Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
Evaluasi Ekonomi Kawasan Tambak dan Mangrove Pasca Bencana Lumpur di Muara Sungai Porongkabupaten Sidoarjo Jawa Timur
ABSTRAK Kawasan ekosistem mangrove dan budidaya tambak di muara Delta Porong Kecamatan Jabon memiliki risiko untuk mengalami pencemaran yang dibawa oleh adanya banjir pasang akibat adanya pembuangan Lumpur Sidoarjo.Tujuan penelitian ini mengidentifikasi banjir pasang di pesisir sekitar muara Sungai Porong yang diperkirakan terkontaminasi Lumpur Sidoarjo dan melakukan evaluasi ekonomi kawasan tambak dan mangrove di Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo.Metode yang digunakan untuk identifikasi adanya genangan banjir pasang menggunakan model banjir dengan menggunakan data ketinggian RBI yang dirubah menjadi Data DEM dan informasi pasang tertinggi yang didapatkan dari masyarakat dalam mengaplikasikannya dalam model genangan banjir. Informasi penutup lahan diekstrak dari citra Landsat dan Geoeye dengan digitasi on-screen. Estimasi ekonomi tambak didasarkan atas nilai usaha budidaya tambak terutama udang windu dan bandeng, sedangkan estimasi nilai ekonomi mangrove berdasarkan metode benefit transfer. Hasil penelitian berdasarkan model genangan menunjukkan adanya penurunan luas tambak produktif dari 5.010,49 Ha menjadi 4.473,05 Ha (skenario tinggi genangan 60 cm) dan 1.630,82 Ha (skenario tinggi genangan 80 cm). Hal ini berakibat pada penurunan nilai ekonomi tambak dari Rp 299.126.432.100,- menjadi Rp 126.139.981.800,- dan Rp 45.989.124.000,-. Sedangkan luas hutan mangrove justru meningkat berdasarkan hasil interpretasi penutup lahan dari estimasi luas 374,58 Ha menjadi 571,30 Ha dengan estimasi nilai ekonomi Rp 35.769.530.456,28,- menjadi Rp 54.554.597.711,07,-. ABSTRACT Mangrove ecosystem and aquaculture in estuaries Delta Porong Jabon sub-district are at risk for experiencing pollution brought by the flooding caused by the disposal Sidoarjo Mud-vulcano. This study aim to identify coastal flooding of contaminated Sidoarjo Mud-vulcano around the mouth of the River Porong and estimate the economic value of fish-ponds and mangrove areas in the district of Sidoarjo regency Jabon. The method used to identify the inundation flooding using flood models using elevation data RBI converted into DEM data and information obtained from the highest tides in the community to apply in the flood inundation model. Land cover information was extracted from Landsat and Geoeye image through on-screen digitizing. Estimated farm economy is based on the business value of aquaculture, especially shrimp and milkfish, while the economic value of mangrove based on benefit transfer method. The results based on the model showed a decrease of productive fish-pond from 5,010.49 Ha to 4,473.05 Ha (60 cm inundation scenario) and 1,630.82 Ha (80 cm inundation scenario). The effect will decrease the estimated economic value of the fish pond, from Rp 299,126,432,100,- to Rp 126,139,981,800 and Rp 45,989,124,000,-. Meanwhile the mangrove forests area have increased from 374,58 ha to 571.30 Ha based on the interpretation of land cover and it will increase the estimated economic value of mangrove from Rp 35,769,530,456.28,- to Rp 54,554,597,711.07,
Evaluasi Sumberdaya Lahan untuk Perencanaan Penggunaan Lahan Pertanian Berkelanjutan di Kecamatan Pulau Ternate Kota Ternate Provinsi Maluku Utara
ABSTRAK Evaluasi sumberdaya lahan sangat penting dalam perencanaan penggunaan lahan karena perencanaan penggunaan lahan yang baik harus didasarkan pada tingkat kesesuaian lahan dan kemampuan lahan. Penelitian ini bertujuan (1) mengevaluasi potensi penggunaan lahan pertanian berdasarkan analisis kemampuan lahan dan kesesuaian lahan, (2) menganalisis rencana penggunaan lahan pertanian berkelanjutan dan (3) menyusun pola spasial penggunaan lahan pertanian berkelanjutan di Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan keruangan dengan bentuklahan sebagai satuan unit analisis yang disusun berdasarkan interpretasi Citra Landsat TM band 457, Peta RBI dan peta geologi dengan skala peta 1 : 50.000. Analisis klasifikasi kemampuan lahan menggunakan sistem matching dan software LCLP (Land Classification and Land Use Planning). Hasil penelitian menunjukkan : Kecamatan Pulau Ternate memiliki kelas kemampuan lahan III, VI, VII dan VIII. Kelas kemampuan lahan VI mendominasi wilayah penelitian dengan luas lahan 3000.42 Ha (57,04%).Tanaman cengkeh dan pala dapat dikembangkan pada satuan bentuklahan lereng kaki gunungapi (V5) seluas 1699.27 Ha (32,30 %). Pola spasial pengembangan lahan pertanian berkelanjutan untuk penggembalaan terbatas, hutan lindung dan hutan kayu diusahakan pada lahan kelas kemampuan VI,sedangkan lahan kelas kemampuan VII dan VIII untuk hutan lindung dan cagar alam. Lahan kelas kemampuan III yang dapat digarapuntuk pertanian ekstensif dikembangkan tanaman cengkeh dan pala dengan teknologi konservasi sedang.Untuk memperbaiki kesuburan tanah dan menekan terjadinya degradasi lahan, maka penelitian ini merekomendasikan perlu dilakukan tindakan pemupukan serta penggunaan lahan dengan mempertimbangkan kemampuan lahan dan kesesuaian lahan di daerah penelitian. ABSTRACT Land resources evaluation of are very important in landuse planning because landuse planning must be based on the land suitability and land capabilityclasses. Theresearch aimed to :(1) evaluate the potential landuse of agricultural based on land capability and suitability analysis of land, (2) landuse planning analyzing the sustainable agricultural and (3) compile of the spatial patterns sustainable agriculture landuse in the Subdistrict Ternate Island, of Ternate City, of the North Maluku Province. This research applied spatial approach where the landform asanalysis unit which is based on interpretation of Landsat TM band 457, Map RBI and geological maps with map scale 1: 50.000. Land capability classification analysis using matching system and software LCLP (Land Classification and Land Use Planning). The results showedthat :the Subdistrict Ternate Island hadseveral classes of land capability ranged from class III, VI, VII and VIII. The land capability class of VI dominated the research regions with a land area 3000.42 ha (57,04%).Plant cloves and nutmeg can be developed on the foot slopes of volcanic landform units (V5) of area 1699.27 ha (32,30%). The spatial pattern of sustainable agricultural development of land for grazing is limited, protected forests and woods cultivated on land capability classes VI, while land capability class VII and VIII for protected forest and nature reserves.Land capability class III could becultivatedfor the extensive agriculture can be developedfor cloves and nutmeg with moderate conservation technologies.To improve soil fertility and pressing land degradation, this study recommending fertilization necessary action and landuse by considering land capability and suitability of land ini the research area
Evaluasi Penataan Kawasan Permukiman Kumuh (Studi Kasus: Program Peremajaan Kawasan Tegalpanggung di Kota Yogyakarta)
ABSTRAK Peningkatan jumlah penduduk pada wilayah Kota Yogyakarta menimbulkan semakin banyak permasalahan permukiman yang ditimbulkan. Permukiman kumuh merupakan salah satu permasalahan permukiman yang ada di Kelurahan Tegalpanggung Kota Yogyakarta. Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut maka pemerintah Kota Yogyakarta menata dan meremajakan kembali prasarana lingkungan kawasan yang berada di bantaran sungai Code termasuk di permukiman kumuh Tegalpanggung yang sudah terbentuk secara organis dalam waktu yang lama. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa kondisi lingkungan sebelum dan pasca penataan kawasan di daerah Tegalpanggung dan menganalisa keberhasilan terhadap program penataan kawasan Tegalpanggung menurut persepsi masyarakat setempat. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode survey dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) kepada 40 responden. Penentuan sampel digunakan metode penelitian sampling (sampling method), dengan jenis teknik sampling yang digunakan adalah pengambilan sampel secara acak (random sampling). Dalam melakukan analisis terhadap dampak relokasi digunakan metode before after comparation, untuk mengetahui perubahan yang terjadi. Hasil data selanjutnya dilakukan pengolahan secara metode analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Dengan analisis tersebut maka dapat diketahui tingkat signifikasi perubahan yang terjadi setelah program peremajaan yang dilakukan di Kelurahan Tegalpanggung. Hasil penelitian menunjukkan Kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaan program Penataan dan Peremajaan Prasarana Lingkungan Permukiman Tegalpanggung adalah sebesar 56% yang berarti masyarakat menyatakan cukup puas terhadap program ini berarti menunjukkan bahwa program penataan dan peremajaan prasarana lingkungan cukup berhasil dalam memberikan nilai kepuasan terhadap masyarakat. Dari aspek sarana dan prasarana (menurut kriteria kawasan kumuh oleh Departemen PU, 2007) dapat disimpulkan sebagian besar kondisi prasarana lingkungan yang ada termasuk dalam kategori kumuh sedang. ABSTRACT Increasing the number of residents in the city of Yogyakarta, causing more and more problems posed settlements. Slum is one of the problems in existing settlements in the Village Tegalpanggung Yogyakarta. In an effort to overcome these problems, the government of Yogyakarta organize and rejuvenate the environmental infrastructure are areas along the river Code including in slums Tegalpanggung already formed organically in a long time. The aim of this study was to analyze the environmental conditions before and after the arrangement of the region in the area Tegalpanggung and analyze the success of the restructuring program Tegalpanggung region as perceived by local people. Data collection research using survey method using a questionnaire (questionnaire) to 40 respondents. The samples used research methods of sampling (sampling method), the type of sampling technique used is random sampling (random sampling). In an analysis of the impact of the relocation of the method used before after comparation, to determine the changes that occur. Results of further data processing is done by the method of qualitative and quantitative descriptive analysis. With this analysis it can be seen the level of significance of the changes that occur after rejuvenation program conducted in the Village Tegalpanggung. The results showed public satisfaction towards the implementation of the program Structuring and Environmental Infrastructure Upgrades Tegalpanggung Settlement is 56%, which means people stated quite satisfied with this program means indicates that the Setup program and renewal of environmental infrastructure is quite successful in delivering value to the community satisfaction. From the aspect of infrastructure (according to the criteria of slum areas by the Department of Public Works, 2007) can be summed up most of the environmental conditions existing infrastructure included in the category of medium slum.
Pemetaan Hutan Mangrove di Estuari Sungai Andai, Manokwari Papua Barat Berdasarkan Metode Density Slicing Berbasis Citra Alos Avnir-2
ABSTRAK Secara umum julat nilai spektral objek diperoleh melalui perpustakaan spektral (spectral library) atau melalui pengukuran langsung di lapangan dengan alat ukur spectroradiometer, spectrometer, dan spectrophotometer, atau alat-alat sejenis yang mahal serta jarang, sehingga sulit untuk memperoleh julat nilai spektral objek tertentu. Studi tentang Metode Density Slicing Berbasis Citra ALOS AVNIR-2 Untuk Pemetaan Hutan Mangrove di Estuari Sungai Andai, Manokwari Papua Barat dilakukan dengan tujuan menghasilkan prosedur analisis perolehan julat nilai spektral melalui analis histogram band inframerah dekat ALOS AVNIR-2. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan metode analisis, yakni: 1) Analisis utama untuk menghasilkan julat nilai spektral, yakni analisis histogram band inframerah dekat ALOS AVNIR-2, dan 2) Analisis tambahan untuk menjelaskan tingkat akurasi julat nilai spektral melalui: (a) survei lapangan yang menghasilkan data untuk proses uji akurasi reklasifikasi metode density slicing, serta (b) melakukan uji akurasi terhadap peta zonasi mangrove berbasis density slicing. Analisis tersebut dijabarkan melalui pendekatan penginderaan jauh multitingkat, dimana citra QuickBird digunakan sebagai referensi untuk masking citra ALOS AVNIR-2, dan juga untuk validasi peta hasil metode density slicing. Hasil dari penelitian ini adalah prosedur analisis perolehan julat nilai spektral dan julat nilai spektral zonasi genus mangrove. Akurasi pemetan hutan mangrove untuk metode density slicingmenghasilkan nilai 40%. Nilai tersebut masih belum memenuhi standar ketelitian yang diharapkan. Namun demikian, penelitian ini secara keseluruhan dapat menghasilkan julat nilai spektral, dan hal ini memberikan implikasi terhadap pengembangan prosedur untuk menghasilkan julat nilai spektral objek. ABSTRACT Generally the range of spectral value objects can be obtained through spectral library or through direct measurement in the field with measuring instrument spectroradiometer, spectrometer and spectrophotometer, or similar tool are expensive and rarely, so difficult to obtain spectral range of the certain objects value. Study about Slicing Density Method is based AVNIR ALOS-2 imagery for mapping of mangrove forest in the river estuary Andai, Manokwari, West Papua with the purpose of generating the acquisition analysis procedures spectral value range through near infrared band histogram analysis of AVNIR ALOS-2. Aim of this study through two stages of analysis methods, namely: 1) The primary analysis to produce a spectral value range, namely histogram analysis near infrared band AVNIR ALOS-2 and 2) Additional analysis to explain the level of accuracy range spectral value through: (a) field survey that produced data to process of classification accuracy test with density slicing method, and (b) to examine the accuracy of zoning map based mangrove density slicing. This analysis describe through a multilevel remote sensing approach, which QuickBird imagery is used as a reference for masking AVNIR ALOS-2, and also to validate of map density slicing method. The results of this research is procedure of acquisition spectral value range and the spectral range of mangrove genus value zoning. Accuration of Mangrove forest mapping with density slicing method produces value of 40%. This value is still not comply expected accuracy standards. Nevertheless, overall this research can produce a range of spectral values, and it has implications for development procedure to product a spectral range of the certain objects value
Perhitungan Volume dan Karakterisasi Material Endapan Erupsi Gunungapi Kelud Tahun 2014, di Sungai Bladak Bagian Hulu Dengan Metode Geofisika
ABSTRAK Erupsi Gunungapi Kelud pada 13 Februari 2014 menghasilkan material endapan di hulu Sungai Bladak dalam jumlah yang sangat besar.Endapan hasil erupsi yang terdapat di hulu sungai berpotensi sebagai material lahar bagi wilayah di hilir.Upaya mitigasi untuk mengurangi bencana banjir lahar memerlukan informasi volume material endapan. Selain itu, informasi karakteristik fisik material endapan juga penting untuk pemanfaatannya bagi masyarakat. Penelitian untuk mengetahui volume material endapan dilakukan dengan menggunakan metode geofisika pada pengukuran ketebalan dari material endapan.Metode geofisika yang digunakan adalah metode mikroseismik dan metode seismik refraksi.Hasil yang didapatkan dari pengolahan data lapangan mikroseismik adalah nilai frekuensi natural (f0) dari setiap titik pengukuran mikroseismik. Hasil yang didapatkan dari pengolahan data lapangan seismik refraksi adalah kecepatan gelombang P dari material endapan, dimana kecepatan gelombang P akan diturunkan sehingga didapatkan kecepatan gelombang S. Kecepatan gelombang S akan digunakan untuk penghitungan ketebalan material endapan yang digabungkan dengan nilai frekuensi natural dengan rumus h=Vs/4f0. Berdasarkan ketebalan material endapan yang didapatkan dari hasil penghitungan setiap titik mikroseismik, kemudian dibuat kontur ketebalan material endapan dan dilakukan penghitungan volume material endapan. Karakterisasi material endapan dilakukan dengan cara menghitung persentase pumice dan nonpumice secara fisual menggunakan foto lapangan. Ketebalan endapan pumice di permukaan lahan dianalisis persebarannya menurut satuan-satuan lereng. Volume material endapan yang didapatkan dari hasil penelitian sebesar 27,6 juta m3. Hasil karakterisasi material diketahui bahwa pumice pada material endapan yang ada di hulu Sungai Bladak 91,82 % dan sisanya 7,18 % adalah nonpumice. Jumlah pumice yang sangat banyak tersebut merupakan sumberdaya alam yang bernilai ekonomi tinggi. Pumice dapat digunakansebagai bahan bangunan ringan, tembok kedap suara, dan juga dapat sebagai bahan penggosok kain jean/denim dan mungkin masih ada jenis pemanfaatan lainnya. Ketebalan endapan pumice tidak berkorelasi dengan satuan-satuan lereng permukaan lahan. ABSTRACT Kelud volcano had erupted on February, 13th2014, it produced a huge ammount of material at the upstream of Bladak River. That materials potentially to be material flood in downstream area. The mitigation efforts to minimize flood hazard require volume information of the materials at the upstream. Moreover, information of physical characteristics of the materials is valuable for people at the surrounding areas. Volume assessment and materials characteristics were carried out through field measurements. The volume assessment of materials was done by using geophysical methods to estimate sediment thickness. Kind of geophysical methods applied was microseismic method and seismic refraction. The results obtained from microseismic data processing was the value of natural frequency (f0) at each microseismic measurement point. The results obtained from seismic refraction data processing was the P wave velocity of sediment material, in which the P wave velocity will be derivatived to obtain the S wave velocity. The S wave velocity used for calculating the thickness of sediment combined with the value of natural frequency through the formula of h = Vs/4f0. The isopach line was produced through interpolation of sediment thickness measurement points. Later, the isopach lines were applied for volume assessment. Characterization of sediment material was done by calculating the percentage of pumice and non-pumice. The sediment material characterization data was processed manuallythrough field photoes analysis. The data processing result were then analyzed descriptively.Materials thickness of pumice in land surface was analyzed according to slope classes. The result of volume assessment of the sediment materials at the upper stream of Bladak River was 27.6 million m3. The sediment at the upper stream of Bladak River consisted of 91.8% of pumice material. The pumice materials might be valuable for local economical generator as those materials have serveral purposes, but should be investigated thoroughly through research. The community in the area surrounding of Bladak River may exploid the materials for building materials or lightweight concrete materials, abrasive cloth jean or denim, etc. There were no significant correlation between land surface slope with the thickness of materials in the upper river catchment of Bladak
Pengaruh Pusat Pertumbuhan Wilayah Terhadap Konversi Lahan Pertanian dan Swasembada Pangan Beras di Kabupaten Pringsewu
ABSTRAK Pesatnya kemajuan dan perkembangan Kabupaten Pringsewu memicu perkembangan tingkat penggunaan dan penurunan ketersediaan pangan beras. Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah (1) untuk mengidentifikasi struktur pusat pertumbuhan di Kabupaten Pringsewu, (2) menganalisis pengaruh pusat pertumbuhan terhadap konversi lahan dan (3) menganalisis pengaruh konversi lahan terhadap ketahanan pangan di Kabupaten Pringsewu. Metode pengambilan data adalah survei instansioner, sedangkan tekhnik analisis data menggunakan skoring, klasifikasi dan analisis skalogram. Hasil penelitian menunjukkan distribusi desa pusat pertumbuhan dan hinterland-nya yaitu 2 desa teridentifikasi sebagai pusat pertumbuhan (hirarki I) dan 15 desa sebagai hinterland-nya (hirarki II). Wilayah pusat pertumbuhan dan pinggiran menjadi wilayah dengan tingkat konversi tinggi sampai sedang, sedangkan konversi lahan sawah dengan tingkat rendah di dominasi oleh desa dalam hirarki III. Laju konversi yang terjadi berpengaruh terhadap luas tanam, luas panen dan produksi padi sawah di Kabupaten Pringsewu. ABSTRACT The rapid progress and development of Pringsewu district trigger the development of land use and the decline in availability of food rice. The aims of this study is (1) to identify the structure of the growth center in the Pringsewu District, (2) analyze the effect of the growth center to the land conversion and (3) analyze the effect of the conversion of land to food security in the Pringsewu District. The data taked by survey method, while the analysis techniques of data using scoring, classification and analysis scalogram. The results showed the distribution of rural growth centers and its hinterland are two villages identified as a growth center (hierarchy I) and 15 villages as its hinterland (hierarchy II). The region of growth center and its hinterland are a high levels of conversion area and moderate, while the conversion with low levels is dominated by the villages in hierarchy III. The rate of conversion that occurs affects the planting area, harvested area and production of paddy rice
EVALUASI PETA DISTRIBUSI STASIUN PELAYANAN BAHAN BAKAR UMUM (SPBU) PERTAMINA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka mengevaluasi stasiun pelayanan umum bahan bakar umum khususnya bensin (SPBU) yang merupakan program paling bawah dari tugas Pertamina, khususnya Direktorat Perbekalan dan Pemasaran Dalam Negeri (Dit PPDN). Evaluasi secara deskriptif dilakukan dengan melihat distribusi SPBU-SPBU yang ada di seluruh daerah pemasaran dengan pendekatan analisis peta distribusi SPBU, pada skala 1: 200.000 (dan inset peta Kotamadya Yogyakarta skala lebih kecil), terutama mengevaluasi pola persebaran SPBU-SPBU tersebut.Dari peta yang dihasilkan yang menggambarkan lokasi SPBU-SPBU di Daerah Istimewa Yogyakarta, terlihat bahwa pengelompokan yang paling menonjol terdapat di Kotamadya Yogyakarta, terutama dibagian utara yang relatif lokasinya mendekati pusat-pusat pelayanan masyarakat yang lainnya, misalnya Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta dan juga pusat pelayanan rumah sakit, terminal bus. Omzet SPBU yang ada secara keseluruhan menjual sebanyak 608 kilo liter per hari untuk mensuplai sebanyak 512.532 jumlah kendaraan bermotor berbagai jenis (termasuk kendaraan bermotor pengguna solar). Omzet sebanyak tersebut menurut Pertamina menganggap cukup. Penambahan jumlah SPBU dapat saja dilakukan, namun perlu memikirkan masalah penyebaran yang relatif merata secara proporsional, terutama pada daerah Kabupaten Bantul,Kabupaten Gunung Kidul yang relatif masih belum tersebar dengan baik. Pendirian SPBU di sekitar jalan Lingkar Utara dianjurkan terutama untuk melayani kendaraan antar kota dan antar propinsi yang keluar masuk Kota Yogyakarta
PERANCANGAN SISTEM INFORMASI DRAINASE KOTA SURABAYA
ABSTRAK Tujuan penelitian adalah melakukan identifikasi basis data dan “software” yang digunakan untuk mengelola basis data tersebut di daerah penelitian, dan mengembangkan atau merancang Sistem Informasi Drainase di daerah penelitian. Hasil identifikasi basis data dan “software” pengelolanya menunjukkan adanya dua jenis basis data yang telah dikembangkan di Kota Surabaya. Basis data yang pertama bersifat umum dan kurang lengkap serta dikelola dengan program Autocad. Sedangkan basis data yang kedua sudah memadai, bahkan struktur basis data dan tata letak data sudah baik yang dikelola dengan program ArcView versi 3.1. Oleh karena itu, pilihan basis data dijatuhkan pada basis data yang kedua dengan program pengelolanya adalah ArcView. Mengingat adanya, beberapa kekurangan pada basis data tersebut maka diperlukan penambahan dan pengurangan data serta dilakukan beberapa perubahan pada struktur data yakni untuk kepentingan hubungan dengan kenampakan lain. Aplikasi Sistem Informasi Drainase Kota Surabaya dikembangkan dengan program Visual Basic 6.0 dan ArcView versi 3.2. Dengan aplikasi ini memungkinkan pengguna akhir yang kurang ahli dapat mengoperasikan dengan cepat dan mudah dalam menghasilkan informasi yang dapat digunakan oleh para pengambil kebijakan untuk perencanaan dan pengelolaan sistem drainase Kota Surabaya
PEMANFAATAN INFORMASI KERAWANAN GERAKAN MASSA UNTUK PENILAIAN KEMAMPUAN LAHAN DI SUB-DAS MAETAN, DAERAH ALIRAN SUNGAI LUK ULA JAWA TENGAH
ABSTRAK Penelitian ini bermaksud mengkaji pemanfaatan inform as! kerawanan gerakan massa untuk penilaian kemampuan lahan. Secara rind penelitian ini bertujuan untuk: (I) mengkaji kondisi geomorfologi-tanah daerah penelitian, (2) mengkaji tingkat kerawanan gerakan massa di daerah penelitian, (3) melakukan evaluasi kemampuan lahan daerah penelitian, dan (4) memberikan rekomendasi bentuk penggunaan lahan yang sesuai.Metode yang diterapkan dalam penelitian ini disusun dengan menggunakan pendekatan geomorfologi-tanah. Satuan bentuklahan-tanah dijadikan dasar sebagai satuan evaluasi tingkat kerawanan gerakan massa dan kemampuan Iahan di daerah penelitian. Penelitian ini menerapkan teknik penginderaanjauh dan SIG untuk memudalikan dalam melakukan analisis morfologi, molfoarrangement, dan marfob-onalogi satuan bentuklahan-tanah yang ada di daerah penelitian. Tingkat kerawanan gerakan massa ditentukan berdasarkan teknik pembobotan dan pengharkatan (skoring). Evaluasi kemampuan lahan dilakukan dengan menerapkan metode matching menurut kriteria Arsyad (2000) yang dimodifikasi dengan memanfaatkan data tingkat kerawanan gerakan massy. Bentuk penggunaan lahan beserta teknik konservasi yang sesuai di daerah penelitian dirumuskan berdasarkan pendekatan teoritis untuk tujuan pengendalian erosi dan gerakan massa.Berdasarkan penerapan kriteria klasifikasi kemampuan lahan menurut Arsyad (2000) daerah penelitian mempunyai klas kemampuan lahan II, III, IV, VI, VII, dan VIII. Jika kriteria klasifilcasi Arsyad (2000) ditambah dengan gerakan massa, maka kemampuan lahan di Sub DAS Maetan berkisar dart klas VI hingga klas VIII. Bentuk penggunaan lahan untuk usaha pertanian tanaman padi adalah kurang sesuai di daerah penelitian. Penerapan teknik konservasi secara mekanik dengan (eras juga kurang sesuai karena telah terbulai meningkatkan kerawanan gerakan massa. Penggunaan lahan untuk usaha penggembalaan adalah yang disarankan agar pemanfaatan lahan di daerah penelitian dapat lestari. Lahan penggembalaan perlu dikombinasikan dengan teknik konservasi secara mekanik berupa sistem drainase menuruni lereng
POTENSI PERKEMBANGAN WILAYAH DAN KAITANNYA DENGAN TATA RUANG DI KAWASAN LERENG MERAPI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi dan perkembangan wilayah kawasan lereng Merapi yang dikalikan dengan peruntukan fungsi tata ruang. Lingkup wilayah dan unit analisis adalah seluruh desa di kawasan pengembangan Lereng Merapi, yaitu sejumlah 206 desa yang tersebar di Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Banta Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif analitis, dengan menggunakan data sekunder. Potensi perkembangan wilayah diidentifikasi dengan indikator demografis, karakteristik social ekonomi, penggunaan lahan dan infrastruktur, dan aksesibilitas. Sedangkan data peruntukan ruang dikelompokkan dalam peruntukan fungsi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Teknik analisis yang digunakan antara lain stalistik deskriptip, penentuan tipologi wilayah, analisis deskriminan, shift analysis, dan pemetaan. Hasil penelitian menunjukkan, pola perkembangan wilayah di kawasan lereng Merapi terkonsentrasi di bagian tengah (kota Yogyakarta dan pinggirannya) dan menuju kearah lereng atas (Kabupaten Sleman). Pada fungsi budidaya, sebagian besar wilayah bertipe 1: (besar tumbuh) berada di daerah perkotaan dan perluasannya, sedangkan wilayah ripe 1l (kecil tumbuh) urnumnya berfungsi sebagai daerah pertanian lahan basah. Pada peruntukan fungsi lindung, khususnya lindung bawahan (resapan air), terdapat 36,7% (18 desa) yang berpotensi berkembang pesat. Analisis basis ekonomi juga menunjukkan bahwa potensi perkembangan wilayah tinggi, akan diiringi oleh pergeseran menguatnya peran sektor non pertanian. Tipologi wilayah menurut fungsi kawasan dapat digunakan sebagai dasar dalam determinasi perkembangan wilayah, karena memiliki tingkat perbedaan yang signifikan antara fungsi lindung dan budidaya. Gejala potensi perkembangan wilayah yang tinggi di lereng bagian tengah dan atas yang berfungsi sebagai kawasan lindung dan resapan tidak menguntungkan dart sisi ekologis, dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu penelitian ini merekomendasikan untuk menggeser arah perkembangan kawasan lereng Merapi ke arah barat dan selatan, dengan membangun pusat-pusat pertumbuhan baru. Selain itu perlu kontrol dan pengenclallan peruntukan fungsi taia ruang secara ketat terutama pada wilayah ape I dan 11. Sedangkan untuk mengembangkan desa-desa yang memiliki not (MCI rpnclah (tine diperlukan redistribusi hasil-hasil pembangunan