Biospecies
Not a member yet
260 research outputs found
Sort by
Aktivitas Ekoenzim Nanas (Ananas comosus L. Merr.) Var. Queen Sebagai Antimikosis Dermatofita (Trichophyton rubrum): Ecoenzyme Activity of Queen Variety Pineapple (Ananas comosus L. Merr.) as Antimycosis Dermatophytes (Trichophyton rubrum)
Ecoenzyme is a type of product made from fermented fruit/vegetable waste that can be used as an antimycosis. chemical compounds and acetic acid has the ability as an antimicrobial. Trichophyton rubrum is a type of dermatophyte fungus that can cause chronic dermatophysis. This fungus is very easy to grow in humid conditions. The purpose of this study was to determine the ability of pineapple ecoenzymes from Tangkit as antimycosis against Trichophyton rubrum fungus, to determine the antimycosis activity of pineapple ecoenzymes from Tangkit in inhibiting T. rubrum fungi and to determine the content of compounds in pineapple ecoenzymes from Tangkit. The test of the inhibition of this ecoenzyme was carried out by the disc diffusion method. The treatments in the test were positive control (ketoconazole), negative control (aquadest), and ecoenzyme concentrations of 50%, 75% and 100%. Data analysis used ANNOVA and continued with Duncan's test. The results showed that the ecoenzyme could be used as an antimycotic against T. rubrum. 50% ecoenzyme concentration was the best test concentration in inhibiting the growth of T. rubrum with a large inhibition zone formed of 14,822. The compounds contained in the ecoenzyme are tannins, saponins and bromelain
Keywods: Trichophyton Rubrum, Pineapple Ecoenzyme, Antimycosis, Tangkit Pineapple, Dermatophytes
Â
Abstrak
Ekoenzim adalah jenis produk yang terbuat dari limbah dari buah/sayur yang difermentasi yang dapat digunakan sebagai antimikosis. Trichophyton rubrum merupakan salah satu jenis jamur dermatofita yang dapat menyebabkan dermatofisis kronis. Jamur ini sangat mudah tumbuh pada kondisi yang lembab. Kandungan senyawa kimia dan asam asetatnya memiliki kemampuan sebagai antimikroorganisme. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui kemampuan ekoenzim nanas dari Tangkit sebagai antimikosis terhadap jamur Trichophyton rubrum, mengetahui nilai aktivitas antimikosis ekoenzim nanas dari Tangkit dalam menghambat jamur Trichophyton rubrum dan mengetahui kandungan senyawa pada ekoenzim nanas dari Tangkit. Pengujian daya hambat ekoenzim ini dilakukan dengan metode difusi cakram. Perlakuan dalam uji yaitu kontrol positif (ketoconazole), kontrol negatif (akuades), serta konsentrasi ekoenzim 50%, 75% dan 100%. Analisis data menggunakan ANNOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan.Hasil menunjukkan bahwa ekoenzim dapat digunakan sebagai antimikosis terhadap T. rubrum. Konsentrasi ekoenzim 50% merupakan konsentrasi uji terbaik dalam menghambat pertumbuhan T. rubrum dengan besar zona hambat yang terbentuk yaitu 14,822. Senyawa yang terdapat pada ekoenzim yaitu tannin, saponin dan bromelin.
Kata Kunci: Trichophyton rubrum, Ekoenzim Nanas, Antimikosis, Nanas Tangkit, Dermatofit
Ragam Jenis Tumbuhan Obat dan Pemanfaatannya dari Hutan Adat Lubuk Tinting dan Maliki Desa Pungut Hilir Kecamatan Air Hangat Timur Kabupaten Kerinci: Different Types Of Medicine Plants And Its Utilization From Lubuk Tinting And Maliki Traditional Forests, Pungut Hilir Village, East Warm Water District, Kerinci Regency
Medicinal plants are all plant species that produce one or many active components that are used as ingredients for health treatment or all types of plants that are believed to have medicinal properties. One of them is still used by the community around the Lubuk Tinting and Maliki Traditional Forests in Pungut Hilir Village. This study aims to determine the various types of medicinal plants found in the Lubuk Tinting and Maliki Traditional Forests, Pungu Hilir Village, Air Warm East District. The results showed that 43 plant species were found with 30 families. Based on the understorey, seedlings, and saplings. Some families with the highest number of species include Rubiaceae, Lauraceae, Araceae, Arecaceae, Euphorbiaceae, Fabaceae, and Urticacaeae. In the vegetation analysis plot, 43 plant species were found, including 42 plant species with 30 families identified as potential medicinal plants used by ethnic groups throughout the world. In addition, 25 plant species with 18 families with medicinal potential were used by the community from the Lubuk Tinting and Maliki customary forest areas, both in the vegetation analysis plot and outside the vegetation analysis plot. The plants found in the vegetation analysis plot were 10 plant species, while outside the vegetation analysis plot 15 plant species were found. The percentage of organs used by the community around the Lubuk Tinting and Maliki Indigenous Forests as medicine was dominated by 44% (11 species). While the percentage of medicinal plants processing methods is often done by boiling 42% (11 species). The percentage of how to use medicinal plants is mostly done by smearing 37% (10 species).
Keywords: Variety of Species, Utilization, Medicinal Plants, Lubuk Tinting, and Maliki Traditional Forests.
Â
Abstrak
Tumbuhan obat merupakan seluruh spesies tumbuhan yang menghasilkan satu atau banyak komponen aktif yang digunakan sebagai bahan pengobatan kesehatan. Salah satunya masih dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Pungut Hilir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ragam jenis tumbuhan obat yang terdapat pada Hutan Adat Lubuk Tinting dan Maliki Desa Pungut Hilir Kecamatan Air Hangat Timur. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 43 spesies tumbuhan dengan 30 famili. Berdasarkan meliputi tumbuhan bawah, semai, dan pancang. Beberapa famili dengan jumlah jenis tertinggi antara lain Rubiaceae, Lauraceae, Araceae, Arecaceae, Euphorbiaceae, Fabaceae, Urticacaeae. Pada petak analisis vegetasi ditemukan 43 spesies tumbuhan diantaranya 42 spesies tumbuhan dengan 30 famili teridentifikasi sebagai tumbuhan berpotensi obat. Selain itu ditemukan 25 spesies tumbuhan dengan 18 famili, berpotensi obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat dari kawasan Hutan Adat Lubuk Tinting dan Maliki, baik yang terdapat pada petak analisis vegetasi maupun diluar petak analisis vegetasi. Adapun persentase organ tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat disekitar Hutan Adat Lubuk Tinting dan Maliki sebagai obat didominasi daun 44% (11 spesies). Sedangkan cara pengolahan tumbuhan obat sering dilakukan dengan cara direbus 42% (11 spesies), cara pemakaian sering dilakukan dioles 37% (10 spesies).
Kata kunci: Ragam Jenis, Pemanfaatan, Tumbuhan Obat, Hutan Adat Lubuk Tinting dan Malik
Uji Daya Hambat Ekstrak Metanol Auricularia nigricans terhadap Candida spp.: Inhibitory Test of Methanol Extract of Auricularia nigricans Against Candida spp.
Candida was a fungus that can cause candidiasis infection. Candidiasis could occur of the skin, nails, mucous membranes and the gastrointestinal. The study aims to examine whether Auricularia nigricans methanol extract has the ability to inhibit the growth of Candida albicans, C. glabrata, and C. parapsilosis. Soxhletation was used as the extraction method, and the inhibitory test method involved diffusion paper disk and wells methods. The concentration variations used were 0.2 g/ml, 0.25 g/ml and 0.3 g/ml with 10% DMSO as a negative control. The research results obtained were that no inhibition zones were formed at concentrations of 0.2 g/ml, 0.25 g/ml and 0.3 g/ml so that they were included in the inactive category.
Keywords: Auricularia nigricans, Candida, soxhlet method, methanol extract, paper disc and wells method.
Â
Abstrak
Candida merupakan jamur golongan khamir yang dapat menyebabkan infeksi kandidiasis. Kandidiasis tersebut dapat terjadi pada kulit, kuku, membran mukosa dan saluran cerna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak metanol Auricularia nigricans dalam menghambat pertumbuhan C. albicans, C. glabrata dan C. parapsilosis. Metode ekstraksi yang digunakan adalah sokletasi selama 10 jam dan metode uji daya hambat antifunginya secara difusi cakram dan sumuran. Variasi konsentrasi yang digunakan adalah 0,2 g/ml, 0,25 g/ml dan 0,3 g/ml dengan DMSO 10% sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian yang diperoleh adalah tidak terbentuknya zona hambat pada konsentrasi 0,2 g/ml, 0,25 g/ml dan 0,3 g/ml sehingga termasuk dalam kategori tidak aktif.
Kata kunci: Auricularia nigricans, Candida, metode sokletasi, ekstrak metanol, metode difusi cakram dan sumuran
a PHYTOPLANKTON BIODIVERSITY AND POLLUTION BIOINDICATOR IN BOJONEGARA COASTAL WATERS, BANTEN BAY, INDONESIA: Keanekaragaman Fitoplankton dan Bioindikator Pencemaran di Perairan Pesisir Bojonegara, Teluk Banten, Indonesia
Coastal waters of Bojonegara in Banten Bay has a lot of pressure from the surrounding environment, including industry and sand mining. The high intensity and limited space encourage reclamation in coastal areas which can trigger changes in water quality. Research was conducted from October to December 2019, aims to analyze the phytoplankton biodiversity and pollution bioindicator of the waters. The phytoplankton was obtained through filtering 50 liters of water at a depth of 30 cm or surface waters. Observations were also made on water quality conditions including transparency, depth, color, temperature, pH, salinity, and dissolved oxygen (in-situ) and turbidity, Total Suspended Solid (TSS), nitrate, nitrite, and total phosphate (ex-situ). Data analysis was performed on abundance, diversity index, eveness and dominance, similarity index, and saprobic index. Based on observations, it is known that the phytoplankton found were in the class Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Dinophyceae, and Chrysophyceae. The index values of diversity, eveness, and dominance of phytoplankton each ranged from 0.2223-1.0070; 0,1289-0,5664; and 0.1550-0.8181, respectively. According to these values, the Bojonegara waters were classifeied as mild to moderate ecological pressure. The similar conditions are also indicated by the saprobic index values. The result of Main Component Analysis (PCA) shows the first component with 53.726% variance represented by turbidity parameters, TSS, total phosphate, transparency, depth, temperature, pH, and DO. These parameters have the most influence on the presence of phytoplankton
DAUN TEBU (Saccharum spontaneum L.) SEBAGAI PENYERAP ZAT WARNA TEKSTIL REACTIVE BLUE: Sugarcane Leaves (Saccarum Spontaneum L.) As Absorbent Reactive Blue Textile Dyes
Perkembangan industri tekstil di Indonesia sangat cepat. Penggunaan pewarna tekstil dalam industri tersebut dapat mencemari lingkungan. Upaya penanggulangan pencemaran pewarna tekstil menggunakan daun tebu (Saccharum spontaneum L.) dilakukan pada skala laboratorium. Tujuan penelitian adalah untuk memberikan informasi ilmiah tentang banyaknya biomassa daun S. spontaneum yang paling efektif untuk mendekolorisasi pewarna tekstil reactive blue. Percobaan dekolorisasi dilakukan dengan menambahkan biomassa daun S. spontaneum dalam tiga perlakuan yaitu 10 gram, 20 gram dan 30 gram. Efektivitas dekolorisasi diamati melalui perubahan warna larutan reactive blue dalam waktu kontak 3 x 24 jam. Perubahan warna yang terjadi dilihat dengan menggunakan metode spektrofotometri dengan panjang gelombang 586 nm. Hasil yang diperoleh dari penelitian menunjukkan adanya perubahan warna, dimana warna yang paling jernih terlihat pada perlakuan 3 dengan biomassa daun S. spontaneum sebanyak 30 gram
KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN PERIFITON PADA VEGETASI TUMBUHAN DI RAWA BENTO SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS AIR: Diversity And Abundance of Perifitonon Plant Vegetation in Bento Swampas A Water Quality Bioindicator
Perifiton merupakan salah satu organisme yang dapat digunakan sebagai indikator biologi suatu perairan yang hidupnya menetap atau menempel pada makhluk hidup maupun benda mati. Rawa bento meruapakan salah satu rawa tertinggi yang berada di Sumatera, yang memiliki perairan yang jernih sehingga dapat menunjang kehidupan masyarakat sekitarnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Keanekaragaman dan Kelimpahan perifiton pada substrat alami vegetasi tumbuhan, serta faktor fisik dan kimia di rawa bento, lalu menganalisis hubungan keduanya terhadap kualitas air. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan maret-juni 2021 berdasarkan metode purposive sampling. Hasil yang didapatkan ialah kelimpahan perifiton memperoleh nilai yang tinggi pada substrat tumbuhan Krokot (Portulaca sp), yang diikuti oleh substrat Eceng gondok (Echornia crassipes), dan Kiambang (Salvinia sp.) Keanekaragaman perifiton terdapatnya 35 jenis perifiton yang termasuk kedalam 7 kelas. Hubungan Kelimpahan Perifiton dengan kualitas air di Rawa Bento memiliki hubungan yang positif pada parameter oksigen terlarut dan nitrat. Kualitas air di Rawa Bento termasuk kedalam kategori tidak tercemar berdasarkan kelimpahan dan keanekaragaman perifiton pada vegetasi tumbuhan dan berdasarkan pengukuran faktor fisik dan kimia perairan di Rawa Bento yang diperoleh pada penelitian ini
PEMANFAATAN KOMPOS AMPAS TEBU PADA TANAMAN SORGUM (Shorgum bicolor (L.) Moench) DI LAHAN KERING : OPTIMALISASI PEMANFAATAN LAHAN KERING DI PROVINSI JAMBI
Sorghum is one type of cereal plant that has great potential to be developed in Indonesia because it has a wide adaptation area. Sorghum has been known and cultivated for a long time in several regions in Indonesia. The opportunity to increase production through increasing productivity is still very large because up to now the productivity that has been achieved is only 60% of the potential yield of each new variety that has a potential yield of 6 tons / ha. One of the causes of low sorghum production is due to minimum fertilization and nutrient-poor soil. Efforts that can be made to keep crop production balanced will require innovation in the supply of environmentally friendly plant nutrients, one of which is by utilizing bagasse waste into organic fertilizer. The study was conducted at the Experimental Garden of the Faculty of Agriculture, Jambi University, Mendalo Indah Village, Jambi Luar Kota District, Muaro Jambi Regency which was located at an altitude of 35 m above sea level and Ultisol soil type. The study aimed to determine the effect of bagasse compost on the growth and yield of sorghum and to obtain a dose of bagasse compost that can provide the best growth and yield of sorghum. This study was conducted using a randomized block design (RBD) with one factor, namely the dose of organic bagasse organic fertilizer consisting of 4 levels of treatment. The treatment used in this study was (P0) administration of inorganic fertilizers, (P1) administration of 5 tons / ha bagasse organic fertilizer, (P2) giving 10 tons / ha bagasse organic fertilizer, (P3) giving bagasse organic fertilizer 15 ton / ha. The variables observed were plant height, number of leaves, age of flowering, root dry weight, plant dry weight, panicle length, seed weight per plant, weight of 1000 seeds, and yield per hectare. The results showed that bagasse compost treatment had a significant effect on plant height. However, there was no significant effect on the number of leaves, age of flowering, root dry weight, dry weight of plants, panicle length, weight of 1000 seeds and dry seed weight of planting and harvest inde
PERILAKU HARIAN BURUNG KAKATUA KOKI (cacatua galerita) DI AREA EX-SITU TAMAN RIMBA ZOO JAMBI: The Daily Behavior Of The Chef Cockatoo (Cacatua galerita) In Ex-Situ Area Of The Jambi Zoo Jungle Park
Kakatua koki (Cacatua galerita) merupakan burung yang dilindungi, karena termasuk dalam kategori Least Concern dan termasuk ke dalam Appendiks II, karena banyak diperdagangkan baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga memiliki populasi yang terus menurun. Salah satu konservasi ex-situ yaitu Taman Rimba Zoo Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas periaku harian, perilaku makan, dan pakan kesukaan, serta apa saja komposisi pakan kakatua koki (Cacatua galerita) di Taman Rimba Zoo Jambi. Â Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 12-25 September 2020. Penelitian ini menggunakan metode Focal Animal Sampling dengan metode pencatatan data secara Continuous Sampling. Data yang didapat berupa data primer, data sekunder, dan dokumentasi. Kemudian data dianalisis menggunakan rumus Altman, hasil berupa tabel dan diagram. Berdasarkan hasil pengamatan terdapat 14 perilaku yang teramati, perilaku yang paling dominan yaitu perilaku bertengger 26% atau 2900 menit, perilaku ingesti 18% atau 2026 menit, perilaku menelisi bulu 12% atau 1384 menit. Adapun pakan yang diberikan untuk kakatua terdiri dari sayur-sayuran [kangkung (Ipomea aquatica), tauge (Vigna radiata), dan wortel (Daucus carota)], biji-bijian [jagung (Zea mays)], buah-buahan [pepaya (Carica papaya) dan pisang (Musa paradisiaca)], serta air digunakan untuk minum. Pakan kesukaan kakatua yaitu jagung (Zea mays) dan pepaya (Carica papaya)
PERKECAMBAHAN EKSPLAN BIJI KURMA (Phoenix dactylifera L.) CV. KHALAS TERHADAP PENAMBAHAN GIBERELIN (GA3) DAN benzyl amino purine (BAP) SECARA IN VITRO
Kurma (Phoenix dactylifera L.) merupakan tanaman tahunan yang hidup di wilayah iklim tropis seperti di Negara Timur Tengah dan Afrika Utara. Perluasan budidaya tanaman kurma secara tradisional masih dibatasi oleh kemampuan tanaman untuk menghasilkan bibit baru dalam jumlah banyak, seragam, dan dalam waktu singkat. Perbanyakan pada kurma dapat diproduksi cepat dengan inisiasi biji secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan menentukan konsentrasi terbaik GA3 tunggal dan kombinasi GA3+BAP terhadap perkecambahan dari eksplan biji (Phoenix dactilyfera L.) secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Terpadu, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau dari bulan Mei–September 2020 dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 10 (sepuluh) perlakuan yaitu kontrol, GA3 tunggal (2,5; 5; 7,5 mg/l) dan dikombinasikan dengan BAP (1 mg/l dan 2 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan pemberian GA3 tunggal dan dengan BAP berpengaruh nyata terhadap waktu muncul akar dan panjang akar dari eksplan biji kurma (Phoenix dactilifera L.). Pada perlakuan 2,5 mg/l GA3 adalah konsentrasi terbaik untuk waktu muncul akar tercepat yaitu 5,50 HST. Panjang akar terbaik di antara semua perlakuan pada perlakuan 5 mg/l sebesar 6,36 cm
KEBIASAAN MAKANAN DAN REPRODUKSI IKAN LUNDU (Macrones gulio) DI PERAIRAN MAJAKERTA, INDRAMAYU, JAWA BARAT, INDONESIA: Food Habit and Reproduction of Long Whisker (Macrones gulio) at Majakerta Waters, Indramayu, West Java, Indonesia
Ikan lundu (Macrones gulio) merupakan salah satu ikan ekonomis penting dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pangan. Kajian mengenai aspek makanan dan reproduksi ikan lundu sebagai dasar dalam pengelolaan ikan tersebut masih sangat minim. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji aspek kebiasaan makanan dan reproduksi ikan lundu yang mencakup jenis makanan, kelimpahan makanan, rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, ukuran ikan pertama kali matang gonad, indeks kematangan gonad, fekunditas, dan diameter telur. Penelitian dilakukan selama tiga bulan, pada Bulan Desember 2014 - Februari 2015. Total ikan contoh yang diamati (n= 201 ekor ikan), terdiri dari 98 ekor ikan jantan dan 103 ekor ikan betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan lundu termasuk ikan omnivora yang cenderung karnivora, dengan makanan utama berupa krustasea. Rasio kelamin ikan jantan dan ikan betina 1:1,1. Ikan betina lebih dahulu matang gonad dari pada ikan jantan. Fekunditas ikan lundu adalah 3100-24459 butir telur dengan modus penyebaran dua puncak yang mengindikasikan tipe pemijahan secara partial