INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling
Not a member yet
    358 research outputs found

    Besan (Berekspresi Lewat Tulisan) : Upaya Mengatasi Loneliness Menggunakan Metode Expressive Writing Pada Mahasiswa Yang Mengalami Homesick

    Full text link
    Abstrak: Jauh dari keluarga kerap kali membuat mahasiswa merasa loneliness. Seseorang yang mengalami loneliness akan merasa bahwa dirinya tidak diinginkan. Hal-hal seperti itu dapat berakibat buruk, terutama bagi mahasiswa. Salah satu dampak yang dapat terjadi yaitu turunnya prestasi akademik mahasiswa. Sehingga, loneliness perlu untuk diatasi. Salah satu caranya yaitu dengan menerapkan metode expressive writing. Metode ini dilakukan pada 6 mahasiswa homesick yang berkuliah di Bukittinggi. Penelitian ini berguna untuk melihat perbandingan tingkat loneliness pada mahasiswa yang mengalami homesick sebelum dan setelah dilakukannya treatment. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji paired sample t-test, didapati nilai p=0,002 (α<0,005) yang artinya terdapat perbedaan signifikan tingkat loneliness sebelum dan setelah dilakukannya metode expressive writing. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa metode expressive writing terbukti efektif dalam mengatasi perasaan loneliness pada mahasiswa yang mengalami homesick.   Abstract: Far from family often makes students feel loneliness. Someone who experiences loneliness will feel that he is undesirable. Things like that can have bad consequences, especially for students. One of the consequences is the decline in student academic achievement. So loneliness needs to be overcome, one way is by applying expressive writing. This study used six home-sick students studying at Bukittinggi. This study was useful to look at the comparison of the levels of loneliness in students who had a home illness before and after the treatment. Based on data analysis using the paired sample t-test, p=0,002 (α<0,005) is found, which means there is a significant difference in the level of loneliness before and after the expressive writing method. So it can be concluded that the method of expressive writing has proven effective in dealing with the feeling of loneliness in students who have a homeick.Jauh dari keluarga kerap kali membuat mahasiswa merasa loneliness. Seseorang yang mengalami loneliness akan merasa bahwa dirinya tidak diinginkan. Hal-hal seperti itu dapat berakibat buruk, terutama bagi mahasiswa. Salah satu dampak yang dapat terjadi yaitu turunnya prestasi akademik mahasiswa. Sehingga, loneliness perlu untuk diatasi. Salah satu caranya yaitu dengan menerapkan metode expressive writing. Metode ini dilakukan pada 6 mahasiswa homesick yang berkuliah di Bukittinggi. Penelitian ini berguna untuk melihat perbandingan tingkat loneliness pada mahasiswa yang mengalami homesick sebelum dan setelah dilakukannya treatment. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji paired sample t-test, didapati nilai p=0,002 (α<0,005) yang artinya terdapat perbedaan signifikan tingkat loneliness sebelum dan setelah dilakukannya metode expressive writing. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa metode expressive writing terbukti efektif dalam mengatasi perasaan loneliness pada mahasiswa yang mengalami homesick

    REVOLUSI KEMANDIRIAN BELAJAR DI MADRASAH IBTIDAIYAH MELALUI OPTIMALISASI BIMBINGAN DAN KONSELING YANG KREATIF

    Full text link
    Rendahnya kemandirian belajar siswa di Madrasah Ibtidaiyah menjadi masalah yang semakin mencolok, terutama karena ketergantungan pada metode pengajaran tradisional dan penerapan bimbingan dan konseling (BK) yang tidak optimal. Siswa seringkali tidak memiliki keterampilan untuk belajar secara mandiri, dan peran BK dalam mengatasi masalah ini masih kurang dimaksimalkan. Dalam dunia pendidikan abad ke-21, kemandirian belajar adalah keterampilan krusial untuk menghadapi perubahan dan tantangan global. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi kreatif dalam optimalisasi BK guna meningkatkan kemandirian belajar siswa di lingkungan madrasah. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif melalui metode studi pustaka, mengkaji berbagai literatur terkait peran BK dalam pendidikan. Hasilnya menunjukkan bahwa strategi BK yang inovatif, seperti pendekatan individual yang memotivasi siswa dan konseling kelompok yang interaktif, dapat memperkuat kemampuan siswa untuk mengatur belajar mereka sendiri. Temuan ini menekankan bahwa BK yang kreatif mampu menjadi kunci dalam membangun siswa yang mandiri, baik secara akademis maupun dalam pengembangan pribadi.Rendahnya kemandirian belajar siswa di Madrasah Ibtidaiyah menjadi masalah yang semakin mencolok, terutama karena ketergantungan pada metode pengajaran tradisional dan penerapan bimbingan dan konseling (BK) yang tidak optimal. Siswa seringkali tidak memiliki keterampilan untuk belajar secara mandiri, dan peran BK dalam mengatasi masalah ini masih kurang dimaksimalkan. Dalam dunia pendidikan abad ke-21, kemandirian belajar adalah keterampilan krusial untuk menghadapi perubahan dan tantangan global. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi kreatif dalam optimalisasi BK guna meningkatkan kemandirian belajar siswa di lingkungan madrasah. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif melalui metode studi pustaka, mengkaji berbagai literatur terkait peran BK dalam pendidikan. Hasilnya menunjukkan bahwa strategi BK yang inovatif, seperti pendekatan individual yang memotivasi siswa dan konseling kelompok yang interaktif, dapat memperkuat kemampuan siswa untuk mengatur belajar mereka sendiri. Temuan ini menekankan bahwa BK yang kreatif mampu menjadi kunci dalam membangun siswa yang mandiri, baik secara akademis maupun dalam pengembangan pribadi

    Pengungkapan Diri Remaja Korban Kekerasan Verbal Orang Tua (Studi Fenomenologi pada Peserta didik SMKN Di Jakarta Pusat)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk memberikan eksplanasi pengungkapan diri remaja kekerasan verbal orang tua dan dampak setelah pengungkapan diri. Indorman subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 2 informan utama yaitu 1 siswa perempuan kelas 12 dan 1 siswa laki-laki kelas 11. Pemilihan informan didasarkan kepada kriteria (1) remaja pertengahan kisaran umur 15-18 tahun yang orang tuanya melakukan kekerasan verbal; (2) remaja tersebut tinggal bersama kedua orang tuanya; (3) remaja yang menjadi korban kekerasan verbal dengan frekuensi yang sedang (satu minggu, satu kali); (4) telah melakukan pengungkapan diri mengenai kekerasan verbal kepada orang terdekat, menggunakan metode studi fenomenologi dengan teknik analisis data Interpretative Phenomenological Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua informan belum memahami kekerasan yang dialami dan menganggapnya sebagai bentuk didikan orang tua, setelah remaja keduanya merasa ketakutan akan prasangka orang lain sehingga menyembunyikan masalahnya. Perbedaan antara keduanya yaitu dampak psikologis pada informan perempuan yang masih mengalami trauma, sedangkan informan laki-laki sudah berdamai dengan masalahnya. Oleh karena itu, guru BK di sekolah bisa memberikan layanan konseling individu terhadap korban kekerasan verbal orang tua serta memberikan layanan bimbingan klasikal dengan menggunakan materi terkait kekerasan verbal

    Hubungan Tingkat Stres dengan Motivasi Belajar pada Siswa Kelas VIII di SMP Swasta IMELDA

    Full text link
    Stres merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar. Stress adalah respon tubuh terhadap ketidakmampuan menghadapi tuntutan yang diterima yang bisa mengganggu kesehatan yang ingin dicapai. Penelitian ini bertujaun untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Swasta Imelda. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif jenis korelasional. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas VIII dan sampel dari penelitian ini adalah siswa kelas VII C yang berjumlah sebanyak 30 orang siswa. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang dilakukan ialah dengan menyebarkan angket pada siswa kelas VII C. Kemudian data hasil angket ini diolah menggunakan SPSS versi 22.0. Maka, berdasarkan analisis data, hasil penelitian menunjukkan bahwa, berdasarkan korelasi uji spearman rank diperoleh hasil nilai sig = 0,324 dimana 0,324 > 0,05 yang artinya tidak terdapat korelasi antara tingkat stress dengan motivasi belajar siswa. Nilai correlation coefficient r ialah -0,186 dimana menunjukkan bahwa tingkat kekuatan korelasi adalah sangat lemah. Dan angka correlation coefficient pada hubungan di atas bernilai negatif, maka arah hubungan dari kedua variabel tersebut ialah tidak searah

    KONTRIBUSI REGULASI EMOSI TERHADAP PERILAKU PROSOSIAL SISWA SMA WOYLA RAYA

    Full text link
    Masa remaja merupakan periode penentuan identitas diri serta tujuan hidup dan pembinaan perilaku prososial untuk dapat menjalani kehidupan dalam masyarakat dengan harmonis. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran regulasi emosi, gambaran perilaku prososial serta kontribusi regulasi emosi terhadap perilaku prososial pada siswa SMAN Woyla Raya.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian desain korelasional. Populasi penelitian diambil dari siswa SMAN 1 Woyla, SMAN 1 Woyla Barat dan SMAN 1 Woyla Timur dengan jumlah populasi 668 adapun sampel 250 siswa diperoleh dengan menggunakan rumus slovin. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan 2 skala psikologi yaitu skala regulasi emosi dan skala perilaku prososial dengan jenis skala likert. Analisis data menggunakan deskriptif, korelasi dan regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini (1) Gambaran regulasi emosi siswa SMAN Woyla sebagian besar siswa memiliki regulasi emosi yang baik, dengan nilai 52% berada pada kategori "Tinggi", yang menunjukkan bahwa kemampuan regulasi emosi yang baik. (2) Gambaran perilaku prososial pada siswa SMAN Woyla sebagian besar siswa menunjukkan tingkat perilaku prososial yang baik. Sebanyak 64,8% siswa berada pada kategori "Tinggi," yang menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka sering melakukan tindakan yang membantu orang lain.  (3) Terdapat hubungan yang signifikan antara regulasi emosi dengan perilaku prososial, koefisien korelasi 0,625, yang berarti 62,5% perilaku prososial dapat didukung oleh regulasi emosi. Koefisien determinasi 33,7% perubahan perilaku prososial dipengaruhi oleh regulasi emosi, sementara 41,9% dipengaruhi oleh factor lain.Masa remaja merupakan periode penentuan identitas diri serta tujuan hidup dan pembinaan perilaku prososial untuk dapat menjalani kehidupan dalam masyarakat dengan harmonis. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran regulasi emosi, gambaran perilaku prososial serta kontribusi regulasi emosi terhadap perilaku prososial pada siswa SMAN Woyla Raya.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian desain korelasional. Populasi penelitian diambil dari siswa SMAN 1 Woyla, SMAN 1 Woyla Barat dan SMAN 1 Woyla Timur dengan jumlah populasi 668 adapun sampel 250 siswa diperoleh dengan menggunakan rumus slovin. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan 2 skala psikologi yaitu skala regulasi emosi dan skala perilaku prososial dengan jenis skala likert. Analisis data menggunakan deskriptif, korelasi dan regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini (1) Gambaran regulasi emosi siswa SMAN Woyla sebagian besar siswa memiliki regulasi emosi yang baik, dengan nilai 52% berada pada kategori "Tinggi", yang menunjukkan bahwa kemampuan regulasi emosi yang baik. (2) Gambaran perilaku prososial pada siswa SMAN Woyla sebagian besar siswa menunjukkan tingkat perilaku prososial yang baik. Sebanyak 64,8% siswa berada pada kategori "Tinggi," yang menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka sering melakukan tindakan yang membantu orang lain.  (3) Terdapat hubungan yang signifikan antara regulasi emosi dengan perilaku prososial, koefisien korelasi 0,625, yang berarti 62,5% perilaku prososial dapat didukung oleh regulasi emosi. Koefisien determinasi 33,7% perubahan perilaku prososial dipengaruhi oleh regulasi emosi, sementara 41,9% dipengaruhi oleh faktor lain

    Analisis Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja di Desa Tugusari

    Full text link
    Masa remaja disebut juga masa transisi, dimana akan terjadi perubahan dalam dirinya baik secara fisik, emosional dan sosial. Hal yang menjadi kekhawatiran yaitu ketika remaja tidak mampu mengontrol kendali diri sehingga terjerumus pada perilaku menyimpang. Penyimpangan perilaku ini dikenal dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Kenakalan remaja sering di sebabkan oleh faktor-faktor individu itu sendiri, keluarga dan masyarakat serta lingkungan tempat individu tersebut tinggal.Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab dari kenakalan remaja di desa tugusari. Penelitian ini didasarkan penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fakto-faktor penyebab kenakalan remaja yang ada di desa tugusari yaitu di sebabkan beberapa faktor yaitu karena individu itu sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan tempat tinggal individu itu sendiri

    Dampak Perundungan Pada Aktivitas Belajar Siswa SMPN 42 Palembang

    Full text link
    Fenomena perundungan sering terjadi tidak hanya di Indonesia, bahkan di belahan dunia dan dapat dialami semua orang. Kasus perundungan di Indonesia menarik perhatian banyak kalangan, terutama dalam dunia pendidikan terjadi di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebabnya serta dampaknya pada aktivitas belajar siswa.  Metode penelitian yang di gunakan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk menguji keabsahan data menggunakan uji kredibilitas dengan teknik tringulasi. Hasil penelitian ini membuktikan perundungan yang terjadi di  SMP Negeri 42 Palembang baik secara verbal maupun fisik, faktor di sebabkan karena ketidakmampuan siswa mempertahankan diri, sehingga membuat pelaku perundungan melakukan perbuatan secara terus-menerus. Peran keluarga, pengalaman masa kecil, dan lingkungan sekolah mempunyai dampak berakibat perundungan hingga dalam aktivitaa belajar. Peran guru bimbingan dan konseling dibutuhkan untuk memberikan layanan konseling pada korban maupun pelaku perundungan agar tidak terjadi lagi dan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman dilingkungan sekolah

    Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Role Playing terhadap Peningkatan Kematangan Emosional Pada Siswa SMAS YKPP Dumai

    Full text link
    Abstrak Kematangan emosional memainkan peran penting dalam kehidupan, maka penting diketahui bagaimana perkembangan dan pengaruh emosional terhadap penyesuaian pribadi dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bimbingan kelompok dengan teknik role playing untuk meningkatkan kematangan emosional siswa SMAS YKPP Dumai. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksperimen. Subjek penilitian ini dipilih secara purposive sampling, sampel diambil sebanyak 8 siswa yang memiliki kematangan emosional rendah. Metode pengumpulan data dilakukan dengan angket. Sedangkan teknik analisis data menggunakan uji analisis statistik non parametic uji wilcoxon dan n gain ternomalisasi. Hasil penelitian menunjukkan nilai Asymp sig (2-tailed) sebesar 0,012 < α (0,05) yaitu adanya pengaruh antara bimbingan kelompok dengan teknik role playing terhadap kematangan emosional siswa. Hasil penelitian terdapat perbedaan hasil skor siswa sebelum dan sesudah diberikan treatment. Dimana setelah diberikan treatment 86% siswa berada dalam kategori kematangan emosional tinggi dan 14% di kategori sedang

    Hubungan antara Kongruensi Karier Remaja-Orangtua dan Aspirasi Karier pada Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kongruensi karier remaja- orang tua dan aspirasi karier pada mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Metode yang digunakan adalah korelasi dengan pendekatan kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah 291 mahasiswa tingkat akhir FIP UNJ. Teknik sampling menggunakan teknik convinience sampling. Penggumpulan data dilaksanakan dengan penyebarkan instrumen Adolescent-Parent Career Congruence Scale (APCC) dan instrumen Korean-Career Aspiration Scale (K-CASR) yang telah diadaptasi oleh peneliti. Uji validitas menunjukkan hasil bahwa semua butir valid, kecuali K-CASR pada butir item 3, item 7 dan 14 yang tidak diikutsertakan. Uji reliabilitas pada APCC sebesar 0.933, dan pada K-CASR sebesar 0.887. Hasil uji korelasi antar aspek kedua variabel berada dialam tingkat hubungan sangat rendah adalah complementary congruence dan achievement aspiration dengan hasil 0.182, supplementary congruence dan achievement aspiration berada pada dengan hasil 0.141, supplementary congruence dan leadership aspiration dengan hasil 0.189, serta supplementary congruence dan education aspiration dengan hasil 0.155. Hasil uji korelasi antar aspek yang berada di dalam tingkat hubungan rendah adalah complementary congruence dan leadership dengan hasil 0.238 dan complementary congruence dan education aspiration dengan hasil 0.242. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kongruensi karier remaja-orang tua dan aspirasi karier mahasiswa tingkat akhir di FIP UNJ dengan hasil koefisien korelasi 0.502 dan signifikansi 0.000 (p<0.05).   Kata Kunci: Kongruensi Karier Remaja-Orangtua, Aspirasi Karier, Mahasiswa Akhir FIP UNJPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kongruensi karier remaja- orang tua dan aspirasi karier pada mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Metode yang digunakan adalah korelasi dengan pendekatan kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah 291 mahasiswa tingkat akhir FIP UNJ. Teknik sampling menggunakan teknik convinience sampling. Penggumpulan data dilaksanakan dengan penyebarkan instrumen Adolescent-Parent Career Congruence Scale (APCC) dan instrumen Korean-Career Aspiration Scale (K-CASR) yang telah diadaptasi oleh peneliti. Uji validitas menunjukkan hasil bahwa semua butir valid, kecuali K-CASR pada butir item 3, item 7 dan 14 yang tidak diikutsertakan. Uji reliabilitas pada APCC sebesar 0.933, dan pada K-CASR sebesar 0.887. Hasil uji korelasi antar aspek kedua variabel berada dialam tingkat hubungan sangat rendah adalah complementary congruence dan achievement aspiration dengan hasil 0.182, supplementary congruence dan achievement aspiration berada pada dengan hasil 0.141, supplementary congruence dan leadership aspiration dengan hasil 0.189, serta supplementary congruence dan education aspiration dengan hasil 0.155. Hasil uji korelasi antar aspek yang berada di dalam tingkat hubungan rendah adalah complementary congruence dan leadership dengan hasil 0.238 dan complementary congruence dan education aspiration dengan hasil 0.242. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kongruensi karier remaja-orang tua dan aspirasi karier mahasiswa tingkat akhir di FIP UNJ dengan hasil koefisien korelasi 0.502 dan signifikansi 0.000 (p<0.05).   Kata Kunci: Kongruensi Karier Remaja-Orangtua, Aspirasi Karier, Mahasiswa Akhir FIP UN

    Gambaran Self-Compassion Peserta Didik Sosial Ekonomi Kelas Bawah Pada Jenjang Sma Negeri Se-Kota Bekasi

    Full text link
    Individu sebagai makhluk sosial tentu tidak bisa dihindarkan dari yang namanya interaksi sosial di masyarakat. Adanya interaksi sosial ini akan mempengaruhi pembentukan sebuah kelompok. Kelas sosial telah hadir di hampir setiap masyarakat dan telah menjadi topic sentral dalam ilmu sosial selama berabad-abad. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana self-compassion yang dimiliki oleh peserta didik dengan kelas sosial bawah pada jenjang SMA Negeri se-Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat deskriptif, bertujuan untuk melihat gambaran self-compassion pada peserta didik di Kota Bekasi. Hasil penelitian diperoleh kategorisasi data self-compassion menunjukkan bahwa mayoritas siswa dengan sosial ekonomi kelas bawah memiliki self compassion pada taraf yang tinggi dengan persentase sebesar 65,1% atau 256 siswa dari total secara keseluruhan responden. Hal ini menggambarkan siswa mampu menerima ketidaksesuaian yang terjadi pada dirinya dan dihadapi dengan welas asih yang baik melainkan menghindar dan terputus dari kondisi tersebut. Ketika dihadapi pencarian solusi saat terjadinya suatu masalah yang menimpa, indivisu mampu menghindari pemikiran negatif. Serta tidak melebih-lebihkan suatu hal yang akan membuat individu tenggelam dalam masalahnya. Kecenderungan ini didasarkan pada beberapa kondisi di mana siswa perempuan dilaporkan lebih kritis terhadap diri sendiri daripada siswa laki-laki, dan siswa perempuan berpikir lebih banyak daripada siswa laki-laki tentang kejadian negatif di masa lalu, daripada menghadapinya. Secara rinci, mindfulness siswa laki-laki memiliki skor 16,28 dan siswa perempuan memiliki skor lebih rendah yaitu 16,24 keduanya berada dalam kategori tinggi

    331

    full texts

    358

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇