Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
Penyesuaian Diri Penghuni Rumah Susun terhadap Lingkungan Tempat Tinggal
ABSTRAK Permasalahan permukiman terutama di kota-kota di Indonesia semakin kompleks. Kebutuhan perumahan yang tinggi tidak diimbangi ketersediaan lahan yang cukup. Sebagian alternatif pemecahannya dengan dibangunnya rumah susun. Penelitian ini bertujuan : mengetahui cara penghuni untuk mendapatkan hunian rumah susun; mengetahui dan menganalisis penyesuaian diri penghuni rumah susun terhadap lingkungan tempat tinggal; dan mengetahui dan menganalisis motivasi penghuni untuk memperoleh tempat tinggal setelah selesai jangka waktu tinggal di rumah susun. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan gabungan antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghuni yang sejak awal menghuni menyatakan mudah mendapatkan hunian di rumah susun. Hal ini tidak lepas dari peran Tim Penyeleksi yang sebagian berasal dari warga setempat. Bentuk penyesuaian diri yang terdapat di hunian rumah susun Cokrodirjan adalah adaptasi by adjustment dan reaction. Adaptasi by adjustment yang terjadi yaitu; tidak membuat sekat ruangan, menjemur pakaian di tempat yang tersedia, dan minum air dari sumber yang telah tersedia. Adaptasi by reaction yang terjadi adalah; membuat sekat ruangan, menjemur pakaian di teras rumah, mengambil air minum dari sumur tetangga di luar lingkungan rumah susun, memelihara ayam di tempat parkir, dan meletakkan sepeda di dekat ruang hunian. Motivasi sebagian besar penghuni rumah susun untuk pindah sangat rendah karena ketidakmampuan secara finansial. Hal ini ditunjukkan, bahwa dari seluruh penghuni hanya 20 orang atau 33,9% mampu menabung, dan hanya 8 orang dari penghuni yang mampu menabung menyatakan siap pindah. Disamping hal tersebut di atas, faktor letak strategis, harga sewa yang murah dan fasilitas cukup memadai semakin menguatkan penghuni tidak mau pindah. ABSTRACT Residential problems, especially in cities of Indonesia, are more complex. High house needs are not balanced by sufficient land availability. Some alternatives to solution are to build flats.This research aimed at: understanding ways occupants obtained flats; understanding and analyzing self-adaptation of flat occupants to flat environment; and understanding and analyzing motivation of occupants to obtain flats after their flat tenancy period expired. This research used combined method of qualitative and quantitative description approaches. Results of research indicated that occupants who early occupied the flats stated that they felt easy to obtain the flats. It was not separated from role of Selection Team where most of them were from local residents. Forms of self-adaptations in the flats of Cokrodirjan were adaptations by adjustment and reaction. Adaptation by adjustment was not to make spatial partitions, dry dresses in available place, and get drinking water from the available sources. Adaptation by reaction was to make spatial partitions, dry dresses in house terraces, get drinking water from neighbor’s wells out of flat environment, raise hens in parking lots, and put bicycles near living space.Motivation of majority of flat occupants to move was very low because they were poor financially. It was shown that, from all occupants, only 20 occupants (33.9%) could save, and only 8 occupants could save to move. In addition to the issues, factors of strategic location, cheaper lease price and adequate facilities motivated the occupants to not move
Kajian Intrusi Air Laut melalui Sungai di Pesisir Kabupaten Demak Jawa Tengah
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran spasial salinitas air sungai di Kabupaten Demak dengan melakukan pengukuran salinitas di lapangan menggunakan Electric Conductivity (EC) meter. Intrusi air laut yang dianalisis dalam penelitian ini terbatas hanya pada penyusupan air laut melalui sungai. Penelitian dilakukan dengan pengukuran daya hantar listrik (DHL) di sepanjang sungai denganjarak setiap 500 meter, dimulai dari muara sungai untuk di Sungai Demangan dan 1.000 meter untuk Sungai Tuntang Lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intrusi melalui sungai di Pesisir Demak berpengaruh besar pada kualitas air sungai. Kualitas air sungai yang menjadi payau sampai dengan asin pada jarak > 4 km di Sungai Demangan dan > 7 km di Sungai Tuntang Lama.ABSTRACT This study is aimed to determine the spatial distribution oj river water salinity in Demak by measuring electrical conductivity in thefield using EC meter. Seawater intrusion analyzed in this study is limited to intrusion through the river. The study is conducted by measuring the electrical conductivity along the river with a distance oj 500 meters every. The measurements began 500 meterfrom the mouth oj the river at the River Demangan, and 1000 meter on the River Tuntang Lama. The result shows that the intrusion through the river in the coastal Demak has a big impact on the quality oj river water. Brackish to brine water quality isfound up to a distance oj 4 kilometers on the river Demangan, and 7 kilometers long on the River Tuntang
Analisis Karakteristik Hujan untuk Pendugaan Debit Aliran Rencana Sungai Anafri di Kota Jayapura
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik hujan wilayah DAS Anafri, menghitung debit aliran rencana, dan mengkaji kapasitas Sungai Anafri dalam merespon pengalihragaman hujan menjadi aliran permukaan. Kajian karakteristik hujan yakni ketebalan, intensitas, dan durasi hujan dilakukan dengan analisis statistik data hujan. Analisis distribusi data hujan diasumsikan sesuai dengan Metode Gumbel, sehingga untuk menentukan hujan periode ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dan 25 tahun menggunakan persamaan Gumbel. Hujan periode ulang digunakan untuk menghitung debit aliran rencana Metode Rasional. Analisis kapasitas sungai dilakukan dengan membandingkan debit aliran rencana dalam periode ulang T dengan kapasitas sungai. Penghitungan kapasitas sungai dilakukan pada penampang PI (bagian hulu), P2,dan P3 (bagian hilir). Debit aliran rencana yang digunakan dalam analisis kapasitas sungai adalah debit aliran Q25tahun (107,478 m³/detikdan 163,726 m³/detik). Hasil analisis menunjukan bahawa, terjadinya limpasan pada penampang sungai PI dan P2 pada saat menampung debit banjir yang diketahui penyebab utamanya adalah bank full capacity kecil, maka alternat! ( penanganan yang direkomendasikan adalah peninggian tanggul sungai. Analisis kapasitas sungai menggunakan debit banjir periode ulang 25 tahun menunjukan bahwa, terjadi limpasan pada lokasi penampang PI sampai P2 dengan panjang ruas 400 m yang terjadi pada tanggul sisi kanan dan tanggul sisi kiri dengan panjang ruas 40 meter. Limpasan terjadi setinggi 0,1 m hingga 1,6 m pada tanggul sisi kanan dan 0,1 m hingga 0,3 m pada tanggul sisi kiri, sehingga peninggian tanggul yang direkomendasikan adalah setinggi 1,6 mpada sisi kanan dan 0,3 m pada tanggul sisi kiri.ABSTRACT This study aims to examine the characteristics of rainfall watershed of Anafri calculate the flow rate plan, and assess the river capacity to respond diversion of rain to be surface runoff. In this study, the analysis of rainfall data distribution is assumed to correspond to the Gumbel method, so as to determine the rainfall return period of 2 years, 5 years. 10 years, and 25 years using Gumbel equation. The return period of rainfall use to calculate the flow rate Rational Method. Calculations of the river capacity on the P1 cross section, P2 and P3 flow rate plan used in the analysis of river capacity is the Q25 years (107.478 m3/s and 163.726 m3/s). The result of the analysis show that, river overflowing on the cross section P1 and P3 at the time a flood discharge accommodate is known the main cause was bank full capacity is small, then the alternative treatment was recommended elevation embankment. Analysis capacity of river by using a return period of 25 years show that runoff occurred at locations P1 to P2 with a length of 400 m which occurred on the right side of the levee and embankment on the left side with the length of 40 m. Runoff occurs as high as 0.1 m to 1.6 m the embankment on the right side and 0.1 m to 0.3 m on the left side, so the recommended levee elevation is as high as 1.6 m on the right side and 0.3 m on the left side embankment
DAMPAK PEMBANGUNAN PASAR INDUK SAYUR DAN BUAH GIWANGAN TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI KELURAHAN GIWANGAN
Pembentukan Giwangan Central Market Buah dan Sayuran adalah salah satuupaya pemerintah DIY untuk mendukung pertumbuhan ec-onomic di selatan Yogyakarta. Ini Tujuan dari penelitian ini adalah untuk exa-tambang dampak pembentukan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat di desa Giwangan. Oleh karena itu, beberapa variabel yang telah digunakan adalah masyarakat per-konsepsi, meningkatnya pendapatan masyarakat, perubahan pendapatan rumah tangga, penyerapan tenaga kerja, mobilisasi masyarakat, dan kesehatan masyarakat. Hasil tampilan penelitian ini bahwa keberadaanpasar sentral (1) diterima secara positif oleh 77% masyarakat Giwangan Desa (2) sangat berdampak pada perubahan pendapatan rumah tangga masyarakat di mana 48% dari masyarakat memiliki memiliki perubahan pendapatan rumah tangga masyarakat (3) belum berdampak pada pendapatan masyarakat meninggi (4) sangat berdampak pada penyerapantenaga kerja untuk 100% dari masyarakat yang bekerja sebagai laki-laki parkir (5) itu tidak mempengaruhi mobilisasi masyarakat di Giwangan Desa (6) positif berdampak pada kesehatan sosial. Penelitian ini juga mengidentifikasi bahwa ada juga beberapa dampak yang berbeda ba¬sed genre, pekerjaan, tingkat pendapatan, usia dan pendidikan
Pengembangan Sistem Informasi Bahaya Erupsi untuk Pengelolaan Kebencanaan di Lereng Selatan Gunungapi Merapi
Penelitian ini bertujuan: (1) menyusun peta tingkat bahaya dan sebaran bahaya pasca erupsi 2010 berdasarkan basis data baru kondisi morfologi Lereng Selatan Gunungapi Merapi. (2) menyusun informasi spasial untuk pengurangan risiko bencana sesuai dengan informasi tingkat bahaya yang telah diperbaharui. Penelitian ini menggunakan metode eksploratif survei. Pengambilan sampel secara purposif sampling pada setiap satuan medan. Analisis yang digunakan adalah analisis SIG, pengharkatan, dan analisis keruangan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan: (1) terdapat tiga kelas bahaya erupsi di lereng selatan Gunungapi Merapi yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Tingkat bahaya erupsi sedang meliputi 73% wilayah, sedangkan tingkat bahaya rendah dan tinggi meliputi 27% wilayah. Faktor yang mempengaruhi tingkat bahaya adalah jarak dari kepundan, jarak dari alur sungai utama, kemiringan lereng, dan relief. (2) terdapat empat jalur yang disarankan untuk digunakan dalam pengelolaan bencana dengan memperhatikan tingkat bahaya, penduduk, aksesibilitas, serta keberadaan fasilitas pendukung
Dampak Erupsi Merapi 2010 terhadap Pemanfaatan Lahan dan Aktivitas Perekonomian Masyarakat di Daerah Aliran Sungai Gendol
ABSTRAK Perubahan pemanfaatan lahan pasca erupsi menyebabkan perubahan aktivitas perekonomian masyarakat, terutama untuk pemanfaatan lahan pertanian. Tujuan penelitian ini adalah : (1). Mengidentifikasi dampak erupsi Merapi 2010 terhadap perubahan pemanfaatan penggunaan lahan; (2). Menganalisis dampak perubahan pemanfaatan penggunaan lahan terhadap aktivitas perekonomian (matapencaharian) masyarakat setempat; (3). Mengevaluasi dan merekomendasi upaya pemulihan ekonomi masyarakat pasca erupsi. Perubahan penggunaan lahan diperoleh dari overlay Peta Penggunaan Lahan Sebelum Erupsi dengan Peta Penggunaan Lahan Sesudah Erupsi. Analisa daya pulih rumahtangga diperoleh dari wawancara. Penyamplingan dilakukan di Dusun dengan purposive sampling, mempertimbangkan daerah tersebut termasuk di daerah terdampak total atau sebagian dan jumlah korban KK terbanyak dan sedikit. Pengambilan sampel di KRB 3 sebanyak 50 responden, KRB 2 sebanyak 30 responden, dan KRB 1 sebanyak 15 responden. Pengambilan responden di setiap Dusun menggunakan metode simple random sampling karena memperhatikan keragaman populasi yang relatif homogen. Variabel yang dianalisa meliputi asset, akses, dan aktivitas masyarakat. Jenis penggunaan lahan mengalami penambahan pascaerupsi yaitu penambahan shelter dengan luas 140,66 Ha. Penggunaan lahan yang berkurang luasanya adalah semak belukar 312,994 Ha, kebun 292,702 Ha, rumput 30,514, dan tegalan 2155,698 Ha. Sedangkan penggunaan lahan yang bertambah luasannya adalah pemukiman 2222,664 Ha, sawah irigasi 428,584 Ha, dan shelter 140,66 Ha. Tingkat daya pulih rendah lebih besar yaitu 65%, dan daya pulih tinggi sebesar 35%. Dari ketiga variabel asset, akses, dan aktivitas, variabel asetlah yang memiliki kontribusi berpengaruh lebih besar. ABSTRACT Gendol Watershed be a research location because this watershed is the most severely affected. Cangkringan was chosen as the focus area on this research because this area as one of the District in Sleman that located on the slopes of Mount Merapi and the resources was affected. The changing of land use after the eruption can changes the economic activity of the communities, particularly for agricultural. The aims of this research are: (1). Identify the impact of Merapi eruption in 2010 for land use changes, (2). Analyzing the impact of land use changes for economic activities (livelihood) on local community; (3). Evaluation and recommendation public economic recovery efforts after the eruption. The land use changes acquired from the result overlay of Land Use before eruption and Land Use after eruption. Analysis of household resilience derived from the interviews. Sampling area on Kepuhharjo Village, Wukirsari , Glagahharjo and Argomulyo because this area was the greatest affected area. Sampling this area was done with purposive sampling, considering this area included in the severely affected or partial. Respondents of KRB 3 are 50 respondents, KRB 2 are 30 respondents, and KRB 1 are 15 respondents. Respondents in each Village was choosen by simple random sampling method because the observed variability is relatively homogeneous population. Variables analyzed include the assets, access, and community activities. Type of land use have increased post-eruption is shelters area 140,66 Ha. Land use was reduced by bush 312.994 ha , farm 292.702 ha, grass 30.514, and field 2155.698 Ha. Land use was improved by settlement 2222.664 ha, 428.584 ha of irrigated rice fields, and shelter 140.66 Ha. The changing of land use on post-eruption has a positive and negative impact on societies. The positive side for some communities provide new livelihoods, and negative impact the public land could not be processed, many homes are destroyed and majority communities lost their occupation. Resilience of communities are in low classified 65 %. From the three variables, asset variables that have the largest contribution affect on resilience
Rekayasa Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan pada Kawasan Industri Piyungan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
ABSTRAK Penelitian ini adalah rekayasa sistem drainase berwawasan lingkungan pada Kawasan Industri Piyungan Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Obyek penelitian adalah rekayasa sistem drainase, dan tujuan penelitian yaitu melakukan kajian terhadap efektifitas penggunaan sistem drainase berwawasan lingkungan berupa sumur resapan, saluran resapan dan kolam resapan untuk meresapkan air hujan kedalam tanah sebagai fungsi konservasi air tanah. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan adalah pengambilan sampel secara proporsional yang telah ditentukan dan mewakili keadaan obyek yang diteliti (purposive sampling). Analisis data dengan pendekatan empiris terhadap perencanaan sumur resapan, saluran resapan dan kolam resapan. Hasil rekayasa sistem drainase berwawasan lingkungan diperoleh nilai efektifitas penggunaan sumur resapan diameter 80 cm dan kedalaman 4 meter pada kawasan terbangun (C: 0,90) sebesar 29,96 %, lahan campuran (C: 0,50) sebesar 26,97 %, ruas jalan (C:0,80) sebesar 0 % dan lahan terbuka (C: 0,30) sebesar 17,98 %. Penggunaan saluran resapan berdasarkan ketentuan tipe jalan, diameter sumur resapan 40 cm, kedalaman sumur 2 meter dan jarak antar sumur 10 meter, diperoleh efektifitas saluran resapan sebesar 2,54 %. Kolam resapan mempunyai kontribusi peresapan sebesar 25 % (38.429,77 m3/tahun) dari kapasitas total debit penampungan 152.719,07 m3/tahun. Sistem drainase berwawasan lingkungan dengan koefisien permeabilitas tanah 4,66 cm/jam (1,3 x 10-3 cm/detik) diperoleh nilai peresapan untuk sumur resapan: 18,73 %, saluran resapan: 2,54 % dan kolam resapan sebesar 25 %, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan sumur resapan dipadukan dengan kolam resapan lebih efektif dari saluran resapan. ABSTRACT This study is ecodrainage system engineering in Piyungan Industrial Estate Bantul District of Yogyakarta Special Region. Object of research is engineered drainage systems, and research aims is a review of the effectiveness of the use of ecodrainage system in the form of infiltration wells, channel infiltration and infiltration ponds to absorb rain water infiltration into the soil as a function of soil water conservation. This study used a qualitative descriptive analysis method with collecting technique is proportional sampling predetermined and represent the state of the object under study. Data analysis with empirical approach to planning infiltration wells, infiltration channels and infiltration ponds. Engineered drainage system environmental values obtained effective use absorption wells diameter of 80 cm and a depth of 4 meters on the area awakened (C: 0.90) of 29.96%, mixed land (C: 0.50) by 26.97%, roads (C: 0.80) at 0% and the open land (C: 0.30) of 17.98%. The use of infiltration channels under the terms of the type of road, diameter 40 cm absorption wells, well depth of 2 meters and the distance between wells 10 meters, obtained effectiveness of absorption line at 2.54%. Swimming infiltration infiltration contributes 25% (38429.77 m3 / year) of the total discharge capacity of reservoirs 152,719.07 m3 / year. Ecodrainage system with soil permeability coefficient of 4.66 cm / h (1.3 x 10-3 cm / sec) absorption values obtained for infiltration wells: 18.73%, channel infiltration: 2.54% and infiltration ponds of 25 %, so it can be concluded that the use of infiltration wells combined with infiltration ponds more effective infiltration of the channel infiltration
Pengelolaan Lingkungan Berbasis Kemitraan Pesantren dan Masyarakat di Pesantren Ilmu Giri, Kabupaten Bantul
ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk : (1) mengetahui bentuk-bentuk kegiatan pengelolaan lingkungan hasil kemitraan Pesantren Ilmu Giri dengan masyarakat, (2) mengetahui kurikulum, materi dan metode pembelajaran berbasis lingkungan yang diterapkan Pesantren Ilmu Giri kepada jamaah dan santri, dan (3) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan Pesantren Ilmu Giri dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan di masyarakat dusun Nogosari. Wawancara mendalam, observasi partisapatif, focus group discussion (FGD), dan dilengkapi kajian pustaka serta dokumentasi merupakan teknik utama dalam penggalian data. Data yang terkumpul lalu dianalisis secara deskriptif kualitatif. Tesis ini menemukan bahwa : (1) Pesantren Ilmu berhasil dalam pengelolaan lingkungan alam, sosial dan budaya dalam bentuk-bentuk kegiatan seperti : (a) penghijauan melalui hutan santri dengan konsep eco-religi; (b) Pesantren Ilmu Giri menggali, mengangkat dan melestarikan budaya tradisi lokal; (c) Pesantren Ilmu Giri mengangkat ekonomi masyarakat melalui lahirnya Lembaga Keuangan Mikro (LKM); (d) Pesantren Ilmu Giri mengkampayekan makanan ekologis dan menolak penggunaan pupuk kimia dan pestisida. (2) Pesantren Ilmu Giri tidak memiliki kurikulum sebagaimana lazimnya pada pesantren-pesantren modern yang memiliki santri dan pondok. Ilmu Giri hanya memiliki jamaah mujahadah dan santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Jamaah mujahadah dan santri TPA inilah yang menjadi sasaran dakwah pesantren. Materi dan metode pembelajaran di pesantren diarahkan pada etika lingkungan dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka mencapai visi pesantren, yaitu memecahkan masalah sosial keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup. Inti pengajaran bagi jamaah dan santri adalah menanamkan pengetahuan dan kearifan dalam hidup mereka, selain mempelajari al-Quran. Materi pengajaran berbasis alam sekitar pesantren, khususnya alam hutan dan budaya tradisi. (3) Ada 4 hal yang melatarbelakangi Pesantren Ilmu Giri berhasil dalam kegiatan menumbuhkan kesadaran lingkungan, yaitu : pertama modal sosial dan modal spiritual pengasuh pesantren; kedua ketokohan dan strategi kepemimpinan pengasuh pesantren; ketiga dukungan warga lokal pesantren; dan keempat dukungan pemberitaan media massa (pers) terkait dengan kegiatan pesantren. Selain keberhasilan, juga ditemukan beberapa kendala / kelemahan dalam pengelolaan lingkungan berbasis kemitraan pesantren dan masyarakat, yaitu (a) dakwah dan ceramah-ceramah lingkungan sulit diterima jamaah karena keterbatasan pendidikan; (b) merubah pola pikir (mind set) masyarakat terhadap kelestarian lingkungan; (c) tingkat ekonomi masyarakat yang rendah; (d) akses, moda transportasi serta ketersedian air bersih yang terbatas; (e) domisili pengasuh jauh dari pesantren; (f) konflik dan gesekan pengasuh pesantren dan masyarakat lokal. ABSTRACT The purpose of this study was to: (1) determine the forms of environmental management activities result of the partnership Pesantren Science Giri with the public, (2) determine the curriculum, materials and methods based learning environment that is applied Pesantren Science Giri told pilgrims and students, and (3) determine the factors that influence the success of Science Giri Pesantren in growing environmental awareness in society Nogosari hamlet. In-depth interviews, observation partisapatif, focus group discussion (FGD), and include a literature review and documentation is a major technique in data mining. The data collected is then analyzed descriptively qualitative. This thesis found that: (1) Boarding School of Science succeeded in the management of the natural environment, social and cultural forms of activities such as: (a) afforestation through forest students to the concept of eco-religion; (b) Science Giri Pesantren digging, lifting and preserving local cultural traditions; (c) Science Giri Pesantren lift the local economy through the birth of Microfinance Institutions (MFIs); (d) Science Giri Pesantren mengkampayekan ecological food and refuse the use of chemical fertilizers and pesticides. (2) Science Giri Pesantren not have a curriculum as usual in modern boarding schools that have students and cottage. Science has only Giri mujahadah pilgrims and students Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA). Mujahadah worshipers and students landfill that is the target of propaganda boarding. Materials and methods of teaching in schools directed at environmental ethics and community empowerment in order to achieve the vision of schools, ie solving social problems of backwardness, ignorance, poverty and environmental damage. Core instruction for pilgrims and students are imparting knowledge and wisdom in their lives, in addition to studying the Koran. Nature-based teaching materials about schools, especially natural forests and cultural tradition. (3) There are four things behind Giri Pesantren Science succeeded in growing environmental awareness activities, namely: first spiritual and social capital pesantren; The second persona and leadership strategies pesantren; The third support local residents boarding; and fourth support of the mass media (press) related to boarding activities. In addition to success, also found several obstacles / weaknesses in the environmental management of schools and community-based partnerships, namely (a) propaganda and speeches tough environment because of the limitations of the education received by the congregation; (b) change the mindset (mind set) community towards environmental sustainability; (c) the low level of the public economy; (d) access, modes of transport and the limited availability of fresh water; (e) domicile caregivers away from school; (f) the conflict and friction pesantren and local communities
SISTEM AKUIFER DI LERENG GUNUNGAPI MERAPI BAGIAN TIMUR 0DAN TENGGARA (STUDI KASUS DI KOMPLEKS MATAAIR SUNGSANG BOYOLALI JAWA TENGAH)
ABSTRAK Mataair-mataair di lereng Gunungapi Merapi yang merupakan sabuk mataair (spring belt) dalam era "kebutuhan air bersih yang tidak tercemar" menjadi incaran Perusahaan Air Minum (PAM) dan juga Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Pengambilan air langsung dari mataair ternyata sering menimbulkan konflik kepentingan petani pengguna air untuk pengairan. Banyak anjuran supaya pengambilan air tidak langsung dari mataair melainkan dengan mengebor dari akuifer. Tujuan dari penelitian sistem akuifer di sekitar mataair ini untuk mengetahui sistem akuifer sebagai dasar untuk menentukan lokasi pengeboran airtanah yang dapat digunakan untuk air bersih tanpa mengurangi debit air dari mataair. Metode penelitian menggunakan pendugaan geolistrik tahanan jenis (resistivity geoelectric), pengukuran mataair, dan pengamatan geologi dan topografi di sekitar mataair. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa mataair-mataair di daerah penelitian merupakan akuifer artesis yang keluar dari akuifer tertekan. Pemunculan mataair dari akuifer dapat diakibatkan oleh sebab, yaitu i) karena akuifer tertekan terpotong oleh depresi seperti mataair Cokrotulung dan Sigedang, (ii) karena akuifer tertekan oleh lapisan lempung seperti mataair Sungsang dan Nepen. Dengan diketahuinya sistem akuifer ini dapat ditentukan bahwa daerah antara S-2 sampai S-3 dan antara S-7 sampai S-8 dapat dibor sedalam 5 meter untuk mendapatkan sumur artesis