Buletin Al-Turas
Not a member yet
    530 research outputs found

    Identitas Historis Orang Loloda di Pesisir Halmahera Hingga Pasca Era Reformasi Indonesia 1999-2010

    No full text
    Abstrak Tujuan dari paper ini adalah untuk menjelaskan perjuangan orang-orang Loloda dalam mencari kembali identitas dirinya di Halmahera Maluku Utara, di mana sejarah menjadi landasan berpikir dan bertindak dalam mencapai tujuannya bahkan sampai sekarang. Perjuangan orang Loloda itu mulai semakin gencar seiring dengan berlakunya undang-undang otonomi daerah nomor 22 tahun 1999 sampai hari ini. Semarak diberitakan bahwa tokoh-tokoh adat masyarakat Loloda menuntut kabupaten tersendiri lepas dari Kabupaten Halmahera Utara (Loloda Utara) dan Barat (Loloda Selatan) dengan nama ”Kabupaten Loloda Pasifik”. Isu lain yang berkembang ialah bahwa sampai saat ini masyarakat Loloda belum menikmati kekayaan sumber daya alamnya sendiri yang melimpah dan diabaikan. Mereka mulai kembali mencari identitas diri lewat sejarahnya yang hingga kini masih dianggap kabur dan sarat diskriminasi. Sikap disintegrasi pun mulai muncul dari yang sebelumnya berskala kabupaten menjadi berskala propinsi. Mereka ingin melepaskan diri, keluar dari Propinsi Maluku Utara dan menyatakan diri siap bergabung dengan Propinsi Sulawesi Utara apabila aspirasinya tidak terpenuhi. Pertanyaannya adalah bagaimana hubungan antara sejarah daerah ini dengan munculnya tuntutan perubahan status Loloda dari kecamatan ke kabupaten baru yang diharapkan.---Abstract The purpose of this paper is to describe the struggle of Loloda people to find their true identity in Halmahera, North Maluku, where the history of the foundation of thingking and acting in achieving its goals even now. The struggle of people Loloda formulate his identity began to become more frequent, they are accompanied by a search history in the area of the sea and the Maluku Island. In addition since, num. 22th 1999 along with the beginnings of the issue of autonomy in Indonesia until now, lively reported that traditional leaders of society Loloda sue the district of its own apart from the district North Halmahera (North Loloda) and west (South Loloda) with the name “District of Loloda Pasific”. Another growing issue is that until now, people Loloda not enjoy the wealth of its own natural resources are abundant and ignored. They started back in search for identity through history which is still considered to be vague and full of discrimination. Attitude began to emerge from the disintegration of the previously district-wide scale to the provinces, where they want to break away, out of North Maluku province and declared themselves ready to join the North Sulawesi province. The question which then must be answered is, what is the relationship between the local history of this region with the aspiration of the Loloda people to form a new district even want to join with other provinces

    Pelayaran Angkutan Jamaah Haji di Hindia Belanda (Tahun 1911-1930)

    Get PDF
    oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/2926AbstrakTulisan membahas tentang transportasi ibadah haji di masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1911-1930 M. Tujuan riset ini adalah untuk mengetahui kondisi transportasi haji, baik dalam arti ekonomis maupun sebagai sarana pendukung bagi perjalanan haji yang ada di pelabuhan Batavia. Metode yang digunakan adalah kajian kualitatif, sementara data diperoleh melalui penelusuran literatur dan dokumentasi. Teknik analisis ini didasarkan pada teknik heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil kajian menunjukkan bahwa ada sebuah ironi terkait dengan kebijakan pemerintah kolonial terkait dengan aturan transportasi yang termuat dalam Ordonansi Hajj tahun 1898 – 1922 yang menekankan pada aspek kesehatan fasilitas ibadah. Pembahasan terkait transportasi ibadah haji ini menunjukkan bahwa Pemerintah Hindia Belanda sebenarnya tidak memberikan pelayanan dalam perjalanan ibadah haji, kecuali hanya mementingkan aspek ekonomi saja. Kesimpulan ini diambil berdasarkan fakta bahwa banyak jamaah haji yang sakit dan meninggal dalam kapal angkutan milik pemerintah Hindia Belanda. Kapal ini tidak dilengkapi fasilitas yang memadai dan kabin yang tidak layak untuk perjalanan jauh.Kata kunci: kebijakan kolonial, Hindia Belanda, Transportasi, haji, Batavia   ------- AbstractThis paper discusses the transportation of pilgrims at Netherlands Indie in 1911-1930. The purpose of writing this research to determine the conditions transportation of pilgrims both in terms ofeconomic, as well as of supporting facilities above pilgrims hajjships available at the port of Batavia.The method used in this study is qualitative. While data collection is done through literature research and documentation. This data analysis technique based on heuristic techniques, verification, interpretation, and historiography. The findings of this study is an irony between the colonial government policy for transportation improvements embodied in Ordinance Hajj pilgrimage in 1898 to 1922 which it prioritizes health facilities worshipers. This discussion of the findings in the transportation of pilgrims produced that belonged to the Dutch East Indies in the dynamics can not serve pilgrims journey to the maximum and is only concerned with the economic aspects alone. Thus it can be concluded because often was found pilgrims are sick and even died in the course of the ships belonging to the Dutch East Indies Hajj, because Hajj ships is in the know of inadequate facilities and the rooms were not comfortable for long journeys pilgrims.Keywords: Colonial Policy, Dutch East Indies, Transportation of pilgrims, Pilgrimage, Batavia

    Perpustakaan Dalam Sejarah Islam: Riwayat Tradisi Pemeliharaan Khazanah Intelektual Islam

    Get PDF
    Abstrak Perpustakaan dalam sejarah Islam menempati posisi yang signifikan. Keberadaannya merupakan bagian integral dari perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam terutama pada abad 8-10 M. Kehadiran perpustakaan dalam sejarah Islam sangat mengagumkan baik dari segi pengelolaan, jumlah kitab,  jumlah pemakai, dan apresiasi para khalifah waktu itu.   Secara hipotetis dapat dikemukakan bahwa jika tidak ada perpustakaan di masa tersebut maka  ilmu pengetahuan dan peradaban tidak akan mengalami kemajuannya. Atau setidak-tidaknya perkembangan ilmu akan berjalan sangat lambat dan tersendat-sendat. Fungsi Perpustakaan dalam sejarah Islam adalah pertama, tempat mencari bahan referensi bagi para penuntut ilmu di berbagai tingkat pendidikan; kedua, bahan kajian para intelektual Islam; ketiga, pusat penyimpanan buku-buku dan manuskrif berharga karya ilmuan,  keempat, sebagai tempat pertemuan untuk kepentingan diskusi ilmiah dan debat intelektual, dan kelima, menjadi simbol kembanggaan khalifah dan penguasa setempat. Kata Kunci: Bayt al-Hikmah, Baghdad, al-Rasyid, al-Ma’mun, Peradaban.  ------ Abstract Library in Islamic history plays in a very significant role. Its existence is very amazing as well as it becomes as an unseparated part of the Islamic civilization and Islamic knowledge  development particularly at 8Th -10th century. Hypothetically, if library does not exist, knowledge will not develop fast as well. There are some functions of library. The first, it is a place where the science seekers look for the reference; the second, it becomes a center of a study for muslim scholar, the  third, it stores and saves a very valuable manuscript work and books, the fourth, a place where muslims scholar conduct meeting or discussion ,the  fifth, library symbolizes a dignity of the Khalifa and the authorities. Key words: Bayt al-Hikmah, Baghdad, al-Rasyid, al-Ma’mun, Civilization

    Otoritas Sanad Keilmuan Ibrahim Al-Khalidi (1912-1993): Tokoh Pesantren di Lombok NTB

    Get PDF
    Abstrak Hubungan intlektual ulama-ulama Haramayn dan  Nusantara telah terjalin sejak abad ke-17 bahkan semenjak masa Wali Songo. Masyarakat muslim Lombok sejak abad ke-18 telah menjalin kontak hubungan dengan ulama-ulama Haramayn, terbukti dengan adanya sejumlah tuan guru yang mengenyam pendidikan di kota suci tersebut dan menjadi khalifah tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah,hinggamembentuk komunitas yang bercorak fiqh-sufistik.Hubungan sanad keilmuan Ibrahim Al-Khalidi dengan ulama Haramayn dapat di buktikan melalui dua sanad tertulis yang diterimanya, yaitu: (1) Sanad ilmiyah salah seorang ulama Nusantara, KH. Mahfudz Al-Tirmasi (w. 1338 H/1919) dalam kitab Kifayah al-Mustafid diterima  dari dua orang gurunya di Haramayn, (2)  Ijazah Syekh Hasan Muhammad Al-Masyath (w. 1399 H) dalam karyanya Al-Irsyad bi Dzikr Ba’dh Mả li Min Al-Isnảd pada tahun 1370 H. Di Makkah al-Mukarramah, seorang ulama yang punya otoritas sanad keilmuan di tanah Hijaz abad XX. Akurasi mata rantai dan kaitan sanad satu sama lain antara seorang ulama dan pemberian ijazah (sertifikasi) yang menjelaskan kredensial akademik pemegangnya, menjadikanIsnadmenjadi kredensial terpenting dan menjadi pengakuan guru terhadap otoritas muridnya. Kata Kunci: Ulama, Keilmuan, Sanad, Lombok, Haramayn.  ------- Abstract The intelectual relation of Ulemas in Haramayn and Nusantara had been connected to each other during the 17th century, since Walisongo era.  Moslem society in Lombok during the 18th century had also been connected to ulemas in Haramayn. It can be proved by the evidences of the great teachers (mahaguru) who had finished studying in the holy city (Haramayn) and the existence of Qadariyah and Naqsabandiyah misticism untill it forms fiqh-sufistics community.The knowledge relationship speakers of Ibrahim Al-Khalidi with Ulemas in Haramayn can be proved through two written sanad (speakers relationship)received, such as: (1) Scholarly sanad, one of ulemas in Nusantara, KH. Mahfudz Al-Tirmasi (d. 1338 H/1919) in Kifayah al-Mustafid accepted from his two teachers in Haramayn, (2) the special permission (ijazah) of Syekh Hasan Muhammad Al-Masyth (d.1399 H) in his work Al-Irsyad bi Dzikr Ba’dh Ma li Min Al-Isnad in 1370 H. in Makkah Mukarramah, an ulemas who owns the authority of knowledge speaker relationship (sanad) in Hijaz during XX century. The chains acuracy and sanad relationship between one ulama and another ulemas who gave the authority explaining the holder of the academic credential and creating isnad become the most credential which produce teacher’s confession to his students authority. Kata Kunci: Ulama, Keilmuan, Sanad, Lombok, Haramayn

    Kuasa dalam Kajian Écriture Féminine; Sebuah Pendekatan Budaya

    Get PDF
    Abstrak Artikel ini mengkaji perkembangan kesadaran perempuan dalam melihat dirinya –sebagai perempuan dan atau menjadi perempuan- dalam tradisi literer. Dominasi maskulinitas dalam tradisi literer tersebut menyentuh wilayah paling sensitif yang dimiliki oleh perempuan, wilayah yang sempat mengalami frigiditas dalam fungsi dan perannya.Keberhasilan tersebut pun menarik hasrat komunitas akademik lainnya untuk memainkan peran pada wilayahnya masing-masing. Kendatipun polemik dalam diskursus tersebut dihiasi dengan pelbagai konflik kepentingan dan pertentangan dalam mengemukakan argumentasi akademik, tetapi tidak dapat disangkal hal ini justru melahirkan pengaruh besar dalam upaya untuk saling mengisi ruang yang masih kosong pada masing-masing wilayah yang menjadi bagiannya. Setelah perempuan bertemu, bercengkrama, dan bergulat dalam tradisi literer kemudian lahirlah kesadaran perempuan terhadap esensi dan eksistensinya sebagai seorang yang disebut perempuan. Kata Kunci: Écriture Féminine, Kesadaran, Inner Dialektikal, Nature-Nurture, Interdisipliner,Kultural, Male’s View, Dominasi, Opresi, Reduksi.  ------- Abstract This article discusses about the development of women awarness in viewing themselves – as women and/or become feminine – in literal tradition. Masculinity domination on the literal tradition touches the most private and sensitive aspects possessed by women, which undergone frigidity in its function and role.The success had attracted other academic community desire to play a role on their sectors. Eventhough the polemic on the discourses were ornamented by different kinds of conflict of interesst and disputes in expressing their academic argumentation, however, it can not be denied and it will lead to bear a big influence to completing an empty space to each other of their parts. After meeting, discussing, and fighting for their literal tradition, they (women) began to realize their consciousness on their essence and existence as women known as woman. Keywords: Écriture Féminine, Kesadaran, Inner Dialectical, Nature-Nurture, Interdisipliner, Cultural, Male’s View, Dominasi, Opresi, Reduksi

    Al-Nahwu \u27Inda al-Bashriyyiin wa al-Kufiyyiin (al-Qarn al-Awwal ila al-Tsalits al-Hijriy)

    Get PDF
    كانت في نشأة النحو العربي أدوار، الدور الأول الوضع والتكوين، وهذا من دور البصرة، وهي أول مدينة عينت بالنحو واللغة، تبدأ مدرسة البصرة من أبي أسود الدؤالي الذي توفي بها سنة 67هــ  إلى عهد الخليل بن أحمد (ت 175 هـ). ولقد ظهر اللحن في صدر الإسلام بسبب اختلاط العرب وامتزاجهم بالأعاجم، مما جعل علماء البصرة يحرصون على رسم أوضاعها خوفا عليها من الفناء والذوبان في اللغة الأعجمية. الطبقة الأولى من البصريين تبدأ من عهد نصر بن عاصم (ت 89 ه) إلى يحى بن يعمر (ت 129 ه)، والطبقة الثانية من البصريين فى الدور الأول تبدأ هذه الطبقة من عهد عبد الله بن إسحاق (ت 117 ه) إلى عهد أبى عمرو بن العلاء (ت 154 ه). الدور الثانى : دور النمو والنشوء والارتقاء، وهذا من دور البصرة والكوفة، وقد سبقت البصرة بنحو مائة عام الكوفة التي جاءت بعدها لتأسس مذهبا خاصا في النحو. تقابل الطبقة الثالثة من البصريين الطبقة الأولى من الكوفيين، ومن أشهر علمائها أبو جعفر الرؤاسي (ت 175 هــ) ومعاذ الهراء (ت 178 هــ)، ومن علماء البصريين في هذا الدور الأخفش الأكبر (ت 172 ه)  وسيبويه (ت 180 ه). الدور الثالث  دور النضج والكمال، لقد بلغ النحو نضجه وكماله فأصبحت القضايا النحوية علما مستقلا---Abstrak Dalam perkembangan ilmu nahwu, terdapat beberapa fase, fase pertama peletakan dan penyusunan. Ini berpusat di Bashrah, sejak peletakan pertama oleh Abu al-Aswad sampai al-Khalil ibn Ahmad. Pada waktu itu lahn telah tersebar luas sehingga menuntut mereka untuk segera mengkodifikasi nahwu. Terjadinya lahn diseabkan oleh interaksi bangsa arab dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Periode pertanma bashrah dimulai pada masa Nasr Ibn Ashim (w.89 M) sampai masa Yahya Ibn Ya\u27mur (w. 129 H). Periode kedua Bashrah dimulai dari masa Abdullah Ibn Ishaq (w. 117 H) Sampai masa Amr Ibn al-Ala (w. 154 H). Kedua, masa pertumbuhan, yaitu masa perkembangan di mana  nahwu bukan hanya berkembang di Bashrah melainkan pula di Kufah. Tokoh Kufah pada fase ini antara lain Abu Ja’far al-Ru’asi (w. 175 H) dan Muazd al-Harra (w. 178 H), sedangkan tokoh Bashrah antara lain al-Akhfasy al-Akbar (w. 172 H) dan Imam Sibawaih (w. 180 H).   Ketiga, fase kematangan dan penyempurnaan, dimana ilmu nahwu telah telah dikodifikasi oleh ulama-ulama di kedua kota tersebut.

    Ba\u27dhu al-Qadhaya al-Balaghiyyah al-Muta\u27alliqah fi al-Qur\u27an al-Karim Tahqiq wa dirasah li ahad al-abwab al-Waridah fi kitabi fath al-Khabir

    No full text
    ملخص البحثتنوّعت الدراسات التي تناولت القرآن الكريم من جوانبه المتعدّدة على أيدي المتخصّصين بها. والغاية الأسمى من تلك الدراسات هي البرهنة على حقيقة أنّ القرآن الكريم هو معجزة خالدة. ومن أهمّ تلك الدراسات ما تناولت الجانب البلاغيّ من القرآن، فدرايته من الشروط الضرورية لمن أراد أن يفسّر شيئا من القرآن الكريم. وقد نشط العلماء بالتأليف في هذا المجال قديما وحديثا، سواء أولئك الذين أفردوا مباحث البلاغة في كتاب خاصّ أم الذين أدخلوها ضمن مباحث علوم القرآن. والشيخ محمّد محفوظ الترمسي (1285-1338 هـ) واحد من بين هؤلآء العلماء المحدثين البارزين في هذا الميدان. ألّف الشيخ كتابا في علم التفسير، سمّاه بـ"فتح الخبير بشرح مفتاح التفسير"وهو شرح لمنظومة في علم التفسير لأحد العلماء المشهورين من بلاد أفريقيا، الشيخ عبد اللّه فودي النيجيري المغربيّ. والكتاب المشار إليه لم يزل في شكله المخطوط، ولم يحقّق بعد. هذا البحث محاولة متواضعة للتطرّق إلى الوجوه البلاغيّة والمتعلّقة بالمعاني منها خصوصا، التي أوردها الشيخ محفوظ في كتابه وآراءه حول تلك القضايا.---Abstrak Salah satu diantara deretan ulama kontemporer yang ternama dalam bidang ini adalah Syaikh Muhammad Mahfudz al-Tarmasi (1285-1338 H). Salah satu karya beliau dalam bidang ilmu tafsir adalah kitab “FATH AL-KHABIR BI SYARH MIFTAH AL-TAFSIR “ merupakan sebuah kitab yang memberikan penjelasan (syarh) terhadap kitab nadham (syair) dalam disiplin ilmu tafsir karangan seorang ulama terkenal dari Afrika bernama Syaikh Abdullah foudi an-Nijeri al-Maghribi. Karangan Syaikh Muhammad Mahfudz al-Tarmasi ini masih berupa naskah dalam bentuk manuscript yang belum dikaji keotentikannya serta belum dicetak secara modern. Penelitian yang penulis lakukan ini merupakan bentuk usaha pertisipatif untuk lebih menyingkap aspek-aspek retorik yang dikandung kitab tersebut khususnya hal-hal yang terkait dengan disiplin ilmu ma’ani (salah satu cabang ilmu retorika bahasa Arab yang mengkonsentrasikan diri pada pembahasan arti kata, pengertiannya dalam suatu ungkapan, serta penggunaannya disesuaikan dengan konteks yang ada), serta pendapat-pendapat yang dikemukakan Syaikh Mahfudz al-Tarmasi terkait kasus-kasus yang ada di dalamnya

    Muslim Kamboja di Bawah Rezim Komunis Khmer Merah 1975-1979

    No full text
    Abstrak Tulisan ini bertujuan menganalisa mengenai apa motif diskriminasi dan bagaimana kebijakan rezim Khmer Merah terhadap etnis dan agama minoritas di Kamboja,  di  mana  etnis  Cham-Melayu   yang  notabennya  beragama  Islam termasuk di dalamnya. Selain itu skripsi ini juga ingin melanjutkan tulisan P.B Lafont yang dalam artikelnya belum menjawab mengenai apa motif diskriminasi yang dilakukan Khmer Merah terhadap umat Islam di Kamboja. Penelitian ini bersifat analytical history, maka dari itu penulis menggunakan metode penelitian yang biasa digunakan dalam penelitian sejarah pada umumnya, yakni, heuristik, verifikasi, interpretasi,dan historiografi. Dalam penelitian ini penulis mendapatkan temuan-temuan baru terkait motif yang melatarbelakangi diskriminasi Khmer Merah  terhadap  umat  Islam  di  Kamboja.  Selain  itu  penulis  juga  menemukan fakta-fakta terkait kebijakan rezim Khmer Merah terhadap etnis dan agama minoritas di Kamboja. Dengan demikian penelitian ini diharapkan dapat melengkapi penelitian-penelitian terdahulu yang belum sempat menjawab permasalahan yang menjadi fokus kajian tulisan ini.---AbstrakThis article aim at analyzing the descrimination motive and the policy of Cham regime toward the religion and etnique minority in Cambodia, where Cham-Malay  etnique are mostly muslims.  Besides, this article also wants to contoinue the previous article of P.B Lafont which still did’t answer about the descrimination motive done by the Cham toward muslims in Cambodia. This article uses historical approach, the writer uses the common methode mostly done by many historians, the heuristics, verivication, interpretation, and historiography. In this article, the writer found new findings relating to the motive supporting the Cham descrimination toward Muslims in Cambodia. In addition to this, the writer found new facts relating to the policy of Cham regime toward religion and etnique minority in Cambodia. Therefore, this article is expected to accomplish the previous research which couldn’t answer the problem which becomes the focus of this article. DOI : 10.5281/zenodo.55679

    Al-taghayyuraat al-Shautiyyah li al-Alfazd al-Arabiyyah al-muqtaradhah fi al-indunisiyyah

    Get PDF
    ملخص هذا البحث يتعلق بالألفاظ العربية المستعملة في لسان الإندونسيسين اليومية. يتركز البحث في التغييرات الصوتية عند تلفظ الكلمات العربية المقترضة والعوامل التي تؤثر فيها. وأما المناهج المستخدمة في هذا البحث فهو المنهج المكتبية والإستقصائية في جمع المواد والبيانات لتي لها علاقة بالبحث وفي التحليل استعمل الباحث دراسة تقابلية لغوية وهي تدرس عن عناصر التأثير والتأثر بين اللغتين. وبعد الدراسة ظهر أن التغييرات الصوتية للالفاظ العربية المقترضة فى الاندونيسية تكون في كثير من مراتب لغوية صوتية و لفظية. وهذه التغييرات تتأثر بالعوامل الكثيرة منها الأدات الصوتية و اللغة المحلية ولهجاتها.---Abstrak Tulisan ini berkaitan dengan penggunaan kosakata Arab yang diserap dalam Bahasa Indonesia. Fokus bahasan terletak pada perubahan bunyi bahasa ketika mengucapkan kosakata serapan dari bahasa Arab dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah metode kepustakaan dan survei, dan dalam menganalisis menggunakan metode kontrastif yang menyoroti pada aspek pengaruh dan mempengaruhi kedua bahasa. Hasil kajian menunjukkan bahwa perubahan bunyi bahasa pada pengucapan kosakata bahasa serapan dari bahasa Arab. Perubahan ini terjadi pada beberapa level kebahasaan, khususnya pada tataran fonologi dan morfologi. Perubahan tersebut terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain karena faktor alat bicara penutur dan pengaruh penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah

    Pengaruh Perang Dunia II Terhadap Revolusi Mesir 1952

    No full text
    Abstrak Pendudukan Mesir oleh Napoleon, Kaisar Prancis, pada tahun 1798 memperkenalkan dunia Arab dengan peradaban modern. Selain menjajah, Prancis juga mengenalkan produk-produk peradaban yang baru. Alhasil, orang Islam mulai mengenal berbagai wacana terbaru di masa itu. Turki sebagai penguasa dunia Islam tidak tinggal diam. Ia mengutus Muhammad Ali Pasha untuk mengusir Prancis dari Mesir. Setelah melalui peperangan yang melelahkan akhirnya Prancis  dapat  dikalahkan.  Tak  lama  kemudian, Muhammad Ali mentahbiskan diri  sebagai penguasa Mesir dan melanjutkan proyek pembaruan yang sebelumnya diletakkan oleh Prancis. Dunia Islam kembali bergolak, paska kekalahan blok Jerman dalam Perang Dunia I pada 1918, dimana Turki tergabung di dalamnya. Mesir jatuh ke tangan Inggris sebagai bagian dari pemenang perang. Hingga awal Perang Dunia II, Mesir masih berada di tangan Inggris. Hal ini ditunjukkan dengan dijadikannya Mesir sebagai pangkalan perang Sekutu ketika mengalahkan tentara Jerman di front Afrika Utara pada bulan November 1942. Perang Dunia II diakhiri dengan kemenangan Sekutu dan kekalahan Jerman dan pendukungnya. Meskipun Mesir tidak terlibat langsung, pengaruh PD II sangat kental dalam menumbuhkembangkan semangat nasionalisme untuk bebas dari cengkeraman penguasa lokal yang menjadi wakil dari Inggris. Selain itu, kemenangan Rusia sebagai salah satu peserta PD II, ikut membawa wacana sosialisme ke Mesir yang diadopsi oleh gerakan Opsir Bebas sebagai ideologi dan nilai dasar pergerakannya. Selanjutnya, Opsir Bebas yang telah bekerja sama dengan Ikhwanul Muslimin menjadi aktor intelektual dan penggerak bagi rakyat Mesir untuk menjemput revolusi pada tahun 1952.---Abstract The french emperor, Napoleon, who inhabited Egypt, had introduced  the modern civilization of Arab  in 1798 to the world. Besides, Franch also introduced the modern products. As the result, many muslims began to have a new view of the time. Turk as a new ruler of muslims world had to take a part for it. It delegated Muhammad Ali Pasha to expelled Franch from Egypt. After finishing the exhausting war, he finally conquered French. Soon, Muhammad Ali Pasha confirmed himself as a new ruler of Egypt and continued the new project which was planned by Franch. World of Islam began to flared up after Germany had been defeated during the World War I in 1918, where Turk joined in it. Egypt were handed down to England as the winner. By the beginning of World War II, Egypt were still controlled by England. It can be seen from the Egypt where allied force base was put in it during the defeat of Germany in North Africa on November 1942. World War II was ended by the allies glory and the the loses of Germany and its supporters. Despite of Egypt had not involved, however, the effects of world War II had arisen the nationalism to get rid of local ruler as the British representative. In addition to this, the glory of Russia as one of the participants of World War II had brought a new view of socialism into Egypt which was adapted by free movement as the basic ideology and values. Next, the free movement opsir who cooperated with Ikhwanul Muslimin became the intellectual actor and locomotive for people in  Egypt to have revolution in 1952. DOI : 10.5281/zenodo.55679

    246

    full texts

    530

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Al-Turas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇