Buletin Al-Turas
Not a member yet
530 research outputs found
Sort by
Hambatan Membaca Aksara Arab Bagi Anak Disleksia di Sanggar Baca Jendela Dunia
Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hambatan anak disleksia ketika belajar membaca aksara Arab dengan melihat jenis disleksia yang dialami responden, mengidentifikasi hambatan yang dihadapi anak disleksia, memberikan metode alternatif guna meminimalisir hambatan membaca aksara Arab bagi anak-anak disleksia; mengetahui lebih dekat tahapan membaca yang dicapai anak diseleksia, sampai memberikan perlakuan (treatment) yang dapat membantu anak disleksia membaca aksara Arab secara berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tehnik pengumpulan data secara deduktif-induktif secara bolak-balik sampai data dianggap cukup dan dapat mengantarkan pada temuan penelitian. Karenanya proses pengumpulan data menggunakan teknik observasi, rekaman, dan partisipasi aktif kepada 2 orang anak disleksia di Sanggar Baca Jendela Dunia. Temuan penelitian ini merekomendasikan kepada 1) Pelaku pendidikan non formal---guru ngaji, TK dan TP Alquran, dan mentor atau relawan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang menangani baca tulis latin maupun Arab--- secara lebih sistematis, terprogram dalam menangani anak-anak disleksia ketika membaca aksara Arab, termasuk melalui baca al-Quran; 2) Orangtua dalam mendidik, membimbing, mengawasi, dan memberikan perhatian terhadap cara mengatasi hambatan membaca aksara Arab dapat ditangani secara setara dengan baca tulis latin; 3) Para penggiat di bidang linguistik Arab hendaknya dapat mengembangkan pendekatan, perlakuan (treatment) yang tepat untuk anak-anak disleksia, khususnya dalam penanganan kegiatan membaca aksara Arab. ---Abstract The goal of this research is to find out the handicaps of child’s dyslexia in learning to read Arabic letters by observing the type of dyslexia undergone by respondents, indentifying the handicaps occurred to dyslexia, providing alternative method in order to minimize the handicaps in learning Arabic letters for dyslexia; to get close to know reading steps achieved by dyslexia, giving treatment that can help dyslexia in learning Arabic letters continuesly. This research uses qualitative method by collecting deductive-inductive data adequately to come into a conclusion of this research. Therefore, the process of collecting data is by using observation, recording, and actively participation for two children dyslexia in Sanggar Baca Jendela Dunia. The research findings can give recommendations as follows: 1) informal educators, such as islamic teachers, kindergarten, and Al-Qur’an learning institution, and mentor or volunteers of Social Reading Institution (Taman Bacaan Masyarakat) who can handle Arabic reading-writing systematically and well-organized to cope with dyslexia in reading Arabic letters, including to read Al-Qur’an; 2) Parents in educating, guiding, observing, and to give attention to overcome the handicaps in reading Arabic letters can be handled equally to Latin alphabets; 3) The practioners of Arabic linguists should develop effective approach and treatment for dyslexia, especially in handling to read Arabic letters. DOI: 10.5281/zenodo.55679
Servant Leaders: Umar Bin Khattab (13-23 H / 634-644 M)
Abstrak Tujuan kajian ini adalah pertama, untuk melihat sosok kepemimpinan Umar bin Khattab dalam sudut pandangan konsep servant leadership. Kedua, untukmelihat kebijakan-kebijakan yang diterapkan Umar bin Khattab dalam memimpinrakyatnya, dan ketiga, melihat implikasi-implikasi dari kebijakan yang diterapkantersebut, baik implikasi positif maupun negatifnya.Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah dengan metode deskriptifanalisis, yaitu suatu metode pemaparan peristiwa melalui analisa-analisa. Metode ini dilakukan melalui empat tahap: (1) heuristik atau teknik mencari,mengumpulkan data atau sumber, (2) verifikasi atau kritik sumber, yaitumengidentifikasi otentisitas dan kredibilitas sumber melalui kritik eksteren daninteren, (3) interpretasi atau penafsiran sejarah disebut juga analisis sejarah, yaitumenguraikan segala factor yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa, (4)penulisan, pemaparan atau laporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan.Hasil kajian menunjukkan bahwa kepemimpinan Umar bin Khattab sangat identicdengan servant leader. Pola kepemimpinan yang diterapkan Umar bin Khattabmemenuhi syarat sebagai seorang servant leader. Pola tersebut telahmengantarkannya pada kejayaan. Namun demikian, Umar bin Khattab tetaplahsosok manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Hal ini pula yang kemudianmengantarkan Umar pada kematiannya. Kata Kunci:Kepemimpinan, Umar bin Khattab, Servant Leadership ------- Abstract The goal of this research are: first to know the leadership of Umar bin Khattab on perspective of concept servant leadership. Second, to know the policies applied by Umar Khttab in conducting his government. Third, to know the implication and policies, positive and negative. This research uses deskriptif analysis, by describing the chronological order through analysis. This method is conducted in four steps: (1) heuristics or tracing technic. (2) verivication or source criticism, identifying authentication and source credibility through external and internal criticism, (3) historical interpretation also known as historical analysis, by explaining all factors causing the events (4) writing process, explaining or reporting the result of historical research that has been done.This research concludes that Umar bin Khattab’s leadership is identical to servant leadership. His leadership style had delivered him to the glory. However, Umar bin Khattab is an ordinary human being who can do no wrong and mistakes. This also led him to his death. Keywords: leadership, Umar bin Khattab, Servant Leadershi
Peranan Pangreh Praja di Tanah Partikelir Batavia 1900-1942
Abstrak Penelitian ini membahas tentang peranan pangreh pradja di tanah partikelir di Batavia. Pendapat para ahli selama ini lebih banyak mengungkapkan bahwa Pangreh Pradja menjalani peranan dualisme, disatu pihak kedudukannya merupakan bagian dari pemerintah Kolonial Belanda, namun dipihak lain kedudukannya merupakan bagian dari struktur kekuasaan tuan tanah. Karena itu Pangreh Pradja lebih condong untuk memperhatikan kepentingan tuan tanah. Ketika terjadi pemberontakan di tanah partekelir, Pangreh Pradja menjadi sasaran kemarahan petani, seperti kasus pemberontakan di Condet dan Tanggerang. Wilayah Batavia hampir keseluruhannya merupakan tanah partikelir, yang menarik di tanah ini bahwa tidak semuanya di tanah partikelir Batavia terjadi pemberontakan petani. Dari penelitian penulis dapat diketahui bahwa tidak semua pada tanah partikelir Batavia terjadi pemberontakan, disebabkan lokasi tanah partikelir di Batavia dekat dengan pemerintah pusat. Karena itu masalah keamanan dan kesejahteraan penduduk didalamnya menjadi sorotan pemerintah, yang membuat Pangreh Pradja kinerjanya sangat disorot pemerintah. Hal lainnya yang menyebabkan tidak terjadinya pemberontakan di tanah partikelir adalah: Untuk kasus tanah partikelir Kebayoran, yang diangkat menjadi kepala desa adalah ulama yang dihormati---Abstract This article discusses about the role of pangreh pradja in tanah partikelir Batavia. Most of the experts tend to exposed that Pangreh Pradja had dualism role, on the one hand his role as part of Dutch colonial, on the other hand he also had role as the landlord. That is why he tent to show his attention for the landlord. When the revolt broke out in tanah partikelir, Pangreh Pradja became the victim of the farmer hatred, such as the revolt in Condet and Tangerang. Most of the Batavia were nearly became Tanah Partikelir, where not all the land in Batavia had occured revolution done by farmers. From this article, the writer found that not all tanah partikelir in Batavia had occured revolution. It is becaused the location of tanah partikelir Batavia was near from central government. Therefore, the security and prosperity of people became the main focus of the government, which attract government for Pangreh Pradja role. The other things which avoid revolution in tanah partikelir Batavia: for this case Tanah Partikelir Kebayoran, which was appointed as the head of village was the respected ulama. So that the revolution can be avoided.DOI : 10.5281/zenodo.55679
Dinamika Ekonomi Masyarakat Arab di Batavia Tahun 1900-1942
Abstrak Sejak awal abad ke-17 Batavia yang dahulu dikenal dengan nama Sunda Kelapa lalu menjadi Jayakarta kemudian menjadi Batavia sudah berkembang menjadi sebuah pelabuhan dagang yang menjalankan aktivitas perniagaan. Batavia merupakan pusat kota pemerintahan Hindia Belanda sejak tahun 1619–1942. Sepanjang sejarah kolonial, administrasi dan daftar statistik pemerintah kolonial membagi-bagi penduduk menurut bangsanya dan secara khusus memisahkan masyarakat Cina dan Arab dari golongan pribumi.Batavia memiliki lokasi geografis sangat strategis, Batavia sangat cocok untuk dijadikan pusat kegiatan ekonomi di Asia. Selain sebagai tempat berkumpulnya kapal-kapal, Batavia selanjutnya juga berfungsi sebagai salah satu kota pelabuhan utama dalam jaringan perdagangan Asia. Dalam beberapa catatan sejarah bahwa golongan Arab dan Cina masuk wilayah Nusantara dan berasimilasi dengan masyarakat pribumi hingga menjadi ‘peranakan’ atau orang-orang keturunan yang lahir di Nusantara, namun oleh pemerintah dipaksakan dengan alasan untuk ‘melindungi’ kaum pribumi. Khususnya pedagang; tetapi pasti juga dengan alasan politik dan ekonomi. Kebanyakan dari para pedagang ini membentuk sebuah mata rantai atau jaringan perdagangan yang terjalin antar sesama komunitas. Sudah sejak lama masyarakatArab meninggalkan tanah air mereka di Hadhramaut (Yaman Selatan) yang tandus,untuk memperbaiki hidup.Mereka berdiaspora ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Nusantara. Untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat. Kata Kunci : Arab, Hadhramaut, Jaringan Ekonomi, Perdagangan, Batavia, 1900-1942. ------- Abstract Since the beginning of 17th century, Batavia which was known as Sunda Kelapa then Jayakarta then Batavia, had been a trading city which manykinds of trading activities were there. Batavia was a centre of dutch east indies government since 1619-1942. Along the colonial history, administration and statistic data of colonial government categorized their people based on their nations and, specifically, separated the Chinese and Arabs from the natives.Batavia had a strategic geography, Batavia was the best site for economic activites in Asia. Not only as a site for ships to anchor, Batavia was also functioning as one of the main port towns in Asia trading network. Depend on historical records the Chinese and Arabs kept entering the Nusantara and assimilated theirselves with the natives as ‘offspring’ or descendants who were born in Nusantara, however the government forced them to be separated with reason to protect the natives.Especially the traders, which the other political and economic reasons were included as well. Majority of the traders created trader cycles or networks which were consolidated within the community. Since a long time ago the Arabs left their hometowns in the dry Hadhramaut (South Yemen), including to Nusantara to make livings. They went overseas diasporically. They did trading and teaching religions to natives. Keywords: Arabs, Hadhramaut, Networking Economy, Trade, Batavia, 1900-194
Syariah Law and The Rights of Non-Muslims: The Importance of Reinterpreting traditional Syariah And Disseminating Progressive Syariah
Abstract During the era of Reformasi the face of Indonesian politics was marked by, among other things, the kindling in a number of regions of the formalizing of Islamic law through regional bylaws, and in other areas through public policy. Efforts to achieve this started at the third level, that is at the level of regulating aspects of religious services and worship, going beyond Islamic family and economic law, and this was also the case with formalizing shariah law at national level.Despite the positive impacts of thissuch as improved security, seen from the perspective of the rights of non-Muslims the implementation of regional Islamic regulations or public policy is a threat, in part because of its positioning as something that may trigger the violation of non-Muslim rights. Examples of this are freedom of worship, freedom to establish schools, the right to take positions of leadership and inter-faith marriage. Moreover, parts of this implementation directly infringe the rights of non-Muslims, such as the obligation to wear a veil. From the Islamic legal perspective, shariah bylaws or regulation have also crossed the boundaries of traditional shariah law, particularly in the requirement to wear a veil and in freedom of worship. Shariah bylaws are a close reflection of traditional Islamic law. Because of this, the shariah law already embodied in regional legislation must be reinterpreted to make it something of benefit to people, providing a sound footing for accomodating such contemporary demands as basic human rights. In any case, the shariah that becomes formalised in bylaws should be progressive and modern, and this is the shariah law that needs to be publicised and supported. Key Words: shariah bylaws,dzimmî, mainstream, hudîûd, khalwat, jizyah, ahl al-kitâb, takwil,and istishlâh. ------- Abstak Selama era reformasi, wajah perpolitikan Indonesia ditandai dengan adanya, antara lain, menjamurnya jumlah daerah-daerah yang memberlakukan hukum Islam melalui peraturan daerah, melalui kebijakan publik.Usaha untuk memeroleh hal ini dilakukan dengan tiga tingkatan, yaitu pada tingkat pemberlakuan aspek-aspek keagamaan, pelayanan dan peribadatan, kemudian berlanjut pada masalah hukum ekonomi dan keluarga islami, dan hal ini juga menjadi masalah pemberlakuan hukum syariah pada tingkat nasional.Meskipun dampak positif semacam ini dapat meningkatkan keamanan, ditinjau dari perspektif hak-hak non-muslim terhadap pemberlakuan peraturan daerah atau kebijakan publik menjadi sebuah ancaman, dikarenakan posisinya sebagai sesuatu yang bisa memicu pelanggaran hak-hak non-muslim. Contohnya adalah kebebasan beribadah, kebebasan medirikan sekolah, hak untuk mengambil alih kepemimpinan dan perkawinan beda keyakinan. Di samping itu, sebagian dari implementasi ini dapat berpengaruh pada pelanggaran hak-hak non-muslim, misalnya kewajiban untuk memakai jilbab. Dari perspektif hukum Islam, hukum/peraturan syariah telah melanggar batas hukum syariah tradisional, khususnya dalam mewajibkan penggunaan jilbab dan kebebasan beribadah.Perda syariah merupakan refleksi hukum islam klasik. Hal ini dikarenakan hukum islam mencakup peraturan daerah yang harus ditafsirkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, dengan menampung aspirasi suara bawah. Keywords: shariah bylaws,dzimmî, mainstream, hudîûd, khalwat, jizyah, ahl al-kitâb, takwil,and istishlâh
Stereotip Dunia Ketiga dalam Film Bride and Prejudice
Abstract The focus of this research is to expose the representation of the Third World (India) in a transnational film, Bride and Prejudice. By using the theory of representation and some concepts in postcolonial studies, the representation of the Third World are revealed through the characters of the First and Third World and their relationship. The representation of the Third World that creates center and peripheral, and the image of Center as everything confirm the stereotypical representation of the Third World. The love story of the film between the First and Third World characters actually creates prejudices which once again reflecting the First and Third World stereotypes. The genre of the film, the transnational genre, expected to give space for the Third World to be visualized equal cannot remove the stereotypical representation. Bride and Prejudice becomes a transnational film that presents colonial voices. Keywords: Postcolonialism, Representation, First and Third World, Stereotype. ------- Abstrak Fokus penelitian ini menjelaskan tentang representasi dunia ketiga (India) dalam sebuah film transnasional, Bride dan Prejudice. Dengan menggunakan teori representasi dan beberapa konsep kajian poskolonial, representasi dunia ketiga digambarkan melalui hubungan dunia pertama dan ketiga para tokoh film tersebut. Representasi dunia ketiga yang menyebabkan terjadinya pusat dan pinggiran, dan penggambaran pusat sebagai pengokohan stereotip representasi dunia ketiga. Cerita cinta dalam film tersebut, antara para tokoh dunia pertama dan ketigapada dasarnya menimbulkan praduga yang menggambarkan stereotipe dunia pertama dan ketiga. Genre film ini, genre transnasional, diharapkan dapat memberikan ruang bagi dunia ketiga mengenai kesetaraan tidak dapat menghapus stereotip terhadapnya. Bride dan Prejudice menjadi sebuah film transnasional yang merepresentasikan suara-suara kolonial. Katakunci: poskolonial, representasi, dunia pertama dan ketiga, stereotip
Sejarah dan Peranan Masjid Gammalamo Jailolo Halmahera dalam Menyingkap Jejak Warisan Budaya Kesultanan Jailolo
AbstrakMasjid Gammalamo adalah Masjid pertama dan tertian yang telah berdiri di Jailolo Halmahera. Masjid Gammalamo sebagai salah satu gedung-gedung bersejarah yang melambangkan jejak sosial dan budaya warisan Jailolo Kesultanan dalam penyebaran Islam dan penyiaran yang tergabung dalam Maloko Kie Raha empat Kesultanan Ternate di Maluku Utara, Tidore, Jailolo, dan ditandai. Penelitian pada Masjid Gammalamo dilakukan dengan pendekatan historis dan arkeologis dalam menelusuri sejarah masjid, mengungkapkan arsitektur yang unik dari bangunan dan simbolisme yang terkandung di dalamnya dan mengungkapkan warisan budaya Jailolo Kesultanan yang masih disimpan dalam peran Islam siaran.---Abstract Gammalamo Mosque is the oldest and the first mosque that have stood in Jailolo Halmahera. Gammalamo mosque as one of the historic buildings that symbolize the inherited social and cultural traces Jailolo Sultanate in the spread of Islam and broadcasting incorporated in Maloko Kie Raha four sultanates of Ternate in North Maluku, Tidore, Jailolo, and Bacan. Research on Gammalamo Mosque is done with historical and archaeological approach in tracing the history of the mosque, revealing the unique architecture of its buildings and the symbolism contained in them and reveal the cultural heritage of the Sultanate Jailolo which is still preserved in the role of Islam broadcast.DOI : 10.5281/zenodo.55680
Formal Translation On Indonesian President Speech
AbstractThis research analyzes President Speech Script from “State Address by President of the Republic of Indonesia on the Occasion of the 65th Anniversary of Independence of the Republic Indonesia which contains two languages. The purpose of this research is to discover the language expressions to know which the level of formality used in President Speech in translation of Indonesian into English. The writer analyzes the President speech as the unit of analysis. The method of this research is descriptive qualitative by comparing two text of President Speech, the Source Language (Indonesian) and Target Language (English). It uses the level of formality theory to analyze the language expressions used in translation of Indonesian into English. In this research the writer finds that there are some words, phrases, and sentences which those expressions show the formality. Based on this research, the formality mostly showed from the diction or word order and tone. Also, there are some expressions which are generally used by a President in his Speech. So, the result of translation is formal based on the analysis which has been done. ---tentang pidato president Indonesia pada kegiatan peringatan hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-65 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat formalitas penerjemahan ungkapan bahasa yang digunakan oleh president Indonesia dalam menyampaikan pidatonya dalam bahasa Indonesia yang kemudian diterjemahan ke dalam bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan membandingkan dua teks naskah pidato, bahasa Indonesia dan hasil terjemahannya dalam bahasa Inggris. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan teori formalitas berdasarkan sumber acuan buku teori penerjemahan. Penelitian ini, menympulkan bahwa hasil penerjemahan teks naskah pidato dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris banyak menggunakan ungkapan-ungkapan bahasa formal. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi para pembaca dan pemerhati penerjemahan
Masjid pada Masyarakat Adat di Jawa Barat
AbstrakKeberadaan Masjid penting bagi umat Islam, fungsinya tidak hanya terbatas sebagai tempat beribadah namun juga berfungsi sosial. Masyarakat Adat di Jawa Barat tidak semuanya menganut kepercayaan leluhur, di antara mereka terdapat kelompok masyarakat adat yang menganut ajaran Islam dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak meninggalkan nilai budaya warisan leluhur. Tulisan ini menguraikan keberadaan masjid di perkampungan masyarakat adat, terutama berkenaan dengan fungsi serta perletakannya secara adat. Data pendukung diperoleh melalui kegiatan studi pustaka, survey dan wawancara terbuka yang kemudian dianalisis secara kualitatif. Keberadaan masjid di tengah masyarakat adat memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat, yaitu peran keagamaan dan peran adat. Kondisi ini menunjukkan bahwa adat warisan leluhur tidak bertentangan dengan nilai keagamaan yang dianut, bahkan saling mengisi. ---AbstrakFor Muslim, a Mosque not only for routine religion activity but also social function. Besides do religion activity, part of culture society of west java still doing what their heritage did. This article discussing about existence of a mosque among indigenous peoples of west java. The data taken from library research, survey, and open interview, and then analyzing quantitatively. A mosque among indigenous people are very important as religious symbol and indigenous activity. In the reality, those are not contradictive to the application, but it is supporting indeed
“Deiksis” dalam Kumpulan Cerpen Al-Kabuus Tinjauan Sosiopragmatik
AbstrakPenelitian ini berupaya untuk menggambarkan pemakaian deiksis dalam teks terjemahan berbahasa Indonesia dari bahasa sumbernya, bahasa Arab. Deiksis dipahami sebagai bagian dari studi pragmatik, dengan begitu deiksis merupakan salah satu objek bidang kajian dari pragmatik. Masalah dalam penelitian ini: 1) bagaimanakah jenis-jenis deiksis; 2) bagaimanakan maksud dibalik penggunaan deiksis sosial pada kumpulan cerpen Al-Kabuus. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) untuk mendeskripsikan aneka jenis deiksis, 2) mendeskripsikan maksud penggunaan deiksis sosial pada kumpulan cerpen Al-Kabuus.Objek penelitian yang dikaji adalah jenis, maksud serta hubungan deiksis sosial dengan yang terdapat pada cerpen Al-Kabuus. Subjek penelitiannya adalah cerpen karya Najib Kailani yang diterjemahkan oleh Zuriyati. Data dalam penelitian ini adalah kata, frase, klausa, kalimat yang di dalamnya terdapat jenis dan maksud penggunaan deiksis sosial dalam cerpen Al-Kabuus. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 20 cerpen dari Al-Kabuus diperoleh 60 deiksis sosial, terdapat 5 deiksis sosial jenis gelar, 4 deiksis sosial jenis jabatan, 12 deiksis sosial jenis profesi, dan terdapat 36 deiksis sosial jenis julukan.---AbstractThis study attempted to describe the use of deixis in Indonesian language translation text from the source language, Arabic. Deixis understood as part of a pragmatic study, so deixis is one of the object field of study of pragmatics. The problem in this research: 1) how the types of deixis; 2) how is the intention behind the use of social deixis on a collection of short stories Al-Kabuus. Goals to be achieved in this research are: 1) to describe the various types of deixis, 2) describe the intended use of social deixis on a collection of short stories Al-Kabuus.The object of research by reviewing the type, purpose and relationship with the social deixis contained in Al-Kabuus short stories. Subject of research is the short story by Najib Kailani translated by Zuriyati. The data in this study are words, phrases, clauses, sentences in which there are different types and the intended use of social deixis in short stories Al-Kabuus. Sources of data in this study consisted of primary data sources and secondary data sources.Data collection techniques in this study using documentation. The results of this study indicate that as many as 20 short stories from Al-Kabuus obtained 60 social deixis, social deixis there are 5 types of titles, positions four types of social deixis, social deixis 12 kinds of professions, and social deixis there are 36 kinds of nicknames