Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
    419 research outputs found

    Zonasi Kawasan Wisata Pantai di Kabupaten Garut Jawa Barat Menggunakan Pemodelan Viewshed

    Get PDF
    Kabupaten Garut merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang memiliki pesisir dengan garis pantai sepanjang 80 km. Pesisir Kabupaten Garut belum dioptimalkan untuk tujuan wisata padahal Pesisir Kabupaten Garut diprioritaskan menjadi kawasan wisata minat khusus Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkiraan zonasi kawasan wisata pantai dengan memanfaatkan data foto geotagging dan pemodelan viewshed. Data foto geotagging yang digunakan adalah foto yang menangkap pemandangan pesisir di Kabupaten Garut. Hasil penelitian menunjukan terdapat 3 zona inti kawasan pariwisata dengan masing-masing zona terdiri dari 4 kawasan pantai wisata yang biasa dikunjungi wisatawan. Tiap kawasan pantai wisata memiliki rata-rata luas viewshed antara 0,073 km2 sampai dengan 1,481 km2

    Analisis MRC untuk Karakterisasi Akuifer Karst di Mataair Mudal, Kabupaten Kuloprogo

    No full text
    Akuifer karst memiliki triple porosity yang membuat karakterisasinya sulit dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis komponen hidrograf banjir dan membuat Master Recession Curve (MRC) pada akuifer karst yang mengimbuh Mataair Mudal. Data yang digunakan adalah debit aliran dan curah hujan yang tercatat setiap 30 menit pada November 2017 hingga Mei 2018 (6 bulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mataair Mudal memiliki complex discharge regime dengan derajat karstifikasi pada kelas 5,5. Analisis komponen hidrograf banjir menguatkan hasil perhitungan derajat karstifikasi. Waktu menuju puncak banjir (Tlag) yang tergolong cepat (2,5 jam) menunjukkan telah adanya aliran conduit. Perhitungan waktu menuju aliran dasar (Tb) baik secara manual (hidrograf banjir) maupun automatis (MRC) memiliki rerata sekitar 40 jam yang mencerminkan bahwa akuifer karst yang mengimbunya masih baik dalam menyimpan airtanah. Secara keseluruhan, akuifer karst di Mataair Mudal masih didominasi oleh retakan bertipe diffuse, meskipun sudah memiliki retakan bertipe conduit yang cukup berkembangThe objective of this research was to analyze the nature of the flood hydrograph components and create a Master Recession Curve (MRC) to estimate the degree of karstification in Mudal Spring. Discharge and rainfall data were recorded every 30 minutes at time intervals between November 2017 and May 2018. The results show that Mudal Spring has a complex discharge regime with a karstification degree in the class of 5.5. Meanwhile, the time to peak flood (Tlag) which is relatively fast (2.5 hours) shows the existence of conduit flow in the flood event. Calculation of time to baseflow (Tb) has an average of 40 hours which reflects that the karst aquifer was still good in storing groundwater. Overall, karst aquifers in Mudal Spring are still dominated by diffuse type voids, although they already have conduit type voids that are quite developed

    Aplikasi Satellite GEOSAT dan ERS sebagai Metode Alternatif Pengukuran Gravity Ground pada Cekungan Hidrokarbon di Pulau Timur

    No full text
    Graviti merupakan metode awal yang digunakan untuk mempelajari basement pada area potensial hidrokarbon. Pada umumnya metode graviti diukur melalui darat dengan peralatan Scientrex maupun LaCoste & Romberg, teknik ini membutuhkan waktu dan financial yang relative banyak. Padahal secara prinsip pengukuran, metode ini tidak membutuhkan kontak langsung dengan tanah, sehingga dimungkinkan untuk diukur melalui airborne dan satelit. Oleh karena itu untuk mempelajari akurasi data graviti satelit, maka pada penelitian ini data satelit akan dibandingkan dengan pengukuran darat yang telah diakuisisi pada area hidrokarbon di Pulau Timor. Data graviti pengukuran darat telah diakuisisi sejak tahun 1948-1989 oleh beberapa perusahaan minyak, sedangkan graviti satelit yang digunakan berupa Geodetic Satelit (GeoSat) dan European Remote Sensing (ERS) tahun 2011 dengan resolusi 1.85 km/px. Perbedaan waktu pengukuran yang relative jauh dari kedua data tersebut, maka data graviti darat ditransformasikan ke model standar ellipsoid baru dari International Terrestrial Reference Frame ITRF (WGS84).  Data bouger anomali dari kedua data tersebut menunjukkan pola yang relative sama, disisi utara didominasi oleh anomali yang tinggi (90 s/d 185 mGal), sedangkan sisi selatan anomali yang rendah (-75 s/d 90 mGal). Pada beberapa tempat yang diduga terdapat hidrokarbon; ditunjukkan oleh syncline, anticline, rembesan oil dan gas maka data graviti satelit dapat menunjukkan anomali yang kontras dibandingkan dengan graviti pengukuran didarat. Hal ini diakibatkan oleh resolusi data satelit yang bersifat regional dibandingkan dengan graviti darat Gravity is the frontier method used for mapping the basements in hidrokarbon areas. In general, the method is measured from the ground surface using the Scintrex or LaCoste & Romberg instrument, but for a large area the ground gravity is highly cost and financial resources in data observation. In principle, the gravity method does not require direct contact with the ground that will be possible to measure from airborne and satellite. Therefore, we study the accuracy of satellite data that potential used for hidrokarbon investigation. In this research, we compare the satellite data with the ground surveys that have been acquired on the island of Timor. The Ground survey data was acquired from 1948-1989 by several oil companies, while the satellites used is Geodetic Satellites (GeoSat) and European Remote Sensing in 2011 with a resolution of 1.85 km/px. The Ground survey data is transformed into a new ellipsoid standard model from the International Terrestrial Reference Frame ITRF (WGS84), this is due to the difference in measurement time that is relatively far from the two data. Based on the results, it can be shown that the anomaly bouger from both data shows a very similar pattern, where the north side is dominated by high anomalies (90 to 185 mGal) while the southern side of the anomaly is low (-75 to 90 mGal). In some places that are suspected to have hidrokarbons; indicated by syncline, anticline, oil and gas seepage, satellite gravity data can show contrast anomalies compared to ground surveys. This is caused by satellite data resolution which is regional compared to ground survey

    Aplikasi object-based image analysis untuk identifikasi awal permukiman kumuh menggunakan Citra satelit worldview-2

    No full text
    Permukiman kumuh adalah perumahan yang mengalami penurunan kualitas fungsi sebagai tempat hunian.  Tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat, (UU No.1 Tahun 2011). Permukiman kumuh banyak ditemukan di kota-kota besar termasuk di sebagian Kota Yogyakarta, karena tidak layak dari sisi keaman, kesehatan dan tidak sesuai dengan tata ruang kota, maka perlu penanganan kawasan permukiman kumuh ini. Sebagai upaya penanganan kawasan kumuh, dibutuhkan pemantauan kawasan permukiman kumuh secara berkelanjutan, sehingga perlu suatu identifikasi cepat untuk membantu pemetaan kawasan kumuh. Penelitian ini bertujuan untuk  identifikasi awal permukiman kumuh menggunakan pendekatan Object Base Image Analysis (OBIA) serta menguji kemampuan interpretasi OBIA dalam melakukan pengenalan permukiman kumuh berdasarkan ciri fisik permukiman. Data yang digunakan berupa Citra Satelit Worldview-2 tahun perekaman 2016, data kawasan kumuh Kota Yogyakarta dari program KOTAKU Yogyakarta, dan data survey lapangan. Alat yang digunakan berupa GPS, computer yang dilengkapi dengan software Ecognition, ENVI dan ArcGIS.10.2. Langkah pertama yang dilakukan sebelum menjalankan proses OBIA adalah mengenali karakteristik permukiman kumuh baik dari studi literatur, perundang-undangan maupun pengamatan lapangan. Berdasarkan studi sebelumnya dapat disusun aturan/kunci interpretasi untuk mendeteksi permukiman kumuh. Hasil identifikasi awal permukiman kumuh menggunakan OBIA dapat dilakukan berdasarkan analisis pola permukiman, kondisi jalan, tekstur, vegetasi dan jarak dengan sungai. Identifikasi permukiman kumuh di wilayah pinggiran sungai berdasarkan kondisi fisik permukiman menggunakan citra Wordview-2 mengasilkan ketelitian sebesar 82,14%.  Ketelitian ini dapat dikatakan baik sehingga kedepannya diharapkan dapat membantu identifikasi awal dalam rangka pemetaan permukiman kumuh terutama di wilayah pinggiran sungaiABSTRACTSlums are housing that have decreased the quality of function as dwellings. Uninhabitable due to building irregularities, high levels of building density, and the quality of buildings and facilities and infrastructure that do not meet the requirements, (Act No.1 of 2011). Slum settlements are found in large cities including in parts of Yogyakarta City, because they are not feasible in terms of security, health and are not in accordance with the urban spatial structure, it is necessary to deal with these slums. As an effort to deal with slum areas, it is necessary to monitor slum areas in a sustainable manner, so that a quick identification is needed to assist in mapping the slums. This study aims to initial identification of slums using the Object Base Image Analysis (OBIA) approach and to test the ability of OBIA's interpretation of the introduction of slums based on physical characteristics of settlements. The data used are recording Worldview-2 years Satellite Image 2016, data from Yogyakarta City slum area from Yogyakarta KOTAKU program, and field survey data. The tools used in the form of GPS, computers equipped with Ecognition, ENVI and ArcGIS software.10.2. The first step taken before carrying out the OBIA process is to recognize the characteristics of slums both from literature studies, legislation and field observations. Based on previous studies, rules / key interpretations can be prepared to detect slums. The results of the initial identification of slums using OBIA can be done based on the analysis of settlement patterns, road conditions, texture, vegetation and distance to the river. Identification of slums in the riverside area based on the physical conditions of settlements using Wordview-2 imagery resulted in accuracy of 82.14%. This accuracy can be said to be good so that in the future it is expected to be able to help initial identification in the framework of mapping slum settlements, especially in the riverside areas

    Evaluasi kesesuaian lokasi bank BR di wilayah kantor cabang Setiabudi kota Bandung

    Get PDF
    Penentuan lokasi Bank yang dapat dijangkau masyarakat dapat membantu dalam peningkatan perekonomian. Akan tetapi, lokasi Bank di Kota Bandung belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan kesesuaian lokasi Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bank BRI di Wilayah Unit Kerja Cabang Setiabudi Kota Bandung dengan Menggunakan Aplikasi Sistem Informasi Geografis. Metode untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini yaitu observasi, pengukuran lapangan, geocoding, metode pengharkatan dan perengkingan serta yang terakhir adalah wawancara. Parameter yang digunakan dalam analisis penelitian ini adalah lokasi daerah industri, penggunaan lahan, daerah perdagangan, daerah pendidikan, jumlah penduduk, kepadatan penduduk dan kelas jalan. Berdasarkan hasil analisis didapatkan kesimpulan bahwa lokasi KCP Bank BRI di wilayah unit kerja Kantor Cabang Setiabudi baru yaitu KCP BRI Lembang, KCP BRI Cihampelas dan KCP BRI Surya Sumantri tidak seluruhnya mendapat klasifikasi sangat sesuai. Berdasarkan hasil overlay terdapat dua KCP yang mendapat kategori sangat sesuai yaitu KCP Cihampelas yang berada di wilayah kecamatan Coblong dan KCP Surya Sumantri yang berada di wilayah Sukajadi. Selanjutnya terdapat satu daerah lagi yang mendapat klasifikasi sangat sesuai apabila dibangun KCP BRI yaitu di wilayah kecamatan Sukasari, Akan tetapi di wilayah Sukasari terdapat Kantor Cabang BRI Setiabudi yang merupakan induk dari tiga KCPABSTRACT The determination of Bank locations that can be accessed by the community can help in improving the economy. Nowadays, Bank location in Bandung is not yet available in accordance with the needs of the community. The purpose of this study was to describe the suitability of the location of branch offices (KCP) Bank BRI in the Area Unit Setiabudi Branch Bandung using Geographic Information System Application. Method for collecting data in this research was observation, field measurement, geocoding, scoring, range, and interview. The parameters used in this research analysis were the location of the industrials area, lands use, trades area, educations area, populations, population density, and roads class. Based on analysis of Bank BRI KCP location determination using Geographic Information Systems concluded that KCP Bank BRI area in new Setiabudi unit branch office were KCP BRI Lembang, KCP BRI Cihampelas dan KCP BRI Surya Sumantri not all got the very appropriate classifications. Based on the results there were two KCP overlay that got very appropriate category KCP Cihampelas located in the districts of Coblong and KCP Surya Sumantri located in the district of Sukajadi. Furthermore, there was one more area that got very appropriate classification if built BRI KCP was namely in the districts of Sukasari. But in the area Sukasari BRI Branch Office Setiabudi which is the center of three KCP

    Analisis Strategi Pemasaran Industri Tenun di Desa Wisata Gamplong Kabupaten Sleman

    Get PDF
    Strategi pemasaran sangat diperlukan dalam menghadapi kegiatan perdagangan yang semakin maju. Untuk itu IKM dituntut lebih inovatif agar produk yang dipasarkan tidak kalah saing dengan produk daerah lain. Penelitian ini bertujuan 1) Mengetahui faktor lingkungan internal yang berpengaruh terhadap strategi pemasaran industri tenun Gamplong, 2) Mengetahui  faktor lingkungan eksternal yang berpengaruh terhadap strategi pemasaran industri tenun Gamplong, dan 3) Mengetahui sistem pemasaran yang sesuai untuk industri tenun Gamplong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dimana data diperoleh dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan di Desa Wisata Gamplong yang merupakan sentra industri tenun di Kecamatan Moyudan. Hasil lapangan digunakan untuk analisis SWOT yang terdiri dari tabel IFAS, tabel EFAS, matriks IE, dan matriks SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan faktor internal yang berpengaruh berupa: kepemilikan alat secara pribadi, inovasi produk dan bahan baku, harga terjangkau, kurangnya promosi, keterbatasan modal usaha, kendala komunikasi, dan kurangnya link pemasaran. Faktor eksternal yang berpengaruh berupa: pasar luas dengan posisinya sebagai desa wisata, adanya pelatihan industri, kurangnya pengetahuan tentang inovasi, konflik internal, adanya pasar global, dan regenerasi pengrajin tenun. Strategi pemasaran yang sesuai untuk industri tenun Gamplong adalah strategi menjaga dan mempertahankan

    Aplikasi Smart Province “Jogja Istimewa”: Penyediaan Informasi Terintegrasi dan Pemanfaatannya

    Get PDF
    Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menyediakan aplikasi Smart Province ”Jogja Istimewa” untuk mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi terintegrasi. Penelitian ini bertujuan; 1) mengidentifikasi penyediaan informasi terintegrasi dalam Aplikasi ”Jogja Istimewa”, 2) menganalisis optimalitas pemanfaatan Aplikasi”Jogja Istimewa”. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif. Data sekunder diperoleh melalui laporan instansi dan fitur  aplikasi melalui smart phone, sedangkan data primer diperoleh dengan jalan indepth interview, focus group discussion, dan wawancara terstruktur. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aplikasi ”Jogja Istimewa” terdiri atas informasi terintegrasi dengan penyajian informasi berupa visual, deskripsi  yang terintegrasi dengan ruang dan lokasi dalam bentuk peta dan augmented reality. Pemanfaatan Aplikasi ”Jogja Istimewa” melalui pemantauan sistem menunjukkan pemanfaatan yang baik dengan jangkauan pengguna sampai luar wilayah. Disisi lain hasil survei menunjukkan belum optimalnya pemanfaatan aplikasi oleh masyarakat dan wisatawan. Strategi pengenalan dan sosialisasi Aplikasi ”Jogja Istimewa” diperlukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan. The Government of Yogyakarta Special Region provides Smart Province application "Jogja Istimewa" to facilitate the community in obtaining integrated information. The aim of this study; 1) identifying the provision of integrated information in the "Special Jogja" Application, 2) analyzing the optimal use of the "Jogja Istimewa" Application. The research method used is qualitative and quantitative. Secondary data is obtained through agency reports and application features through smart phones, while primary data is obtained through indepth interviews, focus group discussions, and structured interviews. The analysis technique used is descriptive qualitative and quantitative. The results show that the "Jogja Istimewa" application consists of integrated information with the presentation of visual information and description integrated with space and location in the form of maps and augmented reality. Application Utilization "Jogja Istimewa" through monitoring system shows good utilization with the reach of users to outside the region. On the other hand the survey results show not optimal application utilization by society and tourists. The introduction and dissemination strategy of the "Special Jogja" App is required to optimize utilization

    Kombinasi Indeks Citra untuk Analisis Lahan Terbangun dan Vegetasi Perkotaan

    Get PDF
    Lahan terbangun di perkotaan dan area vegetasi menjadi hal yang sangat menarik untuk dikaji. Apalagi dinamika penggunaan lahan di perkotaan yang sangat cepat berubah. Berbagai metode dikembangkan untuk ekstraksi lahan terbangun di perkotaan, mulai dari klasifikasi multispektral, object based approach, hingga penelitian berbasis indeks. NDBI menjadi salah satu indeks pioner untuk ekstraksi lahan terbangun perkotaan dengan menggunakan saluran SWIR. Pengembangan indeks lahan terbangun ini masih perlu dikembangan untuk citra yang tidak mempunyai panjang gelombang SWIR. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan kombinasi saluran terbaik dalam ekstraksi lahan terbangun dan area vegetasi serta menghitung kepadatan bangunan dan kerapatan vegetasi berbasis indeks. Penelitian ini menggunakan Citra Worldview-2 yang diperoleh dari Digital Globe Foundation untuk ekstraksi lahan terbangun dan kerapatan vegetasi. Normalized difference index digunakan sebagai formula dalam pembuatan indeks. Pemanfaatan semua saluran spektral dalam citra Worldview-2 digunakan untuk ekstraksi lahan terbangun dan kepadatan bangunan di perkotaan dengan PCA sebagai metode untuk penggabungan delapan saluran dalam Worldview-2. Saluran NIR 1 dan NIR 2 yang digabungkan dengan Saluran Merah menjadi pilihan untuk ekstraksi vegetasi. Proses trial dan error mewarnai pemilihan kombinasi saluran yang digunakan dan treshold yang digunakan untuk analisis biner dalam membedakan lahan terbangun dan non lahan terbangun serta area vegetasi dan area non vegetasi. Pemanfaatan unique identification (UID) digunakan untuk pembuatan grid berbasis raster dalam perhitungan kepadatan bangunan dan kerapatan vegetasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks yang dibangun dengan PC2 dan NIR 1 serta PC2 dan NIR 2 mempunyai akurasi tinggi yaitu 94,43% untuk bangunan dan kombinasi indeks dari NIR1_Red mempunyai akurasi optimal yaitu 99,51% dan NIR2_Red mempunyai akurasi 92,87 untuk ekstraksi data vegetasi.  Urban phenomenon becomes a very interesting thing to be studied. The urban land use, land conversion, urban green space, are rapidly changing. Various methods were developed for urban built-up data extraction, such as multispectral classification, object-based approach, and index-based research. NDBI became one of pioneer indices for urban-built urban land extraction using SWIR band. The development of this built-up index is still required for images that do not have SWIR wavelengths. The study objectives were to select the best methods for built-up land and vegetation extraction and to calculate building density and index-based vegetation density. Worldview-2 image obtained from Digital Globe Foundation tested for built-up land data extracting and vegetation density analyzing. Normalized difference index formula is applied for combining and setting built-up land and vegetation indexes. Merger of Worldview-2 spectral imagery were using PCA method for extracting built-up land and calculating building density. Combining eight bands into eight new images that have different information from original images was done by PCA method.  NIR 1, NIR2, and Red bands are the perfect choice for vegetation extraction because near infrared characteristics have high reflections on vegetation. Selection of band combinations and selection of threshold values through trial and error processes to perceive the best index combinations and reasonable threshold values. Binary analysis is particularly useful for separating the built-up and non-built-up areas as well as vegetation and non-vegetation. The Unique identification (UID) technique used in estimating built-up and vegetation density from precisely classified images provided better and accurate assessment of built-up and vegetation density.  The results show that the built-up index involving PC2_NIR 1 and PC2_NIR 2 for the urban built land research achieved an optimal accuracy of 94, 43%. The best accuracy for vegetation data extraction was obtained from the combined NIR1_Red index with 99,51% and NIR2_Red values with an overall accuracy of 92,87%.  

    Prioritas Pembangunan di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, Indonesia.

    Get PDF
    Kabupaten Kepulauan Meranti terletak berdekatan dengan Batam yang dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan yang disebut sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Pengembangan Batam tersebut diharapkan memberikan dampak sebar bagi wilayah sekitarnya (hinterland), khususnya Meranti. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak posisi Meranti tersebut terhadap pembangunannya. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan sektor basis apa yang sebaiknya diprioritaskan untuk dikembangkan dan dimana sebaiknya sektor tersebut dikembangkan di Meranti. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan analisis gravitasi dan location quotient. Selain itu, analisis spasial dilakukan untuk menentukan lokasi pengembangan sektor-sektor basis di Meranti. Kemudian, hasil tersebut dibandingkan dengan rencana pembangunan (RPJP dan RPJMD Kabupaten Meranti). Penelitian ini menemukan bahwa pengembangan Batam sebagai pusat pertumbuhan belum mampu memberikan dampak sebar signifikan bagi Meranti sehingga perlu di dikembangkan sektor basis berikut: transportasi dan pergudangan, pertanian, dan industri pengolahan. 

    Hidrostratigrafi Akuifer dan Estimasi Potensi Airtanah Bebas Guna Mendukung Kebutuhan Air Domestik Desa Sembungan

    Get PDF
    Desa Sembungan termasuk desa yang berbasis pada sektor pertanian dan pariwisata. Seiring berkembangnya sektor tersebut, perlu adanya kajian airtanah khususnya untuk kebutuhan domestik. Kuantitas airtanah pada suatu daerah sangat berkaitan dengan sistem dan karakteristik akuifer batuan penyusunnya. Tujuan dari penelitian adalah (1) menganalisis struktur hidrostratigrafi akuifer di Desa Sembungan dan (2) mengetahui potensi airtanah bebas untuk kebutuhan air domestik di Desa Sembungan. Penelitian ini menggunakan metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi Schlumberger dalam investigasi keberadaan airtanah untuk mencapai tujuan pertama dan wawancara jenuh terkait penggunaan kebutuhan air domestik untuk mencapai tujuan kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akuifer Desa Sembungan merupakan akuifer bebas dengan lapisan akuifer terdiri dari lapisan lempung, airtanah, andesit basaltic dan endapan tuffan alterasi. Ketebalan akuifer berkisar 3 hingga 7,8 meter. Desa Sembungan memiliki potensi airtanah bebas sebesar 5,47 milyar liter untuk kebutuhan air domestik dalam  satu tahun  sebesar 87.994.985,3 liter/tahun sehingga Desa Sembungan memiliki potensi airtanah dengan kuantitas yang besar dan mencukupi kebutuhan masyarakat

    189

    full texts

    419

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Geografi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇