260 research outputs found

    ISOLASI BAKTERI DARI TANAH SEBAGAI PENGHASIL SENYAWA ANTIMIKROB

    Full text link
    Antibiotik adalah bahan obat yang sangat memegang peranan penting dalam menanggulangi penyakit infeksi. Senyawa antimikroba dapat diperoleh dari tumbuh-tumbuhan, dan mikroba. Senyawa antimikrob yang dihasilkan oleh mikroba memiliki keunggulan dibandingkan dengan antibiotik sintetik karena memiliki sifat yang lebih efektif, sebab targetnya spesifik serta toksisitasnya rendah. Tujuan dari penelitian yang telah dilakukan ialah untuk mengisolasi bakteri dari tanah yang mampu menghasilkan senyawa antimikrob, serta untuk menguji aktivitas penghambtannya terhadap  pertumbuhan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Metode yang telah digunakan dalam penelitian ini ialah isolasi, purifikasi, dan seleksi bakteri dari sampel tanah dengan metode uji penghambatan sedangkan bakteri Bacillus sp. Merupakan bakteri pembanding. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh terdapat 2 isolat yang berpotensi memiliki aktivitas antimikroba yaitu isolat 1 dan isolate 4. Isolat 1 lebih berpotensi menghambat E. coli dengan indeks hambat 4.0 mm dibandingkan dengan penghambatan S. aureus dengan indeks hambat 3.1 mm. Sedangkan isolat 4 lebih berpotensi menghambat S. aureus dengan indeks hambat 2.8 mm dibandingkan dengan penghambatan terhadap E. coli dengan indeks hambat 1.4 mm

    KOMPOSISI PROKSIMAT DAN INDEKS GLIKEMIK NIRA AREN

    Full text link
    This research intended to evaluate the proximate composition and palm juice glycemic index. The analysis of water, protein, and ash contents used the oven, semi-micro Kjeldahl, and thermogravimetry methods, respectively. Meanwhile, fat, carbohydrate, and sugar contents were analyzed by relying on direct extrusion method with a Soxhlet, by difference method , and Luff Schoorl method, respectively. Further, the analysis of the glycemic index employed the calculation of area under the curve using the finger-prick capillary blood method. The measurement of blood glucose levels was done to ten respondents who were given pure glucose and palm juice. The results revealed that palm juice contained 91.1% water, 0.28% ash, 0.41% protein, 0% fat, 8.21% carbohydrate, and 0,67% sugar. The average blood glucose of the respondents after consuming pure glucose and palm juice in minute 0, 30, 60, 90, and 120 arrived at 93.2 mg/dL, 155.4 mg/dL, 124.2 mg/dL, 93.8 mg/dL, 79.1 mg/dL, and 81.8 mg/dL, 118.6 mg/dL, 92.6 mg/dL, 74.1 mg/dL, and 63.7 mg/dL. The value of the palm juice glycemic index was 35.56 (low category), so that this juice could function as an alternative drink to maintain blood glucose levels.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi komposisi proksimat dan nilai indeks glikemik nira aren. Analisis kadar air menggunakan metode oven, protein menggunakan metode semimikro kjeldhal, kadar abu menggunakan metode thermografimetri, dan lemak menggunakan metode ekstruksi langsung dengan alat soxhlet, karbohidrat menggunakan metode by difference, dan gula mengunakan metode Luff schoorl . Analisis indeks glikemik menggunakan perhitungan luas area dibawah kurva menggunakan metode finger-prick capillary blood. Pengukuran kadar glukosa darah pada 10 orang responden yang diberi glukosa murni dan nira aren. Hasil penelitian menunjukkan nira aren mengandung 91,1% air, 0,28% kadar abu, 0,41% protein, 0% lemak, 8,21% karbohidrat dan 0,67% jumlah gula. Rata-rata glukosa darah responden setelah mengkonsumsi glukosa murni dan nira aren pada menit ke-0, 30, 60, 90, 120 yaitu sebagai berikut 93,2 mg/dL, 155,4 mg/dL, 124,2 mg/dL, 93,8 mg/dL, 79,1 mg/dL, dan 81,8 mg/dL, 118,6 mg/dL, 92,6  mg/dL, 74,1 mg/dL, dan 63,7 mg/dL. Nilai indeks glikemik nira aren adalah 35,56 berada pada kategori rendah, sehingga nira aren merupakan minuman alternatif untuk menjaga kadar gula darah

    Pengaruh Penularan Transvenereal Virus Dengue Serotipe-3 Terhadap Viabilitas Telur Aedes aegypti Berdasarkan Variasi Lama Penyimpanan

    Full text link
    Abstract                Infectious male Aedes aegypti mosquitoes can transmit dengue virus (DENV) to transvenereal non-infectious female mosquitoes. Infectious female mosquitoes will reduce DENV to the egg stage and propagate to the adult mosquito stage. Egg stage is a stage of viability / resistance of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) vector. The study aims to determine the effect of transvenereal transmission on egg viability resulting from parental Ae. aegyptifemale mosquitoe with DENV-3 infection, with variations in egg storage time. This type of experimental research with purposive sampling. Egg samples were obtained from the Ae. aegypti female parental mosquito detected positive DENV-3 by PCR testing. Egg samples were stored for 14, 30, 60 and 120 days. Analysis to determine differences in viability in eggs derived from infectious female mosquitoes compared to controls using an independent T-test. Analysis to determine the viability of eggs derived from parental infectious female mosquitoes based on variations in storage time using ANOVA. The results of the study stated that there was no significant difference (P = 0.794) between the average eggs that succeeded in becoming imago (viable eggs) derived from parental infectious female mosquitoes compared to controls. The analysis also stated that there was no significant difference (P = 0.18) between the average viable eggs derived from parental infectious female mosquitoes both storage duration for 14, 30, 60, or 90 days.   Keywords: Aedes aegypti, dengue serotype 3, storage time, transvenereal transmission, egg viability.Abstrak Nyamuk Aedes aegypti jantan infeksius dapat menularkan virus dengue (DENV) ke nyamuk betina non infeksius secara transvenereal. Nyamuk betina yang infeksius akan menurunkan DENV ke stadium telur dan berpropagasi sampai stadium nyamuk dewasa. Stadium telur merupakan stadium viabilitas/ketahanan dari vektor Demam Berdarah Dengue (DBD). Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh penularan transvenereal pada viabilitas telur yang dihasilkan dari parental nyamuk Ae. aegypti betina yang infeksius DENV-3, dengan variasi waktu penyimpanan telur. Jenis penelitian eksperimental dengan pengambilan sampel purposive sampling. Sampel telur didapatkan dari parental nyamuk Ae. aegypti betina yang terdeteksi positif DENV-3 dengan pengujian PCR. Sampel telur disimpan dengan lama penyimpanan selama 14, 30, 60 dan 120 hari. Analisis untuk menentukan perbedaan viabilitas pada telur yang berasal dari parental nyamuk betina infeksius dibandingkan kontrol, menggunakan T-test independent. Analisis untuk menentukan viabilitas telur yang berasal dari parental nyamuk betina infeksius berdasarkan variasi waktu penyimpanan menggunakan ANOVA. Hasil penelitian menyatakan tidak ada perbedaan bermakna (P = 0,794) antara rerata telur yang berhasil menjadi imago (telur yang viabel) yang berasal dari parental nyamuk betina infeksius dibandingkan kontrol. Analisis juga menyatakan tidak ada perbedaan bermakna (P = 0,18) antara rerata telur viabel yang berasal dari parental nyamuk betina infeksius baik lama penyimpanan selama 14, 30, 60, ataupun 90 hari. &nbsp

    PERBANDINGAN EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN KEMANGI DENGAN BAWANG PUTIH TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS

    Full text link
    Writing the results of the study was conducted to assess the effectiveness comparison of the ethanol extract of basil leaves with garlic with a concentration of 5%, 10%, 15% of each extract against the growing power of the Staphylococcus aureus bacteria. Staphylococcus aureus bacteria are gram-positive, cocci-shaped bacteria that live in colonies. These bacteria are normal flora in the human body that can harm humans. This study uses an experimental method with a post-test only design and the sample collection uses purposive sampling. The effectiveness test was carried out using the disk diffusion method, where the paper disc would be moistened with basil leaves ethanol extract of each concentration, is 5%, 10%, 15% and so was the ethanol extract of garlic. The results of the data obtained from this study continued with the Oneway-Anova test which will be continued with the Post-Hoc test, wherein the test there were significant differences from each treatment given. In bacteria treated with ethanol extract 15% basil leaves against Staphylococcus bacteria aureus, the effectiveness of the inhibition zone was found to be 9.2 mm in diameter where the inhibition zone was below the ethanol extract of 15% garlic which was 22.8 mm. Ethanol extract of 15% garlic has a good antimicrobial effect compared with ethanol extract of basil leaves 15% against Staphylococcus aureus bacteria.Penulisan hasil penelitian tersebut dilakukan untuk menilai perbandingan efektifitas dari ekstrak etanol daun kemangi dengan bawang putih dengan konsentrasi 5%, 10%, 15% dari setiap ekstrak terhadap daya tumbuh bakteri Staphylococcus aureus. Bakteri Staphylococcus aureus ialah bakteri gram positif berbentuk kokus yang hidup berkoloni. Bakteri tersebut merupakan flora normal di tubuh manusia yang dapat membahayakan manusia. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain post- test only design dan pengambilan sampelnya menggunakan Purposive sampling. Uji efektifitas dilakukan menggunakan metode difusi cakram, dimana kertas cakram akan di basahi dengan ekstrak etanol daun kemangi dari setiap konsentrasi, yaitu 5%, 10%, 15% dan begitu pula ekstrak etanol bawang putih. Hasil data yang diperoleh dari penelitian ini dilanjutkan dengan uji oneway-Anova yang akan diteruskan dengan uji Post-Hoc, dimana pada pengujian terdapat perbedaan yang bermakna dari setiap perlakuan yang diberikan. Pada bakteri yang diberi perlakuan ekstrak etanol daun kemangi 15% terhadap bakteri Staphylococcus  aureus, efektifitas zona hambat didapati berdiameter 9,2 mm dimana zona hambatnya berada dibawah ekstrak etanol bawang putih 15% yaitu 22,8mm. Ekstrak etanol bawang putih 15% memiliki efek antimikroba yang baik dibandingkan dengan ekstrak etanol daun kemangi 15% terhadap bakteri Staphylococcus aureus

    POTENSI VEGETASI HUTAN KOTA DALAM REDUKSI EMISI KARBONDIOKSIDA (CO2) DI KOTA JAMBI

    Full text link
    Abstract, Urban Forest is one of the Public Green Open Space which is controlling atmosfer, water, and soil pollution. Carbon dioxide (CO2) is one of the emission substances of greenhouse gas sources. Increased concentration of CO2, which comes from burning fuel oil and gas, can cause various diseases, such as upper respiratory tract infections, heart disease, cancer and etc. Therefore, it is necessary to reduce CO2 emissions, which one of them is through the utilization of Public Green Open Space, especially urban forest. Jambi City as the most populous area in Jambi Province has high CO2 emission potential. The purpose of this research is to predict the potential of tree vegetation in urban forest in Jambi City in reducing CO2 gas. The research was conducted in 3 locations: Bagan Pete Urban Forest, Muhammad Sabki Urban Forest, and Pine Forest Kenali. The vegetation analysis was performed using the Quadrant Method, where the 10 x 10 m observation plot was determined randomly. Vegetation analysis at each location was conducted to obtain basal area, which then determined the potential of CO2 emission reduction. The basal area of the trees vegetation at each location was 72,72 m2/Ha, 25,45 m2/Ha and 5,12 m2/Ha. Reduction of CO2 of tree vegetation in urban forest in each location in sequence was 41386 Ton/Ha/Year, 14482.93 Ton/Ha/Year, 2916.94 Tons/Ha/Year. Bagan Pete Urban Forest has the highest reduction potential. Based on this research, total carbon dioxide emission reduction potential through urban forest in Jambi City was 58785,87 Ton/Ha/Year.Abstrak, Hutan kota adalah salah satu ruang terbuka hijau masyarakat yang mengontrol pencemaran atmosfer, air dan tanah Karbon dioksida (CO2) merupakan suatu substansi yang paling utama dari gas-gas rumah kaca dimana peningkatannya dapat terjadi dikarenakan penggunaan bahan bakar dan gas yang dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti infeksi-infeksi saluran pernapasan bagian atas, sakit di bagian hati, kanker dan lain sebagainya. Oleh karena itu, merupakan hal yang penting untuk mengurangi emisi-emisi CO2 yang salah satunya dapat dilakukan melalui pemanfaatan ruang terbuka hijau publik, khususnya adalah hutan kota. Kota Jambi sebagai sebuah kota besar di Indonesia tentunya memiliki potensi emisi CO2 yang juga besar. Tujuan dari riset ini adalah untuk memprediksi potensi dari vegetasi pohon di hutan kota yang dimiliki oleh Kota Jambi dalam mengurangi emisi gas CO2. Riset ini dilakukan di tiga lokasi: hutan kota Bagan Pete, hutan kota Muhammad Sabki, dan hutan pinus Kenali. Analisis vegetasi dilakukan dengan metode kuadran dimana plot observasi pada 10 x 10 m dilakukan untuk mendapatkan area basal secara acak. Pada setiap lokasi kemudian dideterminasi potensi pengurangan emisi CO2 masing-masing. Area basal dari vegetasi pohon-pohon di tiap lokasi didapatkan seluas 72,72 m2/Ha untuk hutan kota bagan Pete, 25,45 m2/Ha pada hutan kota Muhammad Sabki, dan 5,12 m2/Ha untuk hutan pinus Kenali. Sedangkan pengurangan CO2 dari vegetasi pohon di hutan kota pada tiap lokasi secara berurutan adalah 41.386 Ton/Ha/Tahun, 14.482,93 Ton/Ha/Tahun, 2.916,94 Tons/Ha/Tahun. Berdasarkan penelitian ini, hutan kota Bagan Pete memiliki potensi tertinggi dari ketiga hutan kota yang dimiliki oleh kota Jambi, dan total pengurangan emisi karbon dioksida di kota Jambi dari keberadaan hutan-hutan kota yang ada adalah sebesar 58.785,87 Ton/Ha/Tahun

    DISTRIBUSI DAN KEMELIMPAHAN PLANKTON DI WET DUNE SLACKS GUMUK PASIR PARANGTRITIS, BANTUL, DIY.

    Full text link
    Plankton community has an important role in the food chain, nutrient cycle and initial succession process in the wet dune slacks. Wet dune slacks are damp or wet hollows left between dunes where have a seasonally fluctuating water table. This unique habitat has been protected in European, but in Indonesia has not been studied by researchers. The aim of this research is to study plankton distribution and abundance in wet dune slacks with physico-chemical factors that most influence. Sample was picked on February 2018 in Gumuk Pasir Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. There was 10 liters sample taken using bucket with 3 replications in 5 different wet dune slacks. Water sample was filtered using plankton-net 120 mesh size and physico-chemical parameters was measured. The results of plankton samples show there were 37 species of pennate diatoms, 1 species of centric diatoms, 23 species of algae unisel, 28 species of algae colony, 18 species of algae filaments, 3 species of dinoflagellates, 6 species of chlorophyll protozoa, 22 species of rotifers, 6 species of cladocera, 11 species of ostracoda, 5 species of copepods, and 5 species of protozoa. Plankton species that have succeeded in wet dune slacks are species that have a strategy of surviving in the extreme habitat by changing to resting stages, cysts, spores, and resting eggs. Phytoplankton species that dominated in the wet dune slacks was Cyclotella meneghiniana while for zooplankton was Chlamydotheca flexilis and Alona rectangula. Phytoplankton distribution and abundance was regulated by wind speed, C-organic content, alkalinity, light intensity, phosphate content, pH and dissolved oxygen. The physico-chemical factors that most influence the distribution and abundance of zooplankton was concentration of dissolved oxygen, dissolved CO2, pH, water temperature, air temperature, depth, water transparency, wind speed, light intensity, C-organic content, sulfate and phosphate content.    Komunitas plankton memiliki peran penting pada proses rantai makanan, siklus nutrien dan proses suksesi awal wet dune slacks. Kawasan wet dune slacks merupakan cekungan yang berada di antara punggung gumuk dan kondisi permukaan air tanah sangat bervariasi tergantung musim. Habitat unik yang telah dilindungi di benua Eropa ini justru belum banyak dipelajari di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari distribusi dan kemelimpahan plankton di wet dune slacks serta faktor fisiko-kimia yang paling mempengaruhi distribusi dan kemelimpahannya. Pencuplikan sampel dilakukan pada bulan Februari 2018 di Gumuk Pasir Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sampel air dicuplik menggunakan ember sebanyak 10 liter dengan 3 ulangan pada 5 wet dune slacks yang berbeda. Sampel air kemudian disaring menggunakan plankton-net ukuran 120 mesh serta diukur parameter fisiko-kimianya. Hasil dari pengamatan sampel plankton menunjukkan terdapat 37 spesies diatom pennate, 1 spesies diatom sentrik, 23 spesies alga unisel, 28 spesies alga koloni, 18 spesies alga filamen, 3 spesies dinoflagellata, 6 spesies protozoa berklorofil, 22 spesies rotifera, 6 spesies cladocera, 11 spesies ostracoda, 5 spesies copepoda, dan 5 spesies protozoa. Spesies plankton yang berhasil mengsuksesi kawasan wet dune slacks merupakan spesies yang memiliki strategi bertahan di habitat kekeringan dengan berubah ke fase istirahat, cyst, spora, dan resting eggs. Spesies fitoplankton yang mendominasi adalah Cyclotella meneghiniana sedangkan untuk zooplankton adalah Chlamydotheca flexilis dan Alona rectangula. Parameter fisiko-kimia kecepatan angin, C-organik, alkalinitas, sulfat, temperatur air, temperatur udara, intensitas cahaya,fosfat, pH dan oksigen terlarut menjadi faktor yang paling mempengaruhi distribusi dan kemelimpahan fitoplankton. Sedangkan untuk faktor fisiko-kimia yang paling mempengaruhi distribusi dan kemelimpahan zooplankton adalah kadar oksigen terlarut, CO2 terlarut, pH, temperatur air, temperatur udara, jeluk, jeluk Secchi, kecepatan angin, intensitas cahaya, C-organik, sulfat, fosfat.   &nbsp

    Hubungan Kelimpahan Zooplankton Terhadap Hasil Tangkapan Alat Tangkap Togok Di Kelurahan Kampung Nelayan Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi

    Full text link
    This study aimed to determine the parameters of aquatic environments based on physical-chemical factors, zooplankton diversity, and zooplankton abundance relationships on togok catch results. The sampling is done 3 times with 1 week interval. Based on the value of DO note that station 1 is categorized as moderate polluted, while stations 2 and 3 are still in the low polluted category. During the study there were 8 types of zooplankton consisting of Brachionusdimidiatus, Brachionus quadratus, Calanus gracilis, Calanus minor, Euterpina acutifrons, Oikopleura laboradoriensis, Oithona attenuate, and Nauplius. An index value of zooplankton averages of 1.12-1.44 indicates that moderate diversity with moderate distribution of individuals and levels of contaminated pollution is moderate. The zooplankton dominance index value shows that there is no dominant type with value 0,29-0,34. Pearson correlation results show there is no relationship between zooplankton abundance of togok catches, with a value of 0.882.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan parameter lingkungan perairan berdasarkan faktor fisik-kimia, keanekaragaman zooplankton, dan hubungan kelimpahan zooplankton pada hasil tangkapan togok. Pengambilan sampel dilakukan 3 kali dengan interval 1 minggu. Berdasarkan nilai DO perhatikan bahwa stasiun 1 dikategorikan sebagai polusi sedang, sedangkan stasiun 2 dan 3 masih dalam kategori polusi rendah. Selama penelitian ada 8 jenis zooplankton yang terdiri dari Brachionusdimidiatus, Brachionus quadratus, Calanus gracilis, Calanus minor, Euterpina acutifron, Oikopleura laboradoriensis, Oithona attenuate, dan Nauplius. Nilai indeks rata-rata zooplankton sebesar 1,12-1,44 menunjukkan bahwa keragaman sedang dengan distribusi individu sedang dan tingkat polusi yang terkontaminasi adalah sedang. Nilai indeks dominansi zooplankton menunjukkan bahwa tidak ada tipe dominan dengan nilai 0,29-0,34. Hasil korelasi Pearson menunjukkan tidak ada hubungan antara kelimpahan zooplankton dari tangkapan togok, dengan nilai 0,882

    Ethnopharmacy Study of Suku Anak Dalam (SAD) in Muara Kilis Village, Tengah Ilir, Tebo District, Jambi Province

    Full text link
    ABSTRACT Background: Indonesia consists of various ethnics on each island, one of which is Suku Anak Dalam (SAD) precisely on Sumatra island of Jambi Province. Each ethnic group has a variety of natural and traditional remedies. This observation was conducted from November 2017 to February 2018 in Muara Kilis Village, Tengah Ilir District, Tebo District, Jambi Province.This research purpose to determined of various disease and know the various natural resources that are used as a treatmenton Suku Anak Dalam at Muara Kilis. Method: This research type is descriptive research using qualitative method and purposive sampling for sampling technique and open-ended interview with informant using voice recording media. Results: The disease are often experienced by Suku Anak Dalam among others fever, cough, asthma, measles, gastritis, hemorrhoids,  stomachaches, and allergy. To treat the disease by utilizing natural resources like plants and animals. Part of the plants used among others, leaves, sap, and fruit, while for animal parts used are bile, urine, and blood. Processing methods are pounded, boiled, grated, and fried, while the use of these ingredients by eating, drinking, bathed, and applied directly on part of sickness skin Conclusion: Based on the results that has been done there are 8 diseases that often occur and there are 5 kinds of plants and 4 animals from different genus and family that are used as traditional medicine in Suku Anak Dalam Muara Kilis Village.   Keywords: (Ethnopharmacy, Suku Anak Dalam, Diseases, Natural Resources)    Latar belakang: Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa di masing-masing pulau, salah satunya adalah Suku Anak Dalam (SAD) tepatnya di Pulau Sumatra Provinsi Jambi. Setiap kelompok etnis memiliki beragam solusi alami dan tradisional. Pengamatan ini dilakukan dari November 2017 hingga Februari 2018 di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai penyakit dan mengetahui berbagai sumber daya alam yang digunakan sebagai pengobatan pada Suku Anak Dalam di Muara Kilis. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif dan purposive sampling untuk teknik pengambilan sampel dan wawancara terbuka dengan informan menggunakan media rekaman suara. Hasil: Penyakit yang sering dialami oleh Suku Anak Dalam antara lain demam, batuk, asma, campak, gastritis, wasir, sakit perut, dan alergi. Untuk mengobati penyakit dengan memanfaatkan sumber daya alam seperti tumbuhan dan hewan. Bagian tanaman yang digunakan antara lain daun, getah, dan buah, sedangkan untuk bagian hewan yang digunakan adalah empedu, air seni, dan darah. Metode pengolahannya ditumbuk, direbus, diparut, dan digoreng, sedangkan penggunaan ramuan ini dengan makan, minum, mandi, dan dioleskan langsung pada bagian kulit yang sakit. Kesimpulan: Berdasarkan hasil yang telah dilakukan ada 8 penyakit yang sering terjadi dan ada 5 jenis tanaman dan 4 hewan dari berbagai genus dan keluarga yang digunakan sebagai obat tradisional di Desa Suku Anak Dalam Muara Kilis

    Mengukur viabilitas serbuk sari dan sukrosa terhadap perkecambahan Swainsona formosa (G.Don) J.Thompson

    Full text link
    The work presented here was aimed at investigating the proper time (after spreading) for viability assessment and the effect of various sucrose concentrations on pollen germination in Swainsona formosa.  The rate of pollen tube formation was determined for freshly shed pollen grains of glasshouse-grown plants at 10, 15, 20, 25, 30, 60 and 120-minute intervals after being plated on Brewbaker and Kwack (BK) medium.  The results indicated that within 60 minutes pollen germination reached 63.70%, after which remained steady at 120 minutes (63.71%).  Under the effect of various concentrations of sucrose, i.e. 0.5, 10, 15, and 20% (w/v), the germination rate of pollen grains was assessed at 60 minutes following germination.  The results showed that sucrose concentration of 10 – 15% (w/v) produced better germination rate (64.14%) compare to lower concentrations (19.64 and 43.58% at zero and 5% sucrose, respectively).  Sucrose concentration above 15% was also found to inhibit pollen germination (48.92% at sucrose concentration of 20%).Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan waktu yang paling tepat (setelah penaburan) untuk mengukur viabilitas serbuk sari, dan untuk mengetahui pengaruh berbagai tingkat konsentrasi sukrosa terhadap perkecambahan serbuk sari Swainsona formosa.  Laju pembentukan buluh serbuk sari ditentukan pada interval 10, 15, 20, 25, 30, 60 dan 120 menit terhadap serbuk sari segar yang diperoleh dari tanaman di rumah kaca dan dikulturkan pada medium Brewbaker dan Kwack (BK).  Hasil percobaan menunjukkan bahwa dalam waktu 60 menit jumlah serbuk sari yang berkecambah mencapai 63,70%, yang kemudian berada pada laju yang tetap (63,71) setelah 120 menit.  Di bawah pengaruh berbagai tingkat konsentrasi sukrosa, yakni 0,5, 10, 15 dan 20% (b/v), laju perkecambahan serbuk sari diukur setelah 60 menit penaburan.  Hasilnya menunjukkan bahwa konsentrasi sukrosa antara 10 hingga 15% (b/v) menghasilkan laju perkecambahan yang lebih baik (64,14%) dibandingkan konsentrasi yang lebih rendah (19,64 dan 43,58% pada konsentrasi sukrosa nol dan 5%).  Sementara itu, konsentrasi sukrosa di atas 15% cenderung untuk menghambat perkecambahan serbuk sari (48,92% pada konsentrasi sukrosa 20%)

    Keanekaragaman Jenis Ikan Hasil Tangkapan Nelayan Di Kelurahan Tanjung Solok Tanjung Jabung Timur

    Full text link
    This study was conducted in Tanjung Solok subdistrict, Kuala Jambi, Tanjung Jabung Timur from August to September 2017. The aim of this study to knowing the diversity of fish that caught by fisherman and sold in Tanjung Solok fish bangsal. Samples were collected from 4 bangsal and were identified based on morphological characteristics. The number of samples in this study consisted of 11 order, 23 family and 32 species. The highest number of species from order Perciformes in the following quantities 10 family and 15 species were identified. There were different of species number that founded in each bangsal (28 species in bangsal I, 23 species in bangsal II, 24 species in bangsal III and 25 species in bangsal IV). 17 species of fish can be found in all of bangsal. Type of fish catcher that most often used in Tanjung Solok Subdistrict are Gill net and Rawai.Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Tanjung Solok Kecamatan Kuala Jambi Kabupaten Tanjung Jabung Timur pada bulan Agustus sampai September 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis ikan apa saja yang tertangkap oleh nelayan dan yang dijual di setiap bangsal ikan yang ada di Kelurahan Tanjung Solok. Sampel dikoleksi dari 4 bangsal ikan dan diidentifikasi berdasarkan karakter morfologi. Hasil penelitian menunjukkan ikan hasil tangkapan nelayan terdiri atas 11 ordo, 23 famili dan 32 jenis. Jenis ikan yang paling banyak ditemukan berasal dari ordo Perciformes yang tersebar dalam 10 famili dan 15 jenis. Jenis ikan yang ditemukan di setiap bangsal tidak seluruhnya sama (bangsal 1 ditemukan 28 jenis ikan, bangsal II 23 jenis ikan, bangsal III 24 jenis, dan bangsal IV 25 jenis). Terdapat 17 jenis ikan yang dapat ditemukan di semua bangsal. Pada masing-masing bangsal jumlah jenis ikan yang ditemukan berbeda. Jenis alat tangkap yang paling umum digunakan nelayan di Kelurahan Tanjung Solok adalah gill net dan rawai

    228

    full texts

    260

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Biospecies
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇