Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Not a member yet
301 research outputs found
Sort by
Fourier Transform Infrared (FTIR) Spectroscopy of Humic Acid from Chicken Manure Compost with Different Biodecomposers: Spectroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR) Asam Humat dari Kompos Kotoran Ayam dengan Biodekomposer Berbeda
Asam humat merupakan senyawa akhir hasil dekomposisi dan humifikasi sehingga lebih bersifat resisten. Peranan asam humat antara lain : bahan penguat untuk meningkatkan efisiensi remediasi elektrokinetik dari kontaminasi arsenik , membatasi toksisitas Cd dan Pb pada cacing tanah di dalam tanah, agen penyemen dalam matriks tanah untuk menekan degradasi lingkungan tambang mineral. Penelitian dilakukan guna mendapatkan ektrak asam humat dari kompos limbah pertanian dan peternakan. Asam humat diekstrak dari kompos dengan menggunakan asam kuat dan basa kuat. Kompos dari Kotoran ayam diharapkan menjadi solusi limbah peternakan yang berpotensi mencemari lingkungan. Pembuatan kompos kotoran ayam dipadukan dengan limbah dan gulma pertanian seperti jerami, bonggol jagung, bonggol pisang, kulit durian dan eceng gondok. Dekomposisi dilakukan dengan bantuan biodekomposer EM4, Ragi Kompos dan Cacing tanah. Gugus fungsional yang menjadi penciri asam humat dari kompos kotoran ayam dengan beragam bahan tambahan dan biodekomposer yakni Puncak serapan 3450 - 3300 cm-1 , 2980-2920 cm-1, 1660-1630 cm-1 dan 1170-950 cm-1 . derajat humifikasi yang rendah di semua perlakuan merupakan penciri kompos dengan dengan tong berjalan efektif. EM4 paling efektif untuk meningkatakan laju dekomposisi bahan organikpada perlakuanHumic acid is the final compound resulting from decomposition and humification so that it is more resistant. The role of humic acid includes: reinforcing agents to increase the efficiency of electrokinetic remediation from arsenic contamination, limiting the toxicity of Cd and Pb to earthworms in the soil, cementing agents in the soil matrix to suppress environmental degradation of mineral mining. The research was conducted to obtain humic acid extract from compost of agricultural and livestock waste. Humic acid is extracted from compost using strong acids and strong bases. Compost from chicken manure is expected to be a solution for livestock waste that has the potential to pollute the environment. The composting of chicken manure is combined with agricultural waste and weeds such as straw, corncob, banana weevil, durian skin and water hyacinth. Decomposition was carried out with the help of EM4 biodecomposer, Compost Yeast and Earthworms. The functional groups that characterize humic acid from chicken manure compost with a variety of additives and biodecomposers are the absorption peak 3450 - 3300 cm-1, 2980-2920 cm-1, 1660-1630 cm-1 and 1170-950 cm-1. The low degree of humification in all treatments is a characteristic of effective compost with the barrel. EM4 is most effective at increasing the rate of decomposition of organic matter in the treatmen
Determination of Water Quality Status in Maduran District Lamongan: Penentuan Status Mutu Air Tanah di Kecamatan Maduran Kabupaten Lamongan
Air merupakan komponen penunjang kebutuhan pokok manusia untuk kegiatan sehari-hari. Kecamatan Maduran menjadi kecamatan yang penduduknya menggunakan air tanah sebagai sumber air alternatif. Faktor adanya kontaminasi terhadap air tanah di Kecamatan Maduran adalah kegiatan rumah tangga, home industry, dan sektor pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas dan status mutu air tanah di Kecamatan Maduran. Status mutu air tanah didasarkan pada Permenkes No. 32 Tahun 2017 dan Kepmenlh No. 115 Tahun 2003. Stasiun pengambilan sampel ditentukan berdasarkan SNI 6989.58:2008. Pengambilan sampel dilakukan 1 kali dengan metode split di 8 stasiun yang mewakili. Pengujian status mutu air tanah meliputi parameter fisik dan kimia, yaitu suhu, bau, rasa, TDS, kekeruhan, pH, CaCO3, Mn, Fe, Nitrat, dan Nitrit. Hasil analisis kualitas air tanah terdapat parameter yang melebihi baku yaitu, Stasiun A dengan kadar TDS senilai 2490 mg/L dan Kesadahan senilai 1130 mg/L. Stasiun D kadar TDS senilai 1284 mg/L dan kesadahan 500 mg/L. Sedangkan, Stasiun H kadar TDS senilai 1389 mg/L. Status mutu air menggunakan metode IP menunjukkan Stasiun A, Stasiun D, dan Stasiun H dikategorikan sebagai Cemar Ringan. Sedangkan, Stasiun B, Stasiun C, Stasiun E, Stasiun F, dan Stasiun G dikategorikan sebagai Memenuhi Baku Mutu.
 
Characteristics of Nitrate Sorption of Andisols: Karakteristik Erapan Nitrat pada Andisol
Excessive use of urea and livestock manure by farmers causes the accumulation of nitrate ions on agricultural soils. Knowledge of the ability of soil to absorb nitrate is very important in terms of nitrate movement in the soil profile. The objectives of this study was to reveal the ability of the soils to bind nitrate through sorption and to reveal the soil properties affect the nitrate sorption. Nitrate sorption data were obtained by saturating the soil with nitrate solutions at various concentrations, after previously saturating the soil with chloride ions. Nitrates in the supernatant solution were determined using a UV Spectrophotometer with a wavelength of 210 nm and 275 nm. Then, the data were analyzed using two equations, namely, Langmuir equation and Freundlich equation. The results showed that the nitrate sorptions were best simulated by the Freundlich equation. The value of the constant K Freundlich equation as index of nitrate sorption maximum had a positive correlation with the organic carbon (C), aluminium extracted by ammonium oxalate (Alo), aluminium extracted by Dithonite-citrate-bicarbonate (Ald) and Alo+1/2Feo (Andic property). The results suggested that organic C, Alo, Ald, and Andic property could be considered to control nitrate sorption.Penggunaan pupuk urea dan pupuk kandang yang berlebihan oleh petani menyebabkan terjadinya akumulasi ion nitrat pada tanah pertanian. Pengetahuan tentang kemampuan tanah dalam mengerap nitrat menjadi sangat penting dalam kaitan pergerakan nitrat di dalam profil tanah. Tujuan penelitian ini adalah karakterisasi tanah-tanah pertanian yang mempunyai order Andisol di Pulau Jawa dalam mengerap nitrat dan mengidentifikasi sifat-sifat tanah yang mempengaruhi erapan nitrat. Data erapan nitrat diperoleh dengan menjenuhkan tanah dengan larutan nitrat pada berbagai konsentrasi, setelah sebelumnya tanah dijenuhi dengan ion klorida. Nitrat dalam larutan supernatan ditetapkan menggunakan UV Spectrophotometer dengan panjang gelombang 210 nm dan 275 nm. Kemudian, data dianalisis menggunakan dua persamaan yaitu, persamaan Langmuir dan persamaan Freundlich. Hasil menunjukkan bahwa erapan nitrat dapat disimulasikan paling baik oleh persamaan Freundlich. Nilai konstanta K persamaan Freundlich yang merupakan indeks erapan maksimum berkorelasi positif dengan karbon (C) organik, aluminium yang diekstrak dengan amonium oksalat (Alo), aluminium yang diekstrak dengan dithionite-citrate-bicarbonate (Ald) dan Alo+1/2Feo (sifat Andik). Penelitian ini merekomendasikan bahwa C organik, Alo, Ald dan sifat Andik mengontrol erapan nitrat
Identifikasi Dinamika Spasial Penggunaan dan Tutupan Lahan di Kabupaten Indramayu: Identification of Spatial Dynamics of Land Use and Cover in Indramayu Regency
Peningkatan jumlah penduduk terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Hal ini mengakibatkan tingginya kebutuhan akan ruang. Kabupaten Indramayu merupakan salah satu kabupaten dengan dinamika penggunaan dan tutupan lahan yang tinggi yang ditunjukkan peningkatan luas pemukiman sebesar 14.8 ha tahun-1 dan sawah yang mengalami penurunan rata-rata sebesar 13.9 ha tahun-1. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis penggunaan dan tutupan lahan guna menjadi rujukan untuk menganalisis pola dinamika spasial penggunaan dan tutupan lahan di Kabupaten Indramayu. Dinamika spasial penggunaan dan tutupan lahan diidentifikasi melalui citra Landsat 7 dan Sentinel-2A yang kemudian dianalisis overall accuracy, Kappa accuracy, validasi menggunakan Google Earth, dan overlay sehingga menghasilkan peta dinamika penggunaan dan tutupan lahan tahun 2005, 2011 dan 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 8 kelas penggunaan dan tutupan lahan di Kabupaten Indramayu, yaitu hutan, lahan terbuka, pertanian lahan kering, pertanian lahan, kering campur, sawah, pemukiman, tambak dan tubuh air. Lahan sawah memiliki luas yang dominan sepanjang titik pengamatan (>61%) yang tersebar di bagian tengah Kabupaten Indramayu. Persentase luas pemukiman mengalami kenaikan 0.8% dari 33,724 ha (16.2%) menjadi 35,377 ha (17.0%) pada periode 2005-2021. Sedangkan, persentase luas tambak mengalami kenaikan 0.5% dari 23,221 ha (11.1%) menjadi 24.163 ha (11,6%) pada kurun waktu tersebut. Peningkatan jumlah penduduk dan tingkat ekonomi menjadi beberapa faktor penyebab dinamika perubahan lahan di Kabupaten Indramayu.The increase in population occurs in Indonesia every year. This results in a high demand for space. Indramayu Regency is one of the regencies with high dynamics of land use and cover, which is indicated by an increase in residential area of 14.8 ha year-1 and a decrease in rice fields by an average of 13.9 ha year-1. This study aimed to identify the types of land use and cover in order to become a reference for analyzing the spatial dynamics of land use and cover in Indramayu Regency. Spatial dynamics of land use and cover were identified through Landsat 7 and Sentinel-2A which were then analyzed for overall accuracy, Kappa accuracy, validation using Google Earth, and overlays to produce maps of land use and cover dynamics in 2005, 2011 and 2021. The results showed that there are 8 classes of land use and cover in Indramayu Regency, namely forest, open land, dry land agriculture, dry land agriculture, mixed dry land, rice fields, settlements, ponds, water bodies. Paddy fields have a dominant area along the observation point (>61%) which are spread the central part of Indramayu Regency. The percentage of residential area increased by 0.8% from 33,724 ha (16.2%) to 35,377 ha (17.0%) in the period 2005-2021. Meanwhile, the percentage of pond area increased by 0.5% from 23,221 ha (11.1%) to 24,163 ha (11.6%) during that period. The increase in population and economic level are some of the factors causing the dynamics of land change in Indramayu Regency
Resistance of Sunflower (Helianthus annuus L.) on Water Stress by Application of Hydrogel and Watering Time in Regosol : Ketahanan Tanaman Bunga Matahari (Helianthus annuus L.) terhadap Cekaman Air dengan Aplikasi Hidrogel dan Waktu Penyiraman pada Regosol
Aplikasi hidrogel sebagai pembenah tanah dapat meningkatkan retensi air dalam tanah-tanah bertekstur kasar yang dapat mengurangi frekuensi air irigasi dan akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh aplikasi jenis hidrogel dan interval waktu penyiraman terhadap pertumbuhan tanaman bunga Matahari, ketersediaan air dalam tanah, dan ketahanan tanaman terhadap cekaman air, serta mengetahui kombinasi jenis hidrogel dan interval waktu penyiraman yang optimal untuk pertumbuhan bunga Matahari pada Regosol dari Dramaga, Bogor. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan dua faktor, yaitu jenis hidrogel yang terdiri dari : kontrol (H0), hidrogel Terracottemâ (H1), dan hidrogel super absorben sintesis (H2); dan interval waktu penyiraman yang terdiri dari: penyiraman air 5 hari sekali (P1), penyiraman air 10 hari sekali (P2), dan penyiraman air 15 hari sekali (P3). Bibit bunga Matahari genotipe IPB BM1 berumur dua minggu dipindahkan bersamaan dengan aplikasi hidrogel ke dalam pot berisi bahan tanah Regosol setara 10 kg BKM. Variabel yang diamati adalah kadar air tanah, retensi air tanah pada beberapa hisapan matriks (pF), luas daun, diameter batang dan panjang akar. Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi hidrogel nyata meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman pada kondisi tanah kering akibat interval penyiraman yang panjang, menambah diameter batang, dan panjang akar tanaman bunga Matahari dibandingkan tanpa hidrogel (kontrol). Kelembaban tanah, diameter batang, dan panjang akar pada perlakuan hidrogel H1 tidak berbeda nyata dengan H2. Interval waktu penyiraman nyata mempengaruhi luas daun dan diameter batang, serta kelembaban tanah. Luas daun, diameter batang tanaman, dan kelembaban tanah pada perlakuan waktu penyiraman 15 hari sekali (P3) nyata lebih rendah dibandingkan dengan penyiraman 5 hari sekali (P1). Kombinasi antara hidrogel Terracotem dengan interval waktu penyiraman 5 hari sekali merupakan kombinasi perlakuan yang paling baik dalam memperbaiki pertumbuhan tanaman bunga Matahari pada Regosol dari Dramaga, Bogor.Application of hydrogel as soil conditioner can increase water and/or nutrient of coursed textured soil, with a possible reduction of irrigation frequency, and in turn increase plant growth. This research was aimed to investigate application of type of hydrogel and time of watering interval on the growth of sunflower plant, soil water availability, and plant resistance to water stress, and to verify the effect of combination of hydrogel type and watering time interval on sunflower growth on Regosol from Dramaga, Bogor. The experiment was arranged in completely randomized factorial design with two factors, that were hydrogel type which was consisted of no hydrogel application as control (H0), hydrogel of Terracottemâ (H1), and hydrogel of synthetic super absorbent (H2); and watering time interval which was consisted of once in 5 days of watering (P1), once in 10 days of watering (P2), and once in 15 days of watering (P3). Hydrogels application was conducted shortly before two weeks old seeds of IPB BM1 genotype sunflower were transplanted in pot containing Regosol which was equivalent to 10 kg of oven- dry weight. Variables observed were soil moisture (soil water content), soil water retention in some soil-water matric suction (pF), leaf area, stem diameter, and root length. Results of experiment showed that hydrogel application significantly increased the water availability for plants in dried soil condition as a result of long time interval of watering, stem diameter of plant, and root length of sunflower compared with no hydrogel application (control). Soil moisture, stem diameter, and root length of treatment with hydrogel of H1 were not significantly different with that of H2. Time interval of watering significantly affected leaf area, stem diameter, and soil moisture. The leaf area, stem diameter of plant, and soil moisture in once watering in 15 days (P3) were significantly lower than P1. Combination between hydrogel of Terracotem (H1) and time interval of once a five days of watering (P1) was the best treatment combination in improving the growth of sunflower plant in Regosol from Dramaga, Bogor
Dinamika Pelepasan Nitrogen Empat Jenis Pupuk Urea Pada Kondisi Tanah Tergenang: Dynamics of Nitrogen Release by Four Types of Urea in Flooded Conditions
Pupuk urea merupakan sumber hara nitrogen (N) yang paling banyak digunakan di Indonesia, termasuk pada lahan sawah. Urea merupakan pupuk N yang larut air sehingga penggunaan urea di sawah perlu dikaji dalam hubungannya dengan pelepasan pupuk. Di dalam penelitian ini digunakan urea dengan formulasi berbeda yaitu pupuk urea Kujang dan Pupuk Sriwijaya (Pusri) yang merupakan urea konvensional dan urea prill dan granul yang merupakan urea modifikasi yang mengandung formaldehida masing-masing 0.10 dan 0.50%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pelepasan N dari tipe urea konvensional dan urea yang diberi formaldehida pada kondisi tanah tergenang. Metode penelitian yang digunakan adalah inkubasi dan pencucian. Inkubasi dilakukan selama 7, 14, 28, 45, 60, dan 90 hari serta dilakukan pencucian pada setiap akhir masa inkubasi. Hasil pencucian ditetapkan kandungan amonium dan nitrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelepasan N dalam bentuk amonium dan nitrat antar perlakuan pupuk urea tidak berbeda nyata. Hasil total N tercuci menunjukkan nilai paling tinggi diperoleh oleh urea granul sebesar 78.0 mg tabung-1, kemudian disusul oleh urea prill 75.2 mg tabung-1, urea kujang sebesar 71.5 mg tabung-1, dan urea pusri sebesar 68.4 mg tabung-1. Berdasarkan hasil persamaan first order kinetic, diperoleh nilai pelepasan maksimum dan konstanta kecepatan. Nilai pelepasan maksimum tertinggi dimiliki oleh urea granul sebesar 94.6 mg tabung-1, kemudian urea prill sebesar 88.3 mg tabung-1, urea Pusri sebesar 82.3 mg tabung-1, dan urea Kujang sebesar 79.2 mg tabung-1. Sementara untuk nilai konstanta kecepatan, konstanta kecepatan tertinggi diperoleh pada urea kujang sebesar 0.0349 hari-1, kemudian dilanjutkan oleh urea prill dan pusri sebesar 0.0256 hari-1, dan urea granul sebesar 0.0253 hari-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa urea yang diperlakukan dengan formaldehida terutama dalam bentuk granul cenderung memiliki kemampuan untuk memperlambat proses pelepasan N yang ditunjukkan dengan nilai konstanta kecepatan pelepasan N yang paling rendah.Urea fertilizer is the most widely used source of nitrogen (N) in Indonesia, including in paddy fields. Urea is a water-soluble N fertilizer, so the use of urea in paddy fields needs to be studied in relation to the release of fertilizer. In this study, urea with different formulations was used those were urea Kujang and Pusri as conventional urea, while urea prill and granule as modified urea containing 0.10 and 0.50% formaldehyde, respectively. The method in this study was the incubation and washing method. Incubation was carried out for 7, 14, 28, 45, 60, and 90 days and washing was conducted at the end of each incubation period. The results of washing were determined for the content of ammonium and nitrate. The results showed that the release of N in the form of ammonium and nitrate among urea fertilizer types were not significantly different. The results of total leached N showed that the highest value was obtained by granule urea at 78.0 mg tube-1, then followed by prill urea at 75.2 mg tube-1, Kujang urea at 71.5 mg tube-1, and Pusri urea at 68.4 mg tube-1. Based on the results of the first-order kinetic equation, The maximum release and constant rate were revealed. The highest value of maximum release was obtained by granule urea at 94.6 mg tube-1, then followed by prill urea at 88.3 mg tube-1, Pusri urea at 82.3 mg tube-1, and Kujang urea at 79.2 was mg tube-1. As for the rate constant the highest value of rate constant was obtained by urea Kujang at 0.0349 day-1, followed by prill urea and Pusri urea at 0.0256 day-1, and granule urea at 0.0253 day-1. The result suggested that urea treated with formaldehyde especially in the form of granule tended to slow down the release of N indicated by the lowest value of the rate constant of N released
Hubungan Curah Hujan Terhadap Limpasan Permukaan dan Sedimen pada Berbagai Penggunaan Lahan di DAS Arui, Kabupaten Manokwari: The relationship of Rainfall on Surface Runoff and Sediments on Various Land Use in Arui Watershed Manokwari Regency
Limpasan permukaan dan sedimen seringkali diremehkan dalam upaya mitigasi banjir. Padahal keduanya jika dalam jumlah besar akan menyebabkan pedangkalan dan meluapnya air sungai yang berdampak banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh limpasan permukaan dan sedimen terhadap curah hujan dengan analisis regresi sederhana SPSS 17. Hasil penelitian menunjukan hubungan antara curah hujan dengan aliran permukaan hanya penggunaan lahan sebagai tegalan yang signifikan, sementara penggunaan lain tidak signifikan, dilanjutkan uji linieritas menujukan garis linier. Hasil uji signifikansi korelasi/keeratan tidak menunjukan korelasi (sangat lemah) hanya pada penggunaan lahan sebagai tegalan yang menunjukan korelasi yang cukup erat. Sementara hubungan antara curah hujan dengan sedimen menunjukan hubungan yang tidak signifikan, dilanjutkan uji signifikansi korelasi tidak menunjukan korelasi (sangat lemah). Pada lima penggunaan lahan hubungan keeratan curah hujan dengan limpasan permukaan menunjukan semua tidak ada hubungan /hubungan sangat lemah. Dengan demikian semakin meningkatnya curah hujan tidak selalu meningkatkan sedimen. Hanya penggunaan lahan sebagai perkebunan kelapa sawit yang mengalami penambahan luas. Penurunan luas hutan diduga peningkatan perambahan liar pada hutan produksi terbatas yang berada disekitar perkebunan kelapa sawit. Surface runoff and sediment are often underestimated in flood mitigation efforts. In fact, both of them in large quantities will cause silting and overflow of river water which has an impact on flooding. This study aims to determine the relationship of surface runoff and sediment on rainfall with SPSS 17 simple regression analysis. The results showed that the relationship between rainfall and runoff was only land use as significant moor, while other uses were not significant, continued linearity test showing a linear line. The correlation test/closeness significance did not show a correlation(very weak) only on land use as a moor which showed a fairly close correlation. While the relationship between rainfall and sediment showed an insignificant relationship, continued with the correlation significance test, it did not show a correlation(very weak). In the five land uses, the relationship between rainfall and surface runoff shows that there is not relationship. Thus, increasing rainfall does not necessarily increase sediment. Only land use for palm plantations has increased in area. The decrease in forest area is thought to increase illegal encroachment on limited production forests located around palm plantations
Literature Study: Ability Test Of The Consortium of Cellulolitic Bacterial Isolates in Accelerating The Decomposition of Empty Palm Oil Signs: Studi Literatur: Uji Kemampuan Konsorsium Isolat Bakteri Selulolitik dalam Mempercepat Dekomposisi Tandan Kosong Kelapa Sawit
Salah satu cara alternatif dalam mengelola TKKS adalah pengomposan, disamping dapat mengurangi volume limbah, pengomposan dapat meningkatkan nilai nutrisi dari TKKS. Ada beberapa cara untuk mempercepat proses pengomposan. Perlakuan secara biologi dengan cara menumbuh kembangkan mikrob yang teruji (berkemampuan tinggi dalam merombak bahan) yang dikomposkan. Bakteri merupakan kelompok yang paling dominan di dalam tanah. Ukurannya yang kecil, prokariotik dan bersel tunggal memberikan keuntungan dalam perombakan bahan organik dibandingkan kelompok jamur dan aktinomisetes. Mikrob yang mampu menghidrolisis selulosa dinamakan mikroorganisme selulolitik yang mempunyai kemampuan tumbuh pada selulosa dan dapat mendekomposisi bahan-bahan selulosa tersebut. Sistem pemecahan selulosa menjadi glukosa terdiri atas tiga jenis enzim selulase yaitu endo-β-1.4-glukanase, ekso-β-1.4-glukanase, dan β-glukosidase. Pada umumnya bakteri selulolitik tidak mampu menghasilkan ketiga enzim tersebut, sehingga diperlukan bentuk konsorsiumnya agar perombakan TKKS efektif dan efisiensi.One alternative way of managing EFB is composting, beside being able to reduce the volume of waste, composting can increase the nutritional value of EFB. There are several ways to speed up composting process. Biological treatment by growing develop proven microbes (high ability in breaking down materials) which is composted. Bacteria are the most dominant group in the ground. Its small size, prokaryotic and single-celled give advantages in reshuffling organic matter over fungi and groups actinomycetes. The microbes that capable of hydrolyzing cellulose is called cellulolytic microorganisms that have the ability to grow on cellulose and can decompose these cellulose materials. Solving system cellulose into glucose consists of three types of cellulase enzymes, namely endo-ß-1.4-glucanase, exo-ß-1.4-glucanase, and ß-glucosidase. In general, bacteria cellulolytics can not produce these three enzymes, so they need their consortium to make EFB reform more effective and efficient
Impact of Land Use and Climate Changes on Flood Inundation Areas in the Lower Cimanuk Watershed, West Java Province
Land use and climatic changes potentially affect the surface runoff and inundation in watershed zones. Every year, the outflow of the Cimanuk River causes floods across the majority of the upper area of the Cimanuk Watershed, as well as the lower area. This study aimed to assess the impact of climatic and land use changes on future flood inundation in the Lower Cimanuk Watershed using a RRI model. Land-use change has been prepared by modeling using a multi-layer perceptron neural network and Markov Chain approach, while climate change using HadGEM2-ES global climate model data under scenarios RCP4.5. In particular, the forest area was projected to decline in this watershed zone, from 19.54% of the total area in 2019 to 17.73% in 2050. Similarly, the area of paddy fields was predicted to decline from approximately 34.36% in 2019 to 29.65% in 2050. In contrast, other types of land use such as dryland agriculture, mixed dryland agriculture, and settlements were projected to increase in the future. The coverage of the simulated flood inundation area using the Rainfall-Runoff Inundation model estimated to reach 179.4 km2 in 2019. The simulation results showed an increase in flood inundation areas in 2030 and 2050, alongside changes in land use and climate. The areas affected by flood inundation were estimated to reach 253.3 km2in 2030. This coverage was expected to increase by 311.9 km2 in 2050, with severely affected land uses including settlements, dry land agriculture, mixed dry land agriculture, paddy fields, and ponds
Application of Mycorrhizal Biofertilizer on Shallot (Allium cepa var. aggregatum) Plant on Latosol Dramaga: Aplikasi Pupuk Hayati Mikoriza terhadap Tanaman Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum) pada Latosol Dramaga
Pupuk hayati mikoriza dapat mempertahankan produktivitas lahan dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian pupuk hayati mikoriza terhadap pertumbuhan bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) serta mengetahui infeksi akar, dan pengaruhnya terhadap kadar N, P, K tanah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan pengujian pupuk hayati yang dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 70/ Permentan/ SR. 140/10/2011, terdiri dari 6 perlakuan (A-F) sebagai berikut: A) kontrol, B) pupuk standar, C) pupuk hayati mikoriza, D) pupuk hayati mikoriza + 25% pupuk standar, E) pupuk hayati mikoriza + 50% pupuk standar, F) pupuk hayati mikoriza + 75% pupuk standar. Terdapat 5 ulangan sehingga diperoleh 30 satuan percobaan. Pupuk hayati mikoriza dapat mengurangi kebutuhan pupuk standar (PS) menjadi 25% sampai 50%. Kombinasi pupuk hayati 2.5 g/tanaman dengan 50% PS menghasilkan tinggi tanaman dan bobot biomassa terbaik, namun secara ekonomis lebih direkomendasikan pemakaian 25% PS. Perlakuan yang diaplikasikan mikoriza memiliki nilai infeksi akar yang sangat tinggi yaitu diatas 75%. Jenis spora yang berhasil berasosiasi adalah Acaulospora sp., Glomus etunicatum, dan Glomus sp. Pengaplikasian mikoriza menghasilkan respons peningkatan sebesar 14.91% pada P-tersedia Latosol, sedangkan terhadap K-dd dan N-total tidak berpengaruh nyata.Mycorrhizal bio-fertilizers can maintain land productivity and are environmentally friendly. This study aims to analyze the effect of mycorrhizal biofertilizer on the growth of shallots (Allium cepa var. Aggregatum) and to determine root infection and its effect on soil N, P, K levels. The experimental design used was a completely randomized design (CRD). The treatment of biological fertilizer testing is carried out based on the Regulation of the Minister of Agriculture No. 70 / Permentan / SR. 140/10/2011, consisting of 6 treatments (AF) as follows: A) control, B) standard fertilizers, C) mycorrhizal biological fertilizers, D) mycorrhizal biological fertilizers + 25% standard fertilizers, E) mycorrhizal biological fertilizers + 50% standard fertilizer, F) mycorrhizal biological fertilizer + 75% standard fertilizer. There were 5 replications so that 30 experimental units were obtained. Mycorrhizal bio-fertilizers can reduce the need for standard fertilizers (PS) to 25% to 50%. The combination of biological fertilizer of 2.5 g / plant with 50% PS produces the best plant height and biomass weight, but economically it is recommended to use 25% PS. The treatment applied to mycorrhizae had a very high root infection value, which was above 75%. The types of spores that were successfully associated were Acaulospora sp., Glomus etunicatum, and Glomus sp. The application of mycorrhizae resulted in an increased response of 14.91% for P-available Latosol, while for K-dd and N-total there was no significant effect.