JURNAL GALUNG TROPIKA
Not a member yet
401 research outputs found
Sort by
RESPON PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN CABAI MERAH
Masalah yang dihadapi dalam pengembangan tanaman cabai adalah tingginya penggunaan pupuk anorganik di tingkat petani. Hal ini mendorong dilakukan penelitian yang menggunakan pupuk organik. Penelitian ini Bertujuan untuk menganalisis respon tanaman cabai merah pada penggunaan pupuk organik cair. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri dari lima perlakuan yaitu pemberian pupuk organik cair masing-masing 50 ml, 60 ml, 70 ml, 80 ml, 90 ml per liter air dan kontrol yang diulang masing-masing 5 kali sehingga terdapat 30 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter tinggi tanaman dan jumlah daun berpengaruh nyata pada taraf Uji JBD 0,05 pada pengamatan umur 49 hari setelah tanam (HST), pada perlakuan pupuk organik cair 70 ml membrikan hasil tertinggi terhadap tinggi tanaman dengan nilai 41,8 cm; dan parameter jumlah daun dengan nilai 191,8 helai, terhadap pertumbuhan tanaman. Parameter cabang produktif berpengaruh nyata pada perlakuan 50 ml nilai rata-rata tertinggi 21 unit, sedangan umur berbungah paling cepat pada perlakuan 50 ml dengan nilai 35 HST dan paling lambat pada perlakuan 90 ml dengan nilai rata-rata 37,8 hari. Parameter rata-rata jumlah buah dan berat buah berpengaruh tidak nyata dengan memberikan rata-rata tertinggi pada 50 ml dengan nilai 30 buah dan 80 ml pada bobot berat buah dengan nilai 187 gr per pohon setiap polybag
ANALISIS SENYAWA FORMALDEHID (FORMALIN) PADA DAGING AYAM DI KOTA MAKASSAR
Pemenuhan gizi yang harus diperhatikan adalah ketersediaan pangan atau ketahanan pangan (food security) dan keamanan pangan (food safety). Hal ini berarti makanan harus tersedia dalam jumlah cukup dan juga harus aman untuk dikonsumsi, seperti bebas dari zat pengawet yang berbahaya dalam hal ini formalin serta bebas dari cemaran mikroba patogen. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menganalisis senyawa formaldehid (formalin) pada daging ayam di kota Makassar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes kit formalin, jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 13 sampel yang diambil secara random pada tiap populasi. Hasil dari penelitian ini ialah dari tiga belas sampel yang diuji, semuanya negatif atau tidak mengandung formalin, dengan kata lain sebaran daging ayam di kota Makassar termasuk kategori bebas dari pengawet formalin tersebut sehingga layak konsumsi oleh konsumen
FORMULASI BIOCHAR DAN KOMPOS TITONIA TERHADAP KETERSEDIAAN HARA TANAH ORDO ULTISOL
Penelitian ini bertujuan mengetahui formula yang tepat pemanfaatan biochar tempurung kelapa dan kompos titonia terhadap ketersediaan hara pada tanah ordo Ultisol. Adapun perlakuan yang digunakan yaitu 100 % Biochar tempurung kelapa + 0 % Kompos titonia, 75 % Biochar tempurung kelapa + 25 % Kompos titonia, 50 % Biochar tempurung kelapa + 50 % Kompos titonia dan 25 % Biochar tempurung kelapa + 75 % Kompos titonia. Parameter yang diamati meliputi analisis tanah awal dan analisis setelah inkubasi selama enam minggu. Analisis meliputi, pH, Al-dd, N-total, C-organik, C/N, P-tersedia, K-dd, Mg-dd, dan Ca-dd. Hasil penelitian menunjukkan formulasi biochar dengan kompos titonia dengan perlakuan 75 % Biochar tempurung kelapa + 25 % Kompos titonia, 50 % Biochar tempurung kelapa + 50 % Kompos titonia dapat meningkatkan ketersediaan hara terhadap tanah Ultisol
THE IGNORANCE OF INDIGENEOUS PROPERTY RIGHTS THROUGH THE RESETTLEMENT PROGRAM IN INDONESIA
Based on consideration of the inequality of population distribution between the island of Java, Indonesia's population policy focused on the equal distribution of the population with the application of transmigration policies. Transmigration policy in Indonesia is not only about population policy, but also is part of a strategy for economic modernization and the introduction of plantation markets outside Java. The purpose of this study was to analyze the impact of transmigration policies on the environment and local residents. This research is a descriptive study by trying to describe the impact of the population equalization policy in Indonesia. Based on this research shows that the ecological impact arising from this transmigration policy is deforestation and contributes greatly to the loss of forest areas. In addition, this population policy has an impact on the local population. The most common social conflict between local residents and transmigrants is the marginalization and loss of local culture, competition in business aspects and lack of concern from the government for local residents
KONTRIBUSI PENERAPAN SISTEM TANAM LEGOWO TERHADAP PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHATANI PADI DI KECAMATAN TANETE RIATTANG KABUPATEN BONE
Teknologi jajar legowo 2:1 adalah teknik rekayasa tanam antar rumpun dan antar barisan. Teknik ini menyebabkan pemadatan rumpun padi dalam barisan dan melebar antar jarak barisan. Rumpun padi pada barisan pinggir memperoleh manfaat sebagai tanaman pinggir. Kabupaten Bone adalah salah satu daerah di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki potensi lahan sawah yang luas. Kecamatan Tanete Riattang adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bone dengan luas panen 2.089 Ha dan luas produksi sebesar 13.258 Ha dengan Indeks Pertanaman (IP) mencapai 200-300. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Ta’, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone. Jumlah sampel sebanyak 30 orang petani yang terdiri dari 15 orang petani sistem tanam legowo dan 15 orang petani sistem tanam non legowo. Untuk mengetahui tingkat keuntungan menggunakan teknologi jajar legowo digunakan analisis pendapatan, analisis R/C ratio, dan analisis komparatif. Rata-rata produktivitas lahan untuk sistem tanam jajar legowo 1.436 ton/ha dengan total rata-rata pendapatan petani sebesar Rp 3.366.885,-. Rata-rata produktivitas untuk tanam non jajar legowo 0,566 ton/ha dengan total rata-rata pendapatan petani sebesar Rp 2.726.759,-. Nilai R/C ratio sebesar 2.61, yang berarti bahwa usahatani dengan pola tanam jajar legowo layak untuk diusahakan
Budidaya Sugar apple(Srikaya) new variety di Bejana Gelap
Alangkah senang hati Tryman Sutandya. Srikaya new varietas koleksi dalam pot memamerkan buah. Pada dahan-dahan pohon setinggi 1,5 m itu bergelantungan 10 buah berwarna hijau pucat. Saat matang ditandai kulit kekuningan , buah dipanen dengan penuh sukacita.
Itu kali kedua srikaya genjah itu berbuah. Panen pertama 3 bulan sebelumnya dipetik 4 buah. Waktu itu umur tanaman 2 tahun dari bibit asal susuan. Tabulampot Annona squamosa rajin berbuah juga Mitrausahatani lihat di kediaman Yos Sutikno di Sentul Bogor. Sejak pertama kali panen pada 2005, buah muncul sambung-menyambung.
Menurut Prakoso Heryono, penangkar buah di Demak, Jawa Tengah, new varietas memang unggul. Umur berbuah genjah. Bibit asal susuan belajar berbuah pada umur setahun; dari biji, 3 tahun. Delima bintang sebutan srikaya di Aceh pun tak pelit buah. Dari tanaman berumur 3 tahun dipetik 12—15 buah berbobot rata-rata 600 g. Pantas dengan sifat cepat dan rajin berbuah, anggota famili Annonaceae itu pas dijadikan tabulampot.
Suka matahari
Supaya tabulampot atisu walanda sebutan di Minahasa unggul itu prima berbuah di pot, ada perlakuan tertentu. “New varietas butuh cukup air tapi tidak mau tergenang,” kata Yos Sutikno. Makanya pemilihan media penting. Yos menggunakan campuran media sekam bakar, sekam mentah, tanah liat, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1:1.
Sementara Tryman menggunakan media kombinasi tanah liat dan sekam bakar dengan proporsi seimbang. Dengan begitu media porous sehingga air mudah lewat. Sebelum media dimasukkan ke pot, tambahkan tumpukan styrofoam supaya drainase makin lancar. Yos memilih wadah pot berbahan plastik berwarna gelap supaya tahan lama. Tryman menggunakan bejana air berukuran 250 ml yang dibelah menjadi 2 bagian.
Selain media, penambahan hara juga krusial. Tryman memberikan 1 sendok teh pupuk NPK seimbang—setara 5 gram. Pupuk dilarutkan dalam 2 liter air dan diaduk bersama 15 ml minyak ikan dan 0,5 sendok teh vitamin tumbuhan mengandung mineral dan unsur hara mikro.
Campuran itu disiramkan ke media setiap bulan. Setiap kali campuran media berkurang terlihat dari akar tanaman yang muncul pria berkacatamata itu menambahkan 1 jerigen pupuk kandang asal kotoran sapi dan kambing sekitar 3 kg. Yos memilih durasi pemupukan per 2 bulan dengan dosis 1 sendok makan kira-kira 5 g per tanaman.
New varietas suka panas, tapi butuh air banyak. Jadi sarkaja nama di Madura itu diletakkan di tempat terkena sinar matahari penuh. Tryman memajang tabulampot new varietas di teras atas rumah. Di sana srikaya terkena sinar matahari sepanjang hari. Penyiraman setiap pagi dan sore hingga media basah. Kurang air menyebabkan daun menguning.
Sandingkan lokal
Bila tanaman masih malas berbuah, dilakukan pemangkasan cabang. Dengan dipangkas, tunas baru yang membawa calon bunga bermunculan. Yos memangkas sepanjang 30 cm dari setiap percabangan. Pemangkasan juga dilakuan setiap kali selesai panen.
Setelah memangkas, importir buah itu menambahkan 2—3 kg pupuk kandang di bagian atas media. Itu berbarengan dengan penambahan NPK seimbang sebanyak 1 sendok makan. Lapisan pupuk lalu ditutup kembali dengan tanah liat. Selang sebulan, Yos menambahkan campuran KC1 dan KNO3 sebanyak 1 sendok makan. “Fungsinya merangsang bunga,” katanya.
Saat bunga muncul, perlu penyerbukan bantuan agar tingkat keberhasilan menjadi buah lebih tinggi. Tanpa bantuan, pembuahan kurang sempurna. Buah yang dihasilkan berbentuk abnormal—misal kecil dan bengkok-bengkok. Itu lantaran kepala putik matang lebih dulu ketimbang benangsari. Makanya agar sempurna penyerbukan perlu dibantu.
Cara yang lazim dilakukan dengan mengoleskan serbuksari dari satu bunga ke kepala putik di bunga lain menggunakan kuas. Bisa juga dengan cara ditiupkan. Supaya putik mudah dioles, seludang bunga pembungkus putik dibuka lebih dulu. Ciri putik siap kawin berlendir. Daripada repot, Yos menyandingkan new varietas dengan srikaya lokal sehingga terjadi penyerbukan silang.
Buah yang muncul kemudian diseleksi. Hanya buah yang terlihat normal yang dipertahankan. Tujuannya supaya ukuran buah maksimal dan tanaman tidak kelelahan “menyuapi” banyak buah. Bila terlalu banyak “menggendong” buah, tanaman bakal mati kehabisan tenaga. Tryman malah membuang semua pentil pada 2 musim pertama. Itu supaya tanaman lebih produktif musim berikutnya.
Pembungkusan untuk menghindari lalat buah
New varietas relatif tahan hama dan penyakit. Musuh utamanya kutu putih dan ulat daun. Pencegahan dilakukan dengan menyemprotkan insektisida dan membungkus buah. Tryman menggunakan campuran insektisida berbarengan dengan pupuk daun—sesuai dosis—setiap 2 minggu. Yos menyemprotkan insektisida setiap bulan. Buah dibungkus ketika seukuran bola pingpong. Tiga bulan sejak bunga muncul, buah matang dan siap dinikmati.
Setelah itu jangan lupa untuk mengulang perlakuan seperti awal: terutama pemupukan. “Ibarat seorang ibu setelah melahirkan, tenaganya habis terkuras. Jadi perawatan harus intensif,” tutur Prakoso
INFEKSI PARASIT ANISAKIS PADA IKAN TUNA DAN CAKALANG DI PERAIRAN SELAT MAKASSAR
Anisakis spp. merupakan endoparasit yang bersifat zoonosis (penyakit pada ikan yang dapat ditularkan ke manusia). Infeksi pada manusia bersifat insidental, berdampak terhadap kesehatan manusia dan menyebabkan beberapa gejala seperti nyeri perut, mual, muntah dan reaksi alergi. Peningkatan produksi perikanan tangkap terutama ikan tuna dan cakalang memerlukan informasi mengenai food safety (keamanan pangan) ikan-ikan tersebut, metode pengolahan, dan orientasi ekspor. Hal inilah menjadi dasar dilakukan penelitian kajian prevalensi parasit Anisakis pada ikan tuna dan cakalang di Selat Makassar guna menunjang keberhasilan dunia perikanan baik dalam bidang penangkapan maupun budidaya tahun 2020 mendatang. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis mikrohabitat parasit Anisakis dalam tubuh ikan (usus, hati, otot, dan jantung) pada ikan tuna dan cakalang di Selat Makassar. Pengambilan sampel dilakukan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kasiwa Mamuju dan dianalisis di Laboratorium Parasit SKIPM Mamuju-Sulawesi Barat. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa jenis parasit Anisakis spp. yang menginfeksi ikan Cakalang dan ikan Tuna tergolong dalam Anisakis tipe I yang ditandai dengan adanya boring tooth pada bagian ujung anterior dan mucron pada bagian ujung posterior
OPTIMASI BAHAN PENUTUP BENIH DALAM BUDIDAYA TANAM LANGSUNG TRUE SHALLOT SEED (TSS)
Benih botani bawang merah atau True Shallot Seed (TSS) merupakan bahan tanam alternatif dalam budidaya bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan pembuatan pelet TSS serta mengetahui pengaruh penutup benih terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah yang ditanam langsung di lapangan. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Kersana Brebes dengan ketinggian 10 m dpl pada bulan Juni – September 2010. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan berupa kombinasi bahan tanam yaitu biji TSS tunggal dan pelet TSS dengan berbagai bahan penutup tanah yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelet TSS memiliki tingkat daya kecambah serta hasil yang rendah dibandingkan TSS tunggal, namun ukuran umbi tidak berbeda. Sedangkan bahan penutup, tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil TSS. Perlakuan terbaik diperoleh pada bahan tanam berupa TSS tunggal dengan penutup benih berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang
KARAKTERISTIK FISIKO-KIMIA SIRUP MANGROVE PIDADA DENGAN PENAMBAHAN CMC DAN LAMA PEMANASAN
Sirup adalah sari buah pekat yang diperoleh dengan cara pengepresan daging buah dan dilanjutkan dengan pemekatan baik dengan cara pendidihan biasa maupun dengan cara lain seperti penguapan dengan hampa udara. Kelemahan dari pembuatan sirup buah pidada yaitu mudah terbentuknya endapan pada dasar sirup. Salah satu upaya untuk memperbaiki mutu sirup pidada tersebut adalah dengan cara menambahkan bahan penstabil seperti CMC dan kombinasi lama pemanasan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa pengaruh CMC terhadap karakteristik mutu sirup pidada, menganalisa lama pemanasan terhadap karakteristik mutu sirup pidada dan menjabarkan analisa kombinasi CMC dan lama pemanasan terhadap karakteristik mutu sirup pidada. Berdasarkan pengujian secara statistik menggunakan ANOVA, menunjukkan bahwa penambahan CMC memberikan pengaruh terhadap pH, dan viskositas sirup mangrove pidada. Sedangkan perubahan lama pemanasan berpengaruh nyata terhadap kadar air dan viskositas sirup mangrove pidada. Kombinasi antara penambahan CMC dan lama pemanasan berpengaruh nyata terhadap viskositas sirup mangrove pidada
KAJIAN UJI KONFRONTASI TERHADAP BAKTERI PATHOGEN DENGAN MENGGUNAKAN METODE SEBAR, METODE TUANG DAN METODE GORES
Peningkatan kualitas hasil pengujian konfrontasi terhadap bakteri pathogen maka dianggap perlu melakukan suatu penelitian di laboratorium untuk mengkaji lebih mendalam pengujian dengan metode sebar, metode tuang atau metode gores dengan menggunakan bahan serapan paper disk. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan yaitu : (A) Uji konfrontasi dengan metode tuang, (B) Uji konfrontasi dengan metode sebar dan (C) Uji konfrontasi dengan metode gores, masing-masing perlakuan dilakukan tiga kali pengulangan. Peubah yang diamati meliputi (1) Kerataan pertumbuhan bakteri pathogen di permukaan media, (2) Lama waktu mengkultur dan (3) Resiko kontaminasi dari setiap metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji konfrontasi dengan metode tuang adalah yang terbaik, dengan keunggulan sebagai berikut; permukaan bakteri lebih halus dan merata di seluruh permukaan media sehingga zona bening nampak lebih jelas dan pengukuran diameter lebih mudah, durasi waktu yang digunakan untuk mengkultur satu cawan petri lebih singkat dan resiko kontaminasinya lebih sedikit apabila dibandingkan dengan kolaborasi metode sebar dan gores. Dengan demikian metode tuang merupakan metode terbaik yang dapat diterapkan di laboratorium dalam melakukan uji konfrontasi terhadap bakteri pathogen