JURNAL GALUNG TROPIKA
Not a member yet
401 research outputs found
Sort by
PENGARUH PENAMBAHAN FITOBIOTIK DAN Lactobacillus sp. DALAM RANSUM TERHADAP DEPOSISI LEMAK DAN KARKAS PADA KALKUN
The study aimed to determine the effect of adding phytobiotics derived from the skin of shallots, garlic, and bay leaves combined with Lactobacillus sp. in turkey rations on fat deposition and carcass percentage. The experimental cattle used were 80 unsex turkeys aged 3 months. The experiment was arranged in a randomized block design (RAK) with 5 treatments and 4 groups based on body weight, each containing 4 turkeys. Groups were divided based on body weight, namely K1 (400-550 g); K2 (551-700 g); K3 (701-850 g), and K4 (851-1000 g). The treatments applied were T0= Basal ration/RB; T1=RB + 0.25 g Lactobacillus sp. ; T2 = RB + 2% Phytobiotics.; T3= RB+0.25 g Lactobacillus sp.+ 2% Phytobiotics and T4= RB + 0.5 g Lactobacillus sp.+ 2% Phytobiotics. The research parameters measured included fat digestibility, the relative weight of abdominal fat, meat fat content, and carcass percentage. The data were analyzed for variance at the 5% significance level, followed by Duncan's multiple area tests with a 5% significance level. The results showed that the addition of phytobiotics combined with Lactobacillus sp. had a significant effect (P<0.05) on the decrease in fat digestibility and fat content of meat but no significant effect (P>0.05) on the relative weight of abdominal fat and carcass percentage. The addition of 2% phytobiotics combined with 0.50 g of Lactobacillus sp. can reduce turkey meat's fat digestibility and fat content but does not increase the relative weight of abdominal fat and carcass percentage.Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan fitobiotik yang berasal dari kulit bawang merah, bawang putih dan daun salam yang dikombinasikan dengan bakteri Lactobacilus sp. dalam ransum kalkun terhadap deposisi lemak dan presentase karkas. Ternak percobaan yang digunakan yaitu kalkun sebanyak 80 ekor unsex dengan umur 3 bulan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 4 kelompok berdasarkan bobot badan, setiap kelompok berisi 4 ekor kalkun. Kelompok dibagi berdasarkan bobot badan yaitu K1 (400-550 g); K2 (551-700 g); K3 (701-850 g) dan K4 (851-1000 g). Perlakuan yang diterapkan yaitu T0= Ransum basal/RB ; T1=RB + 0,25 g Lactobacillus sp. ; T2 = RB + 2% Fitobiotik.; T3= RB+0,25 g Lactobacillus sp. + 2% Fitobiotik dan T4= RB + 0,5 g Lactobacillus sp. + 2% Fitobiotik. Parameter penelitian yang diukur meliputi kecernaan lemak, bobot relatif lemak abdominal, kadar lemak daging dan presentase karkas. Data dianalisis ragam pada taraf signifikasi 5% dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan dengan taraf signifikasi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan fitobiotik yang dikombinasikan dengan Lactobacillus sp. berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap penurunan kecernaan lemak dan kadar lemak daging, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot relatif lemak abdominal dan presentase karkas. Simpulan penelitian yaitu penambahan 2% fitobiotik yang dikombinasikan dengan 0,50 g Lactobacillus sp. dapat menurunkan kecernaan lemak dan kadar lemak daging kalkun tetapi tidak meningkatkan bobot relatif lemak abdominal dan presentase karkas
PERTUMBUHAN BIBIT AREN (Arenga Pinnata) PADA PERLAKUAN JENIS DAN DOSIS CENDAWAN ENDOFIT
One of the inhibiting factors in providing sugar palm seeds is the dormancy period of sugar palm seeds and the growth of germs that take a long time. This study aims to determine the type of isolate and the application dose of endophytic fungus isolates that can accelerate the growth of sugar palm seedlings. The study was arranged using a Randomized Block Design (RAK) with 2 treatments. The first treatment was the type of endophytic fungus isolate consisting of 3 levels: isolates C1, C2, and C3. The application dose of endophytic fungus isolate consists of 3 levels, namely: 5 g, 10 g, and 15 g. Parameters observed were shoot emergence, plant height, root length, plant fresh weight, fresh root weight, plant dry weight, and root dry weight. The results showed that endophytic fungi isolates C1 and C3 could increase the growth and biomass of sugar palm seedlings, while the best application dose of endophytic fungi was 5 g. Application of endophytic fungi isolates C1 and C3 with a quantity of 5 g increased the growth and biomass of sugar palm seedlings.Salah satu kendala dalam penyediaan bibit aren adalah dormansi aren dan pertumbuhan bibit yang membutuhkan waktu lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan dosis cendawan endofit yang dapat mempercepat pertumbuhan bibit aren. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 perlakuan yaitu jenis cendawan endofit dan dosis cendawan endofit. Jenis cendawan endofit terdiri dari 3 taraf yaitu : isolat 1 (C1), isolat 2 (C2), dan isolat 3 (C3). Dosis cendawan terdiri dari 3 taraf yaitu: 5 gr (D1), 10 gr (D2), dan 15 gr (D3). Parameter yang diamati adalah panjang apokol (cm), munculnya tunas (hari), tinggi tanaman (cm), lebar daun (cm), panjang daun (cm), panjang akar (cm), bobot segar tanaman (gr), bobot segar akar (gr), bobot kering tanaman (gr), bobot kering akar (gr). Hasil penelitian menunjukkan jenis cendawan endofit isolat 1 (C1) cenderung memperlihatkan hasil terbaik pada parameter pengamatan munculnya tunas, panjang akar, panjang daun, bobot segar tanaman, bobot segar akar, bobot segar daun dan bobot kering akar. Dosis cendawan 5 g (D1) cenderung memperlihatkan hasil terbaik pada parameter pengamatan munculnya tunas, tinggi tanaman, lebar daun, panjang akar, bobot segar tanaman, bobot segar akar, bobot segar daun, dan bobot kering akar. Perlakuan jenis cendawan isolat 1 dengan dosis 5 g (C1D1) cenderung memperlihatkan hasil terbaik pada paremeter munculnya tunas dengan nilai rata-rata 31,3 hari, panjang akar dengan nilai rata-rata 22,7 cm, bobot segar tanaman dengan rata-rata 5,6 g, bobot segar daun dengan nilai rata-rata 1,2 g dan bobot segar akar dengan rata-rata 0,9 g
PROYEKSI KERAWANAN BANJIR PADA LAHAN SAWAH BERBASIS MODEL IKLIM HadCM3 DI DAS BILA PROVINSI SULAWESI SELATAN
Sidenreng Rappang Regency is the center for developing rice production in South Sulawesi and is included in the Bila River Basin (DAS). Sidenreng Rappang, in the last five years, has experienced flooding every year, especially in Pitu Riawa District, Dua Pitue District, and Pitu Riase District. This study aims to project rainfall changes and vulnerability to flooding based on the HadCM3 climate model in the Bila watershed area. Analysis of changes in rainfall based on the HadCM3 climate prediction model with a short-term baseline (10 years). Data were analyzed spatially by scoring the parameters of flood vulnerability and validated through surveys and field observations. Data for each parameter is overlaid using a geographic information system (GIS). The actual flood vulnerability classification results were projected using the HadCM3 climate model and produced a flood hazard projection map with the HadCM3 model for the Bila watershed area. The HadCM3 model prediction shows an increase in rainfall from April to October, and high-intensity precipitation occurs in May, June, and July. The actual level of flood hazard in paddy fields in the Bila watershed area is classified as very high, with an area of 22,339.44 ha (56.75%), and the HadCM3 Climate Model projection is classified as high with an area of 25,260.71 ha (64.17%). Paddy fields in the Bila watershed have a high level of flood vulnerability.Kabupaten Sidenreng Rappang merupakan pusat pengembangan produksi padi di Sulawesi Selatan dan masuk wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Bila. Dalam lima tahun terakhir setiap tahun mengalami banjir, terutama di Kecamatan Pitu Riawa, Kecamatan Dua Pitue dan Pitu Riase. Penelitian ini bertujuan untuk memproyeksikan perubahan curah hujan dan tingkat kerawanan banjir berdasarkan model iklim HadCM3 di wilayah DAS Bila. Analisis perubahan curah hujan berdasarkan model prediksi iklim HadCM3 dengan baseline jangka pendek (10 tahun). Data dianalisis secara spasial dengan melakukan skoring terhadap parameter kerawanan banjir dan divalidasi melalui survey dan observasi lapangan. Data setiap paremater dioverlay menggunakan sistem informasi geografis (GIS). Hasil klasifikasi tingkat kerawanan banjir aktual diproyeksikan dengan model iklim HadCM3 dan menghasilkan peta proyeksi kerawanan banjir model HadCM3 wilayah DAS Bila. Prediksi model HadCM3, menunjukkan peningkatan curah hujan mulai bulan April sampai dengan Oktober dan curah hujan intensitas tinggi terjadi bulan Mei, Juni dan Juli. Secara aktual tingkat kerawanan banjir lahan sawah di wilayah DAS Bila tergolong sangat tinggi seluas 22.339,44 ha (56,75%) dan proyeksi Model Iklim HadCM3 tergolong tinggi seluas 25.260,71 ha (64,17%). Lahan sawah pada DAS Bila mempunyai tingkat kerawanan banjir tinggi sampai sangat tinggi
SKRINING BAKTERI METANOTROF, PELARUT POSFAT DAN NITROBACTER PADA LAHAN PERTANIAN KOTA SORONG
The effects of greenhouse gases on daily life can cause damage to the balance of ecosystems and threaten the survival of living things. One of them is crop failure; food commodities and export products are reduced, causing food shortages and lowering the economic level of the community. The initial objectives of this study were to find or filter methanotrophic, phosphate-solubilizing, and Nitrobacter bacteria on Sorong's agricultural land. The second aim was to determine methanotrophic bacteria's potential, which can also nitrate and solubilize phosphate. The findings of the screening for methanotrophic bacteria, phosphate-solubilizing bacteria, and Nitrobacter bacteria are described in this descriptive study. In addition, isolates of methanotrophic bacteria were confirmed for their ability to decompose phosphate and fix nitrogen. The results of this study were that of the ten samples observed, five samples were detected by methanotrophic bacteria, namely MFa, MFb, MFc, MFd, and MFe samples. Furthermore, phosphate-solubilizing bacteria and Nitrobacter bacteria were found in ten isolated samples. The second conclusion, from five isolates of methanotrophic bacteria, has the potential to decompose or utilize phosphate as an energy source. Meanwhile, of the five isolates, only three isolates could utilize nitrogen as an energy source, namely isolates with MFa code, MFd isolates, and MFe isolates.Efek gas rumah kaca pada kehidupan sehari-hari dapat menyebabkan kerugian pada keseimbangan ekosistem serta mengancam keberlangsungan makhluk hidup. Salah-satunya gagal panen, komoditi pangan dan produk ekspor berkurang,sehingga menyebabkan kekurangan pangan, dan menurunkan taraf perekonomian masyarakat. Tujuan dari penelitian ini ialah pertama, untuk mendeteksi atau menskrining bakteri metanotrof, bakteri pelarut posfat, dan bakteri nitrobacter pada lahan pertanian kota Sorong. Kedua, untuk melihat pontensi bakteri metanotrof yang juga berpotensi sebagai bakteri pelarut posfat dan berpotensi sebagai bakteri nitrifikasi. Penelitian merupakan penelitian deskriptif, yaitu menguraikan hasil skrining bakteri metanotrof, bakteri pelarut posfat, dan bakteri nitrobacter. Selain daripada itu isolate bakteri metanotrof dikonfirmasi kemampuannya dalam menguraikan posfat dan kemampuannya dalam menfiksasi nitrogen. Hasil dari penelitian ini ialah, dari sepuluh sampel yang diamati, ditemukan lima sampel yang terdeteksi bakteri metanotrof yakni sampel MFa, MFb, MFc, MFd, dan sampel MFe. Selanjutnya, untuk bakteri pelarut posfat dan bakteri nitrobacter ditemukan pada sepuluh sampel yang diisolasi. Simpulan kedua, dari lima isolate bakteri metanotrof memiliki potensi dalam mengurai atau memanfaatkan posfat sebagai sumber energinya. Sedangkan dari lima isolate hanya tiga isolate yang mampu memanfaatkan nitrogen sebagai sumber energinya yakni isolat dengan kode MFa, isolat MFd, dan isolat MFe
POTENSI PEMANFAATAN GOSSE SEBAGAI PAKAN TERNAK ITIK DI DESA TELLUMPANUA KAB. BARRU BERBASIS DATA CITRA
The duck livestock business is one of the business branches in the livestock sector which is now widely cultivated by the community. Especially in South Sulawesi, duck farming has increased over the last 5 years. This happened because the duck culinary business increased along with the increasing demand and purchasing power of the people. In the aspect of duck farming, the feed factor is one of the problems faced by farmers because the proportion of financing can reach 60-80%. To overcome this, one solution that can be done is to utilize locally available feed ingredients sustainably. Gosse (Ceratophyllum sp) is one type of aquatic plant which if its production is excessive in ponds, can harm the growth of milkfish and shrimp. Its potential is so great, that it is considered very worthy of research. This study aims to determine the potential of Gosse as feed for ducks based on the production of fresh material, dry matter, and carrying capacity based on Geographic Information System (GIS) data. The research method applied includes 4 stages, namely Geographic Information System (GIS) analysis, analysis of fresh and dry matter production, nutritional quality analysis, and production conversion to calculate carrying capacity. The results showed that the production of fresh matter reached 74.7 tons/ha/year and the production of the dry matter reached 4,482 tons/ha/year. The production of gosse in Tellumpanua Village in total reached 1,157.09 tons/year in a fresh state and 70.3674 tons//year in a dry state. Based on these data, the carrying capacity of gosse at 30%, 50%, and 70% use respectively is 270, 162, and 115 head/ha/year or 4239, 2543, and 1805 head/year.Usaha ternak itik merupakan salah satu cabang usaha dalam sektor peternakan yang kini banyak digeluti oleh masyarakat. Khusus di Sulawesi selatan, usaha ternak itik jenis pedaging mengalami peningkatan selama kurun waktu 5 tahun terakhir. Hal tersebut terjadi karena usaha kuliner itik meningkat seiring dengan permintaan dan daya beli masyarakat yang juga ikut meningkat. Dalam aspek budidaya ternak itik, faktor pakan menjadi salah satu persoalan yang dihadapi oleh peternak karena proporsi pembiayaannya dapat mencapai 60-80%. Untuk mengatasi hal tersebut maka salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan bahan pakan lokal yang tersedia secara berkelanjutan. Gosse (Ceratophyllum sp) adalah salah satu jenis tanaman air yang jika produksinya berlebih di tambak maka dapat memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ikan bandeng dan udang. Potensinya yang bergitu besar, dinilai sangat layak untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi gosse sebagai pakan ternak itik berdasarkan produksi bahan segar, bahan kering, daya dukung yang berbasis data Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode penelitian yang diterapkan meliputi 4 tahap yaitu: Analisis Sistem Informasi Geografis (SIG), Analisis Produksi Bahan Segar dan Bahan Kering, Analisis Kualitas Nutrisi, dan Konversi Produksi untuk menghitung daya dukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Produksi bahan segar mencapai 74,7 ton / Ha / Tahun dan produksi bahan kering mencapai 4,482 ton / Ha / Tahun. Adapun produksi gosse di Desa Tellumpanua secara total mencapai1.157,09 ton/Tahun dalam keadaan segar dan 70,3674 ton//tahun. Berdasarkan data tersebut maka daya dukung gosse pada penggunaan 30%, 50%, dan 70% secara berurutan adalah 270, 162, dan 115 ekor/Ha/Tahun atau 4239, 2543 dan 1805 ekor/tahun
Aplikasi Pemberian Ekstrak Bawang Merah (Allium Cepa L.) Terhadap Pertumbuhan Stek Batang Gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.)
Aquilaria malaccensis Lam. is a gaharu-producing plant with excellent quality and high social, cultural, and economic values. Gaharu is one of the non-timber forest products with many uses, namely as a raw material for medicines, cosmetics, perfumes, incense, and preservative accessories. Gaharu is quite rare, although its cultivation can be done generatively or vegetatively. In connection with cultivation activities, quality agarwood seeds are needed. One way to do this is by giving Growth Regulatory Substances (ZPT). This study aims to determine the effect of different concentrations of shallot extract on the growth of gaharu (Aquilaria malaccensis Lam) stem cuttings. This study was arranged in a completely randomized design (CRD) consisting of 5 treatments and 3 replications, and each treatment used 5 stem cuttings. The treatment consisted of ZPT from shallots which consisted of 5 concentrations, namely: without ZPT, concentrations of 10%, 20%, 30%, and 40%. The data obtained were analyzed by analysis of variance (ANOVA), and a 5% BNT test was performed. The concentration of shallot extract significantly affected the growth of stem cuttings of Aquilaria malaccensis Lam, best at a concentration of 40%.
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi dan menghasilkan pertumbuhan stek batang Aquilaria malaccensis Lam.paling baik. Metode yang digunaka metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan, setiap percobaan membutuhkan 5 stek batang. Jumlah sampel sebanyak 75 stek batang. Perlakuan yang diberikan ZPT asal bawang merah terdiri dari 5 konsentrasi yaitu: Z0 : tanpa perlakuan/ 0 %, Z1 : ZPT bawang merah 10 %, Z2 : ZPT bawang merah 20 %, Z3 : ZPT bawang merah 30 %r, Z4 : ZPT bawang merah 40 %. Data diperoleh jumlah tunas, daun, panjang daun, dan lebar daun diolah dan dianalisis menggunakan analisis ragam , apabila berpengaruh nyata dilakukan uji lanjut menggunakan uji BNT 5 %. Bahwa konsentrasi ekstrak bawang merah terhadap pertumbuhan stek batang Aquilaria malaccensis Lam. berpengaruh sangat nyata pada perlakuan Z4 terhadap tunas, jumlah daun, dan panjang daun dengan konsentrasi paling baik 40 %. Rata-rata tertinggi pada jumlah tunas tanaman gaharu terdapat pada umur 21 HST pada perlakuan Z4 (40% ekstrak bawang merah) dengan jumlah tunas mencapai 0,8 tunas,sedangkan rata-rata terendah padah jumlah tunas gaharu terdapat pada umur 14 HST dengan perlakuan Z0, Z1 dan perlakuan Z2 tidak bertunas. Rata-rata tertinggi pada jumlah daun tanaman gaharu terdapat pada umur 77 HST pada perlakuan Z4 (40% ekstrak bawang merah) dengan jumlah daun mencapai 6,06 helai,sedangkan rata-rata terendah padah jumlah daun gaharu terdapat pada umur 28 HST dengan perlakuan Z0 , Z1 dan perlakuan Z2 yang tidak memiliki daun. Rata-rata pertumbuhan panjang daun yaitu 5,27 pada perlakuan Z4. Rata-rata tertinggi pada lebar daun tanaman gaharu terdapat pada umur 77 HST pada perlakuan Z4 (40% ekstrak bawang merah) dengan lebar daun mencapai 1,2 cm ,sedangkan rata-rata terendah padah lebar daun gaharu terdapat pada umur 28 HST dengan perlakuan Z0, Z1 dan perlakuan Z2 yang tidak memiliki daun
KOMPOSISI MEDIA TANAMAN DALAM MENINGKATKAN VIABILITAS BENIH YLANG-YLANG (Canangium odoratum forma genuina)
Aquilaria malaccensis Lam. is a gaharu-producing plant with excellent quality and high social, cultural, and economic values. Ylang-ylang plants (Canangium odoratum forma genuina) in Indonesia are forma Guinena familia Annonaceae which have many benefits. One of the benefits is as a producer of essential oils produced from the distillation of flowers. Ylang-ylang plants can be propagated generative and vegetative, but currently, many are done in a generative way. For this reason, a study was carried out to know the composition of plant media in increasing the viability of ylang-ylang (Canangium odoratum forma genuina) seeds. The study was arranged experimentally using a factorial design based on a completely randomized design in a greenhouse. The first factor was the planting medium consisting of andosol soil, andosol soil + citronella ash, ultisol + manure, and sawdust planting medium. While the second factor was the size of the seeds, namely seeds from large, medium, and small fruit, each treatment combination was repeated three times. Parameters observed were fruit weight for each characteristic, dry weight of 50 seeds/seed, germination power, growth speed, and vegetative growth of seeds (seed height, number of leaves, leaf length, leaf width, number of roots, root length, and biomass). The research results were that the weight of large fruit was 3.016 – 4.749 g, with a significant seed weight of 0.054 – 0.056g, the best germination in andosol medium large fruit 57.78% early germination on the 40th day after sowing. The vegetative growth is a seed height of 6.60 cm, the average number of leaves is 6.05 leaves, the length of the leaves is 5.41 cm, and the width is 1.94 cm. A number of roots is 7.00 pieces, with root length of 13.50 cm with 17.62 g biomass.Tanaman Ylang-ylang (Canangium odoratum forma genuina) yang ada di Indonesia adalah forma Guinena familia Annonaceae yang mempunyai banyak manfaat salah satunya diproduksi sebagai penghasil minyak atsiri yang diproduksi dari hasil penyulingan bunga. Dalam pengembangannya tanaman Ylang-ylang dapat secara generatif dan vegetatif, tapi saat ini banyak dilakukan dengan cara generatif . Untuk itu telah dilakukan penelitian mengenai Komposisi Media Tanaman dalam Meningkatkan Viabilitas benih Ylang-ylang (Canangium odoratum forma genuina). Dengan menggunakan metoda faktorial dalam rancangan acak lengkap di Rumah kaca IPPTP Balittro Laing Solok, pada bulan Pebruari 2021 sampai dengan November 2021. Faktor pertama yaitu media tanam terdiri dari 4 level yaitu media tanam tanah andosol + abu serai wangi, media tanam tanah andosol saja, media tanam tanah ultisol + pupuk kandang dan media tanam serbuk gergaji. Sedangkan faktor kedua adalah ukuran benih terdiri dari 3 level yaitu benih yang berasal dari buah besar, buah sedang dan buah kecil, dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati adalah berat buah masing-masing karakteristik, bobot kering 50 benih/biji, daya berkecambah, kecepatan tumbuh, pertumbuhan vegetatif benih (tinggi benih, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, jumlah akar, panjang akar dan biomassa). Hasil dari penelitian yang dilakukan adalah berat buah besar 3,016 – 4,749 g, buah sedang 1,877 – 2,982g dan berat buah kecil 0,350 – 1,449g dengan berat benih yang besar adalah 0,054 – 0,056g, berat benih sedang 0,050 – 0,051g dan berat benih yang kecil 0,046 – 0,049g, daya kecambah yang terbaik pada media tanah andosol buah besar 57,78% kecambah awal pada hari ke 40 setelah semai. Pertumbuhan vegetatifnya adalah tinggi benih 6.60 cm, jumlah daun rata-rata 6,05 buah Panjang daun 5,41 cm dengan lebar 1,94 cm. Jumlah akar 7,00 buah, Panjang akar 13,50 cm dengan biomassa 17,62 g
Kata Kunci : media tanam, ukuran buah, viabilitas, ylang-ylan
ANTAGONISME DAN POTENSI ISOLAT CENDAWAN ENDOFIT ASAL RIZOSFER TANAMAN BAWANG MERAH TERHADAP PATOGEN Alternaria porri
Using biological agents can suppress Pesticides in controlling purple spot disease caused by Alternaria porri in shallots. Antagonistic microorganisms as biological agents of can be obtained from shallot rhizosphere. This study aimed to determine the endophytic fungi from the rhizosphere. It were antagonistic to the pathogen Alternaria porri (Ell.Cif.) on shallots. This research was started by isolating the fungus by growing it on Potato Dextrose (PDA) media, and continued with purification, then identified microscopically. The identification results revealed the type of fungus in the shallot rhizosphere, namely Trichoderma sp. mf 1, Trichoderma sp mf 2, Fusarium sp mf 1, Fusarium mf 2, and Penicillium sp. each successively has the ability of inhibition against A. porri are 78.75%, 77.35%, 85.71%, 68.22%, and 67.60%. The isolates could suppress the growth of A.porri isolates and cause antagonistic mechanisms such as competition, antibiosis, and parasitism.Pestisida dapat ditekan penggunaannya dalam pengendalian penyakit bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porri pada pertanaman bawang merah dengan pemanfaatan agens hayati yaitu berupa pemanfaatan mikroorganisme antagonis yang terdapat pada tanaman bawang merah yang dapat diperoleh dari rizosfer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cendawan endofit asal rizosfer sebagai cendawan antagonis terhadap patogen Alternaria porri (Ell.Cif.) pada bawang merah. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat. Penelitian ini menggunakan metode isolasi dengan menumbuhkan pada media Potato Dekstorsa (PDA) dan pemurnian, selanjutnya diidentifikasi secara mikroskopis. Hasil identifikasi diperoleh Trichoderma sp. mf 1, Trichoderma sp mf 2, Fusarium sp mf 1, Fusarium mf 2, dan Penicillium sp. masing-masing secara berturut mermpunyai kemampuan daya hambat terhadap A.porri adalah 78,75%, 77,35%, 85,71%, 68,22% dan 67, 60%. Isolat- isolat tersebut mampu menekan pertumbuhan isolat A.porri dan menyebabkan terjadinya mekanisme antagonistik yaitu berupa antagonistik kompetisi, antibiosis dan parasitisme
POLIMORFISME PRIMER RAPD PADA TANAMAN JAMBU METE ASAL TIGA KABUPATEN DI SULAWESI TENGGARA
Southeast Sulawesi is one of the largest producers of cashew commodities in Indonesia, which has an essential meaning in the world of trade. Determination of the polymorphism of a primer is the first step in conducting genetic diversity studies to obtain genetic information about a species. This study aims to determine the polymorphic RAPD primers to be used in the analysis of the genetic diversity of cashew in three districts in Southeast Sulawesi. The study used 20 RAPD primers to amplify cashew DNA samples and obtained three RAPD primers (OPA-15, OPP-08, and OPC-11 primers) which showed polymorphic bands in the DNA samples used. The three RAPD primers obtained have the potential to be used in genetic studies of cashew originating from Southeast Sulawesi.Sulawesi Tenggara merupakan salah satu penghasil komoditas jambu mete terbesar di Indonesia yang memiliki makna penting untuk perdagangan di Indonesia. Penentuan polimorfisme suatu primer merupakan langkah awal dalam melakukan studi keragaman genetik untuk memperoleh informasi genetik suatu species. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan primer RAPD yang polimorfik untuk digunakan dalam analisis keragaman genetik jambu mete di tiga kabupaten di Sulawesi Tenggara. Penelitian ini menggunakan 20 primer RAPD untuk mengamplifikasi sampel DNA jambu mete dan memperoleh tiga primer RAPD (primer OPA-15, OPP-08 dan OPC- 11) yang menunjukkan pita polimorfik pada sampel DNA yang digunakan. Ketiga primer RAPD yang diperoleh berpotensi untuk digunakan pada studi genetik jambu mete yang berasal dari Sulawesi Tenggara
Performa Kesehatan Ikan Nila Salin (Oreochromis niloticus) Terhadap Pakan Sinbiotik Bacillus subtilis yang Diuji Tantang dengan Aeromonas hydrophila
This study aims to determine the health of saline tilapia (Oreochromis niloticus) on feeding containing synbiotics, namely probiotic bacteria Bacillus subtilis and 1% banana flour prebiotic against pathogenic infections by looking at parameters such as blood picture and phagocytic activity. This study consisted of 4 treatments and three replications, namely artificial feed treatment without the addition of B. subtilis, artificial feed with the addition of B. subtilis 105CFU/mL, artificial feed with the addition of B. subtilis 107CFU/mL, and artificial feed with the addition of B. subtilis 109CFU/mL with the number of samples used as many as 20 tails/treatment. Parameters for observing blood picture (erythrocytes, leukocytes and hematocrit) and phagocytic activity. The number of erythrocytes treated with artificial feed with the addition of B. subtilis 107CFU/mL was 5.50x106cell/mm3, and the lowest was obtained in the treatment with the addition of B. subtilis 105CFU/mL, which was 3.5x106cell/mm3. The highest leukocytes were obtained in the treatment with the addition of bacteria B. subtilis 105CFU/mL, which was 2.71x104cell/mm3. The hematocrit value of saline tilapia was in the same range of 25.83%-56.56%. The results showed that the treatment with the addition of 1% banana flour prebiotic and a dose of 105CFU/mL of probiotic B. subtilis in the feed was able to increase the immune system response of the saline tilapia.Penelitian ini bertujuan mengetahui kesehatan ikan nila salin (Oreochromis niloticus) pada pemberian pakan sinbiotik Bacillus subtilis terhadap infeksi patogen dengan melihat parameter berupa gambaran darah dan aktifitas fagositosis. Penelitian ini terdiri 4 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu perlakuan pakan buatan tanpa tambahan B. subtilis, pakan buatan dengan tambahan B. subtilis 105CFU/mL, pakan buatan dengan tambahan B. subtilis 107CFU/mL, dan pakan buatan dengan tambahan B. subtilis 109CFU/mL dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 20 ekor/perlakuan. Parameter pengamatan gambaran darah (eritrosit, leukosit dan hematokrit) dan aktifitas fagositosis. Jumlah Eritrosit dengan perlakuan pakan buatan dengan tambahan B. subtilis 107CFU/mL yaitu 5,50x106sel/mm3 dan terendah diperoleh pada perlakuan degan penambahan B. subtilis 105CFU/mL yaitu 3,5x106sel/mm3. Leukosit tertinggi diperoleh pada perlakuan dengan penambahan bakteri B. subtilis 105CFU/mL yaitu 2,71x104sel/mm3. Nilai kadar hematokrit ikan nila salin berada pada kisaran yang sama 25,83%-56,56%. Diperoleh hasil dimana perlakuan dengan penambahan dosis probiotik B. subtilis 105CFU/mL dalam pakan ikan nila salin mampu meningkatkan respon sistem imun ikan nila salin tersebut. Penambahan probiotik tersebut meningkatkan kinerja leukosit dalam memfagositik antigen yang masuk, terbukti dengan peningkatan indeks fagositosis pada ikan nila salin