Buletin Nutrisi dan Makanan Ternak
Not a member yet
67 research outputs found
Sort by
ANALISIS KANDUNGAN PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR PADA LIMBAH SAYURAN PASAR (KOL, SAWI, KULIT JAGUNG) DENGAN PENAMBAHAN EM4 SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF: Analysis of Crude Protein and Crude fiber Content in Market Vegetable Waste (Cabbage, Mustard, Corn Skin) with the Addition of EM4 as Alternative Feed)
Vegetable waste can be used as ruminant animal feed because it is abundantly available and has economic value, the price is cheap and does not compete with human needs, besides that it can reduce environmental pollution. The purpose of this study was to determine the content of crude protein and crude fiber in market vegetable waste as an alternative feed with the addition of EM4. This study used a completely randomized design (CRD) method which consisted of 4 treatments and 3 replications. The results of this study were the addition of EM4 and molasses gave a very significant effect (P<0.01) on the crude protein content of vegetable waste (cabbage, mustard greens, corn husks). The highest protein content was in treatment P0 and P1 with an average value of 19.28 and the lowest crude protein content was found in treatment P2, namely 17.19 and P3 with a value of 17.73, while the effect was not significant (P<0, 05) on the crude fiber content of vegetable waste (cabbage, mustard greens, corn husks) with the addition of EM4 and molasses with the lowest average value at P0 of 18.72 and the highest average value of P2 being 21.26. Based on the results of the study, it can be concluded that the addition of 10% EM4 and molasses in market vegetable waste (cabbage, mustard greens, corn husks) can reduce crude protein content and increase crude fiber
Kandungan NDF Dan ADF Silase Pakan Komplit Yang Berbahan Dasar Eceng Gondok (Eichornia Crassipes) Dengan Lama Fermentasi Berbeda
Eceng gondok adalah tanaman yang mengandung selulosa tinggi dengan populasinya yang begitu melimpah. Kandungan eceng gondok yaitu 60% selulosa, 8% hemiselulosa dan 17% lignin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan NDF dan ADF silase pakan komplit berbahan dasar eceng gondok dengan lama fermentasi berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuandan 4 ulangan. Perlakuan P0 (lama fermentasi 0 hari), P1 (lama fermentasi 10 hari), P2 (lama fermentasi 20 hari) dan P3 (lama fermentasi 30 hari). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa lama fermentasi yang berbeda tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kandungan NDF dan ADF silase pakan komplit. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa Lama fermentasi yang terbaik pada pembuatan silase pakan komplit berbahan dasar eceng gondok adalah 20 hari, dengan memiliki kandungan NDF dan ADF yang terndah dibandingkan dengan perlakuan lainnya
PENGUJIAN KARAKTERISTIK DAN KANDUNGAN LEMAK KASAR SILASE PAKAN KOMPLIT YANG BERBAHAN DASAR ECENG GONDOK (Eichornia crassipes) DENGAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDA
Eceng Gondok (Eichornia crassipes) merupakan salah satu jenis gulma air yang memiliki potensi sebagai bahan pakan alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik dan kandungan lemak kasar silase pakan komplit berbahan dasar eceng gondok dengan lama fermentasi yang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan.Perlakuan P1 (lama fermentasi 0 hari atau kontrol), P2 (lama fermentasi 10 hari), P3 (lama fermentasi 20 hari) dan P4 (lama fermentasi 30 hari).Analisis statistik menunjukkan bahwa lama fermentasi yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan pH tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kandungan lemak kasar silase pakan komplit. Rataan kandungan pH yaitu P0 = 7; P1 = 5,32; P2 = 4,18; P3 = 4,21. Rataan kandungan lemak kasar adalah P0 = 0,93%; P1 = 1,25%; P2 = 1,22 %; dan P3 = 0,92 %. Dari penelitian disimpulkan bahwa silase pakan komplit yang berbahan dasar eceng gondok (Eichornia crassipes) termasuk dalam kategori baik berdasarkan pengujian karakteristik.Lama fermentasi 20 hari adalah yang terbaik dalam pembuatan silase pakan komplit berbahan eceng gondok
KANDUNGAN PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR TONGKOL JAGUNG FERMENTASI MENGGUNAKAN CAIRAN RUMEN SEBAGAI INOKULAN
Tongkol jagung mengandung serat kasar yang tinggi dan nilai protein yang rendah. Teknologi fermentasi dengan menggunakan cairan rumen sebagai inokulan diharapkan mampu meningkatkan kualitas tongkol jagung.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian cairan rumen sapi sebagai inokulan terhadap nilai protein kasar dan serat kasar tongkol jagung.Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dengan 4ulangan. Perlakuan P0 : fermentasi tongkol jagung tanpa penambahan cairan rumen (Kontrol), P1 : Tongkol Jagung + Cairan Rumen 15%, P3 : Tongkol Jagung + Cairan Rumen 30%. Hasil analisis ragam menujukkan bahwa fermentasi tongkol jagung dengan menggunakan cairan rumen sapi sebagai inokulan tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0.05) terhadap kandungan protein kasar tongkol jagung tetapi memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0.01) terhadap kandunga serat kasar tongkol jagung. Hasil penelitian memperlihatkan rataan kandungan protein kasar perlakuan P0 : 2.78%, P1 : 3.11% dan P2 :3.08%, rataan kandungan serat kasar perlakuan P0 : 36.55%, P1 : 37.82% dan P2 : 40.51%. Kesimpulan, penambahan inokulan cairan rumen 15% (P1) lebih baik daripada perlakuan lainnya, memiliki kandungan protein kasar tertinggi dan mampu meningktakan kandungan protein kasar 0.33% dari perlakuan kontrol (P0). Semakin tinggi penambahan inokulan cairan rumen semakin meningkatkan kandungan serat kasar tongkol jagung fermentasi
Pengaruh Pemberian Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor Selama Di Pembibitan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk NPK terhadap pertumbuhan bagian-bagian tanaman dan produksi bahan segar tanaman kelor selama di pembibitan. Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap yang terdiri atas empat perlakuan pemupukan NPK dan empat kali ulangan. Dosis pemupukan NPK adalah : P0 = 0 gNPK/polybag (kontrol), P1 = 2 gNPK/polybag, P2 = 3 gNPK/polybag, P3 = 4 gNPK/polybag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK memberi pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap tinggi tanaman, jumlah tangkai daun pertanaman, berat batang, berat daun, berat bonggol dan akar serta berat biomassa tanaman. Dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk NPK dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman kelor. Pemberian pupuk NPK dengan dosis 3 gNPK/polybag meningkatkan pertumbuhan bagian-bagian morfologi tanaman dan produksi biomassa tanaman kelor selama di pembibitan
PEMBERIAN PUPUK BOKASHI MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN SORGUM MANIS (Sorghum bicolor [L.] Moench)
Sorgum manis merupakan tanaman serelia dengan daya toleransi yang luas terhadap iklim dan jenis tanah dan potensial sebagai penghasil bahan bakar ethanol. Pemanfaatan sorgum dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan, maupun industri. Peningkatan produksi sorgum dapat dilakukan dengan penggunaan varietas unggul dan penggunaan pupuk yang tepat, selain itu sorgum juga dapat tumbuh subur di media tumbuh yang memiliki kandungan hara tinggi. Pupuk anorganik dapat memenuhi unsur hara tetapi selain harga yang mahal jenis pupuk ini mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan. Mengatasi permasalahan tersebut untuk memenuhi kebutuhan unsur hara salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan pupuk organik bokashi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pupuk bokashi terhadap laju pertumbuhan tanaman sorgum manis (Sorghum bicolor [L.] Moench). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 Perlakuan dan 4 ulangan yaitu T0: Tanpa Pupuk Bokashi, T1: Sorgum + Pupuk Bokashi 300 g/polybag, T2: Sorgum + Pupuk Bokashi 500 g/polybagdan T3: Sorgum + Pupuk Bokashi 700 g/polybag. Tinggi tanaman tertinggi T2 (1,79 m) dan yang terendah T0 (0,58 m). Jumlah helai daun tertinggi T2 (6,67 helai) dan yang terendah T0 (2,33 helai). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan pemberian pupuk bokashi dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman sorgum manis (Sorghum bicolor [L.] Moench)
Kajian Kandungan Nutrisi Fermentasi Isi Rumen Kering Dengan Effective Microorganisms-4
Ketersediaan pakan dari segi kualitas dan kuantitas maupun kontinuitas sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu usaha peternakan karena pakan merupakn input produksi yang terbesar. Isi Rumen Sapi merupakan limbah dari Rumah Potong Hewan yang masih mengandung saliva, mikroba anaerob, selullosa, hemisellulosa, protein , lemak dan karbohidrat, mineral dan vitamin yang belum dicerna dengan sempurna dalam rumen sapi. Penelitian tentang isi rumen kering yang difermentasi dengan effective microorganism-4 (EM-4) telah dilakukan untuk mengetahui sejauhmana pengaruh pemberian EM-4 terhadap daya cerna in vitro bahan kering dan bahan organic serta kandungan protein kasar dan serat kasar. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 kali ulangan. dengan persentase pemberian EM-4 yaitu 0 cc/ liter air, 1 cc/ liter air, 3 cc/ liter air, 4 cc/ liter air dan 5 cc/ liter air. Hasil analisa menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (p<0.01) terhadap dayacerna in vitro bahan kering ,bahan organic serta kandungan protein kasar dan serat kasar isi rumen sapi. Rataan kandungan protein kasar isi rumen sapi yang telah difermentasu dengan EM-4 adalah 0 cc = 7,05%; 1 cc = 8,28%; 2 cc = 8,02%, 3 cc = 8,29%; 4 cc = 8,15%; dan 5 cc = 8,28%, sedangkan untuk serat kasar dari 0 cc, 1 cc, 2 cc, 3 cc, 4 cc da 5 cc masing-masing 35,16%; 27,48%; 27,15%; 28,02%; 29,29%; dan 30,68%. Hasil penelitian disimpulkan bahwa fermentasi isi rumen sapi dengan EM-4 dapat meningkatkan dayacerna invitro bahan kering , bahan organic pada konsentarsi 2 cc sedangkan peningkatan kandungan protein kasar dan penurunan kandungan serat kasar isi rumen, pada pemberian EM-4 sebanyak 3 cc/ liter air
Uji Daya Hambat Antibakteri Black Garlic Sebagai Alternatif Feed Additive Pada Pakan Unggas
Black garlic memiliki kandungan zat bioaktif yang mampu berperan sebagai antibakteri sehingga dapat dimanfaatkan sebagai feed additive. Penelitian bertujuan untuk mengetahui daya hambat antibakteri Black garlic terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini menggunakan metode penelitian RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, dengan perlakuan yaitu: P0 = Pakan Kontrol (tanpa black garlic), P1 = Pakan + Pasta Black garlic 1%, P2 = Pakan + Pasta Black garlic 2,5% dan P3 = Pakan + Pasta Black garlic 4%. Hasil penelitian daya hambat antibakteri Black Garlic pada pakan terhadap bakteri Escherichia coli. menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P<0,05) antara P1 dan P2. Sedangkan perlakuan P2 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan P3, hal ini disebabkan karena adanya zat bakteriostatik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan agensi mikrobiostatik yang merupakan zat yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan mikroba. Daya hambat antibakteri Black Garlic pada pakan terhadap bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang nyata (P<0,05) antara P1 dan P2. Sedangkan perlakuan P2 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan P3, hal ini disebabkan dikarenakan adanya zat bioaktif yang terkandung dalam black garlic yang berperan sebagai antibakteri. Kesimpulan dari penelitian ini penggunaan black garlic pada pakan sebagai feed additive mampu menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus secara maksimal pada perlakuan P3 dengan konsentrasi 4%
KANDUNGAN KALIUM DAN RASIO C/N PUPUK ORGANIK CAIR (POC) BERBAHAN DAUN-DAUNAN DAN URINE KAMBING DENGAN PENAMBAHAN BIOAKTIVATOR RAGI TAPE (Saccharomyces cerevisiae)
Permasalahan lingkungan di berbagai tempat, termasuk permasalahan sampah di lingkup kampus Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar. Pencemaran akibat sampah di lingkungan kampus Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar apabila dibiarkan akan menimbulkan penyakit, bau busuk serta mengganggu estetika lingkungan. Salah satunya dengan memanfaatkan sampah daun-daunan sebagai pupuk organik cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan kalium dan C/N rasio pupuk organik cair berbahan daun-daun dan urine kambing dengan penambahan bioaktivator ragi tape (Saccharomyces cerevisiae). Penelitian terdiri dari empat perlakuan T0 (95% daun-daunan + 5% ragi tape ), T1 (70% daun-daunan + 25% urine kambing + 5% ragi tape), T2 (50% daun-daunan + 45% urine kambing + 5% ragi tape), T3 (25% daun-daunan + 70% urine kambing + 5% ragi tape). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri 4 perlakuan dan 3 ulangan. Analisis statistik memperlihatkan bahwa pembuatan pupuk organik cair berbahan daun-daunan dan urine kambing dengan penambahan bioaktivator ragi tape (Saccharomyces cerevisiae) tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kandungan kalium dan rasio C/N. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kalium (T0= 0.25±0.06); (T1= 0.19±0.09); (T2= 0.33±0.08); (T3= 0.31±0.05) sedangkan untuk rasio C/N diperoleh (T0= 7.7±5.81); (T1= 8.1±2.85); (T2= 7.8±0.25); (T3= 7.3±4.52). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa level persentase bahan baku pembuatan pupuk organik cair tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kandungan kalium dan rasio C/N pupuk organik cair
DAYA CERNA PROTEIN KASAR, LEMAK KASAR DAN SERAT KASAR RANSUM KOMPLIT MENGANDUNG BAHAN UTAMA TUMPI JAGUNG FERMENTASI PADA TERNAK KAMBING KACANG
Daya cernaan bahan pakan adalah bagian zat yang dapat dicerna oleh tubuh dan diasumsikan diserap oleh tubuh ternak sehingga tidak diekskresikan dalam feses. Jumlah maupun komposisi kimia serat suatu bahan pakan sangat berpengaruh terhadap kecernaannya. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi daya cerna protein, daya cerna lemak, dan daya cerna serat pakan komplit mengandung tumpi jagung fermentasi pada ternak kambing kacang. Penelitian ini menggunakan Sepuluh ekor ternak kambing kacang secara random dibagi kedalam dua kelompok perlakuan (5 ekor/kelompok). Kelompok (F) diberi pakan komplit mengandung tumpi fermentasi dan pada kelompok (TF) diberi pakan komplit mengandung tumpi tanpa fermentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap daya cerna protein, daya cerna lemak dan daya cerna serat kasar pakan. Kesimpulan Pemberian ransum komplit tumpi jagung fermentasi dan ransum komplit tumpi jagung tanpa fermentasi kecernaan protein dari kedua perlakuan cukup tinggi yaitu berada di angka diatas 70% begitupula dengan kecernaan lemak juga cukup tinggi yaitu rataan diatas 80% dan kecernaan serat rataan diatas 50%