Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
    419 research outputs found

    Hubungan Antara Akses Informasi Kesehatan Reproduksi dengan Perilaku berisiko Napza pada Remaja di Indonesia

    No full text
    ABSTRAK Ketidakmatangan emosi cara berpikir dan bertindak sangat berpengaruh pada perilaku remaja dalam penyesuaian diri ke dalam lingkungan barunya.Banyak remaja tidak menyadari bahwa perilaku yang mereka lakukan merupakan perilaku berisiko dan menyimpang.Kurangnya informasi kesehatan reproduksi mendorong seorang remaja berperilaku berisiko terhadap kesehatan reproduksi. salah satunya adalah perilaku berisiko NAPZA. Tujuan Penelitianuntuk mengetahui hubungan antara akses informasi kesehatan reproduksi dengan perilaku berisiko NAPZA remaja menurut karakteristik sosiodemografis. mengetahui pengaruh akses sumber informasi kesehatan reproduksi terhadap perilaku berisiko NAPZA remaja di Indonesia setelah dikontrol dengan karakteristik sosiodemografis. Penelitian menggunakan data SDKI 2012 dengan responden remaja berusia 15-24 tahun. belum kawin. terdiri dari 19.414 responden. Penelitian bersifat deskriptif kuantitatif menggunakan rancangan cross sectional. Variabel karakteristik sosiodemografis digunakan sebagai variabel luar. yakni variabel yang diduga mempunyai hubungan dengan variabel tergantung. Teknik pengujian menggunakan regresi logistik biner melalui prosedur regresi hierarki. yakni mengeluarkan variabel yang mempunyai p>0.05 untuk mendapatkan model akhir prediktor di antara variabel karakteristik sosiodemografis remaja. Kecenderungan tiap variabel prediktor dilihat dari nilai Odds Ratio (OR) pada tingkat kemaknaan p≤0.05.Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara akses sumber informasi kesehatan reproduksi dengan perilaku berisiko NAPZA remaja. terdapatnya hubungan signifikan antara karakteristik sosiodemografis remaja (umur. jenis kelamin. daerah tempat tinggal. tingkat pendidikan) dengan perilaku NAPZA remaja. serta akses sumber informasi kesehatan reproduksi berpengaruh signifikan terhadap perilaku NAPZA remaja setelah dikontrol dengan variabel karakteristik sosiodemografis yaitu daerah tempat tinggal dan tingkat pendidikan(p-value= 0.000; OR=1.346; CI= 1.219 – 1.487). ABSTRACT  Emotional immaturity. ways of thinking and acting is very influential on the behavior of adolescents in the adjustment to the new environment. Many teens do not realize that they are doing the behavior is risky and deviant behavior. Lack of reproductive health information to encourage an adolescent risk behavior on reproductive health. one of which is the risk behavior of drug. Objective to investigate the relationship between access to information about reproductive health with adolescent drug risk behaviors according to sociodemographic characteristics. Determine the effect of access to reproductive health information source for teen drug-risk behaviors in Indonesia after controlling for sociodemographic characteristics. Research using data IDHS 2012 with respondents adolescents aged 15-24 years. unmarried. consisting of 19 414 respondents. Quantitative descriptive research using cross sectional design. Sociodemographic characteristics of the variable is used as an external variable. the variable that allegedly has links with the dependent variables. Testing techniques using binary logistic regression through hierarchical regression procedure. namely issuing variable having p> 0.05 to obtain the final model between the predictor variables sociodemographic characteristics of adolescents. The tendency of each predictor variable seen from the Odds Ratio (OR) at the level of significance p≤0.05. The results showed a significant relationship between access to resources reproductive health risk behavior of drug adolescents. the presence of a significant association between the characteristics of sociodemographic adolescent (age. sex. area of residence. education level) with the behavior of Drug adolescents. as well as access to resources reproductive health significantly influence the behavior of adolescent drug after controlled variable sociodemographic characteristics that area of residence and level of education (p-value = 0.000; OR = 1.346; CI = 1.219 to 1.487)

    Pola Persebaran Perumahan Menurut Kelompok Etnis di Kelurahan Kuto Batu, Kota Palembang

    No full text
    ABSTRAK Heterogenitas penduduk secara horisontal ditandai dengan beragamnya kelompok etnis yang menyelenggarakan hidup di perkotaan. Eksistensi kelompok etnis berkaitan dengan eksistensi perumahan. Lokasi dari perumahan menurut kelompok etnis adalah inti dari penelitian ini. Tujuan penelitian pertama adalah mengidentifikasi pola sebaran perumahan menurut kelompok etnis. Tujuan kedua adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pola sebaran perumahan menurut kelompok etnis.  Penelitian ini adalah penelitian kasus. Pengumpulan data primer dilakukan dengan teknik pemetaan partisipatif dan wawancara tokoh kunci yang ditentukan menggunakan teknik bola salju. Semua data penelitian dianalisis secara kualitatif untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian.  Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa temuan-temuan yaitu: (1) sebaran perumahan etnis Tionghoa adalah berpola teratur dimana tersusun berderet mengikuti geometri jaringan jalan sehingga pola bentuk sebarannya seperti huruf L dan I. Sebaran perumahan etnis Arab adalah berpola tidak teratur. Susunan bangunan perumahan etnis Arab memiliki kesan semu yang seolah-­olah tersusun memusat pada obyek/fasilitas umum seperti lapangan, tempat ibadah, bahkan situs kuna (Rumah Batu). Geometri dari susunan bangunan perumahan berhadap-hadapan dan memusat pada obyek khusus menciptakan pola bentuk seperti huruf U dan I. Sebaran perumahan etnis Jawa adalah berpola tidak teratur. Memusat di sekitar lokasi tempat bekerja dengan akses harga rumah yang relatif murah (dekat sungai). Orientasi dari bangunan perumahan etnis Jawa adalah membelakangi sungai sehingga bentuk dari perumahan mereka terkesan menciptakan pola bentuk seperti huruf S dan I. Sebaran dari perumahan etnis Melayu adalah berpola tidak teratur. Susunan bangunan perumahan pada tiap zona bervariasi sehingga memiliki kesan kombinasi/ percampuran dari susunan berderet dan memusat. Orientasi bangunan perumahan menghadap ke arah daratan. Geometri dari bentuk bangunan perumahannya pada tiap zona juga teridentifikasi sebagai percampuran antara bentuk L, I, U, dan S. (2) faktor-faktor yang mempengaruhi pola sebaran perumahan menurut kelompok etnis di Kelurahan Kuto Batu antara lain adalah kecenderungan dalam mempertimbangkan lokasi perumahan berdasarkan kriteria dari karakter tempat tinggal, karakter lingkungan tempat tinggal, interaksi sosial serta kebijakan publik yang berlaku di lingkungan tersebut. Karakter tempat tinggal berkaitan dengan fungsi rumah dan hak kepemilikan rumah. Karakter lingkungan tempat tinggal berkaitan dengan jenis matapencaharian, kedekatan fungsi pelayanan, jaringan transportasi, dan keseragaman penduduk dari daerah asal. Kriteria interaksi sosial berhubungan dengan asmiliasi perekonomian, sosial, budaya, dan kuliner. Kriteria kebijkan publik berkaitan dengan kemudahan untuk mengakses tempat tinggal di Kuto Batu. Pengamatan terhadap pola sebaran perumahan menurut kelompok etnis berserta peluang atas faktor-faktor yang mempengaruhinya merupakan instrumen kunci dalam manajemen perkotaan dengan komposisi masyarakat yang plural. ABSTRACT Horizontal heterogenety of the population is characterized by the diversity of ethnic groups living in urban organizing. The ethnic groups existing are regarded to the existence of housing. The location of the housing according to ethnic group is the core of this study. The first research goal is to identify the pattern of distribution of housing according to ethnic groups. The second objective was to determine the factors that affect the distribution pattern of the housing according to ethnic groups. This research is a case study. Primary data collection was done by using participatory mapping and interview key figures are determined using the snowball technique. All data were analyzed qualitatively in order to answer the research questions. The results showed some of the findings: (1) the distribution of ethnic Chinese housing is arranged in a row in which the irregular pattern followed the road network geometry so that the pattern of spreading shape like the letter L and I. Distribution of ethnic Arab housing is patterned irregular. The composition of the building housing the Arabs have the impression that as if pseudo arranged centered on the object / public facilities such as courts, places of worship, even sites kuna (Stone House). The geometry of the arrangement of a residential building, face to face and focuses on specific objects creates a pattern shape like the letter U and I. Spread Javanese housing is patterned irregular. The Centered around the location where work with access to the relatively cheap price of the house (near the river). The orientation of the building housing the Javanese is turned rivers that form of housing they seem creating a pattern shape like the letter S and I. Distribution of housing Malays is patterned irregular. The composition of residential buildings in each zone varies so has the impression of a combination / mixing of the orders lined up and centered. Orientation residential building is facing toward the mainland. The geometry of the shape of the building housing in each zone is also identified as a mixture of forms of L, I, U, and S. (2) the factors that affect the distribution pattern of the housing according to ethnic groups in Kuto Batu Village, among others, is the tendency to consider the location of housing based the criteria of residence of character, the character of the neighborhood, the social interaction as well as public policies in force in the neighborhood. The residence character with regard to the function of the home and home ownership rights. The neighbourhood character with regard to the type of livelihood, the proximity of the service function, the transport network, and the uniformity of the population of the area of origin. Criteria related to social interaction assimilation economic, social, cultural, and culinary. Criteria for public development policy with regard to ease of access to places to stay in Kuto Batu. Observation of the housing distribution pattern according to ethnic groups along with the opportunities of the factors that influence is a key instrument in the management of urban composition pluralistic society

    Pemodelan Spasial untuk Pembuatan Peta Rawan Banjir dan Peta Tingkat Risiko Banjir Bengawan Solo di Kota Surakarta

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemodelan spasial untuk menyusun Peta Bahaya Banjir dan Peta Tingkat Risiko Banjir akibat luapan Bengawan Solo di Kota Surakarta. Lokasi penelitian meliputi penggal alur Bengawan Solo di wilayah Kota Surakarta. Metode penelitian yaitu dengan analisis hidrograf, pemodelan banjir, analisis potensi bahaya banjir, analisis kerentanan banjir, dan analisis tingkat risiko banjir. Analisis hidrograf dilakukan dengan menghitung debit puncak rancangan, analisis geometrik sungai, dan analisis karakteristik banjir. Pemodelan spasial banjir menggunakan perangkat lunak ArcView dengan ekstensi HEC-GeoRAS dan perangkat lunak hidrologi HEC-RAS. Analisis potensi bahaya banjir dari peta genangan hasil pemodelan spasial dengan input debit puncak rancangan banjir periode ulang 60. Analisis kerentanan dengan identifikasi elemen yang berisiko pada peta penggunaan lahan daerah bahaya. Analisis tingkat risiko dilakukan dengan cara overlay peta bahaya dan peta kerentanan banjir. Perangkat lunak ArcView 3.3 dengan ekstensi HEC-GeoRAS mampu untuk melakukan pemodelan banjir dengan tingkat validasi yang tinggi. Validasi dilakukan dengan membandingkan kedalaman maksimum hasil pemodelan dengan hasil perhitungan debit puncak rancangan. Nilai  perbedaan antara 0,68% - 4,54%. Meskipun secara kuantitatif peta model bahaya banjir rancangan sesudah pelurusan lebih luas daripada sebelum pelurusan, tetapi berdasarkan uji statistik penambahan luas tersebut tidak berbeda signifikan. Dari peta tingkat risiko banjir diketahui Kelurahan Sewu, Semanggi, Sangkrah dan Gandekan mempunyai potensi risiko banjir tertinggi di Kota Surakarta. ABSTRACT This research is intended to perform flood modelling in Bengawan Solo River in order to develop flood hazard map, flood vulnerability map, and flood risk map as a result of overflow of such river in Surakarta City. The research area covers cut-off channel of Bengawan Solo in Surakarta City. The research was conducted by applying hydrograph analysis, flood modelling, flood hazard analysis, flood susceptibility analysis, and flood risk analysis. Hydrograph analysis was executed by calculating peak discharge designed, analysis of river geometric, and analysis of flood characteristic. Flood spatial modelling was done by means of ArcView with HEC-GeoRAS extention and hydrological software HEC-RAS. Flood hazard analysis was obtained by spatial modelling of flood inundation map with returned period of peak discharge designed of 60. Flood vulnerability analysis was derived from land use map used to identify risk element which exists in prone area. Flood risk analysis was carried out by overlying flood hazard map and flood susceptibility map. ArcView with HEC-GeoRAS extention and HEC-RAS was able to perform high validation of flood modelling. The validation was done by comparing maximum depth of the model and estimated peak discharge with different percentage 0.86% – 4.54%. Even the estimated flood hazard after river streamlining was wider than before, statistical analysis proves that different width of it was not significance. It means of river streamlining didn’t influence the wide of flood hazard area. Sewu, Semanggi, Sangkrah,and Gandekan Sub District has the highest risk of flood in Surakarta City

    PERANAN WANITA DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI LOKAL (STUDI KASUS POLA RUANG BELANJA WANITA DI KOMPLEKS PERUMAHAN, DAERAH PINGGIRAN KOTA)

    No full text
    ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui peran wanita dalam pemberdayaan ekonomi lokal, dengan tekanan pada studi ruang belanja wanita. Lingkup kajian terdiri dari tiga aspek, yaitu (1) peran wanita dalam mengatur pengeluaran keluarga, (2) pola orientasi ruang belanja wanita, dan (3) faktor-faktor yang mempengaruhi orientasi ruang belanja. Penelitian bersifat deskriptif-eksploratif, dengan menggunakan metode survei. Objek penelitian adalah wanita rumah tangga di kompleks perumahan di daerah pinggiran kota Yogyakarta, dengan mengambil 3 sampel strata perumahan berdasarkan tingkat ekonomi masyarakatnya, yaitu perumahan Griya Perwita Wisata, Sukoharjo, dan Nogotirto. Hasil penelitian menunjukkan, karakteristik sosial ekonomi wanita di pinggiran kota memiliki potensi besar bagi pemberdayaan ekonomi lokal, ditandai tingkat pendidikan, penghasilan, dan pengeluaran yang tinggi. Wanita memiliki peran penting dibanding pria dalam mengatur pengeluaran keluarga. Dari 10 jenis kebutuhan belanja, wanita memegang peran dominan lebih dari 50%. Oleh karena itu wanita merupakan agent pembangunan yang cukup efektif, terutama melalui mekanisme pengaturan pengeluaran. Potensi ekonomi yang besar dan peran penting wanita ternyata kurang banyak memberikan manfaat bagi pengembangan ekonomi lokal. Hal ini disebabkan sebagian besar wanita membelanjakan uangnya di Kota Yogyakarta (70%) dan hanya (30,28%) yang berputar di wilayah lokal, tempat perumahan berada dan sekitarnya. Hal ini dipengaruhi oleh faktor pendidikan, penghasilan, pengeluaran, lokasi sekolah, lokasi kerja, dan jenis kebutuhan. Selain itu karena harga murah, barang lengkap dan berkualitas, serta kesamaan tempat kerja atau sekolah. Terdapat perbedaan yang signifikan ruang belanja antar strata perumahan. Semakin tinggi strata perumahan, semakin jauh ruang belanjanya. Dengan kata lain dampak terhadap upaya pemberdayaan ekonomi lokal semakin kecil. Hasil studi merekomendasikan : (1) pengembangan perumahan kelas menengah ke bawah di pinggiran kota lebih disarankan dibandingkan dengan perumahan mewah;  (2) penjelasan kontinyu dan intensif tentang peran wanita dalam pengembangan ekonomi lokal. Disamping itu harus didukung program pengembangan wilayah pinggiran kota secara terpadu dan terintegrasi

    ANALISIS PERUBAHAN KAWASAN TERBANGUN KOTA SURABAYA BERDASARKAN METODE MULTI TEMPORAL CITRA LANDSAT THEMATIC MAPPER

    No full text
    ABSTRAK Perkembangan kawasan terbangun yang objektif dalam wilayah perkotaan dengan pengukuran secara langsung di lapangan akan mendapatkan banyak kesulitan, membutuhkan waktu panjang dan memerlukan biaya yang besar. Untuk itu diperlukan suatu cara yang lebih praktis, lebih murah, sehingga tingkat perkembangan kawasan terbangun dapat terdeteksi. Teknik penginderaan jauh berdasarkan data citra Landsat TM multi temporal adalah salah satu cam yang dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi terjadinya perubahan kawasan terbangun pada periode tertentu, di antaranya perubahan kawasan terbangun kota Surabaya dari tahun 1993 sampai dengan tahun 1999. Cakupan wilayah penelitian pada citra Landsat TM, berpedoman dari hasil digitasi pets rupabumi Kota Surabaya tahun 1999. Untuk mendapatkan citra yang mempunyai sistem koordinat, dilakukan koreksi geometrik dengan bantuan titik kontrol di darat. Dari pembuatan contoh latihan citra Landast TM tahun 1993 dan tahun 1999 diklasifikasi dengan jenis klasifikasi terbimbing. Untuk meyakinkan kebenaran hasil klasifikasi itu, dilakukan pengecekan langsung di lapangan. Perubahan yang terjadi pada kawasan terbangun, didapat dari proses tumpang susun antara citra Landsat TM hasil klasifikasi tahun 1993 dan tahun 1999. Perubahan Kawasan terbangun dari tahun 1993 dan 1999 di Kota Surabaya,adalah seluas 2.822,487 hektar (6,844 %) dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 1,141 % pertahun

    MENAKSIR PRODUKSI GETAH PINUS MERKUSII MENGGUNAKAN FOTO UDARA

    No full text
    ABSTRAK Penelitian penaksiran produksi getah pinus ini merupakan penggabungan metode pengukuran pada foto udara 1:20.000 dan pengukuran lapangan. Parameter tegakan yang diukur adalah tinggi pohon (H), diameter tajuk (D) dan jumlah pohon per hektar (7V). Banyaknya produksi getah (G) ditentukan berdasarkan pengukuran lapangan. Model persamaan yang dihasilkan adalah:GMajenang -77,959+11,512H + 16,311D+ 0, 420N (R2=0, 692);GLoano - 10,393 +13, 388H+ 20, 404D+0, 480N-0, 094H2-36, 240D2 (R2- 0,624); Gsignur =- -58,507 + 0,541N + 14,535H+ 22,271D – 55,611D2 (R2-0,713). Perbedaan .produksi getah hash perhitungan adalah 0,803% bila dibandingkan dengan basil pengukuran lapangan

    KETERKAITAN LINGKUNGAN GEOGRAFI, KONDISI SOSIAL EKONOMI DAN PEMBAGIAN KERJA SECARA SEKSUAL DI PERDESAAN

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian bertujuan withal hubungan asosiasi antara lingkungan geografi, sosial-ekonomi dan pembagian kerja secara seksual yang difokuskan pada suami istri di perdesaan. Huhungan tersebut diatnati melalui deskripsi kondisi fisiografi. aksesibilitas, sosial-ekonomi penduduk dan pola pembagian kerja suami istri serta membandingkan antar wilayah yang diteliti. Metode pendekatan mendasarkan areal differentiation dengan menggunakan lingkungan geografi sebagai landasan analisis keterkaitan antar komponennya. Lingkungan Geografi terdiri tiga ,kornponen: lingkungan fisik, manusia dan aksesibilitas. Hasil penelitian: hubungan asosiasi antara kondisi sosial-ekonomi penduduk dengan lingkungan fisik serta aksesibilitas di wilayah penelitian, terlihat cukup ftal, peran istri ternyata cukup menggembirakan, kebersamaan dalam pembagian kerja suami istri kelihatan hannonis dan nilai sosial-budaya yang diwarisi secara turun temunin tampak masih cukup kuat menjaga keharmonisan berumah-tangga

    ANALISIS KEMAMPUAN DAN DAYA DUKUNG LAHAN UNTUK PENATAGUNAAN LAHAN SUBDAS DENGKENG DAS BENGAWAN SOLO

    Get PDF
    ABSTRAK Tujuan penelitian ini mengetahui kemampuan dan daya dukung lahan untuk penatagunaan lahan di Sub-DAS Dengkeng. Analisis kemampuan lahan dilakukan secara matching per satuan lahan hasil overlay peta kerniringan lahan dan jenis tanah. Karakteristik satuan lahan diperoleh dari survei di lapangan dan analisis tanah di laboratorium. Daya dukung lahan ditentukan berdasarkan nilai tekanan penduduk. Hasil penelitian menunjukkan Sub-DAS Dengkeng rnemiliki enarn kelas kemampuan lahan dan telah mengalami tekanan penduduk dengan nilai daya dukung lahan tahun 2004, 2007, dan 2012 menurun menjadi 0,69; 067 dan 0.65. Penatagunaan lahan untuk rehabilitasi lahan yang disarankan adalah nzerubah bentuk penggunaan lahan sawah tadah hujan, tegalan, dan perkebunan pada kelas kemampuan lahan I, III, dan IV menjadi lahan agroforestri, pada kelas kemampuan lahan VI menjadi hutan rakyat produksi biasa sedangkan pada kelas kemampuan lahan VII dan VIII menjadi hutan rakyat dengan fungsi lindung

    APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERTANIAN DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    Get PDF
    ABSTRAK Sektor pertanian merupakan sektor perekonomian yang masih menjadi unggulan di berbagai wilayah di Indonesia, menempatkan sektor ini sebagai aktivitas utama ekonomi masyarakat dan juga sumber penguatan perekonomian rakyat. Penelitian ini mempunyai tujuan jangka panjang yaitu untuk mengembangkan model integrasi antar faktor fisik dan sosial ekonomi dalam menentukan prioritas arahan pengembangan di sektor pertanian, terutama untuk menentukan jenis komoditas yang paling sesuai pada suatu satuan lahan atau wilayah tertentu yang menjadi daerah basis pertanian. Selain itu juga mengukur keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif daerah basis pertanian DIY ditinjau dari sub sektor tanaman pangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan di Provinsi DIY yang sangat sesuai untuk tanaman padi sebesar 25,4%, sedangkan untuk tanaman kacang tanah lebih kecil lagi yaitu 16% dan untuk tanaman jagung hanya 2%. Faktor yang membatasi tingkat kesesuaian lahan pada 3 jenis tamanan pangan tersebut adalah kondisi perakaran tanaman, ketersediaan unsur hara, retensi hara dan medan atau lokasi. Lahan yang mampu diusahakan untuk aktivitas pertanian dan sesuai dengan kesesuaian lahan untuk tanaman pangan adalah di Ledok Wonosari, Lereng Tengah Merapi, Lereng Bawah Merapi dan Batur Agung. ABSTRACT The agricultural sector is a sector of the economy is still seeded in various regions in Indonesia, putting this sector as the main economic activity of society and also the source of strengthening the economy of the people. This research has a long-term goal is to develop a model of integration between the physical and socio-economic factors in determining the priority direction of development in the agricultural sector, especially to determine the most appropriate types of commodities on a unit of land or a particular region of the local agricultural base. It also measures the comparative advantage and competitive advantage DIY agricultural base area in terms of food crops sub-sector. The results showed that the land in the province that is very suitable for rice crop amounted to 25.4%, while for peanut plants smaller is 16% and for the corn crop is only 2%. Factors that limit the suitability of land on three types of plants are food crop rooting conditions, availability of nutrients, nutrient retention and the terrain or location. Capable of cultivated land for agricultural activities and in accordance with the suitability of land for food crops is in Ledok Wonosari, Central Slopes of Merapi, Merapi Slope Down and BaturAgung

    Peran Masyarakat dan Pemerintah dalam Pengelolaan Air Limbah Domestik di Wilayah Ternate Tengah

    Get PDF
    ABSTRAK Air limbah domestik merupakan cairan buangan dari rumah tangga, maupun tempat-tempat umum lain yang mengandung bahan–bahan yang dapat membahayakan kehidupan makhluk hidup serta mengganggu kelestarian lingkungan. Pegelolaan awal terhadap air limbah yang dilakukan sebelum dibuang ke lingkungan merupakan suatu tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mengkaji tentang  peran pemerintah dan sistem pengelolaan air limbah domestik yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Ternate, 2) Mengkaji peran masyarakat dalam  pengelolaan air limbah domestik, 3) Mengkaji faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pengelolaan air limbah domestik, 4) Menyusun alternatif strategi yang dapat dijadikan solusi dalam pengelolaan air limbah domestik di Kota Ternate. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dan pengamatan langsung di lapangan. Penelitain ini dilakukan di beberapa lokasi di wilayah Kecamatan Ternate Tengah, yaitu Kelurahan Maliaro, Kelurahan Stadion, Kelurahan Gamalama dan Kelurahan Makassar Timur. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik proportional random sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis statistik deskriptif menggunakan tabulasi silang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa sistem pengelolaan air limbah domestik yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah saat ini yaitu mengalirkan air limbah domestik melalui jaringan drainase dengan memanfaatkan kemiringan lereng daerah setempat dan akhirnya dibuang ke badan air terdekat. Tingkat peran pemerintah dalam mengelola air limbah domestik tergolong rendah. Tingkat peran masyarakat dalam pengelolaan air limbah domestik untuk jenis balck water  tergolong tinggi, namun air limbah jenis grey water tergolong rendah. Faktor-faktor yang menjadi kendala di antaranya yaitu : 1) Belum adanya lembaga pemerintah yang secara khusus bertugas untuk mengelola air limbah domestik, 2) Pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang dampak air limbah masih rendah,  3) Keterbatasan lahan dan dana, 4) Belum adanya peraturan daerah yang mengatur tentang pengelolaan air limbah domestik.  ABSTRACT Domestic wastewater is liquid discharges from households, as well as other public places that contain ingredients that can harm living beings and interfere with environmental sustainability. Pegelolaan beginning of the wastewater is done before discharge to the environment is an act that can be done to preserve the environment. This study aims to: 1) Review of the role of government and a system of domestic waste water management has been done by the government of Ternate, 2) Assessing the role of communities in the management of domestic waste water, 3) Assessing the factors that become obstacles in the management of domestic waste water , 4) Develop an alternative strategy that can be used as a solution in the management of domestic waste water in the city of Ternate. The method used is survey and direct observation in the field. Of the research conducted at several locations in the District of Central Ternate, namely Maliaro Village, Village Stadium, Village Gamalama and Village East Makassar. The sampling is done by proportional random sampling technique. Data was analyzed using descriptive statistical analysis using cross tabulation. Based on the research that has been done, it is known that domestic waste water management system that has been carried out by local governments today is domestic waste water flow through the drainage network by utilizing the slope of the local area and eventually discharged into the nearest water body. The level of government's role in managing domestic waste water is low. The level of the community's role in the management of domestic waste water to the type of balck water is high, but the types of gray water waste water is low. Factors that constrain among them are: 1) The absence of a government agency specifically tasked with managing domestic waste water, 2) understanding and awareness of the impact of waste water is low, 3) Limited land and funds, 4) Absence regional regulations governing the management of domestic waste water

    189

    full texts

    419

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Geografi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇