PIN Pengelolaan Instalasi Nuklir
Not a member yet
170 research outputs found
Sort by
UPGRADE SISTEM DETEKTOR PCD KE SDD PADA ALAT XRF QUANT’X IRM
ABSTRAKKemajuan teknologi pendeteksi hasil sinar X - Ray fluoresence semakin berkembang, adanya teknologi elektronik semikonduktor membuat sistem pendeteksian semakin ramping dan simpel. Penggantian bagian detektor alat XRF Arl – quant’X bertujuan untuk memperbaiki sekaligus meningkatkan kemampuan alat tersebut di instalasi radiometalurgi- PTBBN. Peningkatan performa X –ray fluorescence dengan meng – upgrade dari PCD (Peltier Cooled Detector) ke SDD (Silicon Drift Detector) berhasil dibuktikan dengan data kalibrasi gain DAC yang sesuai pengaturan (setting), Uji kestabilan operasi di perulangan 50 kali proses yang memenuhi kategori stabil (On Spec), nilai resolusi terbaik yang ditunjukkan oleh nilai Full Width at Half Maximum (FWHM) sebesar 158 KeV, dan hasil pengujian kualitatif dengan ketepatan identifikasi spektrum di setiap unsurnya (Zr, Sn, Cr & Ni) serta hasil pengujian kuantitatif komposisi unsur standard zirconium (Zr = 98 %, Sn = 1,4 % , Cr = 0,1% , Ni = 0,05 %) telah sesuai dengan sertifikat CRM JAEA yang menjadi acuannya. Kata Kunci : Upgrade, X-ray Fluoresence, PCD detector, SDD detector ABSTRACTThe progress of x-ray detection technology with fluorescence is growing up, the presence of semiconductor electronic technology makes detection system more slim and simple. The replacement of XRF Arl-quant'X detector section aimed at fixing and improving the equipment at the radiometallurgi installation – PTBBN. Improved performance of X -ray fluorescence by upgrading from PCD (Peltier Cooled Detector) to SDD (Silicon Drift Detector) has been proven with calibration data of adjustable DAC gain setting, he stability test operation in 50 repetitions of the process that meets the stable category (On Spec), the best resolution value shown by the value of Full Width at Half Maximum (FWHM) of 158 KeV, and the results of qualitative testing with the accuracy of spectrum identification in each element (Zr, Sn, Cr & Ni) and the result of quantitative testing of standard zirconium element composition (Zr = 98%, Sn = 1,4%, Cr = 0,1%, Ni = 0,05%) are in accordance with JAEA CRM certificate which become its reference . Keywords : Upgrade, X-ray Fluoresence, PCD detector, SDD detector
PENGATURAN TEKANAN GLOVE BOX - 101 SEBAGAI PERSYARATAN CRUSHING AND SIEVING PADA PROSES KONVERSI YELOW CAKE MENJADI SERBUK UO2
ABSTRAKPilot Convertion Plant (PCP) adalah instalasi pilot pembuatan serbuk UO2. Yellow cake yang berasal dari uranium alam diolah menjadi serbuk UO2 melalui beberapa proses. Proses seksi 100 adalah proses untuk melakukan penimbangan, pengangkutan, Crusshing(pelumatan), dan sieving(pengayakan) yellow cake. Proses crusshing dan sieving yellow cake dilakukan didalam glove Box GB.101. Diperlukan pengaturan tekanan pada glove Box sebagai persyaratan proses crusshing dan sieving untuk menjamin keselamatan operator terhadap bahaya kontaminasi. Metode pengaturan tekanan dilakukan dengan cara mengatur posisi open/close pada katub depresurised, memutar bagian pengatur (just) pada pressure switch dan mengatur katub over/low tekanan pada glove box secara bergantian untuk mendapatkan tekanan hisapan udara didalam glove box sesuai Batasan kondisi operasi (BKO) yang dipersyaratkan pada sistem glove box yaitu tekanan -5 mmH2O sampai dengan -15 mmH2O. Dari hasil pengaturan tekanan yang dilakukan, sistem pengaturan tekanan pada glove Box GB.101 dapat berfungsi dengan baik dan dapat dilakukan proses crusshing dan sieving sesuai dengan batasan keselamatan yang dipersyaratkan. Kata kunci - pengaturan, crusshing, sieving, pressure switch. ABSTRACTThe Pilot Convertion Plant (PCP) is a pilot installation for production of UO2 powders. Yellow cake derived from natural uranium is processed into UO2 powder through several processes. The section 100 process for weighing, hauling, crushing, and sieving yellow cake. The process of crushing and sieving yellow cake is done inside in GB.101 glove Box. Pressure setting on Glove Box is required as crushing and sieving process requirements to ensure operator safety against contamination hazard. The method of pressure setting is performed by adjusting the open/close position of the depresurised valve, rotating the adjusting on the pressure switch and adjusting the over/low pressure valve on the glove box alternately to obtain the air suction pressure within the glove box as per the Operating conditions constraint required on the glove box pressure system at -5 mmH2O to -15 mmH2O. From the result of the pressure setting, the pressure setting system on glove Box GB.101 can work well and can be done crushing and sieving process in accordance with the required safety limitation. Keywords – setting, crusshing, sieving, pressure switch
PEMANTAUAN THERMOGRAPHY INFRAMERAH DALAM PEMELIHARAAN INSTALASI LISTRIK FASILITAS SARANA DUKUNG IEBE
ABSTRAKTelah dilakukan pemeliharaan instalasi listrik dengan menggunakan teknik thermography inframerah untuk mendukung kegiatan pemeliharaan dan perawatan fasilitas sarana dukung Instalasi Elemen Bakar Eksperimental (IEBE). Metode yang digunakan adalah dengan teknik thermography inframerah untuk scanning permukaan seluruh panel, selanjutnya menentukan titik panas (hot-spot) yang terindikasi terjadi kerusakan / over heat. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengetahui kondisi instalasi listrik akibat penuaan yang dapat mengakibatkan kerusakan atau over heat dan melakukan tidakan perbaikan. Hasil pemeriksaan instalasi listrik fasilitas sarana dukung IEBE telah ditemukan kerusakan pada kabel power MCCB pompa skunder 8 dan kontaktor CDT.5, setelah dilakukan perbaikan pada MCCB pompa skunder 8 kabel fasa T yang semula fasa T= 55,1 - 103 oC, menjadi 41,7 - 45,7 oC, sedangkan untuk kontaktor CDT.5 yang sebelum perbaikan dengan temperatur 27,4 – 88,1 oC setelah dilakukan perbaikan didapatkan temperatur pada kontaktor = 23,6 - 40,5 oC. Dengan demikian setelah dilakukan perbaikan sistem yang mengalami kerusakan dapat bekerja kembali pada temperatur normal. Kata kunci: instalasi listrik, teknik thermography inframerah, over heat ABSTRACTMaintenance of Electrical installation has been done by using infrared thermography technique, to support maintenance activities of facilities Experimental Fuel Element Installation (IEBE). The method is used by infrared thermography technique to scanning the entire panel surface, then determine hot spot which indicated there is damage or over heat. this activity is to know the condition of the electrical installation due to aging that can cause damage or over heat and make corrective action. electrical installation IEBE facility has found damage at MCCB power cable of secondary pump 8 and CDT.5 contactor, after repairing at MCCB of secondary pump 8 phase T cable from T = 55,1 - 103 oC to 41, 7 - 45.7 oC, while for CDT.5 contactors prior to repair with a temperature of 27.4 - 88.1 oC after the repair obtained temperature on contactor = 23.6 - 40.5 oC. Thus, after repairing the damaged system can work again at normal temperature. Keywords: electrical installation, infrared thermography technique, over hea
EVALUASI PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) DI PUSAT TEKNOLOGI BAHAN BAKAR NUKLIR
ABSTRAK─Evaluasi pengelolaan limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3) di Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBBN) telah dilakukan. Limbah B3 tersebut dihasilkan dari bekas pemakaian bahan dan peralatan proses kimia yang digunakan untuk kegiatan analisa di laboratorium. Metode yang dipakai adalah dengan mempelajari peraturan peraturan tentang pengelolaan limbah B3, melakukan pengamatan terhadap kegiatan pengelolaan limbah B3, kemudian menganalisa hasil dari pengelolaan limbah B3. Tujuan dari evaluasi adalah untuk mengetahui apakah pengelolaan limbah B3 di PTBBN sudah sesuai dengan peraturan yang ada. Dari hasil evaluasi diketahui bahwa pengelolaan limbah B3 secara umum sudah memenuhi Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 dan Standar Opersional Prosedur (SOP) di PTBBN. Namun demikian dalam jangka panjang ada beberapa hal yang perlu ditindak lanjuti, yaitu: Perlu adanya Gudang khusus limbah B3 yang dilengkapi dengan detector limbah B3, yang digunakan untuk menampung limbah B3 dari Gedung 20 Instalasi Radiometalurgi (IRM) maupun Gedung 65 Instalasi Elemen Bakar Eksperimental (IEBE). Sedangkan dalam jangka pendek perlu segera disusun dokumen hiradc yaitu dokumen yang berisi tentang sifat kegiatan, risiko dan potensi bahaya yang diakibatkan oleh kegiatan pengelolaan limbah B3, sesuai dengan Perka Batan Nomor 20 Tahun 2012. Hal ini perlu dilakukan mengingat jumlah dan jenis limbah B3 di PTBBN akan terus meningkat, sehingga perlu dilakukan persiapan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.Kata Kunci : Evaluasi, pengelolaan, limbah B3
PENGARUH KONSENTRASI PELARUT UNTUK MENENTUKAN KADAR ZIRKONIUM DALAM PADUAN U-Zr DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
ABSTRAK–Penelitian pengaruh konsentrasi pelarut asam nitrat dan asam florida untuk melarutkan paduan U-Zr dan analisis kadar zirkonium menggunakan spektrofotometri UV-Vis telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi pelarut yang optimum untuk melarutkan paduan U-Zr dan menentukan kadar zirkonium dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Proses pelarutan dilakukan dengan beberapa variasi konsentrasi asam nitrat yaitu 1, 3 dan 8M dengan menambahkan asam florida 1M pada pemanasan suhu 90 oC. Analisis kadar zirkonium menggunakan spektrfotometri UV-Vis dengan pengomplek arsenazo III 0,1% sebanyak 2 mL dalam larutan HCl 9N pada panjang gelombang 666,3 nm. Hasil penelitan diperoleh bahwa konsentrasi pelarut dan waktu yang diperlukan untuk melarutkan paduan U-Zr menggunakan asam nitrat 1M sebanyak 11 mL dengan waktu pemanasan selama 28 jam dan menggunakan asam nitrat 3M dibutuhkan sebanyak 9 mL dengan waktu pemanasan selama 21 jam, sedangkan menggunakan asam nitrat 8M dibutuhkan sebanyak 5 mL dengan waktu pemanasan selama 7 jam. Hasil analisis kadar zirkonium menggunakan asam nitrat 1M sebesar 5,657 ppm (94,285 %) asam nitrat 3M sebesar 4,735 ppm (78,921 %) serta menggunakan asam nitrat 8M sebesar 5,743 ppm (95,721 %). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi pelarut yang optimum digunakan untuk melarutkan paduan U-Zr adalah campuran asam nitrat 8 M dan HF 1M.Kata kunci– zirkonium, paduan U-Zr, arsenazo III, spektrofotometer UV-Vis
COVER PIN No.17/Th.IX,Oktober 2016
Pengelolaan Instalasi Nuklir (PIN) No.17/IX, Oktober 201
ANALISIS LAJU KOROSI PADUAN ALUMINIUM FERONIKEL PADA pH BASA DENGAN POTENSIOSTAT
ABSTRAKANALISIS LAJU KOROSI PADUAN ALUMINIUM FERONIKEL PADA pH BASA DENGAN POTENSIOSTAT. Aluminium Feronikel (AlFeNi) adalah salah satu kandidat kelongsong alternatif masa depan karena mempunyai keunggulan, diantaranya dalam suasana netral dan normal, laju korosinya dapat diterima. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui laju korosi AlFeNi pada pH yang ekstrim sebagai langkah antisipatif untuk mencegah terjadinya kekritisan reaktor. Metode yang digunakan untuk karakterisasi korosi adalah metode Tahanan Polarisasi dan metode Tafel menggunakan potensiostat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pH 11,19 ; 12,41 ; 12,62; 12,76; laju korosinya bertambah seiring dengan naiknya pH. Untuk metode polarisasi resistensi diperoleh nilai laju korosi untuk masing-masing pH tersebut adalah 47,05 mpy ; 437,467 mpy ; 778,1 mpy ; 993,367 mpy . Sedang metode Tafel laju korosi berturut-turut 47,003 mpy ; 334,533 mpy ; 632,633 mpy 897,7 mpy. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan bertambahnya pH medium dalam sel uji korosi maka laju korosinya pun bertambah. Kata kunci : Laju korosi, potensiostat, polarisasi resistensi, Metode Tafel. ABSTRACTANALYSIS CORROSION RATE OF ALUMINIUM FERONICKEL IN BASE pH BY POTENSIOSTAT. AlFeNi is one alternative cladding for future because of its advantages. In neutral and normal condition, corrosion rate of AlFeNi can be accepted. However as may be necessary to determine the corrosion rate at pH extremes as anticipatory measures to prevent reactor criticality. The method is used to characterize corrosion such as polarization resistance method and Tafel method using potensiostat. From the results obtained indicate that the pH used the pH 11,19 ; 12,41 ; 12,62 and 12,71 corrosion rate increases. For the method of polarization resistance corrosion rate values obtained for each pH are : 47,05 mpy ; 437,467 mpy ; 778,100 mpy ; 933,367 mpy. Tafel method of corrosion rate were respectively : 47,003 mpy ; 334,533 mpy ; 632,633 mpy ; 897,7 mpy. It can be concluded that with increasing pH of the medium in the corrosion test cell corrosion rate is greatly increased. Keywords : AlFeNi, corrosion rate, potensiostat, polarization resistence, Tafel Metode
ANALISA TEKNO-EKONOMI DALAM PEMILIHAN SENSOR KONSENTRASI HYDROGEN UNTUK PENGGUNAAN DI LABORATORIUM IEBE
ABSTRAK─Makalah ini membahas analisa tekno-ekonomi dalam pemilihan sensor konsentrasi hidrogen untuk penggunaan di Intalasi Elemen Bakar Eksperimental (IEBE). Sebelum memilih sebuah sensor, penting untuk mempertimbangkan prinsip kerja sensor yang tersedia dan sifat-sifat khusus dari obyek yang akan diukur yaitu hydrogen serta faktor lingkungan pada aplikasi dimana sensor akan digunakan. Proses pemilihan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor teknis dari spesifikasi sensor serta pertimbangan ekonomi yaitu umur pakai dari sensor yang akan dipilih. Faktor-faktor tersebut dianalisa berdasarkan teknologi sensor yang tersedia di pasar, sehingga hasilnya dapat digunakan sebagai pertimbangan teknis dan ekonomis dalam pemilihan sensor. ABSTRACT─This paper discusses the selection of a hydrogen concentration sensor for the use in the Experimental Fuel Element Installation (IEBE). Prior to selecting a sensor, it is important to consider the working principle of the sensor that available and the special properties of the object to be measured, namely hydrogen as well as environmental factors in applications where the sensor will be used. The selection process is done by considering the technical factors of the specification sensors as well as economic considerations, namely service life of the sensors to be selected. These factors are analyzed based on sensor technology that commercially available, so the results can be used as a technical and economic considerations in the selection of the sensor
EVALUASI ASPEK KESELAMATAN KEGIATAN METALOGRAFI DI INSTALASI ELEMEN BAKAR EKSPERIMENTAL
ABSTRAK─Telah dilakukan evaluasi aspek keselamatan kegiatan metalografi di Instalasi Elemen Bakar Eksperimental. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengetahui aspek keselamatan dari kegiatan metalografi di IEBE. Pengukuran kontaminasi dilakukan terhadap meja preparasi, peralatan metalografi yang berpotensi terkontaminasi, kemudian penanganan limbah cair dan padat serta pelaksanaan dekontaminasi pada meja kerja preparasi, atau lokasi penempatan sampel hasil metalografi. Hasil pengukuran pada titik pantau yang variatif, didapatkan hasil yang tertinggi yaitu pada titik pantau 1, lebih tinggi dari titik pengukuran yang lain. Dari hasil rata-rata pada titik pantau 1 (satu) didapatkan hasil pengukuran (0,245 ± 0,014 Bq/cm2), sedangkan pada titik pantau 2 (dua) didapat hasil pengukuran (0,228 ± 0,008 Bq/cm2), titik pengukuran 3 (tiga) didapat hasil pengukuran (0,238 ± 0,006550 Bq/cm2)dan titik pantau 4 (empat) didapatkan hasil pengukuran (0,232 ± 0,035 Bq/cm2). Pengukuran tingkat kontaminasi pasca deko pada titik pantau 1 didapat rata-rata 0,245 ± 0,014 Bq/cm2. Pasca dekontaminasi kontaminasi dapat diturunkan menjadi 0,018 ± 0,007 Bq/cm2. Pengukuran kontaminasi juga dilakukan pada peralatan metalografi dan didapatkan hasil pengukuran terendah 0,049 Bq/cm2, sedangkan tertinggi 0,059 Bq/cm2 dengan rata-rata 0,054 ± 0,005 Bq/cm2 Sedangkan pada titik pantau lainnya lebih rendah. Dari kegiatan metalografi ini dipastikan dapat menghasilkan dua jenis limbah baik limbah padat maupun limbah cair. Dari hasil limbah padat yang didapatkan akan ditampung pada wadah limbah yang tersedia, sedangkan untuk limbah cair dilakukan analisa kandungan uraniumnya, apabila terdapat kandungan uranium lebih besar 50 ppm maka akan dilakukan pemungutan kembali. Secara keseluruhan kegiatan metalografi di IEBE sudah terpenuhi dari aspek keselamatan dan tidak menyimpang dari kaidah dan norma keselamatan yang ada.Kata Kunci : pengukuran, kontaminasi, meja preparasi, metalografi
PENYUSUTAN ARSIP DI PUSAT TEKNOLOGI BAHAN BAKAR NUKLIR
ABSTRAK PENYUSUTAN ARSIP DI PUSAT TEKNOLOGI BAHAN BAKAR NUKLIR. Penyusutan Arsip Di Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBN), telah dilakukan tetapi hanya sebatas pemindahan arsip dinamis aktif yang berada di filling kabinet ke boks arsip. Penyusutan arsip dalam suatu organisasi perlu dilakukan, karena dengan dilakukannya penyusutan arsip termasuk penyerahan atau pemusnahan arsip maka akan mengurangi arsip inaktif yang tidak memiliki nilai guna arsip, sehingga hal ini akan mengurangi bertumpuknya arsip, melonggarkan tempat penyimpanan arsip dan akhirnya akan memudahkan pencarian arsip kembali apabila diperlukan. Tujuan dari penyusutan arsip adalah untuk mengendalikan arsip yang tercipta secara terencana dan menyelamatkan arsip sebagai bahan bukti pertanggung-jawaban nasional, serta menghemat biaya untuk keperluan ruangan, peralatan, pemeliharaan dan tenaga. Metoda yang digunakan adalah mempelajari tentang penyusutan arsip berdasarkan teori yang ada kemudian dibandingkan dengan penyusutan arsip yang ada di PTBN. Dari penyusutan arsip di PTBN ini disimpulkan bahwa penyusutan arsip perlu dilakukan sehingga tidak akan terjadi penumpukan arsip serta penyusutan arsip di PTBN harus berpedoman pada Jadwal Retensi Arsip (JRA) BATAN. Kata kunci : penyerahan arsip, pemusnahan arsip, pengertian arsip, penyusutan arsip