Biospecies
Not a member yet
260 research outputs found
Sort by
Komposisi dan Pola Sebaran Makroalga di Perairan Desa Mantang Baru, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau
The objective of this study was to determine macroalgae composition, macroalgae distribution, and waters quality in Mantang Baru village, Bintan Regengy, Riau Islands. This research has done on March - May 2019. Sampling points were choosen by purposive sampling method. There were 3 stations based on the ecosystem; coral ecosystem, seagrass ecosystem, and area in front of mangrove ecosystem. Macroalgae were observed by line transect method. Transect was placed at each location for taking macroalgae as many as 3 lines of transect along 100 m, the determination of the first plot was based on the first point of discovery of macroalgae drawn vertical to the coastline between lines 100 m. The results showed that the highest composition in seagrass ecosystem was Chlorophyta (green algae) 59%. Phaeophyta (brown algae) was the higest composition in coral ecoystem and area in front of mangrove ecosystem, with value 69% and 44% respectively. The distribution pattern of macroalgae in Mantang Baru Village waters on each station included a grouping category with a range of values between 1.87 to 3.46. Water quality parametres in Mantang Baru Village met the water quality standard, except nitrate and phosphate.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis makroalga, pola sebaran makroalga dan mengetahui kualitas perairan di pesisir Desa Mantang Baru Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Stasiun pengambilan sampel ditentukan dengan metode purposive sampling. Terdapat 3 stasiun berdasarkan keberadaan ekosistem, yaitu ekosistem karang, ekosistem lamun, dan perairan berhadapan mangrove. Pengambilan sampel makroalga dilakukan pada setiap stasiun pengamatan menggunakan metode transek garis. Penempatan transek pada tiap lokasi untuk pengambilan makroalga sebanyak 3 garis transek sepanjang 100 m, penetapan plot pertama dilakukan berdasarkan titik pertama kali ditemukannya makroalga yang ditarik tegak lurus terhadap garis pantai dengan jarak antar garis 100 m. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa divisi Chlorophyta (alga hijau) merupakan kelompok yang paling banyak dijumpai di ekosistem lamun (59%), sedangkan di ekosistem karang dan daerah yang berhadapan dengan mangrove, komposisi tertinggi dari divisi Phaeophyta (alga coklat) dengan komposisi masing-masing 69% dan 44%. Pola sebaran pada jenis makroalga di perairan Desa Mantang Baru pada setiap stasiun termasuk kategori mengelompok dengan kisaran nilai 1,87-3,46. Parameter fisika dan kimia perairan di Desa Mantang Baru secara unum memenuhi baku mutu peruntukan biota, kecuali parameter nitrat dan fosfat
KARAKTERISTIK DAN POLA SEBARAN PHYTOTELMATA SEBAGAI TEMPAT PERINDUKAN ALAMI NYAMUK DI KEBUN RAYA LIWA LAMPUNG BARAT
Liwa Botanical Garden (KRL) is an ex-situ plant conservation area which has a large collection of plants. Therefore, there will be many types of plants in KRL that have phytotelmata. Phytotelmata is a plant in which the organs can hold water and is used by various organisms including mosquitoes as natural breeding grounds. The aim of this study was to determine the phytotelmata characteristics and phytotelmata distribution patterns in the Liwa Botanical Garden, West Lampung. This research was carried out in November 2019 - January 2020 at the Liwa Botanical Garden and the University of Lampung Botanical Gardens. The study was conducted descriptively with a survey method approach. The data obtained is displayed in tables and figures. The results showed that there were 7 types of phytotelmata in the Liwa Botanical Garden namely phytothelmata in the plants of Nepenthes mirabilis, Cyathea coopei, Bambusa sp. Areca catechu, Musa sp. Colocasia gigantea, and Crynum asiaticum with 2 phytotelmata distribution patterns: in groups with IP values ranging from 0.813-1,194 and uniform distribution patterns with IP values of -2.08.Keywords: Phytotelmata, Natural Breeding Ground, Kebun Raya Liwa.Kebun Raya Liwa (KRL) adalah kawasan konservasi tumbuhan ex-situ yang memiliki banyak koleksi tumbuhan sehingga akan berdampak pada banyaknya jenis tanaman phytotelmata. Phytotelmata adalah tanaman yang pada bagian organnya dapat menampung air dan dimanfaatkan berbagai organisme termasuk nyamuk sebagai tempat perindukan alami. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik phytotelmata dan pola sebaran phytotelmata di Kebun Raya Liwa, Lampung Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2019 – Januari 2020 di Kebun Raya Liwa dan Laboratorium Botani Universitas Lampung. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan metode survey. Data yang diperoleh ditampilkan dalam bentuk tabel dan gambar. Hasil penelitian menunjukan terdapat 7 jenis phytotelmata di Kebun Raya Liwa yaitu Nepenthes mirabilis, Cyathea coopei, Bambusa sp. Areca catechu, Musa sp. Colocasia gigantea, dan Crynum asiaticum dengan 2 pola sebaran phytotelmata yaitu berkelompok dengan nilai IP berkisar antara 0,813-1,194 dan pola sebaran secara seragam dengan nilai IP -2,08.Kata Kunci: Phytotelmata, Tempat Perindukan Alami, Kebun Raya Liw
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN (Piper Betle L.) SIRIH TERHADAP PERKEMBANGAN LARVA AEDES AEGYPTI SP
This research was conducted to determine the effectiveness of betel leaf extract conducted at a concentration of 2.5%, 5.0%, 7.5%, 10% as larvicide toward the development of Aedes Aegypti Sp. Aedes Aegypti Sp larvae are dangerous vectors in Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in humans. The method in this research was carried out on an experimental method by using a post-test only design and sampling with a purposive sampling method. The effectiveness of betel leaf extract larvicide on the development of Aedes Aegypti Sp larvae was carried out by mixing betel leaf extract with several concentrations in one container Aedes Aegypti Sp larvae inside. The results obtained in this research were carried out by the Kruskal-Wallis test, the test found that there was a significant difference because it was given a 95% confidence index. The larvae treated with betel leaf extract with a concentration of 10% had the highest effectiveness in stopping the development of Aedes Aegypti Sp larvae, which proved at the mortality at a concentration of 10%, found total mortality of 20 larvae in 8 hours of treatment. Betel leaf extract with a concentration of 10% had the highest effectiveness of discontinuing the development of Aedes Aegypti Sp larvae.Penelitian ini dilakukan agar mendapatkan keefektivitasan ekstrak daun sirih yang dilakukan di konsentrasi 2,5%, 5,0%, 7,5%, 10% sebagai larvasida terhadap perkembangan larva Aedes Aegypti Sp. Larva Aedes Aegypti Sp merupakan vektor yang berbahaya pada penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada manusia. Metode pada penelitian ini dilakukan pada metode eksperimental dengan desain post-test only design dan pengambilan sample dengan metode Purposive sampling. Uji efektivitas larvasida ekstrak daun sirih terhadap perkembangan larva Aedes Aegypti Sp dilakukan dengan cara dicampurkan esktrak daun sirih dengan beberapa konsentrasi pada satu wadah yang sudah diletakkan larva Aedes Aegypti Sp. Hasil yang didapat pada penelitian ini yang dilakukan dengan uji Kruskal-Wallis, uji tersebut dijumpai bahwa terdapat perbedaan yang signifikan karena diberikan indeks kepercayaan 95%. Pada larva yang diberikan perlakuan ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 10% memiliki efektivitas tertinggi dalam menghentikan perkembangan larva Aedes Aegypti Sp, yang terbukti kematian pada konsentrasi 10% didapati total kematian 20 larva pada 8 jam perlakuan. Ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 10% memiliki efektivitas tertinggi dalam menghentikan perkembangan larva Aedes Aegypti Sp
Inventarisasi Jenis-Jenis Ikan Genus Pangasius Di Sungai Kampar Kiri Provinsi Riau
The available data and complete information regarding the species of fish from Pangasius in the waters of the Kampar Kiri River is still lack, therefore the research done about the inventory of the species on fish from Pangasius in the waters of Kampar Kiri River. This study aims the list fish from Pangasius in the waters of the Kampar Kiri River, Kampar regency, Riau Province. Fish samples were collected from local fishermen from December 2017 to December 2018. The fish samples were then identified at the Zoological Labolatory of the Biology Department, University of Riau. In this study, the result showed that the fishes from Pangasius found in the Kampar Kiri River consists patin getah (P. nasutus), patin putih (P. hypophthalmus), and patin keramba (P. pangasius).Data yang tersedia dan informasi yang lengkap mengenai jenis-jenis ikan genus Pangasius di perairan Sungai Kampar Kiri masih sangat kurang, maka perlu dilakukan penelitian tentang inventarisasi jenis-jenis ikan genus Pangasius di perairan Sungai Kampar Kiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis ikan genus Pangasius di perairan Sungai Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Sampel ikan dikumpulkan dari nelayan setempat mulai bulan Desember 2017 sampai Desember 2018. Ikan diidentifikasi di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi Universitas Riau. Ikan genus Pangasius yang ditemukan di Perairan Sungai Kampar Kiri yaitu patin getah (P. nasutus), patin putih (P. hypophthalmus), dan patin keramba (P. pangasius)
ZOOPLANKTON KEANEKARAGAMAN ZOOPLANKTON SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS DANAU SIPIN KOTA JAMBI SEBAGAI PENGAYAAN PRAKTIKUM TAKSONOMI MONERA DAN PROTISTA
Abstract. This study aims to determine the diversity of zooplankton in Lake Sipin. This study uses a descriptive exploratory method by determining the location by purposive sampling. The results showed that found 6 zooplankton classes, namely: Tubulinea, Monogononta, Maxillopoda, Euglenophyceae, Imbricatea, and Eurotatoria consisting of 15 types, namely: Arcella sp., Difflugia globulosa, Difflugia limnetica, Difflugia pyriformis, Asplanchna sp., Brachionus sp., Cyclopoid sp., Macrocyclops varians, Trachelomonas rachiborskii, Euglypa cristata, Polyartha trigla, Trichocerca sp., Trichocerca birostris, Trichocerca bicristata. Abundance ranges from 0.0031 Ind / L - 0.0051 Ind / L; Evenness index ranges from 0.876 - 0.915; diversity index 1.41 - 2.164; and a dominance index of 0.128 - 0.292. Diversity is classified as moderate because the diversity index obtained is greater than 1 and smaller than 3 and no species dominates. It can be concluded that the highest diversity is found in the Tubulinea class. Lake water quality can be tolerated by zooplankton because it tends to have good value. Researchers are advised to conduct research at night to see the relationship between the distribution of zooplankton with the intensity of sunlight, as well as conducting research by determining the location of more diffuse points.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman zooplankton di Danau Sipin. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan penentuan lokasi secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 6 kelas zooplankton, yaitu: Tubulinea, Monogononta, Maxillopoda, Euglenophyceae, Imbricatea, dan Eurotatoria yang terdiri dari 15 jenis, yaitu: Arcella sp., Difflugia globulosa, Difflugia limnetica, Difflugia pyriformis, Asplanchna sp., Brachionus angularis, Brachionus sp., Cyclopoid sp., Macrocyclops varians, Trachelomonas rachiborskii, Euglypa cristata, Polyartha trigla, Trichocerca sp., Trichocerca birostris, Trichocerca bicristata. Kelimpahan berkisar antara 0,0031 Ind/L – 0,0051 Ind/L; indeks kemerataan berkisar antara 0,876 – 0,915; indeks keanekaragaman 1,41 – 2,164; dan indeks dominansi 0,128 – 0,292. Keanekaragaman tergolong sedang karena indeks keanekaragaman yang diperoleh lebih besar dari 1 dan lebih kecil dari 3 serta tidak ada jenis yang mendominasi. Dapat disimpulkan keanekaragaman tertinggi terdapat pada kelas Tubulinea. Kualitas air danau dapat ditoleransi oleh zooplankton karena cenderung memiliki nilai yang baik. Peneliti disarankan melakukan penelitian pada malam hari untuk melihat kaitan antara distribusi zooplankton dengan intensitas cahaya matahari, serta melakukan penelitian dengan penentuan titik lokasi yang lebih menyebar
ANALYSIS OF POTENTIALS BANGUN-BANGUN (Coleus amboinicus) AND BELIMBING WULUH (Averhoa bilimbi) PLANTS, AS ANTIMICROBIAL MATERIAL
This study aims to analyze what anti-microbial power contained in plants and starfruit plants, and compare which plants are stronger anti-microbial power. The method used in this study is an experimental method, with Escherichia coli bacteria as a representative of disease-causing bacteria. The data obtained were analyzed using the ANOVA test. Based on the results of the study, the stems and leaves of the plant leaves and leaves of star fruit positive containing the composition of secondary metabolites saponins that have antimicrobial power that utilizes the growth ability of E coli. The average diameter of inhibitory zones of plant extracts of wake-up and starfruit ≥ 21 mm, so it is categorized as having strong antimicrobial power. However, the inhibitory zones formed have not been able to match or beat the inhibition zones C 25% (52.54 and 43.1), ciprofloxacin (64.41), which is antibiotics sold on the market that are made with positive control.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa senyawa apa yang memiliki daya anti mikroba yang terkandung pada tanaman bangun-bangun dan belimbing wuluh, dan membandingkan tanaman mana yang daya antrimikrobanya lebih kuat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental, dengan bakteri Escherichia coli sebagai representatip dari bakteri penyebab penyakit. Data yang diperoleh dianalisis menggunaan uji ANOVA. Berdasarkan hasil penelitian, batang dan daun tanaman bangun-bangun maupun daun dan buah belimbing wuluh positif mengandung senyawa metabolit sekunder saponin yang memiliki daya antimikroba yang ditunjukkan dengan kemampuan menghambat pertumbuhan E coli. Rata-rata diameter zona hambat dari ekstrak tanaman bangun-bangun dan belimbing wuluh ≥ 21 mm, sehingga dikatagorikan punya daya antimikroba kuat. Namun zona hambat yang terbentuk belum mampu menyamai atau mengalahkan zona hambat C 25% (52.54 and 43.1), ciprofloxacin (64.41), yaitu antibiotika yang dijual dipasaran yang dijadikan kontrol positif
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK RIMPANG KUNYIT TERHADAP BAKTERI BACILLUS CEREUS DENGAN PEMBANDING CIPROFLOXACIN
This research aims to find out effectiveness test of turmeric rhizome in concentration of 25%, 50%, 75% and 100% toward Bacillus cereus bacterial and Ciprofloxacin the same concentration as the comparison. Bacillus cereus Bacteria is a gram-positive rod-shaped bacteria and it is dangerous for humans. This research was conducted with an experimental method with post-test only design and sampling using purposive sampling method. The effectiveness test of turmeric rhizome extract toward Bacillus cereus bacteria was carried out by diffusion using disc paper by calculating the diameter of the bacterial inhibition zone against disc paper that had been moistened with turmeric rhizome extract or Ciprofloxacin solution. The results obtained in this research were carried out with the Post Hoc test, the test was found that there were significant differences from each treatment given with a 95% confidence index. In bacteria treated with 25% ciprofloxacin toward Bacillus cereus, the effectiveness was above 50% turmeric rhizome extract and under 75% turmeric extract. Turmeric extract of 75% 10.6 mm had bacterial effect as Ciprofloxacin 25% of 10.1 mm toward the growth of Bacillus cereus bacterial.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uji efektivitas dari ekstrak rimpang kunyit pada konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100% terhadap bakteri Bacillus cereus dengan Ciprofloxacin konsentrasi yang sama sebagai pembandingnya. Bakteri Bacillus cereus merupakan bakteri gram positif berbentuk batang dan berbahaya bagi manusia. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dengan desain post-test only design dan pengambilan sampel menggunakan metode Purposive sampling. Uji efektivitas ekstrak rimpang kunyit terhadap bakteri Bacillus cereus dilakukan dengan cara difusi menggunakan kertas cakram, yaitu dengan menghitung diameter zona hambat bakteri terhadap kertas cakram yang sudah dibasahi dengan ekstrak rimpang kunyit maupun larutan Ciprofloxacin. Hasil yang didapat pada penelitian ini yang dilakukan dengan uji Post Hoc, Test tersebut dijumpai bahwa terdapat perbedaan yang bermakna dari setiap perlakuan yang diberikan dengan indeks kepercayaan 95%. Pada bakteri yang diberi perlakuan ciprofloxacin 25% terhadap Bacillus cereus, efektivitas yang didapat berada diatas ektrak rimpang kunyit 50% dan berada dibawah ektrak rimpang kunyit 75%. Ekstrak rimpang kunyit 75% 10.6 mm memiliki efek antibakteri sama dengan Ciprofloxacin 25% yaitu 10.1 mm terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus cereus
DETEKSI KRISTAL PROTEIN PADA ISOLAT BACILLUS SP. DENGAN PEWARNAAN COOMASSIE BRILLIANT BLUE
Bacillus is one of the genera of bacteria that has the potential to be developed in the field of biotechnology. Bacillus is able to produce protein crystals during the stationary phase in its life cycle. This protein crystal is a protoxin that is active will be pathogenic in insects. In this study, protein crystal staining was carried out using coomassie brilliant blue dye on the isolate of Bacillus sp. with isolate code B1, B2, and B3. Before being stained, the three isolates were bred on Nutrient Broth (NB) medium at pH 5, pH 7, and pH 9, then incubated for 72 hours. Based on research results, the three isolates were detected to produce protein crystals. Crystal protein of Bacillus sp. on media with a pH of 5 and pH 7 located at the end of the spore, while the protein crystal of Bacillus sp. isolate on media with a pH of 9 located on the outside of the spores.Bacillus merupakan salah satu marga bakteri yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam bidang bioteknologi. Bacillus mampu menghasilkan kristal protein selama fase stasioner dalam siklus hidupnya. Kristal protein ini merupakan protoksin yang dalam keadaan aktif akan bersifat patogenik pada serangga. Pada penelitian ini, dilakukan pewarnaan kristal protein menggunakan pewarna coomassie brilliant blue pada isolat Bacillus sp. dengan kode isolat B1, B2, dan B3. Ketiga isolat tersebut dibiakkan pada media Nutrient Broth (NB) dengan pH 5, pH 7, dan pH 9, selama 72 jam. Hasil penelitian menunjukkan ketiga isolat tersebut terdeteksi meghasilkan kristal protein. Kristal protein isolat Bacillus sp. pada media dengan pH 5 dan pH 7 terletak di bagian ujung spora, sementara kristal protein isolat Bacillus sp. pada media dengan pH 9 terletak pada bagian luar spora
Karakteristik dan Keanekaragaman Echinodermata Di Kawasan Perairan Pantai Lhok Geulumpang Aceh Jaya: Characteristics And Diversity Of Echinodermata In Lhok Geulumpang Beach Aceh Jaya
In the Lhok Geulumpang beach area it has become a tourist location at some point along the coast. Study of the ecology and richness of marine species in Aceh Jaya still a little published. The objective this research was study the composition of species, indeks diversity and distribution patterns of Echinodermata in the Lhok Geulumpang beach of Aceh Jaya. Research has been conducted in november-december 2019 in the Lhok Geulumpang beach of Aceh Jaya. The mehtod used is a combination of two transect methods i.e. the line transect and the quadrate transect. The first station is the location of the beach with sand substrate and there is no coral rock and the second location is with coral substrate and coral reef.  Species that have been found are collected for identification at the Biology Laboratory of STKIP Bina Bangsa Meulaboh. The results showed there were 3 (three) species of sea urchins belonging to 2 families and 3 orders. Three 3 spcies of sea urchin that have been found are Echinothrix diadema (Linnaeus, 1758), Echinothrix calamaris (Pallas, 1774) and  Colobocentrotus atratus (Linnaeus, 1758). From the results of the analysis found that evenness type (J ') on sandy substrate has a value of J' = 0.93165 and on rock substrate valued J '= 0.84251 indicates evenness of species classified as High. Based on the analysis of the Shannon wiener diversity index (H '). At sandy substrate station H '= 1.4994 shows that species diversity is low. Whereas at the rock substrate station, H'= 1.5096 is classified as moderate diversity. The Malgaref species richness index in the sandy substrate station DMg = 1.2427 and the rock substrate station obtained DMg = 1.0499 indicates the Malgaref species richness index is relatively lowkawasan Perairan pantai Lhok Geulumpang telah menjadi lokasi pariwisata di beberapa titik bagian pinggiran pantai. Kajian ekologi dan kekayaan jenis biota laut Aceh Jaya masih sedikit terpublikasi. Selain itu kelompok sea urchin (bulu babi) bernilai ekonomis karna gonad/ telur bulu babi dapat dijadikan bahan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi jenis, indeks keanekargaman dan pola sebaran Echinodermata di kawasan perairan Pantai Lhok Geulumpang Aceh Jaya. Penelitian telah dilakukan pada November-Desember 2019 di kawasan perairan Pantai Lhok Geulumpang Aceh Jaya. Metode yang digunakan adalah kombinasi dua metode transek yaitu transek garis (line transect) dan transect kuadrat (quadrat transect). Stasiun 1 lokasi pantai bersubstrat pasir tidak terdapat batuan karang dan lokasi ke 2 bersubstrat terumbu karang dan batuan karang. Spesies yang ditemukan dikoleksi untuk dilakukan identifikasi dilaboratorium Biologi STKIP Bina Bangsa Meulaboh. Dari hasil penelitian diperoleh  3 jenis Echinodermata, yang terdiri dari 2 famili dan 3 ordo. Tiga spesies yang ditemukan adalah Echinothrix diadema (Linnaeus, 1758), Echinothrix calamaris (Pallas, 1774) dan  Colobocentrotus atratus (Linnaeus, 1758). Dari hasil analisis ditemukan kemerataan jenis (J’) pada substrat berpasir bernilai J’=0,93165 dan pada substrat bebatuan bernilai J’=0,84251 menunjukkan kemerataan jenis tergolong Tinggi. Berdasarkan hasil analisis indek keanekaragaman Shannon wiener (H’). Pada stasiun substrat berpasir H’= 1,4994 menunjukkan keanekaragaman jenis tergolong rendah. Sedangkan pada stasiun substrat batuan diperoleh H’= 1,5096 tergolong keanekaragaman sedang. Indeks kekayaan jenis Malgaref pada stasiun substrat berpasir DMg= 1,2427 dan pada stasiun Bersubstrat batuan diperoleh DMg= 1,0499 menunjukkan indek kekayaan jenis Malgaref tergolong rendah
Biodiversitas Ikan Di Refuge Area Sungai Kapas Tengah Hutan Harapan Jambi Sebagai Database Aplikasi Go Iwak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biodivesitas ikan di Refuge area Sungai Kapas bagian Tengah Butan Harapan Jambi. Penelitian telah dilakukan pada Juli-Agustus 2019 di Sungai Kapas Hutan Harapan Jambi. Penentuan refuge area dilakukan dengan menyusuri Sungai Kapas bagian tengah untuk menemukan anak-anak sungai yang sudah terputus dengan Sungai kapas,, serta bagian sungai kapas serta areal lubuk di Sungai Kapas. Terdapat 4 Refufe area yang dijadikan stasiun yaitu Stasiun 1 Putusan Marihot, Stasin dua Muara Bato, Stasiun 3 Lubuk Kapas, dan Stasiun 4 Lubuk Bato. Pengambilan sampel menggunakan jala lempar , seruo, dan jaring insang, serta tray net. Hasil Penelitian didapatkan 375 ekor ikan, melputi 50 spesies, 29 genus, dan 14 famili, serta 6 ordo. Pada stasiun 2 (Putusan Marihot) ditemukan paling banyak jumlah ikan 151 ekor, diiukuti stasin 3 (Lubuk Kapas) 111 ekor, stasiun 3 (Muara Bato) 71 ekor dan Stasiun 4 ( Lubuk Bato ) 42 ekor. Jumlah spesies setiap stasiun 1 (8 spesies), Stasiun 2 (16 spesies), (29 spesies), stasiun 4( 18 spesies)