Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
    419 research outputs found

    Analisis Gerakan Massa untuk Evaluasi Kerusakan Saluran Induk Kalibawang Kabupaten Kulonprogo

    No full text
    ABSTRAK Kebijakan pemerintah dalam pengelolaan kawasan hutan Gunung Merapi adalah dengan melalui pembentukan sebagai taman nasional yang berfungsi lengkap meliputi fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Masyarakat sekitar Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sebagian besar merupakan masyarakat petani dan peternak yang mempunyai ketergantungan akan sumber daya hutan yang mempengaruhi persepsi masyarakat akan keberadaan taman nasional. Pengelolaan taman nasional memerlukan peranserta masyarakat dimana telah terdapat keterikatan yang kuat dalam hubungan sosial budaya dan ekonomi antara masyarakat dan keberadaan hutan itu sendiri. Penelitian ini bertujuan mengetahui 1) tingkat pengetahuan masyarakat tentang TNGM, 2) persepsi masyarakat tentang TNGM  3) peranserta masyarakat dalam pengelolaan TNGM serta 4) mengetahui pengaruh tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi serta jarak tempat tinggal dengan batas TNGM terhadap persepsi dan tingkat peran serta masyarakat dalam pengelolaan TNGM.Subyek penelitian ini adalah 120 Kepala Keluarga di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan sampel secara systematic random sampling. Kuesioner dipakai sebagai alat bantu untuk mengukur tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tingkat persepsi dan tingkat peranserta. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis uji korelasi variabel-variabel penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan TNGM, 44,2% dari responden dalam kategori sedang dan 48,3% dari responden dalam kategori tinggi. Apabila dirinci dalam 3 isu utama pengetahuan maka pengetahuan masyarakat mengenai status dan manfaat mayo­ritas dalam kategori sedang (50%), pengetahuan mengenai kondisi TNGM mayoritas tinggi (56,7%) dan mengenai pengelolaan mayoritas tinggi (54,2%). Tingkat persepsi masyarakat mengenai pengelolaan TNGM (dirinci dalam tiga isu utama: mengenai status dan manfaat, kondisi TNGM dan pengelolaan TNGM) dalam kategori sedang atau cukup positif (74,2%). Analisis persepsi menunjukkan tingkat pengetahuan berpengaruh positif terhadap persepsi masyarakat (r=0,406, p=0.000, p<0,05). Peranserta masyarakat dalam pengelolaan TNGM, mayoritas dalam tingkat sedang (74,2%). Analisis peranserta menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan (r = 0,290, p=0.001, p<0,05) dan jarak tempat tinggal dengan batas taman nasional berpengaruh positif terhadap tingkat peranserta masyarakat (r=0,193, p=0,035, p<0,05). ABSTRACT The government policy in the forest area management is by forming the forest area of Mount Merapi as a National Park, being one of conservation areas with comprehensive functions, including the protection of life supporting system, the conservation of the diverse species and ecosystem, and the sustainability use of natural resources. The surrounding neighbourhood of Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) consists of farmers with their rice-fields and farms, having dependency to natural resources available in the TNGM. These dependency too contributes to the public perception on the existence of TNGM. The operation of TNGM should pay attention to residents' necessity as the conservation objective demands the participation of public living around the TNGM, who have close social, cultural, and economic relationship with the forest. The objectives of this research are to identify 1) the public’s knowledge of the determination and management of TNGM (Mountain Merapi National Park), 2) the level of residents’ perception on the management of TNGM, 3) identify the level residents’ parti­cipation on the management of TNGM, and 4) the correlation between education level, knowledge level, economic level, and  the distance between residence to the boundary of TNGM to the perception and participation level of TNGM management.The subject of this research consists of 120 households in Umbulharjo Village, Cangkringan Sub-district, Sleman Regency. The methodology used was the survey research-method with systematic-random sampling technique. Ques­tionnaires were used as tools to record the family’s economic capacity and to measure the level of knowledge, perception, and participation. The correlation between research variables was tested using descriptive analysis technique and correlation test.Results of this research show the category for knowledge level, 44,2% of population at average category and 48,3% of population at high category. Detailed into three aspects, the dominant level of public’s knowledge was average on the status and advantages of TNGM (50%), high on the condition of TNGM (56.7%), and high on the management of TNGM (54.2%). Peoples’s perception level about the management of national park (detailed in three main issues, the people’s perception about the status and advantages of TNGM, the condition of TNGM and the management of TNGM) is in average category or adequately positive (74,2%). Perception analysis shows that knowledge level (r = 0,406, p = 0.000, p<0,05) give positive influence to the people’s perception of TNGM. People’s participation in the management of TNGM is majority in medium participation level (74.2%). Participation analysis shows that knowledge level (r=0,290, p=0.001, p<0,05), and distance between residence to the national park borders give positive influence to participation level (r = -0,193, p=0.035, p<0.05)

    TINGKAT KERENTANAN DAN INDEKS KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT TERHADAP BENCANA TANAH LONGSOR DI KECAMATAN BANTARKAWUNG KABUPATEN BREBES

    Get PDF
    ABSTRAK Bantarkawung adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Brebes yang sering terjadi bencana tanahlongsor. Oleh karena itu diperlukan pemetaan tingkat kerawanan dan kerentanan serta penilaian indeks kesiapsiagaan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tingkat kerawanan, menentukan tingkat kerentanan, menilai indeks kesiapsiagaan masyarakat dan menganalisis hubungan tingkat kerawanan dengan nilai indeks kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana tanah longsor.  ABSTRACT Bantarkawung is one of the sub distict in Brebes regency which has many landslide occurences. Therefore, it is necessary to map susceptibility and vulnerability and to value community preparedness index. The aims of this research were to determine landslide susceptibility, determine vulnerability of element at risk (people and settlement) based on susceptibility zone toward landslide disaster, valuate community preparedness index, and analize relationship between susceptibility and community preparedness index toward landslide disaster.

    Zonasi Daerah Rawan Gempa Bumi di Kecamatan Pundong, Bantul Berdasarkan Pendekatan Geomorfolog

    Get PDF
    ABSTRAK Gempabumi 27 Mei 2006 mengakibatkan kerusakan berat pada bangunan di Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Kerusakan bangunan yang diakibatkan oleh gempabumi bervariasi di setiap bentuklahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan geomorfologi dengan satuan bentuklahan sebagai unit analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik bentuklahan dapat menjadi indikator tingkat kerusakan bangunan akibat gempabumi. Aspek-aspek geomorfologi memiliki tingkat pengaruh yang berbeda di suatu daerah dan pengaruh aspek-aspek geomorfologi tersebut membentuk suatu zona rmvan gempabumi di Kecamatan Pundong. Zona kerawanan tinggi terhadap gempabumi berada pada kelompok bentuklahan Dataran Fluvio-VulkanikMerapi Muda. Zona kerawanan sedang terhadap gempabumi terdapat pada bentuklahan Lereng Kaki Koluvial Material Lava, Breksi, dan Tuf Zona kerawanan rendah terhadap gempabumi terletak pada lereng tengah dan lereng atas perbukitan struktural di sebelah timur Kecamatan Pundong.ABSTRACT The earthquake May 27, 2006 caused severe damage on buildings in Pundong District, Bantul Regency, Yogyakarta. Earthquake-induced buildings damage vary at each landform. This research is using geomOlphological approach with landform unit as an analysis unit. The result shows that landform characteristics can be an indicator level of earthquakeinduced buildings damage. The geomorphological aspects has levels of induce in a certain area and the induce of geomorphological aspectsformed a certain earthquake prone zone in Pundong District. The high prone zone is located at the group of landforms Fluvio-Volcanic Young Merapi Plain. The moderate prone zone is located at Colluvial Footslope consist of breccias, lava, and tuff. The slight prone zone is located in the middle and upper slope of structural hills in the east part of Pundong District

    Persepsi dan Kepedulian Siswa terhadap Pengelolaan Lingkungan Sekolah melalui Program Adiwiyata

    No full text
    ABSTRAK Program Adiwiyata dapat menciptakan kondisi sekolah sebagai tempat pembelajaran siswa untuk penyelamatan lingkungan masa depan. Pengelolaan lingkungan sekolah melalui program Adiwiyata memerlukan tanggungjawab siswa yang dibangun dari persepsi dan kepeduliannya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji persepsi siswa, (2) menganalisis faktor yang mempengaruhi persepsi siswa dan (3) mengkaji tingkat kepedulian siswa terhadap pengelolaan lingkungan sekolah melalui program Adiwiyata. Berdasarkan karakteristik rona lingkungan sekolah dipilih SMPN 2 Kendari (sekolah yang terletak di kota lama) dan SMPN 17 Kendari (sekolahyang terletak di kota baru) sebagai tempat penelitian, dengan sampel sebanyak 94 orang. Hasil penelitian meriunjukkan persepsi siswa pada sekolah yang terletak di kota lama dikategorikan sedang sedangkan di kota baru dikategorikan tinggi. Pengetahuan dan sosial ekonomi mempengaruhi persepsi siswa tersebut. Tingkat kepedulian siswa pada sekolah di kota lama dikategorikan sedang, sementara di kota baru dikategorikan tinggi. Hal ini berkorelasi dengan persepsi siswa, untuk itu peran guru untuk menginternalisasikan nilai kepedulian lingkungan pada siswa amat dibutuhkan.ABSTRACT Adiwiyata program can create school conditions as a student learning to save environmental for future. School environmental management trough Adiwiyata program requires student responsible built concern and perceptions. The research aims: asses perception the student, analyzing thefactor that influencesperception and asses awarness level of the students to the school environment management trought Adiwiyata program. Based on the environmental hue selected school in the urban area (SMPN 2 Kendari) and the sub urban area (SMPN 17 Kendari) as a research location and as a sampling obtained 94 "SMP students. Analysis showed perception of student in the urban area were medium category and student in the sub urban area were high category. Knowledge of student toward Adiwiyata program and sosioeconomic infuence the student perception. The awareness level of students in urban area were medium category and the student in sub urban area were high category. This correlates with the perception of students, to the role of teacher to internalize the value of environmental awareness in students is required

    Pengaruh Vegetasi Kawasan Sabuk Hijau (Green Belt) Waduk Sermo Kulonprogo terhadap Kenampakan Hasil Proses Erosi dan Pemanfaatan oleh Masyarakat

    No full text
    Manfaat sabuk hijau Waduk Sermo dan pengelolaan yang baik dapat dipenuhi dengan terciptanya kondisi vegetasi dan sikap stakeholder yang mendukung keberadaan sabuk hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strata dan komposisi jenis vegetasi Kawasan Sabuk Hijau Waduk Sermo di Kulonprogo, menganalisis hubungannya dengan kenampakan hasil proses erosi serta menganalisis nilai pemanfaatan lahan sabuk hijau oleh masyarakat. Analisis vegetasi dilakukan pada 6 blok vegetasi yang dominan untuk mengetahui strata dan komposisi jenis vegetasi. Regresi logistik untuk menganalisis hubungan vegetasi  dengan kenampakan hasil proses erosi antara variabel bebas (tinggi pohon, kerapatan tajuk pohon, LBDS (Luas Bidang Dasar) pohon, kerapatan pohon) dengan variabel tergantung nilai skoring erosi visual menurut Morgan (1980). Untuk menganalisis nilai pemanfaatan sabuk hijau dilakukan indepth interview terhadap stakeholder dan pengumpulan data menggunakan kuisioner terhadap petani penggarap sabuk hijau.  Hasil penelitian menunjukkan kelapa dan sengon menjadi ciri khas vegetasi Kawasan Sabuk Hijau waduk Sermo. Terdapat 28 jenis vegetasi, 15 famili dalam strata pohon, tiang, sapihan, dan semai dengan  indeks nilai keragaman (H) tingkat sedang. Jenis pohon yang berbeda mempunyai daya cegah terhadap erosi yang berbeda yang dapat dilihat dari kenampakan hasil proses erosi dibawah tegakan tunggal. Regresi logistik menunjukkan hanya variabel LBDS yang mempengaruhi kejadian erosi. Nilai pemanfaatan langsung hasil Kawasan Sabuk Hijau Waduk Sermo menurut petani penggarap adalah besar sehingga keterlibatan pemanfaatan areal sabuk hijau sulit untuk dicegah

    Kerusakan Lingkungan Akibat Aktivitas Manusia pada Ekosistem Terumbu Karang

    No full text
    Terumbu karang merupakan ekosistem yang kompleks, khas, dan unik yang ditandai oleh tingginya keanekaragaman jenis biota penghuninya. Hubungan antar komponen biotik dan abiotik sangat erat,  sehingga eksploitasi terhadap suatu jenis biota dapat mengakibatkan perubahan populasi biota lainya. Penyebab utama kerusakan ekosistem terumbu karang secara garis besar disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia. Kabupaten Maluku Tenggara memiliki sumberdaya pesisir dan laut yang menjadi unggulan, namun pada saat ini mulai mengalami kerusakan akibat aktifitas manusia yang kurang terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji  kerusakan ekosistem terumbu karang di Pantai Ngurbloat Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara; (2) menganalisis faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kerusakan  ekosistem terumbu karang di daerah penelitian; dan (3) merumuskan kebijakan penanganan kerusakan eskositem terumbu karang di daereah penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Analisis strategi pengelolaan lingkungan dapat disusun berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 04 Tahun 2001 mengenai Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang. Hasil penelitian menunjukkan kondisi terumbu karang berada pada kondisi sangat rusak (LP I), rusak (LPII) dan baik  (LP III). Kerusakan tersebut diakibatkan karena antropogenik (kegiatan manusia) dan non-antropogenik (perubahan ekologis, faktor alam), antara lain: penangkapan ikan memakai bom ikan; panah; jaring; bubu; pengambilan karang untuk bahan bangunan dan hiasan akuarium; dan hiasan dinding. Rencana  strategis pengelolaan terumbu karang di perairan Pantai Ngurbloat diusulkan sebagai berkut: (1) penetapan zonasi kawasan terumbu karang sesuai daya dukung lingkungan; (2) penetapan kegiatan atau usaha yang boleh atau tidak boleh dilakukan pada setiap zona yang telah ditetapkan; (3) pengendalian penangkapan ikan dengan alat tangkap yang ramah lingkungan (tidak merusak terumbu karang dan lingkungan) serta dilakukan pada lokasi dan musim (waktu) yang tepat; (4) meningkatkan  kesadaran  dan  kepatuhan masyarakat  nelayan di Pantai Ngurbloat akan pentingnya terumbu karang sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya alam

    Beberapa Aspek Hidrokimia Hutan Pinus

    No full text
    Air alam tidak pernah murni tersusun atas H2O. Banyak faktor yang bekerja bersama-sama mempengaruhi kualitas air sehingga menghasilkan kualitas air seperti yang teramati. Faktor yang secara signifikan berpengaruh terhadap kualitas air di daerah hutan dan sekitanya atau air yang berasal dan kontak dengan hutan. Beberapa jenis hutan telah diisukanmempunyai pengaruh signifikan terhadap hasil air, juga terhadap kualitas air. Di antara hutan tersebut adalah hutan Pinus Merkusii yang banyak terdapat di pulau Jawa. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua buah catchment kecil yang tertutup hutan pinus mercucii di Kecamatan Kalirujut, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Beberapa sampel air telah diambil meliputi sampel air hujan, stemflow, throughfall dan limpasan. Kualitas air dari sampel tersebut dianalisis di laboratorium untuk mengetahui beberapa parameter sifat fisik dan kimia air. Penelitian ini menunjukan bahwa hutan pinus mengingkatkan kadar parameter kimia air pada stemflow dan throughfall

    Studi Komparatif Transformasi Wilayah di Kabupaten Klaten

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Klaten yang dibagi dalam tiga wilayah pengamatan, yaitu wilayah perkotaan, wilayah pinggiran, dan wilayah perdesaan. Tujuan dari penelitian ini (1) mengkaji seberapa besar intensitas transformasi wilayah yang terjadi di daerah penelitian, (2) menganalisis pola-pola distribusi transformasi wilayah yang terjadi di daerah penelitian, (3) mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas transformasi tersebut, (4) menganalisis dampaknya terhadap ketahanan pangan di Kabupaten Klaten. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, dengan analisis analisis deskriptif komparatif untuk menjelaskan bagaimana keterkaitan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan (1) variasi intensitas transformasi wilayah sebagian besar di tingkat rendah, namun mempunyai perbedaan yang signifikan di wilayah-wilayah yang mempunyai akses tinggi, (2) pola distribusi intensitas transformasi secara umum bersifat acak, namun mempunyai keteraturan apabila dikaitkan dengan jaringan jalan, (3) intensitas transformasi dipengaruhi oleh faktor kedekatan dengan jalan yang dapat dicirikan dengan kepadatan penduduk dan luas lahan non pertanian, (4) ketahanan pangan akan semakin melemah seiring dengan meningkatnya intensitas transformasi wilayah.  ABSTRACT Located of this study in Klaten district which divided into three observed areas, namely urban areas, sub-urban areas and rural areas.The aim of this study : (1) assess quantity  of transformation intensity of region in the study area, (2) analyze patterns of distribution transformation in the study area, (3) study factors that affect in transformation intensity, and (4) analyze impact on food security in Klaten district. The method of study is a survey method with descriptive comparative analysis to explain relationship among variables. The results show : (1) variations of transformation intensity in study area mostly at low levels, but have significant differences in areas that high levels, (2) generally distribution pattern of  transformation intensity are random, but has regularity when linked to the road network, (3) transformation intensity is influenced by proximity to the road which can be characterized by density of population and non-agricultural land, (4) food security will become weaker as increase of transformation intensity of region.

    Analisis Metode Support Vector Machine (Svm) untuk Klasifikasi Penggunaan Lahan Berbasis Penutup Lahan pada Citra Alos Avnir-2

    No full text
    ABSTRAK Perkembangan teknologi penginderaan jauh berkembang pesat terutama pasca perang dingin. Teknologi penginderaan jauh sangat baik dijadikan data pembuatan peta penggunaan lahan, karena kebutuhan pemetaan yang semakin tinggi terutama untuk mendeteksi perubahan penggunaan lahan. Untuk mendapatkan informasi penggunaan lahan dari citra penginderaan jauh diperlukan metode khusus, terutama untuk pengolahan citra penginderaan jauh secara digital. Salah satu metod e pengolahan citra penginderaan jauh adalah metode Metode Support Vector Machine (SVM). Metode Support Vector Machine (SVM) merupakan metode learning machine (pembelajaran mesin) satu kelas dengan metode jaringan syaraf tiruan yang dapat mengenali pola dari masukan atau contoh yang diberikan dan juga termasuk ke dalam supervised learning. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh masing-masing parameter pada metode SVM serta kombinasi yang paling menghasilkan akurasi tertinggi, serta menganalisa kemampuan metode Support Vector Machine (SVM) untuk pembuatan peta penggunaan lahan berdasarkan penutup lahan skala 1:100.000. Klasifikasi penggunaan lahan berbasis penutup lahan dengan metode Support Vector Machine (SVM) menggunakan data spektral, data spasial berupa data kemiringan dan data filter tekstur mean. Data filter tekstur mean yang digunakan adalah data masing-masing band maupun gabungan dari semua band dengan processing window 3x3, 5x5, 7x7, 9x9. Skema klasifikasi yang digunakan adalah skema klasifikasi penggunaan lahan menurut BPN tahun 2012 dengan modifikasi disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Hasil penelitian menunjukan hasil klasifikasi metode Support Vector Machine (SVM) pada data spectral menghasilkan akurasi keseluruhan 78,8845% dan kappa 0,7524. Pada penambahan data kemiringan menghasilkan akurasi keseluruhan 80,7973% dan 0,7755 untuk nilai kappa. Penggabungan data spectral dan filter tekstur mean dengan processing window 9x9 pada band gabungan 1, 2, 3 dan 4 ternyata semakin menaikan tingkat akurasi keseluruhan hasil klasifikasi menjadi 92,8619% dan kappa 0,9163. Sedangkan pada simulasi gabungan antara data spektral, data kemiringan dan data filter tekstur ternyata menghasilkan akurasi yang lebih tinggi lagi terutama jika pada simulasi tekstur mean menggunkan semua band tekstur mean dengan processing window 9x9, akurasi keseluruhan yang diperoleh sampai 92,8951% dan kappa mencapai 0,9170. ABSTRACT The development of remote sensing technology developed rapidly , especially after the cold war . Remote sensing technology is very well used as the data of land use map-making , because of the higher mapping needs , especially to detect changes in land use . To obtain land use information from remote sensing image takes a special method , especially for remote sensing image processing digitally . One e metod remote sensing image processing method is a method of Support Vector Machine ( SVM ) . Methods Support Vector Machine ( SVM ) is a machine learning method ( machine learning ) of the class with a method of neural network that can recognize patterns of input or examples given and also belong to the supervised learning . This study aims to analyze the influence of each parameter on the method of SVM and most combinations yield the highest accuracy , and analyze the ability of the method Support Vector Machine ( SVM ) to manufacture land use map based on 1:100,000 scale land cover . Classification of land use land cover with a method based Support Vector Machine ( SVM ) using the spectral data , the slope of the spatial data in the form of data and data filters mean texture . Data are the mean texture filter used is the data of each band as well as a composite of all the bands with processing window 3x3 , 5x5 , 7x7 , 9x9 . Classification scheme used is a land use classification scheme according BPN 2012 with modifications adapted to the conditions on the ground . The results showed the results of the classification method Support Vector Machine ( SVM ) spectral data resulted in an overall accuracy and kappa 0.7524 78.8845 % . In addition the slope of the data resulted in an overall accuracy of 80.7973 % and 0.7755 for the kappa value . Merging data spectral and texture mean filter with 9x9 window processing on the combined bands 1 , 2 , 3 and 4 turned out to be more and raise the level of the overall accuracy of the classification results into 92.8619 % and 0.9163 kappa . While the combination of simulated spectral data , the slope of the data and the data turns out to produce a texture filter higher accuracy , especially if the texture simulations use the mean of all the mean texture band with 9x9 processing window , obtained an overall accuracy up to 92.8951 % and kappa reaches 0 , 9170.

    Kajian Sebaran Radioaktif Gamma dalam Lingkungan Airtanah di Sisi Selatan Gunungapi Merapi, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman. Radioaktif alam adalah radioaktif yang berasal dari radiasi yang ada di bumi. Radionuklida alam penyumbang terbesar terhadap besarnya paparan gamma ke manusia adalah anak luruh Uranium-238 (U-238). Radionuklida tersebut akan sangat berbahaya bagi manusia jika mencemari airtanah yang akan digunakan manusia.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persebaran radioaktivitas gamma dalam airtanah bebasdi daerah penelitianakibat erupsi Gunungapi Merapi 2010 dan merumuskan upaya strategik pengelolaan lingkungan untuk menangani permasalahan potensi terkontaminasinya airtanah oleh radioaktif. Penelitian ini menggunakan metode survey.Metode sistematik berdasarkan grid untuk menentukan titik sampel dan pola aliran airtanah. Untuk memperoleh data kualitas airtanah menggunakan metode purposif dengan mempertimbangkan titik sampel yang diambil harus berada pada satu jalur aliran airtanah yang ditunjukkan dalam pola aliran airtanah. Data yang diperoleh berupa data aktivitas radioaktif dan dosis efektif. Tujuan kedua dicapai dengan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan data sebaran dosis efektif sebagai acuan alternatif strategi pengelolaan lingkungan yang diberikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, aktivitas radioaktif gamma U-238 pada airtanah dilokasi penelitian masih aman karena masih di bawah baku mutu berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir nomor: 02/Ka-BAPETEN/V-99 tentang baku tingkat radioaktivitas lingkungan yaitu 1x103 Bq/liter untuk syarat aktivitas U-238 di air. Dari hasil pengujian didapati bahwa, aktivitas U-238 rentang  yaitu 0,123±0,04 Bq/liter sampai 0,283±0,011 Bq/liter. Untuk dosis efektif didapati bahwa sebaran dosis efektif di daerah penelitian juga masih sangat rendah dan aman yaitu berada pada 4,00 µSv/tahun hingga 8,14 µSv/tahun. Dosis efektif di daerah penelitian masih jauh di bawah batas ambang yang ditentukan WHO yaitu 0,1 mSv/tahun untuk besarnya dosis efektif pada air minum. Dengan demikian dosis efektif pada daerah penelitian masih aman dan tidak menimbulkan dampak stokastik maupun non stokastik (deterministik). Alternatif strategi pengelolaan lingkungan dilakukan melalui strategi yang bersifat preventif yang meliputi persyaratan manajemen, teknik, proteksi radiasi dan keselamatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 2007 tentang keselamatan radiasi pengion dan keamanan sumber radioaktif, dan UU No. 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. ABSTRACT This research was conducted in the village of Wukirsari Cangkringan sub-district of Sleman Regency.Nature radioactive is a radioactive which come from radiation on earth. The largest contributor of natural radionuclides against the magnitude of gamma exposure to human is Uranium daughter U-238 (Uranium-238). That radionuclides is very dangerous to human if it pollutes into groundwaters which will be used by human. This research aims to assess the distribution of gamma radioactive because of Merapi Volcano eruption on 2010 in free groundwaters at study area and to formulate environmental management strategies to handle the problem of groundwaters contamination potency by radioactive. This research was used survey method. Systematic method based on grid to determine sample point and groundwaters flow pattern. To obtain the data of groundwaters quality use purposive method which consider that sample point must be on one track at groundwaters flow that showed in flownet. The data obtained is activity data of radioactive and effective dose. The second objective is achieved by qualitative descriptive method which use the data of effective dose distribute as a alternative reference to formulate environmental management strategies. This result showed that gamma radioactive activity from U-238 on groundwaters at study area is still safe because it is still below the quality standards that based on the decision by the Head of the Nuclear Energy Regulatory Agency number: 02/Ka-BAPETEN/V-99 about standard level of radioactivity in the environment that is 1x103 Bq/litre in terms of U-238 activity in water. From the test results it was found that range of U-238 activity that is 0,123±0,04 Bq/litre until 0,283±0,011 Bq/litre. For the effective dose was found that effective dose distribution in the study area is still very low and safe that is 4,00 µSv/year until 8,14 µSv/year. The effective dose in the study area is still far below the WHO threshold specified that is 0,1 mSv/year for the magnitude of the effective dose in drinking water. Thus the effective dose in the study area is still safe and do not impact stochastic and non-stochastic effects (deterministic). Environmental management strategies conducted through preventive strategies which includes requirements management, engineering, radiation protection and safety stipulated in Government Regulation Number 33 of 2007 about ionizing radiation safety and security of radioactive sources, and Act number 32 / 2009 on environmental protection and management.

    189

    full texts

    419

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Geografi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇