Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi
Not a member yet
    184 research outputs found

    Faktor Yang Mempengaruhi Penurunan Fraksi Ejeksi Ventrikel Kiri Pada Pasien Kanker Yang Mendapatkan Kemoterapi Doksorubisin Di Rumah Sakit Kanker Dharmais

    Get PDF
    Doksorubisin masih sering digunakan dalam pengobatan kanker. Efek samping doksorubisin terhadap jantung perlu mendapatkan perhatian khusus. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri dan faktor risiko yang mempengaruhinya pada pasien kanker yang mendapatkan kemoterapi doksorubisin di Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD). Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Data diperoleh dari rekam medis pasien. Populasi adalah pasien kanker yang mendapatkan kemoterapi doksorubisin minimal 4 siklus periode Oktober 2011-Oktober 2013. Penilaian fungsi jantung didapatkan dari data Echocardiography jantung yaitu fraksi ejeksi ventrikel kiri sebelum kemoterapi dan setelah siklus terakhir kemoterapi. Penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri ≥10% pada penelitian dinilai sebagai penurunan yang bermakna. Analisis statistik menggunakan software Statistical Products Social Science (SPSS) versi 18. Sebanyak 77 pasien memenuhi kriteria inklusi dan eklusi. Sebanyak 37 pasien (48,05%)  mengalami penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri <10% dan sebanyak  28  pasien  (36,36%) mengalami penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri ≥10%. Hipertensi berpengaruh terhadap penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri ≥10% secara bermakna (p=0,032). Jenis kelamin laki-laki dan radiasi dada kiri menunjukkan adanya kecenderungan berhubungan dengan penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri ≥10% (p=0,095 dan p=0,051). Doksorubisin dapat menyebabkan penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri ≥10% pada lebih dari sepertiga pasien kanker di RSKD dan faktor yang paling mempengaruhinya adalah komorbiditas hipertensi. Kata Kunci: doksorubisin; faktor risiko; penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiriÂ

    Uji Sifat Fisik Dan Aktivitas Ekstrak Daun Petai Cina (Leucaena Glauca, Benth) Dalam Berbagai Tipe Basis Salep Sebagai Obat Luka Bakar

    Get PDF
    Luka bakar merupakan kerusakan jaringan yang dapat disebabkan kontak dengan sumber panas. Daun petai cina mengandung senyawa aktif saponin, alkaloid, flavonoid dan tanin yang mempunyai aktivitas sebagai penyembuh luka bakar. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh tipe basis salep terhadap aktivitas penyembuhan luka bakar dan sifat fisiknya. Ekstrak daun petai cina diperoleh dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%. Ekstrak dibuat salep dengan basis salep hidrokarbon, absorbsi, larut air dan tercuci air. Salep dievaluasi sifat fisik meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, daya lekat, daya sebar, proteksi dan daya penyembuh luka bakar menggunakan hewan uji marmut. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji statistika dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil uji menunjukkan bahwa urutan basis salep yang memberikan homogenitas yang bagus adalah hidrokarbon, absorbsi dan larut air. Urutan daya sebar terluas adalah hidrokarbon, larut air, absorbsi dan tercuci air. Dari hasil uji daya lekat urutan daya lekat dari yang terlama adalah hidrokarbon, absorbsi, larut air dan tercuci air, sedangkan urutan kecepatan penyembuhan luka bakar dari yang tercepat adalah hidrokarbon, absorbsi, larut air dan tercuci air. Diketahui pula bahwa tipe basis tidak mempengaruhi nilai pH. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan basis salep dari urutan terbaik adalah hidrokarbon, absorbsi, larut air dan tercuci air. 

    STUDI RETROSPEKTIF PENYALAHGUNAAN OBAT PADA PASIEN KETERGANTUNGAN OBAT DI RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM

    Get PDF
    Penyalahgunaan obat di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran karakteristik pasien ketergantungan obat, pola penyalahgunaan obat, status rehabilitasi pasien ketika keluar dari rumah sakit dan mengetahui hubungan karakteristik pasien dan pola penyalahgunaan obat terhadap status pengobatan pasien ketika keluar dari rumah sakit. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional dan pengambilan data secara retrospektif. Pengumpulan data dilakukan melalui rekam medik pasien periode Januari 2012-Desember 2013. Analisis data menggunakan uji statistik Frequency dan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan pasien dengan tingkat pendidikan terakhir SD persentasenya 34,2%; SMP 36,8%; SMA 26,3% dan D3 2,6%. Pasien menyalahgunakan obat pertama kali pada usia 11-19 tahun persentasenya 50,0%, 20-29 tahun 42,1% dan 30-39 tahun 7,9%. Pola penyalahgunaan obat untuk jenis NAPZA persentasenya 26,3%; non NAPZA 13,3% dan campuran keduanya 60,5%. Penyalahgunaan obat dengan jumlah 1 item persentasenya 15,8%; 2 item 34,2%; 3 item 34,2%; 4 item 10,53% dan 5 item 5,26%. Status rehabilitasi pasien ketika keluar dari rumah sakit untuk new add persentasenya 5,3%; induction 13,2%; younger 13,2%; middle 28,9%; older 18,4% dan re-entry 21,1%. Hasil uji statistik chi-square menunjukkan tidak ada hubungan antara status pengobatan pasien terhadap pendidikan terakhir (p = 0,722), usia ketika pertama kali menyalahkan obat (p = 0,836) dan jumlah obat yang disalahgunakan (p =0,713).Kata kunci: Studi retrospektif, penyalahgunaan oba

    Uji Antihipertensi Infus Kombinasi Biji dan Rambut Jagung (Zea Mays L.) pada Tikus Jantan (Rattus norvegicus) dengan Metode Tail Cuff Non Invasive

    No full text
    Penggunaan infus kombinasi biji dan rambut jagung sangat luas di masyarakat sehingga dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui uji efek antihipetensi infus kombinasi biji dan rambut jagung (Zea mays L.) pada tikus jantan (Rattus norvegicus), menggunakan metode pengukuran tekanan darah Tail cuff non invasive. Tikus dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu kelompok infus kombinasi rambut dan biji (50:50) dengan dosis 5 mg/gram, kelompok pembanding menggunakan Furosemid 45,75 mg/50 ml dan kelompok kontrolnegatif sebagai placebo. Tekanan darah sistol dan diastol diukur pada menit 30, 60 dan 120 setelah pemberian obat dengan menggunakan metode Tail cuff non invasive. Hasil penurunan tekanan darah kemudian dianalisis menggunakan metode Anova satu jalur dengan membandingkan pengaruh kelompok pelakuan terhadap penurunan tekanan darah tikus. Infus kombinasi biji dan rambut jagung(50:50) memberikan efek penurunan tekanan darah sistol yang sama dengan furosemid (p>0,05), tetapi memiliki efektifitas yang lebih besar terhadap penurunan tekanan darah diastol (p<0,05)

    The Influence of Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) on Piroxicam Absorption with Everted Intestinal SAC Method

    Get PDF
    Oral drug absorption was highly influenced by dissolution rate, especially for poorly and insoluble drugs. Piroxicam is a nonsteroidal anti-inflammatory drug that is practically insoluble in water. The oral absorption rate of piroxicam is dependent on its dissolution rate in the GI tract. Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) as surfactant can increase drug solubility by means of a micelle forming mechanism. The aim of the study was to know the influence of addition and variation of Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) on Piroxicam absorption with everted intestinal sac method.  The  concentration of piroxicam solution was prepared by PVP in  1.0,2.0 and 3.0 % respectively. Crane and Wilson tube containing 75 ml of themucosal fluid was taken at 37 0 C in waterbath. Than, serosal solution of 1.5 mlwas added to intestinal sac by turned upside down and tied to a cannula, then put into the tube containing the mucosal fluid and constantly flowing oxygen gas.Serosal solution of 1 ml were taken every 15 minutes and then diluted with 2 ml of Ba (OH) 2 and 2 ml of ZnSO4 then centrifuge until 25 minute. The absorbant of supernatant was measured by UV spectrophotometer and data analyse wascalculated by one-way ANAVA.  PVP at 1%,2% and 3% increased piroxicamabsorption from the phosphate buffer pH 7.5 compared with negative control.According to P app , the values were 2.52 ± 0.43 cm/minute (negative control), 3.41 ± 2.17 cm/minute (1% PVP), 2.75± 1.14 cm/minute (2% PVP) and 4.77 ± 4.93 cm/minute (3% PVP) respectively. In conclusion. Lower doses of the surfactant (1%, 2%, and 3% PVP) significantly increased absorption of the drug by altering the membrane permeability.

    Quercetin And Curcumin Prevent Decreasing Of LDL-Cholesterol And Increasing Of HDL-Cholesterol In High Fat Diet Rats

    Get PDF
    Cardiovascular disease is number one killer disease in the world. The most common etiology is atherosclerosis. LDL and HDL-cholesterol are often associated with atherosclerosis which are affected by diet. Quercetin and curcumin considered have influenced to LDL and HDL. They are antioxidant that protect against LDL oxidation and raised HDL-cholesterol. In this study, we invest about comparison effect of prevention in LDL and HDL level change, after giving quercetin and curcumin. 20 males Rattus novergicus rats in 200-300 grams divided into 4 groups. Group B, C, D were given high-fat diet for 4 weeks, while group A (negative control) was given standard woof. Group B was positive control and no treatment, C was given quercetin, D was given curcumin. The treatment and giving high-fat diet was done simultaneously to detect prevention effect. HDL and LDL-cholesterol evaluated two times, pre and post-treatment. Result showed the increase prevention level of LDL-cholesterol and decrease prevention level of HDL-cholesterol in group C and D significantly. The best prevention effect is quercetin, p=0.000. Furthermore, we showed there was no significant correlation between DLDL and DHDL-cholesterol level. In conclusion, quercetin and curcumin have a good effect in preventing hypercholesterolemia, however quercetin have better effect than curcumin. 

    Aktivitas Antihipertrigliserida Dan Antihiperglikemik Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam.) Pada Tikus Hipertrigliserida Diabetes

    Get PDF
    Gaya hidup yang tidak sehat (obesitas) menjadi pemicu utama meningkatnya prevalensi diabetes mellitus dan aterosklerosis atau bahkan komplikasi keduanya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh pemberian ekstrak etanol 70% daun kelor (Moringa oleifera Lam.) terhadap penurunan kadar trigliserida dan glukosa darah pada tikus putih hipertrigliseridemia dan diabetes. Penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus yang dibagi menjadi 6 kelompok. Sebagai bahan pembanding digunakan Fenofibrat dengan dosis 9 mg/KgBB dan Glibenklamid dosis 0,9 mg/KgBB. Bahan uji diberikan selama 21 hari menggunakan 3 variasi dosis, yaitu 150 mg, 300 mg dan 600 mg/KgBB. Berdasarkan hasil uji analisa statistik ANOVA satu arah disimpulkan bahwa dosis 300 mg/KgBB dan dosis 600 mg/KgBB mempunyai aktivitas yang sama dalam menurunkan kadar trigliserida darah dibandingkan dengan kontrol positif Fenofibrat dosis 9 mg/KgBB. Sedangkan ekstrak etanol 70% daun kelor dosis 150 mg/KgBB, 300 mg/KgBB dan 600 mg/KgBB mempunyai kemampuan menurunkan kadar glukosa darah tikus yang diinduksi aloksan dan pakan tinggi trigliserida sebanding dengan Glibenklamid dosis 0,9 mg/Kgbb. 

    Efek Pemberian Subkronis Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit (Curcuma Longa Linn.) Pada Hati Tikus

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek toksik ekstrak etanol rimpang kunyit (Curcuma longa Linn.) terhadap hati tikus jantan galur Wistar jika diberikan jangka panjang (subkronis) dengan melihat aktivitas AST dan ALT. Tikus sejumlah 32 ekor, dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok I (kontrol) diberi larutan CMC-Na 0,5%, kelompok II, III dan IV diberi ekstrak etanol rimpang kunyit dosis 50, 100 dan 200 mg/kgBB. Perlakuan selama 31 hari, kemudian data hasil uji dianalisis menggunakan Uji Kruskal-Wallis dilanjutkan Uji Mann-Whitney U dengan taraf kepercayaan 95%. Dari hasil penelititan diketahui bahwa aktivitas AST dosis 50, 100 dan 200 mg/kgBB berturut-turut adalah 18,75±0,03 U/L, 18,75±0,03 U/L, dan 20,39±0,05 U/L. Evektivitas ALT adalah 23,42±0,02 U/L, 23,67±0,03 U/L, dan 24,45±0,05 U/L. Kontrol AST adalah sebesar 18,69±0,03 U/L dan ALT sebesar 23,49±0,02 U/L. Hasil analisis menunjukkan nilai AST dosis 50 dan 100 mg/kgBB tidak berbeda signifikan dengan AST kontrol, tetapi nilai AST dosis 200 mg/kgBB berbeda signifikan dengan kontrol namun masih dalam range normal, nilai ALT ketiga dosis tidak berbeda signifikan dengan ALT kontrol. Kesimpulannya adalah pemberian ekstrak etanol kunyit dosis 50, 100 dan 200 mg/kgBB selama 31 hari tidak menyebabkan toksik pada hati tikus jantan galur Wistar dilihat dari nilai AST dan ALT yang masih dalam range normal.  

    Perbandingan Antara Penggunaan Pengikat Dan Humektan Terhadap Sifat Fisik Sediaan Pasta Gigi Ekstrak Etanol 96% Daun Sosor Bebek (Bryophylum Pinnatum [Lam.] Oken)

    Get PDF
    Daun sosor bebek (Bryophyllum pinnatum [Lam.] Oken) merupakan bahan alam yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Pada pembuatan pasta gigi digunakan Xanthan gum dan Natrium Karboksimetil selulosa sebagai pengikat, serta menggunakan sorbitol dan gliserin sebagai pelembab (humektan). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh penggunaan bahan pengikat dan pelembab (humektan) terhadap stabilitas fisik pasta gigi ekstrak etanol 96% daun sosor bebek. Pasta gigi dibuat dalam 5 formula dengan konsentrasi xanthan gum sebagai pengikat 1,5; 1,75; 2; 2,5; 3%, dan 5 formula dengan konsentrasi sorbitol sebagai humektan 10; 20; 30; 40; 50%. Tiap formula dievaluasi selama 6 minggu meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, tinggi busa. Selain itu dilakukan uji freeze thaw dan sentrifugasi. Hasil data viskositas formula dengan bahan pengikat xanthan gum 232.700 - 555.300 cps, sedangkan hasil data viskositas formula dengan bahan humektan sorbitol 14.133 - 75.600 cps. Berdasarkan hasil, dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi pengikat dalam formula lebih efektif untuk meningkatkan konsistensi dan viskositas sediaan dibandingkan dengan peningkatan konsentrasi pelembab sehingga meningkatkan stabilitas sifat fisik sediaan pasta gigi.

    Aktivitas Antifungi Fraksi Etil Asetat Ekstrak Daun Pacar Kuku terhadap Candida Albicans Resisten Flukonazol

    Get PDF
    Infeksi kandidiasis meningkat selama dekade terakhir di dunia. Peningkatan ini menandai munculnya isolat Candida albicans resisten Flukonazol. Diperlukan obat baru untuk mengatasi permasalahan resistensi ini.  Daun pacar kuku (L. inermis L.) secara empiris mempunyai aktivitas sebagai antijamur. Kandungan kimia daun pacar kuku larut dalam etil asetat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antifungi dari fraksi etil asetat ekstrak daun pacar kuku (L. inermis L.) terhadap strain C. albicans sensitif Flukonazol dan C. albicans resisten Flukonazol. Fraksi etil asetat ekstrak daun pacar kuku (L. inermis L.)dibuat dengan memfraksinasi ekstrak etanol dengan  pelarut etil asetat.Konsentrasi fraksi etil asetat ekstrak daun pacar kuku yang digunakan terhadap C. albicans sensitif Flukonazol dan C. albicans resisten Flukonazol sebesar 10%; 5%; 2,5%; 1,25% dan 0,625%. Pengujian aktivitas antifungi fraksi etil asetat ekstrak daun pacar kuku menggunakan metode mikrodilusi cair dengan parameter pengukuran Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Minimum Fungicidal Concentration (MFC). Nilai MIC dan MFC yang diperoleh sama yaitu sebesar 1,25% untuk C. albicans resisten Flukonazol dan 0,625% untuk C. albicans sensitif Flukonazol. Rasio MFC terhadap MIC yang diperoleh sebesar 1 yang menyatakan bahwa fraksi etil asetat ekstrak daun pacar kuku memiliki daya fungicide. Skrining fitokimia fraksi etil asetat ekstrak daun pacar kuku mengandung fenolik dan kuinon

    154

    full texts

    184

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇