Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Not a member yet
    301 research outputs found

    THE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) AS A BENEFICIAL HUMAN INTERVENTION INTO ROOT AND SOIL INTERACTION

    Get PDF
    The System of Rice Intensification (SRI) was developed in Madagascar in the ealier 1980 by Fr. Henri de Laulanié. Basic principles of SRI are: (1) the transplanting of young seedlings, preferably only 8-12 days old, this conserves the growth potential that rice plants have if they are transplanted before the start of the fourth phyllochron; (2) The young seedlings are transplanted quickly and quite carefully, taking care to minimize any trauma to the roots, also singly and with wide spacing, in a square pattern usually 25 cm x 25 cm, or even farther apart if the soil is fertile; (3) Under SRI management, paddy fields are not kept continuously flooded, instead, mostly aerobic soil conditions are maintained throughout the vegetative growth period, either by adding small amounts of water regularly, or by alternate wetting and drying (AWD); (4) a simple mechanical, soil-aerating weeder is used to control weed growth; (5) Although these methods when used with chemical fertilizer will enhance crop yield, the best yields and greatest cost-saving for farmers are attained with application of organic fertilizer or other organic matter, when available. When SRI practices are used together and as recommended, the following results are common: (1) Grain yields are usually increased by 50-100%, or sometimes more, while water applications are reduced by 30-50% since there is no continuous flooding, straw yields usually also increase, which is an additional benefit to many farmers; (2) The need to use agrochemicals for crop protection is reduced because SRI plants are naturally more resistant to pest and disease damage; (3) With reduced costs of production, including often reduced labor requirements, farmers’ net income is greatly increased with the higher yields; (4) SRI plants are better suited to withstand the effects of climate change, having greater resistance as a rule to most biotic and abiotic stresses; (5) SRI paddy usually gives higher milling out-turn, about 15%, because when milled there is less chaff (fewer unfilled grains) and less breaking of grains. These qualities are probably attributable to the effects of better root systems which can more effectively take up micronutrients from lower soil horizons. Currently, SRI practices has been introduced in many countries with modifications and adaptation to local conditions

    HUBUNGAN KEDALAMAN PIRIT DENGAN BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DAN PRODUKSI KELAPA SAWIT (Elais guineensis)

    Get PDF
    Pekebunan kelapa sawit di Indonesia telah berkembang secara signifikan dalam 20 tahun terakhir. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit telah mengarah ke lahan-lahan marjinal seperti lahan sulfat masam dan gambut. Lahan marjinal untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit bukanlah suatu pilihan, tetapi karena keterbatasan lahan semata. Reklamasi lahan sulfat masam dengan mendrain lahan rawa akan membuat kemasaman tanah meningkat drastis dan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Selain itu drainase juga dapat membuat sejumlah besar hara ikut tercuci. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kedalaman pirit terhadap beberapa sifat kimia tanah serta produksi kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan melalui survei lapangan di perkebunan kelapa sawit PTPN VII, unit usaha Bentayan, Sumatera Selatan. Analisis contoh tanah dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB. Pengamatan dilakukan pada blok-blok dengan kedalaman pirit < 30 cm, 30-60 cm, dan > 60 cm, produksi dikumpulkan pada blok-blok tersebut dan diambil contoh tanahnya. Selain itu juga diambil contoh tanah berpirit yang belum dan telah mengalami drainase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman pirit < 30 cm memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap meningkatnya kemasaman tanah, Al yang dapat dipertukarkan, berkurangnya N-total, K dan Zn serta penurunan produksi tanaman kelapa sawit. Drainase menyebabkan kecenderungan terjadinya penurunan kadar P, Ca, Mg, dan Cu, serta kejenuhan basa

    POLISAKARIDA DAN STABILITAS AGREGAT TANAH MASAM YANG DIPERLAKUKAN DENGAN BRACHIARIA, MIKORIZA DAN KOMPOS JERAMI DIPERKAYA KALIUM

    Get PDF
    Stabilitas agregat menentukan kualitas tanah dan polisakarida adalah agen agregasi utama partikel tanah. Penelitian bertujuan mempelajari stabilitas agregat dan polisakarida sebagai agen agregasi partikel tanah masam yang diperlakukan dengan Brachiaria decumbens (BD), mikoriza dan kompos jerami diperkaya kalium di Kebun Percobaan Tegineneng BPTP Lampung. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 3 faktor. Faktor 1, rumput Brachiaria decumbens, yaitu tanpa B. decumbens (B0) dan dengan baris B. decumbens (B1); faktor 2, mikoriza yaitu tanpa mikoriza (M0) dan dengan inokulasi mikoriza (M1); dan faktor 3, kompos jerami diperkaya kalium yaitu kompos 2 ton ha-1 masing-masing diperkaya KCl masing-masing 0 kg ha-1 (K0), 50 kg ha-1 (K50), 100 kg ha-1 (K100) dan 200 kg ha-1 (K200). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan BD dan interaksi BD dan mikoriza mendorong fragmentasi agregat makro menjadi agregat meso dan mikro, namun stabilitas agregat dibawah pengaruh perlakuan tersebut lebih baik dibanding stabilitas agregat tanah kontrol. Inokulasi mikoriza memperbaiki stabilitas agregat makro 1-2 mm. Pengayaan kalium pada kompos jerami secara rata-rata tidak berpengaruh terhadap stabilitas agregat tetapi dalam interaksi dengan B. decumbens, pengayaan kompos jerami dengan 100 dan 200 kg KCl ha-1 berpengaruh cukup baik terhadap stabilitas agregat makro 2-5 mm. Polisakarida total di dalam agregat tanah pada perlakuan interaksi B. decumbens dan mikoriza nyata meningkat, demikian juga polisakarida bukan selulosa cenderung lebih baik. Perlakuan B. decumbens meningkatkan kadar polisakarida total di dalam agregat meso (0.25-1 mm) dan mikro (0.05-0.25 mm), sedangkan mikoriza meningkatkan polisakarida total dan polisakarida bukan selulosa di dalam agregat makro (> 1 mm)

    KARAKTERISTIK HANTARAN HIDROLIK JENUH TANAH PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT, PTPN VII LAMPUNG SELATAN

    Get PDF
    Kelapa sawit (Elais guineensis Jacq.) merupakan salah satu tanaman yang memerlukan air dalam jumlah yang banyak. Ketersediaan air merupakan salah satu faktor pembatas utama bagi produksi kelapa sawit. Pada musim kemarau kelapa sawit akan mengandalkan cadangan air bawah tanah untuk kebutuhan airnya. Hantaran hidrolik merupakan parameter sifat fisik tanah yang berperan dalam penambahan air bawah tanah. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui karakteristik hantaran hidrolik jenuh pada berbagai jenis lokasi yang meliputi gawangan mati, piringan, dan jalan pikul pada perkebunan kelapa sawit PTPN VII Lampung. Karakteristik ini dapat dijadikan acuan pengelolaan lahan agar dapat meningkatkan cadangan air bawah tanah. Nilai hantaran hidrolik jenuh pada lokasi gawangan mati berkisar antara 2.9-30.4 cm jam-1 dengan kelas sedang sampai sangat cepat, pada lokasi piringan berkisar antara 2.5-13.4 cm jam-1 dengan kelas agak lambat sampai cepat, dan pada lokasi berupa jalan pikul nilai hantaran hidrolik jenuhnya berkisar antara 1.6-12.8 cm jam-1 yang berada pada kelas agak lambat sampai cepat. Tingginya hantaran hidrolik pada gawangan mati disebabkan terjaganya struktur tanah oleh tumpukan pelepah yang sudah mati. Hasil penelitian menunjukan bahwa aktifitas pemanenan yang intensif menurunkan nilai hantaran hidrolik jenuh tanah pada areal piringan dan jalan pikul tempat mengangkut hasil panen disebabkan peningkatan kepadatan tanah

    IDENTIFIKASI LAHAN TERSEDIA DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI SPASIAL UNTUK MENDUKUNG REFORMA AGRARIA: STUDI KASUS PROVINSI RIAU DAN JAWA BARAT

    Get PDF
    Pemerintah khususnya Badan Pertanahan Nasional meluncurkan program pemerintah yang dinamai dengan Reforma Agraria Plus. Program reforma agraria tersebut mempertimbangkan berbagai kriteria lahan antara lain kualitas dan ketersediaan lahan, variabel akses pasar untuk pemanfaatan lahan yang optimum. Salah satu bentuk reforma agraria plus adalah program redistribusi lahan. Percepatan redistribusi lahan dapat dilakukan jika proses identifikasi lahan tersedia memanfaatkan teknologi informasi spasial untuk efisiensi waktu dan cakupan area. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pilihan variabel penting untuk mengidentifikasi lahan tersedia untuk alokasi program reforma agraria. Penelitian dilakukan di Provinsi Riau dan Jawa Barat. Identifikasi lahan tersedia diawali dengan penyusunan database. Selanjutnya berdasarkan kriteria status kawasan, kesesuaian fisik, status penguasaan, dan penutupan lahan, luas lahan ditapis dengan metode evaluasi kriteria jamak dan dua alternatif. Alternatif-1 adalah kriteria ideal yaitu tingkat kesesuaian minimum S3, bukan lahan HGU, penggunaan untuk pertanian dan bukan kawasan lindung serta dekat jalan; dan alternatif-2 sama dengan alternatif-1 kecuali penguasaan HGU dalam waktu dekat (< 5 tahun) habis. Luas lahan yang diperoleh didistribusikan ke masyarakat petani/nelayan berlahan sempit. Hasil penelitian menunjukan penerapan kombinasi variabel terpilih yang berbeda dalam proses filter menghasilkan luasan berbeda. Hasil identifikasi luas lahan tersedia untuk alokasi program reforma agraria di Jawa Barat dan Riau menunjukkan bahwa kebutuhan hidup minimum masyarakat kedua lokasi berbeda. Perbedaan standar kebutuhan hidup minimum dan struktur harga serta tingkat kesuburan wilayah berimplikasi pada perbedaan luas lahan minimum bagi petani. Petani di Jawa Barat membutuhkan lahan lebih kecil untuk memenuhi kebutuhan hidup dibandingkan petani di Riau. Lahan tersedia di Riau menyebar di seluruh kabupaten/kota, sedangkan di Jawa Barat beberapa kabupaten tidak terdapat lahan tersedia untuk alokasi khususnya di wilayah Kabupaten Bekasi, Cirebon, Indramayu, dan kota Depok

    KONVERSI LAHAN PERTANIAN DAN KETERKAITANNYA DENGAN KELAS KEMAMPUAN LAHAN SERTA HIRARKI WILAYAH DI KABUPATEN BANDUNG BARAT

    Get PDF
    Perkembangan suatu wilayah cenderung akan berpengaruh terhadap peningkatan jumlah penduduk di suatu wilayah, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan perubahan luasan suatu jenis penggunaan lahan. Terkonversinya lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian merupakan masalah serius pada kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis perubahan penggunaan lahan pada periode tahun 1998 dan 2008 di Kabupaten Bandung Barat, (2) menganalisis perubahan penggunaan lahan dalam berbagai kelas kemampuan lahan, (3) menetapkan hirarki kecamatan dan kaitannya dengan perubahan penggunaan lahan, dan (4) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan. Selama periode tahun 1998 sampai 2008 telah terjadi konversi luas lahan pertanian menjadi lahan terbangun sebesar 2,249 ha dengan laju konversi per tahun 264 ha. Kecamatan Batujajar merupakan kecamatan yang mengalami perubahan penggunaan terluas yaitu sebesar 31.9%. Sebaran perubahan penggunaan lahan paling luas terdapat pada kelas kemampuan lahan I sebesar 1,622 ha yaitu konversi TPLB menjadi TPLK. Selain itu, perubahan penggunaan lahan jenis lainnya tersebar pada kelas kemampuan lahan II, III, IV, VI, VII, dan VIII. Perkembangan wilayah di Kabupaten Bandung Barat berdasarkan analisis skalogram tahun 2003 dan 2008, menunjukkan adanya peningkatan tingkatan hirarki tiap desa. Pada tahun 2003 persentase desa berhirarki I, II, dan III, berturut-turut sebesar 15.1%, 20.7%, dan 64.3%. Peningkatan hirarki terjadi pada hirarki II dan III, sedangkan hirarki I mengalami penurunan. Faktor-faktor yang berpengaruh sangat nyata terhadap perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Bandung Barat adalah curah hujan kelas sangat rendah, rendah, dan tinggi, penggunaan lahan terbangun tahun 1998, kepadatan penduduk, dan pertambahan fasilitas pendidikan

    KAJIAN GEOMORFOLOGI, BAHAYA DAN RISIKO BANJIR, SERTA APLIKASINYA UNTUK EVALUASI TATA RUANG KOTA SINTANG

    Get PDF
    Kota Sintang di Kalimantan Barat dikenal sebagai kota yang sering tergenang banjir pada musim penghujan. Kota ini tumbuh tepat pada pertemuan dua sungai besar, yaitu Kapuas dan Melawi, atau secara geomorfologi tumbuh di dataran banjir yang luas/dataran aluvial kedua sungai. Bencana banjir pernah terjadi pada tahun 1963, menggenangi sebagian besar pemukiman, menelan banyak korban, dan kerusakan. Meskipun akhir-akhir ini banjir tidak begitu besar, namun banjir besar seperti masa lalu dapat terulang kembali di waktu mendatang. Untuk mengurangi bencana seperti ini, maka diperlukan kajian tentang banjir dan program penanggulangan bencana. Tujuan penelitian ini adalah (1) melakukan analisis dan pemetaan bahaya dan risiko banjir dan (2) evaluasi tata ruang (RDTR) Kota Sintang berdasarkan pada bahaya banjir. Pendekatan geomorfologis digunakan untuk menganalisis bahaya banjir melalui kajian morfogenesis dan morfologi bentuk lahan serta sejarah banjir. Untuk menilai risiko digunakan data bahaya banjir dan kerentanan penggunaan lahan. Scoring terhadap parameter geomorfologi dan penggunaan lahan dibuat dan dikombinasikan dengan analisis spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95% wilayah Kota Sintang dibentuk dari bentuk lahan asal proses fluvial dan menurut penilaian bahaya banjir, 0.8% dari wilayah Kota Sintang terklasifikasi ke dalam bahaya sangat rendah, 57.2% rendah, 31.5% sedang, dan 10.5% tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa hampir separuh wilayah kota terancam banjir pada tingkat sedang hingga tinggi. Berdasarkan hasil analisis bahaya banjir tersebut dikaitkan dengan kerentanan penggunaan lahan, didapatkan bahwa 0.9% dari wilayah kota memiliki risiko banjir sangat rendah, 70.1% rendah, 22.5% sedang, dan 6.5% tinggi. Dua kelas terakhir, menurut persebarannya, mencakup seluruh area terbangun, seperti perumahan, perkantoran, dan kawasan komersial. Keadaan ini menandakan bahwa hampir sepertiga dari area terbangun Kota Sintang terancam oleh banjir baik pada tingkat bahaya sedang maupun tinggi. Hasil evaluasi RDTR menunjukkan bahwa hampir separuh dari alokasi ruang terbangun (44.4%) mempunyai risiko sedang dan hanya sebagian kecil (4.10%) mempunyai risiko tinggi. Dengan demikian upaya penanggulangan bencana harus menjadi prioritas utama oleh Pemerintah untuk menurunkan tingkat risiko

    PERENCANAAN LOKASI PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI KABUPATEN MANDAILING NATAL, PROVINSI SUMATERA UTARA

    Get PDF
    Pengembangan perkebunan karet merupakan salah satu strategi yang cukup realistis bagi pemerintah Kabupaten Mandailing Natal dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakatnya. Untuk mendukung hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk: (1) menentukan lokasi yang berpotensi untuk pengembangan tanaman karet rakyat berdasarkan aspek fisik lahan dan (2) menganalisis dan menyusun arahan kebijakan pengembangan perkebunan karet rakyat di Kabupaten Mandailing Natal. Metode analisis dilakukan berdasarkan penentuan kesesuaian lahan, analisis spasial, dan analisis deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lahan di Kabupaten Mandailing Natal sesuai untuk budidaya tanaman karet yaitu seluas 460,849 ha (70.4%). Lokasi dan luas areal pengembangan perkebunan karet rakyat di Kabupaten Mandailing Natal berdasarkan potensi lokasi dan peraturan pemerintah terkait telah dikemukakan, dan dapat diarahkan pada lahan seluas 201,875 ha (30.8%)

    AKTIVITAS ENZIM SELULASE MIKROBA YANG DIISOLASI DARI JERAMI PADI DI PERSAWAHAN PASANG SURUT DI KALIMANTAN SELATAN

    Get PDF
    Enzim selulase terdiri dari tiga enzim ekstraselular yang bekerja secara sinergis dalam mendegredasi selulosa, yakni endoglukanase, eksoglukanase dan β-glukosidase. Tiga enzim tersebut berperan dalam mendegradasi selulosa menjadi gula sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menyeleksi mikroba (bakteri dan fungi) berdasarkan aktivitas enzim selulase dari mikroba tanah yang diisolasi dari persawahan pasang surut Kalimantan Selatan. Kemampuan mengekskresikan enzim endoglukanase dinilai berdasarkan nilai indeks selulolitik pada media CMC dan kemampuan mengekskresikan enzim eksoglukanase dan β-glukosidase diukur dari aktivitas kedua enzim tersebut menggunakan metode Mandel yang dimodifikasi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kisaran nilai indeks selulolitik dari mikroba selulolitik di persawahan pasang surut tipe A sebesar 2.29-3.72, di lahan tipe B sebesar 2.66-5.41, dan di lahan tipe C sebesar 1.84-3.34. Aktivitas eksoglukanase dari mikroba selulolitik di persawahan pasang surut tipe A sebesar 0.27-1.65 nkat mL-1, lahan tipe B sebesar 0.37-1.85 nkat mL-1, dan lahan tipe C sebesar 0.31-1.85 nkat mL-1. Mikroba selulolitik dari persawahan pasang surut Kalimantan Selatan memiliki aktivitas β-glukosidase sebesar 0.05-1.52 nkat mL-1. Isolat- isolat mikroba selulolitik yang memiliki aktivitas selulase tertinggi adalah isolat bakteri selulolitik J11, J42, R23, BK12, C52, TB41, B82 dan SN123, dan isolat fungi selulolitik ST33, ST22, TB31, B52, GA22, TD11, PI52 dan P31

    NERACA AIR LAHAN GAMBUT YANG DITANAMI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN SERUYAN, KALIMANTAN TENGAH

    Get PDF
    Penurunan muka air pada lahan gambut memicu oksidasi dan subsiden, khususnya pada musim kemarau. Agar dampak penurunan muka air dapat dikelola dengan baik, maka perlu dikaji besaran komponen neraca air (water balance) yang meliputi: a) Pre-storage, b) Evapotranspirasi, c) Ruang pori drainase, d) Konduktivitas hidrolik dan e) Drainase. Penelitian ini bertujuan mengkaji komponen neraca air tersebut pada lahan gambut yang ditanami kelapa sawit yang dapat digunakan untuk menetapkan pengelolaan drainase yang optimal. Metodologi yang digunakan dalam perhitungan kedua komponen neraca air adalah persamaan Hooghoudt Steady-State Approach yang diverifikasi dengan pengukuran data lapang terkait tinggi muka air dengan menggunakan piezometer. Penelitian lapang dilakukan pada perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Selama musim kemarau (Juli-September), evapotranspirasi mencapai 386 mm yang melebihi besaran curah hujan (311 mm). Jumlah air drainase pada periode ini adalah 90 mm atau 1 mm hari-1. Berdasarkan nilai-nilai tersebut terdapat defisit air sebesar 25 mm selama periode musim kemarau. Jika jarak saluran drainase ditingkatkan dari 30 m menjadi 50 mm, maka terjadi surplus neraca air sebesar 34 mm. Namun surplus tersebut hanya mampu menaikan muka air tanah sebesar 2.3 cm dari kondisi awal yang berada pada kedalaman 40-50 cm. Dalam rangka menghambat penurunan muka air pada musim kemarau maka pada masa transisi dari musim penghujan ke musim kemarau perlu dilakukan konservasi air melalui peningkatan pre-storage. Di samping itu kehilangan air drainase perlu ditekan seminim mungkin melalui pengaturan jarak saluran drainase dan penggunaan cascaded stop-log pada sistem saluran tersier

    233

    full texts

    301

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇