Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Not a member yet
    301 research outputs found

    RASIO DAN KEJENUHAN HARA K, Ca, Mg DI DALAM TANAH UNTUK TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq)

    Get PDF
    Pemupukan merupakan salah satu komponen kegiatan pemeliharaan yang menghabiskan biaya yang cukup tinggi sekaligus memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pencapaian produksi tanaman kelapa sawit. Penambahan salah satu unsur hara melalui pemupukan akan menyebabkan terjadinya pergeseran keseimbangan hara di dalam tanah, oleh sebab itu kegiatan pemupukan perlu memperhatikan keseimbangan hara agar pemupukan yang dilakukan dapat lebih efisien dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mencari nilai kisaran keseimbangan K, Ca, Mg di dalam tanah untuk tanaman kelapa sawit. Penelitian dilakukan dengan metode survei lapangan dengan menggunakan data hasil analisis tanah dan data produksi yang dikumpulkan dari perkebunan kelapa sawit yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan asumsi nilai sekat produktivitas 25.96 ton TBS ha-1tahun-1 kisaran nilai rasio hara yang seimbang untuk tanaman kelapa sawit masing-masing 5.6 – 10.1 untuk rasio Ca/K, 2.1 – 2.5 untuk rasio Ca/Mg dan 2.1 – 4.5 untuk rasio Mg/K. Sementara nilai kecukupan kejenuhan K, Ca, Mg masing-masing sebesar 2.5%; 11.8% dan 3.7%

    INTERPRETASI BENTUKLAHAN GUNUNGAPI GUNTUR MENGGUNAKAN CITRA IKONOS

    Get PDF
    Indonesia merupakan negara yang dilalui oleh jalur gunungapi aktif (ring of fire), memiliki lebih dari 400 gunungapi dan 130 di antaranya termasuk dalam kategori gunungapi aktif. Letusan gunungapi sangat berbahaya bagi makhluk hidup, namun dibalik itu banyak memberikan manfaat bagi manusia, di antaranya abu vulkanik merupakan bahan induk tanah yang subur untuk pertanian. Identifikasi dan pemetaan bentuklahan gunungapi sangat penting untuk keperluan mitigasi bencana dan dapat dilakukan melalui analisis geomorfologi dengan memanfaatkan data penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah pemanfaatan citra IKONOS untuk mengidentifikasi dan analisis bentuklahan vulkanik di Gunungapi Guntur. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa interpretasi geomorfologis dengan citra IKONOS pada tubuh G. Guntur dapat membedakan 16 bentuklahan, di antaranya adalah 3 kawah yang berbeda kronologi, 1 kubah lava, 7 aliran lava yang berbeda kronologi, 4 bentuklahan dari kerucut vulkanik, dan 1 bentuklahan terdegradasi oleh proses antropogenik. Kenampakan detil morfologi yang dapat direkam dan ditampilkan oleh citra IKONOS dapat membantu memilah bentuklahan G.Guntur dengan lebih baik dan rinci

    JERAPAN NITROGEN-URINE OLEH ZEOLIT DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)

    Get PDF
    Urine umumnya mengandung unsur hara, terutama nitrogen (N) yang tinggi, mudah larut dan tersedia bagi tanaman, tetapi mudah hilang dalam bentuk gas amonia. Nitrogen merupakan unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Zeolit merupakan mineral yang memiliki mempunyai afinitas yang tinggi terhadap ion amonium. Zeolit yang mengandung amonium dapat digunakan sebagai pupuk lambat tersedia. Tujuan percobaan ini adalah untuk melihat hubungan antara ukuran zeolit dengan kemampuannya menjerap nitrogen yang terkandung dalam urine sapi, dan mengamati pengaruh ukuran dan takaran zeolit yang telah dicampur dengan urine sapi terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Penelitian ini dilakukan dengan percobaan pot di rumah kaca yang disusun secara acak lengkap dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah empat taraf takaran zeolit: 1000, 2000, 4000, dan 8000 ppm dengan dua taraf ukuran zeolit, yaitu kurang dari 60 mesh dan 32-60 mesh. Parameter tanaman dan tanah yang diukur adalah tinggi tanaman, bobot kering bagian atas dan akar tanaman, serapan N bagian atas dan akar tanaman, serta KTK tanah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa jerapan N-urine semakin besar dengan semakin halus ukuran zeolit. Tetapi pengaruh pemberian zeolit-urine dengan ukuran 60 mesh terhadap tinggi tanaman, bobot kering bagian atas dan akar tanaman jagung umur 21 hari, serapan N akar serta KTK tanah nyata lebih tinggi daripada pemberian zeolit-urine dengan ukuran yang lebih halus (< 32 mesh). Zeolit-urine dengan takaran 2000 ppm nyata meningkatkan tinggi tanaman, bobot kering bagian atas tanaman, serapan N akar, dan KTK tanah, tetapi interaksi antara ukuran dan takaran zeolit-urine tidak berpengaruh nyata terhadap parameter yang diamati. Pada takaran zeolit-urine lebih dari 2000 ppm, semua parameter pertumbuhan tanaman cenderung menurun

    IDENTIFIKASI KOMODITAS BASIS TANAMAN PANGAN DAN ARAHAN PENGEMBANGANNYA DI PROVINSI LAMPUNG

    Get PDF
    Pengembangan wilayah pertanian saat ini banyak dilakukan tanpa penelitian terlebih dahulu dari keunggulan komparatif, kompetitif dan potensi sumberdaya lahan pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengetahui komoditas basis tanaman pangan yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif di Provinsi Lampung, (2) mengevaluasi kesesuaian lahan komoditas basis, (3) menganalisis hubungan antara komoditas basis dengan kesesuaian lahan, dan (4) menyusun arahan pengembangan komoditas basis. Metode penelitian yang digunakan dalam mengidentifikasi keunggulan komparatif adalah perhitungan Location Quotient (LQ). Identifikasi keunggulan kompetitif dilakukan menggunakan komponen Differential Shift (DS). Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan dengan membandingkan karakteristik tanah dengan kriteria tumbuh tanaman. Analisis korelasi digunakan untuk menganalisis keterkaitan antara komoditas basis dengan tingkat kesesuaian lahan. Hasil penelitian menunjukkan adanya komoditas basis tanaman pangan di masing-masing kabupaten, kecuali di 3 kabupaten yaitu Kabupaten Tulangbawang, Tulang Bawang Barat dan Mesuji yang tidak memiliki komoditas basis. Kesesuaian lahan aktual untuk tanaman komoditas basis di masing-masing kabupaten juga telah dihasilkan. Tanaman padi sawah banyak ditanam di lahan yang cukup sesuai di sebagian besar kabupaten. Pengusahaan masing-masing komoditas basis dikaitkan dengan tingkat kesesuaian lahannya di masing-masing kabupaten juga dikemukakan. Demikian juga arahan pengembangan masing-masing komoditas basis dan luasannya di masing-masing kabupaten. Lahan pada kawasan budidaya pertanian yang tergolong tidak sesuai disarankan digunakan sebagai kawasan konservasi

    PEMETAAN LAHAN SAWAH DAN POTENSINYA UNTUK PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DI KABUPATEN PASAMAN BARAT, SUMATERA BARAT

    Get PDF
    Kabupaten Pasaman Barat terbentuk dari pemekaran Kabupaten Pasaman melalui Keputusan Pemerintah No.38 / 2003 tanggal 18 Desember 2003. Sejak tahun 1990 masalah yang dihadapi oleh Kabupaten Pasaman adalah konversi lahan pertanian ke penggunaan lain yang sangat cepat, terutama lahan sawah menjadi perkebunan kelapa sawit. Pengesahan UU No 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B), diharapkan dapat mengendalikan laju perubahan penggunaan lahan pertanian ke penggunaan lain. Peraturan ini masih baru, sehingga implementasi peraturan ini belum banyak dilakukan, termasuk perencanaan dan penetapan wilayah. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap faktor utama yang mempengaruhi penentuan lahan sawah berkelanjutan, (2) untuk menganalisis proyeksi kebutuhan luas sawah di tingkat kabupaten, dan (3) untuk menentukan area sawah berkelanjutan di wilayah penelitian berdasarkan batas wilayah kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor fisik yaitu ketersediaan aktual dan potensial (kesesuaian lahan), diutamakan dalam penentuan sawah yang akan dipertahankan. Ketersediaan lahan sawah eksisting di Kabupaten Pasaman Barat masih cukup untuk mencukupi kebutuhan pangan lokal selama kurang lebih 20 tahun yang akan datang. Terdapat lahan sawah (aktual) seluas 27,317 ha yang cocok untuk dilindungi di Kecamatan Barru, dengan penggunaan lahan eksisting berupa sawah irigasi (budidaya). Selain itu, terdapat lahan potensial untuk dilindungi seluas 9,871 ha, dengan penggunaan lahan eksisting berupa semak-semak, rawa dan rawa lebak. Lahan yang diusulkan di lindungi dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu: area yang surplus produksi, adanya irigasi, dan penerimaan oleh masyarakat. Lahan yang mencakup ketiga kriteria tersebut terdapat seluas 18,670 ha yang terdistribusi di beberapa kecamatan

    ANALISIS PEMANFAATAN RUANG WILAYAH PESISIR KABUPATEN PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN

    Get PDF
    Wilayah pantai Kabupaten Pandeglang saat ini dipenuhi oleh aktivitas ekonomi dan mempunyai potensi pengembangan dengan berbagai problem. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi problem dan menganalisis faktor dominan yang mempengaruhi pemanfaatannya serta kesesuaiannya secara ruang untuk perikanan, budidaya perikanan, pariwisata marin, pelabuhan perikanan, dan konservasi laut. Analisis dilakukan dengan pencarian kriteria melalui pendapat ahli melalui metode Proses Analisis Jaringan (ANP – Analytic Network Process) dan analisis spasial tumpang-tindih. Pembobotan kriteria dan parameter mempunyai pengaruh bersama dalam pengelompokan fungsi kebijakan, ekologi dan sosial-ekonomi. Kriteria yang berperan adalah perencanaan ruang provinsi (RTRWP) dan kabupaten (RTRWK), transportasi, struktur populasi, infrastruktur, kesesuaian fisik, penggunaan lahan dan risiko ancaman bahaya. Lokasi yang sesuai untuk budidaya perikanan laut adalah wilayah pantai kecamatan Pagelaran hingga Panimbang. Daerah konservasi terletak di perairan Taman Jaya di sekitar pulau Badul. Wilayah yang sesuai untuk daerah pariwisata adalah Sukaresmi ke Tanjung Jaya serta pulau-pulau kecil di Ujung Kulon. Pelabuhan perikanan sesuai dibangun di kampung Caringin, Cigondong, Pejamben dan Teluk. Daerah paling sesuai untuk aktivitas perikanan di Kecamatan Labuan, Panimbang dan Sukaresmi

    PERBEDAAN NILAI KADAR AIR KAPASITAS LAPANG BERDASARKAN METODE ALHRICKS, DRAINASE BEBAS, DAN PRESSURE PLATE PADA BERBAGAI TEKSTUR TANAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN PERTUMBUHAN BUNGA MATAHARI (Helianthus annuus L.)

    Get PDF
    Ketersediaan air dalam tanah merupakan salah satu faktor penting bagi pertumbuhan tanaman. Kadar air pada kapasitas lapang dapat ditetapkan dengan metode yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan berbagai metode pengukuran kadar air kapasitas lapang dan melihat responnya terhadap pertumbuhan bunga matahari. Penelitian ini diawali dengan penetapan kadar air kapasitas lapang (KAKL) dengan yaitu metode Alhricks, Drainase bebas, dan Pressure Plate terhadap tiga kelas tekstur tanah berbeda yaitu: liat, lempung liat berpasir, dan lempung berpasir. Selanjutnya di rumah kaca, dilakukan penanaman bunga matahari dengan perlakuan kombinasi perbedaan jenis tekstur dan pemberian air pada KAKL dari masing-masing metode. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan percobaan faktorial acak lengkap dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekstur dan metode penetapan serta interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap nilai KAKL. Kadar air kapasitas lapang (% berat) pada tekstur liat (62.18%) lebih besar dibandingkan tekstur lempung liat berpasir (20.42%) dan lempung berpasir (10.92%). Pada penetapan kadar air kapasitas lapang dengan metode Alhricks, ketebalan pasir kuarsa yang paling baik adalah 6 cm dan tanah 3 cm, karena data kadar air yang diperoleh lebih konsisten serta menghasilkan nilai R2 yang paling tinggi (0.967). Pada tekstur liat perlakuan penyiraman yang didasarkan pada KAKL tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan biomassa akar kering namun berpengaruh nyata terhadap biomassa akar basah, biomassa tajuk basah dan kering, serta panjang akar. Pada perlakuan tekstur, terlihat perbedaan respon pertumbuhan yang nyata antara tanaman bunga matahari yang ditanam pada tekstur liat, lempung liat berpasir, dan lempung berpasir

    PEMBERIAN KOTORAN SAPI PADA PERTANAMAN JAGUNG (Zea mays): PERUBAHAN FRAKSI FOSFOR INORGANIK PADA ULTISOL GUNUNG SINDUR, JAWA BARAT

    Get PDF
    Percobaan mengenai evaluasi perubahan fraksi-fraksi fosfor (P) karena pemberian kotoran sapi pada budidaya jagung dilaksanakan di desa Cibadung Gunung Sindur, Jawa Barat. Dosis kotoran sapi yang digunakan adalah 0, 10, 20, dan 40 ton ha-1. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Pengambilan contoh tanah dilakukan setelah dua minggu inkubasi dan setelah panen. Contoh tanah diambil di rhizosfer dan antar baris tanaman. Perubahan fraksi-fraksi P dievaluasi dari hasil pengurangan nilai suatu fraksi P pada saat panen dengan nilai suatu fraksi P setelah dua minggu inkubasi. Hasil menunjukkan bahwa pemberian kotoran sapi nyata meningkatkan fraksi resin-Pi, fraksi NaHCO3-Pi dan NaOH-Pi. Nilai fraksi-fraksi P tersebut pada saat panen lebih tinggi di rhizosfer dibandingkan dengan nilai fraksi-fraksi P di antar baris tanaman. Perubahan resin-Pi di rhizosfer dan antar baris tanaman adalah negatif yang menunjukkan bahwa resin-Pi telah bertransformasi ke fraksi P yang lain. Perubahan fraksi NaHCO3-Pi dan NaOH-Pi tidak konsisten positif baik di rhizosfer dan antar baris tanaman dengan meningkatnya dosis kotoran sapi. Hal ini menunjukkan bahwa pengambilan P oleh tanaman, pelepasan P dan transformasi P ke bentuk yang lebih stabil mempengaruhi jumlah peningkatan fraksi NaHCO3-Pi dan NaOH-Pi

    PENENTUAN INDEKS BAHAYA KEKERINGAN AGRO-HIDROLOGI: STUDI KASUS WILAYAH SUNGAI KARIANGO SULAWESI SELATAN

    Get PDF
    Kekeringan agro-hidrologi dapat diartikan sebagai kekurangan air permukaan, air tanah dan mencukupi untuk tanaman dan kebutuhan masyarakat untuk jangka waktu tertentu. Sejauh ini belum ada indeks kekerigan agro-hidrologi yang menggabungkan faktor iklim, air permukaan, dan air bawah permukaan tanah. Penelitian ini merumuskan sebuah indeks bahaya kekeringan (Ibk) sebagai indikator kekeringan agro-hidrologi. Model yang dikembangkan dari kombinasi curah hujan musim kering, kedalaman air tanah, jarak sumber air, tekstur tanah dan indeks ketersediaan air bagi tanaman dengan menggunakan metode penginderaan jauh dan GIS. Indeks bahaya kekeringan agro-hidrologi yang telah dikembangkan adalah Ibk= (0.33CH) + (0.27KAT) + (0.20SA) + (0.13T) + (0.0WSVI) dengan hasil validasi model menunjukkan kemiripan yang tinggi kekeringan di lapangan

    PERBAIKAN KUALITAS FISIK TANAH MENGGUNAKAN MULSA JERAMI PADI DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKSI KACANG TANAH

    Get PDF
    Perbaikan kualitas fisik tanah untuk meningkatkan pertumbuhan kacang tanah dapat dilakukan dengan pemberian mulsa jerami padi. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh mulsa jerami padi terhadap sifat-sifat fisik tanah seperti bobot isi, jumlah dan distribusi pori, retensi air tanah, kapasitas infiltrasi, dan pertumbuhan serta produksi kacang tanah. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat dosis pemberian mulsa yang diulang tiga kali sehingga terdapat 12 satuan percobaan. Perlakuan mulsa jerami padi dibagi ke dalam 4 taraf dosis yaitu M0 (tanpa mulsa), M1 (0.92 ton ha-1), M2 (1.84 ton ha-1), dan M3 (2.76 ton ha-1). Kacang tanah varietas Gajah di tanam dengan jarak 20 cm x 40 cm dengan satu butir per lubang tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mulsa jerami padi hingga 2.76 ton ha-1 tidak berpengaruh nyata terhadap sifat-sifat fisik tanah seperti bobot isi, jumlah dan distribusi pori, serta retensi air tanah. Namun kapasitas infiltrasi nyata meningkat dengan pemberian mulsa 2.76 ton ha-1. Pemberian mulsa jerami padi hingga 2.76 ton ha-1 tidak nyata meningkatkan produksi kacang tanah

    233

    full texts

    301

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇