INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling
Not a member yet
358 research outputs found
Sort by
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK EXAMPLE NON-EXAMPLE PADA BIMBINGAN KLASIKAL TERHADAP PEMAHAMAN KEKERASAN DALAM PACARAN (Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa SMP Negeri 7 Tangerang Selatan)
Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif teknik example non-example pada bimbingan klasikal terhadap pemahaman kekerasan dalam pacaran siswa kelas VIII di SMP Negeri 7 Tangerang Selatan. Metode penelitian kuasi eksperimen dengan non-equivalent control group design. Sampel penelitian ini yakni VIII-5 sebagai kelompok eksperimen dan VIII-4 sebagai kelompok kontrol yang diambil dari populasi menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen tes yang dikembangkan melalui indikator pemahaman Bloom. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dan inferensial non parametrik. Pengujian hipotesis menggunakan Mann Whitney U-Test pada aplikasi SPSS versi 16.0. Hasil pengujian didapatkan nilai Sig sebesar 0,000 < a 0,05, maka H0 ditolak karena model pembelajaran kooperatif teknik example non-example berpengaruh signifikan terhadap pemahaman kekerasan dalam pacaran. Oleh sebab itu, guru bimbingan dan konseling dapat memanfaatkan model pembelajaran kooperatif teknik example non-example yang digunakan dalam penelitian ini sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai kekerasan dalam pacaran
PENDEKATAN BEHAVIORAL: DUA SISI MATA PISAU
Abstrak
Pendekatan behavioral merupakan salah satu pendekatan tertua dalam dunia psikoterapi dan merupakan salah satu pendekatan populer yang banyak digunakan dikalangan pekerja kesehatan mental. Pendekatan behavioral memiliki berbagai macam model konseling untuk menangani berbagai jenis masalah, sebut saja penguatan positif, token economy, desensitisasi sistematik, flooding, dan lain sebagainya. Sebagai pendekatan yang telah banyak digunakan, tentunya pendekatan konseling behavioral memberi banyak keuntungan pada konseli atau klien yang ditangani, sehingga keunggulan dari pendekatan ini tidak perlu diragukan lagi. Akan tetapi, beberapa penelitian menyebutkan bahwa pendekatan konseling behavioral bukanlah tanpa kekurangan. Ibarat dua sisi mata pisau, disatu sisi dapat membantu pekerjaan seseorang, namun juga dapat melukai orang yang menggunakannya. Tulisan ini membahas mengenai kelebihan dan kekurangan pendekatan konseling behavioral berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada berbagai literatur ilmiah yang terkait.
Kata Kunci: Behavioral, Konselin
KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU BK (Survei pada Guru Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Pertama dan Sederajat Se-Kecamatan Citeureup)
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran empirik mengenai kompetensi kepribadian guru bimbingan dan konseling di SMP/ sederajat se-Kecamatan Citeureup. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, dengan jenis survei. Populasi penelitian ini adalah guru BK di SMP/ sederajat se-Kecamatan Citeureup. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling jenuh dengan jumlah sampel sebanyak 34 responden. Pengumpulan data menggunakan instrumen kompetensi kepribadian guru BK. Pengujian instrumen diolah menggunakan Microsoft Excel. Uji validitas dari 34 butir pernyataan didapatkan 29 butir pernyataan valid dan 5 butir pernyataan drop. Uji reliabilitas menunjukan angka sebesar 0,99 yang berarti kehandalan instrumen sangat tinggi. Hasil penelitian menunjukan bahwa guru BK di SMP/sederajat se-Kecamatan Citeureup yang berada pada kategori kompeten sebanyak 26 guru BK (76,5%), sedangkan yang berada pada kategori tidak kompeten sebanyak 8 orang (23,5%). Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa kompetensi kepribadian guru BK di SMP/sederajat seKecamatan Citeureup pada umumnya berada pada kategori kompeten yang berarti guru BK sudah mampu menampilkan kepribadian yang baik sebagai guru BK di sekolah. Meskipun begitu, masih perlu adanya pengembangan terutama terhadap guru BK yang tidak kompeten. Rekomendasi ditujukan kepada guru BK agar terus belajar dan senantiasa meningkatan kompetensi kepribadiannya.
Kata Kunci: Kompetensi, kepribadian, guru bimbingan dan konseling
PENGARUH TEKNIK DISKUSI KELOMPOK DALAM BIMBINGAN KELOMPOK TERHADAP PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA TENTANG DIMENSI SEKSUALITAS MANUSIA (Studi Quasi Eksperimen Terhadap Siswa Kelas 9 di SMP Negeri 7 Jakarta Timur)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah teknik diskusi kelompok dalam bimbingan kelompok berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman siswa tentang dimensi seksualitas manusia. Penelitian ini menggunakan quasi-experimental design dengan bentuk pretest-posttest nonequivalent group design. Sampel dari penelitian ini adalah 20 orang siswi kelas IX SMP Negeri 7 Jakarta. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Penelitian ini termasuk ke dalam statisik nonparametrik. Uji statistik yang digunakan untuk mengolah data dan menarik kesimpulan adalah Wilcoxon Signed Ranks Test dan Mann-Whitney U Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai asymp. sig. adalah sebesar 0,002 < 0,05 (α). Dengan demikian, terdapat pengaruh yang signifikan antara teknik diskusi kelompok dalam bimbingan kelompok terhadap peningkatan pemahaman siswa tentang dimensi seksualitas manusia. Skor rata-rata pemahaman kelompok eksperimen meningkat dari 15,3 (pretest) menjadi 21,5 (posttest) atau terjadi peningkatan skor rata-rata sebesar 6,2. Secara implisit, hal ini memberikan bukti bahwa teknik diskusi kelompok dalam bimbingan kelompok dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk memberikan pemahaman yang memadai kepada siswa tentang suatu topik pembahasan. Oleh sebab itu, guru dapat memaksimal penggunaan teknik diskusi kelompok ini untuk memberikan pemahaman pada topik pembahasan yang lain dengan didasarkan pada kebutuhan dan tingkat pemahaman awal dari setiap siswa
PENGARUH METODE STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) TERHADAP PEMAHAMAN GAYA BELAJAR DI KELAS VIII-1 SMP DEWI SARTIKA JAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh positif penggunaan metode STAD terhadap pemahaman gaya belajar siswa kelas VIII-1 SMP Dewi Sartika Kebon Nanas Utara II Jakarta Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimen, dengan design pre-test post-test group design. Teknik analisa data yang digunakan adalah uji-t pada taraf siginifikan 0,5% dan analisis deskriptif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: (1) Skor rata-rata pemahaman berubah dari pre-test sebesar 16,625 menjadi 20,935 terjadi peningkatan sebesar 4,31. (2) Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan menggunakan uji-t, diperoleh hasil nilai thitung sebesar 12,76 dan ttabel sebesar 1,67. Membandingkan nilai thitung dan ttabel, diperoleh hasil thitung = 12,76 > ttabel = 1,67 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak. Berdasarkan hasil data diatas, dapat diinterpretasikan bahwa penerapan bimbingan klasikal dengan metode STAD mempengaruhi pemahaman gaya belajar siswa
STUDI KEBIJAKAN MUSLIMAH LDK UNJ DALAM PERSPEKTIF GENDER
Seiring keikutsertaan indonesia dalam ratifikasi HAM mengenai kesetaraan gender, mendorong setiap instansi untuk membuat kebijakan yang berperspektif gender, namun pada faktanya masih banyak kebijakan yang belum sesuai dengan perspektif gender, atas dasar itulah penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membuat analisa kebijakan muslimah LDK UNJ ditinjau dari perspektif Gender. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pedoman analisa Moser. Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif. Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa kebijakan muslimah LDK UNJ belum sesuai dengan perspektif gender baik ditinjau dari proses, implementasi, maupun evaluasi kebijakan itu sendir
PENGARUH KONSELING KELOMPOK DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MENULIS JURNAL UNTUK MENGURANGI PERILAKU BULLYING
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 53 Jakarta pada bulan November 2014. Penelitian eksperimen ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling kelompok dengan menggunakan teknik menulis jurnal untuk mengurangi perilaku bullying pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 53 Jakarta. Pengambilan sampel dipilih menggunakan teknik sampling purposive, sehingga sampel dalam penelitian ini adalah sepuluh orang siswa untuk menjadi kelompok eksperimen dan sepuluh orang siswa untuk menjadi kelompok kontrol yang merupakan siswa yang memiliki perilaku bullying dengan kategori sangat tinggi dan tinggi. Metode penelitian adalah Kuantitatif, dengan desain penelitian quasi experimental (nonequivalent control group design). Pengumpulan data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen perilaku bullying. Teknik analisis data yang digunakan dalam menguji hipotesis pada penelitian ini adalah Mann Whitney U-Test untuk membandingkan hasil pre-test dan post-test. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig sebesar 0.000, yang berarti lebih kecil dari nilai signifikansi α 0.05. Dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Dapat ditarik kesimpulan teknik menulis jurnal berpengaruh dalam mengurangi perilaku bullying siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 53 Jakarta
HUBUNGAN PEMAHAMAN NAPZA DENGAN SIKAP TERHADAP PENYALAHGUNAAN NAPZA ( Studi Korelasi Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri Se-Kecamatan Johar Baru )
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ada atau tidaknya hubungan antara pemahaman tentang NAPZA dengan sikap penolakan penyalahgunaan NAPZA pada siswa kelas VIII SMP Negeri se-Kecamatan Johar Baru. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional dengan jenis kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di 4 SMP Negeri Kecamatan Johar baru,Jakarta Pusat, dengan sampel 140 siswa. Sampel diambil dengan menggunakan sampling acak sederhana. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen tes untuk mengukur variabel pemahaman tentang NAPZA dan menggunakan instrumen untuk mengukur variabel sikap penolakan penyalahgunaan NAPZA. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi product moment pearson, uji koefisien korelasi dan dilanjutkan dengan uji-t pada taraf signifikan 5%. Hasil pengujian hipotesis menunjukan bahwa rhitung = 0,472dengan taraf signifikansi 0,05, maka diperoleh r tabel = 0,176 ternyata r hitung> r tabel, jadi semua hipotesis nol ditolak. Dengan demikian hipotesis alternatif diterima. Artinya terdapat hubungan positif antara pemahaman tentang NAPZA dengan sikap penolakan penyalahgunaan NAPZA pada siswa kelas VIII SMP Negeri se-Kecamatan Johar Baru,Jakarta Pusat. Selanjutnya dilakukan uji-t dengan taraf signifikansi 5% (dk=n-2) dan diperoleh t hitung = 3,14 > t tabel = 1,65 Hal ini menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara pemahaman tentang NAPZA dengan sikap penolakan penyalahgunaan NAPZA pada siswa kelas VIII SMP Negeri se-Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat. Implikasi dari hasil penelitian ini ditujukan kepada guru BK untuk dapat memberikan informasi mengenai NAPZA sebagai upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA berupa pemberian materi bimbingan klasikal dan pengadaan layanan bimbingan kelompok
PROFIL EMPATI MAHASISWA ETNIS JAWA (Survei Yang Dilakukan Pada Mahasiswa Jurusan Bimbingan Dan Konseling Universitas di DKI Jakarta)
The porpuse of this research was to find out description aboutthebasicempathy’s students college of Guidance and Counselingfrom Java ethnic in DKI Jakarta. This research used a descriptive study with 112 respondent of students college of Guidance and Counselingfrom5UniversitiesinJakarta; Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Muhammadiyah Prof.DrHamka Jakarta (UHAMKA), Universitas IslamAs-Syafi’iyah Jakarta, Universitas Atma Jaya and Universitas Kristen Indonesia (UKI). The research instrument used Basic Empathy Scale (BES) from Darrick Jollife dan David P Farrington (2006) with r 0.857. The valid and reliability test used SPSS version17.0. The Valid test from 20 statements there were 17 valid statements and 3 statements are drop. The drop statements rechanged to be a new editorial statements. The reliability test obtained 0,803 which means it very high reliability and the basic empathy scale can be trust.. This study has found condition of emphaty of students counseling in Jakarta at the high level categoryof 53,57%, middle category of 46,43%, and0 % lower. From these findings that there are students at middle level category, these need to improvement and development of empathy students’ condition such as using audiovisual media (movie) or roleplay method in guding servic
KEPUASAN SISWA TERHADAP LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL (Survei pada siswa kelas VIII di SMP Negeri se-Kecamatan Matraman, Jakarta Timur)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepuasan siswa terhadap layanan konseling individual di SMP Negeri Se-Kecamatan Matraman Jakarta Timur. Sampel penelitian ini adalah 80 siswa kelas VIII yang telah mengikuti layanan konseling individual. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel ini adalah sampel bertujuan (Purposive Sampling). Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran dua kuesioner kepuasan. Kuesioner pertama merupakan adaptasi dari Client Satisfaction Questionnaire-8 (CSQ-8) dan kuesioner kedua merupakan kepuasan yang dinilai dari kualitas layanan Service Quality (SERVQUAL). Hasil uji validitas instrumen 1 (CSQ-8) menyatakan keseluruhan item valid dan pada kuesioner 2 (SERVQUAL) terdapat 38 butir pernyataan valid dan 6 butir pernyataan drop. Hasil uji reliabilitas instrumen dengan SPSS 20 pada kedua kuesioner tersebut sebesar 0.721 (CSQ-8) dan 0.735 (SERVQUAL), yang berarti kedua instrumen ini memiliki reliabilitas tinggi dan dapat dipercaya. Hasil penelitian menunjukan bahwa 73.75% siswa berada pada klasifikasi sedang, 13.75% siswa berada pada klasifikasi tinggi, dan 12.5% siswa berada pada klasifikasi rendah. Hasil penelitian kepuasan siswa berdasarkan kualitas layanan diketahui 68.75% berada pada klasifikasi sedang, 17.5% berada pada klasifikasi rendah, dan 13.75% siswa berada pada klasifikasi tinggi. Kepuasan siswa terhadap layanan konseling individual secara umum berada pada klasifikasi sedang atau cukup puas. Hal ini menunjukan bahwa perlu adanya evaluasi lebih lanjut bagi guru BK terhadap pemberian layanan konseling individual. Apabila guru BK secara terus menerus memperhatikan kualitas pelayanannya, maka layanan dapat diberikan secara maksimal kepada siswa. Jika pelayanan telah diberikan secara maksimal, maka tingkat kepuasan siswa terhadap layanan konseling individual akan tinggi.