JURNAL GALUNG TROPIKA
Not a member yet
401 research outputs found
Sort by
PENGARUH SUHU DAN WAKTU EKSTRAKSI IKAN TOMAN (Channa micropeltes) MENJADI SERBUK ALBUMIN
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh suhu dan waktu ekstraksi ikan toman sehingga akan menghasilkan kualitas serbuk albumin yang baik secara fisik dan kimia. Metode yang digunakan dalam proses ekstraksi ikan toman adalah menggunakan sistem pengukusan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak lengkap faktorial dengan 2 faktor yaitu suhu 70°C (A1), 80°C (A2) dan 90°C (A3) dan waktu pemanasan 25 menit (B1), 30 menit (B2) dan 35 menit (B3). Hasil penelitian menunjukkan kualitas crude ikan toman dengan perlakuan A1B1 (suhu 70oC dengan waktu 25 menit) merupakan perlakuan terbaik. Hal ini ditunjukkan dari nilai kadar albumin yang tinggi yaitu sekitar 0.0098 g/dl. Hal inilah yang membuktikan kandungan albumin ikan toman mempunyai kelebihan yang sama dengan ikan gabus. Selanjutnya, perlakuan terbaik yang dihasilkan dijadikan serbuk albumin. Hasil analisa kandungan protein sekitar 53,17%; kadar lemak 8,45%; kadar air 8,04%; kadar abu 8,36%; kadar karbohidrat 21,98%; kadar Zn 0,33 mg/L. Uji hedonic serbuk albumin yaitu kenampakan sekitar 7,0 (suka); warna sekitar 5,8 (agak suka); dan bau sekitar 4,6 (biasa). Hasil analisa fisik dan kimiawi serbuk albumin ikan toman yang terbaik memiliki kandungan protein tinggi dan kadar lemak yang tinggi. Hasil pengujian hedonic serbuk albumin yaitu kenampakan yang dihasilkan masih dalam bentuk granula sedikit kasar, warna kecoklatan dan masih tercium aroma amis ikan
KANDUNGAN SELLULOSA, HEMISELLULOSA DAN LIGNIN PAKAN KOMPLIT BERBASIS TONGKOL JAGUNG YANG DISUBSTITUSI Azolla pinnata PADA LEVEL YANG BERBEDA
Pemanfaatan limbah pertanian seperti tongkol jagung menjadi solusi untuk mengatasi masalah pakan. Azolla pinnata juga merupakan salah satu tanaman paku dan dianggap gulma oleh petani. Tanaman ini memiliki potensi sebagai pakan bagi ternak ruminansia, ketersediaan yang tinggi serta kandungan nutrisi yang cukup baik merupakan pertimbangan penggunaannya sebagai pakan ternak. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kandungan serat pada pakan yang diberi Azolla pinnata dengan level yang berbeda. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan dan diulang tiga kali sehingga terdapat 9 satuan percobaan. Peubah yang diamati untuk melihat respon terhadap perlakuan yang diberikan adalah kandungan sellulosa, hemisellulosa dan lignin yang dianalisis menggunakan metode analisis Van-Soest. Hasil analisis ragam pakan komplit berbasis tongkol jagung dengan penambahan Azolla sebagai pakan ternak ruminansia berpengaruh sangat nyata (P>0,05) terhadap kandungan sellulosa, hemisellulosa dan lignin. Kandungan sellulosa yang diperoleh berkisar antara 18,67% sampai dengan 22,42%. Kandungan hemisellulosa pakan komplit berkisar antara 25,60% - 28,40% sedangkan kandungan lignin berkisar antara 8,60% - 9,40%
PENAMBAHAN TEPUNG IKAN CAKALANG SEBAGAI SUMBER PROTEIN PADA PEMBUATAN BUBUR TALAS INSTAN
Talas merupakan pangan yang mengandung karbohidrat tinggi yaitu 70-80% namun kurang termanfaatkan. Salah satu produk olahan yang bisa menggunakan talas sebagai bahan baku yaitu bubur instan. Kandungan karbohidrat yang tinggi pada talas sangat cocok untuk dijadikan sebagai sumber energi. Disisi lain talas mengandung komponen gizi seperti protein, vitamin, dan gizi lain yang sangat sedikit sehingga perlu dilakukan penambahan dari bahan lain untuk menghasilkan produk olahan yang bergizi. Penambahan sumber protein dapat dilakukan dengan menambahkan tepung ikan cakalang. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan 4 perlakuan, yaitu tepung talas 100 g; tepung talas 90 g, tepung : ikan cakalang 10 g; tepung talas 80 g : tepung ikan cakalang 20 g; dan tepung talas 70 g : tepung ikan cakalang 30 g. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan dengan tepung talas 70 g dan tepung ikan cakalang 30 g adalah perlakuan terbaik dengan komposisi gizi kadar air 11,53%, kadar protein 3,79%, kadar lemak 2,30%, kadar abu 5,64%, kadar serat kasar 1,49%, kadar karbohidrat 44,43%. Selain itu disukai oleh panelis dari segi rasa, warna, aroma, dan tekstur
PERBANDINGAN BERBAGAI BAHAN PENGIKAT DAN JENIS IKAN TERHADAP MUTU FISH NUGGET
Salah satu kebutuhan masyarakat perkotaan saat ini adalah tersedianya bahan makanan yang praktis, yaitu yang bersifat ready to cook (siap untuk dimasak) dan ready to eat (siap untuk dimakan). Ready of cook artinya hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menyiapkan makanan. Salah satu bentuk makanan yang bersifat ready to cook adalah nugget. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan berbagai bahan pengikat dan jenis ikan yang berbeda dalam menghasilkan mutu fish nugget dengan mutu fisik, kimia dan mutu organoleptik yang baik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Faktorial dengan dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama adalah jenis bahan pengikat, meliputi: Tepung Terigu; Tepung Tapioka; Tepung Maizena dan Tepung Kentang. Faktor kedua adalah jenis ikan, yaitu: Ikan Tongkol dan Ikan Tenggiri. Setiap perlakuan diulang sebanyak 2 kali. Peubah yang diamati meliputi kadar air, lemak, protein, abu, serat kasar, karbohidrat dan uji kekerasan. Untuk melihat perbandingannya maka dilakukan pengamatan terhadap nugget sebelum dan setelah digoreng. Selain itu, dilakukan pengamatan terhadap uji organoleptik dan uji daya serap minyak. Data pengamatan dianalisis menggunakan uji F kemudian dilanjutkan dengan uji Tukey Honestly Significant Difference (Tukey-HSD) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan tepung maizena dan ikan tenggiri disukai oleh panelis (memiliki sifat fisik empuk dan penyerapan minyak rendah) dan sifat kimia (KA 56.80%, Protein 19.54%, Kadar Lemak 4.55% dan Karbohidrat 17.58%) memenuhi syarat mutu Nuget Standar Nasional Indonesia No.01-6683-2002
KADAR PROTEIN TEPUNG CEKER AYAM DAN TINGKAT KESUKAAN BISKUIT DENGAN SUBTITUSI TEPUNG CEKER
Pemanfaatan kaki ayam di Indonesia atau lebih dikenal dengan sebutan ceker ayam pada umumnya hanya digoreng, dimasak untuk campuran sup, campuran sayur, bubur, dibuat krecek rambak, direbus untuk diambil kaldunya, atau digunakan sebagai campuran makanan hewan. Hal ini terjadi karena kurangnya informasi dan ketersediaan teknologi pengelolaan yang tepat serta manfaat produk kaki ayam yang dihasilkan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kandungan protein tepung ceker ayam dan mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap biskuit yang disubtitusi tepung ceker ayam. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Parepare pada bulan Juli-Agustus 2017. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama proses pembuatan tepung ceker ayam dan analisis kimianya. Tahap kedua adalah menentukan persentase yang tepat pada proses pembuatan biskuit dengan subtitusi tepung ceker ayam. Tahap ketiga adalah menentukan tingkat kesukaan biskuit yang paling disukai oleh panelis berdasarkan peubah warna dan tekstur. Tahap ketiga diuji mengggunakan metode hedonic berskala 1-5 menggunakan 20 panelis semi terlatih. Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah oven, wadah plastik, ayakan, pisau, dan rolling pin, tepung terigu protein rendah, air, gula pasir, telur, margarin, susu bubuk, baking powder, kertas label, kemasan plastik, vanili dan air. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) program SPSS Versi 16 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung ceker ayam memiliki kadar protein yang sangat tinggi yaitu 49,36%. Tingkat kesukaan panelis atas variabel warna dan tekstur, yaitu biskuit dengan subtitusi tepung ceker ayam dengan level 5%
PENENTUAN KOMODITAS UNGGULAN DAN STRUKTUR KOMODITAS HORTIKULTURA DI KECAMATAN TINGGIMONCONG KABUPATEN GOWA BERDASARKAN LOCATION QUOTIENT (LQ) DAN KLASSEN TYPOLOGY (KT)
Sektor pertanian khususnya tanaman hortikultura masih merupakan penyumbang devisa terbesar dan mata pencaharian utama warga Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Wilayah dataran tinggi ini selain dikenal sebagai penghasil komoditas hortikultura, juga daerah penyangga Hulu DAS Jeneberang. Secara turun temurun Agribisnis dan usaha tani berbagai komoditas hortikultura ditentukan berdasarkan pilihan petani dan permintaan pasar serta musim yang ada. Penentuan ini dilakukan tanpa adanya analisis mendasar komoditas apa yang sebaiknya lebih diutamakan sebagai komoditas unggulan pada musim tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis berbagai jenis komoditi hortikultura unggulag yang ada, (2) menganalisa ketepatan pemilihan komoditas hortikultura yang diusahakan petani, dan (3) mengkaji struktur pertumbuhan berbagai komoditi hortikultura di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa. Populasi penelitian adalah petani yang mengusahakan tanaman hortikultura, sedang sampel desa/kelurahan dipilih secara sengaja (purposive sampling), sampel petani dipilih secara acak sederhana (simple random sampling). Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara observasi, wawancara dengan daftar pertanyaan dan pencatatan, didukung dengan data sekunder. Data dianalisis menggunakan metode Location Quotient dan Klassen Typologi. Hasil penelitian menunjukan komoditi unggulan hortikultura berdasarkan analisis LQ di Kecamatan Tinggimoncong adalah yaitu Markisa (LQ = 1,03 ), Kentang (LQ=4,01), Tomat (LQ =3), Wortel (LQ=1,51), Kubis (LQ = 1,30), Sawi Putih (LQ=1,04) dan Pisang (LQ=1,1). Struktur pertumbuhan komoditi Berdasarkan Analisis Klassen Typologi struktur pertumbuhan komoditi unggulan hortikultura di Kecamatan Tinggimoncong tersebut yaitu komoditi yang tergolong maju dan bertumbuh cepat adalah Markisa, Kentang, dan Tomat. Komoditi yang maju dan bertumbuh tapi lambat adalah Wortel, Sawi Putih dan Kubis, serta komoditi yang termasuk unggulan tetapi relatif tertinggal dari komoditas lain adalah Pisang
KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU (Epinephelus sp.) SISTEM KERAMBA JARING APUNG DI KECAMATAN MONANO
Pemanfaatan sumberdaya alam pesisir yang optimal seharusnya dilakukan pada lokasi-lokasi yang sesuai. Perairan Kecamatan Monano sebagai salah satu wilayah yang memiliki sumberdaya pesisir dan laut yang cukup melimpah sangat potensial untuk pengembangan budidaya laut khususnya untuk budidaya ikan Kerapu (Epinephelus sp.) pada Keramba Jaring Apung (KJA). Informasi berupa data mengenai kelayakan lokasi yang menjadi salah satu faktor penentu berhasil tidaknya suatu usaha budidaya belum tersedia. Oleh karena itu perlu adanya kajian ilmiah yang bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lahan budidaya Ikan Kerapu sistem Keramba Jaring Apung (KJA) di Kecamatan Monano. Pengambilan data dilakukan pada delapan stasiun yang ditentukan secara purposive sampling dari pengamatan secara langsung di lapangan dan pengamatan kualitatif melalui interpretasi image satellite google Kecamatan Monano Kabupaten Gorontalo Utara, sehingga diperoleh gambaran umum lokasi dan kondisi biofisik perairan. Pengukuran parameter lingkungan dan kualitas air dilakukan secara insitu dan analisis laboratorium. Pengambilan sampel air dilakukan sesuai petunjuk Effendi (2003). Analisis data menggunakan modifikasi matriks kesesuaian, indeks kesesuaian dan kelas kesesuaian kemudian dianalisis secara spasial dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan program Arc GIS 10.3.1. Berdasarkan peta kesesuaian lahan, diperoleh luas lahan yang sangat sesuai untuk budidaya ikan kerapu sistem keramba jaring apung adalah 417 ha. Sedangkan yang cukup sesuai adalah 2496 ha
ANALISIS TINGKAT KEPERCAYAAN PETANI TERHADAP PROGRAM SEKOLAH LAPANG-PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (SL-PTT) PADI DI KOTA PALOPO SULAWESI SELATAN
Kepercayaan terhadap program merupakan komponen kognitif dari sikap. Komponen kognitif dipengaruhi oleh pengalaman individu, pengamatannya serta informasi yang diperolehnya mengenai obyek sikap. Pada Program SL-PTT Padi terdapat berbagai atribut yang diterapkan dan petani dapat mengungkapkan kepercayaan terhadap atribut tersebut. Ini dapat terjadi ketika petani memiki pengetahuan, dan pengalaman dengan program ini. Semakin bagus atau positif informasi, pengetahuan dan pengalaman selama mengikuti sekolah lapang, maka akan sangat tinggi tingkat kepercayaan terhadap program tersebut, hal ini dapat mempengaruhi persepsi dan sikap ke arah yang lebih positif. Oleh karena itu, ketika pemerintah ingin mengembangkan atau memperbaiki program ini atau membuat program yang baru, maka harus memperhatikan tingkat kepercayaan petani terhadap Program SL-PTT Padi dan atribut yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepercayaan petani terhadap Program SL-PTT Padi di Kota Palopo. Sampel dalam penelitian ini diambil secara acak, dipilih tiga orang petani per kelompok tani yang melaksanakan program SL-PTT Padi di Kota Palopo yang jumlahnya 80 kelompok sehingga terdapat 240 responden. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala pengukuran semantic-diferensial (Simamora, 2004) yaitu 1 (sangat tidak percaya) sampai 5 (sangat percaya). Hasil penelitian menunjukkan kepercayaan petani terhadap program SL-PTT Padi di Kota Palopo masuk dalam kategori percaya (128,36). Hal ini didasarkan dari 31 atribut dalam program SL-PTT, ada tujuh belas atribut yang petani sangat percaya dilaksanakan di Program SL-PTT, 12 atribut yang dipercaya dilaksanakan di Program SL-PTT, dan 2 atribut yang netral. Ini menunjukkan program SL-PTT Padi di Kota Palopo memiliki 31 atribut sesuai petunjuk teknis dan dilaksanakan di lapangan. Petani percaya terhadap Program SL-PTT ini karena memiliki pengalaman terhadap program tersebut
EFEK KOMBINASI SUHU DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP KOMPONEN SENYAWA EKSTRAK KULIT LIDAH BUAYA
Kulit lidah buaya merupakan bagian terluar yang banyak mengandung senyawa-senyawa penting yang memiliki banyak fungsi dan diantaranya bersifat thermosensitif, sehingga diperlukan perlakuan yang tepat untuk memperoleh kualitas yang diinginkan. Senyawa penting kulit lidah buaya dapat diisolasi dengan proses ekstraksi. Suhu dan waktu ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini bervariasi yaitu suhu 50oC,60oC,70oC, 80oC dan waktu 10, 20 dan 30 menit dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Variasi waktu dan suhu yang dilakukan memperoleh perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan ekstraksi suhu 80oC dan waktu 20 menit dengan hasil yang diperoleh aktivitas antioksidan 82,273%, total fenol 39,641 mg/g, vitamin C mg/g 153,640 mg/g, ?-Tocoferol 159,220 mg/g; aloin 1,003 mg/g
PENENTUAN STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) PADA DODOL JEWAWUT
Jewawut merupakan sejenis serealia berbiji kecil yang populer sebagai makanan pokok di beberapa wilayah di Indonesia seperti Sulawesi Barat, Pulau Buru, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Tengah. Jewawut juga merupakan sumber bahan pangan keenam setelah gandum, beras, jagung, barley, dan sorgum. Salah satu produk hasil olahan jewawut yang sangat diminati oleh masyarakat Sulawesi Barat adalah Dodol Jewawut. Tujuan pelaksanaan penelitian adalah untuk merancang Standard Operating Procedure (SOP) pada proses produksi dodol jewawut dan pada bahan baku, peralatan, tenaga kerja dan ruang produksi dodol jewawut. Hasil penelitian menunjukkan SOP produksi meliputi pemilihan bahan baku dan proses produksi dodol. Sedangkan untuk SOP bahan baku, peralatan, tenaga kerja dan ruang produksi dodol terdapat 5 standarisasi yaitu bahan baku (biji jewawut) dengan 7 kriteria, air dengan 7 kriteria, peralatan yang digunakan dengan 7 kriteria, sanitasi pekerja dengan 7 kriteria dan sanitasi ruangan produksi dengan 4 kriteria. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa SOP dodol jewawut mulai proses produksi hingga pengemasan, pada UKM dodol di Desa Pambusuang. SOP ini disusun untuk menjaga kualitas dan kestabilan produk. SOP yang dihasilkan terdiri dari: SOP Bahan baku, Produksi, Peralatan, Pekerja dan Ruang produksi