Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
    419 research outputs found

    DINAMIKA KEMISKINAN DI JAWA-MADURA MENURUT KABUPATEN/KOTA TAHUN 2002-2007

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pada variasi dan pengembangan kemiskinan (angka kemiskinan) di Jawa-Madura berbasis pada kabupaten / kota tahun 2002 hingga 2007, dan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menjelaskan perubahan kemiskinan. Penelitian ini makro, dengan skala analisis adalah pulau Jawa-Madura secara keseluruhan.  Metode penelitian yang digunakan adalah analisis data sekunder. Sumber data utama diambil dari Data Dan Informasi Kemiskinan, Tahun 2002 2005/2006, dan 2007  Buku 2: Kabupaten / Kota diterbitkan oleh BPS. Analisis data dalam penelitian ini adalah berbagai seperti tabulasi silang, Chi Square, grafik, peta, dan analisis regresi linier ganda disediakan oleh analisis kuadran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kabupaten / kota di Jawa-Madura dari tahun 2002 hingga 2007 tingkat kemiskinan berfluktuasi terutama di pusat dan timur Jawa. Selain itu, ada perbedaan nyata antara tingkat kemiskinan di kabupaten dan kotamadya. Kabupaten cenderung dominan dalam kemiskinan kelas menengah dan kotamadya yang dominan dalam kemiskinan kelas rendah. Walaupun PDRB per kapita secara signifikan faktor berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Jawa-Madura khususnya di kabupaten tahun 2002-2007, mempengaruhi relatif tidak signifikan (R2 selalu di bawah 20 persen). Faktor yang paling berpengaruh adalah persentase orang yang bekerja di sektor informal dengan nilai R2 yang selalu di atas 40 persen pada tahun 2002-2007. Untuk alasan bahwa tingkat pengangguran masalah di Jawa-Madura cukup tinggi, faktor tenaga kerja lebih berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Jawa-Madura pada tahun 2002-2007 (R2 selalu di atas 35 persen) dibandingkan faktor-faktor sosio-ekonomi lainnya , terutama di kabupaten. Sementara itu di kota, faktor ekonomi secara signifikan berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan pada tahun 2007 saja dan memiliki pengaruh yang paling dalam periode 2005 sampai dengan 2007 (nilai R2 adalah sebesar 7,5 Dan 11,6 persen).  Implikasi kebijakan yang dapat diambil adalah memiliki program program penanganan kemiskinan di Jawa-Madura yang lebih dari tenaga kerja dan bidang ekonomi, terutama dalam mengatasi masalah pengangguran. Selain itu, juga perlu ada peningkatan anggaran untuk pendidikan, kesehatan, dan tenaga kerja karena persentase pengeluaran pembangunan di tiga bidang ini masih tidak signifikan.  ABSTRACT The research is aimed at obtaining a description on the variation and the development of poverty (the poverty rate) in Java-Madura based on regencies/municipalities year 2002 to 2007, and to find out the factors that may explain the change of the poverty. The research is macro, with the analysis scale is the entire Java-Madura island. The research method used is secondary data analysis. The main data source is taken from Data dan Informasi Kemiskinan Tahun 2002, 2005/2006, and 2007 Buku 2: Kabupaten/Kota published by BPS. The data analysis in the research is various such as cross tabulations, Chi Square, graphics, maps, linier and double regression analysis provided by quadrant analysis. The result of the research shows that the majority of regencies/municipalities in Java-Madura from year 2002 to 2007 has the fluctuated poverty rate especially in the central and the east of Java. Besides, there is a tangible difference between the poverty rate in regencies and in municipalities. Regencies tend to be dominant in the middle class poverty and municipalities are dominant in the low class poverty. Although GDRP per capita is significantly the influential factor to the poverty rate in Java-Madura especially in regencies year 2002-2007, the influence is relatively insignificant (R2  is always below 20 percent). The most influential factor is the percentage of people working in the informal sector with the R2  value is always above 40 percent in year 2002-2007. For the reason that the unemployment rate problem in Java-Madura is quite high, the manpower factor is more influential to the poverty rate in Java-Madura in year 2002-2007 (R2 is always above 35 percent) than the other socio-economic factors, especially in regencies. Meanwhile in municipalities, the economic factor significantly influences to the poverty rate in 2007 only and has the most influence in the period of 2005 to 2007 (R2 value are 7.5 dan 11.6 percent). The  implication  of  the  policy  that  can  be  taken  is  having  programs  on poverty handling in Java-Madura which is more of manpower and economic field, especially  in  coping  with  unemployment  problem.  Aside  from  that,  it  is also necessary to have the budget increase on education, health, and manpower because the percentage on developmental expenditure in the three fields is still insignificant

    Pola Penghidupan Masyarakat di Daerah Perdesaan pada Strata Rumahtangga yang Berbeda

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian pola penghidupan di daerah perdesaan perlu dilakukan mengingat daerah perdesaan merupakan bagian integral dari wilayah pembangunan yang perlu mendapat perhatian pemeritah melalui berbagai kebijakan pemberdayaan masyarakat perdesaan dalam konteks pembangunan daerah perdesaan. Untuk itu penelitian ini bertujuan mengkaji (1) strategi penghidupan rumahtangga dan (2) faktor penentu, serta (3) menyusun arahan pengembangan strategi penghidupan yang efektif pada tiap strata ekonomi rumahtangga dalam rangka peningkatan pendapatan di lokasi penelitian. Penelitian ini mengambil lokasi di Desa Karang Jaya Kabupaten Buru dengan unit penelitian pada strata rumahtangga. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan menggunakan kuisioner dan wawancara dalam pengambilan data. Dengan adanya strata rumahtangga maka Teknik sampel menggunakan stratifield random sampling dengan penentuan besar sampel secara proportional. Jumlah sampel strata ekonomi lemah 65 rumahtangga, strata ekonomi menengah 34 rumahtangga dan strata ekonomi kuat 6 rumahtangga. Analisa data dilakukan secara kua ntitatif dengan menggunakan tabel frekuensi dan tabel silang serta dilengkapi dengan indepth interview. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strata rumahtangga ekonomi lemah sebagian besar menerapkan strategi pemanfaatan sumberdaya rumahtangga untuk meningkatkan hasil pertanian. Sementara strata rumahtangga ekonomi menengah menerapkan strategi pemanfaatan sumberdaya rumahtangga, diversifikasi pekerjaan dan optimalisasi hasil pertanian. Strata rumahtangga ekonomi kuat lebih fokus pada strategi investasi modal usaha. Adapun yang menjadi faktor penentu dalam penerapan strategi di atas adalah modal fisikal dan modal finansial yang berbeda dari segi dominasi kepemilikan pada tiap strata ekonomi. Untuk itu perlu adanya pengembangan strategi yang lebih efektif melalui peningkatan keahlian/ketrampilan anggota rumahtangga, membentuk kelompok tani/usaha kecil, memanfaatkan lahan kering, melakukan diversifikasi dan ekstensifikasi pertanian, serta meningkatkan modal usaha melalui peningkatan akses terhadap lembaga keuangan. ABSTRACT Research about livelihood pattern in rural area need to be conducted considering that rural area is an integral part of developing area which should get attention from government through any rural empowering policy in the context of rural area development. Therefore, this research aims to study in depth about livelihood strategy of households and the determining factor, and also recommend the development direction in order to increase people income in this research area. This research chose Karang Jaya village in Buru County as research location with research unit at household level. Research method used in this research was survey method using questionnaire and interview to collect data. Sampling technique used is this research was stratifield random sampling with proportional determination of sample quantity. Total sample of low economy level are 65 households, middle economy level are 34 households, and high economy level are 6 households. Data analysis undertaken by qua ntitative analysis using frequency table and cross table equipped with in depth interview. Result of this research shows that households with low economy level applied utilization of household resources strategy to increase farming result. While households with middle economy level applied utilization of household resources strategy, work diversification and optimization of farming result. On the other hand, households with high economy level focused on strategy of fund investment for their own business. Determining factor in applied those strategies were different fiscal and financial capital ownership at every economy level. Because of that, more effective strategy development through improvement of skills/craftsmanship of household member, establishment of farmer group/micro business, utilization of dry lands, diversification and extensive of agriculture, and increase capital for business by way of improving access to financial foundation were needed

    Kajian Luas Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen, Karbon Tersimpan, dan Kebutuhan Air di Kota Yogyakarta

    Get PDF
    ABSTRAK KotaYogyakartaadalahkotayangberkembang.Perkembangankotaini sejalandenganjumlahpenduduk.Semakinbertambahjumlahpenduduk  maka akan semakin meningkat ke­­­butuhan mereka. Untuk memenuhi kebutuhan pendu­duk,makadibuatfasilitassepertiken­­daraanbermotor,jalandangedung. Fasi­litas ini akhirnya menggeser ruang terbuka hijau perkotaan. Akibatnya me­ning­­katkankonsumsioksigen,produksikarbondanber­ku­rangnyaareaserapan airhujan.Salahsatucarauntukmengatasimasalahiniadalahdenganmenjagadan meningkatkanruangterbukahijauyangberupahutankota. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsumsi dan produksi kebu­tuhanoksigen,karbon,dankebutuhanairsertamemberikanrekomendasiluas hutankotayangharusditambahkanuntukmemenuhikebutuhanoksigen,karbon ter­simpan, dan kebutuhan air. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukandis­tribusihutankotadanjenispohonyangharusditambahkanpada tingkatkeca­matan,menentukankesesuaianluashutankotaberdasarkanUndang- UndangNo­mor26Tahun2007dengankebutuhanoksigen,karbonter­simpandan kebutuhanairdanmemperkirakankebutuhanluashutankotapadatahun2010.KotaYogyakartadipilihsebagailokasipenelitian.Sampeldiambilsecara purposif. Variabelyangdiukurlangsungpadapenelitianadalahproduksioksigen pa­da daun dan biomassa pohon. Variabel yang tidak diukur langsung adalah kon­sumsioksigen, produksikarbon, kebutuhan air penduduk dan serapan air hu­tanko­ta.Analisadatapadaperhitunganluashutankotaberdasarkankebutuhan ok­si­gendankarbontersimpanmenggunakanMetodeGerarkis.Sedangkanuntuk kebutuhanairmenggunakanpersamaananalitik.KotaYogyakartamengalamikekuranganpasokanoksigen,areaserapan kar­bondanairdarihutankota.Hutankotaperluditingkatkanmenjadi22%dari luaswilayahuntukme­me­nuhiketigakebutuhanini.Terdapat7kecamatanyang perlu ditambahkan luas hutan ko­tanya yaitu Danurejan, Gedongtengen, Gond­oma­nan, Jetis, Kraton, Ngampilan, dan Pakua­laman dengan  jenis  pohon yangditanamadalah akasia,beringin,danbungur.ABSTRACT Yogyakarta is a growing city. Urban development is in line with the population. The increasing number of people will increase their needs. To meet the needs of the population, then made facilities such as vehicles, roads and buildings. This facility is finally shifting the urban green open space. As a result, increases oxygen consumption, carbon production and reduced water absorption area of rain. One way to overcome this problem is to maintain and increase green open space in the form of urban forest. This study aimed to determine the consumption and production needs oxygen, carbon, and water requirements and provide recommendations urban forest area which must be added to meet the needs of oxygen, carbon stored, and water needs. In addition, this study aims to determine the distribution of urban forest and tree species should be added to the district level, determine the suitability of forest area of the city is based on Law Number 26 Year 2007 needs oxygen, carbon stored and the need for water and estimating the needs of the city in the forest area Yogyakarta 2010.Kota year chosen as the study site. Samples taken purposif.Variabel measured directly in the research is the production of oxygen at the leaves and tree biomass. The variables are not measured directly is oxygen consumption, carbon production, the water needs of the population and water uptake urban forest. Analysis of data on the urban forest area calculation based on the need of oxygen and carbon stored using methods Gerarkis. As for the water needs using equation analitik.Kota Yogyakarta deficient supply of oxygen, carbon and water absorption area of the urban forest. Urban forest needs to be increased to 22% of the area for the third meet this need. There are seven districts that need to be added to its forest area is Danurejan, Gedongtengen, Gondomanan, Jetis, Kraton, Ngampilan, and Pakualaman with the type of trees planted are acacia, banyan, and bungur. KotaYogyakartaadalahkotayangberkembang.Perkembangankotaini sejalandenganjumlahpenduduk.Semakinbertambahjumlahpenduduk  maka akan semakin meningkat ke­­­butuhan mereka. Untuk memenuhi kebutuhan pendu­duk,makadibuatfasilitassepertiken­­daraanbe<span style="letter-spacing

    Integrasi Transformasi Spektral Citra Landsat Etm+ dan SIG untuk Pemetaan Pola Rotasi Tanam Lahan Sawah Kabupaten dan Kota Semarang serta Daerah Sekitarnya di Jawa Tengah

    Get PDF
    ABSTRAK Pengurangan daerah beras seiring dengan meningkatnya populasi memberikan dampak pada ketersediaan pangan. Yang sesuai dan optimal manajemen beras yang diperlukan dengan mempertimbangkan sumber daya iklim dan pola tanam yang tepat waktu di lahan pertanian produktif, untuk mendukung kebutuhan dasar makanan untuk masyarakat, serta memberikan dukungan untuk Ketahanan Pangan Nasional. Studi ini dimaksudkan untuk menyelidiki keakuratan penggunaan spektrum nilai proses transformasi dan GIS untuk mengidentifikasi dan inventarisasi rotasi pola tanam di sawah dengan approach.The ekologi metode penelitian terdiri dari interpretasi klasifikasi multi-temporal ETM + Landsat digital dibantu menggunakan algoritma kemungkinan maksimum diawasi, dan dibantu dengan proses transformasi nilai spektral dari Analisis Principal Component (PCA), NDVI dan Tasseled Cap Transformasi (TCT). ETM + Landsat data yang digunakan adalah 5 Desember 2000, 24 April 2001, dan 1 Juli, 2001 di 120/065 path / row. Analisis ini selesai melalui membandingkan hasil dari proses transformasi Principal Component Spectral Analysis (PCA), NDVI dan Tasseled Cap Transformasi (TCT) dan proses transformasi gabungan dari tiga dari mereka, dengan hasil yang diperoleh dari klasifikasi tutupan lahan menggunakan saluran asli. Peran GIS dalam penelitian mengumpulkan data pendukung seperti peta zona agroklimat, peta tanah, peta bentuk lahan, peta sawah irigasi, dan setelah itu dilapisinya semua dari mereka untuk pola tanam peta, dengan mengikuti tanda-tanda, untuk menghasilkan beras tanam peta rotasi pola. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara terpisah menggunakan proses transformasi nilai-nilai spektral multi-temporal yang disediakan akurasi rendah, tetapi dengan visual yang jelas, yaitu Principal Component Analysis, NDVI dan Tasseled Cap Transformasi 96,13%, 68,17%, dan 92,44% . Hasil akurasi dari proses transformasi spektral gabungan memberikan nilai 92,61%. Penggunaan multi-temporal Landsat band asli memberikan nilai akurasi 98,77%. Pola rotasi padi tanam diidentifikasi di daerah penelitian adalah 1x / tahun, 2x / tahun, bidang 3x / tahun beras, dan pertanian lahan kering. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan transformasi spektral bersama-sama tidak memberikan akurasi yang lebih tinggi dibandingkan penggunaan secara individu spektral transformasi baik penggunaan saluran asli di multi-temporal. Penelitian lebih lanjut dengan menggunakan media-resolusi Remote Sensing Gambar beberapa prosedur yang berbeda dalam konteks pemantauan sawah dianggap perlu. ABSTRACT The reduction of rice area along with the increase of population gives an impact on the food availability. The appropriate and optimal management of rice are required by considering the climate resources and timely cropping pattern at the  productive  agricultural  land,  to  support  the  basic  needs  of  food  for  the communities, as well as providing support for the National Food Security. The study  intended  to  investigate  the  accuracy  of  the  use  of  the  spectral  values transformation process and GIS in order to identify and inventory the rotation of cropping pattern in rice field with an ecological approach.The research methods consist  of  the  interpretation  of  multi-temporal  classification  of  Landsat  ETM+digitally assisted using supervised  maximum likelihood algorithm, and assisted with the transformation process of the spectral value of a Principal Component Analysis (PCA), NDVI and Tasseled Cap Transformation (TCT). Landsat ETM+ data used are December 5, 2000, April 24, 2001, and July 1, 2001 at the 120/065 path/row.  The  analysis  was  finished  through  comparing  the  results  from  the transformation process of Principal Component Spectral Analysis (PCA), NDVI and  Tasseled  Cap  Transformation  (TCT)  and  the  combined  transformation process from three of them, with the results obtained from the classification of land  cover  using  the  original  channel.  The  role  of  GIS  in  the  research  are collecting  supporting  data  like  agro-climate  zones  maps,  soil  maps,  landform maps, maps of irrigated paddy fields, and afterward overlaid all of them to the cropping patterns map, by following the signs, to produce rice cropping rotation pattern maps. Results showed that the separately use of the transformation process of multi-temporal  spectral  values  provided  low accuracy,  but with an obvious visuals,   namely   Principal   Component   Analysis,   NDVI   and   Tasseled   Cap Transformation of 96,13%, 68.17%, and 92,44%. The accuracy results from the combined spectral transformation processes give a value of 92,61%. The use of multi-temporal Landsat original band gives the accuracy value of 98.77%. The rice cropping rotation patterns identified in the study area are 1x /year, 2x /year,3x /year rice fields, and upland farming. The conclusion from this research is the use of spectral transformation together does not give a higher accuracy than the use of individually spectral transformation either the use of the original channel in a multi-temporal. The further research using medium-resolution Remote Sensing Image for several different procedures in the context of rice field monitoring is considered necessary

    Perubahan Penggunaan Lahan dan Faktor yang Mempengaruhinya di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang

    Get PDF
    ABSTRAK Berbagai fenomena perubahan penggunaan lahan telah terjadi dari waktu ke waktu. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi sejalan dengan semakin meningkatnya pertambahan jumlah penduduk yang secara langsung berdampak pada kebutuhan terhadap lahan yang  semakin meningkat. Kecamatan Gunungpati adalah wilayah bagian Kota Semarang yang berada di pinggir selatan dari Kota Semarang yang cenderung bersifat agraris. Sejak di pindahkannya kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES) dari Kecamatan Gajahmungkur ke Kecamatan Gunungpati Tahun 1990, Kecamatan Gunungpati mulai mengalami perubahan penggunaan lahan, dari penggunaan lahan pertanian berubah menjadi penggunaan lahan non pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk  perubahan mengkaji luas dan bentuk penggunaan lahan tahun 2008 dan mengetahui faktor yang mempengaruhinya.Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis peta digital dan analisis statistik. Analisis peta digital dengan menggunakan sistem informasi geografis yang dilakukan dengan cara tumpang susun peta penggunaan lahan hasil interpretasi citra tahun 1994 dan tahun 2008 untuk memperoleh perubahan lahan. Untuk memperoleh faktor yang mempengaruhi perubahan lahan dengan cara analisis statistik korelasi antara variabel bebas perubahan lahan Kecamatan Gunungpati tahun 2008 dengan variabel pengaruh yaitu jarak tiap kelurahan dengan pusat aksesibilitas, Pertambahan penduduk, penduduk pendatang, Proporsi penduduk yang bekerja di sektor non pertanian. Unit analisis yang digunakan adalah kelurahan.Perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Gunungpati dari tahun 1994 hingga tahun 2008 terjadi bervariasi, ada yang mengalami peningkatan dan ada yang menunjukkan  pengurangan luas penggunaan lahan. Untuk luas lahan yang bertambah yaitu lahan permukiman sebesar 1311,28 ha (21,84%),dan luas lahan jasa/komersil 60.43 ha (1,00%). Luas penggunaan lahan yang berkurang diantaranya penggunaan lahan kebun campur sebesar 2766,71 ha (46,09%), luas penggunaan lahan sawah sebesar 1121,44 ha (18,68%), luas lahan  tegalan sebesar 743,22 ha (12,38%). Hasil analisis statistik korelasi menunjukkan hanya penduduk pendatang dan jarak aksesibilitas yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Gunungpati secara signifikan, hal ini terjadi karena hampir semua penduduk pendatang bertujuan untuk membangun rumah yang lebih murah dan luas serta pada umumnya bekerja di sektor non pertanian, sehingga bagi pendatang  kebutuhan akan lahan permukiman makin luas yang berakibat pada perubahan penggunaan lahan.ABSTRACT Some phenomenons of land use changes have been happening over time.  Land use changes have occurred in the areas,  were increasy of population, have influenced need path of land.  The Gunungpati Subdistrict is one of regions in the Semarang Municipality situated at the southern part of Semarang Municipality that tends to be agrarian areas.  Since moved location of campus State University of Semarang (UNNES) from the Gajahmungkur Subdistrict to Gunungpati Subdistrict of in 1990, the Gunungpati Subdistrict  has started to change its  land use, that was from agricultural land use changed to be non agriculture land use.  This study was conducted to discuss the distribution and the form of land  use change and to know its influencing factors.In this research uses approach of digital map analysis and statistical analysis. Digital Map analysis wasdone by using geographical information system sefeware which conducted by joining with others to overlay map of land use result of year image interpretation 1994 and year 2008 to obtain  land use change. Analysis factor influencing land use change  wasdone by statistical analysis of correlation between independent variable of land use change Subdistrict of Gunungpati in year 2008 with influence variable these ase distance of center distance of each village with accessibility, population growth, migrants, and The proportion of residents who work in non-agricultural sector. The unit of analysis used is subdistrict.Land use change  in Gunungpati Subdistrict has occurred from  1994 to 2008 of variaous, which happened to in increased  and decreased of in land use. to increase of land use that is setlement was occurred  1311,28 ha (21,84%) and 60.43 ha ( 1,00%) for service/commercial land use. whereas the decreased of wide was occurred 2,776.71 ha (21.84%) in mixing plantation, 1,121.44 ha (18,68%) in farming out, 743.22 ha (12.38%) in dry fielding.  The result of  statistical analysis of correlation showed that it were only the variables of  and center distance of each village with accessibility that influenced significantly to the  land use change in the Gunungpati subdistrict, because it was nearly all of migrants wanted to build the cheaper and house there. and also in non agricultural occupation, so that requirement of setlement land use will more and more wide causing  of land use change

    Bioremediasi sebagai Usaha Konservasi Lingkungan pada Pencemaran Limbah Pemboran Minyak di Job Pertamina – Petrochina East Java Tuban

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dalam skala ex-situ, data yang diperoleh dari setiap perlakuan berupa data deskriptif komparatif. Tujuan penelitian adalah : 1) Mengkaji efektifitas indigeneous sebagai pendegradasi penurunan TPH(Total Petroleum Hydrokarbon), pada sumur Sukowati#4, Sukowati #6, dan Sukowati #7. 2) Mengetahui penyebab penurunan laju degradasi TPH Sukowati#4, lebih cepat dibanding Sukowati #6 dan Sukowati #7. 3) Pemanfaatan hasil bioremediasi untuk masyarakat sekitar lokasi dan rekomendasi saran strategis pengelolaan limbah hasil olahan bioremediasi. Teknik remediasi yang dilakukan secara land farming, dengan menambahkan end-product pada treatment bioremediasi. Variable perlakuan tanah 3:1, pengamatan yang dilakukan selama 20 minggu Indigeneous dan end-product mampu mendegradasi mikroorganisme sumur pemboran Sukowati #4 dengan penurunan TPH yang signifikan sedangkan pada Sukowati #6 mengalami penurunan TPH 25% dan Sukowati #7 penurunan TPH mencapai 20%. Pada minggu ke-8 penurunan TPH mencapai 90 %. Tanah hasil olahan bioremediasi dengan teknik land farming banyak mengandung komponen kimia (N, P, K), memungkinkan untuk digunakan lahan tanaman jarah sebagai rekomendasi saran strategi pengelolaan lingkungan. Pada umumnya masyarakat sekitar lokasi memanfaatkan tanah hasil olahan bioremediasi sebagai tanah urug dan pembuatan batako. ABSTRACT This research was conducted in the scale of ex-situ, the data obtained from each treatment in the form of comparative descriptive data. Research objectives are: 1) Assess the effectiveness of indigeneous as degrading reduction in TPH (Total Petroleum hydrocarbon), on wells Sukowati # 4, Sragen # 6, and # 7 Sragen. 2) Determine the cause of a decrease in the degradation rate of TPH Sragen # 4, faster than Sragen Sragen # 6 and # 7. 3) Using the findings of bioremediation for the community around the location and strategic advice on the management of waste processed bioremediation. Remediation techniques are done farming land, by adding end-product in bioremediation treatment. Variable soil treatment 3: 1, observations made during the 20 weeks of indigeneous and end-product capable of degrading microorganisms drilling wells Sragen # 4 with a reduction in TPH significantly while in Sragen # 6 decreased TPH 25% and Sragen # 7 reduction in TPH reaches 20% , At week 8 TPH decline reached 90%. The processed soil bioremediation techniques farming land contains many chemical components (N, P, K), allowing for the use of cropland history as recommendation suggestion environmental management strategies. In general, people around the site use the land as a soil bioremediation processed urug and brick-making

    Dinamika Kesejahteraan Penduduk di Banjarnegara

    No full text
    Banjarnegara mendapat terdiri dari 20 kecamatan yang telah menetapkan kesejahteraan penduduk menjadi prioritas dalam program pembangungan. Hal ini termaktub dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah (RPJM) daerah tahun 2011-2016. Berdasarkan hal tersebut, aspek penduduk perlu diketahui serta dianalisis supaya dapat diketahui sejauh mana kesejahteraan masyarakat tersebut ditengah keadaan lingkungan fisik yang demikian. Kesejahteraan dianggap penting karena perubahan tingkatnya dapat menggambarkan sejauh mana tingkat pencapaian sesuatu pembangunan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengkaji: 1. Mengkaji dinamika kesejahteraan penduduk Banjarnegara. 2. Mengkaji perbedaan kesejahteraan menurut wilayah di Banjarnegara. Hasil kajian menunjukkan tidak selalu yang mempunyai ciri kekotaan selalu menempati posisi tertinggi. Contohnya adalah Kecamatan Banjarnegara yang merupakan ibukota Kabupaten lebih rendah posisinya dibandingkan Kecamatan Klampok. Kecamatan yang merupakan “transisi” yang maksudnya adalah daerah yang didominasi pertanian namun telah berkembang pula sektor perdagangan dan jasa menduduki peringkat terbaik dalam hal kesejahteraan. Selain Klampok, diketahui bahwa Kecamatan, Kecamatan Punggelan, Kecamatan Mandiraja, Kecamatan Kalibening, Kecamatan Madukara, Kecamatan Pagedongan dan Karangkobar. Kesejahteraan sedang: Bawang, Purwanegara, Banjarmangu, Susuk Wanadadi. Kesejahteraan kurang baik dibandingkan kecamatan yang lain adalah di Pandanarum,  Pagentan, Pajawaran, Rakit, Kalibening. Kecamatan ini didominasi aktivitas pertanian dengan beberapa aspek terlihat relatif lebih rendah keadaannya dibandingkan daerah lain. Misalnya keadaan perumahan, pendidikan selain faktor ekonom

    Identifikasi Ketidaksesuaian Peruntukan Ruang Kawasan Lindung Sempadan Sungai Pedindang di Kota Pangkalpinang

    No full text
    Penelitian ini tentang ketidaksesuaian area sungai pada kawasan lindung di Sungai Pedindang, Kota Pangkalpinang. Tujuan dari penelitian adalah (1) untuk mengindentifikasi ketidaksesuaian penggunaan kawasan lindung sempadan sungai; (2)  untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi ketidaksesuaian penggunaan kawasan lindung sempadan sungai; (3) untuk mengetahui distribusi ketidaksesuaian penggunaan kawasan lindung sempadan sungai di Sungai Pedindang, Kota Pangkalpinang. Penelitian ini dilakukan dengan metode studi kasus. Lokasi yang dipilih berkaitan dengan ketidaksesuaian penggunaan sempadan sungai yang ditemukan di Sungai Pedindang, Kota Pangkalpinang. Penelitian ini difokuskan pada ketidaksesuaian kawasan lindung sepanjang sungai. Survei dilakukan dengan menyebarkan kuesioner. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan teknik kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat ketidaksesuaian penggunaan kawasan lindung di sempadan Sungai Pedindang, Kota Pangkalpinang. Penggunaan kawasan lindung yang tidak sesuai didasarkan pada Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang RTRW dari Kota Pangkalpinang, untuk ruang terbuka hijau atau inspeksi jalan pada area terbangun. (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidaksesuaian penggunaan kawasan lindung di sungai Pedindang diantaranya (a) ketersediaan fasilitas di sekitar sempadan sungai, (b) tingkat keamanan lokasi, (c) tingginya tingkat pendapatan daerah perkotaan, (d) jumlah kesempatan kerja besar, dan (e) kedekatan dengan tempat bekerja. (3) Distribusi ketidaksesuaian di kawasan lindung sempadan sungai ditemukan di daerah tengah arus sungai yaitu daerah pusat Kota Pangkalpinang dengan populasi yang sangat padat

    Perubahan Daya Dukung Lingkungan di Wilayah Pinggiran Kota (Kasus : Kecamatan Kecamatan yang Berbatasan dengan Kota Yogyakarta, Tahun 1990–2008)

    No full text
    ABSTRAK Salah satu dampak perkembangan wilayah pinggiran kota adalah terjadinya perubahan daya dukung lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran, persebaran dan pola sebaran perubahan daya dukung lingkungan serta mengkaji keterkaitannya dengan perubahan tipology wilayah pinggiran kota. Penelitian ini dilakukan di 29 desa yang berada di 6 kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta dengan unit analisis 'desa'. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kasus dengan karakteristik obyek penelitian yang bersifat survey analisis dan historis dengan penekanan pada pendekatan kronologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan lahan terbangun paling pesat terjadi di Desa Tirtonirmolo dan Desa Ngestiharjo (>20%). Status daya dukung lingkungan di wilayah penelitian sebagian besar masih termasuk dalam katagori sustain. Laju penurunan paling cepat terjadi di Desa Maguwoharjo dan Desa Singosaren. Fenomena ini dipengaruhi oleh faktor peningkatan lahan terbangun yang sekaligus juga menjadi faktor pengaruh paling penting terhadap perubahan tipologi desa-desa pinggiran Kota Yogyakarta. ABSTRACT  The one of regional development impact in urban fringe area is the change of environmental carrying capacity. This research aims to know about magnitude value, desperation and distribution patternsof the change ofenvironmental carrying capacity and also to examining that relation with the change of urban fringe regional topology. This research is conducted in 29 villages in 6 sub-districts that are directly adjacent to Yogyakarta city with the unit of analysis is ''village ''. This research categorized the case research with the characteristic of research object is analytical survey and historical method with the intens is chronological approach. The research shows that the most rapid built up land use development is in Tirtonirmolo and Ngestiharjo village (>20%). This research discovers that the status of most of environmental carrying capacity in this research area are in 'sustain ' category. The fastest deceasing magnitude rate of the environmental carrying capacity value occurs in Maguwoharjo and Singosaren village. This phenomena are influent by increasing of built up land use and also the most important factor towards change of rural.fringe typology of Yogyakarta City

    Pengetahuan Persepsi dan Partisipasi Masyarakat dalam Pemanfaatan Ruang Berwawasan Lingkungan di Kota Bengkulu

    No full text
    ABSTRAK Kebutuhan pemanfaatan ruang di wilayah Kota Bengkulu terus meningkat sejalan dengan meningkatnya aktifitas masyarakat dan kegiatan sosial ekonomi yang menyertainya. Perubahan pemanfaatan ruang seringkali tidak sesuai dengan rencana tata ruang. yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan. persepsi dan partisipasi masyarakat. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode survey. Penentuan sampel digunakan teknik multi stage random sampling. Selanjutnya dipilih sampel masyarakat secara acak (random sampling). Cara penilaian dilakukan dengan memberikan skor pada tiap pertanyaan di kuesioner dan kemudian dianalisa secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat cenderung sedang yaitu sebesar 56 %. Persepsi masyarakat cenderung sedang yaitu sebesar 62 %. Partisipasi masyarakat cenderung sedang dengan persentase sebesar 50.4%. Semakin tinggi pendidikan. tingkat perekonomian dan peran media massa maka semakin meningkatkan pengetahuan penduduk.Semakin tinggi pengetahuan penduduk maka semakin meningkatkan persepsi dan partisipasi penduduk. Semakin meningkatnya persepsi penduduk maka partisipasi penduduk juga semakin meningkat. ABSTRACT The need to use space in the city of Bengkulu continued to increase in line with increased activity of the community and social and economic activities that accompany it. Changes in utilization of space is often not in accordance with the spatial plan. which can have negative impacts on the environment. This study aimed to analyze the knowledge. perception and participation. Data collection research using survey method. The samples used multi-stage random sampling technique. The next randomly selected community sample (random sampling). Way assessment is done by giving a score to each question in the questionnaire and then analyzed descriptively qualitative. The results showed that the knowledge society tends to moderate in the amount of 56%. Public perception tends to moderate in the amount of 62%. Community participation tends to moderate with a percentage of 50.4%

    189

    full texts

    419

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Geografi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇