JURNAL GALUNG TROPIKA
Not a member yet
401 research outputs found
Sort by
SISTEM PEMASARAN DAN NILAI TAMBAH PRODUK OLAHAN UBI JALAR KECAMATAN POLONGBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pemasaran dan nilai tambah ubi jalar, yang meliputi: saluran pemasaran, margin pemasaran, efisiensi pemasaran, Farmer Shares dan nilai tambah olahan ubi jalar dalam bentuk bakwan dan pastel ubi jalar. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lassang Barat dan Desa Timbuseng Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar. Adapun Sampel dalam penelitian ini adalah petani dan pedagang yang terlibat dalam proses pemasaran ubi jalar yang dilakukan secara teknik snowball sampling sebanyak 20 orang, sedangkan sampel untuk nilai tambah sebanyak 10 orang yang mengelolah bakwan dan pastel sebagai usaha rumah tangga yang dipilih secara sengaja. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa (1) Saluran pemasaran terdiri dari empat yaitu saluran I: petani-pemilik usaha rumah tangga, Saluran II: Petani Pedagang pengumpul-pemilik usaha rumah tangga, Saluran III: petani-pedagang pengumpul-pedagang pengecer-konsumen, dan Saluran IV: petani-pedagang pengumpul-pedagang besar-pedagang pengecer-konsumen. (2) Margin pemasaran terbesar pada saluran keempat, (3) Efisiensi pemasaran tergolong dalam kategori efisien pada setiap saluran,namun yang paling efisien adalah saluran pemasaran I, (4) Farmer share yang diperoleh terbesar diterima pada saluran pemasaran I yaitu 100%, (5). Nilai tambah yang diperoleh pada pengolahan ubi jalar menjadi bakwan sebesar Rp. 53,483, sedangkan menjadi pastel memberikan nilai tambah Rp. 75.890
EFEKTIVITAS MOL DAUN GAMAL DAN ABU SEKAM PADI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KANGKUNG DARAT (IPOMOEA REPTANS POIR)
Kangkung darat merupakan salah satu sayuran yang mempunyai potensi pemasaran yang luas. Tidak hanya dijual di pasar tradisional, akan tetapi sudah menembus pasar swalayan di kota-kota besar. Penelitian dilaksanakan pada Maret sampai Mei 2015, di lahan praktik Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu: P0 (Kontrol), P1 (Mol 5 mL/L air), P2 (Mol 15 mL/L air), P3 (Abu sekam padi 1.000 g/plot setara 5 ton/ha), dan P4 (Abu sekam padi 1.600 g/plot setara 8 ton/ha). Adapun parameter pengamatan, yaitu: (1) Tinggi tanaman (cm), diukur mulai dari permukaan tanah sampai pucuk tanaman, (2) Jumlah daun (helai), dihitung mulai dari terbentuknya daun pertama sampai panen, dan (3) Berat basah (kg), yaitu berat basah setelah panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pemberian Mol daun gamal dan abu sekam padi memberikan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan berat basah tanaman pada setiap waktu pengamatan. Perlakuan Mol daun gamal 15 mL /L air (P2) memberikan hasil yang terbaik pada setiap parameter pengamatan
PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD AGRICULTURAL PRACTICE (GAP) UNTUK PERTANIAN BERKELANJUTAN DI KECAMATAN TINGGI MONCONG KABUPATEN GOWA
Pertanian berkelanjutan dengan pendekatan prinsip-prinsip Good Agricultural Practice (GAP) sangat sulit diterapkan secara komprehensip pada suatu area atau wilayah pertanian, meskipun upaya kearah pendekatan tersebut terus dilakukan. Untuk terus menggiatkan prinsip pertanian berkelanjutan, maka dilakukan penelitian yang bertujuanuntuk mengetahui tingkat pemahaman petani tentang prinsip-prinsip GAP dan pengaruhnya terhadap nilai ekspektasi manfaat GAP untuk pertanian berkelanjutan pada usaha taninya, serta tingkat implementasi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Tinggi Moncong Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan sebagai sentra produksi tanaman sayuran. Pada petani yang mengusahakantanaman sayuran. Sampel petani dipilih secara acak sederhana (simple random sampling) dari desa yang dipilih secara sengaja. variabel ekosistem adalah lahan miring dan lahan datar. Data ditabulasi dan dianalisis sesuai tujuan penelitian menggunakan analisis data kuantitatif, Analisis regresi berganda dan Independent sampel t test. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman petani hortikultura di kecamatan Tinggi Moncong Kabupaten Gowa tentang prinsip-prinsip dan manfaat penerapan GAP masih sangat kurang, dimana aspek yang paling dipahami hanya aspek Lingkungan. Pemahamanpetani mengenai Prinsip-prinsip GAP yang rendah menyebabkan nilai ekspektasi manfaat penerapan prinsip-prinsip GAP untuk mendukung Pertanian Berkelanjutan diyakini hanya berpengaruh menghasilkan produk pertanian yang aman dikonsumsi dan bermutu lebih baik, sementara aspek berkurangnya serangan OPT, jaminan keselamatan petani dankepastian keberlangsungan usaha tani diyakini tidak banyak pengaruhnya. Tingkat penerapan prinsip-prinsip GAP petani pada Usahataninya pada dua ekosistem lahan miring maupun lahan datar berbeda tidak nyata. Adapun Faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat Implementasi prinsip-prinsip GAP adalah Luas lahan dannilai ekspektasi terhadap manfaat penerapan prinsip-prinsip GA
TINGKAT PENCAPAIAN SIKLUS BIRAHI PADA KAMBING BOERAWA DAN KAMBING KACANG MELALUI TEKNOLOGI LASER PUNKTUR
Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat pencapaian birahi pada kambing boerawa dan kambing kacang dengan penggunaan teknologi laser punktur. Penelitian dilakukan di VBC Kambing Boerawa, Lappa Cenrana Kecamatan Bulupoddo yang berlangsung pada Maret - Apri 2015. Pada penelitian digunakan 10 ekor kambing Boerawa dan 10 ekor kambing Kacang lokal, jenis kelamin betina, umur 10 – 12 bulan atau induk kambing yang telah melahirkan sedikitnya dalam waktu 1,5 bulan , kondisi sehat, tidak dalam keadaan bunting dan tidak dalam keadaan berahi. Untuk mengukur kualitas berahi yang timbul setelah pelaseran, digunakan 2 ekor kambing Pejantan Pengusik yaitu 1 ekor kambing pejantan Boerawa dan 1 ekor pejantan kambing Kacang lokal. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pencapaian siklus berahi melalui penerapan teknologi laser punktur menunjukkan kambing Boerawa memiliki respon lebih tinggi dari pada kambing Kacang, baik dari aspek persentase pencapaian berahi yang mencapai 90%, interval waktu munculnya berahi (onset) maupun kualitas berahi yang dinilai dari beberapa gejala estrus yang diamati
KARAKTERISTIK HABITAT DAN KELIMPAHAN IKAN HIAS INJEL BATMAN (POMACANTHUS IMPERIOR) DI PERAIRAN KABUPATEN PANGKEP, SULAWESI SELATAN
Tujuan penelitian ini adalah mengestimasi dan menganalisis kelimpahan ikan hias Injel Batman (Pomacanthus imperior) berdasarkan kondisi tutupan karang hidup di perairan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Metode penelitian didasarkan pada sampling paralel antara kelimpahan (visual sensus) dan prosentase tutupan karang hidup (Point Intercept Transect) di lokasi penelitian. Lokasi penelitian di Perairan Kepulauan Liukang Tumpabbiring dan Kepulauan Liukang Tangaya. Hasil menunjukkan Kepulauan Liukang Tupabbiring mempunyai kelimpahan ikan 0,00005 ekor.m-2 dengan standing stock 138 ekor dan peraiaran Kecamatan Liukang Tangaya sebanyak 0,005 ekor. m-2 dengan standing stock 35.121 ekor. Kelimpahan ikan Injel Batman tidak berkorelasi positif dengan tutupan karang hidup tetapi keberadaannya dipengaruhi oleh struktur bentuk pertumbuhan karang (karasteristik habitat) yaitu di antara celah karang bercabang, submasive dan masive
ANALISIS USAHA TANI PADI SAWAH MENGGUNAKAN SISTEM LEGOWO DI KECAMATAN KAMANG MAGEK KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT
Salah satu subsektor pertanian yang dijadikan sebagai fokus untuk dikembangkan oleh negara adalah pada bidang tanaman pangan khususnya beras. Dalam pelaksanaannya untuk meningkatkan produktivitas padi sebagai mana yang direncanakan maka dilaksanakan intensifikasi lahan dengan menerapkan penemuan dari tehnologi baru. Pada penelitian ini pemerintah telah melakukan introdusir tehnologi baru dimana dibudidayakan varietas padi unggulan yang diusahakan dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) dimana program ini bertujuan untuk mengenalkan sistem teknologi tanam yang baru yang dinamakan dengan sistem legowo. Berdasarkan hasil penelitian maka didapatkan hasil perhitungan pendapatan dan keuntungan. Dimana komponen biaya yang dibayarkan terdiri dari pembelian benih, pembelian pupuk, upah TKLK, dan sewa alat (traktor). Sedangkan biaya yang diperhitungkan adalah penyusutan peralatan tetap, biaya TKDK dan bunga modal. Dari data didapatkan bahwa pendapatan petani yang menerapkan legowo adalah sebesar Rp14.322.183,33/luas lahan/MT dan keuntungan sebesar Rp 13.916.759,33 atau bila dikonversikan per hektar maka didapatkan pendapatan sebesar Rp 23.135.719,44/Ha dan keuntungan sebesar Rp 16.286.159,07/Ha
ANALISIS JUMLAH TELUR CUMI-CUMI BERDASARKAN MUSIM
Cumi-cumi (Cephalopda) dapat mengisi pasaran internasional sebagai salah satu hasil perikanan, selain ikan dan udang. Salah satu upaya pengelolaan sumber daya cumi-cumi adalah membuatkan tempat sebagai sarang (atraktor) untuk berkumpul berteduh, mencari makan, dan menempelkan telur sehingga populasinya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui musim penempelan telur cumi-cumi dan pola sebaran parameter oseanografi dan kelimpahan telur cumi-cumi berdasarkan ruang dan waktu. Atraktor ditempatkan pada perairan dengan kedalaman 4 - 10 meter. Pengumpulan data jumlah telur yang menenmpel dilakukan pada Musim Peralihan dan Musim Timur tahun 2011-2012. Data dianalisis dengan analisis deskriptif frekuensi kemudian dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney untuk melihat perbedaan yang signifikan antara jumlah telur yang menempel pada atraktor dan perbedaan jumlah telur pada musim yang berbeda. Uji koefisien korelasi Spearmann untuk melihat hubungan jumlah telur dengan faktor lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan musim penempelan telur cumi-cumi di perairan Spermonde khususnya diperairan Pulau Samatellu Lompo terjadi di Musim Timur. Pada musim peralihan, salinitas dan iluminasi cahaya menunjukkan hubungan korelasi positif. Sedangkan pada Musim Timur, kecepatan arus dan salinitas menunjukkan korelasi negatif dengan jumlah telur cumi-cumi yang menempel pada atraktor
POTENSI BIOMASSA TERUBUK (SACCHARUM EDULE HASSKARL) SEBAGAI PAKAN UNTUK PERTAMBAHAN BOBOT BADAN SAPI
Selain dikonsumsi sebagai sayuran, terubuk juga mempunyai potensi sebagai pakan. Diharapkan dapat mengatasi kendala utama yang dihadapi petani dalam meningkatkan produktivitas sapi. Ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam meningkatkan kesejahteraan petani dengan sistem usahatani terpadu. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi biomassa tanaman terubuk, menganalisis pengaruh pakan dari limbah terubuk terhadap pertambahan bobot badan sapi. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Luwuk Timur Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah dan Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Universitas Tadulako Palu. Untuk mengidentifikasi potensi biomassa terubuk yaitu dengan cara menghitung biomassa basah dan kering dengan menghitung luas lahan x jarak tanam x berat segar. Sedangkan analisis laboratorium dilakukan untuk menghitung bahan kering, protein kasar, lemak kasar dan serat kasa. Pertambahan bobot badan sapi dihitung dengan cara menimbang bobot badan sapi sebelum dan setelah pemberian pakan ternak dari terubuk. Hasil penelitian menunjukkan jika ketersediaan limbah terubuk rata-rata sebanyak 11.300 kg/ha maka limbah terubuk mampu memenuhi kebutuhan ternak 4 ekor sapi selama 90 hari. Sedangkan potensi kualitas tanaman terubuk mengandung bahan kering 13%, protein kasar 3,15% dan lemak kasar 1,28% serta mengandung serat kasar 41, 27% dan BETN 42,41%. Pertambahan berat badan ternak sapi yang diberi terubuk sebanyak 7,5 kg pagi dan sore memberikan pertambahan berat badan 0,03 kg/ekor/hari
ANALISIS BUDIDAYA UDANG WINDU (PENAEUS MONODON FABR.) TEKNOLOGI SEDERHANA KE TEKNOLOGI MADYA DITINJAU DARI SEGI FINANSIAL
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Pangkep Maret sampai April 2009. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah teknologi yang digunakan untuk mengubah usaha budidaya udang windu dari teknologi sederhana ke teknologi madya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Populasi penelitian adalah pemilik penggarap usaha budidaya udang windu teknologi sederhana dan teknologi madya. Analisis data yang digunakan adalah analisis keuntungan/pendapatan dan kelayakan usaha. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan keuntungan usaha budidaya udang windu petani teknologi madya sangat berbeda nyata dengan keuntungan usaha budidaya udang windu petani teknologi sederhana (hasil perhitungan uji-t ternyata t-hitung jauh lebih besar dari pada hasil perhitungan t-tabel). Keuntungan petani teknologi madya jauh lebih tinggi dibanding dengan keuntungan petani teknologi sederhana (hasil analisis keuntungan). Peningkatan teknologi yang digunakan untuk mengubah usaha budidaya udang windu dari teknologi sederhana ke teknologi madya adalah layak untuk diterapkan. Analisis kelayakan menunjukkan cash flow sebesar Rp. 81.838.817, pay back periodenya 1 tahun 5 bulan dan Net Present Value positif (Rp. 58.129.963), serta Benefit Cost Ratio lebih besar satu, yaitu 1,734
SIMULASI MODEL AQUACROP UNTUK ANALISIS PENGELOLAAN AIR TANAMAN PADI LADANG
Kekurangan pangan menjadi hal yang sangat sering dipertimbangkan saat ini. Faktor yang tak bisa dihindari dari kekurangan pangan saat ini adalah fluktuasi perubahan iklim dan cuaca. Kekurangan pangan tersebut dapat dipenuhi dengan penyediaan produksi padi pada lahan kering melalui tanaman padi ladang. Tujuan penelitian untuk (1) mengadaptasi dan menguji kemampuan model; (2) menentukan interaksi faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pengelolaan lingkungan produksi; (3) memperoleh informasi ataupun prediksi pengelolaan lingkungan produksi. Penelitian dilaksanakan di Teaching Farm Universitas Hasanuddin Makassar Sulawesi Selatan, pada Februari sampai Juni 2013, menggunakan metode pengumpulan data melalui (1) Pengamatan langsung dilapangan (Field research), (2) Pengujian Contoh Tanah Di Laboratorium (3) Studi pustaka (library research), dan metode analisis datanya menggunakan dua software yaitu software ETo Calculator (V.3.2) dan Software Aquacrop (V.04) Metode analisis menggunakan dua program yaitu ETo Calculator Versi 3.2 dan program aquacrop versi 4.0 tahun 2012. Hasil penelitian menujukan dari hasil simulasi kebutuhan air tanaman padi ladang, total air tesedia terendah pada tahun 2005 yaitu 2,71 mm.hari-1 sedangkan tertinggi pada tahun 2008 yaitu 289,2 mm/hari. Secara ideal simulasi yang dilakukan dapat dilihat pada tahun 2007-2011 dimana produksi meningkat dari 1,93 ton/ha menjadi 2,61 ton.ha-1. Berdasarkan validasi yang dilakukan model terhadap hasil produksi menggunakan data BPS Sulsel, model mampu dijalankan dengan baik dengan ketepatan prediksi mencapai 87,0 %. Output dari program akan sangat membantu para pengguna di bidang pertanian