INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling
Not a member yet
358 research outputs found
Sort by
Literasi Depresi: Gambaran dan Kebutuhan Self-help Book Untuk Meningkatkan Pemahaman Depresi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan kebutuhan mengenai literasi depresi pada remaja untuk mengembangkan self-help book sebagai salah satu strategi dalam meningkatkan pemahaman depresi pada peserta didik. Metode penelitian menggunakan kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan non probability incidental sampling dan sampel yang digunakan 76 remaja. Instrumen yang digunakan adalah Depression Literacy Questionnaire (D-Lit) dan angket kebutuhan mengenai self-help book literasi depresi. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor literasi depresi remaja adalah 13,85. Sebanyak 82,35% (30 orang) remaja perempuan lebih banyak dalam kategori sedang, 30,95% (13 orang) remaja laki-laki dalam kategori tinggi dan 2,38% (1 orang) remaja laki-laki terasuk kategori rendah. Dari dua aspek literasi depresi yang tertinggi adalah aspek gejala-gejala depresi, yaitu dengan rerata skor 7,06. Kategori tertinggi dari aspek gejala-gejala depresi lebih banyak remaja laki-laki 38,09% (16 orang), kategori sedang lebih banyak remaja perempuan 58,82% (20 orang), dan kategori rendah lebih banyak remaja laki-laki (10 orang). Aspek penanganan mengenai depresi dengan kategori tinggi lebih banyak remaja laki-laki 50% (21 orang) sedangkan kategori sedang lebih banyak remaja perempuan 44,11% (15 orang) dan kategori rendah lebih banyak remaja laki-laki 26,19% (11 orang). Sebanyak 92,10% (70 orang) remaja menginginkan media yang menarik dan informatif sebagai pendamping dalam layanan bimbingan dan konseling dan 90,78% (69 orang) remaja tertarik bila media berbentuk buku seperti self-help book. Oleh karena itu, remaja membutuhkan bantuan melalui self-help book untuk menguatkan pemahaman mereka mengenai gejala-gejala depresi dan penganan mengenai depresi
Aplikasi Layanan Bimbingan Dan Konseling Berbasis Android Untuk Pengembangan Karir Siswa
Bimbingan karir merupakan bagian dari Bimbingan dan Konseling (BK) untuk membantu siswa memenuhi tahap perkembangannya. Keterbatasan waktu dan ketidakseimbangan rasio guru BK dan siswa menjadi hambatan sehingga tidak terlaksananya bimbingan karir secara efektif di sekolah. Aplikasi BK menjadi solusi untuk permasalahan tersebut. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif. Data diperoleh dari penelitian kepustakaan. Aplikasi yang ditinjau adalah Halo BK yang dikembangkan oleh SMA Negeri 9 Pekanbaru. Aplikasi ini memiliki fitur yang mampu meningkatkan kematangan karir siswa yaitu ruang konsultasi, rasionalisasi nilai rapor, dan perencanaan karir. Kelebihan dari aplikasi e-career ini antara lain efisien dan efektif, mampu memunculkan potensi siswa, tidak terbatas ruang dan waktu, serta menyediakan layanan secara online dan offine. Kekurangan aplikasi ini antara lain tidak adanya informasai mengenai dunia kerja dan Perguruan Tinggi Swasta, tidak melibatkan orang tua dalam perencanaan karir, dan kemungkinan keterlambatan balasan konsultasi. Berdasarkan hasil yang didapatkan, harapannya peneliti selanjutnya akan melanjutkan untuk terus berinovasi dan mengembangkan aplikasi e-career yang dapat mengatasi kelemahan e-career sebelumnya serta dapat didistribusikan secara merata ke sekolah-sekolah di Indonesia
Pengembangan Media Instagram Mengenai Jalur Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Bagi Peserta Didik Sekolah Menengah Atas
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan konten media Instagram mengenai jalur seleksi masuk perguruan tinggi. Penelitian ini menggunakan model design based research (DBR) dengan tiga tahapan inti yaitu, analisis dan eksplorasi, desain dan kontruksi, serta evaluasi dan refleksi. Populasi penelitian ini adalah peserta didik kelas 10 SMAN 81 Jakarta dengan jumlah sampel sebanyak 140 peserta didik yang didapat menggunakan metode non-probalility sampling. Pengumpulan data didapat dengan menggunakan penyebaran angket kepada peserta didik kelas 10 SMAN 81 Jakarta. Pengujian media Instagram dilakukan melalui dua uji ahli, yaitu uji ahli media dan uji ahli materi. Selain itu, pengujian media juga dilakukan melalui uji pengguna yaitu guru BK SMAN 81 Jakarta sebagai pengguna media bimbingan dan konseling. Hasil uji validasi ahli materi dengan persentase sebesar 64% dengan kategori layak, uji validasi ahli media dengan persentase sebesar 79% dengan kategori layak. Hasil uji coba pengguna kepada salah satu guru BK mendapatkan persentase sebesar 82% dengan kategori sangat layak. Dapat disimpulkan media Instagram mengenai jalur seleksi masuk perguruan tinggi dikategorikan layak digunakan
Perbedaan Resiliensi Mahasiswa Rantau Ditinjau Berdasarkan Gegar Budaya
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan resiliensi mahasiswa rantau ditinjau berdasarkan gegar budaya di Universitas Negeri Jakarta. Sampel pada penelitian ini berjumlah 1000 mahasiswa, sebanyak 105 mahasiswa memiliki gegar budaya sangat tinggi, 225 mahasiswa memiliki gegar budaya tinggi, 357 mahasiswa memiliki gegar budaya sedang, 237 mahasiswa memiliki gegar budaya rendah, dan 76 mahasiswa memiliki gegar budaya sangat rendah. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive random sampling. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan studi komparasi. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan Resilience Question Test dan Inventory Culture Shock. Analisis uji validitas instrumen menggunakan Product Moment Pearson dengan bantuan aplikasi IBM SPSS versi 26.0 hingga diperoleh 37 butir item valid pada Resilience Question Test dan diperoleh 23 butir item valid Inventory Culture Shock. Uji reliabilitas dengan rumus Alpha Cronbach hingga diperoleh koefisien sebesar 0.880 pada Resilience Question Test dan 0.929 pada Inventory Culture Shock yang berarti bahwa instrumen memiliki reliabilitas tinggi dan layak digunakan sebagai instrumen penelitian. Teknik analisis data dilakukan dengan teknik Uji Kruskal Wallis Test dan diperoleh nilai Asymp. Sig sebesar 0.000 (<0.05). Hasil menunjukkan bahwa terdapat 7,6% mahasiswa rantau mengalami gegar budaya sangat rendah, 23,7% mahasiswa rantau mengalami gegar budaya rendah, sebanyak 35,7% mahasiswa rantau mengalami gegar budaya sedang, sebanyak 22,5% mahasiswa rantau mengalami gegar budaya tinggi, selanjutnya 10,5% mahasiswa rantau mengalami gegar budaya sangat tinggi. Sebagian besar resiliensi mahasiswa rantau berdasarkan gegar budaya berada pada kategori sedang. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan resiliensi mahasiswa rantau ditinjau berdasarkan gegar budaya. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa faktor yang mempengaruhi gegar budaya tidak hanya mengenai nostalgia kampung, disorientasi dan hilangnya kebiasaan, gaya hidup, bahasa, dan simbol. Namun, resiliensi juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya gegar budaya
Hubungan Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Resiliensi Akademik di Masa Pandemi pada Mahasiswa Akhir Prodi X Universitas di Jakarta
Penelitian skripsi ini, dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan resiliensi akademik di masa pandemic pada mahasiswa akhir Bimbingan dan Konseling di Universitas Negeri Jakarta. Sampel pada penelitian ini berjumlah 100 mahasiswa. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode survey. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dukungan sosial teman sebaya dan the academic resilience scale-Indonesia. Berdasarkan perhitungan data diketahui adanya hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan resiliensi akademik sebesar 25,7%. Persamaan regresi yang diperoleh yaitu Y = 59.434 + 0,628X. Nilai konstanta menyatakan jika dukungan sosial teman sebaya bernilai 0, maka resiliensi akademik memiliki nilai konstan sebesar 59.434. Kemudian nilai (0,628) menggambarkan bahwa arah hubungan antar variabel adalah searah. Artinya saat kenaikan satu satuan variabel dukungan sosial teman sebaya akan menyebabkan kenaikan resiliensi akademik sebesar 0,62
Kemampuan Membuat Pilihan Karir Mahasiswa
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kemampuan membuat pilihan karir mahasiswa. Pendekatan penelitian yang gunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui instrumen nontes berupa angket model ratting scale. Analisis data dikelompokan menjadi tiga kategori, Baik, cukup baik, dan kurang baik. Kemampuan membuat pilihan karir mahasiswa berada pada kategori baik dengan skor tinggi, kemampuan membuat pilihan karir mahasiswa pada kategori cukup baik dengan skor sedang dan kemampuan membuat pilihan karir mahasiswa pada kategori kurang baik dengan skor rendah. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan membuat pilihan karir mahasiswa berada pada kategori baik sebesar 28,84 %, kategori cukup baik 41,94%, dan kategori kurang baik sebesar 28,23%. Aspek pemahaman diri memiliki tingkat pencapaian yang rendah yakni sekitar 56,74%, sementara aspek eksplorasi karir mahasiswa memiliki tingkat pencapaian yang tinggi yakni sekitar 93,41%. Rekomendasi berdasarkan temuan penelitian diantaranya ditujukan kepada Prodi PGSD FKIP UMC dan penelitian selanjutnya. Prodi PGSD FKIP UMC direkomendasikan untuk membuat program orientasi karir bagi mahasiswa baru untuk dapat meningkatkan pemahaman diri mereka sebagai calon pendidik, sehingga baik dalam proses perkuliahan maupun setelah lulus nanti mahasiswa tidak kehilangan arah orientasi karirnya karena kurangnya pemahaman diri mereka. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan program orientasi karir bagi calon lulusan mahasiswa melalui kolaborasi antar fakultas di lingkungan Universitas Muhammadiyah Cirebon
Gambaran Penerimaan Diri Siswa yang Mengalami Perceraian Orangtua
Penelitian ini Bertujuan untuk mengetahui gambaran penerimaan diri remaja yang mengalami perceraian orangtua yang dialami oleh siswa Sekolah Menengah Atas di SMAN 14 Jakarta. Tema penelitian ini memfokuskan pada gambaran penerimaan diri, dampak perceraian orangtua terhadap remaja dan faktor yang berpengaruh terhadap penerimaan diri. Pengambilan sampel menggunakan teknik critical case study berjumlah 2 orang. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan metode riset naratif (narrative research). Pengumpulan data melakukan wawancara mendalam (in depth interview) secara online, observasi melalui video call dan call whatsapp serta studi dokumentasi. Data tersebut didukung dengan data tambahan dari wawancara Guru BK, Wali kelas, dan Teman Sebaya. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa siswa yang mengalami perceraian orangtua memiliki penerimaan diri yang cukup baik mereka mampu belajar dari perceraian yang orangtua yang mereka alami. Mereka memiliki permasalahan masing-masing disekolah yaitu pencapaian akademik yang rendah pada responden perempuan dan pergi dari mata pelajaran pada responden laki-laki. Namun di masa sekarang mereka sudah belajar dari perceraian orangtua mereka dan menjadi kekuatan untuk bangkit dari perceraian orangtua mereka.
Kata Kunci: Penerimaan diri, Siswa, Perceraian Orangtua
Abstract
This study aims to describe the self-acceptance of adolescents who experience parental divorce experienced by high school students at SMAN 14 Jakarta. The theme of this research focuses on the picture of self-acceptance, the impact of parental divorce on adolescents, and the factors that influence self-acceptance. Sampling using a purposive sampling technique amounted to 2 people. This research is a qualitative descriptive with a narrative research. Data collection conducted in-depth interviews (in-depth interviews) online, observation via video call and WhatsApp call, and documentation study. This data is supported by additional data from interviews with counseling teachers, homeroom teachers, and peers. The results of this study concluded that students who experienced parental divorce had good enough self-acceptance that they were able to learn from their parents' divorce. They have their respective problems in school, namely low academic achievement for female respondents and moving away from subjects for male respondents. But in the present they have learned from their divorce parents and become the strength to rise from their parents' divorce.
Keywords : Self-acceptance, Student, Parental Divorc
Difusi Kognitif Remaja: Kebutuhan Video Tutorial Latihan Difusi Kognitif
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tingkat fusi kognitif remaja dan alat yang sesuai untuk memfasilitasi latihan difusi kognitif. Convenience sampling digunakan untuk mengumpulkan data dari 199 peserta didik. Instrumen yang digunakan adalah Cognitive Fusion Questionnaire (CFQ-7). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60% remaja mengalami fusi kognitif tinggi (m = 29). Hasil tingkat fusi berdasarkan jenis kelamin, perempuan memiliki tingkat fusi yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki (30 vs 28). Persentase perempuan yang mengalami fusi tingkat tinggi melebihi jumlah laki-laki (53% vs 42%). Hasil tingkat fusi berdasarkan sosial ekonomi, tingkat sosial ekonomi rendah memiliki tingkat fusi yang lebih tinggi dibandingkan sosial ekonomi tinggi (34 vs 29). Persentase sosial ekonomi rendah yang mengalami fusi tingkat tinggi melebihi jumlah sosial ekonomi tinggi (75% vs 48%). Sebagian besar peserta didik memiliki eksposur terbatas pada latihan difusi kognitif (-70%) dan semuanya ingin belajar latihan difusi kognitif melalui video. Direkomendasikan bahwa video latihan difusi kognitif dibutuhkan untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan kemampuan difusi kognitifnya.
Kata Kunci: Difusi Kognitif, Fusi Kognitif
Abstract
This study aims to explore the level of adolescents’ cognitive fusion and suitable tools to facilitate cognitive defusion exercise. The convenience sampling used to gather the data from 199 students. The instrument used are the Cognitive Fusion Questionnaire (CFQ-7). The results showed that 60% of adolescents experienced high cognitive fusion (m = 29). The result of fusion level based on gender, female has higher level fusion than male (30 vs 28). The percentage of female who experience high level fusion was outnumber male (53% vs 42%). The result of fusion level based on sosial economy, low social economy higher level fusion than high social economy (34 vs 29). The percentage of low social economy who experience high level fusion was outnumber high social economy (75% vs 48%). Most of student has limited exposure to cognitive diffusion exercises (-70%) and all of them eager to learn cognitive defusion exercises through video. It is recommended that cognitive defusion exercise video is needed to help student increase their cognitive defusion skill.
Keyword: Cognitive Defusion, Cognitive Fusio
Pengintegrasian Teori Kognitif Sosial Karir untuk Memfasilitasi Aspek Pemahaman Diri Mahasiswa PGSD Dalam Membuat Pilihan Karir
Mahasiswa keguruan khususnya prodi PGSD ketika lulus dituntut secara penuh mengaplikasikan teori dan praksis pendidikan yang mereka pelajari di bangku perkuliahan. Dengan kata lain mereka dituntut untuk memahami dan menghayati profesinya sebagai seorang pendidik. Pemahaman dan penghayatan profesi tersebut diawali ketika mereka membuat pilihan karir yang baik (matang) sebagai seorang mahasiswa prodi PGSD. Hasil analisis terhadap survei kemampuan membuat pilihan karir mahasiswa Prodi PGSD Semester 2 FKIP UMC tahun akademik 2019/ 2020 menunjukkan kemampuan membuat pilihan karir mahasiswa berada pada kategori baik sebesar 28,84 %, kategori cukup baik 41,94%, dan kategori kurang baik sebesar 28,23%. Aspek pemahaman diri memiliki tingkat pencapaian yang rendah yakni sekitar 56,74%, sementara aspek eksplorasi karir mahasiswa memiliki tingkat pencapaian yang tinggi yakni sekitar 93,41%. Dari kedua aspek yang diungkap, aspek pemahaman diri memiliki tingkat pencapaian yang rendah. Dalam perspektif teori karir kognitif sosial, kematangan karir seseorang terletak pada kekuatan saat dia mengekspose minat dan peluang yang sesuai dengan pemahaman dirinya. Berdasarkan analisis tersebut,tulisan ini hendak memuat kajian teoritik pengintegrasian teori kognitif sosial dalam aspek pemahaman diri mahasiswa PGSD FKIP UMC Semester 2 Tahun Akademik 2019/2020
Stres Remaja: Kebutuhan Video Mindfulness-Breathing Meditation Untuk Mengurangi Stres Remaja
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat stres remaja dan kebutuhan untuk mengembangkan video tutorial mindfulness-breathing meditation sebagai strategi dalam mengurangi stres remaja. Convenience sampling yang digunakan untuk mengumpulkan data pada 165 peserta didik. Alat ukur yang digunakan adalah perceived stress scale (PSS) dan studi kebutuhan video mindfulness-breathing meditation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres remaja yang tinggi (27 dari skor total 40). Perempuan memiliki tingkat stres yang lebih tinggi daripada laki-laki (27,2 vs 26,6), persentase perempuan yang mengalami stres tingkat tinggi lebih banyak daripada laki-laki (54,1%vs 41,3%). Meskipun prevalensi stres sangat tinggi di kalangan remaja, sebagian besar peserta didik sangat minim memiliki paparan materi mengenai cara mengurangi stres (80,15%) serta mengenai latihan bernafas dengan baik. Peserta didik juga sangat antusias untuk mempelajari meditasi pernafasan melalui video (100%). Diketahui juga bahwa pengembangan video mindfulness-breathing meditation sangat penting untuk membantu peserta didik dalam mengurangi stres mereka.
Kata Kunci: Stres, Remaja, Mindfulness, Breathing Meditation
Abstract
This research aims to determine the stress level of adolescents and the need to develop a mindfulness-breathing meditation video as a strategy to reduce adolescents’ stress. The convenience sampling was used to collect data form was 165 students. The measures are the perceived stress scale (PSS) and the needs of mindfulness-breathing meditation video. The results shows that the adolescent’ stress level is high (27 out of 40). Female has higher level stress than male (27,2 vs 26,6), the percentage of female who experience high level stress was outnumber male (54,1% vs 41,3%). Despite the high prevalence of stress among adolescent, most of students has minimum exposure to stress reduction (80,15%) as well as breathing exercises. All students enthusiastic to learn mindfulness-breathing meditation through video. It is recommended that development of mindfulness-breathing meditation video is crucial to help students in reducing their stress.
Keywords: Stress, Adolescent, Mindfulness, Breathing Meditatio