Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
Analisa Penyebaran Potensi Kekeringan Lahan di Kabupaten Rembang
Kekeringan lahan yang melanda suatu daerah menimbulkan dampak yang besar terhadap produktivitas lahan pertanian. Terjadinya kekeringan ini disebabkan oleh defisit air akibat kurangnya hujan yang jatuh, laju infiltrasi air yang tinggi serta jenis tanaman yang tidak sesuai dengan ketersediaan air. Untuk meminimalkan dampak yang terjadi akibat kekeringan lahan maka perlu dilakukan antisipasi dengan mengetahui defisit dan surflus air lahan melalui data curah hujan serta kemampuan tanah menahan air (Water Holding Capasity). Oleh sebab itu, dalam penelitian ini penulis mencoba untuk menganalisa penyebaran potensi penyebaran kekeringan di wilayah Kabupaten Rembang Propinsi Jawa Tengah. Parameter yang didapat yaitu interpretasi dari citra satelit lansat 8 (OLI), data statistik Kabupaten Rembang, dan data curah hujan. Didalam penelitian ini juga penulis menggunakan indeks vegetasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan SAVI (Soil-Adjusted Vegetation Index)yang dapat menghasilkan rata-rata luas wilayah potensi kekeringan di masing-masing kecamatan pada Kabupaten Rembang. Land drought that hit a region has a great impact on the productivity of agricultural land. The occurrence of this drought is caused by water deficit due to lack of falling rain, high water infiltration rate and types of plants that are not in accordance with the availability of water. To minimize the impacts caused by land drought, it is necessary to be anticipated by knowing the deficit and land water surfs through rainfall data and the ability of water holding capasity. Therefore in this study the authors try to analyze the spread of potential spread of drought in rembang district of central java province. The parameters obtained are the interpretation of satellite image 8 (OLI), statistical data of Rembang Regency, and rainfall data. In this study, the authors used the NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) and SAVI (Soil-Adjusted Vegetation Index) vegetation index which can produce the average of drought potential areas in each sub-district in Rembang district
Kondisi hidrologi terkait dengan perubahan penggunaan lahan DAS Bedog Kabupaten Sleman
Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji kondisi Fisik DAS Bedog dalam kaitannya respon DAS terhadap hujan, sebagai dasar untuk restorasi air di DAS Bedog. Tujuan kedua adalah untuk mengkaji jejaring irigasi di DAS Bedog kaitannya dengan adanya rekayasa irigasi. Adapun tujuan ketiga adalah mengkaji seberapa besar kelebihan air di DAS Bedog pada saat musim kemarau. Lokasi penelitian dipusatkan pada DAS Bedog yang berada di Lereng Selatan Gunungapi Merapi yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. DAS ini dipilih karena memiliki fungsi penting sebagai resapan air yang menunjang sumber daya air di daerah bawahannya. Lokasi ini juga dianggap sesuai dengan Rencana Strategis UGM (2012-2017) salah satu prioritas riset menekankan pada masalah Penyelamatan Lingkungan Kritis dan Restorasi Lingkungan Daerah Resapan Air. Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji aspek fisik yang ada di DAS Bedog dimana fenomena hidrologi yang ada. parameter fisik lahan dianalisis tumpangsusun dengan Sistem Informasi Geografis untuk mendapatkan besaran-besaran koefisien aliran dan besar debit. Nilai hasil tersebut digunakan untuk analisis jaringan irigasi dan pengarian. Berdasarkan hasil analisis disimpulkan respon DAS terhadap hujan, data penggunaan lahan 2015 dan 2017 didapatkan nilai koefisien aliran (nilai C) adalah 0,47 dan 0,48. DAS Bedog masih relatif baik untuk menyimpan air yakni mampu menyimpan air hujan sekitar 52% sd 53%. Sistem jejaring irigasi di DAS Bedog, sumber airnya sebagian berasal dari pembendungan Sungai Krasak yang dialirkan ke daerah irigasi DAS Bedog, dan terdapat gabungan pembendungan sungai Krasak dan sungai Bedog yang digunakan untuk air irigasi di DAS Bedog . Terdapat lima Bendung untuk kebutuhan irigasi DAS Bedog. Kelebihan air irigasi di DAS Bedog yang bearsal dari Bendung I, II, Bendung III dialirkan ke Bendung 4, Bendung V, dan dialirkan ke sungai Bedog bagian setelah digunakan irigasi di wilayah irigasi Pulesari. Bendung IV dialirkan ke DAS Bedog untuk mencukupi air irigasi di wilayah irigasi Blumbang dan kelebihan air irigasi dimasukkan ke Bendung V
Perubahan Socio-Culture dan Economic Separation Keluarga dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Lansia di Desa Tileng Kecamatan Girisubo
Di satu sisi migrasi penduduk dari desa ke kota telah mampu merubah nilai socio-culture dan sistem ekonomi keluarga, namun di sisi lain telah menyebabkan lansia hidup terpisah dari anggota keluarganya. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk; (1) mengkaji proses perubahan socio-culture dan economic separation yang terjadi pada keluarga lansia; (2) menganalisis kondisi kehidupan sosial-demografi dan ekonomi lansia dalam kondisi spatial separation; dan (3) menganalisis pengaruh perubahan socio-culture dan economic separation terhadap kehidupan lansia. Penelitian ini dilakukan di Desa Tileng Kecamatan Girisubo dengan mengambil sampel keluarga lansia. Sampel diambil secara random sampling. Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur, sedangkan data sekunder dikumpulkan dari instatsi pemerintah. Data disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan tabel silang, kemudian dianalisis secara deskripssi kualitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa proses perubahan socio-culture diawali dari proses perubahan pendidikan anggota keluarga dan perubahan padangan lansia terhadap nilai-nilai socio-culture, sedangkan proses economic separation diawali dari proses perubahan aktivitas ekonomi tradsional menjadi ekonomi modern pada keluarga lansia. Penelitian ini juga menemukan kondisi kehidupan lansia yang tercemin dari kondisi sosial-demografi dan ekonomi dalam kondisi spatial separation cukup beragam. Temuan lain dari penelitian ini adalah perubahan socio-culture dan economic separation pada keluarga lansai berpengaruh terhadap kondisi kehidupan lansia yang terpisah dari anggota keluargnya
Kearifan Lokal Komunitas Sebagai Modal Sosial alam Manajemen Bencana Alam
Penelitian ini bertujuan mengkaji kearifan lokal komunitas sebagai modal sosial dalam manajemen bencana alam untuk memperoleh gambaran secara utuh tentang makna substantif dari komunitas, kearifan lokal dan manajemen bencana alam. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan pendekatan yang bersifat kualitatif. Terbentuknya komunitas tidak terlepas dari kebutuhan individu untuk berada dalam rasa aman dan memiliki mekanisme pertahanan ketika menghadapi situasi yang membahayakan. Komunitas mengembangkan suatu pengetahuan untuk memahami cara kerja alam, dan kemudian mengikutinya, serta berupaya menghindari apa yang dapat mengancam keselamatan. Kearifan lokal seharusnya dimaknai sebagai pengetahuan komunitas tentang keadaan setempat, atau kearifan setempat, yaitu pengetahuan yang menjawab situasi setempat, yang mana di tempat lain tidak ada. Suatu manajemen bencana alam perlu memperjelas kedudukan komunitas, serta memberi ruang gerak komunitas untuk menggunakan seluruh modal utama yang dimilikinya, yaitu diri (komunitas) dan kearifannya. This study aims to examine the local wisdom of the community as social capital in the management of natural disasters to obtain a full picture of the substantive meaning of the community, local wisdom and management of natural disasters. The research method used is descriptive method with a qualitative approach. The formation of a community is inseparable from the individual's need to be in a sense of security and to have a defense mechanism when facing a dangerous situation. The community develops a knowledge to understand how nature works, and then follows it, and seeks to avoid what can threaten safety. Local wisdom should be interpreted as community knowledge about local conditions, or local wisdom, namely knowledge that answers the local situation, which is not available elsewhere. A management of natural disasters needs to clarify the position of the community, and provide space for the community to use all the main capital they have, namely themselves (the community) and their wisdom.
Kemampuan Keuangan Daerah dan Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten-Kota di Provinsi Jawa Tengah
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi keuangan daerah dan kesejahteraan masyarakat, serta mencari pola hubungan dan dimensi spasial serta faktor-faktor penentu dan relasi diantara keduanya sebagai dasar perumusan kebijakan.Dengan analisis kuantitatif, hasil penelitian menunjukkan kondisi tingkat kemandirian keuangan yang cukup dengan kesejahteraan masysrakat yang rendah. Alokasi belanja untuk sosial masih sangat rendah (2%) sehingga sulit diharapkan peningkatan kesejahteraan dari keuangan daerah. Hasil analisis varian menunjukkan tingkat perbedaan keuangan daerah dan kesejahteraan masyarakat antara Kabupaten dan Kota dan juga hubungan erat antara indikator keuangan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Semakin tinggi keuangan daerah akan diikuti dengan tingginya kesejahteraan masyarakat. Faktor-faktor yang dianggap berpengaruh nyata terhadap kesejahteraan masysrakat adalah penerimaan per penduduk (X1), tingkta kemandirian daerah (X2) dan efektivitas belanja pembangunan (X5). Tipologi daerah mengelompok pada Tipe I (keuangan tinggi, kesejahteraan tinggi) dan IV (keuangan rendah dan kesejahteraan rendah) sebanyak 77% dan dijadikan sebagai dasar penentuan prioritas pembangunan. This research aims to identify the local financial potential and the social welfare, and look for patterns of relationships and spatial dimensions as well as determinants and relations between the two as a basis for policy formulation. With quantitative analysis, the results of the study indicate the condition of sufficient level of financial independence with the welfare of the community low. The allocation of expenditure for social affairs is still very low (2%) so it is difficult to expect an increase in welfare from local finances. The results of the analysis of variance indicate the level of local financial disparity and the welfare of the community between districts and cities and also the close relationship between local financial indicators and social welfare. The higher regional finances will be followed by high social welfare. Factors considered to have a significant effect on social welfare are income per population (X1), regional independence (X2) and the effectiveness of development spending (X5). Regional typologies cluster in Type I (high finance, high welfare) and IV (low finance and low welfare) as much as 77% and serve as a basis for determining development prioritie
Pendugaan Distribusi Air Lindi dengan Geolistrik Metode ERT di TPA Piyungan, Bantul, DIY
TPA Piyungan menampung sampah hingga 550 ton/hari, sehingga air lindi (leachate) yang dihasilkan akan lebih besar dan dapat berdampak pada airtanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pencemaran air lindi pada airtanah di sekitar TPA Piyungan, dan dilakukan dengan menggunakan metode Electrical Resistivity Tomography (ERT) konfigurasi Wenner Beta, flownet, dan uji sifat fisik-kimia air. Hasil dari penelitian adalah (1) aliran airtanah secara dominan bergerak ke arah Barat Laut dari TPA Piyungan yang merupakan kawasan padat permukiman; (2) hasil geolistrik metode ERT di Dusun Pleret menunjukkan adanya distribusi air lindi pada kedalaman 5-20 m dengan nilai resistivitas 1-3 Ώmeter, sementara kedalaman airtanahnya juga berada pada kedalaman 5-15 meter; (3) hasil pengukuran DHL, TDS, dan salinitas yang menunjukkan sebagian sumur memiliki nilai di atas baku mutu yang dipersyaratkan untuk air minum. Oleh karena itu, airtanah sekitar TPA Piyungan terutama bagian Barat Laut telah tercemar akibat air lindi
Sebaran Potensi Kekeringan Meteorologis di Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo Bagian Hulu dan Upaya Penanggulangannya
Variabilitas hujan menyebabkan setiap wilayah berpotensi mengalami kekeringan. Waduk Gajah Mungkur telah berkontribusi menanggulangi kekeringan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo, namun pengelolaannya menghadapi ancaman pendangkalan akibat erosi. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi potensi kekeringan di DAS Bengawan Solo bagian hulu, dan mengidentifikasi penyebab pendangkalan Waduk Gajah Mungkur untuk upaya penanggulangannya. Standardized precipitation index (SPI) dari 93 stasiun hujan menunjukkan nilai bervariasi mulai -2,621 (amat sangat kering) hingga 7,689 (amat sangat basah). Kekeringan meteorologis yang terjadi berdurasi antara 1-7 bulan. Wonogiri merupakan kabupaten yang paling sering terpapar kekeringan. Karena ancaman pendangkalan, pembangunan Waduk Gajah Mungkur menjadi kurang efektif dalam menanggulangi kekeringan yang terjadi. Berdasarkan metode Universal Soil Loss Equation (USLE), erosi yang terjadi di hulu berperan terhadap pengurangan volume waduk. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga daya tampung waduk adalah pengerukan secara berkala, revegetasi. dan pengolahan lahan yang tepat. Revegetasi dan pengolahan lahan yang tepat dapat dilakukan terutama di daerah dengan tingkat bahaya erosi berat dan sangat sangat berat. Pencegahan pendangkalan waduk ini diharapkan dapat menjaga kontinuitas ketersediaan sumber daya air. Rainfall variability causes every region to experience drought. Gajah Mungkur Reservoir has contributed to the drought prevention in Bengawan Solo Watershed, but its management faces the threat of siltation for soil erosion. This study were aimed to identify potential droughts in the upstream Bengawan Solo Watershed and to identify the causes of siltation in the Gajah Mungkur Reservoir for its prevention efforts. Standardized precipitation index (SPI) of 93 rainfall stations varies from -2,621 (extremely drought) to 7,689 (extremely wet). The meteorological drought duration was between 1 to 7 month. Wonogiri is the most drought-exposed. For the threat of silting, the Gajah Mungkur Reservoir has become less effective in dealing with the drought. Based on the Universal Soil Loss Equation (USLE) method, soil erosion in the upstream contributes to the reduction in reservoir volume. Some efforts that should be done to maintain reservoir capacity are periodic dredging, revegetation. and proper land management. Revegetation and proper land management can be carried out in areas with severe and very severe erosion hazards. Prevention of silting of reservoirs is expected to maintain water resources availability
Simulasi Arahan Penggunaan Lahan di DAS Limboto dalam Rangka Pengendalian Kekeringan
Perubahan penggunaan lahan bisa dibilang kekuatan sosioekonomi yang paling meluas mendorong perubahan dan degradasi ekosistem (Wu, 2008). (Kodoatie, 2010) menyatakan bahwa, terganggunya siklus hidrologi telah menimbulkan “3 T” masalah klasik air “too much (yang menimbulkan banjir), “too little (yang menimbulkan kekeringan) dan “too dirty (yang menimbulkan pencemaran air). Berdasarkan data BNPB tahun 1979-2009 terdapat 8 kejadian kekeringan di Provinsi Gorontalo. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui tingkat kerentanan DAS Limboto terhadap kekeringan. (2) menyusun arahan penggunaan lahan pada DAS Limboto berdasarkan penentuan tingkat kerentanan kekeringan. (3) mengsimulasikan arahan penggunaan lahan dalam rangka pengendalian kekeringan di DAS Limboto. Penelitian ini dilaksanakan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto dengan luas DAS 86412,6 ha. Metode yang digunakan adalah Metode SWAT (Soil and Water Assessment Tool) dengan menggunakan software ArcSwat yang terintegrasi SIG. Penelitian ini termasuk dalam penellitian non-eksperimen yakni dengan menggunakan pengamatan langsung di lapangan. Input data SWAT antara lain lereng, jenis tutupan lahan, iklim, dan jenis tanah. Analisis yang digunakan dalam menentukan kerentanan DAS terhadap kekeringan adalah dengan menggunakan Soil Moisture Deficit Index (SMDI) melalui parameter Soil Water (SW). Pada penelitian ini penggunaan output model SWAT melalui ArcSwat, telah mampu menggambarkan kondisi pasokan air pada DAS Limboto, yang secara keseluruhan telah termasuk dalam kategori “Rentan”. Dengan membandingkan luas area yang mengalami kekeringan pada sebelum dan setelah dilakukan simulasi/running arahan penggunaan lahan maka dapat disimpulkan bahwa selisih luas area DAS yang mengalami kekeringan dengan klasifikasi “Rentan” diperoleh 37.513,1 ha atau secara persentasi mengalami penurunan sebesar 43,4 % dari luas DAS
Akurasi geometri garis pantai hasil transformasi indeks air pada berbagai penutup lahan di Kabupaten Jepara
Garis pantai merupakan salah satu data dasar dalam pemetaan yang harus dijamin ketersediaannya. Pesisir di Indonesia memiliki variasi penutup lahan sehingga karakteristik indeks air dalam memperoleh data garis pantai perlu diketahui agar pemanfaatan indeks air menjadi efektif. Tujuan penelitian ini adalah menghitung akurasi geometri garis pantai menggunakan transformasi NDWI, MNDWI, dan AWEI pada penutup lahan berbeda. Garis pantai hasil indeks air diperoleh dari citra Landsat 8 OLI, sedangkan garis pantai referensi untuk uji akurasi diperoleh dari interpretasi visual citra PlanetScope. Standar penilaian ketelitian horizontal garis pantai hasil indeks air menggunakan Perka BIG No 15 Tahun 2014. Hasil penelitian adalah pada nilai akurasi geometri garis pantai skala 1:100.000, tidak ada satu pun indeks air yang mampu mengakomodasi perolehan garis pantai pada semua kelas penutup lahan. Variasi nilai akurasi geometri setiap indeks air disebabkan oleh variasi kondisi citra, karakteristik saluran yang digunakan dalam formula indeks air, dan piksel campuran
Ketersediaan dan Kualitas Airtanah pada Akuifer Tidak Tertekan Di Kecamatan Jawilan dan Kopo, Kabupaten Serang
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui sistem akuifer di daerah penelitian, (2) menghitung ketersediaan airtanah pada akuifer tidak tertekan dan (3) menganalisis kualitas airtanahnya. Sistem akuifer diketahui dengan melakukan interpretasi data geolistrik. Potensi akuifer tidak tertekan dihitung secara kualitatif melalui skoring dan tumpang susun antara Peta Kedalaman Muka Airtanah, Peta Fluktuasi Airtanah dan Peta Kualitas Airtanah. Volume akuifer ditentukan berdasarkan perkalian antara luas wilayah masing-masing potensi dan tebal akuifer. Ketersediaan airtanah dihitung berdasarkan asumsi aliran airtanah statik, sedangkan hasil aman pengambilan airtanah ditentukan berdasarkan parameter fluktuasi airtanah, luas akuifer dan spesifik yield. Kualitas air dianalisis berdasarkan pengambilan sampel air pada sumur gali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di daerah penelitian ditemukan adanya akuifer semi tertekan dan akuifer tidak tertekan. Ditinjau dari potensinya, ketersediaan airtanah pada akuifer tidak tertekan sebesar 1.205.967.345 m3, dengan hasil aman pengambilan airtanah sebesar 54.585.307 m3/tahun. Untuk kualitas air, secara umum baik, meskipun beberapa parameter seperti kalsium, magnesium, mangan dan COD kadarnya telah melampaui baku mutu di beberapa sampel.ABSTRACT The objectives of the research are (1) knowing the aquifer system in research area, (2) calculate groundwater availability in unconfined aquifer and (3) analysis the groundwater quality. Aquifer system is known by interpretation of geoelectric data. Groundwater potency is calculated qualitatively by scoring and overlay of Groundwater Depth Map, Groundwater Fluctuation Map and Groundwater Quality Map. Aquifer volume is calculated by multiplied area width of each potency and aquifer thickness. Amount of groundwater is calculated base on static groundwater flow assumption, whereas safe yield of groundwater exploitation is determined base on parametre groundwater fluctuation, aquifer width and specific yield. Groundwater quality are analized by groundwater samples that taken from dug well. Result of research show that there are two aquifer type in research area i.e. semi confined aquifer and unconfined aquifer. The potency of unconfined aquifer is 1.205.967.345 m3, with safe yield 54.585.307 m3/year. For groundwater quality, generally good, although some parameters have concentration exceeded the standard in some samples such as calcium, magnesium, manganese and COD