Biospecies
Not a member yet
260 research outputs found
Sort by
Keanekaragaman dan Kelimpahan Jenis Kupu-kupu (Lepidoptera; Rhopalocera) di Sekitar Kampus Pinang Masak Universitas Jambi
Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan jenis kupu-kupu (Lepidoptera; Rhopalocera) di sekitar Kampus Pinang Masak Universitas Jambi. Sampel diambil dari 5 stasiun yang ditentukan secara purposif. Pada Masing-masing stasiun dibuat transek sepanjang 140 m, lalu dibuat 10 plot dengan ukuran 5x5 m dengan jarak antar plot yang sama (10 m). Parameter pengamatan meliputi keanekaragaman dan kelimpahan jenis. Selain itu diamati pula kondisi lingkungan yang meliputi intensitas cahaya, suhu udara dan kelembaban udara. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan 143 individu dari 5 famili yaitu famili Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Lycaenidae dan Hesperiidae dengan indeks keanekaragaman jenis yaitu 2,153. Hasil perhitungan kelimpahan jenis menunjukkan banyak jenis yang ditemukan dengan kelimpahan yang rendah yaitu dengan nilai kelimpahan jenis 0,006 (1 individu). Adapun jenis kupu-kupu yang ditemukan melimpah adalah jenis Junonia orithya dengan nilai kelimpahan jenis 0,160 (23 individu), diikuti oleh Acraea terpsicore dengan nilai kelimpahan jenis 0,132(19 individu) dan Eurema hecabe dengan nilai kelimpahan jenis 0,118 (17 individu). Kondisi lingkungan yaitu intensitas cahaya (16780-92170 Lux), suhu udara (31,6-34,2 oC) dan kelembaban udara (63,8-80,8%). Dari hasil penelitian, keanekaragaman jenis kupu-kupu (Lepidoptera; Rhopalocera) di sekitar Kampus Pinang Masak Universitas Jambi menunjukkan tingkat yang sedang dengan nilai berkisar antara 1,5-3,5. Disarankan untuk dapat dilakukan penelitian sejenis dengan lokasi yang lebih luas, dan dengan berbagai kondisi musim sehingga mendapatkan hasil yang lebih luas.  Kata kunci: kupu-kupu, keanekaragaman, kelimpahan, Universitas Jambi
Aspek Biologi Reproduksi Ikan Tambakan (Helostoma temminckii) di Perairan Umum Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi
Penelitian tentang aspek repoduksi ikan tambakan (Helostoma temminckii) di perairan umum Kecamatan Kumpeh telah dilakukan pada bulan Juni sampai dengan bulan Agustus 2013, pengoleksian ikan sampel dengan alat tangkap jaring insang dan jala dengan ukuran mata jaring 0,75 inchi dan 1,0 inchi. Pengumpulan ikan sampel dilakukan seminggu sekali dan pengambilan dilakukan secara acak sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk melihat aspek biologi reproduksi ikan tambakan yang meliputi seksualitas, nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad dan nilai indek somatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan tambakan bersifat heteroseksual dengan nisbah kelamin ikan jantan betina (1,25:1,00). Nilai gonado somatik ikan betina lebih besar dari ikan jantan pada setiap tingkat kematangan gonad. Â Kata kunci: gonad, tingkat kematangan gonad, heteroseksua
Identifikasi dan Tipe Habitat Ikan Gelodok (Famili: Gobiidae) di Pantai Bali Kabupaten Batu Bara Provinsi Sumatera Utara
Abstrak. Ikan gelodok atau Mudskipper merupakan ikan yang hidup di daerah pasang-surut. Ikan ini mampu berjalan di atas lumpur, bahkan mampu memanjat akar-akar mangrove. Informasi tentang kajian mengenai ikan gelodok di Indonesia masih sedikit. Untuk itu diperlukan informasi lebih lanjut tentang jenis-jenis ikan dan tipe habitat yang paling sering ditemukan ikan gelodok. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2014 sampai dengan April 2014. Pengambilan contoh ikan gelodok pada 3 daerah yaitu, pantai, mangrove dan sungai/saluran. Identifikasi jenis ikan gelodok mengacu pada Kottelat et al., (1993). Selanjutnya dihitung kepadatan ikan sesuai titik pengamatan. Hasil penelitian ditemukan 4 jenis ikan gelodok yaitu: Boleophthalmus boddarti, Periophthalmus chrysospilos, Periophthalmus gracilis dan Periophthalmonodon schlosseri. Rata-rata kepadatan ikan gelodok selama masa penelitian adalah 9 ind/m2 untuk di wilayah pantai, 1 ind/m2 di wilayah mangrove dan 6 ind/m2 pada saat kondisi air laut pasang. Pada saat kondisi air laut surut, kepadatan ikan gelodok adalah 4 ind/m2 untuk daerah pantai, 2 ind/m2 untuk daerah mangrove dan 7 ind/m2 untuk daerah sungai. Pada daerah pantai umumnya di jumpai jenis Periophthalmus chrysospilos. Pada daerah mangrove lebih sering dijumpai jenis Periophthalmus gracilis. Pada daerah sungai lebih dominan jenis Boleophthalmus boddarti dan Periophthalmonodon schlosseri. Kata kunci: ikan gelodok, identifikasi, tipe habitat
Pertumbuhan Tanaman Kelapa Sawit Belum Menghasilkan (TBM I) pada Pemberian Mikoriza Indigen dan Dosis Pupuk Organik di Lahan Marjinal
Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pertumbuhan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM I) pada pemberian mikoriza indigen dan dosis pupuk organik di lahan marjinal (Ultisol). Percobaan ini terdiri dari dua faktor perlakuan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Faktor pertama adalah mikoriza terdiri dari dua taraf (M0: tanpa inokulasi mikoriza serta M1 : dengan inokulasi mikoriza jenis Glomus sp-16), serta faktor kedua, pemberian dosis pupuk organik, terdiri atas lima taraf (P0 = tanpa pupuk organik, P1 = 25%  dosis anjuran pupuk organik kompos kotoran sapi, P2 = 50% dosis anjuran pupuk organik kompos kotoran sapi, P3 = 75% dosis anjuran pupuk organik kompos kotoran sapi, dan P4 = 100% dosis anjuran pupuk organik kompos kotoran sapi. Hasil penelitian menunjukkan Pemberian mikoriza dan berbagai dosis pupuk kompos kotoran sapi serta interaksi antara pemberian mikoriza dan berbagai dosis pupuk kompos kotoran sapi mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM 1) umur 6 bulan yang ditanam di lahan marjinal. Pemberian mikoriza dan pupuk kompos kotoran sapi dengan dosis 75% dari dosis rekomendasi mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM 1) yang terbaik di lahan marjinal.  Kata Kunci: lahan marjinal, ultisol, mikoriza, pupuk organik, kelapa sawi
Hubungan Panjang Berat dan Faktor Kondisi Ikan Seriding Ambassis gymnocephalus (Lacepede, 1802) Perairan Mangrove di Kawasan Konservasi
Abstrak. Telah dilakukan penelitian tentang pertumbuhan ikan seriding Ambassis gymnocephalus di perairan TN. Ujung Kulon dan SM. Muara Angke. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan panjang berat dan faktor kondisi. Ikan ditangkap dengan jaring insang (diameter mata jaring = ¾ inch, 1 inch, 1,5 inch dan 2 inch) dan jala (diameter mata jaring = 1 cm dan 2 cm). Hasil yang diperoleh hubungan panjang berat yaitu nilai R untuk jantan 97,9% dan betina 99,0% di TN. Ujung Kulon dan di SM. Muara Angke nilai R 87,8% untuk jantan dan betina 88,4%. Pola pertumbuhan alometrik positif terjadi di TN. Ujung Kulon, sedangkan alometrik negatif di SM. Muara Angke. Nilai faktor kondisi pada 2 lokasi relatif mendukung. Kata kunci: mangrove, panjang-berat, faktor kondisi, seriding, TN. Ujung Kulon, SM. Muara Angk
Pengaruh Pupuk Organik Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan Inokulasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) terhadap Pertumbuhan Bibit Jelutung Rawa (Dyera lowii HOOK.f.)
Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik TKKS dan inokulasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) serta memperoleh dosis yang optimum terhadap pertumbuhan bibit jelutung rawa secara optimal. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk organik TKKS (0,145; 290 dan 580 g/tanaman) dan faktor kedua dosis FMA Mycofer® (0,5; 10 dan 15 g/tanaman), ulangan sebanyak tiga kali. Parameter penelitian berupa tinggi batang, diameter batang, jumlah daun, luas daun, rasio pucuk akar dan persentase akar terkolonisasi. Data dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan Multi Range Test (DMRT) pada taraf α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh nyata pupuk organik TKKS terhadap pertambahan diameter batang dan rasio pucuk akar. Pemberian dosis FMA menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap persentase kolonisasi akar. Pemberian kombinasi keduanya juga menunjukkan pengaruh interaksi yang nyata terhadap tinggi batang dan luas daun. Dosis optimum diperoleh pada perlakuan pupuk organik TKKS 145 g dan inokulasi FMA 5 g. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk menggunakan pupuk organik TKKS dengan dosis 145 g yang dikombinasikan dengan dosis FMA 5 g/tanaman. Kata Kunci : TKKS, pertumbuhan, jelutung rawa, FMA
Keanekaragaman Jenis Burung pada Areal Tambak Intensif di Sumatera Selatan dan Lampung
Abstrak. Areal pertambakan merupakan salah satu habitat yang disukai oleh jenis burung, khususnya burung air. Penelitian ini ini bertujuan untuk indentifikasi keanekaragaman jenis-jenis burung yang terdapat pada areal pertambakan udang intensif. Penelitian dilakukan pada dua areal tambak intensif terbesar di Sumatera Selatan dan Lampung pada bulan Juni – Agustus 2014. Metode penelitian yang digunakan adalah metode jelajah dengan stasiun pengamatan yang ditempatkan secara purposive. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tingkat keanekaragaman burung pada dua areal tambak intensif berkisar antara sedang hingga tinggi yaitu 2,90 untuk tambak intesif di Sumatera Selatan dan 3.55 untuk tambak intensif di Lampung. Areal tambak menjadi salah satu lokasi penting bagi burung, selain karena memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi, areal tambak juga menjadi salah satu habitat pilihan lokasi singgah mencari makan burung-burung migran.  Kata Kunci: keanekaragaman jenis, burung air, tambak udan
Keragaman Serangga Penyerbuk dan Hubunganya dengan Warna Bunga pada Tanaman Pertanian di Lereng Utara Gunung Slamet, Jawa Tengah (Diversity of insect pollinators and its relationship with flowers colors on Agricultural Crops in the Northern slopes of ...)
Reseach on insect pollinators diversity and abundance on eight cash crops wasconducted at Serang, Sub District Karangreja, Purbalingga, Central Java, during June to oktober2012. The aims of this research were to observethe diversity and abundance of insect pollinators ateight food crops and their relationship with flowers colours. Sampling of insect pollinators specieswas done using scane sampling and direct observation of insect stay at the flowers. Insect diversitywas calculated using Shannon´s index, Simpsons index and, and Shannon Eveness. Species turnover was calculated using Jaccard index. the calculations was performed using BD Pro(McAleece, et al., 1997). Sevententh species of insect pollinators was identified. Wings bean wasvisited by 12 species of insect pollinators with highest diversity indeces (H=2.14, D=0.86, and E=0.86,) followed by cucumber (11 species) with diversity indeces (H=1.89, D=0.75, and E= 0.75,),and the lowest was strawberry with only visited by 7 species with diversity indeces(H=1.25,D=0.64, and E= 0.64,).The most abundance insect pollinator species was local honeybees ( A. Cerana), followed by stingless bees (Trigona sp) and the lowest was Ropalidia romandiwith consist only 2 individual.There is no corelation between flowers colors with either insectpollinators diversity or abundance
Keanekaragaman Jenis Gastropoda di Sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Parit 7 Desa Tungkal I Tanjung Jabung Barat (Species Diversity of Gastropods around Parit Fish Auction, Tungkal I Village, West Tanjung Jabung)
The objective of this research is to determine the gastropod species diversity aroundParit 7 fish auction, Tungkal 1 Village, West Tanjung Jabung. The research found 208 individuals of15 gastropods species: Cerithidea obtusa, Cerithidea alata, Cerithidea cingulata, Telescopiumtelescopium, Telescopium mauritsi, Littoraria melanostoma, Littoraria conica, Littoraria scabra,Nerita balteata, Neritina violacea, Neritina cornucopia, Stramonita gradata, Chicoreus capucinus,Cassidula aurisfelis, and Ellobium aurisjudae. The research concluded that the gastropod speciesdiversity around Parit 7 fish auction Tungkal 1 Village West Tanjung Jabung classified as mediumdue to H' index ranged from 1.79 to 2.28 and there is no dominant species
Keanekaragaman Jenis Udang Air Tawar di Danau Teluk Kota Jambi (Biodiversity of Freshwater Prawns in Danau Teluk Jambi City)
The aim of this research is to measure biodiversity of freshwater prawns in Danau Teluk Jambi City. This is a quantitative descriptive research, the samples were taken purposively from three stations. The collected data were analyzed to obtain biodiversity index and dominance index. Some nvironmental parameters were also measure including temperature, water depth, pH, DO (Dissolved Oxygen), COD (Chemical Oxygen Demand), and BOD (Biochemical Oxygen Demand). The research found 170 individual freshwater prawns belonging to 3 species: Macrobrachium rosenbergi, Macrobrachium lanchesteri, and Macrobrachium sintangense. Biodiversity index (H’) in stations I, II, and III were 0.85, 1.0, and 0.74 respectively and dominance index were 0.51, 0.39, and 0.51 respecytively. The value of physical and chemical water factors of the the three station were: water depth 0.6-2.6 m, temperature 28-31°C, pH 6.49-6.72, BOD 16-20 mg/l, COD 36-43 mg/l, and DO 6.61-6.63mg/l. The result indicated that biodiversity of freshwater prawns in Danau Teluk Jambi City was relatively low and there was species that dominated the water (Macrobrachium lanchesteri)