Buletin Al-Turas
Not a member yet
530 research outputs found
Sort by
Penggunaan Kalimat Bahasa Indonesia oleh Mahasiswa Penutur Bahasa Asing
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk: 1) menjelaskan kesalahan pemakaian kalimat dalam tulisan-tulisan mahasiswa asing yang belajar di Pusat Pengembangan Bahasa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta; mendeskripsikan beberapa aspek kesalahan yang dominan, dan 3) faktor-faktor penyebab terjadinya kesalahan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan sampel tugas-tugas harian membuat karangan oleh mahasiswa asing Pusat Pengembangan Bahasa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta teknik samping yang diterapkan dalam kajian ini adalah teknik sampel purposif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah model analisis interaktif yang mencakupi empat dimensi, yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Penelitian ini berkesimpulan bahwa: pertama unsur-unsur linguistik yang mengalami kesalahan berbahasa yang kerap terjadi dalam teks karangan mahasiswa asing terjadi dalam empat kategori kesalahan, yaitu: kesalahan ejaan; pembentukan kata, aspek sintaksis dan aspek semantik. Kedua, penggunaan tanda baca. ---AbstractThe aim of this research are namely: 1) to describe the error of Indonesian language in writing sentences by the foreign college students of center for language development Syarif Hidayatullah State Islamic University; 2) to describe the most errors, and 3) to find several factors of error. This research is a qualitative descriptive with a sample foreign college student sentences text of center for language development Jakarta State Islamic University. The sampling technique used was purposive sampling. Data collection technique used was document analysis. Data analysis technique use is the interactive analytical model that includes four dimensions, such as data collection; data reduction, data presentation and verification. The conclusion of this study is such as follows. Firstly, the linguistic elements of language errors that often occur in the college student sentence texts are divided into four errors such as: spellings error, word formation or morphology, syntax and semantics. Secondly, the most error in the text of foreign college students is the punctuation errors
Faithful Translation in Sapardi Djoko Damono’s Poetry Translated by Harry Aveling
AbstraksPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerjemahan puisi yang menjelaskan kesamaan efek antara pembaca bahasa sasaran dan sumber. Penelitian ini membahas tentang penerjemahan puisi Sapardi Jokodamono yang berjudul Sihir Hujan dan Yang Fana adalah Waktu ke dalam puisi berbahasa Inggris dengan judul Black Magic Rain dan Time is Meaningless yang diterjemahkan oleh Harry Avelling. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif analisis serta komponensial analisis berdasarkan teori Peter Newmark. Selain menggunakan metode penerjemahan setia yang diajaukan oleh Peter Newmark, penelitian ini juga menggunakan kriteria penilaian penerjemahan yang diajukan oleh Nababan, Akurasi, Keberterimaan, dan Keterbacaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa 99,3 % puisi ini menggunakan metode penerjemahan setia dengan membandingkan struktur gramer, kata, dan frasa. Sedangkan 0,63% dalam puisi yang berjudul Sihir Hujan tidak terlalu menggunakan penerjemahan setia. ---AbstractThe study in this paper aims to show that a good translation of poetry provides the reader with a similar effect to that gained by reading the original text. It draws upon the importance of faithful translation in Sapardi Djoko Damono’s poetry: Sihir Hujan and Yang Fana adalah Waktu translates into Black Magic Rain and Time is Meaningless that translated by Harry Aveling. The method used in this paper is descriptive qualitative analysis in which the writer describes the method of translator to transfers the poetry from Indonesian into English and componential analysis based on Newmark theories about faithful translation and the criteria of translation poetry assessment used by Nababan that used three instrument such as: Accuracy-rating instrument, Readability-rating instrument, and Instruments for measuring the acceptability of a text that used by the writer to measure the quality of translation from data analysis. From the analysis concludes that 99,37% of lines-stanza in this poetry is faithful translation by comparing the structure grammar, word, and phrase is accurate, readability, and acceptable. Then, 0,63% of other lines in poetry of Sihir Hujan are not conveyed as faithful translation and not meet the three criteria instrument of translation assessment
“Pernyataan Kalam” Dalam Naskah Sastra Melayu Klasik
AbstrakPernyataan Kalam merupakan sesuatu yang adakalanya hadir dalam karya sastra Melayu Klasik. Pernyataan tersebut muncul dalam prolog dan atau epilog naskah. Ada beberapa kecenderungan motif yang melatarbelakangi kemuculannya. Motif tersebut dapat dilihat dari sudut pandang penyalin teks, sudut pandang teks, serta sudut pandang semesta. Motif ekonomi, motif syiar agama, motif akan pentingnya teks, serta motif terkait dengan situasi budaya dapat saja melatarbelakangi hadirnya pernyataan kalam tersebut dalam suatu karya sastra Melayu Klasik.---AbstractKalam statement is something that is sometimes present in classical Malay literature. The statement appears in the prologue or epilogue script. There are several trends motive behind kemuculannya. The motif can be seen from the viewpoint of copyists text, text viewing angle, and the angle of view of the universe. Economic motives, symbols of religious motives, motives of the importance of the text, as well as the motif associated with the cultural situation may be behind the presence of the kalam statement in a classical Malay literature
Tasawuf Sunda dan Warisan Islam Nusantara: Martabat Tujuh dalam Dangding Haji Hasan Mustapa (1852-1930)
AbstrakPaper ini membahas martabat tujuh dalam puisi dangding sufistik Haji Hasan Mustapa. Ia merupakan salah satu penerus tradisi tasawuf Nusantara dari Jawa Barat yang menulis lebih dari sepuluh ribu bait dangding. Tema martabat tujuh merupakan poros inti pembahasan dalam hampir keseluruhan puisi dangding-nya. Berbagai kesalahpahaman dan kesulitan para sarjana dalam memahami puisi Mustapa kiranya dilatarbelakangi keterbatasan pengetahuan atas ajaran ini. Kajian ini menggunakan pendekatan interteks atas sejumlah puisi Mustapa yang bertema sama. Kajian ini memfokuskan pada tiga hal: martabat tujuh dalam tradisi tasawuf Nusantara, Mustapa dan posisi dangding-nya dalam sastra Sunda, serta tema martabat tujuh sebagai inti puisinya. Mustapa kiranya dipengaruhi ajaran wahdatul wujud terutama melalui kitab Tuh}fah-nya Al-Burhanfuri. Meski demikian, ia berusaha menjejakkannya dalam latar kekayaan budayanya. Ia menginterpretasikan martabat tujuh, bukan semata-mata sebagai sintesis tajalli Ilahi, tetapi juga merupakan hasil upaya manusia dalam meningkatkan martabat rohani untuk pulang ke tempat di mana ia berasal (nepi kana urut indit). Karenanya tidak tepat bila ia dianggap menyimpang dari nilai-nilai ortodoksi Islam. Ia berada pada arus utama tasawuf Nusantara yang cenderung rekonsiliatif. Signifikansi Mustapa terletak pada kreatifitasnya dalam menggunakan banyak metafor budaya Sunda termasuk dalam menafsir ajaran martabat tujuh. Ia misalnya, menggunakan metafor tubuh (balung, daging, sungsuam, getih), makanan (rujak), sungai (leuwi), dan bukit (lamping) untuk menggambarkan proses panjang dalam meracik asal alam kesejatian. Kajian ini signifikan dalam memperkuat tesis jaringan ulama Nusantara dalam bentuk artikulasi tasawuf lokal Sunda. Sebuah tafsir lain atas martabat tujuh yang muncul dalam rahim alam pikiran budaya Sunda.---AbstractThis paper discusses the dignity seven in metrical poetry Sufi Hasan Haji Mustapa. He is one of the successors of Sufism archipelago from West Java who wrote more than ten thousand metrical stanza. He was in the mainstream Sufism archipelago tend reconciliatory. Mustapa significance lies in creativity in using many metaphors Sundanese culture including seven in interpreting the teachings of dignity. He for instance, uses the metaphor of the body (bone, meat, sungsuam, getih), food (salad), rivers (Leuwi), and Hill (lamping) to describe the lengthy process of preparing the authenticity of natural origin. This study is significant in strengthening the network of scholars Nusantara thesis in the form of Sufism articulation of local Sundanese
Penyimpangan Sintaksis dalam Penerjemahan Indonesia-Inggris: Studi Kasus di Prodi Sastra Inggris Uin Jakarta
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyimpangan sintksis dalam penerjemahan tesk Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris yang dibuat mahsiswa semester VI Prodi Sastra Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian kualitatif ini menggunakan data verbal dalam bentuk produk penerjemahan dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris. Data verbal tersebut terdiri atas 20 teks terjemahan dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris yang terpilih dari 41 lembar teks yang dibuat mahasiswa. Seluruh data dianalisis secara kualitatif dengan memperhatikan tingkat keberterimaan dan kegramatikalan kalimat Bahasa Inggris. Penelitian ini memperlihatkan kalimat-kalimat Bahasa Inggris yang diterjemahkan dari teks Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris belum memenuhi standard penerjemahan yang baik, terutama dalam aspek kesepadanan makna antara Bahasa sumber dan sasaran; serta keberterimaan dan kegramatikalan kalimat Bahasa Inggris. Mahasiswa masih membuat kalimat-kalimat Bahasa Inggris yang mengandung penyimpangan sintaksis dari kaedah Bahasa Inggris yang benar. Penyimpangan tersebut umumnya terjadi pada penyusunan frasa nomina sebagai subjek dan objek, frasa verba, dan kalusa yang disebabkan oleh keleahan mahasiswa dalam menganalisis makna kalimat dalam Bahasa sumber, strategi yang kurang tepat dalam menejemahkan, dan kompetensi gramatikal yang rendah. Oleh karena itu, mahasiswa masih perlu diberikan latihan-latihan yang mendorong mereka memamfaatkan kemampuan linguistic dan nonlinguistic dalam menerjemahkan teks dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris sehingga produk penerjemahan yang dibuat memenuhi standard penerjemahan yang baik.---AbstractThe research is aimed at knowing the syntactical deviation in Indonesian-English translation committed by the sixth semester students of Letters Department UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. This qualitative study relies on verbal data in the form of students’ translation product from Indonesian into English. Its unit of analysis comprises 20 Englsih texts chosen purposively from the translation products made by 41 students who were involved in the research. The data are analyzed qualitatively in terms of the acceptability and grammaticality of the English sentences. The study shows the English text the students translated from Indonesian do not meet the quality of a good translation in terms of meaning equivalence between the source language and the target language; and the grammaticality and acceptability of English sentences. The students still produce English sentences containing many syntactical deviations. These happen to noun phrases as subject and object of the verbs; verb phrases; and clauses. The syntactical deviations are caused by their weaknesses in analyzing the meaning of source language sentences to be translated; the fault strategies used in translating; and the lack of grammatical competence. Therefore, they still need more exercises in translating Indonesian into English by exploring their linguistic and nonlinguistic competence. Besides, they still need more guidance how to translate Indonesian into English that fulfills the criteria of a good translation
Dinamika Kultural Tabot Bengkulu
AbstrakTabut Bengkulu adalah sebuah upacara keagamaan yang diadaptasi menjadi festival etnis kultural. Upacara in berasal dari tradisi sekte syiah yang berupaya mengenang kematian Husen di Padang Karbala, pada tahun 680. Upacara Tabot ini kemudian diklaim oleh orang Bengkulu sebagai warisan budaya. Dalam kasus ini, unsur keagamaan dalam upacara tersebut telah berkurang, sementara unsur etnis budayanya menjadi semakin kuat. Tradisi Tabot ini dibawah dari Irak ke selatan Asis oleh orang India pada tahun 136-1405. Kemudian, tradisi ini dibawa dari India ke Bengkulu oleh para muslim India yang bekerja di perusahaan Inggris India Selatan yang sedang mengerjakan proyek Fort Malborough pada tahun 1336. Jadi, para pekerja itu ada orang pertama yang menggelar festival Tabor tersebut di Bengkulu. Sejalan dengan perjalan waktu, bukang hanya orang Syiah India saja yang merayakan festival tersebut, tetapi juga orang Bengkulu sendiri. Saat para pekerja merayakan festival tersebut sebagai upacaa keagamaan, orang Bengkulu merayakannya sebagai upacara etnis kultural.---AbstractBengkulu’s Tabot is a religious-based ceremony, being adapted into an ethno-cultural festival. Coming from Shi’i tradition of memorizing the moment of the Husain’s death in Karbala in 680. Tabot has changed to people festival which claimed by Bengkulu people as their cultural heritage. In this case, the religious element of Tabot has been reduced, while that ethno-cultural element exaggerated. This tradition of Tabot was brought from Iraq to South Asia by Indian people in 1336-1405. Then, this tradition was brought from India to Bengkulu by Indian Muslims who were the workers of the English East India Company in building Fort Malborough in 1336. So, the workers were the first people who performed Tabot festival in Bengkulu. As time goes on, not only those Indian Shi’i-Muslim workers celebrated the ceremony of Tabot, but also other people of Bengkulu. While those workers and their early descendants celebrated that ceremony of Tabot because of their religious orientations, the other carried out that ceremony because of ethno-cultural orientation
اللغة والشخصية
مستخلص البحث :الأسلوب الذى يستخدمه الإنسان فى الكلام أو فى الكتابة يعبر عن سمات معينة لجوانب من شخصيته, فسوف أقوال الإنسان فى نواحى معينة, يكشف عن كثير من سمات شخصية. وللحكم على شخصية فرد معين بالنسبة لما يستخدمه من لغة, نحتاج إلى دراسة جميع ما يصدر عنه من كلام, وفحص هذا الكلام من نواحى عديدة, إذ يمكن تعريض الفرد لمواقف مختلفة وتسجيل أحاديثه وأقواله, كما يمكن الحصول على نماذج من التعبير الكتابى, وتحليل النتائج من حيث التحقق من استخدام الصيغ النحوية والصرفية وانتقاء المفردات والسرعة فى السرد والكتابة وعدد الكلمات المستخدمة والمعانى الواردة وغير ذلك من المعايير المختلقة التى استخدمها فى دراسة عن اللغة والشخصي
الترجمة معناها وتاريخها
AbstrakTerjemahan adalah fakta kebutuhan kemanusiaan, karena manusia berbicara dalam bahasa yang berbeda antar masyarakat dan Negara yang berbeda. Tenerjemah juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan interaksi antara masyarakat dari berbagai negara dalam bahasa. Demikian juga bahwa manusia diberikan naluri cinta il mu pengetahun, senang mengkritik dan mencintai ilmu yang berkembang di berbagai penjuru dunia dan untuk menguasaiilmu tersebut maka manusia mau tidak mau harus menguasai bahasa yang digunakan oleh bangsa yang ilmu tersebut berkembang di bangsa tersebut. Terjemah juga merupakan factor utama penentu kemajuan sebuah bangsa dan mayoritas Negara maju di di dunia adalah Negara yang memperhatikan gerakan terjemah di negaranya. Dan terjemah menurut sejarah diawali dengan gerakan terjemah ke dalam bahasa Yunan, gerkan terjemah ke dalam bahasa Suryani, gerakan terjemah ke dalam bahasa Arab di masa khulafau ar-rasyidin (Muawiyyah dan Abbasyiyyah), gerakan terjemah ke dalam bahasa latin, gerakan terjemah ke dalam bahasa Eropa modern, gerakan terjemah modern ke dalam bahasa Arab dan bahasa-bahasa lain di dunia dari bahasa Inggris sebagai bahasa yang penuturnya sedang mengalami kemajun. ---AbstractTranslation is the fact humanitarian needs, because people speaking in different languages between communities and different countries. Translations also done to meet the needs of interaction between people from different countries in the language. Similarly, given that the human instinct is love the knowledge, pleasure and love to criticize science developed in various parts of the world and to the human master science inevitably have to master the language used by the nation\u27s science progresses in the nation. Translations are also a major factor determining the progress of a nation and the majority of developed countries in the world is the State that the movement of translation in the country. And translation in history begins with the movement of translation into the language of Yunan, movement translations into Syriac, translation movement into Arabic in the khulafau ar-Rashidun (Muawiyyah and Abbasyiyyah), move into a Latin translation, translation into the language movement modern Europe, modern translation movement into Arabic and other languages in the world of English as the language of the speakers was having to progress
Konflik Vertikal Antara Gerakan Aceh Merdeka Di Aceh Dengan Pemerintah Pusat Di Jakarta Tahun 1976-2005
AbstrakTulisan ini menganalisis konflik vertikal antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintahan pusat pada masa orde baru hingga masa reformasi (1976-2005). Skripsi ini menjawab beberapa pertanyaan berikut: bagaimana sejarah Gerakan Aceh Merdeka terbentuk? bagaimana perjalanan konflik Vertikal di Aceh yang dilalui GAM? faktor apa saja yang menyebabkan rakyat Aceh yang ingin melepaskan diri dari Indonesia? upaya apa yang di lakukan untuk penyelesaian konflik antara Gerakan Aceh Merdeka dengan pemerintah Indonesia dalam meraih rancangan kesepakatan damai? Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, penulis melakukan penelitian kepustakaan. Adapun teknis penulisan skripsi ini termasuk tata cara membuat catatan kaki, penulis menggunakan buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) CeQDA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.---AbstractThis thesis analyzes the vertical conflitc between the Free Aceh Movement (GAM) and the central government in the new order until the reform periode (1975-2005). This thesis to answer the following question: how the history of the Free Aceh Movement formed? How to travel vertical conflict in Aceh GAM passed? What factors are causing the people of Aceh who want to break away from Indonesia? What effortss will be undertaken to resolve the conflict betqween the Free Aceh Movement and the Indonesian government in achieving the draft peace agreement? To answer some of these questions, the autors conducted a study of literature. As for technical writing (thesis and dissertation) CEQDA UIN Syarif Hidaytullah Jakarta
Senjata Api dan Maskulinitas dalam Cerita Pendek “The Man Who was Almost A Man”
AbstrakMaskulinitas adalah bagian dari kajian gender. Untuk memahami maskulinitas, kita perlu mengidentifikasi laki-laki sebagai pusat dari kajian ini dari beberapa aspek. Artikel ini akan membahas mengenai hubungan kepemilikan senjata sebagai simbol dari pencapaian maskulinitas laki-laki. Kemudian dalam artikel juga mengungkapkan mengenai berbagai macam sumber dan karya sastra bahwa memiliki senjata bisa memberikan kesan kekuatan dan maskulinitas (kelaki-lakian). Cerpen dengan judul “The Man Who Was Almost a Man” adalah contoh karya sastra yang mengambarkan kepemilikan senjata api sebagai sesuatu hal yang mendukung atau memberikan kemaskulinitasan pada laki-laki. Senjata api ditangan bisa berarti kekuatan dalam diri laki-laki. Hal ini digambarkan oleh tokoh utama (Dave Saunders) yang mengaggap senjata api sebagai simbol dari kehormatan. Sejalan dengan cerita pendek ini, ada beberapa banyak penyalahgunaan senjata api yang dilakukan demi meraih kehormatan (dihargai) dan maskulinitas dalam lingkungannya. ---AbstractMasculinity is a part of gender studies. To understand masculinity, it needs to identify man as the center of the study from various aspects. Here within the article, it would be discussed about the relationship between possessing arms (gun) as the symbol of earning men’s masculinity. Then, it is implied from many sources and literary work, that possessing arms might give the impression of strength and masculinity. The short story entitled “The Man Who Was Almost a Man” is the example of literary work that gun possession will support someone in gaining his masculinity. Gun in hands means power or strength inside a man. It was showed by the protagonist (Dave Saunders) who considered gun as the symbol of respect and the real man thing (being masculine). Align with the short story, there are many gun violence happened in the name of gaining the identity of being called masculine and respect from people