Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Not a member yet
301 research outputs found
Sort by
Impact of Pesticide Residues on the Diversity of Soil Fungi on Vegetable Land: Dampak Residu Pestisida Terhadap Keanekaragaman Jamur Tanah Pada Lahan Sayuran
Insektisida memiliki efek negatif pada jamur tanah sebab mengandung senyawa beracun yang berbahaya. Penggunaan insektisida oleh petani desa Noelbaki dalam budidaya sayuran cukup intensif dengan frekuensi penyemprotan 2-3 kali perminggu. Aplikasi insektisida ini dilakukan secara terus-menerus selama tanam sayuran, sehingga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek residu insektisida terhadap keanekaragaman jamur tanah pada lahan sayuran sawi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey yang dilakukan terhadap beberapa petani sayuran sawi dengan mengumpulkan informasi menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data dan uji laboratorium kandungan residu pada tanah. Pengambilan sampel tanah menggunakan pola diagonal dengan 5 ulangan pada lahan sayuran sawi pada jenis tanah Vertisol dan Inceptisol baik yang diaplikasi maupun tanpa insektisida. Pengambilan sampel tanah secara komposit dilakukan untuk analisis kandungan residu dan sifat fisika kimia tanah sedangkan bukan komposist untuk pengamatan jamur tanah. Variabel yang diamati adalah kandungan residu insektisida, kepadatan populasi, keanekaragaman dan frekuensi kehadiran jamur tanah serta sifat fisika kimia tanah pada lahan sayuran tersebut. Analisis residu insektisida dilakukan dengan metode Gas Cromatography-Spectrometry Mass (GC-MS/MS), dan perhitungan jumlah mikroba dilakukan dengan metode Plate Counting Agar (PCA), sedangkan identifikasi mikroba dilakukan dengan pengamatan secara mikroskopis dan makroskopis. Residu insektisida berbahan aktif Lamda-cihalotrin pada contoh tanah jenis Vertisol yang diberi insektisida sebesar 0.060 ppm, dan pada contoh tanah Inceptisol dengan berbahan aktif Dimetoat sebanyak 0.042 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan populasi jamur tanah lebih tinggi pada lahan sayuran tanpa aplikasi insektisida sebanyak 71.6 cfu g-1, nilai indeks keanekaragaman jamur tanah lebih tinggi pada lahan sayuran aplikasi insektisida 1.609, frekuensi kehadiran spesies jamur Penicillium konstansi 100% dan Mucor 90%.Insecticides have a negative effect on soil fungi because they contain dangerous toxic compounds. The use of insecticides by Noelbaki village farmers in vegetable cultivation is quite intensive with, a frequency of 2-3 spraying per week. The application of this insecticide is carried out continuously during the planting of vegetables so that it has a negative impact on the soil environment. This study aimed to determine the content of insecticide residues and the diversity of soil fungi in mustard vegetable fields. The research method used was a survey method conducted on several mustard vegetable farmers by collecting information using a questionnaire as a means of collection data and laboratory tests of residue content in the soil. Soil samples were taken using a diagonal pattern with 5 replications on mustard greens on Vertisols and Inceptisols both applied and without insecticides. Soil samples in a composite soil were carried out for the analysis of residual content and physical and chemical properties of the soil, while not composist was used for the observation of soil fungi. The variables observed were the content of insecticide residues, population density, diversity and frequency of presence, soil fungi and the physical and chemical properties of soil on the vegetable land. Analysis of insecticide residues was carried out using the Gas Chromatography-Spectrometry Mass (GC-MS/ MS) method, and the counting of microbes was carried out using the Plate Counting Agar (PCA) method, while the identification of microbes was carried out by microscopic and macroscopic observations. Insecticide residues with the active ingredient Lamda-cihalotrin in the Vertisol type soil samples treated with insecticides were 0.060 ppm, and in the Inceptisol soil samples with the active ingredient Dimetoat as much as 0.042 ppm. The density of soil mushroom population was higher in vegetable fields without the application of Insecticides as much as 71.6 CFU g-1, the value of soil mushroom diversity index was higher in insecticide application vegetable fields 1.609, the frequency of presence of the fungus species Penicillium constant 100% and Mucor 90%
Partly Substitution of Chemical Fertilizer with Bio-organic Fertilizer on Maize (Zea mays): Substitusi Sebagian Pupuk Kimia dengan Pupuk Organik Hayati pada Jagung (Zea mays)
Penggunaan pupuk kimia dengan takaran tinggi terus-menerus menyebabkan kerusakan tanah dan pencemaran lingkungan. Aplikasi pupuk organik hayati (POH) atau dikenal dengan bio-organic fetilizer, dapat meningkatkan ketersediaan hara, memperbaiki sifat-sifat tanah, memacu pertumbuhan dan produksi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi sebagian takaran pupuk kimia dengan POH terhadap pertumbuhan, serapan N, P, dan K, serta efisiensi agronomi pupuk jagung. Percobaan pot dilakukan di Kebun Percobaan Cikabayan, Kampus IPB Dramaga, Bogor. Analisis laboratorium dilakukan di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Kampus IPB Darmaga, Bogor. Rancangan Acak Kelompok dengan faktor tunggal digunakan dalam percobaan ini. Perlakuan percobaan terdiri dari Kontrol, POH, POH + 50% (NPK), POH + 100% (NPK), 50% (NPK), dan 100% (NPK). Jagung varietas Bisma digunakan sebagai tanaman indikator. Setelah lima minggu setelah tanam, biomassa dipanen untuk penimbangan bobot kering tajuk dan bobot kering akar. Jaringan tajuk dianalisis untuk menetapkan serapan N, P, dan K. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik hayati mampu mengurangi 50% kebutuhan pupuk kimia dan meningkatkan serapan N, P, dan K. Kombinasi POH dengan 50% (NPK) menghasilkan efisiensi agronomi tertinggi. POH mampu mensubstitusi 50% kebutuhan NPK jagung. High amount of chemical fertilizer application simultanously caused soil degradation and environmental pollution. Bio-organic fertilizer application increases nutrient availability, improve soil properties, promote plant growth and increase yield. This study aims to understand effects of chemical fertilizer substitution with bio-organic fertilizer application on growth, uptake of N, P, K, and agronomic efficiency of maize in vegetative phase. Pot experiment was conducted at IPB Cikabayan Experimental Station, Dramaga, Bogor. Laboratory analysis was done at Department of Soil Science Laboratory, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University (IPB). Randomized Block Design with single factor was used in this experiment. The treatments were: Control, POH (bio-organic fertilizer only), POH + 50% (NPK), POH + 100% (NPK), 50% (NPK) , and 100% (NPK). Bisma maize variety was used as plant indicator. Five weeks after transplanting, the biomass (shoot and roots) biomass ware harvested. NPK uptake analysis was performed to shoot samples. Results showed that bio-organic fertilizer application reduced the rate of chemical fertilizer by 50% and increase N, P, and K uptake. Combination between bio-organic fetilizer and 50% chemical fertilizer had the highest agronomic efficiency. Bio-organic fertilizer substitute 50% chemical fertilizer of maize
Land Development Strategies for Corn and Paddy Cultivation in the Mainland of Sumenep Regency, Madura, East Java: Strategi Pengembangan Lahan Budidaya Jagung dan Padi di Wilayah Daratan Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur
Tantangan utama dalam peningkatan ketahanan pangan di Indonesia adalah menyelesaikan masalah terkait penurunan nisbah ketersediaan lahan yang sesuai untuk budidaya tanaman pangan pokok dengan kebutuhannya. Lahan pertanian eksisting di wilayah daratan Kabupaten Sumenep, Madura, salah satu lumbung pangan Provinsi Jawa Timur, terutama digunakan untuk budidaya jagung dan padi, masing-masing meliputi 55% and 20,67% luas area. Penelitian ini bertujuan (a) menganalisis ketersediaan lahan yang sesuai untuk pengembangan budidaya padi dan jagung, (b) menghitung neraca pangan dan luas baku lahan budidaya kedua komoditas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing, serta (c) menyusun prioritas strategi pengembangan lahan untuk budidaya padi dan jagung dalam mendukung ketahanan pangan di wilayah daratan Kabupaten Sumenep. Dalam penelitian ini diaplikasikan teknik interpretasi visual, overlay, dan pencocokan peta dengan bantuan perangkat lunak Sistem Informasi Geografi serta metode deskriptif. Lahan tersedia yang sesuai untuk budidaya jagung dan padi masing-masing seluas 20.078 dan 10.565 Ha. Neraca pangan untuk jagung dan beras menunjukkan surplus masing-masing 254.334 dan 1.483 ton pada tahun 2033, dan kebutuhan lahan untuk memenuhi proyeksi kebutuhan kedua komoditas masing-masing adalah 10.774 dan 17.673 Ha. Hal ini mengindikasikan peningkatan jumlah penduduk lokal yang berubah kebiasaan konsumsi pangan pokoknya ke campuran jagung-beras dengan komposisi beras lebih tinggi. Tiga strategi prioritas untuk pengembangan lahan dielaborasi dan didiskusikan.
The main challenges in improving food security in Indonesia have been solving problems related to decreasing ratio of available land area suitable for staple-food crops cultivation againts their demands. Existing farmland in the mainland of Sumenep Regency, Madura, which is one of the food estates of East Java Province, is cultivated mainly for corn and paddy that respectively occupies 55% and 20,67% of the areas. This research aims to (a) analyze available lands suitable for corn and paddy cultivation development, (b) determine food balance of both crops and their cultivation areas needed for fulfilling their demands; and c) formulate priority of land development strategy for both crops to support food security in the mainland of Sumenep Regency. This study was conducted by applying maps visual interpretation, overlay and matching techniques aided with Geographic Information System softwares, and descriptive methods as well. The available lands suitable for corn and paddy cultivation in the research area covered areas of respectively 20.078 and 10.565 Ha. The food balance for maize and rice showed a surplus of respectively 254.334 and 1.483 tons at year 2033, and the cultivation area needed to fulfill the projected demand of both commodities were respectively 10.774 and 17.673 Ha. This indicated an increasing number of local people that changed their custom in staple food consumption to a mixed maize-rice with higher rice portion. Three priorities of land development strategy were elaborated and discussed.
 
Kajian Faktor Pembatas dan Rekomendasi Perbaikan Lahan untuk Budidaya Jagung di Lahan Rawa Pasang Surut Tipologi C: Study of Limiting Factors and Land Rehabilitation Recommendations for Corn Cultivation in Tidal Swamp Land of Tipology C
Penelitian bertujuan untuk mengkaji beberapa faktor pembatas lingkungan lahan yang selanjutnya disusun rekomendasi perbaikan, agar tanaman bisa tumbuh sesuai standar produksi. Metode penelitian adalah survai lapangan, monitoring dan pengkajian. Hasil penelitian menunjukan faktor pembatas utama sangat tergantung kepada tingkat kedalaman lapisan firit, dan fluktuasi muka air tanah harian. Selama petani bisa mengendalikan muka air tanah mendekati zona akar maka fakor pembatas lainnya bisa diperbaiki. Beberapa faktor pembatas yang bisa diperbaiki adalah pH tanah masam, hara makro rendah (nitrogen,phospor dan kalium), dan ketersediaan air karena sistem tata air yang buruk. Kajian budidaya tanaman pada kondisi iklim normal ( basah) diama curah hujan dengan bulan kering hanya 2-3 bulan tidak ditemukan pembatas utama yang permanen. Perbaikan tata air dan kesuburan tanah telah mampu menciptakan produksi optimal tanaman jagung 7 ton/ha. Namun pada kondisi iklim kering dimana masa kemarau selama 4-5 bulan maka akan muncuk faktor pembatas utama permanen yang disebabkan oleh oksidasi lapiran firit. Hal ini terjadi karena muka air tanah turun tajam >90 cm. Pada kondisi ini produksi jagung menurun lebih dari 50% area tanam gagal panen karena kekeringan, dan keracunan. Petani yang berhasil adalah yang melakukan penanaman lebih awal yaitu bulan Mei. Sementara yang tanam Juli semua gagal panen. Selain karena curah hujan yang kering juga karena petani tidak melakukan konservasi air. Pintu air tidak dioperasikan untuk menahan air di saluran tersier sehingga kehilangan air lebih cepat. Dampaknya air tanah pada bulan September turun dibawah 90 cm dan terjadilah oksidasi firit. Oleh karea itu operasi pintu sebaiknya dibuka pada saat pasang dan ditutup pada saat surut operasi ini berlansung sampai belum masuk air asin (Agustus). Dan memasuki bulan September dimana telah terjadi intrusi air asin, maka pintu air ditutup permanen. Dari kondisi diatas maka pada kondisi kemarau lebih dari 4 bulan, rekomendasi utama adalah percepatan waktu tanam, pemberian bahan pembenah tanah dan operasi pintu air dengan sistem fullretention
Effectiveness of MZ2000 Mycorrhizal Biofertilizer on The Growth of Sengon Seedlings
Mycorrhizal biofertilizers contain fungi that are capable of entering and symbiotic mutualism into plant roots and increasing the ability of plants to absorb nutrients. Fertilizer effectiveness testing is needed to protect consumers from the adverse effects of using biofertilizers. This study aims to determine the effectiveness of MZ2000 mycorrhizal biofertilizers and to know mycorrhizal root infections in sengon seedlings in nurseries. The combination treatment of 30 g MZ2000 mycorrhizal biofertilizer with 5 g NPK fertilizer gave the best sengon growth results although it was not significantly different in several parameters compared to the combination treatment of MZ2000 fertilizer dosage and other NPK fertilizers, with the value of agronomic relativity (Relative Agronomic Effectiveness / RAE) 580.80% for high growth and 288.72% for growth in stem diameter and incremental benefit cost ratio (IBCR) analysis of farming by 2.48. So that the dosage of the combination treatment of mycorrhizal biofertilizers and NPK fertilizer is most agronomically and economically effective. With the effectiveness of the fertilizer, the MZ2000 mycorrhizal biofertilizer can be declared to have passed the field effectiveness test
Environmental Health Risk Analysis Due to Exposure Nitrit and Cadmium from Well Water on Tarus Village: Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Akibat Paparan Nitrit dan Kadmium dari Air Sumur di Kelurahan Tarus
Air sumur di Kelurahan Tarus diduga telah terkontaminasi nitrit dan kadmium yang berasal dari pemakaian secara berlebihan pupuk SP-36 dan Urea. Oleh karena itu, penelitian ini telah dilaksanakan untuk membandingkan konsentrasi kontaminan nitrit dan kadmium dalam air sumur di daerah persawahan dan pemukiman dengan ambang baku mutu air baku air minum dan memprediksi besarnya risiko dari kontaminan terhadap kesehatan manusia. Penelitian deskriptif eksperimental ini menggunakan maing-masing 10 sampel air sumur dari daerah persawahan dan pemukiman. Kadar nitrit dan kadmium dianalisis dengan metode spektrofotometri dan spektrofotometri serapan atom. Baku mutu air minum dan air baku air minum berdasarkan PP 82 tahun 2001 dan PerMenKes 492 tahun 2010. Prediksi risiko terhadap kesehatan manusia dilakukan berdasarkan metode analisis risiko Public Health Assessment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di daerah persawahan dan permukiman berturut-turut terdapat tiga dan lima sumur yang mengandung nitrit namun kandungan tersebut masih berada di bawah nilai baku mutu air baku air minum. Sedangkan untuk kadmium, terdapat berturut-turut delapan dan tujuh sumur di daerah persawahan dan permukiman kandungannya berada di atas nilai baku mutu air baku air minum. Analisis risiko menunjukkan bahwa nitrit di persawahan dan pemukiman tidak berisiko terhadap kesehatan, sedangkan kadmium persawahan dan pemukiman yang berisiko sebanyak 14 sampel untuk durasi waktu 30 tahun, 12 sampel untuk 20 tahun, 10 sampel untuk 10 tahun dan tiga sampel untuk lima tahun. Karena itu diharapkan adanya pengurangan volume konsumsi air sumur yang berisiko, dan penanganan air tanah yang tercemar serta pengurangan pemakaian pupuk anorganik.Well water of Tarus might have been contaminated with nitrite and cadmium due to over usage of SP-36 and urea fertilizers. Therefore, a piece of descriptive experimental research has been initiated in Kelurahan Tarus to compare nitrite and cadmium contents in well water with the official standards or raw drinking water and to analyze the risk of nitrite and cadmium to human health. Ten water samples were extracted each from wells located in the rice field and residential areas. Nitrite and cadmium were derived from spectrophotometry and AAS analyses, respectively. Official raw drinking water standards were according to PP 82 Tahun 2001 and PerMenKes 492 Tahun 2010. Human health risk prediction was based on the Public Health Assessment. Results show that there were three and five wells in the rice field and residential areas detected as containing nitrite; however, the concentrations were lower than the official standard for raw drinking water. Whereas for cadmium, there were eight and seven wells in the rice field and residential areas, respectively, detected with levels higher than the official standard. Risk analysis revealed that nitrite is considered to be safe for human health; while cadmium imposed some risks. There were 14, 12, 10, and three wells can impose a risk to human health in 30, 20, 10, and five years, respectively. It is, therefore, recommended that cautions have to be taken when consuming water from the cadmium contaminated well e.g. through reduction of the amount of water consumption, water treatment, and reduction in fertilizer use for the area
Change and Prediction of Green Open Space Land Use in Depok City: Perubahan dan Prediksi Penggunaan Lahan Ruang Terbuka Hijau di Kota Depok
Pembangunan dan pengembangan kota cenderung mengorbankan RTH (Ruang Terbuka Hijau) sebagai fungsi ekologis perkotaan. Periode tahun 1996-2000 Kota Depok menempatkan lahan terbangun sebagai penggunaan lahan dominan dan penggunaan lahan yang mempunyai fungsi RTH berkurang seluas 87 ha. Untuk menyusun perencanan dan pengendalian alih fungsi lahan informasi perubahan dan prediksi RTH perlu diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penggunaan lahan RTH 2006, 2013 dan 2019; untuk memprediksi RTH tahun 2031 dan untuk menganalisis kebutuhan RTH berdasarkan luas wilayah. Metode analisis yang digunakan antara lain interpretasi citra GeoEye, tumpang tindih peta penggunaan lahan, prediksi penggunaan lahan dengan CA-Markov dan penilaian kebutuhan RTH. Hasil menunjukkan bahwa lahan terbangun meningkat signifikan seluas 3,579 ha pada periode 2006-2019, sedangkan RTH berkurang 167 ha. Pada 2019, RTH di kota Depok belum mencukupi syarat minimal 30% dari total luas wilayah seperti diamanatkan Undang-Undang Penataan Ruang no. 26 tahun 2007 dan masih membutuhkan RTH sebesar 3,087 ha. Kekurangan ini bertambah besar di masa depan karena prediksi RTH tahun 2031 menurun dan kondisi ini membuat kebutuhan RTH di Kota Depok meningkat menjadi 3,139 ha.Urban development tends to marginalize GOS (Green Open Space) as an urban ecological function. In the 1996-2000 period, Depok City placed the built-up area as the dominant land use and the land use that has the function of GOS was reduced by 87 ha. For planning and controlling land use change, information on changes and prediction of GOS needs to be known. This study aims to identify GOS land use in 2006, 2013 and 2019; to predict GOS in 2031 and to analyze the GOS needs. The analytical methods used include interpretation of GeoEye images, overlapping land use maps, land use prediction with CA-Markov and assessment of GOS needs. The results show that built-up area increased significantly by 3,579 ha in the 2006-2019 period, while GOS decreased by 167 ha. In 2019, GOS in the city of Depok has not been met the minimum requirement of 30% of the total area as mandated by the Spatial Planning Law no. 26 of 2007 and still requires 3,087 ha of RTH. This shortage will increase in the future because the prediction of GOS in 2031 decreases and this condition makes the need for GOS in Depok City increase to 3,139 ha
Leaching of Organic Carbon in Micro Catchment Oil Palm Plantation Area PT Perkebunan Nusantara VI Jambi: Pencucian Karbon Organik pada Mikro DAS Lahan Perkebunan Kelapa Sawit PT Perkebunan Nusantara VI Jambi
Perubahan penggunaan lahan dapat mempengaruhi ekosistem serta hidrologi kawasan. Dapat meningkatkan erosi dan limpasan permukaan tanah, terutama bila tidak sesuai dengan prinnsip konservasi tanah dan air. Curah hujan yang tinggi mempengaruhi proses pencucian karbon dan nutrisi dari lahan pertanian ke badan sungai. Proses pencucian karbon organik dan nutrisi di sungai perlu diteliti, sehingga dapat memprediksi konsentrasi karbon organik dan nutrisi di sungai, serta bisa menjadi indikator terjadinya degradasi lahan. Penelitian ini menggunakan eksperimen lapangan yang menggunakan metode survei dengan deskriptif eksploratif untuk sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi pencucian karbon organik dalam bentuk DOC dan unsur hara nitrat, Al3+, dan Mn2+ adalah titik C. Curah hujan tidak berpengaruh dalam meningkatkan debit sungai. Tidak ditemukan korelasi yang tinggi antara debit sungai dengan konsentrasi ion terlarut di outlet dalam bentuk DOC, NO3-, PO43-, Fe2+, dan Al3+. Konsentrasi DOC di air sungai memiliki hubungan korelasi yang tinggi terhadap Fe2+ (0.94) dan Al3+ (0.96). Model multi regresi stepwise menghasilkan DOC = 2.48 + 0.90 Al3+ + 3.17 Fe2+ dengan nilai R2 Adj. yang cukup tinggi (0.94). Menunjukkan bahwa Al3+ dan Fe2+ memiliki pengaruh terhadap DOC sebesar 94%.Land use change can affect the ecosystem and regional hydrology. It increase the erosion and surface runoff of the land, especially the land that is not in line with the principles of soil and water conservation. The high rainfall affects the leaching process of carbon and nutrients from agricultural land to the river body. The leaching process of organic carbon and nutrients in the river need to be researched. It predicts the concentration of organic carbon and nutrients in the river, and it can be the indicator in monitoring of the land degradation. This research applied field experiment which used survey method with explorative descriptive for purposive sampling. This study showed that the location of leaching the most organic carbon formed DOC, nitrate, Al3+, and Mn2+ is point C. The rainfall has less significant effect in increasing stream discharge (r = 0.58). Stream discharge and dissolved ion concentration in the outlet (DOC, NO3-, PO43-, Fe2+, and Al3+) has no positive correlation. DOC concentration in the river has positive correlation with Fe2+ (0.94) and Al3+ (0.96). The multi stepwise regression model produces DOC = 2.48 + 0.90 Al3+ + 3.17 Fe2+ with the quite high value of R2 Adj. (0.94). It showed that DOC has affected Al3+ and Fe2+ by 94%
Validating Nutrient Status Using Plus One Test Model on Latosol by Maize: Validasi Status Hara Model Plus One Test pada Latosol dengan Indikator Jagung Manis
The nutrient status evaluation model plus one test is carried out to determine which nutrients are the limiting factor. This model needs to be validated both statistically and agronomically of plant growth and production, so the results can be interpreted appropriately. This study aimed to statistically validate the nutrient status of the model plus one test, evaluate the effect of fertilizer treatment on the growth and production of maize, and the correlation of available soil nutrients with plant nutrients. The experiment was conducted at the Cikabayan Farm, Dramaga Bogor. The experiment used a plus one test treatment design which included: (1) Control, (2) N, (3) N + P, (4) N + P + K, (5) N + P + K + Ca, (6) N + P + K + Ca + Mg, and (7) N + P + K + Ca + Mg + S. Fertilizers used are Urea (N), SP-36 (P), KCl (K), agricultural lime (Ca) ), MgO (Mg), and ZA (S). The environmental design used a randomized block design of 2 replications to obtain 14 experimental units. The results showed that the nutrient of the limiting factor was Ca. This is evident from the results of the variance which showed that the addition of Ca nutrient treatment significantly affected the growth and production of maize. Correlation of exchangeable Ca with crop Ca nutrient content was higher than other nutrients (correlation coefficient / r = 0.75), and classified as very significant. In leaf color reflectant was found that red and green color reflectant was influenced by K nutrient treatment, blue color reflectant by P and Ca nutrients, green and blue color reflectant by Mg nutrient treatment, while blue and red color reflectant by N and S. Nutrient treatment results from nutrient status is used for further fertilization actions.Model evaluasi status hara plus one test dilakukan untuk menetapkan hara yang menjadi faktor pembatas. Model ini perlu divalidasi baik secara statistik maupun agronomik yang dilihat dari pertumbuhan dan produksi tanaman, agar hasilnya dapat diinterpretasikan dengan tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah memvalidasi status hara model plus one test secara statistik, mengevaluasi pengaruh perlakuan pemupukan terhadap pertumbuhan dan produksi jagung manis, serta korelasi kadar hara tersedia tanah dengan hara tanaman. Percobaan dilakukan di Kebun Cikabayan, Dramaga Bogor. Percobaan menggunakan rancangan perlakuan plus one test yang meliputi : (1) Kontrol, (2) N, (3) N + P, (4) N + P + K, (5) N + P + K + Ca, (6) N + P + K + Ca + Mg, (7) N + P + K + Ca + Mg + S. Pupuk yang digunakan adalah pupuk Urea (N), SP-36 (P), KCl (K), kaptan (Ca), MgO (Mg), dan ZA (S). Rancangan lingkungan menggunakan rancangan acak kelompok 2 ulangan sehingga diperoleh 14 satuan percobaan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa hara yang menjadi faktor pembatas adalah Ca. Hal ini terbukti dari hasil sidik ragam yang menunjukkan bahwa perlakuan penambahan hara Ca berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi Jagung manis. Korelasi hara Ca-dd tanah dengan kadar hara Ca daun lebih tinggi dibandingkan dengan korelasi hara lainnya (koefisien korelasi/ r = 0.75), dan tergolong sangat nyata. Pada reflektan warna daun didapatkan bahwa reflektan warna merah dan hijau dipengaruhi perlakuan hara K, reflektan warna biru oleh hara P dan Ca, reflektan warna hijau dan biru oleh perlakuan hara Mg, sedangkan reflektan warna biru dan merah oleh perlakuan hara N dan S. Hasil evaluasi status hara tersebut digunakan untuk tindakan pemupukan selanjutnya