 PUS berjumlah 3.624 dengan jumlah peserta KB aktif 2.688 (74,17% ). Data tersebut menunjukkan jumlah peserta KB aktif di Kecamatan Unaaha cukup tinggi. Namun, secara empiris belum diketahui apakah tinggihnya kepesertaan KB aktif di Kecamatan ini diikuti pula dengan peningkatan kualitas pelayanan yang diberikan oleh provider. Untuk mengkaji Kualitas Pelayanan Keluarga Berencana Di Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe, sebagaimana tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan tehnik penelitian survey. Selanjutnya untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini, maka dalam analisis data menggunakan teknik statistik deskriptif dengan program SPSS 12.0 for windows. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik demografis akseptor seperti umur, pendidikan dan pekerjaan mempengaruhi penilaian akseptor terhadap kualitas pelayanan di Kecamatan Unaaha. Adapun gambaran utuh pandangan akseptor tentang kualitas pelayanan Keluarga Berencana di Kecamatan Unaaha berdasarkan enam elemen pengukuran menunjukkan bahwa pertama, pilihan terhadap metode kontrasepsi umumnya merupakan keputusan yang diambil sendiri oleh akseptor, baik berkaitan dengan unsur-unsur pilihan pribadi, metode yang disediakan dan ditawarkan oleh petugas, kecocokan metode dan tujuan pemakaiannya. Kedua, kualitas informasi yang diberikan oleh provider masih sangat rendah, hal ini ditandai banyaknya keluhan dari akseptor menyangkut informasi KB terutama menyangkut jenis kontrasepsi yang akan mereka gunakan. Ketiga, kemampuan teknis provider masih sangat rendah, hal ini ditandai masih banyaknya keluhan dari akseptor menyangkut pelayanan Keluarga Berencana. Keempat, hubungan interpersonal antara provider dan akseptor menurut pandangan akseptor belum terjalin secara baik. Hal ini dibuktikan masih adanya akseptor yang memilih berkonsultasi tentang alat kontrasepsi yang akan digunakan kepada dukun ketimbang kepada petugas kesehatan. Kelima, kunjungan tindak lanjut (kontrol) meskipun dirasakan penting oleh akseptor, namun umumnya mereka tidak menganggap sebagai kebutuhan yang rutin untuk dilakukan, kontrol dilakukan apabila dirasakan ada keluhan-keluhan serius yang timbul selama memakai kontrasepsi. Keenam. Ketepatan pemberian layanan menurut pandangan akseptor masih kurang baik, hal ini disebabkan karena walaupun ratio jumlah petugas dan akseptor sudah mencukupi, namun seringkali ada petugas yang tidak masuk, sehingga menyebabkan pelayanan tidak berjalan lancar dan tepat waktu. ABSTRACT The Quality of Family Planning Service in Unaaha Subdistrict, Konawe District. Thesis. Postgraduate Study in Demography. Gadjah Mada University. One of the efforts continuously sought by government in the development of demography and quality small family is to control the number of population and improve the quality of life through the Family Planning Program. Unaaha Subdistrict as the capital of Konawe District has significant numbers of spouse with sexually productive age in 2007 (3,511) and of active acceptors in the Family Planning 2,363 (67.30%), while in 2008 the former was 3,624 and the latter was 2,688 (74.17% ). The data indicates that the number of acceptors in the Family Planning in Unaaha Subdistrict was relatively high. However, it is not empirically recognized whether or not the high level of active participation in the program is necessarily followed also by the increased quality of the Family Planning service delivered by health providers. This study is to find out the quality of Family Planning Service in Unaaha Subdistrict, Konawe District. It uses a quantitative method with data collected by applying a survey technique. Data collected are then analyzed using a descriptive technique assisted by the SPSS software for Windows version 12.0. Result of the study indicates that geographical characteristics of acceptors, such as age, education, and occupation influenced their assessment on the quality of Family Planning service in Unaaha Subdistrict. Moreover, the comprehensive picture of the acceptors’ view on the quality of Family Planning service in Unaaha Subdistrict could be known also based on six measuring elements. These were, first, contraception selection method was generally a private decision taken by the acceptors with respect to personal choice, methods provided and offered by health personnel, the match of method and objective of use. Second, information quality provided by health provider was still very low indicated by the fact that there were still many complaints from acceptors related to information on Family Planning, particularly on the kinds of contraception they will use. Third, technical capacity of health provider was still very low, marked by the fact that there were still many complaints from acceptors related to Family Planning services. Forth, according to acceptors, interpersonal relationship between provider and acceptors was not established well. It could be seen from the fact that there were many acceptors that chosen to consult with local traditional healer than with health personnel on the contraception they will use. Fifth, although acceptors felt follow-up visit as very important, they did not generally considered it as a routine something need to do. In this case, control should be done if serious complaints resulted from the use of contraception was found. And, sixth, according to acceptors, the availability of the health provider was low due to the fact that despite sufficient number of the health personnel they did frequently not attend the office and it in turn caused the Family Planning Program unable to be performed well and timely
Kajian Foto Udara dan Sistem Informasi Geografis untuk Pemetaan Kondisi Peresapan Air Sub DAS Wedi Kabupaten Klaten, Jawa Tengah
ABSTRACT The study was conducted in Klaten Regency at Wedi Sub Watershed, part of Dengkeng Watershed. The study aimed to: 1) study the interpretation accuracy of black and white Panchromatic Aerial Photograph scaling 1: 50.000 in identifying the soil factor, slope, landuse, vegetation density, and land conversation, related to the influences toward water infiltration condition in the research area; 2) make the zonation of infiltration capability and water infiltration condition based on land factors the result of aerial photograph interpretation; and 3) study the spatial distribution pattern of water infiltration condition in the research area and analyze to the distribution according to spatial. The research method used aerial photograph interpretation with supported by limited survey for field test, by sampling method was stratified sampling. The method of analysis applied spatial analysis by using Geographical Information System (GIS). The result of the study showed that: 1) the level of aerial photograph accuracy for interpreting determinate factors of water infiltration in the research area is acceptable each with the accuracy level of: slope 89.47%; soil texture 82.14%; land use 90.16%; vegetation density 88.89%; and land conservation 80.88%. It mean that although the accuracy level achieved had not been included in very good category, the aerial photograph still can be used in this study; 2) the condition of water infiltration in the research area tended to be relative still good, indicated by the of the land unit in status of ‘critical’ in the width no more than 25% (30.496 km2). The land unit in status of ‘begin to be rather critical’ in the width of 55.692 km2 or 50.97 %; while the remaining 3.154 km2 or 20.62% was in the status of ‘natural normal’ and 22.544 km2 or 20.62% had ‘good’ status; 3) In the research area, the space of land units with the condition of good infiltration had no spatial relevance to the space of land units and the great infiltration capability
Dampak Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Perubahan Runoff di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bedog Yogyakarta
ABSTRAK DAS Bedog merupakan salah satu DAS di Yogyakarta yang daerah aliran sungainya mengalami proses pengembangan wilayah perkotaan. Proses perkembangan wilayah perkotaan di DAS Bedog ini terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Parameter dari adanya proses pengembangan wilayah perkotaan di DAS Bedog adalah terjadinya peningkatan peningkatan tipe penggunaan lahan “permukiman”, yang semula sebesar 15,29% di tahun 2004 menjadi 16,94% tahun 2008 dan 17,72% pada tahun 2010 atau meningkat sebesar 0,4% per tahun.Tujuan utama dari penelitian ini adalah menganalisis dampak perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan runoff dan merumuskan simulasi/skenario penggunaan lahan dalam menurunkan runoff di DAS Bedog menggunakan metode Curve Number-USSCS (CN-USSCS). Berdasarkan perhitungan metode CN-USSCS pada tahun 2004, 2008 dan 2010, akibat dampak dari perubahan penggunaan lahan menghasilkan ketebalan runoff sebesar 1.353,0 mm (66% dari jumlah hujan/tahun), 1.277,2 mm (55,5% dari jumlah hujan/tahun), dan 1.536,4 mm (57,6% dari jumlah hujan/tahun). Penggunaan lahan “permukiman” dan “lahan kosong” berkontribusi terbesar dalam peningkatan ketebalan runoff di DAS Bedog, dikarenakan memiliki nilai CN yang tinggi dan berarea luas.Validasi terhadap metode CN-USSCS menggunakan uji statistik, T-test dihasilkan nilai T-test sebesar 0,00 dan 0,092 dibawah nilai T-tabel sebesar 1,67 dan 1,71 serta nilai koefisien determinasi (R2) diatas 0,5 yang berarti metode CN-USSCS dapat diterapkan di DAS Bedog untuk memprediksi ketebalan runoff.Hasil rumusan skenario perubahan penggunaan lahan di DAS Bedog bahwa perubahan penggunaan lahan untuk 6 tahun ke depan (tahun 2016) mengalami perubahan ketebalan runoff sebesar 4% dari tahun 2010 (skenario 1). Penurunan ketebalan runoff di DAS Bedog dapat dilakukan dengan peningkatan luasan hutan berupa kebun campuran dan tumbuhan perdu (semak belukar) di daerah Bantul sebesar > 50% dari luas DAS Bedog (skenario 4). ABSTRACT Bedog watershed is one of the watersheds in the area of Yogyakarta through the process of urban development. The process of urban development in the Bedog watershed this happened in the past 10 years. The parameters of the process of urban development in the Bedog watershed is the increase in land use "settlement" from 15,29% (2004) to 16,94% (2008) and 17,72% in 2010 or an increase of 0.4% per year.The main objective of this research is is to analyze the impact of land use change on runoff and formulate of the simulation / scenarios of land use in reducing runoff in the Bedog watershed using the Curve Number -USSCS (CN-USSCS). Based on the calculation of CN-USSCS in 2004, 2008 and 2010, due to the impact of changes in land use resulted runoff of 1353.0 mm (66% of the amount of rain / year), 1277.2 mm (55.5% of the amount of rain / year), and 1536, 4 mm (57.6% of the amount of rain / year). Settlement and Bareland contributed to the greatest increase in runoff in the Bedog watershed, due to having a high value of CN and has a large area.Validation of the methods of CN-USSCS using statistical test, T-test produced values of 0.00 and 0.092 below the T-table values of 1.67 and 1.71, and the coefficient of determination (R2) above 0.5, which means CN-USSCS method can be applied in the Bedog watershed to predict the runoff.The results of the formulation of land use change scenarios in Bedog watershed that the change in land use for the next 6 years ( 2016) to change the runoff by 4% from the 2010 (scenario 1). Decrease runoff in the Bedog watershed to do with the increase in forest area in the form of mixed garden and herba plants (shrubs) in Bantul for >50% of the total Bedog watershed (scenario 4)
APLIKASI MODEL FOREST CANOPY DENSITY CITRA LANDSAT 7 ETM UNTUK MENENTUKAN INDEKS LUAS TAJUK (CROWN AREA INDEX) DAN KERAPATAN TEGAKAN (STAND DENSITY) HUTAN RAWA GAMBUT DI DAS SEBANGAU PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
Memantau kegiatan melalui berbagai transformasi indeks vegetasi hutan alam dari citra satelit, seperti Selisih Normalized Vegetation Index (NDVI) telah dilakukan, tetapi tidak memberikan hasil yang maksimal. Model Forest Canopy Density (FCD) melalui algoritma integrasi Lanjutan vegetasi Index (AVI), Baresoil Index (BI), Indeks Suhu (TI) dan Shadow Index (SI) merupakan metode klasifikasi yang efektif untuk memantau perubahan di hutan tropis di Asia seperti India, Myanmar, Malaysia dan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari struktur variasi kepadatan berdiri rumput di hutan rawa Kalimantan Tengah melalui model aplikasi FCD Citra Land duduk 7 ETM. Hasil analisis menunjukkan bahwa indeks penentuan hutan kanopi yang luas (Indeks atau Cai di Area Crown) Model melalui vegetasi Density (VD) integrasi dan BI AVI tidak memberikan hasil yang optimal. Kelemahan dapat diintegrasikan dengan model dengan model yang VD ScaledBayangan Index (SSI) integrasi nilai SI dan TI. Hasil integrasi VD dan SSI menghasilkan model Forest Canopy Density (FCD), yang digunakan untuk menentukan nilai dari header indeks lebar (Indeks atau Cai di Area Crown) dan variasi kepadatan berdiri (Stand Density atau SD). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa antara FCD dan Cai memiliki model hubungan non-linear (peringkat polinomial 2) dengan R = 0,87. Pada hubungan antara Cai dan model SD memiliki hubungan dengan linier R = 0,97. Dengan model dasar diketahui hubungan matematis antara yang paling optimal dan FCD adalah pada nilai utama Cai = 5 m2 / ha
PENGEMBANGAN PUSAT PELAYANAN EKONOMI DI PINGGIRAN KOTA SEBAGAI ALTERNATIF PENANGANAN PROBLEMATIK RUANG DI KOTA YOGYAKARTA
Pusat kota merupakan kosentrasi dari pelayanan ekonomi yang mengakibatkan intensitas pergerakan yang tinggi di area tersebut. Berbagai persoalan muncul, diantaranya terkait dengan pemanfaatan ruang. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menganalisis kemungkinan pengembangan layanan ekonomi di daerah pinggiran kota sebagai alternatif untuk memecahkan masalah spasial di Kota Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada masyarakat. Variabel dalam penelitian ini adalah distribusi dan pemanfaatan layanan ekonomi, persepsi lokasi layanan ekonomi dan orientasi perkembangan layanan ekonomi. Analisis dilakukan melalui pendekatan teoritis, data sekunder dan primer analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) Pelayanan ekonomi berkonsentrasi di pusat kota diikuti oleh masalah tata ruang, 2) Preferensi menggunakan pelayanan ekonomi dipengaruhi oleh lokasi, jarak, kebiasaan, kenyamanan, kuantitas dan kualitas barang, 3) Kecenderungan perkembangan pelayanan ekonomi di daerah pinggiran kota disebabkan oleh keterbatasan ruang di pusat kota, proses urban sprawl, dan rekomendasi lokasi dari pengguna layanan.Pusat kota merupakan kosentrasi dari pelayanan ekonomi yang mengakibatkan intensitas pergerakan yang tinggi di area tersebut. Berbagai persoalan muncul, diantaranya terkait dengan pemanfaatan ruang. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menganalisis kemungkinan pengembangan layanan ekonomi di daerah pinggiran kota sebagai alternatif untuk memecahkan masalah spasial di Kota Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada masyarakat. Variabel dalam penelitian ini adalah distribusi dan pemanfaatan layanan ekonomi, persepsi lokasi layanan ekonomi dan orientasi perkembangan layanan ekonomi. Analisis dilakukan melalui pendekatan teoritis, data sekunder dan primer analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) Pelayanan ekonomi berkonsentrasi di pusat kota diikuti oleh masalah tata ruang, 2) Preferensi menggunakan pelayanan ekonomi dipengaruhi oleh lokasi, jarak, kebiasaan, kenyamanan, kuantitas dan kualitas barang, 3) Kecenderungan perkembangan pelayanan ekonomi di daerah pinggiran kota disebabkan oleh keterbatasan ruang di pusat kota, proses urban sprawl, dan rekomendasi lokasi dari pengguna layanan
Pengaruh Jumlah Kelas dan Skema Klasifikasi terhadap Akurasi Informasi Penggunaan Lahan Hasil Klasifikasi Berbasis Objek dengan Teknik Support Vector Machine di Sebagian Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah
Produksi peta penggunaan lahan dari data geospasial satelit harus memperhatikan resolusi spasial yang digunakan, dengan menggunakan ilmu penginderaan jauh secara digital akurasi informasi geospasial tematik yang diperoleh dari data geospasial satelit dapat diukur secara kuantitatif. Jumlah kelas penggunaan lahan, skema klasifikasi, dan teknik ekstraksi informasi akan berpengaruh dalam overall accuracy.Penelitian ini menggunakan tiga variasi jumlah kelas dan skema klasifikasi yaitu 4, 7, dan 10 kelas penggunaan lahan. Tiga variasi tersebut diekstraksi dari citra ALOS AVNIR – 2 dengan resolusi 10 meter menggunakan metode klasifikasi berbasis objek dengan pendekatan support vector machine. Sesuatu yang lain dari klasifikasi berbasis objek adalah proses segmentasi yang mengelompokkan objek tutupan lahan dalam satu bagian, dan algoritma SVM mengklasifikasikan citra segmentasi dengan memanfaatkan empat tipe kernel yaitu linier, radial basis function, sigmoid, dan polynomial. Hasil ekstraksi informasi penggunaan lahan untuk jumlah kelas empat menggunakan klasifikasi berbasis objek dengan pendekatan support vector machine memiliki akurasi sebesar 87.2666% serta nilai koefesien kappa 0.8048 dan tipe kernel yang dipakai adalah kernel Linier. Hasil ekstraksi informasi penggunaan lahan untuk jumlah kelas tujuh menggunakan klasifikasi berbasis objek dengan pendekatan support vector machine memiliki akurasi sebesar 79.8021% serta nilai koefesien kappa 0.7293 dan tipe kernel yang dipakai adalah kernel Linier. Hasil ekstraksi informasi penggunaan lahan untuk jumlah kelas sepuluh menggunakan klasifikasi berbasis objek dengan pendekatan support vector machine memiliki akurasi sebesar 73.3377% serta nilai koefesien kappa 0.6466 dan tipe kernel yang dipakai adalah kernel Linier. Hasil ekstraksi informasi penggunaan lahan untuk jumlah kelas sepuluh menggunakan klasifikasi berbasis objek dengan pendekatan support vector machine dan ditambah dengan data bantu berupa informasi lereng dan informasi pola ruang memiliki akurasi sebesar 77.5705% serta nilai koefesien kappa 0.6982 dan tipe kernel yang dipakai adalah kernel Radial Basis Function. Kernel linier dengan satu parameter menunjukkan akurasi tertinggi pada setiap jumlah kelas yang berbeda. Kernel linier menunjukkkan akurasi terendah ketika dipakai data bantu dalam proses klasifikasi. Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa dengan semakin banyaknya parameter yang dipakai dalam proses klasifikasi tidak berarti semakin akurat hasil klasifikasinya. Setiap kernel memiliki pengaruh spesifik terhadap objek penggunaan lahan, dan untuk meningkatkan akurasi per objek penggunaan lahan dapat menggunakan data bant
Perbandingan Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Kesehatan Menurut Aksesbilitas Wilayah (Kasus Kecamatan Sungai Lilin Dan Kecamatan Tungkal Jaya Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan)
ABSTRAK Sebagai penyelenggara pelayanan publik, pelayanan puskesmas di Kecamatan Sungai Lilin dan Kecamatan Tungkal Jaya selama ini masih banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas Sungai Lilin dan Puskesmas Tungkal Jaya berdasarkan aksesibilitas wilayah. Penelitian ini menggunakan desain penelitian survei dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Lokasi penelitian di Desa Sungai Lilin dan desa Suka Damai. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan observasi. Secara umum hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Sungai Lilin dan masyarakat Suka Damai belum puas terhadap pelayanan kesehatan yang di berikan oleh pihak puskesmas. Hal ini terjadi karena tingginya expektasi responden terhadap sebuah pelayanan. Perlu dibuat standar pelayanan puskesmas yang sesuai dengan kemampuan puskesmas, kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan. ABSTRACT As public service providers, health centers at Sungai Lilin and Tungkal Jaya district get complaints from the community. The purpose of the study is to measure level of satisfaction of cesers of community health centers of Sungai Lilin and Tungkal Jaya villages. The study combined guantitative descriptive and analytic approaches with cross sectional design Location of the study at Sungai Lilin and Suka Damai villages. Data were obtained through interview and observation. In general, the analysis shows that most people Sungai Lilin and community Suka Damai not satisfied with the health care that is provided by the clinic. Aspects that are still considered less than satisfactory service responsibility in Sungai Lilin and productivity services in the village Suka Damai. There is a strong negative relationship between service satisfaction with the level of education and income levels and Sungai Lilin Village Suka Damai.