INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling
Not a member yet
358 research outputs found
Sort by
PROFIL BURNOUT GURU SMP DI KECAMATAN CIRACAS JAKARTA TIMUR BERDASARKAN FAKTOR DEMOGRAFI DAN LINGKUNGAN KERJA
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena burnout yang dialami oleh profesional yang bekerja dibidang pelayanan sosial. Guru merupakan profesi yang rentan terhadap munculnya burnout. Fenomena burnout dapat terjadi pada guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mengajar matapelajaran ujian nasional. Besarnya tuntutan dan tanggung jawab dalam mendidik para siswa sehingga guru dituntut untuk menjalankan tugas sesuai dengan tuntutan profesinya. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode deskriptif, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket atau instrumen. Analisis data menggunakan uji persentase atau uji-t dan ANOVA. Subjek penelitian 130 orang guru, yang ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan: 1. Intensitas sindrom burnout guru SMP di Kecamatan Ciracas berada pada katagori sedang (74,6%); 2. Aspek sindrom burnout guru adalah kelelahan emosional (30%) dengan indikator mudah marah (75,6%), aspek depersonalisasi (21%) dengan indikator dominan memandang siswa negatif (44,2%) aspek menurunnya prestasi diri (13.2) dengan indikator dominan kehilangan kreatifitas (22.3%); 3. Tidak ada perbedaan intensitas sindrom burnout guru SMP di Kecamatan Ciracas berdasarkan jenis kelamin, usia,masa kerja dan latar belakang pendidikan; 4. Tidak terdapat perbedaan intensitas sindrom burnout berdasarkan beban kerja, kebijakan sekolah, dukungan sosial dan penghargaan
PENGARUH PENGGUNAAN GENOGRAM DALAM KONSELING KARIR UNTUK MENINGKATKAN KEMATANGAN KARIR PESERTA DIDIK KELAS XII
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kematangan karir peserta didik kelas XII SMA Negeri 109 Jakarta Selatan melalui penggunaan genogram. Penggunaan genogram diterapkan sesuai dengan tahapan penggunaan genogram dalam konseling karir menurut Rae Wiemers Okiishi (1987). Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan pretest-posttest nonequivalent group design. Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen kematangan karir, yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan teori Donald E. Super (1990). Uji coba instrumen dilakukan terhadap 76 responden. Hasil perhitungan validitas menggunakan rumus Product Moment menyatakan 85 butir item valid dan 9 butir item tidak valid. Reliabilitas instrumen dihitung menggunakan rumus Alpha Cronbach menunjukan 0.96, berarti instrumen termasuk dalam kategori reliabilitas yang sangat tinggi. Teknik analisis data untuk memperoleh gambaran kematangan karir menggunakan statistik deskriptif dan teknik analisis data untuk uji hipotesis menggunakan Mann Whitney U-Test. Hasil uji hipotesis dilakukan dengan bantuan program SPSS 20.0 for windows, menunjukan bahwa nilai Asymp. Sig sebesar 0.021, yang berarti lebih kecil dari nilai signifikansi α (0.05), disimpulkan bahwa ditolak. Hasil penelitian menunjukan bahwa skor kematangan karir peserta didik yang mendapatkan layanan konseling karir dengan menggunakan genogram lebih tinggi dibandingkan skor kematangan karir peserta didik yang tidak mendapatkan layanan konseling karir dengan menggunakan genogram
EFEKTIVITAS LAYANAN KONSELING KARIR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ADAPTASI KARIR MAHASISWA BK FIP UNJ ANGKATAN 2011
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas layanan konseling karir untuk meningkatkan kemampuan adaptasi karir mahasiswa BK UNJ angkatan 2011. Metode penelitian yang digunakan adalah single subject experiment. Populasi dan sampel dari penelitian ini adalah 1 mahasiswa dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner dan observasi dan dianalisis dengan analisis dalam kondisi, antar kondisi, hasil baseline awal (A- 1), intervensi (B) dan baseline akhir (A-2). Dari hasil data yang telah didapatkan diperoleh peningkatan persentase kemampuan adaptasi karir subjek. Pada tahap baseline awal (A-1), persentase yang didapat subjek adalah sebesar 61,3%. Pada tahap intervensi (B) persentase meningkat menjadi 64,8%, sedangkan pada fase baseline akhir (A-2), kemampuan adaptasi karir subjek menjadi 70,2%. Pada analisis antar kondisi juga didapatkan hasil persentase overlap data yang didapatkan subjek adalah sebesar 20%. Hal ini menunjukkan bahwa overlap data termasuk ke dalam kategorisasi sangat rendah. Dari hasil data tersebut dapat diinterpretasikan bahwa pemberian intervensi berupa konseling karir efektif untuk digunakan dalam meningkatkan kemampuan adaptasi karir mahasiswa
PERSPEKTIF TERPADU: ALTERNATIF TERBAIK ATAS KONSELING KONVENSIONAL
Berbagai teori konseling yang ada saat ini bukanlah tanpa keterbatasan. Kompleksitas masalah yang dialami oleh seorang individu, terkadang membuat sebuah teori pendekatan konseling tidak mampu berdiri sendiri dalam menangani masalah dan dibutuhkan perspektif pendekatan lain atau teknik konseling lainnya. Beberapa individu memiliki masalah yang cukup kompleks sehingga perspektif pendekatan satu dengan pendekatan lainnya harus diguanakan agar dapat menangani masalah individu secara tuntas. Hal ini terjadi karena teori pendekatan konseling tidak dapat menangani semua masalah yang terdapat pada diri individu. Atas dasar fakta tersebut, maka lahirlah sebuah perspektif atau pendekatan konseling yang dapat menggabungkan beberapa teori pendekatan atau teknik-teknik tertentu dalam berbagai pendekatan konseling yang memungkinkan menyelesaikan berbagai permasalahan yang dialami oleh individu. Perspektif atau pendekatan tersebut dikenal dengan sebutan perspektif integratif atau perspektif terpadu. Tulisan ini akan membahas efektifitas dari perspektif integratif dalam menangani berbagai kasus dalam proses konseling. 
PENGARUH KELOMPOK PSIKOEDUKASI DENGAN COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY TERHADAP BODY IMAGE SISWI KELAS X SMAN 32 JAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh kelompok psiko-edukasi dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terhadap body image. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen berjenis pre-eksperimen, yang menggunakan model pre-post one group design. Sampel penelitian ini menggunakan delapan siswi berdasarkan hasil pre-test terendah Multidimensional Body- Self Related Questtionaire (MBSRQ). Pengadaptasian instrumen Multidimensional Body-Self Related Questtionaire (MBSRQ), dilakukan dengan cara back translation yang dilakukan oleh penerjemah yang bersertifikat. Berdasarkan hasil uji hipotesis menyatakan, bahwa Ho ditolak dengan nilai asymp. Sig = 0.012 < nilai Sig α = 0.05 (2-tailed), yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan pada kelompok psikoedukasi dengan CBT terhadap body image siswi kelas X SMA Negeri 32 Jakarta
PENGARUH LAYANAN KONSELING KELOMPOK ADLERIAN DALAM MENINGKATKAN PENALARAN MORAL SISWA KELAS IV SDN 07 PAGI UJUNG MENTENG
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh layanan konseling kelompok dalam meningkatkan penalaran moral siswa kelas IV Sekolah Dasar. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan pretest-posttest nonequivalent group design. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling, yakni delapan orang siswa kelas IVb yang memiliki tingkat penalaran moral rendah. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penalaran moral yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan teori Kohlberg. Uji coba intrumen dilakukan terhadap 70 responden. Hasil perhitungan validitas menggunakan rumus Product Moment menyatakan 28 item valid dan 8 item tidak valid. Sementara itu, reliabilitas instrumen dihitung menggunakan rumus Alpha menunjukkan 0,755 yang berarti instrumen termasuk dalam kategori reliabilitas yang tinggi. Teknik analisis data untuk hipotesis menggunakan Mann Whitney U-Test. Hasil uji hipotesis dilakukan dengan bantuan program SPSS 17.0 for windows yang menunjukan bahwa nilai Asymp. sig sebesar 0,001, yang berarti lebih kecil dari nilai signifikansi α 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan penalaran moral siswa yang mendapatkan layanan konseling kelompok Adlerian lebih tinggi dibandingkan peningkatan penalaran moral siswa yang tidak mendapatkan layanan konseling kelompok Adlerian. Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian ini, layanan konseling kelompok Adlerian dapat meningkatkan penalaran moral siswa di Sekolah Dasar
GAMBARAN PERMASALAHAN SOSIAL MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA (Survei terhadap mahasiswa Strata 1 Angkatan 2013-2015)
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran permasalahan sosial mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Jakarta angkatan 2013, 2014 dan 2015. Penelitian menggunakan metode survei terhadap 3 angkatan mahasiswa UNJ dengan populasi penelitian sebanyak 18.138 mahasiswa dan teknik pengambilan sampel yaitu teknik insidental sebanyak 376 responden. Kuesioner yang digunakan peneliti terdiri dari 68 butir pernyataan yang didapat dari 8 indikator permasalahan sosial yang merujuk pada teori Steinberg yang kemudian dikembangkan oleh peneliti. Skala yang digunakan pada penelitian ini ialah skala Model Guttman. Validitas dan reliabilitas dihitung menggunakan SPSS 20.0 dengan jumlah pernyataan final sebanyak 68 pernyataan dan reliabilitas sebesar 0,710 sehingga dinyatakan reliabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tertinggi terdapat pada indikator kecemasan sosial dengan persentase sebesar 30,27%, diikuti dengan indikator diskriminasi gender dengan persentase sebesar 27,13%. Kecemasan sosial dan diskriminasi gender merupakan permasalahan yang berdampak negatif terhadap prestasi akademik dan performa mahasiswa sebagai generasi muda. Adanya diskriminasi bahwa sosok pemimpin lebih diutamakan pada laki-laki dibandingkan perempuan dan adanya kecemasan yang berlebihan saat tampil di muka umum akan menghambat mahasiswa untuk berkompetisi, seiring berkembangnya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Mahasiswa UNJ sebagai calon pendidik diharapkan terbebas dari permasalahan sosial yang dimiliki agar menjadi pendidik yang profesional dan menghasilkan peserta didik yang berkualitas.
Kata Kunci: Permasalahan Sosial, Mahasisw
KONSEP DIRI AKADEMIK PESERTA DIDIK JENJANG MENENGAH PERTAMA BERDASARKAN JENIS KELAMIN (Studi Survei di Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Kampung Makasar)
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empirik profil konsep diri akademik peserta didik berdasarkan jenis kelamin. Penelitian dilaksanakan di Primagama Kampung Makasar, dengan sampel seluruh peserta didik jenjang menengah pertama yang mengikuti program bimbingan belajar di Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Kampung Makasar. Sampel diambil dengan menggunakan teknik sampel jenuh. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Konsep diri akademik peserta didik laki-laki berada pada kategori tinggi sebesar 18,18% dengan jumlah responden 4 orang dari total 22 orang peserta didik lakilaki, 68,18% termasuk kedalam kategori sedang atau sejumlah 15 orang peserta didik, 13,64% peserta didik laki-laki termasuk kedalam kategori rendah atau sejumlah 3 orang. Peserta didik perempuan yang berada pada kategori tinggi dengan persentase 20% atau sebanyak 3 orang, kategori sedang berjumlah 11 orang atau sebesar 73,33%, kategori rendah sejumlah 1 orang atau sebesar 6,67%. Kesimpulan yang diperoleh secara umum peserta didik laki-laki secara mayoritas memiliki konsep diri akademik sedang atau ratarata dengan mencapai 68,18%. Peserta didik perempuan juga mayoritas berada pada kategori sedang sebesar 73,33%
Self-efficacy Peserta Didik Homeschooling Kak Seto dalam Menghadapi Ujian Nasional Program Paket B
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data, informasi dan gambaran mengenai tingkat self-efficacy peserta didik homeschooling dalam menghadapi Ujian Nasional Pendidikan Program Paket B. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kategori survei, dengan teknik pengumpulan data non tes berupa kuesioner. Populasi penelitian adalah peserta didik kelas IX Homeschooling Kak Seto yang berjumlah 41 peserta didik. Sampel berjumlah 21 peserta didik yang ditentukan dengan teknik insidental sampling. Peneliti menggunakan analisa deskriptif dengan rumus persentase dan nilai rata-rata (mean) untuk mengetahui berapa banyak dari responden yang memiliki self-efficacy kuat, sedang, dan lemah dalam menghadapi Ujian Nasional Program Paket B. Hasil perhitungan menunjukan bahwa dari 21 responden berdasarkan nilai rata-rata (Mean), bahwa 61,90% (f = 13) diantaranya memiliki self-efficacy lemah, 4,76% (f = 1) memiliki self-efficacy sedang, dan 33,33% (f = 7) memiliki self-efficacy kuat dalam menghadapi UNP Paket B. Kelima indikator self-efficacy yaitu pola perilaku dari 8 item pernyataan 42,86% (f = 9) dikategorisasikan lemah. Motivasi dari 8 item pernyataan 47,62% (f = 10) dikategorisasikan lemah. Kinerja dari 8 item pernyataan 52,38% (f = 11) dikategorisasikan kuat. Pola pikir dari 8 item pernyataan 47,62% (f = 10) dikategorisasikan kuat. Pergerakan emosi dari 8 item pernyataan 42,86% (f = 9) dikategorisasikan lemah
PEMENUHAN STANDAR SARANA DAN PRASARANA BIMBINGAN DAN KONSELING (Survei Terhadap Sekolah Menengah Atas Negeri di Jakarta Barat)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemenuhan standar sarana dan prasarana bimbingan dan konseling di sekolah menengah atas negeri Jakarta Barat. Metode yang digunakan adalah survei dengan menggunakan instrument pedoman observasi standar sarana dan prasarana bimbingan dan konseling yang dikembangkan dari pedoman penyelenggaraan bimbingan dan konseling pada pendidikan dasar dan menengah. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak empat belas sekolah yang ditentukan melalui teknik sampling jenuh.Teknik analisis data yang digunakan untuk mendeskripsikan pemenuhan standar sarana dan prasarana yaitu statistik deskriptif dengan teknin persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga belas sekolah berada pada kategori tidak memenuhi standar(92,8%) dan satu sekolah berada pada kategori memenuhi standar (7,14%). Pada aspek ruang bimbingan dan konseling seluruh sekolah tidak memenuhi standar(100%) . Pada aspek instrumen pengumpul data tiga belas sekolah berada pada kategori memenuhi standar(92,8%) dan satu sekolah tidak memenuhi standar(7,14%). Pada aspek kelengkapan penunjang teknis sepuluh sekolah memenuhi standar(71,4%) dan empat sekolah lainnya tidak memenuhi standar(28,6%). Pada aspek dokumen seluruh sekolah memenuhi standar(100%).Oleh karena itu, aspek sarana dan prasarana bimbingan dan konseling harus mendapatkan perhatian lebih dari berbagai pihak, (Dinas Pendidikan DKI Jakarta, ABKIN, MGBK, Kepala Sekolah, dan Guru BK)