260 research outputs found

    Pengaruh Lama Penyimpanan terhadap Daya Perkecambahan Biji Labu Kuning (Cucurbita moschata): The Effect of Seed Storage Duration on Seed Germination of Yellow Pumpkin (Cucurbita moschata)

    Full text link
    Yellow pumpkin (Cucurbita moschata) is an agricultural product that is rich in beta carotene or provitamin A, so it is very good for health. This study aims to determine the effect of storage duration on the germination of yellow pumpkin seeds and was carried out in Bandung from 24 November to 15 December 2022. The experiment was carried out by treating S0=seeds not stored, S1=seeds stored for 1 day, S2 = seeds stored for 3 days, S3 = seeds stored for 5 days, and S4 = seeds stored for 7 days. Each treatment was repeated 3 times with a total of 10 seeds in each repetition. Seeds are planted in soil media as deep as 0.5 cm in a clear plastic container without being covered. What was observed was the germination percentage in each experiment. The results obtained from the experiment showed that seed germination duration had an effect on the germination percentage of yellow pumpkins. The highest percentage of seed germination was achieved in the 5-day storage treatment. Keywords: Cucurbita moschata, yellow pumpkin, germination, storage   Abstrak Labu kuning (Cucurbita moschata) merupakan salah satu hasil pertanian yang kaya akan beta karoten atau provitamin A sehingga sangat baik untuk kesehatan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan terhadap daya perkecambahan biji labu kuning dan telah dilakukan di Bandung mulai tanggal 24 November hingga 15 Desember 2022. Percobaan dilakukan dengan memberikan perlakuan pada S0=biji tidak disimpan, S1= biji disimpan selama 1 hari, S2= biji disimpan selama 3 hari, S3=biji disimpan selama 5 hari, dan S4=biji disimpan selama 7 hari. Masing-masing perlakuan dilakukan ulangan sebanyak tiga kali dengan jumlah 10 biji pada setiap pengulangan. Biji ditanam pada media tanah sedalam 0,5 cm yang berada di dalam wadah plastik bening tanpa ditutup. Hal yang diamati adalah persentase daya perkecambahan pada setiap percobaan. Hasil yang didapat dari percobaan menunjukkan bahwa lama penyimpanan biji berpengaruh terhadap daya perkecambahan labu kuning. Persentase daya perkecambahan biji tertinggi dicapai pada perlakuan penyimpanan biji selama 5 hari. Kata kunci: Cucurbita moschata, labu kuning, perkecambahan, penyimpanan

    Analisis Kandungan Karbon di Taman Kehati PT Chandra Asri Cilegon: Carbon Content Analysis at Kehati Asri Park PT Chandra Asri Cilegon

    Full text link
    CO2 emissions continue to increase every year. The increase in CO2 emissions in Indonesia is caused by an increase in greenhouse gases and the production of CO2 emissions is inseparable from human activities. One of the efforts to reduce CO2 emissions can be done through the Biodiversity Park (Kehati) development program. This study aims to determine the estimation of biomass, carbon stocks and carbon dioxide absorption in PT Chandra Asri's biodiversity park as one of the efforts to reduce carbon emissions. The method used in collecting data on biomass is a non-destructive sampling method using allometric equation analysis to extrapolate biomass. The results showed that the total estimated biomass of all standing categories was 2745 tons/ha, the total carbon stock was 1290.15 tons/ha and the total CO2 absorption was 4734.85 tons/ha. This shows that the carbon stock in Taman Kehati PT. Chandra Asri Cilegon is in the high category because it spans more than 100 tonnes/ha so that PT. Chandra Asri Cilegon can maximize its function as a carbon absorption and storage area to reduce CO2 emissions. Keywords: Allometric equations, biodiversity park, biomassa, carbon dioxide absorption, carbon   Abstrak Emisi CO2 terus mengalami peningkatan di tiap tahunnya. Meningkatnya emisi CO2 di Indonesia diakibatkan oleh meningkatnya gas rumah kaca (GRK) dan produksi emisi CO2 ini tidak terlepas dari aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Salah satu upaya penurunan emisi CO2 dapat dilakukan melalui program pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkiraan estimasi biomassa, cadangan karbon dan serapan karbon dioksida di taman kehati PT Chandra Asri sebagai salah satu upaya dalam penanganan untuk mengurangi emisi karbon. Metode yang dipakai dalam pengambilan data biomassa yaitu metode nondestructive sampling menggunakan analisis persamaan allometrik untuk mengekstrapolasi biomassa. Hasil penelitian menunjukan jumlah estimasi biomassa semua kategori tegakan sebesar 2745 ton/ha, jumlah cadangan karbon sebesar 1290,15 ton/ha dan jumlah serapan CO2 sebesar 4734,85 ton/ha. Hal ini menunjukkan bahwa cadangan karbon pada Taman Kehati PT. Chandra Asri Cilegon berada dalam kategori tinggi karena berada direntang lebih dari 100 ton/ha sehingga Taman Kehati PT. Chandra Asri Cilegon dapat memaksimalkan fungsinya sebagai salah satu kawasan penyerapan dan penyimpanan karbon untuk untuk mengurangi emisi CO2. Kata kunci: Biomassa, cadangan karbon, persamaan allometrik, serapan karbondikosida, taman kehatiÂ

    STRUKTUR POPULASI (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) DI KAWASAN DANAU SARI EMBUN KABUPATEN TANAH LAUT: POPULATION STRUCTURE (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) IN THE LAKE SARI EMBUN AREA, TANAH LAUT DISTRICT

    No full text
    Population structure is defined as an arrangement of age classes in a population. It is very important to study population structure to determine the status and existence of a population so that efforts can be made to control the population in that habitat. Pine is one of the plants found in the Danau Sari Embun area which has the potential to be used as a learning resource based on local content. The results of data analysis show that the population structure of Pine plants in the Danau Sari Embun area was found to be 0 Ind/2.5 Ha in the pre-reproductive phase, 14 Ind/2.5 Ha in the reproductive phase, 0 Ind/2 Ha in the post-reproductive phase. .5 Ha, so that the shape of the pyramid is in the form of a vase or jug with a disturbed base. Keywods: Population Structure, Pinus merkusii, Danau Sari Embun   Abstrak Struktur populasi didefinisikan sebagai suatu susunan kelas umur dalam suatu populasi. Kajian tentang struktur populasi sangat penting dilakukan untuk mengetahui status dan keberadaan suatu populasi sehingga dapat dilakukan upaya untuk penanggulangan populasi dihabitat tersebut. Pinus adalah salah satu tumbuhan yang terdapat di kawasan Danau Sari embun yang berpotensi dijadikan sebagai sumber belajar berbasis muatan lokal. Hasil analisis data menunjukkan bahwa struktur populasi tumbuhan Pinus di kawasan Danau Sari embun di dapatkan jumlah pada fase pra-reproduktif berjumlah 0 Ind/2,5 Ha, fase reproduktif berjumlah 14 Ind/2,5Ha, fase post-reproduktif berjumlah 0 Ind/2,5Ha, sehingga bentuk piramidanya berbentuk pasu atau kendi dengan dasar terganggu. Kata Kunci: Struktur Populasi, Pinus merkusii, Danau Sari EmbunStruktur populasi didefinisikan sebagai suatu susunan kelas umur dalam suatu populasi. Kajian tentang struktur populasi sangat penting dilakukan untuk mengetahui status dan keberadaan suatu populasi sehingga dapat dilakukan upaya untuk penanggulangan populasi dihabitat tersebut. Pinus adalah salah satu tumbuhan yang terdapat di kawasan Danau Sari embun yang berpotensi dijadikan sebagai sumber belajar berbasis muatan lokal. Hasil analisis data menunjukkan bahwa struktur populasi tumbuhan Pinus di kawasan Danau Sari embun di dapatkan jumlah pada fase pra-reproduktif berjumlah 0 Ind/2,5 Ha, fase reproduktif berjumlah 14 Ind/2,5Ha, fase post-reproduktif berjumlah 0 Ind/2,5Ha, sehingga bentuk piramidanya berbentuk pasu atau kendi dengan dasar tergangg

    PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG KULIT BIJI KAKAO PADA SOFT COOKIES TERHADAP KANDUNGAN GIZI DAN DAYA TERIMA KONSUMEN ANAK USIA SEKOLAH DASAR

    Full text link
    This research aims to analyze the effect of substitution of cocoa bean shell flour in soft cookies on the nutritional content and consumer acceptability of elementary school age children. The samples in this research were soft cookies substituted for cocoa bean shell flour with three treatments, namely percentages of 10%, 20% and 30%. This research was carried out in the initial stages, namely proximate testing of the nutritional content of soft cookies and organoleptic testing carried out by 20 untrained panelists from Bani Saleh 1 Elementary School students and 20 untrained panelists from Margahayu VIII Elementary School students with assessment aspects including taste, color, aroma, and texture. The results of the proximate test data show that soft cookies meet the national standard quality requirements for nutritional content, namely protein content and fat content. The results of Friedman's test data show that the soft cookies that many students at Bani Saleh 1 Elementary School like are soft cookies with a substitution percentage of 10% with an average value for the taste aspect of 3.80, the aroma aspect of 3.50, and the texture aspect of 3.60. Meanwhile, Friedman's test data shows that the soft cookies that many students at SDN Margahayu VIII like are soft cookies with a substitution percentage of 30% with an average value for the taste aspect of 3.60 and the texture aspect of 3.65. The conclusion of this research is that the best formula for soft cookies substituted for cocoa bean shell flour based on organoleptic tests in two elementary schools and proximate tests that have been carried out is soft cookies with 10% substitution. Keywords: Cocoa Bean Shell Flour, Consumer Acceptability, Nutritional Content, and Soft Cookies   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh substitusi tepung kulit biji kakao pada soft cookies terhadap kandungan gizi dan daya terima konsumen anak usia sekolah dasar. Sampel dalam penelitian ini adalah soft cookies subtitusi tepung kulit biji kakao dengan tiga perlakuan, yaitu persentase 10%, 20%, dan 30%. Penelitian ini dilakukan dengan tahapan awal adalah pengujian proksimat dari kandungan gizi soft cookies  dan pengujian organoleptik yang dilakukan oleh 20 orang panelis tidak terlatih siswa SD Bani Saleh 1 dan 20 orang panelis tidak terlatih siswa SDN Margahayu VIII dengan aspek penilaian meliputi aspek rasa, warna, aroma, dan tekstur. Hasil dari data uji proksimat menunjukkan bahwa soft cookies yang sudah memenuhi persyaratan mutu standar nasional kandungan gizi adalah kadar protein dan kadar lemak. Hasil dari data uji Friedman menunjukkan bahwa soft cookies  yang banyak disukai siswa dan siswi SD Bani Saleh 1 adalah soft cookies dengan persentase substistusi 10% dengan nilai rata-rata aspek rasa 3,80, aspek aroma 3,50, dan aspek tekstur 3,60. Sedangkan dari data uji Friedman menunjukkan bahwa soft cookies yang banyak disukai siswa dan siswi SDN Margahayu VIII adalah soft cookies dengan persentase substistusi 30% dengan nilai rata-rata aspek rasa 3,60 dan aspek tekstur 3,65. Kesimpulan pada penelitian ini bahwa formula terbaik dari soft cookies substitusi tepung kulit biji kakao berdasarkan uji organoleptik di dua sekolah dasar dan uji proksimat yang telah dilakukan adalah soft cookies dengan substitusi 10%. Kata Kunci: Daya Terima Konsumen, Kandungan Gizi, Soft Cookies, dan Tepung Kulit Biji Kakao.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh substitusi tepung kulit biji kakao pada soft cookies terhadap kandungan gizi dan daya terima konsumen anak usia sekolah dasar. Sampel dalam penelitian ini adalah soft cookies subtitusi tepung kulit biji kakao dengan tiga perlakuan, yaitu persentase 10%, 20%, dan 30%. Penelitian ini dilakukan dengan tahapan awal adalah pengujian proksimat dari kandungan gizi soft cookies  dan pengujian organoleptik yang dilakukan oleh 20 orang panelis tidak terlatih siswa SD Bani Saleh 1 dan 20 orang panelis tidak terlatih siswa SDN Margahayu VIII dengan aspek penilaian meliputi aspek rasa, warna, aroma, dan tekstur. Hasil dari data uji proksimat menunjukkan bahwa soft cookies yang sudah memenuhi persyaratan mutu standar nasional kandungan gizi adalah kadar protein dan kadar lemak. Hasil dari data uji Friedman menunjukkan bahwa soft cookies  yang banyak disukai siswa dan siswi SD Bani Saleh 1 adalah soft cookies dengan persentase substistusi 10% dengan nilai rata-rata aspek rasa 3,80, aspek aroma 3,50, dan aspek tekstur 3,60. Sedangkan dari data uji Friedman menunjukkan bahwa soft cookies yang banyak disukai siswa dan siswi SDN Margahayu VIII adalah soft cookies dengan persentase substistusi 30% dengan nilai rata-rata aspek rasa 3,60 dan aspek tekstur 3,65. Kesimpulan pada penelitian ini bahwa formula terbaik dari soft cookies substitusi tepung kulit biji kakao berdasarkan uji organoleptik di dua sekolah dasar dan uji proksimat yang telah dilakukan adalah soft cookies dengan substitusi 10%

    Analisa Risiko Kesehatan Cemaran Krom dalam Beras di Kecamatan Jetis, Yogyakarta: Health Risk Analysis of Chromium Contamination in Rice in Jetis District, Yogyakarta

    Full text link
    The distribution of chromium originating from industrial waste disposal activities into the Opak River can pollute the flow of rice irrigation water which has an impact on food safety, especially rice. This study aims to determine the concentration of hexavalent chromium, the daily intake rate of age groups, and the effect of chromium on health risks. This research was conducted in Jetis District, Bantul, Yogyakarta with 3 sub-district locations: Canden Village, Trimulyo Village, and Sumber Agung Village. The research samples used were 60 rice samples from their own harvest using irrigation water from the Opak River using a random sampling method. Analysis of hexavalent chromium in rice was carried out with a preparation of 15 grams and analyzed using a HACH DR 2700 Spectrophotometer. The results showed that 100% of rice samples in Jetis District were contaminated with hexavalent chromium. The chromium concentration in the 3 villages ranged from 0.054-0.604 mg/kg with the highest mean value of 0.224 mg/kg found in Canden village. The pattern of chromium intake from rice consumption in 3 sub-districts ranged from 0-1909 µg/day with a mean value of 971 µg/day. The average value of chromium intake patterns in 3 sub-districts is far beyond the safe limit set by WHO of 320 µg/day. From the health risk calculations, the Risk Quotient values obtained for the subdistricts of Canden, Trimulyo, and Sumber Agung villages were respectively 3.00, 2.00, and 2.00. The RQ value in 3 sub-districts is above the safe limit set by WHO at RQ > 1. Based on the calculation of the risk of cancer, seen from the ECR value, the results obtained range from 1.E-01 – 2.E-01, this ECR value is far beyond the set safe limit. by WHO is 10-4. Chromium concentration, daily intake rate, consumption patterns, and characteristics of respondents influence health risks. Keywords: Hexavalent Chromium, Rice, Health Risk Analysis   Abstrak Distribusi kromium yang bersumber dari aktivitas pembuangan limbah industri ke Sungai Opak dapat mencemari aliran air irigasi persawahan yang berdampak pada keamanan pangan terutama beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kromium heksavalen, laju asupan harian dari kelompok umur, dan pengaruh kromium terhadap risiko kesehatan. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Jetis, Bantul, Yogyakarta dengan 3 lokasi kelurahan yaitu Desa Canden, Desa Trimulyo dan Desa Sumberagung. Sampel penelitian yang digunakan adalah beras sebanyak 60 sampel yang berasal dari hasil panen sendiri yang memanfaatkan air irigasi sungai Opak dengan metode random sampling. Analisis kromium heksavalen pada beras dilakukan dengan preparasi sebanyak 15 gram dan dianalisis menggunakan alat Spektrofotometer HACH DR 2700. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100% sampel beras di Kecamatan Jetis telah terkontaminasi kromium heksavalen. Konsentrasi kromium pada 3 desa berkisar sebesar 0,054-0,604 mg/kg dengan nilai rerata tertinggi sebesar 0,224 mg/kg terdapat di desa Canden. Pola asupan kromium dari konsumsi beras pada 3 kelurahan berkisar 0-1909 µg/hari dengan nilai rerata sebesar 971 µg/hari. Nilai rerata pola asupan kromium di 3 kelurahan jauh melewati batas aman yang ditetapkan oleh WHO sebesar 320 µg/hari. Dari perhitungan risiko kesehatan, diperoleh hasil nilai Risk Quotient untuk kelurahan desa Canden, Trimulyo, Sumberagung secara berurutan sebesar 3,00, 2,00, 2,00. Nilai RQ pada 3 kelurahan diatas batas aman yang ditetapkan oleh WHO sebesar RQ > 1. Berdasarkan perhitungan risiko terjadinya kanker, dilihat dari nilai ECR diperoleh hasil berkisar1,E-01 – 2,E-01, nilai ECR ini jauh melewati batas aman yang ditetapkan oleh WHO sebesar 10-4. Konsentrasi kromium, laju asupan harian, pola konsumsi, karakteristik responden berpengaruh terhadap risiko kesehatan. Kata kunci: Kromium Heksavalen, Beras, Analisa Risiko Kesehata

    Ekologi Serdang (Livistona sp.) di Kecamatan Sekernan dan Kecamatan Mendahara Ulu: Serdang (Livistona sp.) Ecology in Sekernan Sub-Districd and Mendahara Ulu Sub-District

    No full text
    Livistona is one of the genera of palm plants with a wide distribution area, ecologically diverse and of horticultural, economic and ecological importance. The Livistona genus is an important ornamental plant species for landscapes, and generally tolerates it as an indoor (Siregar, 2005). The purpose of this study was to determine the ecology of Serdang (Livistona sp.) in Sekernan District and Mendahara Ulu District. This research was conducted in SeptemberOctober 2021 based on the purposive sampling method. The results obtained are Serdang ecology (Livistona sp.) Sekernan and Mendahara Ulu subdistricts found 16 serdang individuals, the composition of vegetation at the study site for tree stadia population was only slightly in secondary forest cover found 8 species of trees, while for oil palm plantations/rubber plantations there were 5 tree species, for the pole level most were found in oil palm plantations/rubber plantations with a total of 5 species while in secondary forest only 3 species, the sapling level was mostly found in oil palm plantations/rubber plantations because in rubber plantations the community allowed their gardens to be grown other than rubber, the seedling rate was mostly found in oil palm/rubber plantations with a total of 29 species with 129 individuals compared to secondary forests. Ecological factors around the herbaceous plants for humidity range from 250C–310C. The condition of the soil at the research site is sandy soil with a pH of 4.00 – 5.06. The slope of the medium-growing area is between 8% to 21%, which means that the herbaceous plant grows on the slope of the sloping to moderately steep area. Keywords: Livistona, Vegetation, Ecological Factors   Abstrak Livistona adalah salah satu dari marga tumbuhan palma yang wilayah penyebarannya lebar, ekologinya beragam dan bernilai penting secara hortikultura, ekonomi dan ekologi. Livistona adalah jenis tumbuhan hias yang penting untuk landskap, dan umumnya toleransi sebagai tanaman dalam ruang (Siregar, 2005). Tujuan penelitian ini mengetahui ekologi serdang (Livistona sp.) di Kecamatan Sekernan dan Kecamatan Mendahara Ulu. Penelitian dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2021 berdasarkan metode purposive sampling. Hasil penelitian ekologi serdang (Livistona sp.) Kecamatan Sekernan dan Kecamatan Mendahara Ulu ditemukan 16 individu serdang, Komposisi vegetasi dilokasi penelitian stadia pohon populasinya hanya sedikit pada tutupan hutan sekunder ditemukan 8 spesies pohon, sedangkan untuk kebun sawit/kebun karet terdapat 5 spesies pohon, tingkat tiang paling banyak ditemukan di tutupan kebun sawit/kebun karet dengan jumlah 5 spesies sedangkan di hutan sekunder hanya 3 spesies, tingkat pancang banyak di temukan pada tutupan kebun sawit/kebun karet karena pada kebun karet masyarakat membiarkan kebunnya ditumbuhan selain karet, tingkat semai banyak ditemukan di kebun sawit/kebun karet dengan jumlah 29 spesies dengan individu 129 dibandingkan hutan sekunder. Faktor ekologi di sekitar tumbuhan serdang kelembaban berkisar 250C–310C. Keadaan tanah di lokasi penelitian yaitu tanah berpasir dengan pH 4.00 – 5.06. Kemiringan tempat tumbuh serdang antara 8% hingga 21% bearti tumbuhan serdang tumbuh di kemiringan tempat landai hingga agam curam. Kata kunci: Livistona, Vegetasi, Faktor Ekolog

    KARAKTERISASI MORFOLOGI DAN FENOLOGI PEMBUNGAAN KROKOT (Portulaca oleracea Linn.): Morphological and Phenological Characterization of Purslane Flowering (Portulaca oleracea Linn.)

    Full text link
    Information regarding flowering phenology and character of ornamental plants, especially purslane still  limited, therefore further studies are needed to provide additional information for purslane ornamental plant cultivators to produce new varieties and also add to the body of knowledge in the world of education regarding flower development and morphology. The purpose of this study was to determine the flowering phenology and morphological characters of purslane flowers, which in turn could be used as an enrichment material for the practicum on the structure of flower development in the form of a practicum guide. The research was conducted in Jambi Kecil Village. The samples used were 15 purslane flowers, with purposive sampling technique. The data obtained in this study are quantitative data and qualitative data. The method used is the method of observation and data collection. Data obtained by direct observation, qualitative data will be analyzed descriptively and quantitative data will be analyzed by simple statistics. The results showed that the flowering phenology of purslane starts from the emergence of the flower bud phase, small buds, yellowish green buds, enlarged buds, flowers bloom, lay, dry, and fall takes 20 to 26 days. The long blooming period is no more than one day starting from around 08.00 WIB to 16.00 WIB. During the flower development period, the weather conditions at the peak of flower blooming until the flowers fall off are quite stable. The flower petals that fall do not produce fruit, leaving only the base of the flower which becomes dry and brown over time. The characterization results showed that there was no difference in the morphological structure of the flowers, there were only differences in the size and number of flower parts. Key Words :  Phenology,  Morphology, Portulaca oleracea Linn.   Abstrak Informasi tentang fenologi pembungaan dan karakterisasi tanaman hias terutama krokot masih terbatas. Oleh karena itu dibutuhkan kajian lebih lanjut untuk menambah pengetahuan pembudidaya tanaman hias ini, sehingga diharapkan mampu menghasilkan varietas-varietas baru. Seain itu hasil kajian ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu didunia pendidikan mengenai perkembangan dan morfologi bunga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui fenologi pembungaan dan karakter morfologi bunga krokot yang selanjutnya hasil penelitian dapat dimanfaatkan sebagai salah satu materi pengayaan pada praktikum struktur perkembangan bunga dalam bentuk penuntun praktikum. Penelitian dilakukan di Kelurahan Jambi Kecil. Sampel yang digunakan sebanyak 15 kuntum bunga krokot, dengan teknik pengambilan sample Purposive Sampling. Data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode observasi dan dokumentasi. Data didapatkan dengan pengamatan secara langsung, data kualitatif akan dianalisis secara deskriptif dan data kuantitatif akan dianalis dengan statistik sederhana. Hasil penelitian menunjukan bahwa fenologi pembungaan krokot dimulai sejak munculnya fase tunas bunga, kuncup kecil, kuncup hijau kekuningan, kuncup membesar, bunga mekar, layu, kering, dan rontok membutuhkan waktu 20 sampai 26 hari. Periode lama mekar adalah tidak lebih dari satu hari dimulai dari sekitar pukul 08.00 WIB sampai 16.00 WIB. Selama masa perkembangan bunga, Kondisi cuaca pada saat puncak mekar bunga hingga bunga rontok cukup stabil. Mahkota bunga yang rontok tidak menghasilkan buah, hanya menyisakan dasar bunga yang lama kelamaan menjadi kering dan kecoklatan. Hasil karakterisasi menunjukkan tidak ada perbedaan dari struktur morfologi bunga hanya terdapat perbedaan pada ukuran dan jumlah bagian-bagian bunga. Kata kunci: Fenologi, Morfologi, Portulaca oleracea Linn.Informasi tentang fenologi pembungaan dan karakter tanaman hias terutama krokot masih terbatas. Oleh karena itu dibutuhkan kajian lebih lanjut untuk menambah pengetahuan pembudidaya tanaman hias ini, sehingga diharapkan  mampu menghasilkan varietas-varietas baru. Seain itu hasil kajian ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu didunia pendidikan mengenai perkembangan dan morfologi bunga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui fenologi pembungaan dan karakter morfologi bunga krokot yang selanjutnya hasil penelitian dapat dimanfaatkan sebagai salah satu materi pengayaan pada praktikum struktur perkembangan bunga dalam bentuk penuntun praktikum. Penelitian dilakukan di Kelurahan Jambi Kecil. Sampel yang digunakan sebanyak 15 kuntum bunga krokot, dengan teknik pengambilan sample Purposive Sampling. Data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode observasi dan dokumentasi. Data didapatkan dengan pengamatan secara langsung, data kualitatif akan dianalisis secara deskriptif dan data kuantitatif akan dianalis dengan statistik sederhana. Hasil penelitian menunjukan bahwa fenologi pembungaan krokot dimulai sejak munculnya fase tunas bunga, kuncup kecil, kuncup hijau kekuningan, kuncup membesar, bunga mekar, layu, kering, dan rontok membutuhkan waktu 20 sampai 26 hari. Periode lama mekar adalah tidak lebih dari satu hari dimulai dari sekitar pukul 08.00 WIB sampai 16.00 WIB. Selama masa perkembangan bunga, Kondisi cuaca pada saat puncak mekar bunga hingga bunga rontok cukup stabil. Mahkota bunga yang rontok tidak menghasilkan buah, hanya menyisakan dasar bunga yang lama kelamaan menjadi kering dan kecoklatan. Hasil karakterisasi menunjukkan tidak ada perbedaan dari struktur morfologi bunga hanya terdapat perbedaan pada ukuran dan jumlah bagian-bagian bunga.   Kata kunci : Fenologi, Morfologi, Portulaca oleracea Linn

    Keanekaragaman dan Kelimpahan Fitoplankton di Rawa Bento, Kerinci sebagai Bioindikator Kualitas Perairan: Diversity and Abundance of Photoplanktone as a Water Quality Bioindicator of Rawa Bento Swamp, Kerinci

    No full text
    Phytoplankton is microscopic aquatic organisms that have plant-like properties that act as primary producers of aquatic ecosystems. Bento Swamp is the highest swamp in Sumatra which is included in the Kerinci Seblat National Park (TNKS) area. Bento Rawa plays a role in supporting the lives of the surrounding community as well as being a tourist area. This study aims to identify the diversity and abundance of phytoplankton, as well as their relationship with water quality in Bento Rawa. This research was conducted in February-April 2022 based on the purposive sampling method. The results showed that there were 48 types of phytoplankton belong to 8 classes. The species with the highest abundance in Bento Swamp is Cocconeis sp., Melosira varians, and Fragilaria capucina. The relationship of water quality in Rawa Bento with the diversity and abundance of phytoplankton shows a positive correlation on the parameters of pH, current speed, nitrate, and phosphate. The water quality in Rawa Bento is included in the uncontamined category based on the abudance and diversity of phytoplankton and the measurements of physical and chemical factors in the waters of Rawa Bento obtained in this study Keywords: Phytoplankton, Diversity, Abundance, Water Indicators, Bento Swamp.   Abstrak Fitoplankton adalah organisme perairan mikroskopis yang memiliki sifat seperti tumbuhan yang bertindak sebagai produsen utama ekosistem perairan. Rawa Bento merupakan rawa tertinggi di Sumatera yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Rawa Bento berperan dalam menunjang kehidupan masyarakat sekitar sekaligus menjadi kawasan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman dan kelimpahan fitoplankton, serta hubungannya dengan kualitas perairan di Bento Rawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 48 jenis fitoplankton yang termasuk dalam 8 kelas. Spesies dengan kelimpahan tertinggi di Rawa Bento adalah Cocconeis sp., Melosira varians, dan Fragilaria capucina. Hubungan kualitas air di Rawa Bento dengan keanekaragaman dan kelimpahan fitoplankton menunjukkan korelasi positif pada parameter pH, kecepatan arus, nitrat, dan fosfat. Kualitas air di Rawa Bento termasuk dalam kategori tidak tercemar berdasarkan kelimpahan dan keanekaragaman fitoplankton serta pengukuran faktor fisika dan kimia di perairan Rawa Bento yang diperoleh dalam penelitian ini. Kata Kunci: Fitoplankton, Keanekaragaman, Kelimpahan, Indikator Perairan, Rawa Bento

    Pengaruh Ekstrak Buah Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.)Terhadap Petumbuhan Jamur Microsporum canis : Pengaruh Ekstrak Buah Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.)Terhadap Petumbuhan Jamur Microsporum canis

    No full text
    This research aims to determine the effect of testing bintaro fruit extract (C. odollam) on the growth of M. canis fungus and to determine the optimal concentration of bintaro fruit extract (C. odollam) on the growth of M. canis fungus. This research used a Complete Randomized Design (RAL) design consisting of 5 treatments, namely P0: ketoconazole control, bintaro fruit extract concentration P1: 25%, P2: 50%, P3: 75%, P4: 100% with 5 repetitions. The parameters observed were the area of the inhibitory zone formed and the optimal concentration of bintaro fruit extract (C. odollam) in inhibiting the growth of M. canis. The data obtained were analyzed using ANOVA and continued with DNMRT test at a 95% confidence level. The results showed that the average diameter of the smallest inhibitory zone in the control was 12.53 mm. The average diameter of the largest inhibitory zone was at 24.10 mm at a concentration of 100% which was not significantly different from the average inhibitory zone at a concentration of 75%, but significantly different from concentrations of 25%, 50% and controls. The conclusion in this research is the effect of giving bintaro fruit extract (C. odollam) on the growth of M. canis fungus and the optimal concentration of bintaro fruit extract (C. odollam) at a concentration of 75%. Keywords: antifungal, Cerbera odollam, fruit extract, Microsporum canis   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengujian ekstrak buah bintaro (C. odollam) terhadap pertumbuhan jamur M. canis dan untuk mengetahui konsentrasi optimal dari ektrak buah bintaro (C. odollam) terhadap pertumbuhan jamur M. canis. Penelitian ini menggunakan rancangan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan yaitu P0: kontrol ketokonazole, ekstrak buah bintaro konsentrasi P1: 25%, P2: 50%, P3: 75%, P4: 100% dengan 5 kali pengulangan. Parameter yang diamati adalah luas zona hambat yang terbentuk dan konsentrasi ekstrak buah bintaro (C. odollam) yang optimal dalam menghambat pertumbuhan M. canis. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji DNMRT pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata diameter zona hambat yang terkecil yaitu pada kontrol yaitu 12,53 mm. Ratarata diameter zona hambat yang terbesar yaitu pada 24,10 mm pada  onsentrasi 100% yang tidak berbeda nyata dengan rata-rata zona hambat pada konsentrasi 75%, namun berbeda nyata dengan konsentrasi 25%, 50% dan kontrol. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak buah bintaro (C. odollam) berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur M. canis dan konsentrasi 75% merupakan konsentrasi optimal ekstrak buah bintaro (C. odollam) dalam menghambat pertumbuhan M. canis. Kata kunci: antifungi, Cerbera odollam, ekstrak buah, Microsporum canis  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengujian ekstrak buah bintaro (C. odollam) terhadap pertumbuhan jamur M. canis dan untuk mengetahui konsentrasi optimal dari ektrak buah bintaro (C. odollam) terhadap pertumbuhan jamur M. canis. Penelitian ini menggunakan rancangan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan yaitu P0: kontrol ketokonazole, ekstrak buah bintaro konsentrasi P1: 25%, P2: 50%, P3: 75%, P4: 100% dengan 5 kali pengulangan. Parameter yang diamati adalah luas zona hambat yang terbentuk dan konsentrasi ekstrak buah bintaro (C. odollam) yang optimal dalam menghambat pertumbuhan M. canis. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji DNMRT pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata diameter zonahambat yang terkecil yaitu pada kontrol yaitu 12,53 mm. Rata-rata diameter zona hambat yang terbesar yaitu pada 24,10 mm pada konsentrasi 100% yang tidak berbeda nyata dengan rata-rata zona hambat pada konsentrasi 75%, namun berbeda nyata dengan konsentrasi 25%, 50% dan kontrol. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah adanya pengaruh pemberian ekstrak buah bintaro (C. odollam) terhadap pertumbuhan jamur M. canis dan konsentrasi ekstrak buah bintaro (C. odollam) yang optimal yaitu pada konsentrasi 75%. Kata kunci: ekstrak buah, Cerbera odollam, antifungi, Microsporum cani

    Penentuan Karakteristik dan Efektivitas Eco Enzyme Berbahan Dasar Limbah Organik yang Berbeda sebagai Pengawet Buah Tomat (Solanum esculentum MILL.): Determination of The Characteristics And Effectiveness of Eco enzyme Based on Different Organic Waste For The Preservation of Tomato Fruit (Solanum esculentum Mill)

    Full text link
    Eco enzyme is a solution of complex organic substances produced by the fermentation of organic waste, sugar and water. Eco enzyme liquid is dark in color and has a strong sour/fresh aroma (Hemalitha and Visantini, 2013). Eco enzyme contains acid and alcohol compounds which act as antimicrobials. The aim of this research was to determine the characteristics of eco enzyme based on five organic wastes, namely eco enzyme made from banana peels, eco enzyme made from lemon peel, eco enzyme made from pineapple peel, eco enzyme made from pieces of spinach stems and leaves, and eco enzyme made from cassava leaves and to know the effectiveness of eco enzyme in the preservation process of tomatoes. The study consisted of 2 research phases, namely quantitatively determining the characteristics of eco enzyme based on five organic materials and determining the effectiveness of the eco enzymeter in the preservation process of tomatoes. of 3.42. The highest total acid was found in the P5 treatment of 5.25%, the highest LAB and yeast populations were found in the P4 treatment, namely 2.34 Log CFU/ml and 2.02 Log CFU/ml. The effectiveness of the five eco enzyme products on the best preservation of tomatoes was found in the P4 treatment, which was 70%. Keywods: Eco Enzyme, Organic Waste, Tomatoes.   Abstrak Eco enzyme merupakan larutan zat organik kompleks yang dihasilkan oleh fermentasi limbah organik, gula dan air. Cairan eco enzyme berwarna gelap dan memiliki aroma asam/segar yang kuat (Hemalitha dan Visantini, 2013). Eco enzyme mengandung senyawa asam dan alkohol yang sangat berperan sebagai antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik eco enzim berbasis lima limbah organik, yaitu eco enzyme berbahan dasar kulit pisang, eco enzyme berbahan dasar kulit jeruk lemon, eco enzyme berbahan dasar kulit nanas, eco enzyme berbahan dasar potongan batang dan daun bayam, dan eco enzyme berbahan dasar daun singkong serta mengetahui efektifitas eco enzyme terhadap proses pengawetan buah tomat. Penelitian terdiri dari 2 tahap penelitian yaitu, penentuan karakteristik eco enzyme yang berbasis lima bahan organik secara kuantitatif dan penentuan efektifias eco enzyme terhadap proses pengawetan buah tomat. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik eco enzyme berbasis lima limbah organik yaitu keasaman (pH) tertinggi terdapat pada perlakuan P2 sebesar 3,42. Total asam tertinggi terdapat pada perlakuan P5 sebesar 5,25%, populasi BAL dan populasi yeast tertinggi terdapat pada perlakuan P4 yaitu 2, 34 Log CFU/ml dan 2,02 Log CFU/ml. Efektifitas lima produk eco enzyme terhadap tingkat keawetan buah tomat terbaik terdapat pada perlakuan P4 yaitu 70 %. Kata Kunci: Eco Enzyme, Limbah Oranik, Buah Tomat

    228

    full texts

    260

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Biospecies
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇