Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Not a member yet
301 research outputs found
Sort by
Sedimentation Prediction in Jatiluhur DAM, Purwakarta District: Perkiraan sedimentasi Pada Tahun 2018 di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta
Waduk Jatiluhur merupakan salah satu waduk serbaguna di Jawa Barat dengan peruntukkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), penyediaan bahan baku air minum (PDAM) dan industri, penyediaan air irigasi, perikanan, pariwisata dan pengendalian banjir. Berdasarkan laporan akhir Perum Juanda pada tahun 2000 bahwa volume waduk pada tahun 1964 adalah 2,970 juta m³, pada tahun 1987 adalah 2,556 juta m³, tahun 1995 adalah 2,456 juta m³ dan pada tahun 2000 adalah 2,448 juta m³. Hal ini menunjukkan bahwa volume waduk telah berkurang sebanyak 522 juta m³ dalam kurun waktu 36 tahun pada ketinggian ± 107 mdpl. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung sedimentasi di Waduk Jatiluhur pada tahun 2018. Pengukuran TSS menggunakan SNI 06-6989.3-2004 dan perhitungan sedimentasi menggunakan metode pengukuran langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total sedimen di inlet waduk adalah 859,368.40 ton tahun-1 dan outlet waduk adalah 92,553.33 ton tahun-1. Berdasarkan data tersebut maka total sedimen yang mengendap di Waduk Jatiluhur pada tahun 2018 adalah 766,815.07 ton. Sehingga diperlukan penanganan dalam mengurangi sedimen agar waduk tidak mengalami pendangkalan.Jatiluhur DAM is one of the multipurpose DAMs in West Java with the design of hydroelectric power plants, water supply in industry, irrigation, fisheries, tourism and flood control. Based on the final report of Juanda Public Corporation in 2000 that the DAM volume in 1964 was 2,970 million m³, in 1987 it was 2,556 million m³, 1995 was 2,456 million m³ and in 2000 was 2,448 million m³. This shows that the DAM volume has decreased by 522 million m³ over a period of 36 years at an altitude of ± 107 masl. The purpose of this study are to calculate sedimentation in the Jatiluhur DAM in 2018. TSS measurements using SNI 06-6989.3-2004 and calculation of sedimentation using direct measurement methods. The results showed that the total sediment in DAM inlet is 859,368.40 tons year-1 and the reservoir outlet is 92,553.33 tons year-1. Based on this data, the total sediment deposited in the Jatiluhur Reservoir in 2018 was 766,815.07 tonnes. So it needs handling in reducing sediment so that the reservoir does not experience silting
Pengaruh Topsoil dan Pupuk Organik Terhadap Panjang Sulur dan Jumlah Daun Tanaman Ubi Jalar (Ipomoea Batatas Lamb.) pada Media Tailing Emas: The Effect of Topsoil and Organic Manure Towards Length of Vein and Number of Laeves of Sweet Potatoes (Ipomoea Batatas Lamb.) in Gold Tailing
Pengolahan bijih emas di pertambangan emas rakyat di Desa Kertajaya, Sukabumi, Jawa Barat menghasilkan limbah sisa pengolahan atau tailing yang umumnya dibuang ke sungai atau kebun, ditampung pada kolam penampungan atau dimasukkan ke dalam karung untuk diolah kembali. Keterbatasan lahan yang dimiliki masyarakat menyebabkan kolam dan kebun bekas pembuangan tailing tersebut banyak dimanfaatkan untuk becocok tanam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan topsoil inceptisol dan pupuk organik pada tailing terhadap panjang sulur dan jumlah daun tanaman ubi jalar (Ipomoea batatas) pada fase vegetatif maksimum (7 minggu setelah tanam). Tailing dan topsoil inceptisol yang digunakan pada penelitian ini diambil dari Desa Kertajaya, Sukabumi sedangkan pupuk organik yang digunakan berasal dari kotoran sapi. Tanaman ubi jalar yang digunakan adalah ubi jalar klon MZ119. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian UNPAD, Sumedang pada bulan Januari sampai dengan Mei 2020. Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor yaitu rasio topsoil sebanyak 3 taraf (30% w/w; 50% w/w; dan 70% w/w) dan dosis pupuk organik sebanyak 4 taraf (tanpa pupuk; 10 ton ha-1; 20 ton ha-1; dan 30 ton ha-1) dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 70% topsoil : 30% tailing dan dosis kompos 30 ton ha-1 menghasilkan panjang sulur dan jumlah daun tanaman ubi jalar pada fase vegetatif maksimum masing-masing sebesar 24.33 cm dan 54.33.
Processing of gold ore at artisanal gold mining in Kertajaya Village, Sukabumi, West Java produces residual processing waste or tailings which are generally disposed of into rivers or farm, stored in storage ponds or put in sacks for reprocessing. Due to the limited land owned by the community, the ponds and farm that were formerly dumped for tailings are widely used for farming. This study aims to determine the effect of adding topsoil and compost dose on the growth of sweet potato (Ipomoea batatas) at the maximum vegetative phase (7 Weeks after planted). The topsoil used in this study was taken from Kertajaya Village, which is an inceptisol soil type, while the sweet potato plant used was sweet potato clone MZ119. The research was conducted at the Ciparanje Experimental Farm, Faculty of Agriculture UNPAD, Sumedang from January to May 2020. This experiment used a factorial randomized block design with two factors, namely the topsoil-tailing ratio of 3 levels (30% w/w; 50% w/w; and 70% w/w) and compost doses of 4 levels (without compost (control); 10 tonnes ha-1; 20 tonnes ha-1; and 30 tonnes ha-1) with 3 replications. The results showed that the combination treatment of 70% topsoil: 30% tailings and compost dosage of 30 tonnes ha-1 could increase the length of sweet potato vein in the maximum vegetative phase which was 24.33 cm and the number of leaves was 54.33.
 
Pengaruh Cash Crops Terhadap Temperatur Permukaan Lahan Kawasan Perkotaan Kabupaten Temanggung: Effect of Cash crops on Land Surface Temperature Urban Area, Temanggung Regency
Kabupaten Temanggung merupakan daerah penghasil tembakau dengan mutu dan harga tinggi Tembakau merupakan salah satu cash crops yang dibudidayakan di Indonesia. Sebagian besar penghasilan petani di Kabupaten Temanggung berasal dari tanaman perkebunan tembakau. Beberapa dekade terakhir terjadi kegagalan panen tembakau akibat adanya variabilitas iklim. Keberadaan lahan bervegetasi berpengaruh terhadap temperature permukaan lahan. Temperatur permukaan lahan yang tinggi berdampak pada kenyaman dan kesehatan manusia. Kawasan perkebunan di Kabupaten Temanggung sebagian besar digunakan untuk tanaman cash crop. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh cash crop yang merupakan sumber pedapatan utama petani dengan perubahan temperature permukaan lahan Kawasan Perkotaan Kabupaten Temanggung. Menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan spsial dan Citra satelit Landsat 5, 7, 8 sebagai sumber data utama. Kualitas cash crop dideteksi dari tingkat kehijauan tanaman menggunakan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Hasil penelitian. menunjukkan bahwa cash crop mempunyai pengaruh kuat terhadap temperatur permukaan lahan wilayah studi (R = 1) Temperature permukaan lahan meningkat dari 25.04 oC menjadi 25.01 oC dalam kurun waktu Tahun 1999-2019. Meskipun terjadi peningkatan temperatur di Kawasan Perkotaan Kabupaten Temanggung namun masih dalam kondisi aman berdasarkan acuan Paris Agreement.Temanggung Regency is a tobacco producing area with high quality and price. Tobacco is one of the cash crops cultivated in Indonesia. Most of the farmers\u27 income in Temanggung Regency comes from tobacco plantations. The last few decades have seen tobacco crop failures due to climate variability. The existence of vegetated land affects the surface temperature of the land. High land surface temperatures have an impact on human comfort and health. Most of the plantation areas in Temanggung Regency are used for cash crop plants. This study aims to examine the effect of cash crop which is the main source of income for farmers on the land surface temperature of the Temanggung Regency Urban Area. Using a quantitative descriptive method with a spatial approach and Landsat 5, 7, 8 satellite imagery as the main data source. The quality of the cash crop was detected from the greenness of the plant using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Research result. shows that cash crop has a strong influence on the surface temperature of the study area (R = 1). The temperature of the land surface increased from 25.04 oC to 25.01 oC in the period 1999-2019. Even though there was an increase in temperature in urban area, it was still in a safe condition based on the Paris Agreement reference
Land Suitability for Mangosteen and Its Potential Development in Pauh District, Padang City: Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Manggis dan Potensi Pengembangannya di Kecamatan Pauh Kota Padang
Manggis memiliki potensi di bidang ekonomi, data statistik tahun 2015 menunjukkan bahwa ekspor manggis mencapai nilai USD 17.2 juta. Kecamatan Pauh dipilih sebagai sentra pengembangan perkebunan manggis di Kota Padang. Pengembangan ini harus didasari dengan kesesuaian lahan sehingga tanaman manggis dapat tumbuh selaras dengan iklim dan kondisi lahan. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pauh Kota Padang. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda survei dengan beberapa tahapan yaitu persiapan, pra survei, survei utama, analisis di laboratorium, dan pengolahan data. Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan dengan metoda matching yaitu membandingkan nilai kualitas dan karakteristik lahan dengan persyaratan tumbuh tanaman. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan kesesuaian lahan untuk tanaman manggis diklasifikasikan ke dalam kelas sesuai marjinal (S3) dengan sub kelas S3nr untuk SL1,2,3,4,7,8,9,11,15; sub kelas S3nr,eh untuk SL5 dan SL10; subkelas S3eh untuk SL14. Namun, pada satuan lahan SL6,12,13, dan 16 didapatkan kelas kesesuaian cukup sesuai (S2) dengan subkelas S2wa,nr untuk SL6 dan SL16; S2wa,rc,nr,eh untuk SL12; dan S2wa,rc,nr untuk SL13. Faktor pembatas yang umum pada masing-masing lahan adalah retensi hara (nr) dan bahaya erosi/lereng (eh). Terdapat 3 kelurahan (Lambung Bukit, Limau Manis, dan Limau Manis Selatan) di Kecamatan Pauh yang memiliki potensi paling besar untuk dikembangkan sebagai wilayah pengembangan perkebunan manggis dengan total luas 5,862 ha.Mangosteen has potential in the field of economics, statistic data of 2015 showed that mangosteen export reached a value of USD 17.2 million. Pauh District was chosen as mangosteen plantation development centre in Padang City. This development should be based on the land suitability so that the mangosteen plant are able to grow according to the climate and soil conditions. This research was conducted in Pauh District, Padang City. This study used a survey method consisting of preparation, pre-survey, the main survey, laboratory analysis, and data processing. Evaluation of land suitability was done with matching method which compare the characteristics of land suitability for mangosteen growth. The results of the research showed that land suitability for mangosteen was classified into S3 (marginally suitable) with subclass S3nr with limiting factor was nutrient retention for land unit SL1,2,3,4,7,8,9,11,15; subclass S3eh with limiting factor was erosion for land unit SL14; subclass S3nr,eh with limiting factors were nutrient retention and erosion for land unit SL5 and SL10. Land unit SL6,12,13, dan 16 were classified into S2 (moderately suitable) with subclass S2wa,nr with limiting factors were rainfall and nutrient retention for land unit SL6 and SL16; subclass S2wa,rc,nr,eh with limiting factors were rainfall, soil depth, nutrient retention, and erosion for land unit SL12; subclass S2wa,rc,nr with limiting factors were rainfall, soil depth, and nutrient retention for land unit SL13. The limiting factors was common to each land unit were nutrient retention (nr) and erosion (eh). There are 3 villages (Lambung Bukit, Limau Manis, and South Limau Manis) in Pauh District which have the greatest potential to be developed as mangosteen plantation development areas with total area was 5,862 ha
Tourism Area Planning Based on Issues and Local Potency in Tanah Lemo Village, Bontobahari District, Bulukumba Regency, South Sulawesi Province: Perencanaan Areal Pariwisata Berdasarkan Isu dan Potensi Lokal di Desa Tanah Lemo, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan
Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor utama di Kabupaten Bulukumba. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bulukumba tahun 2018-2038 Desa Tanah Lemo merupakan salah satu bagian dari rencana pengembangan destinasi pariwisata. Salah satu destinasi potensi pariwisata yang belum berkembang di Desa Tanah Lemo adalah Pantai Lemo-Lemo. Penelitian ini bertujuan identifikasi penggunaan lahan tahun 2019, menganalisis landrent setiap penggunaan lahan, menentukan prioritas lahan untuk pengembangan kawasan wisata, dan mengidentifikasi strategi pengembangan Kawasan Wisata Pantai Lemo-Lemo. Data yang digunakan adalah citra google earth, peta pola ruang, peta persil, bidang tanah, lahan kritis, arahan pertanian, kemiringan lereng dan lain sebagainya serta hasil wawancara responden. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu interpretasi visual dan klasifikasi tutupan lahan (SIG), analisis landrend, penentuan tingkat prioritas lahan untuk pengembangan kawasan wisata, dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 jenis penggunaan lahan di lokasi penelitian yaitu badan air, empang, emplasmen, hutan berkerapatan tinggi, hutan berkerapatan rendah, kebun campuran, lahan terbuka, pemukiman kerapatan padat, pemukiman kerapatan sedang, semak belukar dan tegalan. Penggunaan lahan terluas adalah tegalan. Nilai landrent terbesar adalah permukiman penduduk padat sebesar Rp. 150.458/m2/tahun. Berdasarkan tingkat prioritas lahan untuk pengembangan kawasan wisata, prioritas I seluas 49 ha (1.7%), sedangkan yang paling luas adalah prioritas III (54%). Strategi pengembangan kawasan wisata Pantai Lemo-Lemo adalah dengan cara menggiatkan promosi wisata, diantaranya dengan menjadi tuan rumah kegiatan festival wisata lokal atau nasional, mengembangkan wisata mata air, taman hutan rakyat, situs budaya dan mengembangkan alternatif wisata buatan, misalnya taman bermain/outbound dan lain sebagainya. Desa Tanah Lemo memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata di masa mendatang.The tourism sector is one of the main sectors in Bulukumba Regency. Based on the Spatial Planning (RTRW) of Bulukumba Regency in 2018-2038, Tanah Lemo Village is one of the areas planned for the development of tourism destinations. One of the undeveloped tourism potentials in Tanah Lemo Village is Lemo-Lemo Beach. This study aims to identify land use in 2019, analyze landrent per land use, determine land priorities for tourism development, and identify strategies for developing Lemo-Lemo Beach Tourism. The data used are google earth imagery, spatial pattern maps, parcel maps, parcels of land, degraded land, agricultural direction, slope and so forth, as well as the results of interview respondents. The methods used in this study are visual interpretation and classification of land cover (GIS), landrent analysis, determination of the priority level of land for tourism development, and SWOT analysis. The results showed that there were 11 types of land use in the study location were water bodies, ponds, emplacement, high density forests, low density forests, mixed gardens, open land, high density settlements, medium density settlements, shrubs and fields. The largest land use is moor. The largest landrent value is high density settlements of Rp. 150,458 / m2 / year. Based on the priority level of land for the development of tourist areas, priority I is 49 ha (1.7%), while the most extensive is priority III (54%). The strategy of developing Lemo-Lemo Beach tourism is by promoting tourism promotion, including by hosting local or national tourism festival activities, developing spring tourism, community forest parks, cultural sites and developing alternative tourism options, for example playgrounds / outbound and others so. Tanah Lemo Village has the potential for the development of tourism in the future
Tofu Wastewater Potency for Generating Electricity Using Three Models of Microbial Fuel Cell (MFC): Potensi Limbah Tahu untuk Menghasilkan Listrik pada Tiga Model Sistem Microbial Fuel Cell (MFC)
Sampah organik dari industri tahu pada umumnya hanya dibuang ke aliran sungai di sekitarnya dan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Limbah cair tahu mengandung banyak protein, sehingga dalam proses dekomposisi menghasilkan amonia yang menyebabkan bau. Kurangnya peneliti yang memahami bahwa limbah tahu juga dapat digunakan sebagai substrat dalam Sel Bahan Bakar Mikro (MFC). MFC adalah sistem atau perangkat yang menggunakan bakteri sebagai katalis untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik. Elektron diproduksi oleh bakteri dari substrat yang ditransfer ke anoda (kutub negatif) dan dialirkan ke katoda (kutub positif), kemudian dihubungkan oleh perangkat konduktivitas termasuk resistor atau dioperasikan di bawah muatan untuk menghasilkan listrik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan limbah tahu sebagai substrat dalam anoda terhadap arus listrik di MFC juga mengetahui pemodelan MFC paling efektif dan menyediakan listrik dengan arus tertinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemodelan MFC yang dianggap paling efektif dan menghasilkan tegangan tertinggi adalah sistem dual chamber dengan Nafion. Ruang ganda MFC dengan isolat Nafion Staphylococcus saprophyticus mampu menghasilkan nilai tegangan 3,74x105 mV dan nilai kerapatan daya 2,87x104 mW m-2.Organic waste from tofu industries in general is only thrown into the surrounding river flow and not utilized by the community. Tofu liquid waste contains a lot of protein, so in the decomposition process it produces ammonia which is causes odor. A lack of researchers who understand that tofu waste can also be used as a substrate in Microbial Fuel Cells (MFC). MFC is a system or device that uses bacteria as a catalyst to oxidize organic and inorganic materials. Electrons are produced by bacteria from the substrate which is transferred to the anode (negative pole) and flowed to the cathode (positive pole), then connected by conductivity devices including resistors or operated under charge to produce electricity. The purpose of this study were knowing the effect of using tofu waste as a substrate in the anode on electric currents in MFC also knowing the most effective MFC modeling and providing electricity with the highest current. The result showed that MFC modeling which is considered the most effective and produces the highest voltage is the dual chamber system with Nafion. MFC dual chamber with Nafion isolate Staphylococcus saprophyticus was able to produce a voltage value of 3.74x105 mV and a power density value of 2.87x104 mW m-2
Natural Hazards Analysis in Baleendah District, Bandung Regency, West Java: Analisis Bahaya Alami (Natural Hazards) Di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung Jawa Barat
Bencana banjir di Kabupaten Baleendah (Kabupaten Bandung) yang terjadi setiap tahun seringkali menyebabkan ratusan hektar sawah gagal panen. Sementara itu, perubahan penggunaan lahan yang cepat terjadi di daerah dataran di daerah ini telah menyebabkan banyak sawah berubah menjadi pemukiman, sementara di daerah perbukitan banyak lereng telah berubah menjadi lahan terbuka yang disebabkan oleh kegiatan penambangan batu. Kegiatan semacam ini dapat mengurangi stabilitas lereng dan memudahkan terjadinya longsor di masa depan. Mempelajari bahaya alami untuk wilayah ini menjadi penting untuk kebutuhan mitigasi bencana di masa depan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan penggunaan lahan dan menilai bahaya banjir dan tanah longsor di Kabupaten Baleendah. Metode penelitian meliputi interpretasi visual penggunaan lahan dari citra Quickbird, analisis Pairwise Comparison untuk mendapatkan bobot dan skor parameter bahaya banjir dan tanah longsor, dan analisis Multi Criteria Evaluation (MCE) untuk menilai bahaya alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpretasi citra Quickbird menghasilkan 12 jenis penggunaan lahan yang didominasi oleh jenis pemukiman (31,17%) dan sawah (30,90%). Dari analisis Pairwise Comparison, ditemukan bahwa urutan bobot parameter bahaya banjir adalah durasi genangan (0,50), frekuensi genangan (0,33), dan kedalaman genangan (0,17), sedangkan untuk bahaya tanah longsor adalah kemiringan lereng (0,50), penggunaan lahan (0.33), dan bentuk lereng (0.17). Berdasarkan pemetaan rawan banjir partisipatif, ditemukan bahwa wilayah rawan banjir hanya tersebar di satu desa, yaitu Desa Andir, sedangkan untuk daerah rawan longsor tersebar di 5 desa. Hasil analisis Multi Criteria Evaluation (MCE) menunjukkan bahwa bahaya banjir kelas tinggi dan menengah masing-masing meliputi 128,99 ha dan 34,76 ha, sedangkan bahaya longsor kelas menengah, tinggi dan rendah masing-masing mencakup 281,62 ha, 940,84 ha, dan 124,69 ha. Mengontrol perubahan penggunaan lahan adalah pilihan yang baik untuk dilakukan di wilayah ini untuk mengurangi bahaya alami di masa depan.Flood disasters in Baleendah District (Bandung Regency) which occur every year often cause hundreds of hectares of paddy fields to fail in harvesting. Meanwhile, rapid land use changes occurred in the plain area has caused many paddy fields have turned into settlements, while many of slopes of hills area have turned into barelands caused by rock mining activities. This kind of activity can reduce slope stability and facilitate landslides in the future. Studying the natural hazards for this region becomes important for disaster mitigation needs in the future. The purpose of this study is to map land use and assess flood and landslide hazards in Baleendah District. The research method includes land use visual interpretation from Quickbird imagery, Pairwise Comparison analysis to obtain the weight and score of flood and landslide hazards parameters, and Multi Criteria Evaluation (MCE) analysis to assess the natural hazards. The results showed that the interpretation of Quickbird imagery produced 12 types of land use dominated by settlement types (31.17%) and rice fields (30.90%). From Pairwise Comparison analysis, it was found that the sequence of weights of flood hazard parameters were inundation duration (0.50), inundation frequency (0.33), and inundation depth (0.17), while for landslide hazards were slope steepness (0.50), land use (0.33), and slope form (0.17). Based on the participatory flood-prone mapping, it was found that flood-prone areas were only spread in one village, i.e. Andir Village, while for landslide-prone areas were spread in 5 villages. The results of Multi Criteria Evaluation (MCE) analysis showed that the high and medium class of flood hazards covered 128.99 ha and 34.76 ha respectively, while high, medium and low class of landslide hazards covered 281.62 ha, 940.84 ha and 124.69 ha respectively. Controlling land use change is a good choice to do in this region to reduce natural hazards in the future
Selected Chemical Peat Properties Distribution in Palm Oil Plantation and Its Relationship with Depth Layer and Distance from Mineral Soil Derived From Ultrabasic Rocks: Distribusi Sifat Kimia Gambut di Perkebunan Sawit dan Hubungannya dengan Kedalaman Lapisan Gambut dan Jarak dari Tanah Mineral Berbahan Induk Batuan Ultrabasa
Lahan gambut di lokasi penelitian yang digunakan untuk perkebunan sawit berdampingan dengan tanah mineral berbahan induk ultrabasa berkadar Mg tinggi. Tanah berkadar Mg tinggi dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan gangguan serapan hara. Penelitian ini bertujuan mempelajari distribusi beberapa sifat kimia tanah seperti pH; kandungan unsur kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na) dapat ditukar; besi (Fe), mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (Zn) total dan terekstrak DTPA dalam gambut dan hubungannya dengan kedalaman lapisan gambut dan jarak terhadap tanah mineral berbahan induk batuan ultrabasa. Contoh gambut sekitar 1,0 kg diambil secara komposit dari setiap kedalaman gambut 0 – 30, 30 – 60 dan 60 – 90 cm pada transek toposekuen dari setiap jarak 100, 200, 300, 400, 500 dan 600 m dari perbatasan tanah mineral ultrabasa. Analisis contoh gambut dilakukan untuk menetapkan (i) kapasitas tukar kation (KTK) dan pH H2O 1:5; (ii) kandungan hara makro K, Ca, Mg dan benefisial Na menggunakan amonium asetat 1 N pH 7; dan (iii) kandungan total unsur mikro Fe, Cu, Zn, Mn serta kandungan unsur-unsur tersebut dengan pengekstrak DTPA. Hasil penelitian menunjukkan nilai pH gambut menurun sangat nyata berdasarkan kedalaman lapisan gambut dan cenderung menurun dengan semakin jauh dari tanah mineral. Nilai KTK berfluktuasi dan cenderung meningkat sesuai peningkatan kedalaman lapisan gambut dan jarak dari tanah mineral. Berdasarkan hasil pengukuran Mg dan Fe, hara yang berasal dari tanah mineral mempengaruhi gambut hingga jarak 600 m dari batas gambut. Tanah gambut mengandung Mg, Na, Fe, Mn, dan Zn tersedia dalam kadar tinggi dan K and Ca tersedia dalam kadar rendah. Hara Cu tersedia tergolong cukup pada semua kedalaman dan jarak kecuali kedalaman 60 – 90 cm dan jarak 600 meter. Kandungan hara benefisial Na menunjukkan korelasi positif dengan kedalaman lapisan gambut yang mengindikasikan pengaruh marin pada tanah mineral bawah gambut. Disparitas yang besar antara Mg dengan kation lain dapat mengganggu penyerapan hara oleh akar tanaman dan memungkinkan pencucian K dan Ca keluar dari solum.Peatland at the research site utilized for oil palm plantation situated alongside with ultrabasic mineral soils. High Mg content in the soil has been reported to inhibit plant growth and distrupt nutrient absorption. Research is aimet to study of pH; Cation Exchange Capacity (CEC); macronutrient of potassium (K), calcium (Ca) and magnesium (Mg); beneficial nutrient of sodium (Na); and micronutrients of iron (Fe), manganese (Mn), copper (Cu) and Zink (Zn) distribution in peat and its relationship with peat depth and distance to ultrabasic mineral soil. The composite of 1,0 kg peat soil samples were collected from the depth of 0 – 30 cm, 30 – 60 cm and 60 - 90 cm toposequently with the distance of 100, 200, 300, 400, 500 and 600 m from the ultrabasic mineral soil. Analysis of peat samples was carried out to determine (i) the contents of K, Ca, Mg, Na extracted by amonium acetate and (ii) the contents of Fe, Mn, Cu, and Zn extracted by DTPA. The result of the study showed that pH value decreased significantly along with increasing peat depth and tended to decrease with increasing distance from mineral soil. CEC content fluctuated and tended to increase along with increasing peat depth and distance from mineral soil. Based on the measurement of Mg and Fe, mineral soil nutrient affected peat to the distance of 600 m from its border. According to Balittanah criteria, peat in the transect area contain high level of available Mg, Na, Fe, Mn, and Zn and low level of K and Ca. Available content of Cu classified as moderate in all depth and distance, except 600 meter and 60 – 90 cm respectively. Beneficial nutrient of Na showed positive correlation with peat depth, indicating marine influence from mineral soil in subsurface. The great disparity between Mg with other cations may disrupt root absorbtion and lead to K and Ca leaching from peat solum