Buletin Al-Turas
Not a member yet
530 research outputs found
Sort by
Description of vowel in the first grammatical work of Tamil and Arabic: A contrastive analysis
Abstract Tolkāppiyam and Al-Kitāb, these two grammatical texts are belonging to two different languages Tamil and Arabic. Tamil is a Dravidian family and Arabic is a Semitic family with different writing systems (Tamil-left to right; Arabic-right to left). These two grammatical texts are written in different historical period, Tolkāppiyam written in BC 300 and Al-Kitāb written in AD 800. Both are describes the vowels of respective language through different phonetic features. The main aim of this paper is to evaluate and analyze the articulatory treatment of vowels in the perspective of first grammatical work of respective languages. The first section of the paper is evaluating the articulatory treatment, theory, classification and phonetic frameworks of vowels in respective grammars, and the second section analyzing in contrastive and describes the commonness and differences between these two texts. This section finds out the commonness in the following features: articulatory treatment, descriptive and use of technical terms etc. The differences are found in the following features: order of the description of speech sounds, method of classification of vowels etc. ---AbstrakTolkāppiyam dan Al-Kitab adalah dua teks gramatikal yang menggunakan dua bahasa yang berbeda, yakni Tamil dan Arab. Ditinjau dari aspek rumpun bahasa, Tamil merupakan keluarga bahasa Dravida, sedangkan Arab adalah keluarga bahasa Semit. Sistem penulisan kedua bahasa itu berbeda bahasa Tamil memiliki sistem penulisan dari arah kiri ke kanan; sedankgan bahasa Arab memakai sistem penulisan dari arah kanan ke kiri. Kedua teks tata bahasa itu ditulis dalam periode sejarah yang berbeda, Tolkāppiyam ditulis dalam SM 300 dan Al-Kitab yang ditulis dalam AD 800. Keduanya menunjukkan vokal bahasa masing-masing, melalui fitur fonetik yang berbeda. Tujuan utama dari artikel ini adalah untuk mengevaluasi dan menganalisis cara artikulasi vokal dalam perspektif tata bahasa, bahasa itu. Bagian pertama dari tulisan ini mengevaluasi cara artikulasi, teori, klasifikasi dan kerangka fonetik yang menunjukkan bunyi-bunyi vokal dalam tata bahasa masing-masing, dan bagian analisis kedua dilakukan tinjauan aspek kontrastif dan menggambarkan secara umum persamaan dan perbedaan antara dua teks tersebut. Pada kesempatan ini dipaparkan secara umum beberapa fitur antara lain: cara artikulasi, deskripsi dan penggunaan istilah teknis. Bertumpu kepeda beberapa fitur itu terdapat perbedaan yang ditemukan dalam fitur itu, yaknit: urutan deskripsi suara pidato, metode klasifikasi vokal dan beberapa fitur lainnya.DOI: 10.15408/al-turas.v23i1.480
Dinamika Penerjemahan Sastra: South of The Slot
Abstract Literary work is an art of language that has function to communicate someone’s idea, feeling, emotion, and soul as a reflection of life. It is nonetheless complicated, since the literary work creation is very personal. Besides requiring creativity and sensitivity, the writer of a literary work also needs to have a wide cultural knowledge and master both languages structure, source and target language. Therefore, a translator as the mediator to convey a message from source language into a target language has significant role. On the one hand, a translator is demanded to keep the source language style and structure of the writer’s source language; on the other hand, a translator is also demanded to convey the readable and acceptable message from the source language into the readers’ target language who have different language and culture. Based on that reasons, this study is aiming at knowing the style and method of translation (formal and dynamic) done by the university students of translation studies. This study uses descriptive-comparative qualitative method. The result of the study is expected to give contribution, especially to improve the quality of translation studies under the Language and Literature Department of Adab and Humanities Faculty of Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta.---AbstrakSastra merupakan karya seni bahasa dan alat komunikasi untuk menggambarkan suasana batin, pikiran, perasaan, emosi, imajinasi, dan realitas kehidupan. Untuk menghasilkan sebuah karya sastra tentunya bukanlah suatu hal yang mudah. Proses pembuatan karya sastra yang sangat rumit dan bersifat pribadi menuntut seorang penerjemah sastra memiliki kepekaan rasa dan kreatifitas yang tinggi, memiliki pengetahuan yang luas tentang budaya dan bahasa; Terlebih lagi jika bahasa atau budaya bahasa sumber dan sasarannya sangat jauh berbeda. Dengan demikian, seorang penerjemah sebagai pengalih bahasa dan pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran, sejatinya memiliki tugas yang sangat berat. Di satu sisi, ia dituntut menjaga gaya dan bahasa sastra yang ingin disampaikan oleh penulis bahasa sumber; Di sisi lain, ia harus bisa menyampaikan pesan/maksud penulis bahasa sumber kepada pembaca yang berbeda latarbelakang bahasa dan budaya. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya bahasa dan metode penerjemahan formal dan dinamis dari hasil terjemahan sastra mahasiswa semester enam dalam menerjemahkan teks sastra South of The Slot. Penelitian ini menggunakan metode dekriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi, terutama, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran penerjemahan sastra pada mahasiswa yang memilih konsentrasi penerjemahan di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.DOI : 10.15408/bat.v23i2.541
Positive Politeness on Strategies of Expressing Apologies by English Department Students of UIN Sunan Gunung Djati Bandung
This paper tries to describe the strategies of English department students in expressing apologies and their positive politeness strategy while expressing apologies. The data sources are students of UIN Sunan Gunung Djati Bandung, the data are taken by using DCT (Discourse Completion Test). Students of UIN Sunan Gunung Djati use various strategies in expressing apologies when they express apologies to the lecturer for coming late to class; they tend to use IFID followed by the explanation and IFID followed by request. Moreover, when students express an apology to their friends, they use IFID + Promise and IFID+ Explanation. The strategies of expressing apologies to the parent show that the highest number of strategies in expressing apologies by students is IFID+ Explanation and IFID+ Responsibility + Explanation. Positive politeness strategy is performed by students by using the honorific “sir”. On the other hand, positive politeness strategy of expressing apology to a friend, the students use more intimacy words such as “bro, mate, friend”. Students who express an apology to parents tend to use intimacy words such as “Mom, Dad, and Mommy”.Keywords: pragmatics, politeness, speech acts, strategies of expressing apologies. AbstrakPenelitian ini mencoba mendeskripsikan strategi mahasiswa jurusan Bahasa Inggris dalam mengungkapkan permintaan maaf dan strategi kesantunan positif yang digunakan ketika melakukan tindak tutur meminta maaf. Sumber data siswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, datanya diambil dengan menggunakan DCT (Discourse Completion Test). Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati menggunakan berbagai strategi dalam mengungkapkan permintaan maaf. Ketika mereka mengungkapkan permintaan maaf kepada dosen karena datang terlambat mereka dominan menggunakan strategi IFID diikuti dengan penjelasan, dan IFID diikuti oleh permintaan. Ketika mahasiswa menyampaikan permintaan maaf kepada teman, mereka menggunakan IFID + Janji dan IFID + Penjelasan,. Ketika mahasiswa mengungkapkan permintaan maaf mereka lebih banyak menggunakan strategi IFID + penjelasan dan IFID+ tanggungjawab+ penjelasan. Strategi kesantunan positif dilakukan oleh mahasiswa dengan menggunakan kata "sir”. Di sisi lain, strategi kesantunan positif untuk mengekspresikan permintaan maaf kepada teman, para mahasiswa menggunakan kata-kata yang lebih intim seperti "bro, mate, friend", sedangkan ketika dengan orang tua mereka menggunakan “Mom, Dad dan Mommy” Kata kunci: pragmatik, kesantunan, tindak tutur, strategi permintaan maafDOI : 10.15408/bat.v23i2.578
Kebijakan Politik Mustafa Kemal Ataturk terhadap Suku Kurdi di Turki 1923-1938 M
AbstractThis study answered a question why Mustafa Kemal Ataturk’s administration set a policy against the Kurds in Turkey in 1923-1938 M. To answer these questions, the author delves myriads of written sources using political approaches. The analysis of this study finds that the enactment of policies towards the Kurds in turkey due to the gap ideology and religion were very strong between the Kurds and the Mustafa Kemal Ataturk’s administration. That can inhibit the existence of ethnic Kurds, either in the areas of social, economic, religious, cultural or political. This study also finds when a tribe and nation hampered its existence, they would do such riots, either physical (as do the military war, war bombs) or non-physical (such as a demonstration of a written or unwritten through social media, magazines, newspapers, articles, etc.), to people in power. Thus people who mastered feel deep discrimination and consequently the controlled and controlling equally get the loss. ---Abstrak Studi ini menjawab sebuah pertanyaan yaitu mengapa Pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk membuat sebuah kebijakan melawan orang-orang Kurdi di Turki pada 1923-1938 M. Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis menganalisis banyak sumber-sumber tertulis menggunakan pendekatan-pendekatan politik. Analisis dari studi ini menemukan bahwa pemberlakuan kebijakan terhadap orang-orang Kurdi di Turki terkait dengan gap ideologi dan agama sangatlah kuat antara orang-orang Kurdi dan Pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk. Hal ini bisa mengancam eksistensi etnis Kurdi, baik dalam tataran sosial, ekonomi, agama, budaya, maupun politik. Studi ini pun menemukan ketika sebuah suku dan bangsa berada di ujung tanduk, mereka akan melakukan semacam pemberontakan, baik secara fisik (perang militer, perang bom) atau non fisik (demonstrasi tertulis atau tidak tertulis lewat media sosial, majalah-majalah, Koran-koran, artikel-artikel dan lain sebagainya), kepada mereka yang sedang berkuasa. Kemudian, orang-orang yang dikuasainya merasakan adanya diskriminasi yang mendalam dan akibatnya orang yang dikuasai dan yang menguasai sama-sama mendapatkan kerugian.DOI : 10.15408/bat.v23i2.637
Mencari Jejak Wiralodra Di Indramayu
Abstract This paper discusses how the establishment of Indramayu become a regency as now. Some previous papers about establishment of Indramayu is often associated with a figure named Wiralodra. To explore traces the establishment Indramayu became a regency there are a few things to consider. First, situation of Indramayu before becoming a regency. Second, about the lingkages between Wiralodra with the establishment of Indramayu as a regency. Third, the process of change in the administrative status of Indramayu. The methods used to discuss these issues are the historical method consists of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. From this study, authors obtain about the condition of Indramayu before becoming a regency. Meanwhile lingkages between Wiralodra who had been believed to be founder Indramayu with establishment of Indramayu as a regency discussed by the historical fact. As well as the change of name and area before becoming Regency of Indramayu discussed by a government decision in various Staatsblad and Besluit.---Abstrak Tulisan ini membahas tentang bagaimana pembentukan Indramayu menjadi sebuah pusat pemerintahan setingkat kabupaten seperti sekarang. Dari beberapa karya tulis yang telah ada pembentukan Indramayu sering dikaitkan dengan tokoh bernama Wiralodra. Untuk menelusuri jejak-jejak pembentukan Indramayu menjadi sebuah kabupaten ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, keadaan Indramayu sebelum menjadi sebuah kabupaten. Kedua, tentang keterkaitan antara tokoh Wiralodra dengan pembentukan Indramayu sebagai sebuah kabupaten. Ketiga adalah proses perubahan status administratif Indramayu. Adapun metode yang digunakan untuk membahas persoalan tersebut adalah metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari penelitian ini penulis mendapatkan temuan-temuan tentang kondisi Indramayu sebelum menjadi sebuah kabupaten. Adapun keterkaitan antara tokoh Wiralodra yang selama ini diyakini sebagai pendiri Indramayu dengan pembentukan Indramayu sebagai sebuah kabupaten dibahas berdasarkan fakta historis yang penulis dapatkan. Begitupun perubahan nama dan luas wilayah sebelum menjadi Kabupaten Indramayu dibahas berdasarkan keputusan pemerintah dalam berbagai Staatsblad dan Besluit.DOI: 10.15408/al-turas.v23i1.479
Perjuangan Rakyat Banten Melawan Belanda: Studi Tentang K.H. Wasyid
AbstractThe Dutch administration took-over VOC in 1799 following its collaps and bangkrupt. Since, there were many government policies to the people of Netherlands Indies caused greater challenges form the people by making against and rebellions. These against and rebellions had started from the beginning of nineteen century to the end, i.e. the revolt of the Banten peasent in Cilegon 1888 under K.H. Wasyid command. This study focused on how K.H. Wasyid made contact with the other religious leaders; like kiai, ustadz, sufi teacher, and with other informal leader like Jawara to involve and joint the action of against and rebellion faced the government. And how he made planning and preparation. The other question which is to be answered related to why his call very interesting for them whereas he was not a military background. This study also to know what was the matter in this rebellion, before, and after. Academicaly, the role of K.H. Wasyid was not elaborated by scholars yet although this rebellion was precepted seriously by the Dutch Administration and commented by many professors.---AbstrakPemerintah konial Belanda mengambil-alih VOC pada tahun 1799 sebab korupsi dan bangkrut. Sejak itu, banyak kebijakan pemerinah yang diambil berimplikasi sangat. Akhirnya mereka melakukan perlawanan dan pemberontakan terhadap pemerintah yang dimulai sejak awal abad XIX hingga pemberontakan Cilegon 1888 yang dipimpin KH. Wasyid. Studi tentang ini fokus pada bagaimana KH. Wasyid melakukan kontak dengan pemimpin-pemimpin agama lainnya seperti Kiai, Ustadz, dan guru sufi agar terlibat dan ikut aksi perlawanan dan bagaimana beliau membuat perencanaan dan persiapan. Pertanyaan berikutnya adalah mengapa ajakan KH. Wasid menarik padahal beliau tidak terlatih dalam militer. Riset ini juga penting untuk mengetahui apa yang terjadi dalam peristiwa ini dan sesudahnya. Peran KH. Wasyid belum dielaborasi secara akademik oleh para sarjana padahal pemberontakan ini dianggap serius oleh pemerintah kolonial bahkan banyak guru besar yang mengomentari peristiwa ini.DOI: 10.15408/al-turas.v23i1.4801
Realisasi Strategi Kesantunan dalam Wacana Dakwah
AbstractThe research dealing with the speech acts and politeness strategy in the texts of religius speech/Khutbah Jum’at aims at describing the kinds of illocutionary speech acts and politeness strategy used by da’i in making speech text or discourse. The method used in the reasearch is qualitative and descriptive method. This researh is a contectual one by deciding the research components. The speech acts study is mainly based on the searle’s theory, and the other suppoting theories, especilaly related to the functional language theory. The data is taken from the collection of Islamic speeh, which were published by Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta. Furthermore, based on the analysis, the data found in the texts involve speech acts modes, kinds of illocitionary speech acts, and the politeness strategy as well.. However, the meaning or massage implied in the texts is still informative expressions, but not able to touch an important aspect of the other different speech acts and the politeness strategies suitable to the context of situation and culture. AbstrakPenelitian tentang kesantunan berbahasa pada teks ceramah/khutbah Jumat ini bertujuan untuk menjelaskan jenis tindak tutur ilokusi dan strategi kesantunan yang digunakan oleh penceramah/khotib dalam pembuatan teks atau wacana ceramah/khutbahnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini bersifat kontekstual dengan mempertimbangan komponen tutur. Kajian tindak tutur berlandaskan pada teori J.L Austin dan Searle, serta teori-teori pendukung lainnya, terutama yang terkait dengan bahasa fungsional. Data diambil dari kumpulan ceramah/khutbah Jum’at yang diterbitkan oleh Masjid Agung Sunda Kelapa. Berdasarkan hasil analisis dan pemaparan data-data yang ditemukan dalam wacana ceramah/khotbah Jum’at meliputi; modus tuturan, jenis tuturan ilokusioner, serta strategi kesantunan. Namun demikian, pesan yang terkandung dalam teks ceramah/Khutbah Jum’at masih bersifat informatif, belum sampai menyentuh persoalan pentingnya tindak tutur yang lain dan strategi kesantunan sesuai dengan konteks situasi dan budaya. DOI: 10.15408/al-turas.v23i1.5159
EKRANISASI SASTRA: APRESIASI PENIKMAT SASTRA ALIH WAHANA
ABSTRAK: proses alih wahana sastra dari novel ke film merupakan bagian dari proses kreatif sastra yang disebut ekranisasi. Fenomena ekranisasi menjadi isu mutakhir dalam dunia sastra terkait dengan film-film yang masuk dalam daftar box office film Indonesia 70% di antaranya adalah film yang merupakan hasil ekranisasi novel. Munculnya berbagai apresiasi dari penikmat sastra, baik sikap negatif maupun positif dari penikmat sastra semata-mata sebagai ekspresi penyambutan fenomena sastra yang muncul. Sikap positif hendaknya disikapi menjadi motivasi bagi penulis novel maupun produser film. Sikap negatif dapat diatasi dengan dua alternasi, yaitu: (1) menjalin kerja sama antara penulis dan produser serta (2) membuat film sendiri.Kata kunci: ekranisasi, film, sastra, apresiasiDOI : 10.15408/bat.v23i2.575
Perubahan Makna Kata Serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Inggris pada Istilah Ekonomi
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan makna kata serapan bahasa Arab dalam bahasa Inggris pada bidang ekonomi. Penelitian ini dapat memberi gambaran secara jelas apa saja yang menyebabkan terjadinya perubahan makna pada kata serapan tersebut. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah kata serapan bahasa Arab dalam bahasa Inggris apa saja pada bidang ekonomi yang mengalami perubahan makna dan perubahan makna jenis apa saja yang terjadi pada kata-kata serapan tersebut. Peneliti menggunakan metode analisis deskriptif. Analisis deskriptif adalah suatu metode dengan jalan mengumpulkan data, menyusun atau mengklasifikasi, menganalisis, dan menginter-pretasikannya. Peneliti mengambil data untuk diteliti dari Majalah Forbes edisi Agustus 2015. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada 10 kata serapan, yakni kata allowance, elite, antique, average, carat, craft, credit, merge, tariff, dan trade. Berdasarkan data tersebut 40% kata serapan bahasa Arab dalam bahasa Inggris memiliki makna yang sama dengan bahasa asalnya dan 60% mengalami perubahan makna dengan bahasa asalnya.DOI : 10.15408/bat.v23i2.5790
GELIAT EKONOMI KELAS MENENGAH MUSLIM DI CIREBON: DINAMIKA INDUSTRI BATIK TRUSMI 1900-1980
AbstractTalking about the area of Cirebon is often the main attraction. Not only in geographical position as coastal area, also often referred to as old city of sultanate heritage and heritage of the guardian (wali songo). In this case almost all cultures present in Cirebon people always regarded as a legacy of the empire or the trustees. The assumption above a certain position is viewed objectively based on evidence and historical data can be proved. Other things, armed with the title \u27city prawns\u27, indicating Cirebon city people have an open nature receptive culture into the life environment. Habits of the people who live in coastal areas have the ability to pursue its economic life endures, even when in a state of crisis. Although the capacity is still far below the Chinese people as a class number two after Europeans, in the social stratification, in the colonial period. This is because the Chinese are always given a better chance by the Dutch Indies government than the indigenous people. However, indigenous communities in Cirebon suggest that the majority of Muslims living in the sultanate\u27s heritage area are not always in a state of weakness and invincible with the atmosphere of such economic competition. In such conditions, this paper would like to explain about the twisted economy of Muslims in Cirebon on three times, from the colonial period, the Old Order and New Order. Especially the economics of the santri in Trusmi village, Weru sub-district, Cirebon regency. The location of this area about 5 km west of the town of Cirebon is geographically located at coordinates 06˚ 41 \u2759.8\u27 \u27LS and 108˚ 30\u27 48 \u27\u27 BT.Keywords: Cirebon, Economic, Batik Trusmi, 1900-1980 ---------------------------------------------------------------------------------------- AbstrakBerbicara tentang daerah Cirebon seringkali menjadi daya tarik tersendiri. Tidak hanya dalam posisi geografis sebagai daerah pesisir, juga seringkali disebut sebagai kota tua warisan kesultanan dan warisan para wali (wali songo). Dalam hal ini hampir semua budaya yang hadir pada masyarakat Cirebon selalu dianggap sebagai warisan kesultanan dan atau para wali. Anggapan di atas pada posisi tertentu dipandang objektif berdasarkan bukti-bukti dan data sejarah yang dapat dibuktikan. Hal lainnya, berbekal sebutan ‘kota udang’, kota Cirebon mengindikasikan masyarakatnya memiliki sifat terbuka yang mudah menerima budaya yang masuk ke dalam lingkungan kehidupannya. Kebiasaan masyarakat yang hidup di daerah pesisir memiliki kemampuan mengupayakan kehidupan perekonomiannya tetap bertahan sekalipun saat dalam keadaan krisis. Kendati kemampuannya masih jauh di bawah orang-orang Cina sebagai kelas nomor dua setelah bangsa Eropa, secara stratifikasi sosial, pada masa kolonial. Hal ini karena orang-orang Cina selalu diberi kesempatan yang lebih baik oleh pemerintah Hindia Belanda dibanding dengan masyarakat pribumi. Walau demikian, masyarakat pribumi di Cirebon mengisyaratkan bahwa mayoritas muslim yang tinggal di daerah warisan kesultanan ini tidak selalu dalam keadaan lemah dan terkalahkan dengan suasana persaingan perekonomian seperti itu. Pada kondisi yang demikian itu, tulisan ini ingin menjelaskan tentang geliat perekonomian umat Islam di Cirebon pada tiga zaman, dari masa kolonial, Orde Lama, dan Orde Baru. Khususnya perekonomian kaum santri di desa Trusmi Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon. Lokasi daerah ini sekitar 5 km sebelah barat Kota Cirebon yang secara geografis terletak di koordinat 06˚ 41’ 59,8’’ LS dan 108˚ 30’ 48’’ BT.Kata Kunci: Cirebon, Ekonomi, Batik Trusmi, 1900-1980DOI : 10.15408/bat.v23i2.611