Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
Geografi dalam Perspektif Filsafat Ilmu
The propensity of geography specialization is increasingly prevalent (especially in Indonesia). Geography is no longer interpreted as integrative, covering both physical and human aspects. This resulted in a study by geographers concerning only material objects of geography. Not infrequently it would be overlapping with other science clusters. This condition is disadvantageous, geography can be considered not as a science if it does not have the characteristics/differentiation with other science. It may affect the existence of geography in the future. This article aims to provide the description of the geography from the perspective of philosophy of science. By reviewing the literature, this paper attempts to explain aspects of ontology, epistemology, and axiology. Ontology geography is a science that examines the physical and human aspects. Characteristic of geography study using spatial approach, environment, and area complex. Epistemologically, geography uses both quantitative and qualitative methods. Caused, in examining the physical and human aspects of using the two methods is highly recommended so that the results of geographic studies more comprehensive. As axiology, the existence of geography is increasingly important to sustainable development goals
Struktur Komunitas dan Persentase Penutupan Kanopi Mangrove Pulau Salawati Kabupaten Kepulauan Raja Ampat Provinsi Papua Barat
Mangrove adalah salah satu ekosistem penting yang berada dipulau kecil, perubahan kondisi pada ekosistem ini akan mempengaruhi produktivitas dari ekosistem terkait lainnya seperti padang lamun dan terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa struktur komunitas mangrove dan persentase penutupan kanopi yang ada di Pulau Salawati Kabupaten Kepulauan Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Penelitian ini dilakukan secara berkala dari tahun 2016-2017, monitoring dari struktur komunitas dan persentase penutupan untuk mengetahui pertumbuhan dan tingkat degradasi dari ekosistem mangrove. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah analisa struktur komunitas mangrove dan hemisperichal photography analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Salawati memiliki empat jenis mangrove (Rhizophora mucronata, R. apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba) dengan kerapatan rata-rata 1254,3 ind/ha, persentase penutupan mangrove rata-rata sebesar 84,14% tahun 2016 dan 84,73% tahun 2017 atau meningkat 0,59%. Jenis mangrove yang mendominasi adalah jenis Rhizophora apiculata yang memiliki indeks nilai penting tertinggi. Stasiun 1 di Kampung Wamega mengalami penurunan persentase kanopi mangrove sebesar 8,62%, yang diakibatkan oleh penebangan pohon mangrove disekitar daerah penelitian. Kondisi kanopi mangrove Pulau Salawati termasuk kategori baik, sedangkan untuk kerapatan rata-rata mangrove di Pulau Salawati masuk dalam kategori padat. Kajian ini penting dilanjutkan secara berkala untuk memonitoring kondisi mangrove yang ada di Pulau Salawati dan pulau lainnya yang memiliki ekosistem mangrove
Pola Spasial Hak Tanggungan dalam Perkembangan Perkotaan Purwokerto
Hak tanggungan sebagai salah satu investasi swasta memiliki nilai besar, begitu juga di Perkotaan Purwokerto. Namun disatu sisi belum banyak yang melakukan analisis kontribusi terhadap perkembangan suatu wilayah khususnya perkotaan. Dengan mengidentifikasi pola spasial hak tanggungan menggunakan analisis Average Nearest Neighboor dan analisis densitas serta meng-overlay-kan hasil analisis pada struktur perkembangan Perkotaan Purwokerto diperoleh informasi pola perambatan kejadian hak tanggungan di dalam perkembangan Perkotaan Purwokerto. Hasil yang diperoleh bahwa ada kecenderungan pengelompokan kejadian hak tanggungan pada area peralihan/ berkembang (Edge) Perkotaan Purwokerto, dengan nilai rerata tetangga terdekat 0,572 pada tahun 2012 dan 0,625 pada tahun 2017. Untuk nilai tanggungan memiliki kecenderungan mengelompok di pusat kota (CBD). Hasil perhitungan kontribusi kejadian hak tanggungan (investasi) terhadap perubahan guna tanah di Perkotaan Purwokerto diperoleh nilai rerata sebesar 38,70%, dengan kontribusi paling tinggi terletak pada wilayah Purwokerto Utara dan terkecil pada wilayah Purwokerto Timur
Hidrogeomorfologi dan Potensi Mataair Lereng Baratdaya Gunung Merbabu
Karakteristik bentanglahan pada suatu wilayah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi distribusi spasial mataair. Penelitian ini dilaksanakan pada lereng baratdaya Gunung Merbabu dengan tujuan: (1) menganalisis persebaran mataair berdasarkan satuan bentuklahan, (2) menganalisis jenis mataair serta kualitas dan kuantitas air. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara sistematik. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan memperhatikan aspek spasial didukung analisis SIG dengan nearest neighbour analysis dan pencocokan. Hasil penelitian: (1) terdapat pola persebaran mataair di Lereng Baratdaya Gunung Merbabu pada perbatasan lereng gunungapi dengan kaki gunungapi dan kaki gunungapi dengan dataran kaki gunungapi. Kedudukan mataair berada pada ketinggian 1000-1500 mdpal yang menunjukkan sistem sabuk mataair vulkanik. Pola persebaran mataair yang relatif tidak teratur menunjukkan mulai bekerjanya proses denudasi pada morfologi kerucut vulkan Merbabu. (2) berdasarkan pengamatan pada 30 sampel mataair, diketahui jenis mataair umumnya berupa mataair celah, debit bervariasi antara 0,057 liter/detik hingga 2 liter/detik. Kualitas air yang meliputi suhu air, pH, DHL, dan DO relatif seragam
Kontribusi PT. Telkom dalam Pengembangan UMKM Perkotaan di Kota Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi PT. Telkom dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah perkotaan dan implikasinya terhadap ketahanan wirausaha ekonomi pemuda. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui metode wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan dengan reduksi data, kategorisasi, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. Telkom telah berkontribusi terhadap pengembangan UMKM perkotaan yaitu : memberikan informasi secara cepat, memberikan akses pasar melalui pameran/promosi, memberikan jangkauan pelayanan yang luas, dan memberikan akses untuk peluang bisnis. Penelitian ini juga menemukan bahwa UMKM perkotaan berimplikasi untuk peningkatkan ketahanan wirausaha ekonomi pemuda dalam hal : memiliki jiwa kreatif dan pantang menyerah, memiliki daya saing yang tinggi, meningkatnya kemandirian ekonomi pemuda, meningkatnya kesempatan kerja, bertambah majunya usaha yang ditekuni pelaku UMKM perkotaan, dan meningkatnya keterampilan pemasaran online pelaku UMKM perkotaan. This study aimed to determine the contributions of PT. Telkom to the development of urban Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) and their implications in the entrepreneurial resilience of youth economy. This qualitative descriptive research employed in-depth interview, observation, and documentation for data acquisition. The data analysis involved several steps, namely data reduction, categorization, display, and conclusion. The results affirmed several contributions of PT. Telkom to the development of urban MSMEs, namely the provisions of : quick information, access to market through exhibition/promotion, a wide range of services, and access to business opportunities. This research also found that the urban MSMEs had implications in the entrepreneurial resilience of youth economy. For instance, the application has successfully increased creativity and tenacity, high competitiveness, economic independence, job opportunities by improving the business run by the urban MSMEs, and the online marketing skills of the urban MSMEs
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Metode Kontrasepsi (Kasus Di Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang)
Pemilihan metode kontrasepsi di Kota Palembang memiliki tren penggunaan suntik dan pil KB yang dipilih peserta KB. Suntik dan pil KB paling dominan digunakan oleh wanita usia subur dengan persentase 50% dan 30% dari data BKKBN Kota Palembang 2018, naik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Padahal cara yang efektif untuk membatasi kelahiran dengan penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti implan, Intra Uterine Device dan Metode Operasi Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi pengggunaan metode kontrasepsi modern menurut metode kontrasepsi jangka panjang maupun jangka pendek serta untuk mengetahui hal yang paling berpengaruh dalam pemilihan metode kontrasepsi modern pada wanita usia subur yang telah menikah. Metode penelitian ini menggunakan survei, observasi dan melakukan wawancara dengan kuesioner. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis univariabel (deskriptif), bivariabel (chi-square and t-test) dan multivariabel (regresi logistik). Hasil studi menunjukkan bahwa penggunaan suntik KB tetap menjadi tren pemilihan metode kontrasepsi oleh Wanita Usia Subur (WUS) di Kota Palembang. Jenis kelamin anak yang dimiliki pasangan usia subur menjadi faktor dominan yang berpengaruh terhadap pemilihan metode kontrasepsi oleh wanita usia subur. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji statistik multivariat regresi logistik dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Wanita Usia Subur memilih kontrasepsi jangka panjang atau bahkan permanen jika telah mempunyai anak dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin anak yang dimiliki oleh pasangan usia subur merupakan sesuatu nilai yang sangat penting bagi pengambilan keputusan untuk memakai kontrasepsi jangka panjang
Kajian Daya Dukung Lingkungan Fisik Wisata Berkemah Telaga Cebong Desa Sembungan untuk Mendukung Pariwisata Berkelanjutan
Pariwisata di Dieng sangat diminati oleh wisatawan, salah satunya adalah wisata berkemah Telaga Cebong di Sembungan, Dieng. Aktivitas pariwisata berkemah di Telaga Cebong menunjukkan peningkatan yang dapat berpengaruh terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai daya dukung lingkungan fisik Telaga Cebong guna menetapkan jumlah maksimum wisatawan yang secara fisik dapat tercukupi oleh ruang yang disediakan telaga tersebut dan membandingkannya dengan kondisi aktual, serta merekomendasikan strategi optimalisasi objek wisata Telaga Cebong berdasarkan asas pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan rumus Physical Carrying Capacity (PCC) untuk menghitung daya dukung lingkungan fisik dengan menggunakan variabel luas wilayah wisata, luas wilayah agar wisatawan tetap merasa nyaman, dan faktor rotasi. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai daya dukung lingkungan fisik Telaga Cebong adalah 404 tenda per hari. Jumlah wisatawan yang berkemah baik saat hari kerja maupun akhir pekan belum melampaui nilai daya dukung sehingga pengelolaan di kawasan Telaga Cebong perlu dioptimalkan.Tourism in Dieng is in great demand by tourists, one of which is the camping tour of Lake Cebong in Sembungan, Dieng. The activities of camping tourism in Lake Cebong show an increase that can affect the environment. This study aims to calculate the carrying capacity of Lake Cebong physical environment to determine the maximum number of tourists who can be physically satisfied by the space provided by the lake and compare it with the actual condition, and recommend the optimization strategy of Lake Cebong tourism object based on the principle of sustainable tourism. This study uses Physical Carrying Capacity (PCC) formula to calculate the carrying capacity of the physical environment by using wide varieties of tourist areas to keep tourists comfortable, and rotation factor. The calculation results show that the carrying capacity of the physical environment of Lake Cebong is 404 tents per day. The number of tourists who camp on both weekdays and weekends has not exceeded the carrying capacity so that management in Lake Cebong area needs to be optimized
Kualitas Struktur Tanah di Setiap Bentuklahan di DAS Kaliwungu
Pengelolaan tanah untuk pertanian yang berkelanjutan perlu untuk memeperhatikan 2 hal, yaitu bentuklahan dan tanah. Faktor tanah yang perlu diperhatikan adalah struktur tanah. Penelitian yang fokus pada bentuklahan, struktur tanah, dan implikasinya pada pengelolan belum pernah dilakukan di DAS Kaliwungu. Penelitian bertujuan untuk menganalisis struktur tanah pada setiap bentuklahan sebagai dasar untuk pengelolaan tanah yang berkelanjutan. Kualitas struktur tanah ditentukan dari observasi profil tanah pada setiap bentuklahan. Identifikasi bentuklahan dilakukan berdasarkan pengumpulan data dari Kendaraan Nirawak. Viusal Evaluation of Subsoil Strucutre (SubVESS) digunakan untuk menentukan kualitas struktur tanah berdasarkan karakteristik struktur tanah. Hasil menunjukkan bahwa area penelitian memiliki kualitas struktur tanah yang baik dengan mayoritas nilai kualitas strutktur tanah yang berkisan antara Ssq 1-3. Tidak diperlukan adanya perubahan dalam pengelolaan tanah pada area kajian.Soil management for sustainable agriculture needs to focus on 2 things, which are landform and soil. Soil factor that needs to be focused on is soil structure. The study that focused on landform, soil structure and its implication on soil management has never been done in Kaliwungu Watershed. This research aims to analyze soil structure on every landform as the basis to determine sustainable soil management. Soil structure quality was determine by soil profile observation on every landform. Unmanned Aerial Vehicle (UAV) photographic data was used to identify each landform. Visual Evaluation of Subsoil Structure (SubVESS) was used to identify the quality of soil structure based on its characteristic. The result shows that study area has a good soil structure quality with the majority of soil layer has a good soil structure quality (Ssq 1-3). There is no need to change in soil management is needed
Perbandingan Akurasi Metode Inverse Distance Weighting dan Kriging dalam Pemetaan Kedalaman Muka Airtanah
Setiap metode interpolasi spasial yang disediakan oleh sitem informasi geografis (SIG) memiliki akurasi yang berbeda. Oleh karena itu pengetahuan terhadap akurasi metode tersebut sangat diperlukan oleh pengguna SIG. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan akurasi metode interpolasi spasial inverse distance weighting (IDW) dan Kriging untuk menghasilkan informasi kedalaman muka airtanah. Penelitian ini menggunakan 65 data primer kedalaman muka airtanah yang diperoleh dengan metode systematic random sampling. Hasil interpolasi setiap metode kemudian dibandingkan tingkat akurasinya, yaitu dengan melihat nilai root mean square error (RMSE) dan persentase kesesuaian sampel validator terhadap model yang dihasilkan. Pengolahan data menunjukkan bahwa model interpolasi terbaik pada metode Kriging diperoleh melalui varian Ordinary Kriging. Metode tersebut menghasilkan model dengan nilai RMSE sebesar 2,98 dan kesesuaian sampel validator sebesar 50%. Sedangkan model interpolasi terbaik pada metode IDW diperoleh melalui parameter power (p) dengan nilai 3. Metode tersebut mengasilkan model interpolasi dengan nilai RMSE sebesar 3,233 dengan kesesuaian sampel validator sebesar 40%. Berdasarkan perbandingan diperoleh kesimpulan bahwa metode Kriging lebih akurat jika dibandingkan dengan metode IDW karena menghasilkan nilai RMSE yang lebih kecil dan persentase kesesuaian sampel validator terdahap model interpolasi lebih besar. Every spatial interpolation method provided by geographic information system (GIS) has different accuracy. Therefore, it’s very necessary for GIS users to know the accuracy of every method. This study was performed to determine the comparison of accuracy of inverse distance weighting (IDW) and Kriging spatial interpolation methods to produce information on depth to water table. This study used 65 primary data of depth to water table obtained using systematic random sampling method. The interpolation result of the accuracy of every method was compared by assessing root mean square error (RMSE) and percentage of consistency of validator sample with the resulting model. Data processing showed that the best interpolation method of Kriging was Ordinary Kriging variance. The method produced a model with RMSE value of 2.98 and validator sample consistency of 50%. The best interpolation method of IDW method used power (p) parameter with a value of 3. The method produced an interpolation model with RMSE value of 3.233 and validator sample consistency of 40%. Based on the comparison, it was concluded that Kriging method was more accurate than IDW method because it had smaller RMSE value and bigger percentage of validator sample consistency to interpolation model
Kajian Daya Dukung Lahan dan Keberlanjutan Pertanian di Desa Duren Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang
Daya dukung lahan pertanian merupakan salah satu komponen penting dalam menentukan keberlanjutan pertanian. Hal ini terjadi karena tanpa adanya dukungan lahan pertanian maka keberlanjutan pertanian tidak akan dapat dipertahankan. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji daya dukung lahan pertanian dan keberlanjutan pertanian di Desa Duren Kecamatan Bandungan Semarang. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 92 rumahtangga tani secara random sampling. Data terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengukuran daya dukung lahan pertanian dilakukan secara kuantitatif, sedangkan pengukuran keberlanjutan pertanian dilakukan secara kualitatif dengan skala likerts dan dianalisis dengan metode kuartil (Q). Hasil analisis daya dukung lahan pertanian menunjukkan bahwa lahan pertanian tidak lagi mendukung terhadap kehidupan petani, namun dari sisi keberlanjutannya masih menunjukkan tinggi. Hal ini terlihat dari hasil analisis keberlanjutan pertanian, dari 5 (lima) dimensi keberlanjutan, hanya 1 (satu) dimensi yang tergolong rendah yaitu dimensi sosal, sedangkan dimensi ekonomi, dimensi lingkungan, dimensi kelembagaan dan dimensi teknologi masih tergolong tinggi dalam mendukung keberlanjutan pertanian. Carrying capacity of agricultural land is one important component in determining agricultural sustainability. This happens because without the carrying capacity of agricultural land, the sustainability of agriculture will not be maintained. Based on this, this research was conducted with the aim for analyze the carrying capacity of agricultural land and agricultural sustainability in the Duren Village Bandungan District, Semarang. The number of samples taken was 92 farming households by random sampling. Data consists of primary data and secondary data. Measurement of the carrying capacity of agricultural land is done quantitatively, while the measurement of agricultural sustainability is done qualitatively with a Likerts scale and analyzed by the quartile (Q) method. The results of the analysis of the carrying capacity of agricultural land indicate that agricultural land no longer supports the lives of farmers, but in terms of sustainability it still shows high. This can be seen from the results of the analysis of agricultural sustainability, from 5 (five) dimensions of sustainability, only 1 (one) dimension which is classified as low namely social dimension, while the economic dimension, environmental dimension, institutional dimension and technological dimension are still relatively high in supporting agricultural sustainability