Buletin Al-Turas
Not a member yet
530 research outputs found
Sort by
The Discovery of Oil And The Urgency of The Dutch Indies Mining Act 1899
AbstractThis article describes the historical background of the passing of the Dutch Indies Mining Act of or the Indische Mijnwet, the factors that led to the passing of the Act, and the obstacles and the responses of some parties to the act. Various factors that influenced the passing of the act were not separated from the changes within the political situation in The Netherlands and in the archipelago itself regarding the relationship between the Dutch and other powers, such as the British and local authorities, as well as the expansion of markets and production that were carried out by American oil companies in Asia. The American oil companies’ efforts to set foot in the Dutch Indies were a threat to the dominance of the oil companies in the Dutch Indies, and the Dutch Indies Mining Act was one legal obstacle for the existence and expansion of American oil companies that sought to dominate oil exploration in the Dutch Indies.---AbstraksiArtikel ini menjelaskan tentang latarbelakang sejarah pemberlakuan Undang-Undang Pertambangan Hindia Belanda Indische Mijnwet, yaitu faktor-faktor penyebab, dan hambatan-hambatan serta respon dari beberapa kelompok terhadap adanya Undang-Undang tersebut. Banyaknya faktor yang mempengaruhi pemberlakuan Undang-Undang tersebut tidak terlepas dari perubahan situasi politik di Belanda dan Indonesia yang masih memiliki keterkaitan hubungan antara Belanda dan para penguasa lainnya, seperti pemerintah Inggris dan pemerintahan setempat serta adanya eskpansi pasar dan produksi yang dibawa oleh perusahaan minyak Amerika di Asia. Adanya usaha-usaha perusahaan minyak Amerika untuk melebarkan sayap ke Hindia Belanda menjadi sebuah ancaman terhadap dominasi perusahaan minyak bagi Hindia Belanda sendiri. Dan Undang-Undang Pertambangan Hindia Belanda merupakan salah satu masalah hukum terhadap keberadaan dan ekpansi perusahaan minyak Amerika yang akan mengeksplorasi minyak di Hindia Belanda
Dakwah Kultural Sunan Sendang Duwur
AbstrakSunan Sendang Duwur salah seorang waliyullah yang peranannya disejajarkan dengan Walisongo dalam menyiarkan Islam di Tanah Jawa. Sunan Sendang berdakwah secara kultural mengakulturasikan budaya yang mentradisi di Desa Sendang Duwur dan menginternalisasikan nya dengan nilai-nilai Islam. Ajarannya tentang “mlakuho dalan kang benar, ilingo wong kang sak burimu” (berjalanlah di jalan yang benar, dan ingatlah pada orang yang ada di belakangmu) hingga kini masih relevan yang berakulturasi dengan budaya setempat adalah tradisi selametan dan sedekahan yang diisi dengan pembacaan tahlil dan bancaan. Selain itu Masjid Sendang Duwur yang arsitekturnya vulnavular Joglo dan berakulturasi dengan budaya Hindu Jawa juga merupakan jejak dakwah kultural Sunan Sendang Duwur. Dalam penelitian ini berupaya untuk mengkaji dakwah kultural Sunan Sendang Duwur yang penuh kedamaian di mana salah satu metode dakwahnya adalah tut wuri handayani lan tut wuri hangiseni. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan sejarah dengan melihat dan mengkaji seluruh aspek kehidupan sang tokoh. Dengan perspektif ini, diharapkan dapat diungkap keseluruhan sosok Sunan Sendang Duwur, mulai dari latar belakang keluarga, latar sosial, pendidikan, peranannya dalam dakwah kultural di Desa Sendang Duwur Paciran Lamongan yang hingga kini dakwahnya masih terimplimentasi dan diterapkan dalam kehidupan tradisi dan budaya masyarakat Sendang Duwur.---AbstractSunan Sendang Duwur one Waliyullah whose role is aligned with the broadcast Walisongo Islam in Java. Sunan Spring preaching culturally mengakulturasikan mentradisi culture in the village of Spring Duwur and internalize it with Islamic values. His doctrine of "mlakuho role in kang true, ilingo wong kang sak burimu" (walk on the right path, and remember the people who were behind) are still relevant acculturated to the local culture is a tradition selametan and sedekahan filled with readings tahlil and bancaan. Besides the mosque Spring Duwur whose architecture vulnavular Joglo and acculturated by Javanese Hindu culture is also a cultural propaganda trail Sunan Spring Duwur. In this study sought to examine the cultural propaganda Sunan Spring Duwur peaceful where one method of preaching is wuri Handayani lan tut tut wuri hangiseni.Metode in this study is a qualitative method approach by looking at the history and examines all aspects of the life of the hero. With this perspective, is expected to reveal the overall figure of Sunan Sendang Duwur, ranging from family background,social background,education, its role in preaching the cultural village Spring Duwur Paciran Lamongan, which till now his preaching had done implementation and applied in the life of the tradition and culture of the people Sendang Duwur
Kemajuan Ekonomi dan Politik Kerajaan Melayu Patani Pada Masa Pemerintahan Raja Ungu (Tahun 1624-1635)
AbstrakPatani memiliki sebuah kerajaan yang berjaya yaitu Kerajaan Melayu Patani, terbentuk di abad ke 16. Sebelumnya kerajaan ini bernama Langkasuka, Kerajaan Langkasuka berada di pedalaman, yang membuat perdagangan dan perniagaan merosot. Dengan hal itu maka Phya Tuk Naqpa atau Sultan Ismail Syah memindahkan ibukota Kerajaan Langkasuka ke pesisir. Ia adalah Raja yang pertama kali memeuluk Islam dan orang yang membuka negeri Patani.Kerajaan Patani bertambah maju perniagaannya dikarenakan memiliki letak yang strategis dan memiliki alam yang sangat mendukung, pelabuhannya membuat kapal-kapal yang datang terlindungi dari ombak dan angin. Kerajaan Patani mencapai puncak kegemilangannya saat dipimpin oleh raja-raja perempuan, salah satunya adalah Raja Ungu (1624-1635). Ia adalah permaisuri dari Sultan Pahang. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana sejarah kerajaan Patani dan perkembangan Islam di Patani, menguraikan apa saja kemajuan ekonomi dan politik yang dicapai Kerajaan Melayu Patani saat di pimpin oleh Raja Ungu, dapat mengetahui apa saja hal yang menyebabkan kerajaan Patani mengalami kemunduran. Penelitian ini menggunakan metode historis yang bersifat deskriftif analitis. Tahapan yang di tempuh dalam penelitian ini terdapat 4 tahapan, diantaranya: Heuristik (Pengumpulan data), Verifikasi (Kritik Sumber), Interpretasi (Analisis sejarah) dan Historiografi (Penulisan Sejarah).---AbstractFarmers have a successful government, namely the Malay Kingdom, formed in the 16th century named Langkasuka Earlier this kingdom, the kingdom of Langkasuka is located in the interior, who make trade and business declined. With it then Phya Tuk Naqpa or Sultan Ismail Shah moved the capital of the Kingdom of Langkasuka to coast. It is the King who first memeuluk Islam and people who open Patani. Patani kingdom prospered because its business has a strategic location and natural features that strongly supports, harbors make ships coming protected from waves and wind. Patani kingdom reached the peak of its glory when, led by the kings daughters, one of whom was King Purple (1624-1635). It is the consort of the Sultan of Pahang.This study aims to clarify how the history of the kingdom of Patani and the development of Islam in Patani, outlines whatever economic and political progress achieved Malay Kingdom currently led by Raja Ungu, can know what things cause Patani government suffered a setback. This study uses descriptive analysis of historical nature. The step which is taken in this study there are 4 stages, including: Heuristics (data collection), Verification (Source Criticism), interpretation (of history) and historiography (history writing)
Kontroversi Doktrin Tarekat dalam Puisi Sufistik Karya Syaikh Isma‘il al-Minangkabawi
AbstrakTarekat adalah gerakan dan aktifitas sufistik yang terwujud dalam bentuk lembaga dan organisasi. Sebagai sebuah organisasi keagamaan yang lebih berorientasi pada aktifitas menempuh perjalanan ruhaniyah dan spiritual, maka diperlukan adanya pemimpin, pembimbing ataupun penuntun yang akan mengantarkan para pengikut pada tujuan spiritual yang hendak dicapai. Dalam konteks inilah setiap ajaran tarekat berupaya merumuskan metode dan tata cara menempuh jalan yang hendak dilalui para salik termasuk kriteria para mursyid sebagai pemimpin dan penunjuk jalan tersebut. Hal ini jugalah yang coba dirumuskan Syaikh Isma’il al-Minangkabawi dalam konsep-konsep tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang diajarkan dan dikembangkannya di Nusantara pada awal abad 19 M. Dalam konteks ajaran tarekatnya, Syaikh Isma’il al-Minangkabawi berupaya merumuskan beberapa aturan bagi para penempuh jalan ruhani menuju Tuhan (murid/salik) dan juga merumuskan kriteria pada pemandu jalan (syaikh/mursyid) yang berhak menjadi penuntun bagi para salik. ---AbstractTarekat is movement and activity sufistik embodied in institutions and organizations. As a religious organization that is more oriented to activities ruhaniyah and spiritual journey, it is necessary to have a leader, mentor, or a guide who will lead the followers of the spiritual goal to be achieved. In this context every teaching institute seeks to establish the method and procedure for the path to be traversed the salik including the criteria mursyid as leaders and guides them. It is also likely to try to formulate Shaykh Isma\u27il al-Minangkabawi in concepts congregation Naqsyabandiyah Khalidiyah taught and developed in the archipelago in the early 19th century AD In the context of the doctrine congregation, Shaykh Isma\u27il al-Minangkabawi attempt to formulate some rules for facer spiritual path to God (pupil / salik) and also set the criteria on a guide (shaykh / mursyid) eligible to be a guide for the salik
Menjadi Juru Kunci Islam Nusantara: Peran Perpustakaan dalam Melestarikan Naskah Islam Nusantara
AbstrakIndonesia adalah negara dengan komunitas Muslim terbanyak di dunia. Corak keislaman di Indonesia juga memilik kekhasan tersendiri, yang berbeda dengan sumber aslinya di Timur Tengah. Salah satu cara memahami corak keislaman Indonesia adalah dengan mempelajari naskah-naskah Islam Nusantara yang tersebar di Indonesa, sampai ke negara-negara tetangga. Keberadaan naskah itu tentu menjadi kekayaan tak ternilai untuk bangsa kita, sehingga sangat perlu untuk dilestarikan. Perpustakaan sebagai lembaga yang berfungsi untuk mengumpulkan, mengelola, dan menyebarkan informasi, perannya dalam pelestarian naskah Islam Nusantara sudah pasti sangat diperlukan. Perpustakaan bahkan dapat menjadikan kekayaan naskah Islam Nusantara tersebut sebagai strategi branding untuk bersaing dengan perpustakaan lainnya. Selain mengumpulkan informasi tentang naskah, mengolah dan menyebarkan informasi tentang naskah Islam Nusantara, perpustakaan juga harus memiliki pustakawan-pustakawan yang handal dan mumpuni dalam melestarikan naskah Islam Nusantara. Keberadaan Database Sumber Primer Islam Nusantara yang nantinya akan diintegrasikan dengan sistem otomasi di perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Jakarta, akan menjadikan perpustakaan FAH sebagai perpustakaan yang memiliki distingsi dan keunggulan tersendiri dibanding perpustakaan lainnya.---AbstractIndonesia is the country with the largest Muslim community in the world. Islamic pattern in Indonesia also picks its own peculiarities, which is different from the original source in the Middle East. One way to understand the Indonesian Islamic style is by studying Islamic texts of archipelago scattered Indonesa, even to neighboring countries. The existence of the manuscript that will become invaluable wealth for our nation needs to be preserved. The library as an institution whose function is to collect, manage, and disseminate information, its role in the preservation of Islamic manuscripts archipelago is definitely indispensable. Libraries can even make the wealth of the archipelago of Islamic texts as a branding strategy to compete with other libraries. In addition to collecting information about the script, process and disseminate information on Islam Nusantara manuscripts, the library must also have librarians who are reliable and qualified in preserving texts of Islam Nusantara. The existenceof primary source databases of Islam Nusantara which will be integrated into the automation system in the library of the Faculty of Adab and Humanities (FAH) UIN Jakarta, will make FAH library as a library that has its own distinctions and advantages compared to other libraries
Kebijakan Politik Turki Utsmani di Hijaz 1512-1566 M
AbstrakStudi ini menjawab satu pertanyaan yaitu bagaimana dampak kebijakan politik Turki Utsmani di Hijaz 1512-1566 M. Untuk menjawab pertanyaan tersebut digunakan metode historis, melalui sumber tertulis dengan pendekatan politik. Dikarenakan dari berbagai sumber tertulis masa pemerintahan Turki Utsmani (1512-1566 M), begitu kuat pengaruhnya terhadap negara-negara bercorak Islam yang ada di Timur Tengah, khususnya Hijaz. Akan tetapi dari berbagai studi ini, penulis belum menemukan keterangan atau penjelasan yang mendalam, pengaruh kebijakan Turki Utsmani itu begitu kuat. Temuan penulis bahwa kebijakan Turki Utsmani memberikan kemajuan yang signifikan terhadap Hijaz. Dalam hal politik, madzhab Sunni menjadi dominan di Timur Tengah, Hijaz menjadi sentral gerakan studi intelektual dengan menetapkan Syarîf di Makkah, Sançak di Jeddah, dan Muhafidz di Madinah. Gelar khalifah yang disandang Turki Utsmani menjadikan ia sebagai penguasa tunggal di Timur Tengah. Banyak negara-negara Islam meminta legitimasi gelar “kesultanan” kepada Sultan di Istanbul melalui Syarîf al-Harâmayn di Hijaz.---AbstractThis study answered the question is how policy impacts the Ottoman Empire in 1512-1566 Hijaz M. To answer these questions used the historical method, through written sources with a political approach. Due from various sources written during the reign of the Ottoman Empire (1512-1566 AD), so a strong influence on the character of Islam countries in the Middle East, especially the Hijaz. However, from various studies, the authors have not found profound information or explanations, the influence of the Ottoman policy was so strong. The findings of the authors that the policy of the Ottoman provide significant progress toward Hijaz. In terms of politics, Sunni sects became dominant in the Middle East, Hijaz became central to the movement of intellectual study to establish Sharif in Makkah, Sancak in Jeddah, and Muhafidz in Medina. Title that carried the Ottoman caliph make it as the sole ruler in the Middle East. Many Islamic countries ask legitimacy of the title of "the empire" to the Sultan in Istanbul with Sharif al-Haramayn in Hijaz
Tafsir Al-azhar : Menyelami Kedalaman Tasawuf Hamka
AbstrakMistisisme adalah bagian dari ilmu pengetahuan Islam yang menekankan pada nilai-nilai estetika, khususnya berbicara mengenai perilaku terhadap Tuhan dan manusia. Ketika Aisyah ditanya oleh seorang sahabat nabi Muhammad, ia berkata, “perilakunya adalah al-Qur’an”. Hamka dalam tafsirnya menyatakan bahwa hal yang paling penting dalam kutipan tersebut adalah etik (akhlaq). Akhlaq merupakan bagian dari kandungan al-Qur’an yang membuat Islam tersebar di seluruh dunia. Tulisan ini menelusuri konsep Tasawuf Hamka sebagai suatu prototipe kecil dari karyanya tentang tasawuf dalam ‘Tasawuf Modern.’ Selain itu, tulisan ini juga fokus pada biografi Hamka serta hubungannya dengan tasawuf, metode interpretasi, rujukan utamanya, karakteristik ‘Tafsir al-Azhar’, metode penjulisannya, dan pendekatan yang digunakan dalam interpretasinya. Tulisan ini juga bermaksud untuk mengeksplorasi konsep uzlah, wali, mahabbah, dan ilmu ladunni in ‘Tafsir al-Azhar’.---AbstractThe Misthycism is a part of Islamic knowledge emphases the values of estetic, especially talking about attitudes to God and the Human being. When Aisha r.a. was asked by a companion of prophet He said,” His attitude is the Holy al-Qur’an”. In his tafsir, Hamka stated that the most important thing quoted from it was ethic (akhlaq). Even it is one of the amazing of the Holy Qur’an which had spread Islam to the whole of the world. This paper will track the conception of Hamka’s tasawuf as a little prototife from his work about Tasawuf at ‘Tasawuf Modern’. The paper will focus in Hamka’s bliography and his relate with tasawuf, the methode of interpretating, main references, characteristics Tafsir al-Azhar, methode in writing it, and the approacs used in his interpretations. Also focusing to explore conception of uzlah, sufi saint (wali), mahabbah, ilmu ladunni in ‘Tafsir al-Azhar’
Ajaran Islam dalam Naskah-Naskah Singir Koleksi Fsui Sebagai Bentuk Persinggungan Budaya Islam-Jawa: Kajian Intertekstualitas
AbstrakSingir merupakan salah satu genre sastra Jawa berbentuk puisi tradisional sebagai turunan dari syair (dalam ranah kesusastraan Melayu) atau syi\u27r (dalam ranah kesusastraan Parsi-Arab). Sebagai sastra pesantren, singir mengandungajaran-ajaran seperti ilmu tauhid, fiqih, tarikh, akhlaq, dan ajaran Islam lainnya yang ditulis dengan aksara pegon (aksara Arab bahasa Jawa). Tradisi pembacaan singir dilakukan dengan cara ditembangkan sebagaimana tradisi kesusastraan Jawa berbentuk macapat. Meskipun jumlah populasinya tergolong banyak, namun pembicaraan tentang singir sebagai bagian dari khazanah kesusastraan Jawa masih minim. Penelitian ini berupaya untuk mengkaji 9 naskah singir koleksi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dan studi literatur. Naskah-naskah dalam penelitian ini digambarkan dan dijelaskan dari segi isi. Selain itu, naskah juga dijelaskan menggunakan kajian intertekstualitas yang menghubungkan singir dengan ayat-ayat Qur’an dan Hadits sebagai sumber penulisan singir. Cara ini telah dilakukan sebagai metode pengajaran nilai-nilai Islam di wilayah pesantren.---AbstractSingir is one of the literary genres of Javanese traditional form of poetry as an adoption from ‘syair’ (in the literature of Malay) or ‘syi\u27r’ (in the literature of Parsi-Arabic).As a pesantren literature, singir contains the Islamic values such as tauhid, fiqih, tarikh, akhlaq and other Islamic teachings written with pegon characters (Arabic script using Javanese language). It is taught by singing (as macapat tradition in the other Javanese traditional form of poetry). Although the population is quite a lot, but the discussion and the research on singir as part of the literature of Java is still rare. In this study, the authors tried to explore 9 singir manuscripts of Faculty of Humanities of University of Indonesia’s collection.This research uses qualitative-descriptive method and literature study. These manuscripts are described and explained its contents. Furthermore, these manuscriptsare also explained using intertextual study which is related to the Qur\u27an and Hadith as a source of singir writing. The method has been appliedto teach an Islamic values in pesantren area
Jejak Budaya pada Nisan Kuna Islam di Kuningan
AbstrakKuningan adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat, dengan ibukotanya Kuningan. Di lihat dari posisi geografis Kuningan terletak di bagian timur Jawa Barat berada pada lintasan jalan regional yang menghubungkan Cirebon dengan wilayah Priangan Timur dan sebagai jalan alteratif jalur tengah yang menghubungkan Bandung-Majalengka dengan Jawa Tengah. Beberapa Kawasan di wilayah Kuningan banyak di temukan sebaran peninggalan arkeologis Islam berupa makam-makam kuna yang perlu di ungkap. Makam tersebut merupakan makam para tokoh-tokoh penyebar Islam lokal maupun dari luar Kuningan pada masa Islamisasi di kawasan tersebut. Data diperoleh berdasarkan hasil penelitian arkeologi Islam di kawasan Luragung, dan Garawangi Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat yang dilakukan pada tahun 2013 dan 2014. Penelitian melalui metode survei permukaan yang dilengkapi studi kepustakaan berupa buku-buku, laporan penelitian, artikel dan ditambah data hasil wawancara. Berkaitan dengan keberadaan stuktur makam permasalahan yang akan dikaji adalah identitas tokoh yang dimakamkan, bentuk jirat, nisan, dan ragam hias nisan. Tujuan tulisan ini adalah mengungkap budaya masa lalu masyarakat Kuningan pada masa masuk dan berkembangnya Islam. Hasil penelitian menunjukkan nisan pada makam makam kuna di wilayah Kuningan selain memakai nisan batu tegak (menhir), juga terdapat bentuk nisan pipih polos dan nisan pipih berhias. Melalui bentuk nisan tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kuningan masa lalu mendapat pengaruh budaya Jawa Tengah (Demak) dan Jawa Timur (Troloyo). Faktor yang mempengaruhi budaya masyarakat Kuningan masa lalu berkaitan dengan Islamisasi di kawasan tersebut.---AbstractKuningan is one of the districts in West Java Province, with the capital city is Kuningan. Geographically the position of Kuningan is located in the eastern part of West Java is on track Cirebon regional road that connected the region of Priangan Timur and an alternative road in center lane road to connects Bandung-Java with Central Java. In some areas in the Kuningan District , there were many archaeological remains found spread out of Islam in the form of ancient tombs that needs to be disclosed. The tomb is the tomb of the Muslim leaders spreader locally or from outside the Kuningan during the Islamization in this region. Data obtained based on the results of lslam archaeological research in the Luragung area, and Garawangi Kuningan District, West Java Province conducted in 2013 and 2014. Research through the preliminary survey methods that include the study of literature in the form of books, research reports, articles and interview data. Related to the structure of the tomb, the issues to be studied is the identity of the buried figure, shape tomb, tombstone, headstone and ornaments. The purpose of this paper is to reveal the culture of past societies in Kuningan when the entry and development of Islam. The results showed the headstone on the grave of ancient tombs in the Kuningan area, besides shape headstone upright stone (menhir), there is also a form of plain flat headstone and gravestone decorated flat. Through the tombstone shape can be concluded that the Kuningan public in the past received cultural influences in Central Java (Demak) and East Java (Troloyo). Affecting factors in Kuningan cultural in the past were related to the islamization in this region
Struktur Sosial Politik Kerajaan Loloda di Antara Minoritas Islam dan Mayoritas Kristen Abad Xvii-Xx
AbstrakLoloda adalah sebuah kata atau konsep yang terkait dengan suatu tempat, bahasa, etnik, mitologi, masyarakat, kerajaan, dan agama, dengan sejarah panjang yang masih kabur. Loloda secara bahasa adalah bahasa orang-orang Loloda, etnik adalah suku bangsa Loloda, mitologi adalah mitos asal mula keberadaan orang dan raja-raja yang pernah menjdi penguasa tertinggi di kerajaan Loloda yang tidak terlepas dari tradisi-tradisi lokal masyarakatnya. Loloda adalah suatu komunitas masyarakat yang telah sejak berabad-berabad yang lalu mendiami sebuah wilayah geografis yang luas. Loloda adalah salah satu kerajaan yang berada di kawasan Laut dan Kepulauan Maluku bagian utara yang cenderung belum dikenalLoloda dan Moro, oleh kebanyakan ahli dianggap adalah dua kerajaan yang sejauh ini belum diketahui kapan terbentuknya. Namun untuk Loloda sendiri menurut beberapa tradisi lokal mengatakan bahwa secara politis kerajaan ini sudah ada sejak tahun 1220 (abad ke-13), sedangkan Moloku Kie Rahayang terbentuk berdasarkan perjanjian Moti/Traktat Moti dan terkonfigurasi pula ke dalam Motir Staten Verbond1322-1343, secara bersamaan baru muncul pada 1320-an (abad ke-14).Sejak abad ke-15 (1486)---Loloda is a word or concept associated with a place, language, ethnic, mythology, society, empire, and religion, with a long history that is still vague. Loloda in the language is the language of the people Loloda, ethnic tribes are Loloda, mythology is the mythical origin of the existence of people and the kings that ever menjdi highest ruler in the kingdom Loloda which is inseparable from the traditions of local communities. Loloda is a community of people who have since many centuries ago inhabited a vast geographical area. Loloda is one of the kingdom which is in the Mediterranean region and northern Maluku Islands which tend not dikenalLoloda and Moro, by most experts consider these two kingdoms which so far is not yet known when the formation. But for Loloda itself according to some local traditions say that politically this kingdom has existed since 1220 (the 13th century), while Kie Rahayang Moloku formed by Moti agreement / treaty Moti and configured into the inner Motir Staten Verbond1322-1343, simultaneously emerged in the late 1320s (the 14th century) .Since the 15th century (1486