PIN Pengelolaan Instalasi Nuklir
Not a member yet
170 research outputs found
Sort by
PERANCANGAN HANDLING TOOL OUTER CONTAINER LIMBAH IRM DI IPSB3
ABSTRAK PERANCANGAN HANDLING TOOL OUTER CONTAINER LIMBAH IRM DI IPSB3. Telah dilakukan perancangan handling tool untuk menangani outer container limbah Instalasi Radiometalurgi (IRM) di Instalasi Penyimpan Sementara Bahan Bakar Bekas (IPSB3). Tujuan dari perancangan handling tool ini agar outer container tersebut dapat ditangani di Kanal Hubung dan di kolam IPSB3. Perancangan ini mengacu ke bentuk handling tools di PIEF-KAERI yang disesuaikan dengan spesifikasi kolam dan kanal hubung dari IPSB3. Beberapa kriteria perancangan telah ditentukan yaitu; bentuk pengait handling tool harus sesuai untuk handle outer container, dapat digunakan di Kanal Hubung IPSB3 untuk kedalaman 4,5 m dan di kolam IPSB3 untuk kedalaman 9 m, dapat digantungkan ke hook crane, cukup ringan sehingga proses penggunaannya dapat dilakukan oleh satu orang dan materialnya tahan korosi. Dari hasil perancangan handling tool terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pada bagian bawah berupa garpu pengait dengan panjang terpasang 204 mm terbuat dari SS-304, bagian tengah berupa batang penghubung antara batang bagian atas dan bagian bawah (garpu pengait) dengan panjang terpasang 4 m yang terbuat dari aluminium dan yang ketiga batang bagian atas dengan panjang terpasang 4,2 m terbuat dari aluminium. Pada batang bagian atas terdapat handle sehingga handling tool dapat digantungkan ke hook crane atau jembatan di kolam IPSB3. Hasil perhitungan terhadap penampang yang terkecil/paling kritis terhadap arah beban menunjukan bahwa rancangan handling tool ini aman. Berat dari handling tool ± 7 kg. Hasil rancangan telah memenuhi kriteria yang ditentukan dan dapat dibuat sehingga dapat diuji coba sebagai evaluasi terhadap rancangan, agar segera dapat digunakan. Kata kunci : handling tools, outer container, IRM, IPSB3
PERBANDINGAN DEPRESIASI UMUR PAKAI PIPA AKIBAT KOROSI PADA PIPA INSTALASI AIR DINGIN, TANPA DAN DENGAN PROGRAM WATER TREATMENT
ABSTRAK – Air dingin didistribusikan dari sistem pendingin ke dalam ruang laboratorium dan perkantoran di Instalasi Radiometalurgi (IRM) menggunakan sistem pemipaan dengan spesifikasi Schedule 40, dengan berbagai diameter nominal. Umur pakai dari bahan pipa, dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya adalah korosi yang disebabkan oleh konstituen yang terkandung dalam air, yang dapat mengikis/ mengurangi ketebalan dari pipa. Mengingat adanya keterbatasan umur pakai dari pipa, maka dilakukan analisa berdasarkan perhitungan pengurangan (depresiasi) umur pakai pipa instalasi air pendingin di gedung IRM akibat korosi. Berdasarkan perhitungan kecepatan korosi normal, maka diperoleh umur pakai pipa tanpa menggunakan water treatment : 5 hingga 8 tahun, sedangkan dengan menggunakan program water treatment : 22 s/d 37 tahun. Artinya umur pakai pipa instalasi akan bertambah hampir 5 kali lipat jika menggunakan program water treatment yang sesuai. Hal ini akan meghasilkan penghematan biaya perawatan/penggantian sebesar 80 % per tahun. Kata kunci : Pipa, umur pakai, korosi, depresiasi. Abstact –In the Installation of Radio Metallurgy (IRM), cold water is distributed from the cooling system into the laboratory area and office use with schedule 40 piping systems and different nominal diameters. Lifespan of the pipe material is influenced by many factors, one of which is corrosion caused by constituents contained in the water that may erode or reduce the thickness of the pipe. Therefore, because of the limited lifespan of the pipe, it is necessary to analysis and calculation of the reduction (depreciation) lifespan of the cooling water pipe installation in the building IRM due to corrosion. In this paper the analysis will be performed to calculate the reduction in lifespan of pipes with and without a water treatment program. The results obtained by calculating the speed of normal corrosion, lifespan of pipe without the use of water treatment is 5 to 8 years, while using a water treatment program is 22 to 37 years. This means that the lifespan the pipeline installation will be increased by almost 5 time if using an appropriate water treatment program. Thus will be obtained maintenance or replacement cost savings of about 80% per year. Keywords: Pipe, lifespan, corrosion, depreciation
ANALISIS UNJUK KERJA THERMOCOUPLE W3Re25 PADA SUHU PENYINTERAN 1500 OC
ABSTRAKANALISIS UNJUK KERJA THERMOCOUPLE W3Re25 PADA SUHU PENYINTERAN 1500OC. Untuk mengukur temperatur di dalam tungku digunakan thermocouple jenis W3Re25 odengan daerah kerja pengukuran 0 – 2320 C, measuring junction-nya terbuat dari campuran tungsten dan rhenium. Persyaratan terhadap lingkungan pengukuran thermocouple tersebut adalah vakum, gas inert, hidrogendan tidak diijinkan digunakan pada atmosfir gas opengoksidasi diatas temperatur 300 C. Dua buah thermocouple digunakan pada satu tungku proses sinter. Satu thermocouple untuk rekorder (display temperature) dan yang lainya digunakan oleh sistim kendali untuk mengukur temperatur aktual dalam tungku. Mengingat umur pakai dari thermocouple yang sudah cukup lama (± 25 tahun) atau sekitar 40 kali proses, sehingga unjuk kerjanya perlu dilihat apakah masih memenuhi persyaratan atau tidak hal ini terutama diperlukan karena kalibrasi tidak bisa dilakukan insitu dan kalibrator hanya mampu 0mengkalibrasi hingga suhu 1000 C. Dilakukan pengukuran emf yang dibangkitkan thermocouple dengan digital multimeter pada suhu pemanasan maksimum 1500oC. Unjuk kerja thermocouple masih baik, hal ini terlihat dari perubahan emf masih linier dengan perubahan temperature yang terjadi di dalam tungku sinter. Bila dibandingkan dengan emf maksimum untuk W3Re25 yaitu 39.506 mV; dan emf terukur untuk suhu 1550oC adalah 27,2 mV. Maka dapat disimpulkan bahwa unjuk kerja thermocouple W3Re25 masih baik.Kata kunci: temperatur, thermocouple, unjuk kerja, tungku, sinter
ANALISIS UNSUR Pb, Ni DAN Cu DALAM LARUTAN URANIUM HASIL STRIPPING EFLUEN URANIUM BIDANG BAHAN BAKAR NUKLIR
ABSTRAK ANALISIS UNSUR Pb, Ni DAN Cu DALAM LARUTAN URANIUM HASIL STRIPPING EFLUEN URANIUM BIDANG BAHAN BAKAR NUKLIR. Uranium yang digunakan untuk pembuatan bahan bakar suatu reaktor nuklir harus mempunyai tingkat kemurnian yang tinggi sehingga perlu pengujian kendali kualitas yang sangat ketat. Salah satu pengujian tersebut adalah analisis kandungan unsur-unsur pengotor. Dalam percobaan ini telah dilakukan analisis unsur Ni, Pb dan Cu dalam larutan Uranium hasil stripping dari efluen Uranium yang ada di laboratorium Bidang bahan Bakar Nuklir. Analisis dilakukan dengan metode spektrofotometri serapan atom, alat yang digunakan adalah spektrofotometer serapan atom (AAS). Dari analisis tersebut diperoleh kandungan unsur Pb, Ni dan Cu masing-masing adalah : (1,625 ±0,013) ppm, (1,745 ± 0,007) ppm dan (0,201±0,011) ppm. Hasil kandungan Pb, Ni dan Cu dalam larutan Uranium hasil stripping tidak melebihi spesifikasi yang telah ditetapkan untuk pembuatan suatu bahan bakar reaktor nuklir. Kata kunci : Uranium, Stripping, AAS
UJI FUNGSI ALAT ANALISIS KARBON – SULFUR MERK LECO CS-744
ABSTRAK–Telah dilakukan uji fungsi alat analisis karbon–sulfur merk Leco CS-744. Alat analisis karbon - sulfur Leco CS-74 merupakan alat baru. Uji fungsi dilakukan untuk mengetahui kinerja dan kemampuan alat analisis karbon-sulfur meliputi personal computer (PC), timbangan analitik, regulator gas dan alat CS-744. Bahan yang digunakan untuk melakukan uji fungsi adalah standar karbon dalam baja dengan kadar C 0,177 ± 0,003% dan S 0,005 ± 0,0005% ; C 0,668 ± 0,008% dan S 0,0108 ± 0,0004% serta C 0,811 ± 0,007% dan S 0,0108 ± 0,0004%. Bahan standar yang digunakan buatan Leco Corporation dan mengacu pada SRM dengan sertifikat yang tertelusur. Dari hasil uji fungsi diperoleh hasil neraca analitik, regulator gas, dan alat CS-744 berfungsi sesuai spesifikasi. Hasil analisis standar diperoleh berturut-turut dengan rata-rata dan standar deviasi : C 0,177 ± 0,0002 % dan S 0,0055 ± 0,0002% ; C 0,669 ± 0,0014% dan S 0,0108 ± 0,0003% serta C 0,810 ± 0,0017% dan S 0,0064 ± 0,0005%. Ini menunjukkan bahwa alat analisis karbon – sulfur merk Leco CS-744 berfungsi dengan baik sesuai dengan jangkau ukur yang diijinkan. Kata Kunci–Uji fungsi , Leco CS-744, Inframerah ABSTRACT-Instrument functional test on carbon–sulfur analyzer LECO CS-744 has been done. This is a new instrument. Functional test has been done to explore its performance and capability comprehend to personal computer (PC), analytical balanced, gas regulator and CS-744 instrument. Material that used in functional test was carbon standard in iron with several concentration. Three variant concentration carbon standard were used, C at 0.177 ± 0.003% and S at 0.005 ± 0.0005%; C at 0.668 ± 0.008% and S at 0.0108 ± 0.0004% and C at 0.811 ± 0.007% and S at 0.0108 ± 0.0004%. Standard material made by LECO Corporation and adopted the CRM with traceable certificate. The results show analytical balance, gas regulator and CS-744 instrument works as its specified. The results on standard material for each variant were C at 0,177 ± 0,0002 % and S at 0,0055 ± 0,0002% ; C at 0,669 ± 0,0014% and S at 0,0108 ± 0,0003% and C at 0,810 ± 0,0017% and S at 0,0064 ± 0,0005%. These results showed the instrument carbon-sulfur analyzer LECO CS-744 worked properly at its allowable measurement range. Keywords–Functional test, Leco CS-744, infrare
STUDI KESELARASAN PROGRAM KESIAPSIAGAAN NUKLIR TINGKAT FASILITAS/ INSTALASI NUKLIR PTBN TERHADAP PERKA BAPETEN NO.1 TAHUN 2010
STUDI KESELARASAN PROGRAM KESIAPSIAGAAN NUKLIR TINGKAT FASILITAS/ INSTALASI NUKLIR PTBN TERHADAP PERKA BAPETEN NO.1 TAHUN 2010. Suatu studi terhadap keselarasan Dokumen Program Kesiapsiagaan Nuklir (PKN) tingkat instalasi nuklir Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (PTBN – BATAN) terhadap Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Perka BAPETEN) No.1 Tahun 2010 telah dilakukan. Studi bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara kedua dokumen tersebut sebagai akibat adanya keterbatasan infrastruktur PTBN dalam kedaruratan nuklir dan adanya tugas dan fungsi satuan kerja lain di BATAN yang dapat mengatasi keterbatasan tersebut. Metoda studi dilakukan dengan cara membandingkan ketentuan-ketentuan dalam pasal/ ayat Perka BAPETEN No.1 Tahun 2010 terhadap pemenuhan ketentuan-ketentuan tersebut oleh Pemegang Izin (PI) PTBN yang terdapat dalam Dokumen PKN PTBN serta dokumen lain yang terkait. Hasil studi menunjukkan bahwa dengan keberadaan instalasi nuklir PTBN di dalam Kawasan Nuklir Serpong (KNS), tidak semua ketentuan tersebut dapat dipenuhi oleh PI. Namun demikian dengan adanya dokumen terkait lain yang berlaku di BATAN maka sesungguhnya seluruh ketentuan tersebut dapat terpenuhi oleh PI PTBN. Jadi dapat disimpulkan bahwa secara umum Dokumen PKN PTBN selaras dengan Perka BAPETEN No.1 Tahun 2010. Kata kunci: Kedaruratan nuklir, infrastruktur, Perka BAPETEN, Dokumen PKN.
EFEK HYDROGEN EMBRITTLEMENT PADA KELONGSONG ZRY-4 AKIBAT PERLAKUAN PANAS
EFEK HYDROGEN EMBRITTLEMENT PADA KELONGSONG ZRY-4 AKIBAT PERLAKUAN PANAS. Telah dilakukan eksperimen perlakuan panas pada kelongsong Zry-4. Perlakuan panas dilakukan untuk mengetahui perubahan yang terjadi sebagai pengaruh perapuhan oleh hidrogen (Hydrogen Embrittlement). Pada eksperimen ini kelongsong Zry-4 dipanaskan pada suhu 200-600 oC selama 3-5 Jam. Berdasarkan eksperimen diketahui bahwa perlakuan panas pada suhu tertinggi yaitu 600 oC menyebabkan densitas Zry-4 meningkat dari 6,0983 g/cc hingga mencapai 7,3217 g/cc dengan makin lamanya waktu pemanasan. Hal ini terjadi karena perubahan kisi pada Zry-4 akibat pengaruh panas. Semakin tinggi suhu pemanasan, maka distribusi partikel submikron makin besar. Pemanasan pada suhu 200 oC menghasilkan lapisan oksida setebal 0,005 mm dan kekerasan Zry-4 meningkat dari 220,66 HVN menjadi 247,66 HVN, namun setelah waktu pemanasan diperlama hingga 5 Jam lapisan oksida makin tebal (0,0066 mm) tetapi menyebabkan kekerasan turun menjadi 229,66 HVN. Pemanasan pada suhu 400 oC menghasilkan lapisan oksida setebal 0.0104 mm dan kekerasan meningkat menjadi 258,66 HVN, namun setelah waktu pemanasan diperlama hingga 5 Jam lapisan oksida makin tebal (0.0176 mm) tetapi menyebabkan kekerasan turun menjadi 247 HVN. Sedangkan pemanasan pada suhu 600 oC menghasilkan lapisan oksida setebal 0.0466 mm namun kekerasan mengalami sedikit penurunan yaitu menjadi 214,33 HVN, bahkan setelah waktu pemanasan diperlama hingga 5 Jam lapisan oksida makin tebal (0.0840 mm) tetapi menyebabkan kekerasan terus turun menjadi 197,33 HVN. Fenomena pertumbuhan lapisan oksida sampai ketebalan tertentu disertai peningkatan kekerasan adalah sebagai efek oksidasi. Sedangkan lapisan oksida yang makin tebal karena suhu tinggi dan waktu yang lama disertai penurunan kekerasan adalah sebagai efek hidrogen (hydrogen embrittlement) yang menyebabkan perapuhan. Kata kunci: Kelongsong Zirkaloy-4, Perubahan massa, Kekerasan, Densitas, Perapuhan oleh hidrogen
PENGUKURAN AKTIVITAS ISOTOP 152Eu DALAM SAMPEL UJI PROFISIENSI MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA
PENGUKURAN AKTIVITAS ISOTOP 152Eu DALAM SAMPEL UJI PROFISIENSI MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA. Telah dilakukan pengukuran isotop 152Eu dalam sampel uji menggunakan spektrometer gamma dalam rangka mengikuti kegiatan uji profisiensi dilaboratorium IRM yang diadakan oleh Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR). Kegiatan Uji profisiensi ini diikuti dengan melakukan pengukuran isotop 152Eu terhadap 2 sampel uji yang dikirim oleh PTKMR. Dari pengukuran tersebut diperoleh besar aktivitas sampel uji 1 rerata sebesar 2,59E+04 Bq dengan standar deviasi 2,78E+02, dan untuk sampel uji 2 diperoleh aktivitas rerata sebesar 4,10E+04 dengan standar deviasi 6,12E+02. Hasil pengukuran dapat diterima karena penyimpangan hasil pengukuran yang digambarkan dengan nilai standar deviasi cukup kecil yaitu 1,07% untuk sampel uji 1 dan 1,49% untuk sampel uji 2, Penyimpangan yang diperoleh dibawah 5 %, sehingga pengukuran dapat diterima dengan tingkat kepercayaan 95%. Sesuai dengan laporan hasil uji profisiensi oleh PTKMR hasil perhitungan aktivitas sampel tersebut dinyatakan inlier. Kata kunci : 152Eu, uji profisiensi, Spektrometer-
PERANCANGAN PEMBANGKIT TEGANGAN TINGGI DIRECT CURRENT PADA SISTEM ELECTROSPINNING
PERANCANGAN PEMBANGKIT TEGANGAN TINGGI DIRECT CURRENT PADA SISTEM ELECTROSPINNING. Telah dilakukan perancangan pembangkit tegangan tinggi direct current, yang digunakan sebagai komponen utama dalam proses pembuatan nanofiber dengan teknik yang dikenal sebagai teknik electrospinning. Tujuan dari perancangan pembangkit tegangan tinggi ini, didasari kebutuhan akan tegangan tinggi yang perlu divariasikan dalam pembuatan nanofiber dari berbagai bahan dasar. Pembuatan nanofiber dengan teknik ini sangat dipengaruhi oleh faktor larutan, jarak antara anoda dengan katoda dan juga kondisi lingkungan. Perancangan pembangkit tegangan tinggi ini menggunakan flyback transformator sebagai komponen utama pembangkit tegangan tinggi. Frekuensi kerja flyback transformator pada 15,625 Hz dan hasil pengujian keluaran tegangan tinggi yang dihasilkan tiap langkah variasi yang diinginkan dengan menggunakan metode pembagi tegangan dapat diukur telah sesuai dengan skala yang ditentukan. Jaring-jaring benang dengan bahan dasar polycarbosilane dapat dibentuk pada tegangan 15 kV pada jarak 10 cm. Kata kunci : tegangan tinggi, direct current, electrospinning
PEMODELAN SISTEM TUNGKU AUTOCLAVE ME-24
PEMODELAN SISTEM TUNGKU AUTOCLAVE ME-24. Autoclave model ME – 24 yang ada di Laboratorium Instalasi Elemen Bakar Eksperimental PTBN – BATAN berfungsi untuk meningkatkan kekuatan berkas elemen bakar nuklir terhadap korosi, dimana pada pengerjaan autoclaving ini akan terbentuk lapisan pelindung oksida-ZrO2 pada permukaan batang elemen bakar nuklir. Pada makalah ini dibahas pemodelan sistem tungku autoclave secara eksperimen langsung pada alat, dengan melakukan pengujian pada tiap masukan pada sistem heater alat autoclave. Dari pengujian heater ini kemudian dibuat model matematis dalam bentuk model orde satu ditambah delay. Model matematis yang didapat menunjukkan bahwa sistem tungku autoclave merupakan model MIMO dengan matriks 3x4 dalam bentuk model fungsi alih. Model fungsi alih yang didapat, selanjutnya digunakan dalam studi lanjut untuk membuat sistem kendalinya, sehingga didapat sistem kerja autoclave yang optimal. Katakunci : Fungsi Alih, Pemodelan sistem, Tungku Autoclave